4.30 dini hari | Rezza keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk ke masjid.
"Kamu mau ke mana mas??" Sherin terbangun.
"Eh kamu udah bangun? Aku mau subuhan di masjid." Rezza tanya balik.
"Oh gitu, aku boleh ikut? Aku mandi ganti baju dulu ya." Sherin hendak bangkit dari ranjang.
"Hmm, Sher.. Keknya jangan dulu ya. Aku gak enak kalo diliat tetangga atau ditanya sama warga sekitar." jawab Rezza.
"Ha? Kenapa mas?" Sherin heran.
"Yaa kita kan belum sah suami-istri, aku sebisa mungkin menghindari kamu dilihat orang-orang sekitar sini. Nanti ya, kalo kita udah merit, udah sah suami-istri, baru deh kita ke mesjid bareng." Rezza jawab menjelaskan.
"Yaudah kalo gitu, aku juga mau siap-siap, subuhan di sini aja. Aku harus rajin sholat buat memantaskan diri sama kamu.." Sherin berdiri.
"Okay, makasi ya sayang.."
"Makasi buat apa?"
"Makasi buat.. Buat semuanya yang kamu lakuin ke aku. Aku jalan dulu ya.."
"Yaudah sini mau salim.." Sherin manja.
"Eh gausah aku masih ada wudhu, jadi batal dong.."
"Ya kan nanti bisa wudhu lagi di mesjid." Sherin protes.
"Kan kalo sholat di masjid itu pahalanya dihitung sejak jalan dari rumah, tapi harus wudhu juga, kalo batal wudhunya sama aja bohong dong.."
"Ihh kamu mah, yaudah ntar pulang mau salim, mau peluk, mau ciyum.." Sherin ngambek.
"Haha iyaa. Yaudah aku ke masjid dulu ya calon istrikuu.." Rezza beranjak.
"Iyaa hati-hati calon suamiku.." Sherin sambil jalan ke kamar mandi.
5.20 | Rezza balik dari masjid. Sherin tampak sibuk di dapur menyiapkan sarapan.
"Assalamualaikum sayang.." Rezza masuk ke rumah.
"Waalaikumsalam mass.." Sherin masih sibuk mengocok telur dan membereskan bahan-bahan.
"Kamu ngapain? Masak? Aku belum belanja lho gak ada apa-apa." Rezza bertanya.
"Iya ini yang ada dulu aja ya mas, aku nemunya telur. Aku mau bikin telur dadar, sama nasi putih itu lagi di rice cooker belum mateng.." Sherin sibuk nyalain kompor.
"Okayy, kamu udah siap banget sih jadi istri aku?!" Rezza menggoda.
"Iya dong, aku kan istri yang siap siaga."
"Kebalik kali sayang.. Ada juga suami siap siaga." Rezza tertawa.
"Iya terserah kamu aja, pokoknya aku mau masak.." Sherin fokus di dapur.
"Mana tadi katanya mau salim, peluk ciyum, aku udah di rumah dicuekin?"
"Eh iyaa maap mass. Sini aku salim dulu." Sherin cium tangan Rezza, lalu peluk dan kiss di bibir.
"Makasi ya sayang.. Mau dibantu gak?" Rezza basa-basi.
"No! Aku bisa kok, nanti aja kalo gas habis, atau galon habis, baru aku minta bantuan kamu.."
"Hehe yaudah aku mau ganti baju dulu, abis itu aku mau sarapan bareng calon istri.."
"Yaudah sana. Biar aku fokus masak dulu.." Sherin ngusir.
"Ih aku diusir di rumah aku sendiri.. Sedih amat."
"Iya sana dulu, aku gak fokus kalo ada kamu."
"Hhmmm yaudahh selamat masak."
"Makasii mas sayang.."
6.30 | Sherin riweuh bebenah meja makan. Rezza keluar dari kamar dengan outfit ngantornya.
"Gimana sayang? Udah selesai masaknya?"
"Udah nih, udah aku hidang.. Mau makan sekarang?" Sherin nengok ke arah Rezza.
"Duh duh duh ganteng banget sih abis mandi, udah nyisir, udah ganti baju, tinggal dikasih minyak telon sama bedak semuka nih.." Sherin ngeledek.
"Emang aku bocil anak tetangga apa? Haha"
"Iya bocil vintage.." Sherin melucu sambil mendekati Rezza, mereka saling peluk manja.
"Hmm.. Yaudah yuk makan bareng." Rezza gak sabar cobain masakan Sherin.
"Okay, silakan duduk mas.. Nih aku ambilin nasinya." Sherin sibuk nyiduk nasi panas, ambilin telur dadar dan beberapa compliment seperti sambal dan kerupuk.
"Banyak banget telurnya, ntar aku bisulan.." Rezza protes.
"Ya kan cuma telur mas lauknya, harus banyakan protein dong daripada karbonya."
"Iya okayy.." Rezza bersiap menyuapkan makanan ke mulutnya. Sherin ambil makan sendiri.
"Hmm, enak sayang.. Rasa telur hehe" Rezza iseng meledek.
"Hmmm" Sherin jawab bete.
"Oiya nanti siang mobil aku dianter sama driver papah sekalian aku titip baju kotor dan bawain baju ganti. Kamu mau dititip juga baju kotornya?"
"Eh gak usah, aku ada laundry langganan kok. Tiap hari rabu sama jumat dia dateng. Nanti tinggal aku taruh tas laundry di teras."
"Ih bareng aja biar sekalian.."
"Jangan sayangg, kamu aja gapapa. Aku kan udah punya langganan. Kasian dia nanti order-annya berkurang kalo aku gak langganan lagi.."
"Yaudah deh.." Sherin bete manja.
"Oiya kamu ngantor gak hari ini?" Rezza tanya balik.
"Nggak kok, aku WFH. Kenapa mas?"
"Ohh yaudah gapapa, nanti siang kita belanja yuk. Pasti kamu juga banyak yang mau dibeli kan?"
"Siang? Emang kamu bisa mas??"
"Iya jam makan siang aku balik, nanti kita belanja dulu aja.. Trus pulangnya kalo gak ada kerjaan lagi aku gak perlu balik kantor.." Rezza jawab.
"Boleh, nanti kabarin ya kalo udah otw pulang kamunya.."
"Iyaa sayangg, nanti aku kabarin.." Rezza tersenyum dibalas senyum manis Sherin.
09.43 | Lantai 3 kantor K&B.
"Thank you guys, semua keperluan pekerjaan hari ini udah clear ya.." ujar Rezza.
"Siap bang.." semua menjawab.
"Oh iya, siang ini gue ada perlu di luar.. Kalo gak ada keperluan lain mungkin gue gak balik kantor lagi. Misal ada perlu sama gue temuin sebelum lunch atau nanti call or chat aja ya..
Maaf banget guys.." Rezza menjelaskan.
"Oh mau ngapain bang?" Icha asbun nanya.
"Hmm.. Ada urusan sama Sherin.." Rezza senyum-senyum.
Peserta meeting pada liat-liatan, mereka menyadari bosnya lagi bucin banget.
"Okeh kalo gitu, nanti kita ada apa-apa kabarin lewat chat or call deh bang," Icha jawab.
Saat berjalan balik ke meja masing-masing, Rezza menghampiri Anya, Janice, dan Icha.
"Hmm girls.. Kemarin gue udah ngomong ke Sherin, kalo kalian bersedia ketemu dan ngobrol satu-satu in private sama dia.. Nanti tunggu aja ya misal Sherin chat, japri kalian tolong direspons. Makasih banget ya.. Kalian semua terbaik.." Rezza senyum sumringah.
"Okay bang.." Anya ekspresi datar, Icha dan Janice mayan excited.
"Sip, gue balik ruangan dulu.." Rezza ngeloyor pergi.
"Nya, lo gapapa ketemu Mbak Sherin?" Icha nanya.
"Gapapa apanya?"
"Ya kan lo sensi banget tuh kalo ketemu dia."
"Nggak kok, biasa aja.. Kalian tuh yang gapapa gak, ntar jadi sebel lagi abis ketemu dia."
"Hah? Kok gitu?" Janice bingung.
"Ya siapa tau abis ketemu dia malah jadi makin ilfil." Anya jawab.
"Tapi kalo menurut gue, Mbak Sherin tuh keliatannya baik deh." Icha sotoy.
"Udah ah gausah dibahas.." Anya menyudahi.
"Tuh kan sensi.." Icha ngeledek.
"Sensi, sensi.. Senayan City? Udah ah.." Anya menutup.
12.54 | Rumah Rezza.
"Siang sayangkuu.. Assalamualaikum.."
"Hai calon suamikuu.. Waalaikumsalam.." Sherin kaget Rezza udah pulang.
"Kamu lagi apa??" Rezza jalan mendekat.
"Lagi nyatet pengeluaran, tadi aku abis beli beberapa belanjaan sih mas order di Astro.."
"Hah? Ngapain? Kita kan mau belanja.." Rezza bingung.
"Iya abis tadi aku kepikiran mau beli yang perintilan-perintilan dulu.."
"Beli apa aja tadi??"
"Aku beli beef steak cut, itu aku abis masak.. Nanti kita makan dulu ya.."
"Yaampun di rumah aja makan steak kamu tuhh.. Bisa jadi kek Ade Rai nanti aku kebanyakan makan protein.." Rezza melucu tapi jayus.
"Haha gak lucu.. Trus aku beli teflon, teflon kamu kekecilan buat bikin telur dadar tadi susah.."
"Sama beli bumbu-bumbu sih biar masakan aku makin mantep nanti.."
"Hmm yaudah, makasih ya kamu segininya.. Yaudah yuk belanja.." Rezza ajak Sherin.
"Makan duluu.. Itu aku udah masakin steak-nya.." Sherin merayu.
"Yaudah ayok makan bareng.." Rezza menggendong Sherin.
"AARGGHH mas.. Ngapain gendong-gendong ntar pinggang kamu kecetit aja udah tua juga."
"Biar romantis sayanggg..." Rezza menurunkan Sherin di kursi meja makan.
Mereka pun makan steak satu piring berdua. Momen romantis ini dipersembahkan oleh buah kesabaran Rezza yang menghadapi cobaan hidup bertubi-tubi.
Usai makan, Sherin ganti baju lalu mereka hendak berangkat.
"Lah mobil kamu mana mas?" Sherin heran di depan pintu rumah.
"Mobil aku tinggal di kantor, tadi aku pulang bawa motor.." Rezza menunjuk motornya di teras
"Lho, kan ada garasi, bisa mobil kamu atau mobil aku yang parkir di garasi."
"Duh sayang, garasi aku berantakan banget. Biarin aja kan mobil aku juga kadang dipake anak kantor.." Rezza menjelaskan.
"Hmm, yaudah nanti kapan libur kita beresin garasi ya. Sayang dong itu motor kamu mahal-mahal gitu keujanan, kepanasan. Garasinya diberesin biar bisa dipake.." Sherin ngatur.
"Kamu lebih sayang motor aku dari pada aku?" Rezza bercanda. Sherin melotot serius.
"Okay bu bos. siap atuh.." Rezza gestur hormat.
"Yaudah yuk, kamu setirin ya.. Aku mau rebahan, capek jadi ibu rumah tangga."
"Haha ampun siap sayangg.." Rezza membukakan pintu penumpang depan untuk Sherin.
Mereka pun belanja di sebuah swalayan sekitar 5 kilometer dari rumah Rezza. Kebersamaan belanja ini benar-benar menggambarkan hubungan mereka yang sangat dekat meski belum ada status suami-istri di antara mereka. Rezza yang menuruti setiap permintaan Sherin. Sherin yang sangat well organized dalam membeli barang-barang, termasuk melarang Rezza beli barang yang gak penting-penting amat. Hubungan belasan tahun antara mereka benar-benar nampak terlihat jelas.
12.42 | Beberapa hari kemudian, hari sabtu. Sherin menunggu di sebuah restoran di dalam mall di daerah Jaksel.
Tak sampai 5 menit menunggu, Sherin sudah memesan beberapa menu untuk dirinya. Janice datang mengenakan kaus putih, cardigan garis warna coklat dan celana denim biru muda ditemani tas rajut selempang berwarna coklat tua. Sepatu sneakers putih dan rambut dikuncir kuda membuat Janice tampak seperti anak kuliahan yang sedang bolos kelas.
Sherin melihat Janice datang lalu melambaikan tangan. Sherin jujur mengakui Janice memang cewek yang menarik dan punya value banget, bahkan sebelum mereka ngobrol lebih lanjut.
"Hai kak, nunggu lama ya? Maaf ya aku tadi pesen ojol lama banget abangnya.."
"Nggak kok, aku juga baru aja mesen nih. Kamu langsung pesen aja ya.. Mbakk.." Sherin memanggil waitress minta menu.
Janice memesan dua buah menu, main course dan minuman. Mereka berdua akan ngobrol banyak hari itu.
"So, Janice.. Makasih ya udah mau nyempetin ketemu aku.."
"Sama-sama kak. Eh iya aku panggilnya Kak Sherin aja boleh gak? Kayak kurang nyaman aja gitu kalo panggil mbak."
"Boleh banget dong, aku tuh pengen banget punya adek perempuan tapi sayangnya aku anak bungsu. Kakak-kakak aku juga cowok semua, jadinya aku paling girly di rumah. Haha"
"Oh iya, aku baru tau kalo kakak anak bungsu dari Bang Rezza. Tadinya aku kira kakak tuh anak pertama, abis dandanan Kak Sherin tuh looks professional banget, aku suka liat mix and match outfit-outfit kakak.."
"Oh iya? Wah makasih lho udah merhatiin.." Mereka berdua cepat akrab.
Makanan pun datang.. Mereka ngobrol makin dekat.
"Jadi Janice anak tunggal? Tapi terus papa kamu masih kontakan kan?"
"Masih kok kak, papa aku orang Jerman asli. Ketemu sama mama waktu mama kerja jadi karyawan restoran di Bali. Dulu papa lagi ada bisnis tahunan gitu tinggal di Bali dan mereka bertemu, lalu jatuh cinta.. Yaudah deh menikah tapi sekarang sudah pisah, terus juga papa gamau lepas warga negara Jermannya.."
"Ohh gitu, wah maaf ya kakak gatau soal orang tua kamu.." Sherin tampak prihatin wajahnya.
"It's okay kak.. Yang penting aku tau mama dan papa hubungannya baik, mereka juga sering call kok berdua, bahas macam-macam hal termasuk bahas aku. Terus juga aku beberapa kali ke Jerman ketemu papa dan keluarga di sana. Kalo papa lagi ke Spore, Jakarta atau Bali, atau Aussy, kita suka janjian ketemuan. Kalo di Bali mama juga ikut ketemu."
"Okay, but seriously.. I'm sorry for your parents ya yang sudah tidak bisa bersama."
"Danke, Schwester." Janice ucap terima kasih bahasa Jerman.
"Gern geschehen, Liebes." Sherin menjawab.
"Lho kakak bisa bahasa Jerman?"