22.30 | Sherin dan Rezza tiba di rumah orang tua Sherin di Simprug.
Mereka turun dari mobil Rezza.
"Besok mobil kamu aku anter ke rumah ya." Rezza berkata.
"Gausah mas, nanti aku suruh driver papah ambil di kantor kamu aja. Aku ke kantor naik taksi soalnya pagi-pagi aku harus udah sampe kantor kan."
"Oh gitu, yaudah.. Kuncinya kamu pegang aja berarti kan?"
"Iya mas.. Udah kamu tenang aja, aku gamau ngerepotin kamu buat hal-hal simple gini. I'm an independent woman! Kan kamu tau itu." Sherin senyum manja ke Rezza.
"Iya, aku tau itu." Rezza membalas dengan senyuman.
"Yaudah aku masuk dulu ya mas.. Kamu hati-hati di jalan.. Kabarin sampe rumah."
"Okay.. Good night sayang.. Have a nice dream!" Rezza jawab dengan senyum lebarnya.
"Bye mas.. I love you.." Senyum Sherin tak mau kalah lebar.
"I love you too.." Rezza makin sumringah.
Mereka berpisah, Sherin benar-benar bahagia hari itu. Kata-kata 'sayang' dan 'I love you' dari Rezza.. Kata-kata yang dirindukannya bertahun-tahun lamanya. Mereka benar-benar sudah terikat dengan hubungan itu, hubungan yang sempat terpaksa disudahi tiga tahun lalu.
08.30 | Rabu, keesokan harinya, Sherin chat Rezza di kantornya.
"Morning Mas Rezzaku.. Aku udah di kantor ya, ini lagi siap-siap mau meeting sama direksi.
Driver papah tadi udah di jalan mau ambil mobil aku, mungkin sebentar lagi sampe.. Kamu semangat kerjanya ya sayang!"
Rezza baru saja sampai di parkiran kantor, ia membaca chat itu sambil senyum-senyum. Di depannya ada driver papahnya Sherin baru tiba dan hendak ke mobil Sherin.
"Pak pak.. Driver-nya Om Arwin ya?" Rezza sedikit berlari ke arah pria itu.
"Oh iya mas, saya driver Pak Arwindra. Nama saya Agus."
"Oh Pak Agus. Salam kenal ya.. Saya Rezza, pacar.. Eh temannya Sherin.." Rezza gelagapan.
"Oh Mas Rezza, iya iya salam kenal mas." Pak Agus menjawab.
"Sebentar Pak Agus, saya mau ada titip sesuatu buat Sherin, tunggu sebentar."
"Okeh baik mas, saya sambil panasin mobilnya Mbak Sherin dulu."
"Siap, silahkan Pak.." Rezza berbalik arah ke mobilnya. Rezza membawa sebuah kotak kardus besar dengan warna coklat polos.. Hanya ada satu tulisan dan gambar di kotak tersebut di bagian sampingnya: UP (tanda panah ke atas). Lalu ada tulisan 'open here' di bagian atasnya semacam solasi bening yang bisa ditarik. Di atas kotak itu juga ada sebuah bouquet bunga berwana ungu, kuning, dan biru. Tiga warna kesukaan Sherin, dan juga Rezza.
"Pak Agus, saya minta tolong bukain bagasi belakang ya.."
"Oh iya siap mas.." Pak agus membukakan pintu bagasi belakang, lalu Rezza menaruh kotak besar itu. Kemudian pintu bagasi ditutup perlahan, Rezza make sure tidak ada yang tertekan oleh pintu bagasi.
"Sudah pak, tinggal bouquet ini saya taruh di kursi belakang ya pak.." Rezza membuka pintu kiri belakang, lalu menaruhnya di sana.
"Udah Pak Agus, jadi nanti kalau Pak Agus sampe di parkiran kantor Sherin, pastikan posisi bunganya seperti ini ya pak. Biar Sherin nanti bisa lihat ada bunga di belakang. Terus bapak juga cek bagasi belakang, kotaknya baik-baik aja gak. Kalau aman, gak ada yang terbuka, berarti udah aman pak."
"Oke siap Mas Rezza, saya laksanakan.." Pak Agus gestur hormat.
"Oh iya sama satu lagi, saya boleh minta bapak catet nomor hape saya? Biar nanti kalau sudah sampai sana, terus kunci mobil sudah dikasih ke Mbak Sherin atau orang yang dititipkan, bapak kabarin saya ya. Bisa pak?" Rezza memohon ramah.
"Bisa dong mas, dicatat aja nomor saya mas, nanti saya chat balik kalau Mas Rezza sudah chat saya." jawab Pak Agus semangat.
"Ah iya boleh boleh.." Rezza mencatat nomor yang diberikan Pak Agus.
"Sama ini pak, buat makan siang atau buat beli oleh-oleh orang rumah ya pak, mohon diterima sebagai bentuk terima kasih saya.." Rezza memberi segepok uang kepada Pak Agus.
"Walah! Apa ini mas? Gausah atuh, saya kan udah digaji dari Pak Arwindra.." Pak Agus menolak halus.
"Beneran pak, ini saya ikhlas kasih untuk Pak Agus, mohon diterima ya pak. Nanti saya sedih kalo bapak tolak ini.." Rezza pura-pura pasang wajah sedih.
"Baik kalau gitu, saya terima kasih banyak juga ya Mas Rezza.."
"Sama-sama pak, yaudah kalo gitu saya tunggu kabarnya Pak Agus. Hati-hati di jalan.. Saya masuk kantor dulu ya pak. Duluan ya."
"Siap Mas Rezza.." Pak Agus kasih gestur hormat sekali lagi.
Sherin bete, chat dia ke Rezza cuma di-read oleh Rezza.
"Aku call aja deh, nyebelin banget sih masa di-read doang? Sibuk banget emang?" Sherin misuh-misuh di ruangannya.
Terdengar nada sambung, Rezza baru aja keluar lift lantai 3.
"Morning sayang.."
"Pagi.." suara Sherin bete-bete manja
"Kenapa kok pagi-pagi gitu suaranya?" Rezza berjalan ke arah kubikal, ada Janice dan Anya di sana..
"Kok di-read doang chat aku? Sibuk ya kamu mas?" Sherin nyerocos manja.
"Enggak, ini aku mau bales chat kamu.. Aku tadi baru sampe kantor trus bawaan aku banyak, ini udah di depan ruangan aku.. Eh kamu keburu telepon. Kenapa si? Segitu kangennya ya sama aku?" Rezza menggoda rese sambil melewati Anya dan Janice yang dari tadi memperhatikannya.
"Ohh gitu, yaudah.. Aku udah di kantor ya mas sayang." Sherin masih bete.
"Iya aku juga udah di kantor.. Semangat hari ini, kalo ada apa-apa kabarin ya."
Anya dan Janice yang mendengar omongan itu bingung. Dalam hati mereka bertanya-tanya, 'bukannya mereka kemarin berantem ya?? Kok malah mesra-mesraan di telepon pagi-pagi gini?!'
Rezza pun masuk ruangannya.
"Yaudah, nanti siang lunch di mana kamu?" Sherin masih bete tapi perhatian.
"Di deket-deket sini aja paling, kenapa sayang?"
"Kalo aku bisa ke sana, nanti aku ke sana. Keknya aku setengah hari di kantor nih."
"Yaudah, as you wish My Sherin.. Aku bebas kok kamu mau ke sini, mau ke sana, aku selalu sayang sama kamu.."
"Ih kamu kenapa sih aku lagi bete malah digombalin terus?" Sherin marah manja, Rezza sangat paham itu.
"Ya terus aku harus gimana my love?? Aku harus ikut bete juga? Nggak kan.. Yaudahh kamu bete dulu aja nanti juga kangen kan sama aku.." Rezza makin rese.
"Hmm, yaudah aku meeting dulu.. Bye sayang." Sherin menyudahi.
"Bye.. I love you.." Rezza nada menggombal.
"Love you too mass.." Sherin menutup call-nya.
"Ihhh dasar resek, untung sayang.." Sherin misuh-misuh sendiri sambil liat ke ponselnya.
09.45 | Rezza dan timnya, Anya, Icha, Janice, Arina, Ojan, Sigit, dan beberapa anak intern baru, sedang meeting di ruang meeting lantai 3. Mereka bahas kerjaan untuk kemarin, hari itu, dan besok.
Di tengah meeting, Rezza di-call oleh Pak Agus.
"Halo, gimana pak?"
"Halo Mas Rezza, maaf saya langsung telepon karena saya naik ojek balik ke rumah Pak Arwin."
"Oh iya gapapa kok pak, gimana-gimana?"
"Iya mas, tadi kunci mobil Mbak Sherin sudah saya titipkan ke mbak siapa ya? Tina, Rina, atau Sinta gitu mas, katanya dia anak buahnya Mbak Sherin. Mbak Sherinnya masih rapat katanya mas."
"Oh oke-oke, berarti kunci mobil udah gak di bapak lagi kan ya?"
"Iya mas, itu aja yang mau saya sampaikan. Oh iya sama posisi bunganya dan kotaknya sudah saya pastikan sesuai yang mas minta tadi ya.."
"Oh oke pak, siap kalo gitu. Terima kasih ya pak.."
"Iya sama-sama mas, kalo gitu saya sudahi teleponnya ya mas.. Permisi."
"Siap, hati-hati di jalan pak.." Rezza menutup call-nya sambil senyum-senyum.
Anya nanya, "kenapa bang? Siapa yang call?"
"Oh enggak, itu supir papahnya Sherin.." maaf-maaf, yuk lanjut.
Semuanya langsung males begitu dengar kata Sherin.
Rezza chat ke Sherin.
"Sayang, kamu masih meeting ya?"
"Tadi aku ada titip barang-barang kamu di mobil, tadi pagi ketemu Pak Agus di basement"
"Nanti kamu cek ya.. Makasi sayang.. 😘" chat dikirim.
Tidak langsung di-read, sepertinya Sherin masih meeting.
10.07 | Meeting di lantai 3 K&B sudah selesai, semuanya berdiri, akan kembali ke meja masing-masing kecuali Rezza, Anya, Janice, dan Icha.
"Ada apa sih bang?" tanya Icha.
"Hmm, gini. Kalian lagi ada yang mau dikerjain gak? Kalo gak gue mau minta waktunya 15 menit aja paling."
"Soal apa?" Anya to the point seperti biasa.
"Soal.. Soal Sherin.." Rezza menjawab ragu, Janice tampak gak nyaman, Anya langsung emosi.
"Ngapain sih, gamau ah gue.." Anya coba bangkit dari duduknya.
"Anya please, gue cuma minta waktunya sebentar aja. Gue mohon.." Rezza memelas.
"Yaudah cepetan bang.." Anya menekan, Icha dan Janice juga tampak tak suka.
"Okay, jadi gini.. Gue mau tanya ke kalian, kalian berkenan gak untuk ngobrol sama Sherin, in private? Tanpa gue." Rezza bertanya hati-hati.
"Buat apa bang? Ada urusan kerjaan apa urusan hati?" tanya Icha mencecar.
"Gini lho, selama ini kan kalian gak suka ya kalo ada yang berhubungan dengan Sherin, gue menyadari itu. Gue mau menanyakan, ini inisiatifnya Sherin btw, bukan gue. Sherin mau mengenal kalian lebih jauh."
"Ngapain sih bang? Kita udah kenal lama kok sama Sherin. Buat apa juga?" Anya nyolot.
"Iya gue paham Nya, tapi.. Gue pengen kalian juga ngerti kenapa gue sama Sherin. Gue gak akan maksa kok. Gue jelasin ya."
"Yaudah abang jelasin sekarang.." Janice ikut geregetan.
"Yaudah gini.. Kalian, selama ini taunya kan Sherin klien kita, sekaligus mantan gue. Apalagi Anya, sorry for you tapi emang lo paling lama dan banyak tau soal Sherin Nya."
"So? Kenapa?" Anya bertanya lagi.
"Gue pengen kalian tau kenapa gue jadi ngaco hidup gue kek gini demi Sherin. Please ya dengerin, tapi kalo kalian gak tahan silahkan say stop."
Rezza melanjutkan.. "Semuanya berawal dari gue kenal dengan Sherin di kampus dulu. Dia adalah perempuan yang bikin gue pertama kali jatuh cinta. Dia bukan pacar pertama gue, gue juga pernah pacaran cinta monyet sebelum kenal Sherin. Tapi.. Gue benar-benar mengenal sosok wanita yang gue gak bisa berhenti jatuh cinta.. Sama Sherin."
"Emangnya dia ngapain lo sih bang?" Icha mencecar..
Rezza senyum. "Dulu itu, gue SMA tiga tahun serasa di penjara hidup gue. Temen-temen SMA gue mayoritas jahat-jahat. Gue di-bully habis-habisan waktu SMA." Anya, Janice, dan Icha kaget.
"Masa SMA gue, mental gue kena.. Gak ada yang berteman tulus sama gue. Gak ada yang perlakuin baik ke gue. Bahkan 1-2 orang terdekat gue di SMA, di belakang ngomongin jelek tentang gue. Tapi thanks God! Gue melarikan diri dari kepahitan itu dengan belajar. Dulu SD, SMP, SMA awal-awal, ya gue kaya remaja pada umumnya aja. Akademis so.. so.. Nilai rapot, Bahasa Inggris, semua biasa-biasa aja, nothing special. Orang tua gue juga kalian tau, mereka hanya orang biasa-biasa aja, bukan orang terpandang, walau juga bukan dari kalangan bawah. Temen-temen terbaik gue justru temen SMP dan temen kuliah. Akhirnya waktu SMA gue minta didaftarin ke sebuah bimbel pas kelas 3. Di sana gue ketemu anak-anak SMA lain yang memandang gue jauuuhh lebih baik dari temen-temen SMA gue sendiri. Gue lebih gak sabar buat ke bimbel daripada ke sekolah. Gue mencoba abaikan kehidupan sosial gue di SMA, dan gue fokus abis-abisan di bimbel gue.
Di sana gue semangat belajar. Sampe akhirnya gue keterima SNMPTN di Komunikasi UI. Jurusan yang gue gak tau apa itu Komunikasi? Gue dulu cuma pahamnya Akuntansi dan Ekonomi karena SMA gue IPS tapi gue keterimanya di pilihan kedua, Komunikasi, pilihan pertama gue Akuntansi. Awal-awal gue kuliah, gue sempet gak pede dengan kehidupan kampus. Trauma gue di SMA sempet kebawa.. But again, thanks God gue dipertemukan sama teman-teman yang baik di kampus. Mereka dari berbagai kalangan, ada anak pejabat, ada anak artis, ada juga anak petani dari desa, ada juga anak yang gak pernah ketemu orang tuanya siapa. Di sana gue melihat dunia lebih luas.. dari sebelumnya. Apalagi kampus gue isinya banyak anak-anak daerah yang beragam latar belakang dan beragam adat budaya. Gue happy banget waktu itu.
Sampe akhirnya gue deket sama wanita yang bikin gue jatuh cinta.. Namanya Sherin.
Gue baru deket sama Sherin semester 2, karena semester 2 penjurusan program studi, kebetulan Sherin satu prodi sama gue, prodi Periklanan. Kita jadi sering duduk deketan, sering satu kelompok, ngerjain tugas bareng, gue baper sama dia."
Tanpa disadari, Anya, Janice, dan Icha kebawa alur cerita Rezza yang sangat personal dan mereka baru mendengar ini, bahkan Anya yang paling lama kenal Rezza baru dengar cerita ini. Mereka benar-benar serius mendengarkan dengan seksama cerita Rezza ini.
"Mungkin kalian udah tau, Sherin anak siapa, keluarga siapa. Dia anak bungsu dari keluarga yang sangat terpandang. Semua pejabat penting negara ini, gue rasa kenal dengan papahnya Sherin. Tapi di situ letak gue terpikat sama Sherin. Dia gak pernah memandang rendah gue, orang tua gue, keluarga gue, latar belakang gue. Yang Sherin tau, gue baik sama dia. Gue sangat mengerti dia, dari sejak semester 2 di kampus dulu.
Gue jatuh cinta sama dia dalam diam. Sherin terlalu populer buat gue, buanyak banget cowok yang deketin dia dari satu angkatan, satu jurusan, bahkan dari fakultas lain dan dari kampus lain. Sedangkan gue? Gue siapa? Gue bisa sahabatan sama Sherin aja, seneng banget dulu. Tiap Sherin ngajak gue ke mall, minta temenin ngerjain tugas, bahkan cuma nemenin Sherin beli barang-barang kebutuhan dia aja rasanya hati gue berbunga-bunga. Beruntung banget gue bisa jalan berdua dia ke tempat-tempat yang baru pertama gue datengin.
Tapi gue gak punya nyali buat melangkah lebih jauh, gue telalu rendah diri untuk menyatakan perasaan gue. Selama gue sahabatan sama dia, gak kehitung berapa cowok yang pernah jadian atau sekedar HTS-an sama dia. Dan semuanya dia ceritain ke gue. Sakit banget hati gue tiap tau dia abis jalan sama cowok, dia cerita abis ditembak sama cowok kampus lain dan dia terima. Tapi gue gak bisa apa-apa.. She's out of my league.."
Rezza menggenang air matanya, Anya dan Janice gak kuasa nahan air mata itu. Icha sibuk ngasih tissue ke mereka bertiga.
"Begitu lulus kuliah, gue kubur dalam-dalam perasaan gue ke dia.. Gue bersyukur gak harus ketemu dia lagi, gak harus satu environment sama dia lagi. Gue benahin karir dan fokus cari jati diri gue sendiri. Sampe akhirnya.. Tiga tahun setelah lulus, gue keterima kerja di DBHS Agency. Gue gak ada cerita ke siapa-siapa kecuali orang tua gue selama gue proses rekrutmen di sana.
Ternyata, at the same time, Sherin baru aja pindah ke sana. Gue seneng banget waktu itu keterima di sana walau hanya jadi graphic designer, tapi begitu gue denger Sherin juga di sana, gue takut. Gue takut kecewa lagi kaya sebelumnya gue sekampus sama Sherin. Gue takut kecewa sama perasaan gue sendiri, lagi.
Untungnya gue bertumbuh, gue bertumbuh jadi laki-laki yang lebih dewasa. Selain karir gue yang bertumbuh selama di sana 3 tahun, dari graphic designer jadi art director, karakter gue bertumbuh jadi orang yang gak lagi mau gaenakan sama orang, termasuk Sherin..
Sherin juga bertumbuh, dia gak lagi sembarangan mau dideketin sama cowok-cowok yang cuma modal ganteng dan mobil bagus. Sherin belajar dari kesalahan-kesalahan dia sebelumnya, termasuk kesalahan dalam menerima cowok baru masuk dalam hidupnya. Selama hampir tiga tahun sekantor, cuma sekali Sherin deket dengan cowok lain, itupun bos kantornya sebelum di DBHS.
Awal-awal Sherin di DBHS dan akhirnya kita ketemu, dia masih pacaran sama bosnya itu. Dia sering ajak gue ngobrol untuk curhat, gue sering tolak karena gue gak suka dengernya. Gue udah lelah mendengar cerita cowok lain dalam hidup dia. Sampe ketika setelah 3 bulan kita sekantor, Sherin nangis-nangis datengin gue di kubikal gue. Dia cerita cowok itu cuma jadiin dia trophy girlfriend. Gue gak kaget denger itu. Bukan pertama kalinya dia cerita digituin sama cowok. Dulu zaman kuliah pun, dia dipacarin sama anak kampus lain cuma buat pembuktian tuh cowok kalo dia bisa gebet perempuan se-level Sherin. Pengen marah banget gue dengernya, tapi gue juga gak bisa apa-apa, dan gue bukan siapa-siapanya.
Di situ gue marah ke Sherin, kenapa dia gak selektif sama cowok. Gue sampe ngungkit-ngungkit mantan-mantan dia yang dulu yang pernah gue denger cerita brengseknya. Gue kebablasan, Sherin shocked denger gue semarah itu. Dia tanya kenapa gue segitunya. Di situ gue luapin semua perasaan gue dengan emosional. Gue bilang gue capek denger dia tiap kali kecewa sama cowok lain. Karena gue capek nyembunyiin perasaan gue. Di situ Sherin kaget, dia gak nyangka gue punya perasaan juga ke dia. Dan ya, Sherin juga punya perasaan ke gue. Tapi karena gue berteman baik sama Didi, mantan Sherin temen sekampus kita juga, dia memilih gak mau nyatain perasaan dia juga ke gue.. Sejak kuliah.
Kesel kan? Kesel banget gue dengernya waktu itu.
Kita sama-sama punya perasaan, gue gak jujur karena gue merasa gak pantes buat dia. Dia juga gak jujur cuma karena gue temen baik dan temen dekat Didi, mantan dia yang sama-sama temen satu angkatan kita di kampus.
Long story short, dua minggu kita gak tegur sapa di kantor. Gue menyesali jujur ke dia, tapi gue gak pernah menyesali punya perasaan ke dia. Perasaan gue gak salah, waktu dan situasinya aja yang salah.
Sampe akhirnya, Sherin minta dan ngajak gue ngobrol serius. Dia ajak gue ke sebuah rooftop resto and bar. Di sana Sherin minta maaf sama gue karena gak peka. Gue juga minta maaf karena terakhir kita ngobrol gue meledak-ledak. Di sana Sherin ngungkapin keinginannya dari gue. Dia mau gue jalanin hubungan lebih dekat sama dia. Gue gak bisa nolak, gak ada alasan lagi buat gue nolak, dan karena juga gue sangat ingin menjalani itu.
And you know what? Seumur hidup Sherin pacaran, paling lama sama gue. Dia gak pernah pacaran lebih dari setahun dengan satu cowok.
Gue berhasil. Gue udah berhasil bikin dia jatuh cinta sama gue tanpa gue punya apapun yang mungkin setara dengan mantan-mantannya.
Dia hadir di momen terendah gue, saat gue kehilangan orang tua gue.
Orang tua gue yang juga mengenal Sherin. Sherin wanita pertama dan terakhir yang gue kenalin ke orang tua gue."
Rezza benar-benar tak bisa menahan tangisnya.. Anya, Janice dan Icha sadar ini salah satu alasan terbesar Sherin begitu berarti buat Rezza..
Rezza sempat menunduk, mengambil nafas dalam-dalam.
"Bang, kalo terlalu sedih gausah dilanjutin gapapa, gue ngerti kok." Anya menenangkan.
Rezza mengusap air matanya, menggeleng kepala lalu melanjutkan ceritanya.