07.30 | Sabtu pagi.
Rezza baru selesai membuat kopi di dapur, ada notif di handphone.
"Aku sudah otw bandara ya sayang.." chat dari Sherin.
Rezza mengetik "Hati-hati di jalan, My Sherin.. Safe trip! 😘" lalu mengirimnya
Sherin membalas "Have a nice day Mas Rezzaku.. 🥰😘❤️"
Mereka berdua sama-sama tersenyum membaca chat ini di tempat berbeda.
Rezza duduk di sofa depan TV.
"Hari ini ngapain ya? Bosen juga kalo di rumah. Bisa-bisa overthinking nih gue kepikiran Sherin sendiri, bisa gila lama-lama.."
"Apa ke kampus ya? Udah lama juga gak ke kampus, nanti gue foto-fotoin tempat sama Sherin dulu, trus kirim deh ke dia."
Rezza tercerahkan! "Siap-siap dulu deh.."
08.47 | Rezza menyetir mobilnya ke arah Depok, ternyata Kampus UI sedang berlangsung event marathon, jadi belum bisa dimasuki kendaraan hingga pukul 11.00.
"Yah ada event segala lagi, ke mana ya?"
"Coba ke Margonda kali ya.." Rezza pun mengarahkan mobilnya ke Jalan Margonda Raya.
"Yaampun, itu dulu restoran mie Aceh sekarang jadi tempat gym. Anak zaman sekarang lebih kenyang nge-gym daripada makan kali yak?" Rezza ngelawak sendiri, jayus sendiri.
"Ah ke situ aja, ada cafe, makanannya proper gak ya? Laper juga belum sarapan malah ngopi tadi."
Rezza mampir ke sebuah cafe yang dia sangat tidak familiar karena sudah lama tidak ke Depok.
09.33 | 'Enak juga, bisa jadi tempat makan wajib nih kalo ngajak Sherin ke Depok besok-besok..'
Rezza bergumam dalam hati usai makan chicken steak with fries and mushroom sauce.
Bunyi notif handphone.
"Masss.. Aku udah di pesawat ya, offline dulu nih.. Wish me luck!"
Rezza balas chat cepat: "Okee Sher.. Safe flight 😘"
Centang satu, artinya Sherin sudah off internet/airplane mode.
Melihat jam di handphone, "masih jam segini lagi.. lama banget ya jam 11."
"Bang Rezza!"
Rezza kaget ada yang menyapanya di sini.
"Lho Janice? Ngapain? Kok di sini??"
Ternyata ada Janice dengan adik sepupunya yang bernama Tiara.
"Aku lagi ke rumah tante aku, kan mama lagi di sini juga.."
"Ohh iya-iya, terus kok di sini?" Rezza muka bingung.
"Iya bang, kenalin ini Tiara, adek sepupu aku. Anaknya tante aku yang tinggal di Depok sini."
"Oh gitu, halo Tiara salam kenal.." Rezza menyapa Tiara.
"Salam kenal Bang Rezza.." Tiara membalas.
"Bang Rezza sendiri?" Janice menyambar.
"Iya, sendiri Jan. Hehe"
"Ngapain ke Depok? Tadi aku gak percaya lho liat dari luar kok kaya Bang Rezza, tapi ngapain di Depok?" Janice heran.
"Ah iya, jadi tadi tuh aku lagi kangen kampus, trus ya impulsif aja mau ke UI. Tapi ternyata lagi ada event marathon kalo gak salah, jadi mobil dan motor gak bisa masuk. Yaudah deh aku cari tempat mau sarapan dulu sambil nunggu jam 11. Kalian ngapain di sini?"
"Hooo gitu.. Ehmm kita lagi kabur aja hehe.. Bosen di rumah Tiara lagi ada arisan ibu-ibu. Saudara-saudara jauhnya mama.. Jadi aku sama Tiara pengen kabur aja dulu, capek ya ditanya-tanya dek?" Janice sambil nyolek adeknya.
"Hehe iya bang, sama tadi Kak Janice tanya cafe sekitar sini yang kopi dan makanannya enak di mana. Aku ajak aja ke sini." jawab Tiara.
"Ah I see.. Yaudah kalo gitu, silahkan.. Aku tadi udah sarapan sih ini, emang enak-enak kok."
"Iya kan? Recommended gak bang? Tadi Kak Janice agak meragukan soalnya."
"Iya recommended banget nih, coba sendiri aja Janice kalo gak percaya. Hehe"
"Yaudah, aku pesen dulu ya.. Kita di meja sana ya bang." Janice hendak pamit.
"Eh gabung sini aja gapapa, aku juga mau pesen minum lagi nih tadi beli air mineral aja."
"Beneran? Gak ganggu nih bang?" Janice basa-basi nanya.
"Nggak kok, kan aku sendiri juga jadi ada temen deh hehe."
"Yaudah, aku minta menu dulu.."
Janice memanggil waitress. Rezza pesan chamomile tea no sugar.
Janice order chicken steak with barbeque sauce, Tiara pesan rice bowl chicken karage.
"So, kalian beda umur berapa tahun?"
"Ah jangan ngomongin umur bang, malu aku.." kata Janice.
"Lah yang harusnya malu sih aku ya keknya.. Haha" Rezza melucu.
"Tiara tahun ini 16 apa 17 ya Ra?"
"Aku 17 dong kak, udah SMA kelas 3 lho aku.." Tiara agak sewot.
"Nah, aku 23, jadi kita beda 6 tahun sih bang.."
"Emang Bang Rezza umur berapa?" Tiara iseng nanya.
Wajah Janice langsung gaenak "Eh kalo gak mau jawab gapapa bang!"
Rezza tersedak.. "Maap-maap, ehh beda berapa ya. Aku sama Janice, beda 10 tahun!"
"OH IYA? Jadi Bang Rezza 33?" Tiara gak percaya.
"Bener.. 100 buat Anda!" jawab Rezza.
"Oh my god! Gak keliatan 33 lho bang.. Lebih ke 32 sih! Hahaha" Tiara lucu banget.
"Wah rese juga sepupu kamu Janice! Hahaha" Rezza ikut tertawa.
Mereka pun chit chat, ngobrol ngalor ngidul. Ketawa ketiwi.. Saling lempar jokes.
Tak terasa sudah pukul 11.20
"Eh udah jam segini, aku mau ke kampus dulu ya.. Ada kuliah nih haha" Rezza melucu, ia hendak pamit.
"S3 jurusan apa ya pak?" Janice nimpalin.
"Jurusan Kampung Rambutan mbak!" Mereka semua makin tertawa.
"Kalian naik apa tadi?" Rezza nanya.
"Tadi kita naik angkot Bang, mumpung lagi di sini kan. Ada motor sih Tiara tapi aku males panas Depok nih." Janice bercanda lagi sampe ditepok tangannya sama Tiara.
"Oh gitu, yaudah yuk aku anter. Aku bawa mobil."
"Oalah itu mobil Bang Rezza. Pantes familiar ya.. Kan itu mobil lumayan jarang soalnya."
"Haha nggak lah, kebetulan aja aku lagi bawa mobil. Kalian mau aku anter? Ayok kalo mau.."
"Hmm, ngerepotin gak bang? Kan Bang Rezza mau ke kampus?" Janice merasa tak enak hati.
"Nggak lah, kan ke kampusnya bisa ntaran, masih panas juga.."
"Yaudah boleh bang, ayuk.." Tiara memotong obrolan, gemes liat Janice malu-malu tapi mau.
Janice melotot ke Tiara.
"Yaudah aku bayar dulu. It's on me. Biar aku traktir ya.."
"Eh bang gausahh, aku tadi mau traktir Tiara. Udah biar aku aja." Janice maksa.
"NO! Biar aku aja yang bayar, kalo nggak besok kamu gak kerja lagi di kantor!" Rezza pura-pura galak.
"Ih kok gitu sih bang?"
"Iya kan besok minggu, tanggal merah. Hahaha" semuanya tertawa seru.
Mereka pun otw rumah Tiara.
Rezza menyetir, Janice duduk di kursi penumpang depan di sebelah kiri Rezza, Tiara duduk di belakang tepat di tengah-tengah. Jadi Rezaa bisa melihat jelas wajah Tiara dari kaca spion tengah mobil.
Janice sesekali mencuri pandang ke Rezza sambil menengok ke kanan-kiri seakan memerhatikan jalan.
'Ini pertama kalinya aku di mobil Bang Rezza, duduk di kursi depan. Biasanya aku selalu mengalah dan lebih membiarkan Icha atau Anya duduk di sini. Begini ternyata rasanya. Bisa sedekat ini sama Bang Rezza. Deg-degan banget dan takut salah tingkah deh..' dalam hati Janice.
"Tiara, berarti kamu dari lahir di Depok?" Rezza memecah kesunyian karena hanya sayup-sayup terdengar suara siaran radio tapi mereka bertiga tak ada yang mendengarkan beneran.
"Iya bang, aku dari kecil bahkan lahir di sini."
"Wah tetanggaan sama Ayu Tingting dong? Haha"
"Haha jauh tau bang, dia di daerah Depok Dua kalo gak salah.. Jauh kan dari tempat aku di Citayam."
"Iya sih mayan, aku tau soalnya daerah rumahnya Ayting ada temen tinggal gak jauh dari rumahnya dia."
"Oh gitu? Dia kenal Ayu Tingting dong?"
"Kayaknya kenal deh, nanti ya aku tanya lagi haha"
"Boleh-boleh, kabarin aja nanti!" Tiara masih ladenin Rezza bercanda. Dia sepertinya paham betul kakak sepupunya, Janice masih salting dan nge-freeze di mobil itu karena dari tadi diam seribu bahasa.
"Eh ini udah deket Depok City, arahin ya Ra." Rezza meminta ke Tiara.
Mobil pun bergerak mengikuti arahan Tiara, memasuki perumahan di daerah Grand Depok City.
"Ini bang, rumah aku yang itu ada rame-rame.."
"Oh yaudah, aku parkir mana?"
"Eh kamu mau mampir bang?" Tanya Janice.
"Iya dong, gak sopan aku gak nyapa mama kamu & mamanya Tiara.." Rezza memang laki-laki yang sangat menjunjung tinggi sopan santun.
"Iya kak, yaudah sih mampir bentar, masih panas lho jam segini. Kasian Bang Rezza langsung pergi." bela si Tiara.
"Oh oke, yaudah di sini aja aman bang parkir di sini.." Janice mengajak berhenti di depan taman tak jauh dari rumah Tiara.
Mereka bertiga turun, Rezza merasa handphone-nya bergetar.
Chat dari Sherin.
"Mass, aku udah landing dan udah di gate bandara. Langsung dijemput sama sepupunya Dhika. Maaf ya aku belum bisa call soalnya gaenak sama semuanya di sini.
Ini udah mau ke mobil dan langsung ke rumah orang tua Dhika. Doain aku lancar ya Mas! ❤️"
Rezza mengetik..
"Okee, hati-hati ya di jalan.. Aku doain semuanya lancar buat kamu.. Amiinn.. 🤲"
Chat dikirim.
Rezza mengikuti Tiara dan Janice dari belakang.
"Halo-halo guys. Kami pulang.." Tiara menyapa semua tamu di rumahnya.
Janice dan keluarga mamanya dari keluarga asal Solo mayoritas beragama Katolik, sehingga tidak ada yang mengucap Assalamualaikum. Rezza tahu itu.
"Lho, kok ada Rezza?" Tante Diana bangkit dari duduknya lalu mendekat.
"Eh iya Tante Diana, apa kabar?" Rezza menyapa ramah sambil mencium tangan.
Janice terpesona melihat keramahan bosnya itu dengan mamanya dan keluarganya.
"Tante sehat Nak Rezza, kok kalian bisa bareng?"
Janice masih mematung.
"Eh iya Mami, tadi gak sengaja ketemu di cafe waktu kita mau ngopi di Margonda, iya kan Kak Janice?" Tiara menjawab.
"Eh ee., Iya mah tadi gak sengaja ketemu Bang Rezza trus dianter ke sini.." Janice gelagapan.
"Oh gitu, yaudah sini masuk dulu.."
"Iya tante.. Makasih.. Eh kok dipanggilnya Mami?" Rezza tanya balik.
"Eh soalnya mamah itu anak pertama di keluarganya bang, jadi adik-adik dan keponakan-keponakan semua manggilnya Mami.." Janice menjelaskan.
"Ohh I see.." Rezza manggut-manggut.
"Bang Rezza, ini kenalin mama aku.. Panggil aja Tante Nadya." Tiara menggandeng mamanya ke depan Rezza.
"Halo Tante Nadya, salam kenal.. Aku Rezza teman kantornya Janice." Rezza menyodorkan tangan untuk bersalaman.
"Oh temen kantornya Janice, temen apa temen nih??" Tante Nadya iseng.
Janice dan Rezza bungkam karena salting hanya senyum-senyum.
Satu per satu keluarga Janice yang ada di sana dikenalkan ke Rezza, termasuk ayahnya Tiara yang sedang nampak sedang duduk di sofa depan TV.
"Sini Nak Rezza, duduk sini dulu.. Cowok-cowok biar kumpul di sini.." ajak Om Indra, ayahnya Tiara.
"Halo om, salam kenal.." Rezza menjabat tangan Om Indra dan beberapa laki-laki sepersepupuan dan keluarga Janice yang duduk di sekitar situ.
"Saya Indra, ayahnya Tiara.. ini yang lain ini ada sepupunya Janice, ini abangnya Tiara, ada yang lain juga.." Om Indra menjelaskan.
"Salam kenal semuanya, terima kasih sudah diterima di sini.."
"Sama-sama, selamat datang di rumah kami yang sederhana ini Bang Rezza.." ujar Abangnya Tiara yang bernama Doni.
"Haha nggak lho, ini rumahnya besar.. Lebih besar dari rumah saya juga." jawab Rezza.
"Rezza tinggal di mana?" tanya Om Indra.
"Di Lebak Bulus om, perbatasan dengan Cinere. Masih Depok juga. Haha"
Semua tertawa.
Janice datang membawa secangkir kopi susu tanpa gula.
"Mass. EH Bang Rezza.. Ini aku buatin kopi susu tanpa gula." Janice salting sampe sebut Mas.
Rezza sempet shocked sejenak karena kaget ada yang memanggilnya 'Mas', ia jadi teringat Sherin.
"Makasih.. Makasih banyak lho jadi ngerepotin.."
Janice berlutut sejenak menaruh cangkir kopi di meja depan Rezza persis. Rezza terpaku memandang cantiknya Janice hari itu menggunakan kaus berkerah lengan panjang dengan rok selututnya, semua serba biru. Rezza suka warna biru, dia baru menyadarinya. He's feeling so blue right now..
"Wah Janice udah paham banget ya Bang Rezza sukanya kopi susu tanpa gula." Doni yang seumuran dengan Janice memulai candaan godain Janice.
"Apaan sih Don.. Namanya juga sekantor kan kadang mesenin Bang Rezza kopi."
Janice jawab sambil senyum salting.
Lebih salting lagi lihat Rezza memerhatikannya tanpa berkedip.
"Diminum mas, eh bang. Maaf.."
"Eh iya makasih ya Janice.."
Janice duduk tak jauh dari Rezza di sofa depan TV.
Sayup-sayup terdengar suara Adzan Dzuhur. Rezza tak mungkin sholat di sana. Dia berbisik ke Janice..
"Aku mau ke mesjid dulu ya sebentar, mau sholat dulu.."
"Yaudah ayok, aku temenin."
"Hah gausah.."
"Nanti kamu nyasar lho, deket masjidnya banyak portal.." jawab Janice.
"Oh gitu, yaudah boleh-boleh.." jawab Rezza sambil menyeruput kopi buatan Janice.
"Hemmm enak banget kopinya.." Rezza berbicara agak tinggi memuji Janice.
Tiara yang sedang lewat di belakang sofa menimpali, "Iyalah bikinnya pake hati!"
HMMPFFTTT Rezza hampir menyemburkan kopi yang dia seruput.
Semuanya senyam senyum cekikikan kecuali Janice yang melotot ke Tiara.
Rezza berdiri, "saya mau permisi sebentar, mau ke masjid sholat dulu." Rezza berbicara ke Om Indra.
Sebagian orang ada yang kaget, karena mengira Rezza adalah pacarnya Janice dan ternyata seorang muslim. Sebagian ada yang biasa saja termasuk Tiara dan Tante Diana.
"Oh iya, tau jalan ke masjidnya?" Tanya Om Indra.
"Aku yang temenin kok om, aman.." Janice bangkit dari duduknya juga.
"Oh yaudah silahkan, temenin ya Janice.." Om Indra mempersilahkan.
Janice mengangguk dan senyum ke Om Indra.
"Permisi dulu.." Rezza melewati beberapa orang di sana.
"Titip Janice ya Nak Rezza." Tante Diana yang lihat mereka mau pergi berpesan.
"Oh iya tante, aku ke sana sebentar."
"Iya silahkan, hati-hati.."
"Makasih tante.."
Begitu Rezza dan Janice pergi, masuk mobil, semua orang heboh mengintip dari jendela lalu bertanya-tanya ke Tante Diana.
"Jadi itu pacarnya Janice apa bukan? Kok beda agama?" tanya salah satu saudara Janice di situ.
Semua orang melihat ke arah Tante Diana.
Tante Diana pun coba jelaskan.
"Jadi gini..."
"Bang, maaf ya aku salting banget tadi. Sodara-sodara aku pada rese, apalagi si Tiara tuh.. Maaf banget ya.." Janice buka omongan di mobil.
"Eh nggak lho, aku seneng kok mereka welcome banget.." Rezza menjawab sambil mobil berjalan pelan di area perumahan GDC.
"Sumpah aku jadi gaenak banget tadi mana Tiara ngomong begitu," Janice wajahnya sangat panik.
"Ngomong apa?" Rezza pura-pura tak ingat.
"Yang tadi kamu keselek minum kopi bang."
"Ohh yaudah lah namanya juga bercanda, haha" jawab Rezza santai.
"Yaudah maaf yaa.." Janice melihat ke arah Rezza.
"Iya aman kok Jan.." jawab Rezza sambil melempar senyum ke Janice.
Tiba di halaman masjid, di luar panas banget karena siang hari terik.
"Aku sholat dulu ya ke dalam, kamu mau tunggu di mobil aja? Panas soalnya.."
"Beneran gapapa bang?" Janice ragu.
"Beneran kok, masa aku di dalem adem kamu nunggu di luar panas-panasan?"
"Yaudah aku tunggu sini ya.." jawab Janice agak manja.
Rezza manggut-manggut tapi hatinya merasa berbunga-bunga.
"Aku titip dompet sama hp, males bawa-bawa nih. Nanti dikunci aja pintunya.."
"Okay bang. Selamat sholat.."
"Makasih Janice.." Rezza turun dari mobil, dompet dan handphone-nya dia tinggal di konsol tengah. Rezza mengganti sepatunya dengan sendal. Lalu, dia ambil beberapa uang kecil dari dua ribuan hingga 10 ribuan untuk pegangan kalau ada kotak amal.
Rezza berjalan masuk ke arah masjid. Janice tak lepas pandangannya melihat tubuh tinggi Rezza berjalan tampan ke dalam masjid walau hanya pakai sendal.
"Kenapa ya aku happy banget hari ini ketemu Bang Rezza?" Janice ngomong sendiri.
"Eh tapi kok Bang Rezza weekend gini sendirian? Gak jalan sama Sherin? Aku tanya kali ya.."
"Ah tapi nanti dia kiranya aku kepo lagi. Udah ah gausah tanya-tanya.."
Notifikasi chat di ponsel Rezza berbunyi.
Janice awalnya tak mau melihat, tapi berbunyi lagi. Lalu berbunyi lagi.
Janice tak tahan untuk mengintip. Ponsel Rezza memang bisa terlihat notif even di-lock.
"Mbak Sherin?" Janice tak kuat menahan rasa ingin mengintip notif itu.
"Mas, aku udah sampe di rumah orang tuanya Dhika di Surabaya.."
"Ini kita mau makan siang dulu.. Aku sama papah mamah juga di sini, kita diajak makan siang sama keluarganya Dhika."
"Kalau memang suasananya sudah nyaman, papah mau minta maaf ke papahnya Dhika."
"Doain semuanya lancar ya mas.."
"Btw. Kamu lagi apa di mana Mas Rezzaku?"
Janice baca semua chat itu..
Tangannya gemetar. Ia yakin Rezza dan Sherin memang sedang dekat kembali.
Tapi kenapa Sherin di Surabaya? Kenapa Sherin bertemu keluarga Dhika yang Janice tau memang suami Sherin bernama Dhika?
"Mas Rezzaku? Apa artinya itu.." Jantung Janice berdetak makin cepat, Janice buru-buru mengembalikan ponsel Rezza ke posisi semula.
15 menit kemudian, Rezza kembali ke mobil. Janice membuka kuncinya.
"Hai. Maaf ya kalo lama.."
"Ahh gapapa kok bang, aman."
"Okeh kalo gitu.." Rezza tersenyum.
"Oh iya tadi hp kamu banyak notif chat masuk bang.."
"Alright, aku cek dulu.."
Janice mengangguk.
Rezza nampak serius membaca chat di handphone. Janice berpura-pura tidak perduli sambil melihat layar handphone-nya sendiri.
Rezza mengetik beberapa kalimat untuk membalas chat dari Sherin.
"Haii.. Kamu udah sampe? Alhamdulillah ya.."
"Yaudah take your time.. Semoga lancar lunch dan ketemu sama keluarganya Dhika ya"
"Aku lagi di Depok nih, tiba-tiba kangen suasana kampus. Hehe"
Rezza menutup handphone.
"Udah yuk.."
Mobil berangkat kembali ke arah rumah Tante Nadya.
"Janice, habis ini aku langsung pergi ya. Aku anter balik ke rumah Tante Nadya. Habis itu aku langsung jalan. Gapapa kan?"
"Oh iya bang, gapapa banget kok."
"Okayy, thanks ya.."
"Thanks? Aku yang seharusnya makasih bang. Jadi ngerepotin tadi dibayarin makan di cafe, dianterin pulang sama Tiara juga. Makasih banyak ya bang."
"Hehe iya sama-sama ya.. Aku seneng kok ketemu kamu di Depok, jadi ada temennya tadi." Rezza tersenyum.
Janice speechless. Tersenyum tapi hatinya tak enak, ia sadar Rezza sedang terisi hatinya oleh Sherin, lagi..
Tiba tak jauh dari rumah Tante Nadya, Janice dan Rezza sempat nge-freeze beberapa detik.
"Eh udah sampe Jan.."