Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #3

Chapter 3

21.00 | Interior rumah Rezza

Rezza berjalan, lalu duduk di meja makan rumahnya.

Meja makan yang tak pernah lagi dipergunakan.

Dulu meja itu pernah terasa hangat, makan bersama dengan orang tuanya dan... Sherin.

Flashback Rezza, mamahnya, papahnya, dan Sherin makan bersama malam minggu di meja makan itu. Mereka lebih banyak menghabiskan weekend di rumah Rezza waktu orang tuanya masih ada. Begitu hangat dan welcome Sherin diperlakukan di rumah itu. Namun sayang itu semua tak berbalas hal yang sama dari orang tua Sherin.

Balik ke realita saat ini. Air mata Rezza benar-benar mengalir deras ketika ingat 5 tahun lalu, ia mendapati kabar orang tuanya meninggal di kecelakaan kapal ferry.

Flashback Rezza mendatangi rumah sakit tempat para korban tragedi tersebut disemayamkan sebelum dijemput keluarga.

Wajahnya terpampang di media-media nasional sebagai lelaki tragis yang ditinggal kedua orang tuanya secara bersamaan. Dan Sherin.. Sherin yang mendampinginya di sana.

Rezza menangis terisak, dadanya terasa sesak. Dia menyebut lirih

"Sherin, I still love you.."

"Mah, pah, apa memang aku harus sama Sherin?"

"Dia wanita terakhir yang papah dan mamah kenal sebelum kepergian kalian."

"Papah mamah aku tau, kalian juga sangat sayang sama Sherin.."


07.32 | Keesokan harinya. Taman Pemakaman Tanah Kusir.

Dua makam berdampingan, dengan nama Kirana dan Bagas. Kedua orang tua Rezza bersemayam, tempat peristirahatan terakhir.

"Assalamualaikum mamah, papah."

"Maaf ya udah lama aku gak ke sini. Semalem aku kangeen banget sama kalian.."

"Semoga mamah dan papah juga kangen sama aku.."

"Aku cuma mau curhat sama mamah papah, aku sepertinya sudah yakin akan memulai hubungan lagi dari awal dengan Sherin. Wanita yang terakhir kali aku bawa ketemu papah mamah. Papah dan mamah juga kenal Sherin udah lama kan, dari sebelum aku lulus kuliah."

"Entah kenapa aku merasa akhir-akhir ini mungkin doa aku mulai dikabulkan oleh Allah."

"Doa agar aku dipertemukan dengan jodoh aku di dunia."

"Jawabannya sepertinya adalah.. Sherin."

"Please, doain aku ya pah mah dari sana, doain semoga memang jodoh aku Sherin."

"Aminn.." tangisnya tak bisa terbendung lagi..


08.28 | Kantor K&B lantai 3.

"Masih sepi nih, kirain udah pada dateng." Rezza berdiri di dekat kubikal milik Trio IJA yang belum dihuni satupun manusia.

Rezza masuk ke ruangannya, pintu sengaja dibuka biar terlihat kalau ada yang datang ke kubikal.


08.33 | Sesosok wanita datang, langsung duduk di kursinya di kubikal.

Rezza berdiri, melihat sosok itu adalah Anya. Buru-buru dia berjalan ke arah Anya.

"Morning Anya!"

"Eh pagi bang, tumben jam segini udah sampe?" Anya agak kurang ramah.

"Iya nih, gue abis dari makam ortu tadi."

"Oh gitu, kenapa? Kangen ya?"

"Banget Nya." Rezza menjawab lirih.

"Yah, sabar ya bang. Nanti juga kalo lo sibuk lupa lagi berbulan-bulan gak ke sana" Anya berkata dengan ketus.

"Anya, lo tuh kenapa sih dari kemarin sinis banget sama gue? Kenapa?"

"Pake ditanya, ya karena Sherin lah!"

"Nya, gue sama Sherin juga belum ada apa-apa." Rezza heran.

"Belum? Wow, berarti lo udah planning ya akan ada sesuatu ke depannya?"

"Gue kan gak tau di masa depan gue sama Sherin akan seperti apa.."

"Iya memang, tapi coba inget tiga tahun lalu waktu lo ditinggal nikah sama dia. Masih inget gak?"

"Iya, masih jelas," Rezza menjawab yakin.

"Nah itu lo inget. Paham dong kenapa gue sinis dan sensi liat Sherin di hidup lo lagi!"


Flashback tiga tahun lalu.

Sherin dan Rezza bertengkar hebat di sebuah tempat, Sherin cerita dia pergunakan dating apps untuk mencoba melupakan Rezza yang sudah jelas tidak direstui oleh papanya Sherin, Om Arwin.

Rezza gak terima, dating apps itu sebuah aplikasi orang-orang putus asa yang mengambil jalan pintas untuk berkenalan dengan lawan jenis. Dating apps memotong jalur normal pendekatan dua insan manusia, bahkan ada yang melakukannya 'just for fun!'

Tak lama Sherin bertemu dan berkenalan dengan laki-laki di dating apps. Laki-laki itu cocok dengan profile yang diinginkan orang tuanya. Sherin melakukan pendekatan itu untuk memuaskan ego orang tuanya. Bahkan dia gak peduli cowok itu punya berapa mantan, pernah nikah atau nggak, normal atau nggak. Yang Sherin tau waktu itu, cowok bernama Dhika itu, pasti akan di-approved oleh orang tuanya khususnya papahnya. Dan Sherin melakukan itu, karena dia putus asa..

Putus asa karena ortunya, terutama papahnya sama sekali tidak menyetujui hubungannya dengan Rezza.

Setelah kejadian itu, Rezza bertekad gak akan lagi hubungin dan nemuin Sherin.


Fast forward, Sherin segera menikah dengan Dhika, dua setengah tahun lalu. Rezza terima undangan itu di ruangannya. Dikirim oleh kurir kantor Sherin yang biasa kirim dokumen-dokumen kerjaan karena K&B kerja sama dengan kantor Sherin.

Tangannya bergetar hebat, air matanya mengalir tak terbendung, melihat cover undangan pernikahan Sherin dan Dhika yang akan diselenggarakan satu minggu lagi di sebuah restoran hotel mewah berkonsep outdoor di Jakarta Selatan. Rezza tak punya nyali untuk membuka lembaran undangan itu. Ia jatuhkan seluruh badannya di kursi kerjanya. Suhu ruangan mendadak panas dan pengab. Rezza memegang dadanya, ia rasakan sesak hingga hilang kesadaran..

Sayup-sayup matanya terbuka perlahan, terlihat wajah khawatir Anya yang memanggil-manggil namanya.

"Rezza.. Mas Rezza! Ya Allah mas kenapa??" Anya sangat khawatir.

"Sher.. Sherin.." keluar lirih nama itu dari mulutnya.

Tapi kesadarannya kembali hilang..


Beberapa waktu kemudian, Rezza berada di rumah sakit. Anya dan dua orang karyawan K&B yang saat ini sudah resign, menunggu di depan ruang IGD.

"Masih belum sadarkan diri," ujar perawat yang keluar dari dalam ruangan itu.

Nampak wajah Anya sangat khawatir dan mereka bertiga terdiam.

Dokter keluar dari ruangan IGD. Menyapa Anya dkk. dengan tenang.

"Keluarga dari pasien bernama Rezza?"

"Saya.. Eh kami, kami rekan kerjanya Rezza dok." ucap Anya.

"Keluarganya mana ya?"

"Belum datang dok, sudah saya kabari tapi beliau juga dokter di rumah sakit ini. Dokter Vina, sedang menangani pasien di poli penyakit dalam."

"Oh Dokter Vina? Iya kebetulan saya kenal. Yaudah ditunggu saja ya, hasil pemeriksaan sebentar lagi keluar. Kalau sudah ada akan saya atau perawat jelaskan kembali. Saya permisi dulu."

"Terima kasih dok.." Anya jawab sambil mengangguk.

Anya melihat lirih ke dalam pintu IGD, benaknya berkecamuk, "ada apa dengan Mas Rezza?"


15 menit berlalu, Anya duduk sendiri di ruang tunggu. Dua staf lainnya sudah kembali ke kantor.

"Anya, hey Anya.. Gimana kondisi Rezza?" Kak Vina datang dengan setengah berlari.

"Kak Vina, masih belum sadar. Mas Rezza masih belum sadar."

"Ya Allah kenapa dia? Ada kejadian apa sebelum pingsan tadi Nya?"

"Aku juga gak tau kak, tadi lagi di kantor. Mas Rezza buka dokumen kiriman dari kurir. Terus aku mau cek tiba-tiba Mas Rezza udah gak sadarkan diri!"

"Dokumen apa?"

"Dokumen undangan.. Undangan pernikahan Sherin."

Kak Vina terdiam, benaknya sibuk mengkaitkan kejadian ini semua.

Ia sadar adik sepupunya ini memiliki riwayat anxiety disorder.

Terakhir kali terjadi saat Rezza kehilangan kedua orang tuanya. Dan sekarang terjadi lagi ketika dia 'kehilangan' Sherin, sahabat sekaligus mantan pacarnya.

Dokter IGD keluar menghampiri Anya dan Kak Vina.

"Halo Dokter Vina, saya mau infokan hasil pemeriksaan Rezza."

"Oh iya Dokter Syarif, gimana ya hasilnya?"

"Secara keseluruhan tidak ada yang mengkhawatirkan, tapi tadi tensinya di atas normal."

"Oh iya memang adik saya, Rezza punya riwayat hipertensi dok."

"Iya, sudah kami beri penurun tensi dan sekarang kondisinya sudah mulai sadar."

"Alhamdulillah, lalu ada lagi dok?" tanya Anya.

"Hmm, selebihnya aman. Saya rasa Dokter Vina tahu lebih banyak tentang kondisi Rezza."

"Iya dok, Rezza ada anxiety disorder, setelah ini akan saya arahkan ke psikiater untuk ditangani."

"Baik, kalau begitu silahkan jika mau menemui Rezza. Saran saya jangan terlalu banyak diajak berbicara dulu. Saya permisi"

"Terima kasih Dokter Syarif." ucap Kak Vina dibalas anggukan tegas dari Dokter Syarif.


Kak Vina menghampiri Rezza di dalam IGD.

"Gimana dek? Apa yang dirasain?" Kak Vina nampak emosional.

"Udah jauh lebih baik kak, tadi dada aku sesak. Susah nafas, makanya aku pingsan."

"Jangan kek gini ya please. Kakak gak bisa liat kamu begini.." Kak Vina meneteskan air mata.

"Maaf kak, maaf aku ngerepotin kakak terus.."

Kak Vina cuma geleng-geleng.

"Habis ini ikut kakak ya.."

"Iya kak."


Lebih dari satu jam kemudian, Rezza keluar dari ruang psikiater.

Kak Vina dan Anya bangkit dari duduknya.

"Udah mas?" Anya bertanya.

"Udah nih, dikasih resep. Tapi obat-obatnya masih ada di rumah jadi gak usah ditebus dulu."

"Yaudah kamu pulang aja ya sekarang.." pinta Kak Vina.

"Kak aku masih banyak kerjaan ke-pending di kantor." Rezza coba membantah.

"Udah mas, soal kerjaan nanti gue yang handle. Lo ke rumah aja istirahat. Gue balik kantor abis ini."

"Jangan Nya, gue bisa kok.."

"Dekk.. Please, sampe hari ini aja istirahat dulu di rumah. Kakak anterin. Anya kamu ke kantor gimana?"

"Aku bawa mobil tadi kak." Anya menjawab yakin.

"Yaudah kamu ke kantor ya? Hati-hati Anya. Makasih banget udah anter Rezza tadi." Kak Vina berujar.

"Iya kak, sama-sama.. Yaudah kalo gitu kita ke depan ya." semua setuju.


Rezza dan Kak Vina berdiri di lobi rumah sakit, menunggu mobil Kak Vina di sana.

"Aku balik kantor ya kak, titip Mas Rezza sampe rumah. Kantor dulu ya mas." Anya pamit ke Kak Vina dan Rezza.

"Makasih ya Anya, hati-hati di jalan." Kak Vina menjawab.

"Iya aku duluan.." Anya pamit.

"Tiati Nya." Jawab Rezza. Dibalas anggukan pelan dan senyum tipis dari Anya.

Mobil Kak Vina datang, sebuah Toyota Voxy putih disupiri oleh driver. Rezza dan Kak Vina masuk ke baris kedua mobil setelah sliding door terbuka.


Anya menyetir sendiri di dalam mobilnya. Mobil BMW X1 berkelir orange.

Di antara kemacetan Jakarta, Anya mempertanyakan tindakannya tadi.

"Ngapain sih gue peduli banget sama Mas Rezza?"

"Gue emang punya utang budi sama dia, tapi ngapain coba segininya?"

"Stop Anya! Lo harus set your boundaries."

Anya terlihat tegang raut wajahnya. Namun, tiba-tiba tersenyum tipis.

"Tapi kan, sebentar lagi Sherin akan married. Artinya Rezza harus move on dong?!"

"Siapa tau kan dia mau buka hati buat gue.."

"Eh apa sih Nya?? Gue kenapa sih!" Anya berubah lagi ekspresinya.

"Astaga behave please!!!"


Interior rumah Rezza. Kak Vina dan Rezza berdiri di ruang tamu.

"Dek, kakak balik ke rumah sakit lagi ya. Masih ada urusan."

"Kak, maaf ya jadi ngerepotin. Aku kira kakak udah mau pulang."

"Iya gak apa-apa, udah kewajiban kakak mentingin kamu sebagai keluarga kakak sendiri." mata Rezza berkaca-kaca.

"Cuma kakak yang aku punya sekarang. Aku doain semoga kakak selalu sehat dan gak akan pernah ngerasain posisi aku."

"Hush ngomong apa sih dek? Udah kamu istirahat. Minum obat dulu. Ini tadi makanan yang kita beli kaka taruh di atas meja makan ya.. Jangan lupa dimakan."

"Iya kak, makasih banyak ya kak."

"Iya sama-sama dek. Kakak jalan dulu ya.." Rezza mengangguk lalu salim ke Kak Vina.

"Hati-hati di jalan ya kak."

"Iya, kalo ada apa-apa kabarin kakak."

"Siap bu Dok!" Rezza tersenyum tipis.

"Wasalamualaikum" Kak Vina pamit dengan senyum yang mengandung kekhawatiran.

"Waalaikumsalam kak.."


Hari sudah gelap, Rezza duduk di meja makan menyuap makanannya sendiri.

Tiba-tiba teringat di meja makan itu ia pernah suap-suapan dengan Sherin.

Ia pernah makan bersama mama, papa, dan Sherin. Momen yang tak akan pernah terulang kembali.

Air matanya mengalir pelan. Selera makannya sirna.

Ia memilih berhenti makan lalu mengambil obat untuk ia minum.

Handphone-nya berbunyi. Anya chat Rezza.

"Mas, gue otw rumah lo ya.. Ada makanan titipan dari anak kantor. Belom makan kan lo?"

Lihat selengkapnya