Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #6

Chapter 6

15.21 | Minggu sore, pintu Kedatangan domestik terminal 3 Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Rezza berdiri menggunakan celana jeans biru donker, sepatu sneakers hitam dan polo shirt coklat tua. Menunggu dengan sabar sejak setengah jam lalu.

"Mas Rezza!" suara Sherin yang keras namun merdu memecah lamunannya Rezza.

Rezza melambai ke arah Sherin, dengan senyum paling sumringah yang pernah ia buat.

Sherin berlari ke arah Rezza, memeluknya dengan erat, hempaskan tubuhnya ke tubuh Rezza.

Om Arwin dan Tante Rani menyusul dari belakang Sherin, mereka melihat langsung betapa kuatnya rasa cinta dan kerinduan antara Sherin dan Rezza.

Dengan lembut Rezza melepas pelukannya, menghampiri Om Arwin dan Tante Rani yang berjalan mendekat sambil mendorong troli berisikan dua koper.

"Rezza bawa mobil?" tanya Om Arwin sambil tangan kanannya dicium oleh Rezza.

"Bawa om, tapi di parkiran. Om, tante, dan Sherin tunggu sini ya saya ambil mobil dulu."

Rezza lanjut cium tangan Tante Rani.

"Gak usah Rezza, om dan tante naik taksi aja. Biar kalian bisa bicara berdua.." jawab Tante Rani.

"Mah, gapapa bareng aja. Aku temenin Mas Rezza ambil mobil dulu." Sherin bertanya.

"Gak usah sayang, papah dan mama naik taksi aja, beneran. Kalian perlu dan butuh bicara berdua kan?" tanya Om Arwin.

Rezza mengangguk, Sherin menatap wajah Rezza penuh kerinduan.

"Yaudah kalo gitu, saya bantu bawa barang-barangnya ke taksi ya om.."

"Iya Rezza." Jawab Om Arwin ramah.

Troli itu diambil alih oleh Rezza, didorong ke arah stand pemesanan layanan taksi premium. Sebuah taksi mewah BYD Denza bercat hitam sudah stand by di sana. Siap mengangkut penumpang kelas atas yang hendak naik.

"Pak, taksinya bisa langsung atau menunggu antrean?" Rezza bertanya ke taxi counter.

"Bisa langsung pak, silahkan." petugas menghampiri lalu membantu memasukkan barang-barang ke bagasi.

"Yaudah om dan tante titip Sherin ya Rezza. Hati-hati di jalan kalian ya.." Om Arwin masuk ke mobil, disusul Tante Rani.

"Koper kamu sekalian mama bawa ya Sherin.." ujar Tante Rani.

"Iya mah, titip ya.." Sherin menyalimi mamanya, disusul Rezza.

"Siap om. Hati-hati di jalan om tante.." Rezza melepas kedua orang tua Sherin itu.

Semuanya berpisah. Rezza dan Sherin bergandengan tangan melihat mobil taksi tersebut berjalan menjauh dari mereka.

"Yuk, jalan agak jauh gapapa kan?" Tanya Rezza ke Sherin.

"Ke mana pun sama kamu aku mau kok mas." Sherin jawab manja sambil memeluk sejenak.

"Okayy, let's go.." mereka berdua melangkah bersama, bergandengan, tak mau terlepaskan.

Rezza dan Sherin tiba di mobil, mereka berjalan kurang lebih 2 km dari pintu kedatangan domestik tadi. Luar biasa jauhnya ke parkiran.

"Silahkan masuk My Princess Sherin.." Rezza membukakan pintu penumpang depan.

"Makasih Mas Rezzaku.." Sherin tersenyum sumringah.

Mobil itu pun bergerak meninggalkan bandara.


"Kita mau ke mana mas? Aku mau bicara.." Sherin memasang wajah serius namun tetap ramah.

"Aku mau ajak kamu makan, early dinner di sebuah tempat.. Wait ya, nanti juga tau."

Sherin kembali tersenyum. Memeluk erat lengan kiri Rezza.


17.03 | Mereka berdua tiba di sebuah hotel di daerah Menteng, Jakpus.

"Kita dinner di rooftop ya?" Sherin langsung menebak.

"Kok kamu tau sih? Gak seru ahh.." Rezza mengambek manja.

"Iya ini kan tempat favorit kamu kalo kita dinner dulu.. Kamu inget selalu ya?"

"Selalu.. Gak pernah aku lupa." Rezza tersenyum haru.

Mereka berdua turun dari mobil, masuk ke lobi hotel langsung ke arah lift.. Tangan mereka tak pernah lepas lebih dari sedetik. Tak ada keraguan lagi antara kisah mereka. Kecuali kebohongan masing-masing soal kejadian semalam. Kebohongan berbalut 'belum saling cerita.'


Senja sore itu sungguh sangat luar biasa indahnya. Usai memesan makanan dan minuman Rezza bertanya, "So, kamu ada yang mau diceritain ke aku?"

Sherin yang duduk di sebelah Rezza terdiam sejenak.

"Kalo belum siap, gapapa.. Aku paham." Rezza coba menenangkan.

"Nggak kok, aku mau cerita.. Semua yang terjadi kemarin, di Surabaya.." Sherin berkata pelan.

Musik 'Forget Jakarta' dari Adhitia Sofyan mengalun pelan di sound system restoran itu.


"So, papah kamu dan papahnya Dhika sudah saling memaafkan?"

Sherin mengangguk, lalu bercerita soal Eyang Tami.. Sempat terjadi kesalah pahaman.

Rezza paham kenapa handphone Sherin mati dan tertinggal kemarin. Tapi.. Sherin tak bercerita soal kejadian itu. Ciumannya dengan Dhika semalam.. Ia takut Rezza kecewa. Dia hanya berjanji pada dirinya sendiri tak akan terjadi lagi dengan Dhika.

Rezza bimbang, ia awalnya mau bercerita jujur soal kejadian semalam dengan Janice dan menjelaskan dia tak punya perasaan lebih dengan Janice. Tapi mendengar cerita tentang Eyang Tami kemarin dengan Sherin, Rezza merasa ini akan menyakitkan untuk Sherin. Rezza urungkan niatnya. Ia pun berjanji suatu hari akan cerita jika keadaannya sudah tenang dan lebih baik.

Mereka berdua menolak membagi rasa soal kejadian tadi malam masing-masing. Kejujuran kalah hari ini. Tapi kebohongan akan menemukan jalannya sendiri, untuk terkuak.

Mereka bertautan, Sherin menyandarkan kepalanya ke pundak Rezza.. Tangan mereka saling menggenggam. Tapi kepala mereka sibuk dengan ketidakjujurannya masing-masing..


20.33 | Rumah Simprug.

"Aku turun, pamit sebentar sama papah mamah abis itu langsung pulang ya.. Biar kamu bisa istirahat. Besok ngantor kan?"

"Iya mas, besok schedule aku WFO. Yaudah yuk turun.." Rezza mengangguk.

Sherin dan Rezza memasuki rumah, Om Arwin dan Tante Rani sedang duduk di depan TV. Mereka baru saja selesai makan malam.

"Om dan tante, Sherin sudah saya antar pulang dengan selamat dan sehat. Saya mau pamit dulu ya.."

"Eh sebentar Rezza, om mau bicara berdua sama kamu bisa?" Om Arwin tiba-tiba bangkit.

"Boleh om, bisa kok." wajah Rezza berubah serius, sedikit panik, Sherin juga.

"Yaudah kita ngobrol di halaman belakang ya, yuk ikut om.."

Rezza mengangguk, Sherin berkata "yaudah aku buatin minum buat Mas Rezza dan papah ya.."

Om Arwin mengangguk, Rezza menjawab "air putih aja Sher.. Gak usah repot-repot.."


Di halaman belakang, Rezza dan Om Arwin duduk berhadapan di sebuah gazebo berisi 4 kursi dan 1 meja. Biasa digunakan untuk bersantai di pagi atau sore hari oleh keluarga Sherin.

"Rezza.. Om mau minta sama kamu.."

"Apa om?"

"Kalau nanti, Sherin sudah resmi bercerai dari Dhika.. Dan masa iddahnya sudah selesai, tolong ya nikahi dia secepatnya." mata Om Arwin berkaca-kaca.

Rezza tertegun, seharusnya ini yang ia impikan sejak dulu. Tapi sekarang, somehow Rezza tiba-tiba merasa ada yang janggal. Seperti akan ada sesuatu yang buruk terjadi, tapi siapa yang tau?

"Kalau kalian mau adakan acara yang sederhana saja, bahkan cuma di KUA pun, om tidak masalah. Om hanya mau, kamu turuti kemauan Sherin. Dia hanya mau kamu. Itu yang om pahami sekarang.. Bisa Rezza?"

"Ehhmm.." Rezza menelan ludahnya.

"Saya mau menikahi Sherin om, tapi saya sudah berjanji.. Sampai nanti putusan cerai Sherin sudah selesai, saya baru akan membicarakan soal ini lagi. Saya harap om mengerti.." Rezza menjawab dengan serius.

Om Arwin tak menyangka, Rezza ternyata tidak egois. Dia memilih untuk Sherin benar-benar selesaikan urusannya dengan Dhika.

"Saya minta maaf ya.. Kalau om tau akan seperti ini, dulu saya tidak akan menolak kamu menjadi menantu saya.." Om Arwin menatap Rezza tajam.

Rezza menggeleng, "gak perlu dibahas om, yang sudah lewat, saya anggap sebagai pelajaran. Yang saya tahu, saya hanya memiliki perasaan tulus kepada Sherin, putri om satu-satunya.."

"Yasudah, om mau minta satu hal lagi.."

"Soal apa om?" Rezza penasaran dan takut.

"Tolong jangan sakiti.. perasaan Sherin. Om tidak mau Sherin merasakan lagi perasaan sakit seperti yang om pernah perbuat ke dia. Bisa janji ke saya Rezza?"

"Iya. Saya.. saya janji tidak akan menyakiti perasaan Sherin." Rezza menjawab dengan tegas.

Sherin mengintip dari jendela ruang tengah, ia khawatir apa yang sedang dibicarakan oleh Rezza dan papanya. Dia takut kalau Om Arwin akan terlalu ikut campur lagi dengan urusan pribadinya.

Tak lama setelah itu, Rezza dan Om Arwin masuk ke dalam rumah. Rezza langsung pamit ke Tante Rani, ia ingin pulang.

"Sher, Tante Rani.. Aku pulang dulu ya.. Biar Sherin bisa istirahat.." Rezza salim ke Tante Rani.

"Hati-hati ya di jalan Rezza.." Tante Rani menepuk pundak Rezza saat sedang salim.

"Siap tante, terima kasih. Om saya pamit ya." Rezza pun salim ke Om Arwin.

"Aku anter Mas Rezza ke depan ya mah pah.."


"Tadi papa ngomong apa?" Sherin tanya ke Rezza di depan rumah.

"Gak ada, keknya kamu gak perlu tau deh.. Ini rahasia antara pria dengan pria.." Rezza tersenyum memegang tangan Sherin.

"Oh gitu, rahasia-rahasiaan nih sama aku?" Sherin pasang muka bete.

"Aman kok, kalo ada yang gak beres aku pasti cerita. Kamu tenang aja ya.." Rezza lancar sekali mencium kening Sherin.

"Hmm yaudah. Awas kalo ada yang ditutup-tutupin!" Sherin mengancam gemas.

Rezza sempet shocked dikit.. "Oke My Sherin! Aku pulang dulu ya.."

Sherin mencium tangan kanan Rezza, "Hati-hati Mas Rezzaku.. Kabarin kalo udah sampe."

Rezza mengangguk sambil senyum.

Mobil Rezza meninggalkan rumah Sherin, semakin menjauh. Sherin memperhatikan.


09.00 | Lantai 3 K&B office.

Weekly meeting baru dimulai, Rezza nampak serius menatap layar laptop-nya. Di depan Anya dan Arina sedang present soal beberapa content plan klien yang sudah approved dan siap dieksekusi.

"Bang Rezza, ada yang mau ditambahin?" Anya melempar pertanyaan ke Rezza

"Hmm belum, btw hari ini schedule kita ke kantor Astra?" Rezza nanya ke timnya.

"Iya bang, kan kita tiap 3 bulan sekali harus ke sana full-team sesuai kontrak." jawab Icha.

"Jadi kita semua berangkat?" tanya Rezza.

"Iya, jam 12 kita semua berangkat bang sampe sana jam setengah dua mulai meeting-nya.." Arina menjelaskan.

Rezza berpikir keras, pasti akan ketemu Sherin dan... Janice ikut.

"Hmm yaudah kita finalize deck Astra dulu aja.." ajak Rezza.

"Okeh, kita switch ke Astra ya Rin.." Anya minta Arina ganti slide-nya.

Rezza bergumam dalam hati, 'pantes Sherin ngantor hari ini, kok gue bisa lupa ya? Hadeh..'


12.03 | Rezza duduk di mobil Subaru Forester miliknya, di sebelah kanannya ada Ojan video specialist K&B yang menyetir. Karena mereka full-team ke kantor klien, 1 mobil gak cukup. Mobil satunya ada Anya, Icha, Janice, dan Arina di dalam mobil BMW X1 milik Anya.. Di mobil Rezza selain Ojan, ada Sigit si graphic designer. Mereka iring-iringan di jalan menuju kantor Sherin.

Rezza sibuk membuka slide deck presentasi dari laptop-nya, Sigit juga sedang membuka laptop sambil edit design untuk konten feeds klien lainnya. Kerja di agensi memang bikin kerja di mana aja terasa biasa, termasuk di perjalanan. Tapi Rezza fokusnya bukan ke situ, dia tahu akan ketemu Sherin di sana. Hari itu mereka belum bicara, hanya saling berkabar tadi pagi saat sudah tiba di kantor masing-masing lewat chat. Rezza mau bertemu Sherin, tapi perasaannya tak nyaman karena ada Janice, yang kemarin lusa seharian bersama saat Sherin di Surabaya.


13.10 | Dua mobil itu tiba di halaman kantor Astra International di bilangan Sunter, Jakarta Utara. Mereka bertujuh jalan ke lobi setelah mobil diparkir di parkiran tamu depan lobi gedung. Sampai di lobi, Rezza dan Anya bilang ke resepsionis untuk sampaikan ke pihak klien bahwa mereka sudah sampai. Menunggu arahan untuk bertemu di ruang apa dan di mana.

Rezza semakin terlihat tak tenang, Janice sadar diri ia menjaga jarak. Anya dan Icha merasa gelagat Rezza ada yang tak beres.

"Guys, gue ke dalem duluan ya.. Kalian tunggu sini aja, kalo udah diarahin ke ruang mana chat gue." Rezza pamit ke timnya.

"Oke bang." jawab semuanya.

Rezza tau harus ke mana.. Dia menuju ruangannya Sherin di lantai 7, ia menukar KTP lalu masuk ke lift, menekan tombol 7 dan menempelkan kartu visitor yang terkandung akses NFC.

Janice memperhatikan dari jauh, "pasti Bang Rezza mau nemuin Sherin duluan." gumamnya.


Sherin sedang membereskan makanannya, tadi dia makan siang dengan memesan makanan dari aplikasi ojol. Sambil bercengkerama dengan rekan sejawatnya di tim marketing.

"Mas Rezza??" Sherin tersenyum sumringah lihat Rezza di luar kaca ruangan pantry.

Rezza melambaikan tangan sambil tersenyum, Sherin tergesa-gesa menghampiri.

"Hai Sherinku.." belum apa-apa gombalannya sudah keluar.

"Hai Masss.." Sherin langsung menyambar tangan kanan Rezza untuk menciumnya.

Beberapa staf yang melihat agak shocked ekspresinya.

"Kamu nanti ikut meeting?" tanya Rezza.

"Ikut dong, makanya aku ke kantor. Kamu kok di sini?" Sherin tak melepas tangannya Rezza.

"Aku mau nemuin kamu, gak bisa sabar nunggu di bawah." makin lancar gombalnya Rezza.

"Ihh dasar, yaudah aku ambil laptop dulu ya trus langsung ke meeting room bareng yuk.."

"Hayuk.. Ke lantai 5 ya kaya biasa?" tanya Rezza.

"Hmm nanti aku cek lagi, tadi sih katanya di lantai 7 aja karena Bu Donda mau ikut."

Bu Donda adalah Marketing Director kantor Sherin. Atasannya Sherin.

"Ohh ada Bu Donda? Waduh semoga aman deh kita.." Rezza pura-pura khawatir.

"Amaann lahh, Bu Donda baik kok kalo ketemu tim kamu. Cuma kalo feedback aja suka detail orangnya hehe. Yaudah aku ambil laptop dulu, wait ya mass.." Sherin buru-buru ke ruangannya.

Sebagai Brand Manager, Sherin sudah memiliki ruangan sendiri walau tak besar.

Rezza menunggu di area depan resepsionis lantai 7. Handphone-nya berbunyi notif chat.

"@Bang Rezza, di ruang meeting Nusantara lantai 7 ya.. Kita mau naik ke atas.." Icha chat.

"Okay, gue udah di lantai 7 kok.." Rezza membalas.

"Hai Rezza, udah sampe?" Bu Donda keluar dari lift mau ke ruangannya..

"Eh.. Halo Ibu Donda.. Apa kabar? Saya baru sampe, ketemu Sherin dulu nih hehe"

"Baik, kita meeting 10 menit lagi ya? Wait ya saya ke ruangan dulu." jawab Bu Donda.

"Siap, aman kok bu.. Tim saya juga masih di lift."

"Okee, sampe ketemu di meeting room."

"Siap Bu Donda.." Rezza gestur hormat ke Bu Donda sambil cekikikan. Memang Ibu Donda sebenarnya seorang bos yang friendly. Tapi jangan coba-coba bikin kesalahan kecil aja dalam pekerjaan. Bisa kacau dunia persilatan.


"Maaf mas aku tadi beresin meja dulu, lama ya?" Sherin datang lagi.

"Nggak kok, tadi ketemu Bu Donda sempet ngobrol dikit.."

"Oh iya? Yaudah yuk ke meeting room." Sherin tak ada rasa malu sedikitpun menggenggam jemari tangan Rezza. Melintas di depan lift, Sherin dan Rezza dikagetkan oleh Anya, Janice, Icha, Arina, Sigit, dan Ojan yang baru tiba.

"Eh udah sampe? Sekalian yuk ke meeting room." Sherin menegur semuanya.

"Oke mbak.." jawab mereka kompak.

Rezza mukanya berubah, dia memperhatikan Janice yang nampak sedikit shocked lihat Sherin dan Rezza bergandengan even di kantor klien.

Sherin dan Rezza jalan di depan sambil diikuti oleh yang lainnya, menuju ruang Nusantara. Ruangan meeting terbesar di lantai itu. Rezza ingin sekali melepas tangan Sherin, tapi juga ia takut Sherin curiga. Tangannya melemah tak bertenaga, tapi Sherin justru merasakannya, Sherin malah jadi curiga.

"Silahkan masuk.." Sherin mempersilahkan semuanya memasuki ruangan itu. Tangannya melepas tangan Rezza sejenak untuk membuka pintu ruang meeting sementara tangan satunya sibuk menggendong laptop dan sebuah buku notes warna cokelat yang senada dengan outfit-nya hari ini.

Janice memperhatikan Sherin dari atas sampai bawah, "memang Mbak Sherin cantik banget sih. Walau dia seusia Bang Rezza, tapi looks-nya gak seperti orang seumurannya." gumam Janice kagum akan penampilan Sherin hari itu.

Anya bertanya, "Sher, ini kita duduknya di bagian mana?"

"Ohh, kalian bagian sini aja" Sherin memberi gestur tangannya mengarahkan row sebelah kanan dari pintu masuk.

"Biasanya kita sebelah sana.." Sherin menunjuk arah seberangnya.

"Oke sip-sipp," Anya senyum tipis ke Sherin.

Ya memang Anya dari dulu tidak pernah memanggil Sherin dengan imbuhan 'Mbak' karena Sherin yang minta. Iya dulu sekali awal-awal Anya masih jadi intern di K&B, Sherin setiap ke kantor sering ngobrol bersama. Mereka sedekat itu dulu, Sherin justru yang minta jangan panggil mbak karena merasa dekat dengan Anya yang memang attitude-nya sangat dewasa.

Waktu menujukkan 13.25, Rezza dan Sherin masih berdiri di depan pintu. Sayup-sayup terdengar mereka berbicara santai dan sesekali tertawa. Janice penasaran apa obrolan mereka. Janice bangkit dari kursinya, keluar ruangan. Rezza kaget melihat Janice keluar, posisinya Sherin bersandar ke tembok, Rezza berdiri di hadapannya sembari menahan tubuhnya dengan tangan ke tembok. Seakan Sherin sedang disudutkan.

"Kenapa Janice?" Sherin menengok dan bertanya.

"Hmm aku mau ke toilet.. Di mana ya kak toilet-nya?"

"Ke arah depan tadi dari resepsionis ada sign-nya.." Rezza menjawab sambil memundurkan badannya dari Sherin.

Sherin menatap Rezza curiga, 'kenapa ya Mas Rezza kaya perhatian gitu sama Janice?' gumamnya

"Oke, permisi ke toilet dulu ya.." Janice meninggalkan mereka.

Rezza tersenyum mengangguk.. lalu menoleh ke Sherin. Sherin menatapnya aneh.

"Kamu sama Janice deket?" Sherin bertanya.

Degg... Jantung Rezza seakan berhenti. "Hah? Deket apanya?" tanya Rezza gelagapan.

"Ya deket di kantor atau di luar kantor gitu?" Sherin mencecar.

"Hmm, jarang sih.. Gak sesering aku ngobrol sama Anya dan Icha." jawab Rezza.

"Oh gitu, cantik ya dia?" Sherin mengeluarkan pertanyaan jebakan.

"Cantik lah, semua wanita kan cantik. Apalagi kamu." gombalan Rezza dikeluarkan.

"Hmm.. Masuk yuk." Sherin ogah memegang tangan Rezza. Sepertinya dia merasakan sesuatu.

Ruang meeting terbagi jadi dua section dengan sedikit mengkurva mejanya. Di tengah-tengah Rezza dan Sherin bersebelahan. Kursi kantor dengan roda membuat keduanya jadi fleksibel jika ingin mendekat atau menjauh.

Selain Sherin dan Ibu Donda, ada Mas Farhan sebagai Senior Marketing Manager, dan Mbak Devi sebagai Brand Manager juga yang secara posisinya satu level di bawah Sherin meski usianya lebih tua.


13.36 | Ibu Donda masuk ke ruang meeting itu.

"Siang semuanya, maaf ya saya telat 6 menit! Tadi ada call dari Bapak C-level." ujar Ibu Donda.

"Aman ibu, kalau call dari Bapak C-level kami nunggu sampe sore juga siap kok." ujar Rezza sedikit bercanda.

"Haha bisa aja kamu Rezza, btw kalian sebelahan banget nih?" Bu Donda tembak ke Rezza dan Sherin.

"Yaa bu, jarang-jarang kan Mas Rezza ke sini." Sherin jawab sambil malu-malu.

Untungnya Ibu Donda selain orangnya asik juga dekat dengan timnya, termasuk Sherin. Dia sudah tau semua cerita soal kehidupan pribadi Sherin, termasuk situasinya saat ini.

"Yahh aku sih paham yaa. Asal gak mengganggu jalannya meeting aja." Bu Donda bercanda sedikit mengancam. Semuanya tertawa karir.

Rezza menunduk malu sambil tersenyum, Sherin menutup wajahnya dengan tangan sambil tertawa. Rezza melirik sejenak ke Janice. Janice senyum tipis dengan wajah tak nyaman. Anya melihat, kacau. Anya mulai curiga.

Meeting itu berjalan sangat mulus dan penuh tawa. Sesekali di tengah pembahasan serius, mereka selingi dengan bercanda. Bahkan orang seserius Anya sempat melempar jokes lucu yang membuat Ibu Donda tertawa terbahak-bahak.

Janice memang relatif tak dapat kesempatan bicara banyak, tapi dia sangat lancar mempresentasikan bagiannya. Termasuk menceritakan pengalaman lucunya yang relate dengan materi yang ia sampaikan, semua klien Mas Farhan, Mbak Devi, dan Bu Donda pun dibuat tertawa. Sherin memperhatikan ekspresi Rezza saat Janice bicara. Sherin benar-benar sudah curiga. Alarm bahaya untuk Rezza yang tak sadar sedang diperhatikan Sherin saat Janice bicara.


15.21 | Ibu Donda memberikan apresiasi dan menutup meeting yang seru ini.

"Terima kasih banyak yaa teman-teman dari K&B. Rezza, Anya, Icha, Arina, siapa lagi yang lain?"

"Janice, Sigit, dan Ojan buk." jawab Rezza.

Sherin langsung menengok, Janice nama pertama yang disebut Rezza. Kecurigaannya makin memuncak.

"Ya sudah, nanti kita lanjutkan komunikasi di grup atau di deck ya. Saya mau ada tamu jam 15.30 di ruangan. Duluan ya semua. Kalau mau pake ruangan ini sampe jam 5 silahkan, sudah di-booked untuk kalian sampai sore ini."

"Terima kasih banyak Ibu Donda.." jawab semuanya. Mas Farhan dan Mbak Devi juga ikut keluar ruangan. Rezza, Anya, Icha, Janice, dll berdiri sejajar dekat pintu menyalami satu-satu.

"Mas, aku mau ngobrol. Ke ruangan aku ya." Sherin tampak serius.

"Eh tapi aku nanti mau balik sama mereka." jawab Rezza

"Udah kamu pulang sama aku aja." Sherin memaksa.

"Guys, Mas Rezzanya aku pinjem dulu ya.. Kalau mau di sini silahkan, kalau mau balik duluan gapapa nanti dia pulang sama aku. Okay?" Sherin menarik tangan Rezza tanpa menunggu jawaban, wajahnya nampak serius tak ramah.

Anya geleng-geleng, "ah elah ribet nih.."

"Yaudah tunggu 15 menit kalo Bang Rezza gak balik-balik, kita turun trus balik kantor ya." Icha ngide.

"Okay Cha.." semua sepakat.

Di grup Trio AE, Anya chat,

"Nanti selesai kantor kita bertiga ngobrol ya.. Di luar kantor aja. Pada bisa kan?"

Icha nanya, "ngobrol soal apa Nya?"

"Soal Bang Rezza." jawab Anya.

"Okay." jawab Icha dan Janice kompak.


"Kamu ada apa sama Janice? Jawab jujur!" Sherin sampe ruangannya langsung tembak Rezza.

"Gak ada apa-apa Sher.. Kenapa sih?" Rezza gelagapan berbohong.

"Kamu jangan bohong ya. Aku liat kok gimana wajah kamu berbinar-binar waktu Janice ngomong, waktu dia nyapa kamu, jangan bilang kamu ada perasaan sama dia?" Sherin melotot.

"Sekarang aku tanya, kalo aku ada perasaan sama dia kenapa?" Rezza tanya balik.

"Ya aku berhak tau, sejauh mana perasaan kamu ke dia? Kok jadi nanya aku balik?"

Mereka berdua mulai berselisih paham.

"Okay, aku akan ceritain semuanya. Janji aku akan jujur ke kamu. But please, kita ngobrol baik-baik dengan kepala dingin. Janji?" Rezza kasih jari kelingkingnya. Sherin mengiyakan dan menautkan kelingkingnya ke Rezza.

"Yaudah kita ngobrol di luar.. Aku gaenak ngobrol di sini.." ajak Rezza pergi.

"Okay, aku beberes dulu sekalian pulang, kamu beberes dulu aja sambil bilang yang lain suruh balik duluan." jawab Sherin ketus tapi masih manja.

"Yaudah, senyum dong.. Aku gak nyaman liat kamu ketus gitu."

"Gamau!" jawab Sherin marah lucuk sambil meremas tangan Rezza.


"Guys, kalian duluan aja balik kantor.. Gue sama Sherin. Gapapa kan?" Rezza masuk ke ruangan meeting tadi.

"Yaudah, kita duluan ya." jawab Anya, dkk.

"Okay, Ojan, titip mobil ya. Nanti kuncinya titip ke Anya aja. Thank you.."

"Siap bang.." jawab Ojan.

Rezza lanjut beresin barang-barang dan tasnya, Janice memperhatikan sambil berjalan keluar ruangan.

'Ada apa ya? Kok Mbak Sherin tadi kaya marah gitu ke Bang Rezza?' gumam Janice dalam hati.


Rezza dan Sherin di lift, turun ke basement. Mobil Sherin terparkir di sana.

Tak ada gandengan tangan kali ini, wajah Rezza tegang. Sherin memasang wajah galak sejak tadi Rezza balik dari ruang meeting.

"Nih kunci mobil aku.." Sherin kasih kunci mobilnya ke Rezza.

Di saat seperti ini Rezza tau gimana caranya Sherin tak marah lagi. Dia bukakan pintu penumpang, lalu memasangkan seatbelt ke Sherin. Wajah mereka berdekatan, Sherin yang sedang bete kaget pipi kanannya dikecup manja oleh Rezza. Sherin menampar manja ke Rezza. Dia sangat lemah ketika pipi atau keningnya dikecup mendadak oleh laki-laki itu. Bahkan sejak mereka sahabatan. Gila ya?


Flashback awal tahun 2014. Rezza sudah wisuda terlebih dulu. Dia memilih lulus 3,5 tahun karena tak mau membebani keuangan papah-mamanya.

Tiga bulan pertama setelah lulus, Rezza masih menganggur. Dia coba berbagai rekrutmen mulai dari BUMN, CPNS, anak perusahaan BUMN, sampai swasta asing dan swasta lokal tidak ada satupun yang nyantol. Bulan ke-empat dia baru mendapat kerja di sebuah perusahaan di bidang percetakan. Dia bekerja sebagai graphic designer walaupun kuliahnya sama sekali tidak ada pelajaran men-design.

Di bulan kedua menganggur, Sherin yang sedang menyusun Tugas Akhir-nya mengenai sebuah campaign brand di bidang olahraga, butuh teman untuk ke Bandung pulang-pergi satu hari. Cuma Rezza yang bisa, meski saat itu Sherin punya kekasih. Namun pacar Sherin waktu itu beda kampus dan beda jurusan. Andra namanya, laki-laki sporty yang gemar main basket dan futsal. Andra lebih mentingin olahraga daripada Sherin. Mereka hanya bertemu satu minggu maksimal dua kali karena Andra yang usianya satu tahun akademik lebih muda dari Sherin, sehari-harinya full aktivitas dari pagi-malam. Rezza kadang suka heran kenapa dulu mereka PDKT bisa tiap hari nemuin Sherin jauh-jauh ke Depok, giliran udah jadian ketemu seminggu sekali aja udah bagus.

Hingga akhirnya mereka putus, dan Sherin tau bahwa Andra memacarinya hanya karena Andra ingin menyombongkan diri ke teman-temannya kalau dia bisa macarin cewek cantik, pintar, populer, dan... Anak UI.

Brengsek!


Saat itu, jam 6 pagi-pagi Rezza dijemput Sherin di rumahnya. Orang tua Rezza sudah tahu Rezza akan pergi berduaan dengan Sherin. Tapi mereka tidak menginap, pulang malam katanya.

"Pagi Tante Kirana.." Sherin masuk ke rumah Rezza yang pintu depannya terbuka.

"Hai Sher.. Silakan masuk. Sini duduk dulu, Rezza tadi udah sarapan trus lagi ambil tas di kamarnya. Kamu udah sarapan?" Tante Kirana ramah.

"Belum sih, tapi aku gak laper tante.." jawab Sherin sambil mencium tangan Tante Kirana.

"Yaudah ini dibawa ya kalau di jalan laper, ada roti isi kacang coklat. Kamu suka kan?"

"Yaampun, kok tante tahu aku suka roti kacang coklat?" Sherin terkejut.

"Iya kan Rezza sering cerita." Tante Kirana tersenyum.

"Yaudah aku terima ya tante, makasih banyak. Nanti di jalan aku makan kalo laper." Sherin mengambil sebuah kotak bekal dari Tante Kirana.

"Sama-sama, buat Rezza juga. Dia kan gampang laper makanya tante bawain banyak."

Mereka berdua tertawa.

"Om Bagas mana tante?" Sherin duduk di ruang makan, disuguhi secangkir teh hangat oleh Tante Kirana.

"Papanya Rezza lagi ada proyek sama abang sepupunya Rezza, tadi pagi-pagi jam 5 habis subuh dijemput. Nanti pulang siang sih, jadi dia titip salam ke kamu Sher." jawab Tante Kirana.

"Oh iya, nanti titip salam balik aja ya tante.."

"Oke, nanti tante sampein."

Rezza keluar dari kamarnya.

"Udah sampe Sher? Mau langsung jalan?"

"Udah nih, udah dibawain bekel sama mama lo. Yuk langsung jalan aja, biar jam 10an udah sampe sana." jawab Sherin.

"Yaudah yuk.. Mah aku berangkat dulu ya. Doain aman perjalanan kita." Rezza salim ke mamanya.

"Aku juga pergi dulu ya tante. Pinjem dulu Rezzanya.." gantian Sherin menyalimi.

"Iya hati-hati ya kalian. Rezza jangan ngebut-ngebut nyetirnya. Kalo ngantuk mampir rest area dulu jangan maksa jalan. Cuci muka dulu ya.." Tante Kirana nyerocos perhatian.

"Siap maah, jalan dulu ya.. Wasalamualaikum.."

"Permisi tante, wasalamualaikum." Sherin juga pamit.

"Waalaikumsalam, ada apa-apa kabarin.."

"Iyaa maaah.." Rezza dan Sherin keluar dari rumah itu.


Di jalan Rezza merasa ban mobil Yaris 'bakpao' berwarna merah milik Sherin itu kaya kurang angin. Setir ngebuang ke kiri terus. Di pom bensin sebelum masuk jalan tol Rezza melipir.

"Bentar yak cek angin ban dulu.."

"Okee Za!" jawab Sherin sambil sibuk chat di ponsel BlackBerry Torch-nya.

Benar saja, ban kiri depan nampak kempes tapi tidak habis. Dasar ladies driver, kadang gak aware sama kendaraannya. Akhirnya Rezza memutuskan minta tukang tambal ban cek tekanan semua ban agar aman. Sambil buka kap mesin cek kondisi air radiator apakah dalam batas aman.

Setelah semua aman, mereka lanjutkan perjalanan.


10.50 | Sesampainya di Bandung, mereka menghampiri sebuah outlet alat-alat olahraga brand lokal yang sedang naik daun pada masa itu. Sherin sudah janjian dengan owner-nya untuk memberikan sejumlah marketing tools, mulai dari banner, backdrop, hingga selebaran pamflet yang sudah di-approved oleh owner-nya dan beneran akan disebar. Mereka datang ke sana untuk mendokumentasikan bahwa marketing tools ini sudah ditempatkan, dan kemudian selama satu minggu akan dicek apakah penjualan meningkat, stagnan, atau malah menurun? Makanya mereka harus ke Bandung untuk melakukan ini sebagai report untuk Tugas Akhir Sherin.

Masalah muncul ketika akhirnya Sherin baru tahu kalau owner outlet itu ada dua orang. Owner pertama adalah kenalannya Andra, pacar Sherin waktu itu. Namanya Dimas, dia sudah approved dengan semua material yang dibuat Sherin sebelum ke Bandung. Beberapa kali mereka kontakan melalui BlackBerry Messenger dan berkirim email untuk design marketing tools-nya. Ternyata ada co-owner satu lagi yang bernama Dani. Dani minta desain banner dan backdrop diubah karena tidak cocok dengan konsep interior outlet. Dimas tidak bisa berbuat banyak karena sayangnya Dani memang berinvestasi lebih besar dalam bisnis tersebut.

Sherin bete sebete-betenya siang hari itu di Bandung, sampai detik ini Sherin kesal tiap kali lewat jalan Riau di Kota Bandung itu, jalan di mana outlet tersebut berada.

Untungnya Rezza bawa laptop, design mentah itu semuanya ada di flashdisk milik Sherin.

Rezza dengan menenangkan ajak Sherin mampir ke sebuah restoran yang tidak terlalu ramai di kawasan Setiabudi Bandung. Mereka mampir sejenak untuk makan siang dan merevisi marketing tools yang dibuat. Berkat kemampuan Rezza mengoperasikan aplikasi design bernama Photoshop dan Illustrator, akhirnya materi-materi tersebut bisa direvisi. Sherin benar-benar merasa bersyukur memiliki Rezza waktu itu. Andai Sherin tidak punya pacar, mungkin sudah ditembaknya Rezza pada hari itu di Bandung. Setelah kordinasi dengan Dimas, mengirimkan desain hasil revisi Rezza sesuai request Dani, akhirnya marketing tools itu siap dicetak lagi. Beruntung di Bandung sangat banyak percetakan yang bisa satset hitungan jam.

Banner dan backdrop selesai dicetak, jam 3 sore.

Mereka kembali ke outlet di jalan Riau itu, menempatkan backdrop dan banner pada posisi yang sudah disepakati, menggunakan digicam milik Sherin bermerk Sony Cybershot, materi marketing itu semua berhasil didokumentasikan dengan estetik berkat tangan ajaib Rezza yang mampu mengoperasikan berbagai merk kamera itu.

16.32 | Selesai semua urusan dengan outlet dan dua pemiliknya itu, Sherin dan Rezza pamit. Mereka melanjutkan perjalanan pulang sambil mampir ke beberapa tempat pusat oleh-oleh untuk belikan bawaan ke Jakarta.

Sherin masih bete, dia melampiaskan semuanya ke Rezza. Kota Bandung sore itu entah mengapa macet sekali. Mereka mau mampir ke pusat oleh-oleh terdekat dari pintu masuk tol arah Jakarta aja memakan waktu satu jam lebih. Berkali-kali sherin mengeluhkan kemacetan ini. Rezza awalnya sabar, lama-lama ikut terpancing karena di dalam mobil itu hawanya sudah tak enak sejak siang tadi.

Begitu tiba di sebuah pusat oleh-oleh, Sherin marah-marah gak jelas ke Rezza.

"Ini mau beli apaan lagi sih di sini? Bukannya tadi udah beli banyak Za di Kartika Sari?"

"Kan katanya mau beli cemilan tradisional, ya di sini! Kalo di Kartika Sari kurang lengkap. Yaudah tunggu di mobil aja kalo males." Rezza gak mau kalah tinggi nadanya, seharian dia sudah sangat sabar menghadapi berbagai masalah. Sherin tertegun, kaget pertama kalinya lihat Rezza semarah itu di hadapannya.

"Yaudah gue ikut turun.." nada bicara Sherin merendah.

Mereka berdua turun. Membeli beberapa snack tradisional khas Jawa Barat. Di sana panas dan kotor, Sherin ke-trigger lagi. Dia tak suka tempat setidaknyaman itu.

"Udah yuk, jangan lama-lama di sini." ujar Sherin.

"Iya sabar Sher, ini kan udah mau antre bayar di kasir." jawab Rezza menahan sabar.

Tiba-tiba dompet Sherin jatuh ketika tangannya kesenggol seorang ibu-ibu yang bawaannya banyak. Dompet berwarna ungu pemberian mamanya itu jadi kotor terkena lantai yang sedikit basah. Ia mau marah ke ibu itu tapi segan, akhirnya dia lampiaskan ke Rezza.

Begitu Rezza selesai urusan di kasir, Sherin menarik tangan Rezza lalu ngomel-ngomel sambil jalan ke mobil.

"Lama banget sih, dompet gue jatoh nih jadi kotor. Udah dibilang jangan lama-lama."

Rezza hanya gelengkan kepala. Membuka bagasi belakang menaruh beberapa tas plastik berisi oleh-oleh yang dibelinya barusan, termasuk titipan mamanya Sherin.

Sherin masih berdiri di samping mobil, Rezza benar-benar sudah di puncak amarah. Ingin rasanya dia tinggalin Sherin di situ.

"Yaudah masuk." Rezza balik marah sambil buka pintu penumpang depan.

Sherin kaget sambil melototin Rezza.

Sherin kagok masuk ke mobil, hampir kejedot kepalanya ke atap mobil. Rezza sigap menarik badan Sherin. Dipegangnya kepala Sherin sambil diarahkan masuk. Lalu setengah badannya masuk menarik seatbelt. Dia pakaikan seatbelt Sherin sambil menatap wajah Sherin. Sherin takut banget.

Tiba-tiba dikecup pipi kanan Sherin oleh Rezza.

"Udah diem, duduk manis di sini. Kita jalan balik ke Jakarta."

Rezza tutup pintu pelan-pelan padahal wajahnya tampak kesal.

Segitu menahan dirinya ketika Sherin marah. Walau sebenarnya juga sebaliknya, Sherin juga selalu bisa meredam amarah kalau sedang emosi lalu diberi perhatian oleh Rezza.

Kecupan itu masih teringat dan terasa oleh Sherin.. Dan juga Rezza hingga sekarang.


Kembali ke basement kantor Sherin.

Rezza membukakan pintu penumpang depan, Sherin yang wajahnya tegang sedari tadi, melemah begitu Rezza menyuruhnya naik mobil, lalu dipasangkan seatbelt. Rezza mengecup pipi kanan Sherin. Pipi yang sama yang dikecupnya belasan tahun lalu di Bandung. Dengan posisi yang sama, dengan kondisi yang sama. Bedanya, kali ini status mereka mantan pacar, dulu mereka statusnya belum pacar.

Sherin dan Rezza sama-sama teringat momen itu. Setelah menampar manja pipi Rezza, Sherin langsung menggenggam tangan Rezza.

"Maaf ya.. Aku emosional dari tadi."

"Iya gapapa Sher.." Rezza tersenyum sendu.

Ia lalu menutup pintu itu, mereka berangkat ke arah Jaksel.

"Kita mau ke mana mas?" tanya Sherin.

"Sore-sore gini enaknya ngopi kali ya. Mau gak?"

"Mau.."


17.37 | Mereka berhenti di sebuah coffee shop di daerah Tebet. Sherin menunggu dibukakan pintunya oleh Rezza. Ia berharap dikecup lagi oleh Rezza di pipi. Rezza tau itu, kode bersama saat mereka sedang berantem sejak masih pacaran beberapa tahun lalu.

Rezza pun sambil senyum-senyum membuka pintu Sherin, melepas seatbelt-nya,

"Yang mana yang mau dicium?" Rezza meledek.

Sherin jawab malu-malu "di sini." Sherin arahkan telunjuknya ke pipi kiri.

Lihat selengkapnya