17.15 | Rezza keluar dari lift di lantai 3 sehabis dari musholla basement karena ada Hendro tadi datang dan mereka sholat bareng lalu ngobrol di parkiran mobil.
Rezza berjalan ke arah ruangannya, sambil chat Sherin yang udah gak bete lagi dan lagi kejebak macet di jalan.
"Ehh Bang Rezza, ini kenalin Patra.." Anya panggil Rezza untuk kenalan sama cowok tinggi yang pakai baju kemeja formal dengan celana hitam oversized.
"Eh iya, halo. Rezza, creative director di sini.." Rezza kaget lalu melotot ke arah Patra.
"Halo Bang Rezza, salam kenal.." Patra sodorkan tangan kanan menjabat Rezza.
"Oh Patra, pacar barunya Anya?" Rezza asbun nembak gitu. Anya gelagapan lalu marah.
"Bang, jangan gitu lah.. Patra ke sini mau kenalan sama temen-temen gue langsung dicecer."
"Eh sorry, sorry.. Okay Patra, welcome to our office. Nice to meet you.." Rezza melepas jabat tangannya.
"Thank you Bang Rezza.." Patra tersenyum awkward.
Ponsel Rezza berbunyi, Sherin call.
"Oke, please enjoy our office.. The coffee, the view. Kopinya enak di sini, cobain ya haha" Rezza aneh banget.
"Gue take the call dulu, my sassy girlfriend is calling.. Sorry.." Rezza balik badan lalu mengangkat handphone.
"Hai sayang.. Kamu udah di jalan balik? Bla bla bla.." Semua orang mendengar suara Rezza yang seperti ditinggikan.
Patra bingung, Anya merasa tak beres, Janice dan Icha lihat-lihatan.
'Bang Rezza kenapa deh?' semua bertanya dalam hati.
19.15 | Rezza tiba di rumah.
"Selamat malam sayangnya aku.. My Sherin my beautiful princess.." Rezza masuk rumah langsung gombal bertubi-tubi.
"Eh udah pulang kamu mas sayang??" Sherin sedang sibuk menata meja makan, habis menyalin lauk-pauk yang dibelinya di jalan pulang tadi.
"Kamu udah gak bete kan?" Rezza nanya hati-hati.
"Apaan? Udah gausah dibahas. Aku lagi beberes buat kita makan malem."
"Yaudah peluk dulu sini.."
"Ihh gamau, kamu mandi dulu aku udah mandi."
"Ihh dikit aja."
"GAMAUKK.." Sherin nolak manja.
"Hmm yaudah deh aku mandi dulu."
"Gih sana.."
"Mandiin.."
"Mandi sendiri, udah tua!" Sherin masih marah lucuk.
"Hmm.. Yaudah bye!" Rezza ngambek, masuk kamar untuk mandi.
"BYE!" Sherin tak mau kalah.. Lalu duduk di kursi meja makan, sambil memperhatikan lelaki kesayangannya itu jalan lesu ke dalam kamar. Sherin geleng-geleng tersenyum.
19.40 | Rezza dan Sherin menikmati hidangan, ada sayur sapo tahu dan fuyunghai yang merupakan Chinese food favorit mereka berdua.
"Sayang, kamu kapan ada waktu? Aku mau ajak ketemu Hendro deh.." Rezza bertanya.
"Hah? Hendro? Kenapa Bang Hendro?" Sherin bingung.
"Hmm tadi Hendro ke kantor, ada yang diobrolin. Trus dia punya ide, sesuatu yang menarik menurut aku.. Trus dia nawarin aku untuk handle juga. Jujur aku takut gak kepegang dan kewalahan. Aku coba bilang kalo kita cari orang yang bisa dipercaya, trus aku kepikiran kamu."
"Hah? Maksudnya gimana?" Sherin bingung.
"Hmm ya kita mau nawarin kamu sesuatu, berhubungan dengan pekerjaan."
"Aku bingung mas maksudnya apa.." Sherin masih bertanya-tanya.
"Jadi gini, Hendro punya ide untuk bikin KOL Agency yang satu payung dengan K&B. Dia sekarang udah coba jalanin dan ternyata menghasilkan. Dan dia mau aku yang pantau dan handle biar jadi satu kantor juga sama K&B. Karena... dia belum bisa percaya 100% nih sama orang-orang yang di sana ngerjain. Dia mau aku yang pantau, tapi aku takut keteteran sayang.."
"Terus kamu nawarin aku?"
"Iya siapa tau, kamu kan selama ini kantornya jauh. Trus aku merasa kamu di sana juga sudah berapa, hampir empat tahun karirnya belum ada kenaikan yang gimana-gimana kan. Kalo kamu mau, kamu akan jadi main director di KOL Agency ini."
Sherin nampak bingung mau happy atau sedih. Di satu sisi dia happy ada kesempatan untuk jadi pemimpin tertinggi sebuah perusahaan, walau perusahaan baru. Tapi di sisi lain, dia juga menyayangkan karena kantornya sekarang adalah salah satu perusahaan swasta paling bonafide di negara ini.
"Hmm.. Jujur aku gak tau lagi mas mau gimana. Aku pikir-pikir dulu ya.." Sherin meminta waktu.
"Okay sayang.. Take your time.. Aku juga cuma sounding dulu aja. Misal kamu tertarik trus mau ketemu Hendro, liat langsung mereka day to day-nya gimana, bisa nanti aku temenin. Tapi kalo kamu belum siap atau gak mau, bilang aja gapapa. Kan yang penting jujur." Rezza senyum-senyum.
"Okeeyy mas.. Aku minta waktu pikir-pikir dulu ya.." Sherin jawab manja.
"Oke sayang.. Love you.." Rezza gercep banget gombal.. Sherin melirik malas.
"Love you too.." jawab Sherin lirih.
22.00 | Mereka berdua pun terlelap sambil berpelukan, keduanya lelah menghadapi kehidupan belakangan ini. Tapi kehadirannya satu sama lain membawa langkah mereka jauh lebih ringan. They're meant to be together..
09.15 | Lantai 3 K&B. Rezza dan Sherin datang sambil bergandengan.
Sherin menggunakan sebuah blouse warna soft blue dengan jeans donker cut bray, rambut dijepit indah mengarah ke atas membuat visualnya nampak sangat serasi dengan Rezza yang menggunakan polo shirt biru gelap dan celana denim-nya. Mereka nampak casual dengan sepatu sneakers warna putih yang membuat tinggi mereka berdua sedikit berbeda, Rezza yang memiliki tubuh setinggi 175 cm nampak sedikit lebih tinggi dari Sherin yang 8 cm lebih pendek.
Mereka berjalan bergandengan seakan slow motion dari depan lift ke arah ruangan Rezza.
Semua mata tertuju ke mereka yang sedari tadi belum nampak senyumnya, sepertinya mereka masih lelah meski sudah tidur semalam.
"Morning girrlss.." Rezza menyapa Trio IJA yang sudah lebih dulu tiba.
"Pagi bang.." Icha, Janice, dan Anya menyapa kompak.
"Pagi adek-adekku.." Sherin nyapa dengan senyum tipis.
"Iya pagi Mbak Sherin.." lagi-lagi mereka jawab kompak dan mata tak berkedip entah apa yang ada di benak mereka melihat Rezza dan Sherin yang gandengan erat jari jemarinya bertaut sedari tadi. Sherin dan Rezza pun lenyap ditelan pintu ruangan Rezza yang belum dibuka venetian blinds-nya.
"Ampun Mbak Sherin cantik banget yah.." Icha jujur.
"Hmm.." Anya cuma berdehem.
"Gila gak keliatan umur 34 tau gak dia tuh.." Janice menimpali.
"Aselik!" Icha cuma jawab singkat.
10.00 | "Mas aku duduk bareng Icha, Janice, dan Anya yah.." Sherin yang sedang duduk di sofa berkata.
"Ya.. udah. emang kenapa di sini?" Rezza penasaran sambil duduk di kursi kerjanya.
"Sumpek mas, pengen ke depan.."
"Elah baru juga berapa menit di sini."
"Sumpek abis rebutan oksigen sama kamu, kan idung kamu gede." Sherin ngeledek.
Rezza langsung lompat indah menyergap Sherin "Ha? Sini ayok rebutan oksigen sama aku."
Rezza membekap badan Sherin manja sambil mencium pipi, dagu, dan kening Sherin dengan barbar tanpa ampun.
"Masss. aarrghh.. mass.." teriakan Sherin agak terdengar samar-samar dari luar.
"Lagian, jahat banget bilang gitu ke aku.." Rezza melepas ciumannya tapi tak melepas pelukan.
"Make up aku luntur nanti.. Ihh kamu mahh" Sherin melepas pelukannya Rezza sambil memandang wajahnya di sebuah hiasan kaca cermin di dinding ruangan Rezza.
"Kamu gak pake make up juga udah cantik kali, aku gak perlu kamu make up.." gombal Rezza.
"Hmm.. Kan yang liat aku gak cuma kamu, udah ah aku mau duduk di luar.. BYE!" Sherin minggat.
"Iya sayang.." Rezza jawab bete sambil berjalan ke kursinya.
Sherin berjalan ke arah meja Trio IJA sambil menenteng MacBook Air 13 inch keluaran terbaru warna soft-blue miliknya. Janice yang sedari tadi memerhatikan pintu ruangan Rezza langsung sadar Sherin keluar ruangan itu.
"Hai.. Aku ikut join di sini ya.. Gapapa kan?" Sherin berdiri di dekat meja kubikal AE.
"Hah? Mbak Sherin mau duduk sini?" tanya Icha yang kaget.
"Iya.. Boleh kan?" Sherin bertanya lagi sambil menengok ke Anya dan Janice.
"Boleh-boleh kak, duduk aja.." jawab Janice. Anya nampak senyum palsu.
"Okeh, thank you.." Sherin duduk di sebelah Icha, seberang Janice.
"Kakak lagi kerja?" Janice nanya basa-basi.
"Iyaa, aku jadwal WFH hari ini jadi yaudah deh ikut Mas Rezza ke sini. Lagi manja banget tuh dia gak bisa jauh-jauh. Ini aku mau ke sini aja ditahan tadi." Sherin curcol lucuk.
"Ohh gitu.." Janice jawab singkat.
"Kakak? Kok lo panggil Sherin kakak Jan?" Anya bingung.
"Ohh iya, habis ketemu Kak Sherin aku minta boleh panggil kakak aja gak. Soalnya aku kurang nyaman kalo panggil mbak.." Janice mejelaskan, Sherin mendengar sambil cek laptop-nya.
"Iya Anya, kan Janice dan Icha ini adek-adek aku.. Ya kan Cha?" Sherin nengok ke Icha.
"Eh hehe iya Mbak Sherin." Icha kikuk.
"Ohh gitu.. Baiklah." jawab Anya ketus.
"Oh ya Anya, kita kan belum ngobrol berdua. Kalo weekend ini kamu sibuk gak? Kan long weekend tuh, senin libur. Jadi aku tanya dulu kamu bisa gak weekend ini, takutnya kan kamu ada plan lain.." Sherin tanya.
"Weekend ini ya? Sabtu bisa.." Anya jawab.
"Okeh sabtu, pagi atau siang mau?? Soalnya kalo sore ke malem takut Mas Rezza ngajak malem mingguan. Hehe" Sherin tanya lagi.
"Iya boleh sebelum lunch kali ya Sher, jam 11 gitu. Sore atau malemnya juga takutnya gue jalan sama Patra." Anya menyombongkan.
"Siapa tuh Patra? Pacar kamu Nya?" Sherin kepo.
"Gebetannya Anya mbak, baru banget deket, baru jalan dua kali hihi" Icha nyamber.
"Ohh gitu. Well semoga lancar ya Anya hubungannya sama Patra... Amiinn.."
"Hehe thanks Sher.. Amiin." Anya jawab dan diamini Janice dan Icha.
"Yaudah, nanti ku kabarin ya mau ketemu di mana. Biar aku cari dulu tempat yang proper buat kita ngobrol." Sherin bicara ke Anya.
"Okeh, siap Sher. Kabarin aja nanti.." jawab Anya. Sherin mengangguk ramah.
Mereka pun lanjut sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
11.15 | Rezza berjalan pelan ke arah kubikal Trio IJA + Sherin.
"Sayang, kita ke kantor Hendro yuk. Dia ngajak lunch di sana sekalian ngobrol.."
Empat wanita cantik itu menengok ke Rezza. Icha, Janice, dan Anya kaget baru kali ini melihat langsung Rezza dan Sherin berinteraksi dengan mesranya.
"Mau jalan sekarang mas??" Sherin bertanya lembut.
"Ayok, kamu masih ada kerjaan?" Rezza nanya, Trio IJA tanpa canggung tengok kanan kiri memperhatikan obrolan Sherin dan Rezza di sana.
"Wait ya Mas Rezzaku, ini lagi ngetik email bentar. Abis ini aku siap-siap.."
"Okay.. I'll wait in my office then." senyum Rezza merekah.
"Alright babe.." Sherin jawab dengan senyum tak kalah merekah dan mata berkedip manja.
Rezza melirik ke arah Anya, Icha, dan Janice. Anya bertanya, "ada apaan bang ke kantor Bang Hendro?" semuanya juga penasaran.
"Ohh itu, ada obrolan soal bisnis barunya dia. Nanti gue cerita kalo udah final decision."
"Ohh oke-oke.." Anya mengangguk paham.
Rezza berbalik ke ruangannya, Anya, Janice, dan Icha terdiam sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mereka semua lumayan merasa tak nyaman melihat di depan mata interaksi mesra Sherin dengan bosnya itu.
Memang Rezza bukan tanpa alasan sengaja memamerkan kemesraan itu. Dia ingin memberi tahu tiga wanita yang diam-diam menaruh rasa ke Rezza itu bahwa Sherin saat ini sangat erat hubungannya dengan Rezza. Tak ada yang bisa mengganggu mereka lagi. Rezza memang ingin menyampaikan itu ke Trio IJA, sayangnya ia lakukan itu dengan cara yang.. menyakitkan.
12.10 | Rezza dan Sherin tiba di lantai 5 sebuah gedung perkantoran mewah di Jalan HR Rasuna Said. Mereka bergandengan lalu menghampiri resepsionis di lantai itu. Seluruh space di lantai itu terisi semua perwakilan unit bisnis keluarganya Hendro. Bahkan ada beberapa tambahan ruangan di lantai enam dan lantai tujuh.
"Siang mbak, saya mau ketemu Bang Hendro sudah janjian.." Rezza menyapa resepsionis.
"Oh Mas Rezza ya? Silakan masuk ke ruangannya Pak Hendro aja mas, mau saya antar?"
"Oh oke gak usah, kami udah tau kok ruangannya. Makasih.." Rezza menolak halus.
"Baik, sama-sama mas dan mbak.."
Rezza dan Sherin melempar senyum ke resepsionis itu lalu berjalan ke dalam area kerja dari balik pintu di samping meja resepsionis.
Rezza dan Sherin berpapasan dengan Pak Sofyan, ayahnya Hendro.
"Siang Om Sofyan, apa kabar??" Rezza menyalami Pak Sofyan yang sedang berjalan dengan asistennya menuju luar.
"Heh Rezza.. Mana aja sih? Baru keliatan. Pacar baru?" Pak Sofyan to the point.
"Eh ini Sherin om, teman sekampus kami. Teman Hendro juga.." Rezza mempersilahkan Sherin jabat tangan Pak Sofyan.
"Oalahh.. Iya-iya Sherin apa kabar kamu? Papa sehat?"
"Kabar baik om, papa saya juga Alhamdulillah baik dan sehat. Om apa kabar?" Sherin ramah.
"Baik juga Sher, Alhamdulillah. Kalian mau ketemu Hendro ya? Di ruangannya tuh nanti langsung ke sana aja."
"Oh baik om, kami mau ke sana. Om Sofyan mau ke mana? Makan siang?" Rezza basa-basi.
"Iya ada lunch bareng kolega bisnis saya, biasa lah.."
"Okeh kalo gitu, hati-hati di jalan om. Kami izin ketemu Hendro dulu di dalam ya."
"Iya silakan-silakan Rezza dan Sherin. Saya jalan dulu."
"Iya mari om."
Pak Sofyan berjalan keluar, Sherin dan Rezza lanjut gandengan tangan menuju ruangan Hendro.
Di depan ruangan, Rezza mengetuk pintu kaca.