9.30 | Minggu pagi. Sherin dan Rezza sedang bersiap di kamarnya untuk berangkat ke restoran di daerah Pondok Indah. Mereka semua akan bertemu. Rezza, Sherin, Om Arwin, Tante Rani, Kak Vina, dan Bang Syahrul.
Anak-anaknya dititipkan ke mertuanya Kak Vina yang sudah janjian datang ke rumah mereka.
"Mas, aku pake ini too much gak ya?" Sherin menunjukkan aksesoris kalung dan gelang berwarna ungu.
"Hmm, berhubung tema outfit kita merah-merah, masih masuk sih sayang. Pake aja." jawab Rezza yakin.
"Okay, aku nurut sama kamu.." Sherin senyum sambil towel pipi Rezza.
09.58 | Mereka keluar rumah, di carport ada mobil Rezza. Garasi rumah Rezza akhirnya sudah dibereskan sebagian dan mobil Sherin serta motor Rezza menjadi penghuni tetapnya. Mereka keluar dari rumah, sangat serasi. Rezza dengan kemeja lengan panjang warna merah gelap, celana panjang berwarna hitam dengan sepatu sneakers hitamnya.
Sherin pun memilih pakai celana panjang karena tak mau terlihat too much, celana panjang hitam, heels hitam, lalu menggunakan blouse merah gelap senada dengan Rezza. Tak lupa aksesoris kalung dan gelang Sherin yang berwarna ungu tua menambah penampilan Sherin makin menyala.
"Silahkan masuk sayang.." Rezza membukakan pintu penumpang depan ke Sherin.
"Makasih mas sayang.." Sherin tersenyum manja.
Mereka pun melaju mengarah ke Pondok Indah, ETA 32 menit.
"Mas.. Aku kok deg-degan ya.." Sherin menatap Rezza.
"Deg-degan kenapa sayang?" Rezza mengambil tangan kanan Sherin lalu menciumnya.
"Aku.. Aku takut kakak kamu gak suka sama keluarga aku.." Sherin lesu mengatakannya.
"Hmmm. Gak usah terlalu dipikirin ya sayang. Semoga gak kejadian. Amiinn.."
"Iya, amiin mas."
10.37 | Subaru Forester berwarna abu-abu terang itu tiba di Claypot Nusantara, sebuah restoran makanan Indonesia yang memiliki banyak spot untuk private lunch atau dinner. Kebetulan Rezza dan Sherin kenal manager restorannya sejak beberapa tahun lalu. Tempat itu dipilih karena mereka ingin tempat yang nyaman untuk bisa bicara dengan lancar antara keluarga Sherin dan kelarga Rezza.
"Turun yuk sayang, ini si Mas Danang udah chat aku katanya ruangannya sudah ready. Kita ketemu dia dulu ya.." Rezza melihat ke arah handphone-nya lalu memandang wajah cantik Sherin yang tegang sedari tadi.
"Iya mas.." Sherin gugup menjawab.
Rezza bukakan pintu penumpang depan, Sherin turun dengan wajah panik. Rezza yang sadar itu mendekapkan dirinya ke tubuh Sherin agar langsung bisa dipeluk oleh Sherin. Modusnya lancar jaya pagi itu walau dalam hatinya juga ada rasa khawatir akan pertemuan pertama orang tua Sherin dan Kak Vina serta Bang Syahrul itu.
"Ngapain sih mepet-mepet, modus banget kamu!" Sherin marah-marah manja.
"Ya abisnya kamu tegang banget, mau aku apain biar gak tegang?" Rezza menggoda.
"Mau dibeliin rumah di Pondok Indah sekarang, bisa?" Sherin balas bercanda.
"Bisa, tapi cicil 10 kali reinkarnasi ya!" Rezza jawab asbun, mereka tertawa bersama.
Sherin memandang rileks ke wajah Rezza, pria yang selalu bisa menenangkan hatinya itu.
Masuk ke dalam ruangan yang mereka akan pakai private lunch, di sana ada Mas Danang, manager restoran tersebut yang kenal baik dengan Sherin dan juga Rezza.
"Selamat pagi Kak Sherin dan Mas Rezza.." Danang sambut sambil menyodorkan tangan.
"Pagi mas, apa kabar? Lama ya kita gak ketemu.." Rezza jabat tangan Danang.
"Pagi mas.." Sherin juga ikut jabat tangan Danang.
"Kabar baik, Kak Sherin dan Mas Rezza gimana kabarnya? Saya beberapa kali lihat kalian makan di sini lho.." Danang coba basa-basi.
"Ah iya, kemarin-kemarin kita ke sini cuma mampir, gak sempet ngobrol sama Mas Danang. Maaf ya.." Rezza balas basa-basi itu.
"Aahh iya gapapa mas. Oh iya ini ruangannya sudah kita siapkan seperti request kalian ya..
Round table, sepuluh kursi, dan beberapa trolly cemilan nanti segera datang.. Nah itu dia untuk cemilannya sudah datang.." Danang menjelaskan.
"Nice! Makasih banyak Mas Danang.. Nanti untuk menu-menu kita udah sesuai kemarin ya, yang kita akan hidang di tengah, sama nanti minta dua buku menu untuk kalau ada yang mau pesan menu lain sebagai tambahan.." Sherin men-detail-kan semuanya.
"Siap Kak Sherin! Nanti saya siapkan dua buku menu, saya siapkan meja juga ya biar gak ganggu round table-nya.." Danang sangat paham men-treat customer.
"Okay.. Makasih mas, kalau gitu kita tinggal ke depan sebentar ya.. Sepertinya sebentar lagi mau sampe yang lainnya." Rezza permisi meninggalkan ruangan.
"Silahkan Mas Rezza, Kak Sherin.. Nanti ada apa-apa panggil saya atau staf-staf kita juga siap stand by ya."
Sherin dan Rezza bergandengan keluar ruangan untuk cek ke depan.
"Hai Sherin, Hai dek.." Kak Vina baru saja sampai.
"Hai kak.." Rezza salim ke Kak Vina. Sherin cipika-cipiki.
"Halo Bang Syahrul.." Rezza peluk cipika cipiki ke bang Syahrul.
"Anak-anak aman kan?" Rezza bertanya.
"Aman kok di rumah sama neneknya.." jawab Kak Vina.
"Okee, masuk dulu yuk. Papa mamanya Sherin belum sampe.." ajak Rezza.
Mereka berjalan ke arah ruangan private lunch itu. Kak Vina takjub karena ruangan itu sangat bagus dipenuhi beberapa hiasan yang sangat estetik dan Indonesia sekali, satu sisinya ada jendela besar yang bisa dibuka tutup menggunakan venetian blinds sehingga bisa melihat ke luar dan sebaliknya.
"Kak Vina, Bang Syahrul silahkan duduk di sini ya.. Kita mau ke depan dulu nunggu papa mamanya Sherin sampe.
Kalau mau minum dan cemal cemil dulu udah disediain di situ kak, bang," Rezza menunjuk trolley berisi cemilan dan kopi/teh.
"Oke Rezza, aman kok kita juga belum laper banget haha" Syahrul menjawab santai.
Rezza dan Sherin bergandengan jalan ke arah depan. Kak Vina memperhatikan tingkah bucin adik tersayangnya itu.
10.50 | Rezza dan Sherin sampai di depan, melihat mobil Om Arwin dan Tante Rani baru saja masuk area parkir. Mereka melambaikan tangan.
Vellfire hitam itu berhenti tepat di depan Rezza dan Sherin.. Pintu sliding door-nya terbuka, orang tua Sherin turun dari mobil tersebut.
"Pah, mah.. Macet gak di jalan?" Sherin salim lalu cipika-cipiki.
"Aman kok lancar jalanan jam segini.." Tante Rani menjawab.
"Halo tante, om.." Rezza salim dari belakang Sherin.
"Oh iya, Kak Vina dan suaminya sudah di ruangan. Kita mau langsung masuk om tante?" Rezza mengajak dengan sopan.
"Yuk, langsung ketemu.." Om Arwin menyetujui ajakan Rezza.
Mereka berjalan, Om Arwin sambil chit-chat dengan Rezza bicarakan soal restoran tersebut. Ternyata pemiliknya kenal dengan Om Arwin, lalu Sherin menggandeng mamanya sambil memeluk manja. Dari dalam ruangan, Kak Vina melihat Rezza sangat dekat dengan keluarga Sherin. Kak Vina lihat sendiri, akhirnya..
Di depan ruangan bertemu dengan Mas Danang, dikenalkan ke Om Arwin dan Tante Rani. Mereka sempat bicara singkat, sesekali tertawa lepas. Rezza ditepuk-tepuk pundaknya oleh Om Arwin. Bang Syahrul memperhatikan lalu menengok ke arah Kak Vina. Mereka berdua mulai yakin dengan hubungan Rezza dan Sherin yang sangat dekat walau agak janggal karena status Sherin kini.
Tak lama mereka masuk, Rezza memimpin di depan.
"Om Arwin, dan Tante Rani.. Saya mau memperkenalkan dua orang terdekat saya dari keluarga Almarhumah mama saya. Kak Vina dan suaminya Bang Syahrul. Kak, Bang, ini orang tuanya Sherin.. Om Arwindra dan Tante Rani.." Rezza dengan sangat formal memperkenalkan mereka.
"Halo Tante Rani, saya Vina. Kakak sepupunya Rezza." Kak Vina menghadap ke depan Tante Rani lalu mencium tangan, kemudian cipika cipiki. Di sebelahnya, Om Arwin menatap Kak Vina dengan ramah.
"Halo Dokter Vina, salam kenal. Rezza sudah sering cerita soal kamu. Saya terima kasih sudah diajak untuk bertemu.."
"Halo Om Arwindra.. Salam kenal, maaf saya menjaga mahram." Kak Vina dengan sopan menyatukan dua tangannya di depan dada.
"Iya Vina.. Paham kok saya.." Om Arwin tersenyum sambil membalas gestur tangan di depan dada.
"Halo salam kenal Tante Rani, Om Arwin.." Bang Syahrul gantian memberi gestur ke Tante Rani lalu menjabat Om Arwin serta memeluk cipika-cipiki. Om Arwin sangat memahami hal ini sebagai orang yang pernah menjabat posisi penting di pemerintahan.
"Baik, silahkan duduk yuk.. Pah mah, Kak Vina, Bang Syahrul.." Sherin mempersilahkan.
Round table itu seharusnya bisa sampai sepuluh orang, tapi karena mereka hanya berenam, jadi tidak sampai membentuk lingkaran. Bang Syahrul dan Kak Vina duduk di sisi kanan dari pintu masuk, lalu Reza Sherin sebelahan. Kemudian Tante Rani dan Om Arwin duduk setelah Sherin, bagian kiri dari pintu masuk.
Mereka basa-basi di awal sambil menunggu beberapa menu makanan yang sudah lebih dulu dipesan oleh Rezza dan Sherin.
"So, kalau Dokter Vina kan praktek di rumah sakit Pondok Indah, selain itu ada kesibukan apa lagi Vina?" tanya Om Arwin.
"Kebetulan saya juga praktek di beberapa rumah sakit lain om, ada di Puri Kencana Jakarta Barat, dan di Tanjung Barat ada rumah sakit satu grup kepemilikan dengan Puri Kencana."
"Oh iya? Sibuk sekali dong ya Vina?" tanya Tante Rani.
"Gak terlalu sih tante, jam praktek saya kan hanya 4-5 jam tiap rumah sakit, dan gak setiap hari ke semua rumah sakit itu. Pinter-pinter atur jadwalnya aja tante.." Kak Vina sangat pandai menjelaskan profesinya.
"Oh I see.. Kalau Syahrul, dokter juga kah?" tanya Om Arwin.
"Kebetulan saya anak teknik om, jadi beda profesi kita. Haha" jawab Syahrul santai.
"Biar gak bosen om, kalau satu profesi semua.. Makanya Sherin sekarang gak mau di agensi lagi ya sayang?" Rezza menyelak obrolan.
Semua tertawa kecuali Sherin malu lalu mencubit pinggang Rezza.
"Saya teknik arsitektur dulu om kuliahnya. Sekarang kerja di sebuah kontraktor lokal yang sedang growing, kebetulan perusahaan konstruksi itu milik sahabat saya sejak kuliah."
"Oh iya? Saya juga ada beberapa kolega di bisnis perumahan, siapa tau saya kenal atau pernah dengar namanya.." Om Arwin excited.
"Namanya Wayhome Constructions om." jawab Syahrul.
"Wait, WCI? Wayhome Construction Indonesia?" Om Arwin menebak.
"Iya betul om, WCI itu induk usahanya." Syahrul kaget.
"Jadi kamu sahabatnya Rahman? Anaknya pak Bambang Adikara?"
"Iya betul om.. Om kenal sama pak Bambang?" Syahrul coba tebak.
"Ya, pak Bambang itu kolega saya sejak dulu masih di pemerintahan.. Walah dunia sempit ya."
Semua kaget, ternyata mereka banyak beririsan.
"Dunia makin sempit om. Saya aja ketemunya Sherin lagi Sherin lagi.. Dari kuliah lho enam belas tahun lalu." Rezza coba mencairkan suasana.
"Kamu bisa gak, gak gombal di depan keluarga kita?" Sherin nanya gemes.
Rezza geleng-geleng senyum sumringah.
Hahaha semuanya tertawa riang. Kak Vina memandang yakin ke arah Rezza dan Sherin yang memang sudah sangat dekat sekarang. Kak Vina lega melihat ini, Rezza.. Setelah melewati banyak badai dalam hidupnya, perlahan menemukan jalan bahagianya. Kak Vina terharu. Mereka pun lanjut makan dengan obrolan santai dan ringan.
12.30 | Di ruangan itu tersisa Sherin, Om Arwin dan Tante Rani.
Mereka bertiga berbicara santai.
"Kamu seneng sayang hari ini kita makan siang bareng?" Om Arwin tanya ke Sherin.
"Seneng banget! Makasih yah pahh.. Mahh.." Sherin memeluk mamanya.
"Sama-sama sayang, mama dan papa cuma mau liat kamu bahagia sekarang.." jawab Tante Rani dengan penuh senyum kasih sayang. Om Arwin mengelus tangan Sherin.
"Habis ini mama papa mau pulang apa ke mana?" Sherin tanya.
"Nanti sore ada acara diundang sama kawan papa. Pulang dulu sepertinya sih masih siang juga." jawab Om Arwin.
"Kenapa sayang?" Tanya Tante Rani.
"Gapapa, maaf ya aku udah gak di rumah sekarang jadi gak tau kegiatan papa mama."
"Iya gapapa, yang penting kamu jaga diri dan sehat-sehat kan di sana."
"Iya pah, aku happy kok sama Mas Rezza terus. Makasi papa.." Sherin peluk papanya.
"Tante Sherinn.." Arshad masuk sambil digandeng Alsya.
Dua keponakan gemas itu datang, mereka diantar oleh ibu mertua dari Kak Vina, Tante Sukma namanya. Tadi di rumah dua ponakannya Rezza itu ditemani oleh omanya, Tante Sukma, tapi gak bisa ditinggal lama-lama.
"EH! Haloo Arshad.. Hai Alsya.." Sherin menggendong Arshad lalu menggandeng Alsya kenalan dengan papa mamanya Sherin..
"Ini kenalin ada Oma Rani, mamanya Tante Sherin.."
"Hai Arshad.. Lucu banget umur berapa kamu?" Tante Rani mencoba menggendong Arshad, malu-malu tapi mau.
"Umur tiga tahun oma, mau empat tahun bentar lagi.." jawab Rezza yang datang mendekat.
"Oh iya?? Udah bisa nyanyi belum? Kapan-kapan belajar nyanyi sama Tante Sherin dan Oma Rani ya.." bujuk Tante Rani.
Alsya ikut nimbrung "Kok nyanyi oma? Emang oma jago nyanyi?"
"Tante Sherin sama Oma Rani suaranya bagus deh merdu banget, kapan-kapan Alsya sama Arshad mau ikut nyanyi bareng?" tanya Om Arwin.
"Bolehh, kapan? Aku juga bisa nyanyi opa." jawab Alsya gemes gamau kalah diperhatiin.