Kembali ke waktu sekarang..
Anya meneteskan air mata walau ekspresinya datar. Ia teringat momen indah namun menyakitkan saat dia lagi dekat-dekatnya sama Rezza lebih dari dua tahun lalu itu.
'Gue udah pernah kasih Rezza kesempatan, tapi dia menyianyiakan gitu aja. Bahkan gue rela dia menikmati kepedulian gue, waktu gue, dan physical touch sama gue tanpa status. Semua karena kegilaannya sama Sherin. Heran banget apa sih yang dia lihat dari Sherin?' Anya masih bertanya-tanya dalam hatinya.
Icha dan Janice datang barengan, tadi mereka berdua tak sengaja bertemu di lobi.
"Morning Anya.." Icha dan Janice kompak menyapa Anya.
"Morning!" jawab Anya singkat sambil menyeka air mata di pipinya.
"Nya lo kenapa? Kok nangis?" Icha nanya
"Nggak-nggak, gue gapapa!" jawab Anya tegas.
"Beneran? Kalo ada apa-apa cerita aja Nya." timpal Janice.
"Nggak, beneran kok aman gue." Anya jawab berusaha tersenyum
Icha dan Janice kompak menjawab, "yaudah kalo gitu" sambil duduk di kursi masing-masing.
'Gue ceritain ke kalian juga percuma, gue juga tau kalian diem-diem naksir Rezza,' Anya bergumam dalam hatinya.
10.50 | Ruang meeting lantai 3.
Rezza + Trio IJA bersama staf sosmed dan staf creative sedang meeting.
Mereka lagi dengerin staf sosmed present content plan salah satu klien mereka untuk bulan depan. Rezza tampak gak fokus. Lihat ke pembicara tapi tatapannya kosong. Sesekali ia mengecek handphone berharap ada kabar dari.. Sherin.
Dia overthinking, gimana hasil mediasi Sherin?
Kakinya menghentak-hentak, butiran-butiran keringat dingin di dahinya, sesekali garuk-garuk kepala, Anya yang duduk di seberangnya sadar betul Rezza lagi kepikiran akan sesuatu.
"Untuk konten yang ini gimana menurut kalian? Dari Bang Rezza mungkin ada insight kah? Baiknya dibikin feeds biasa atau carousel? Atau bahkan video?" tanya Arina, sosmed specialist K&B.
Icha yang duduk di sebelah Rezza sadar bosnya itu gak fokus, disenggol kakinya Rezza pakai kaki Icha. Rezza kaget.
"Hah? Gimana? Konten itu ya? Hmm menurut gue.." Rezza berpikir sejenak.
"Menurut gue as it is aja dulu, kalo ada feedback dari klien setelah kita ajuin baru revisi ya."
"Oh gitu, okeh bang. Thanks." jawab Arina.
"Tapi kalo lihat referensinya sih, bagusnya dibuat video motion graphic aja gimana? Supaya lebih eye catching gitu." tanya Sigit graphic designer K&B.
Rezza lagi-lagi melamun, semua orang lihat dia lagi menatap handphone-nya di meja.
Anya sebel, "Bang, Bang Rezza! Gimana itu pertanyaan Sigit?"
Rezza kaget lagi, "hah? Apanya? Maaf-maaf.."
Sigit mengulang pertanyaannya, "kalo dibuat jadi video motion graphic aja gimana bang?"
Rezza gelagapan, "ohh, referensinya video bukan? Bukan kan? Yaudah as it is aja kaya gue bilang tadi."
Tiba-tiba handphone-nya bergetar, terungkap nama 'Sherin' menelepon.
"Sorry guys, gue keluar dulu ya. Maap-maap.." Rezza gercep ambil handphone itu dan ngibrit keluar dari ruangan meeting.
Icha, Janice, Anya, dan semua yang di ruangan itu bisa lihat kalau yang call tadi Sherin.
Anya yang duduk di seberang Icha dan Janice geleng-geleng kepala. Janice bergumam, 'Bang Rezza ditelfon Sherin? Ada urusan apaan ya sampe ngibrit gitu?'
Rezza setengah berlari menuju ruangannya. Ia bahkan hampir menabrak OB yang sedang membawa baki berisi gelas-gelas kosong di belokan sebelum ke arah ruangannya.
Begitu sampe di ruangannya, dia lihat layar handphone. Tarik nafas sebentar, lalu ia angkat telepon dari Sherin.
"Hai Sher.."
"Halo Mas, kamu lagi sibuk gak?" suara Sherin terdengar ceria.
Rezza tersenyum, "nggak.. Aku di kantor aja nih, kenapa Sher?"
"Ohh, hmm.. Lunch bareng yuk, bisa gak?"
"Lunch bareng? Di mana?"
"Aku ke kantor kamu ya, ini aku udah di rumah tadi dari pengadilan agama."
"Oh gitu, gapapa ke kantor aku?"
"Gapapa mas, aku udah cuti seharian kok hari ini.."
"Hmm yaudah, boleh-boleh."
"Okay, aku jalan sekarang ya ke sana.."
"Iya.. hati-hati di jalan ya kamu.."
"Iya mas, see you.."
"See you.."
Sherin menutup telepon dengan senyum, Rezza pun juga..
11.37 | Di depan ruang meeting lantai 3.
Rezza keluar ruangan setelah semua orang antre melewati pintu ruang meeting.
"Siang Mas Rezza.." Sherin setengah berlari menggunakan sepatu wedges putih, kemeja kuning dan celana soft white-nya. Semua orang yang keluar dari ruangan menengok ke arah Sherin.
"Hai Sher, udah sampe?" Rezza agak kaget dan senyum ke arah Sherin.
Anya langsung melengos ketika liat Sherin datang.
Sherin meraih tangan kanan Rezza lalu menciumnya.
Icha dan Janice melongo, mereka shocked melihat itu. Rezza salting lalu buru-buru menarik tangannya.
"Yuk jalan sekarang." Sherin mengajak Rezza.
"Eh kita mau ke mana Sher?"
"Lunch bareng! Lunch di luar lah, masa lunch di ruangan kamu, bosen mas.."
"Oh oke-oke, wait.. Aku taruh laptop dulu ya di ruangan aku."
"Udah sini laptop-nya." Sherin ambil laptop dan notes dari tangan kiri Rezza.
"Anya or Icha, minta tolong bawain laptop Mas Rezza ke ruangannya boleh gak?" Sherin meminta tolong.
Anya gercep, "sorry gak bisa, mau ke toilet!" Anya langsung kabur.
"Eh sini biar aku aja." Janice inisiatif ambil barang-barang itu dari tangan Sherin.
"Eh Janice gak usah.." Rezza berusaha melarang.
"Udah gapapa ini aku bawain ke ruangan Bang Rezza ya.."
"Okay, makasih ya Janice." jawab Sherin dengan senyum lebar.
"Makasih banget Janice." Rezza say thanks ke Janice dengan ekspresi gak enakan. Janice mengangguk senyum tipis.
"Yaudah yuk.." Sherin menggandeng tangan Rezza ke arah lift.
Icha dan Janice melihat mereka berdua pergi gandengan. Mereka benar-benar heran.
Di kubikal, Icha nanya ke Anya dan Janice.
"Kita lunch di mana nih girlss??" sambil melihat ke arah Anya lalu menoleh ke Janice.
"Pesen ojol aja gue, mager pergi-pergi. Panas abisnya." jawab Anya ketus.
"Apanya panas?" tanya Janice.
"Cuacanya lagi panas Janice, masa hati gue yang panas?" Anya melotot.
"Ohh kirain, hati lo panas liat Sherin." Icha nyamber.
"Apa deh Cha? Gausah rese ya!" Anya makin melotot.
Tiba-tiba situasi langsung awkward.
12.01 | Sherin dan Rezza turun dari mobil, bergandengan tangan masuk ke sebuah restoran di daerah Cipete, Jaksel. Ternyata Sherin sudah reservasi sebelumnya karena restoran itu terkenal ramai di siang hari jam makan siang.
"Sudah reservasi atas nama Sherin ya.."
"Oh oke, mari saya antar kak.." waitress mengantar mereka ke mejanya.
"Silahkan.. Ini menunya, kalau sudah mau order silahkan panggil saya ya kak." Sherin dan Rezza duduk berhadapan di sebuah meja kapasitas empat orang.
"Baik, terima kasih." Rezza dan Sherin say thanks.
"Kamu mau makan apa mas?" Sherin bertanya sambil buka buku menu.
"Apa ya? Aku pernah makan di sini tapi lupa signature-nya apa gitu."
"Setau aku di sini yang terkenal sop konro sama makanan-makanan Sulawesi gitu."
"Ah iya bener, aku pesen konro aja."
"Okeh, aku pesenin ya.." Sherin tersenyum manis.
Rezza manggut-manggut sambil bibirnya tersenyum sumringah.
"Jadi gini mas, tadi di sana ada mamanya Dhika." Sherin membuka obrolan sambil makan.
"Oh gitu, terus?" Rezza menghentikan makannya.
"Iya aku kan diantar sama mama dan lawyer. Kita, kedua belah pihak. Pihak aku sebagai istri dan pihak Dhika sebagai suami sudah menemui perwakilan dari pengadilan agama yang melakukan mediasi, terus kita jelasin bahwa masing-masing pihak sudah yakin dan sepakat untuk berpisah.
Lalu aku dan mama meminta maaf in person ke Dhika dan mamanya Dhika.
Setelah itu mamanya Dhika bilang kalau dia dan Dhika sebetulnya sudah bisa menerima permintaan maaf. Tapi ayahnya Dhika itu gak mau datang ke Jakarta. Dia masih merasa sakit hati sama perkataan papa ke Dhika. Untuk itu, Dhika dan mamanya mengundang aku, mama, dan papa untuk ke Surabaya. Kalau mau meminta maaf langsung ke ayahnya Dhika."
"Ohh, jadi gimana? Kalian mau ke sana?" Rezza seperti tak terlalu suka mendengar kabar itu.
"Iya tadi sampai di rumah, aku bilang ke papa soal itu. Dan sepertinya weekend ini, sabtu pagi aku akan ke Surabaya bareng papa dan mama untuk bertemu keluarga Dhika, khususnya ayahnya Dhika. Minggu siang kita udah balik ke Jakarta. Papah mau menemui ayahnya Dhika in person untuk meminta maaf, dan mau semuanya berakhir baik-baik."
"Well, that's a good point. Jadi semua pihak sama-sama tidak ada yang perlu merasa mengganjal lagi kan." Rezza berusaha bijak.
"Iya mas, semoga lancar deh. Tadi sih aku titip ke mamanya Dhika untuk sampaikan ke ayahnya Dhika kalau kami mau ke sana weekend ini. Semoga niat baik ini bisa dimengerti sama ayahnya Dhika dan beliau mau memaafkan. Amin.." Sherin tampak mengusap wajahnya.
"Aamiin, aku doakan semoga lancar ya Sher.." Rezza mengamini.
"Makasih ya mas.. Oh iya kamu mau ikut gak?"
"Hah? Ikut? Ke mana?" Rezza heran.
"Ke Surabaya."
"No, gak Sher. I thought that's not a good idea. Lebih baik jangan."
"Kenapa emangnya? Kan kita jadi bisa liburan bareng." Sherin seperti kecewa.
"Sher, kalau urusan kamu sudah selesai sama Dhika, next-nya kan kita bisa liburan bareng tanpa ada rasa yang mengganjal. Weekend-weekend selanjutnya, kita bisa habiskan waktu bersama, kita bisa jalan bareng, akan ada banyak waktu buat kita nantinya. Bener nggak?" Rezza menjawab serius dengan sedikit senyum.
"Yah, iya kamu benar mas. Yaudah aku izin weekend ini ke Surabaya sama orang tua aku untuk menyelesaikan urusan aku sama keluarga Dhika ya Mas Rezza!" Sherin menatap tegas dan manja ke arah Rezza.
"Iyaa Sherin, aku izinkan!" Rezza membalas dengan senyum sumringah.
Mereka selesai makan siang jam 13.00 lewat, keluar dari restoran dan menuju mobil Sherin. Ternyata ada tukang Kue Ape di depan restoran tersebut. Sherin yang awalnya menggenggam tangan Rezza, tiba-tiba menunjuk tukang itu.
"Mas-mas, liat deh ada tukang kue ape. Beli yuk." Sherin semangat banget.
"Mau beli? Ayok boleh." Rezza menuruti.