12.14 | Mobil Sherin melaju di jalan raya Pondok Indah yang ramai lancar siang. Rezza di balik kemudi tampak tampan dengan kemeja lengan panjang warna maroon yang dilipat ujungnya. Memperlihatkan jam tangan Patek Phillip klasik peninggalan ayahnya, Om Bagas. Meski demikian, raut wajahnya tegang. Ini kali pertama ia akan bertemu keluarga lengkap Sherin yang selama ini memandang ia sebelah mata sebelum-sebelumnya. Bahkan situasi kini pun berat, statusnya dengan Sherin hanya 'pacar' dan Sherin belum resmi bercerai dari Dhika. Kepalanya terasa penuh dengan kekhawatiran akan obrolan dan pertanyaan macam apa yang terjadi di sana nanti.
Sherin memperhatikan wajah pria kesayangannya itu sangat tegang.
"Mas, are you okay??"
"Eh, gapapa kok Sher, kenapa?" Rezza coba tersenyum.
"Kok diem aja dari tadi? Mikirin apa sayang?" Sherin memegang lembut tangan kiri Rezza.
"Hmm. Aku kepikiran nanti di sana takut salah ngomong aja sih di depan papa mama kamu dan abang-abang kamu."
"Yaudah tenang aja, aku yakin mereka paham kok situasi kita." Sherin menenangkan.
Rezza hanya mengangguk sambil melirik senyum tipis ke arah Sherin.
12.45 | Mereka tiba di depan Caroline Bistro, sudah ada mobil ayahnya Sherin di sana. Toyota Vellfire hitam tahun 2025 dan di sebelahnya diduga mobil Mas Rendi, Jetour T2 hybrid berwarna silver. Mereka turun dari mobil.
Rezza membukakan pintu penumpang, Sherin turun memegang tangan kanan Rezza. Sherin tampak anggun sekali menggunakan long dress warna merah muda selutut, serasi dengan Rezza yang gunakan pakaian warna maroon dengan celana coklat khaki. Keduanya menggunakan alas kaki berwarna putih dan mereka siap melangkah masuk ke dalam, tiba-tiba sebuah mobil listrik BMW iX berkelir putih mengklakson, sepertinya itu Mas Armand, kakak pertama dari Sherin.
Armand turun dari pintu driver. "hai dekk, baru sampe??" menegur Sherin.
Dari pintu kiri turun Kak Yura istri dari Mas Armand. "hai Sher.. Apa kabar??"
Mereka berdua nampak serasi menggunakan outfit warna atasan putih dan bawahan khaki. Kak Yura pakai long dress berwarna putih dan tas serta heels-nya berwarna coklat khaki..
Keduanya bergandengan, menyalami Sherin.. Cipika-cipiki.
"Hai Rezza, apa kabar lo? Ke mana aja??" Armand menyapa Rezza dengan asik.
"Baik mas, Mas Armand apa kabar? Gue di sini aja nih nemenin Ayang Sherin." jawab Rezza
"Ayang Sherin ya? Jadi kalian udah balikan? Well good for you guys.."
"Hehe iya mas. Makasih yak.." jawab Sherin.
Sherin memeluk manja Rezza dan mereka menyusul di belakang Armand dan Yura.
"Selamat datang, sudah reservasi?" seorang greeter menyapa.
"Sudah atas nama Rendi kak." Sherin menjawab..
"Oh baik, mari saya antar." greeter tersebut mengantar ke area belakang di mana tempatnya lumayan tersudut tapi tetap bisa melihat sekitar. Sebuah spot untuk private lunch/dinner di tempat itu dengan posisi terbaik.
"Hai.. Kalian sampenya bareng??" Rendi berdiri lalu menyapa.
"Hai Mas.. Iya tadi ketemu di depan pas banget baru sampe." Sherin menjawab sambil cipika cipiki dengan Rendi dan istrinya Nina. Kebetulan Nina sebaya dengan Sherin dan Rezza jadi mereka lebih nyaman memanggil nama.
"Hai Nina, apa kabar?" Sherin menyapa. Rezza sibuk bersalaman dengan semuanya.
Om Arwin dan Tante Rani masuk dari area belakang, mereka habis keliling di taman belakang sambil berbicara sejenak, sepertinya bicara soal Sherin.
"Hey, Sherin dan Armand udah sampe?" Tante Rani menyapa.
"Iya mah.." Sherin menghampiri, memeluk mama dan papanya. Rezza sibuk antre di belakang untuk menyalimi Om Arwin dan Tante Rani.
"Halo Om Arwin, Tante Rani, apa kabar?" Rezza salim ke Tante Rani dan Om Arwin.
"Baik Rezza, terima kasih ya sudah datang." Om Arwin menjawab.
"Sama-sama om, terima kasih saya sudah diundang."
"Ah iya, itu Rendi yang undang kalian." jawab Om Arwin.
"Oh iya? Mas Rendi makasih ya saya diundang juga." Rezza berbicara ke Rendi.
"Sama-sama Rezza.. Silakan duduk yuk."
Makan siang segera dimulai. Meski penyajian ala table manner, tapi mereka berbicara dan berlaku casual saja karena memang acara keluarga.
"So, Rezza, masih di agensi?" tanya Armand.
"Masih mas, saya masih kerja di dunia agensi. Yah namanya juga passion.." Rezza jawab.
Sherin menyelak, "eh yang penting kan agensi punya sendiri, ya kan mas?"
"Punya berdua lebih tepatnya, agensi saya kan ada investornya juga namanya Hendro. Kawan kita di kampus dulu." jawab Rezza.
"Iya sih, tetep hitungannya perusahan sendiri dong ya Za?" tanya Rendi.
"Betul sih Mas Rendi, tapi ya gak sebanding kalau dibandingin perusahaan-perusahaan besar lah."
"Oh iya Rezza, Sherin, kapan resmiin hubungan kalian?" Armand tiba-tiba menanyakan hal itu.
Rezza hampir tersedak, Sherin langsung angkat bicara, "hubungan apa mas?"
"Yaa hubungan kalian, tunangan kek, atau langsung ke KUA gitu haha" Armand nyablak.
Sherin jawab, "keknya jangan bahas itu dulu deh, yang jelas aku sama Mas Rezza udah balikan kokk.." Senyum Sherin sumringah merekah. Om Arwin dan Tante Rani ikut tersenyum mendengarnya.
"Wow, that's nice.. Siapa yang ngajak balikan?" Nina bertanya.
"Sherin yang ajak, tapi aku juga udah niat ngajak balikan kok. Cuma keduluan Sherin." Rezza menjawab.
"Ahaha lucu banget bisa gitu ya." Rendi tertawa.
Om Arwin menyela, "Armand, Rendi.. Papah sudah bicara sama Sherin dan Rezza. Mereka mau memulai hubungannya lebih serius lagi nanti setelah Sherin sudah ketuk palu. Didoakan saja ya adek-adekmu ini."
"Siap pahh. Ya kirain kan siapa tau dalam waktu dekat ini mau ada hajatan kita, kan aku harus siap-siap juga."
"Mas Armand, kalo bisa saya nikahin Sherin sore ini ke KUA juga udah saya bawa ke KUA mas. Udah gak sabar juga ini kita. Haha" Rezza melucu. Semua tertawa, Sherin menampar gemas dan lembut pipi Rezza sambil memperhatikan wajah Rezza yang mulai nyaman di tengah keluarganya.
'Makasih mas, kamu sudah sangat baik sama keluarga aku..' dalam hatinya Sherin.
14.15 | Mereka semua selesai makan siang.
Rezza dan Sherin menunggu paling belakang. Mas Rendi dan istrinya, serta Mas Armand dan istrinya memilih untuk buru-buru pamit karena mereka meninggalkan anaknya ada yang di rumah bersama baby sitter dan ada yang dititipkan ke mertua.
"Mah, pah, kita duluan ya.." Armand pamit lalu cipika cipiki ke Om Arwin dan Tante Rani.
"Kita juga ya, kasian anak-anak di rumah sama baby sitter nanti nyariin.." Rendi pamit.
"Okay, hati-hati di jalan ya.." Om Arwin dan Tante Rani melepas mereka.
Rezza dan Sherin menunggu sampai semua masuk mobilnya, lalu mereka mengantar Om Arwin dan Tante Rani sampai di mobil.
"Sherin, Rezza, kalian jaga diri ya.. Jangan ribut-ribut lho. Kalo ada apa-apa, call mama atau papa. Ya?" ujar Tante Rani.
"Siap mahh.." jawab Sherin.
"Okay tante, siap.." Rezza beri gestur hormat.
"Oh iya, Om Arwin dan Tante Rani.. Hmm kakak sepupu aku, Kak Vina, dan suaminya. Mereka mau bertemu, mungkin kapan om dan tante berkenan, kita jadwalkan makan siang bareng gitu. Om dan tante keberatan gak?" Rezza tiba-tiba bertanya. Sherin kaget, Rezza gak cerita.
"Ohh, boleh. Minggu depan mau? Di rumah kami aja minggu depan gimana?" tanya Om Arwin.
"Hmm, kalau boleh di luar aja gimana om? Soalnya Kak Vina maunya ketemu di luar katanya, takut merepotkan kalau di rumah om dan tante.."
Om Arwin berpikir sejenak, sepertinya paham akan sesuatu.
"Ya boleh, nanti berkabar lagi aja. Minggu depan om gak sibuk kok, sabtu atau minggu kabarin aja ya Rezza." jawab Om Arwin.
"Oke baik, terima kasih om.. dan tante. Hati-hati di jalan."
"Iya sama-sama Rezza. Yaudah kita duluan ya, bye Sherin dan Rezza.." Om Arwin pamit. Mobil bergerak disetiri oleh Pak Agus driver mereka.
Sherin menahan senyumnya sampai mobil itu menghilang dari pandangan. Lalu menengok ke Rezza ketus, "kok kamu gak bilang Kak Vina mau ajak ketemu papa mama?"
"Ohh iya sayang maaf, aku tadi baru banget keinget. Terus daripada aku nanti telepon papa kamu ganggu, ya aku tanya aja. Maaf ya aku tadi skip mau cerita ke kamu." Rezza memohon.
"Lain kali, kalo mau bicara sesuatu sama papa dan mama aku, bilang dulu ke aku. Jangan kaya tadi, kita gak tau papah mood-nya lagi gimana.." Sherin marah.
"Oh oke sayang, maaf ya. Aku.. iya aku salah, maaf.." Rezza kaget Sherin semarah itu.
Sherin langsung melengos membuka pintu mobil. Rezza buru-buru memasuki mobil dari pintu driver.
Sepanjang jalan Rezza mencoba menggapai tangan Sherin seperti biasanya, ketika mereka berdua di mobil. Tapi Sherin berkali-kali menepis tangan Rezza. Entah kenapa sejak semalam Sherin mood-swing banget. Rezza kali ini pasrah dan tak mau effort apapun karena diapun lelah. Lelah setiap hari ada aja yang bikin hubungan mereka naik-turun.