Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #13

Chapter 13

06.30 | Matahari sudah tinggi, cahayanya masuk melalui jendela yang lupa Sherin dan Rezza turunkan tirainya tadi malam. Rezza terbangun dengan tangan kirinya keram ditindih badan Sherin yang terlelap lelah di dekapannya.

"Sayang.. Bangun. Udah siang ini. Kamu kan mau ke kantor.." Rezza bangunkan Sherin.

"Hmmm.. Mass.."

"Kamu ke kantor gak?" Rezza coba melihat wajah Sherin yang sedang meringkuk lelah.

"Emang udah jam berapa?" tanya Sherin lemah.

"Keknya udah mau jam 7 sayang." jawab Rezza.

"Yaudah 15 menit lagi aku bangun."

Rezza hanya bisa tersenyum, wanita impiannya itu kini terkulai lemah tepat di dekat jantung hatinya. Rezza berkali kali mencium rambut Sherin yang terurai berantakan namun harumnya terjaga.

"Sayang.." Sherin memanggil lirih.

"Kenapa?" Rezza bertanya.

"Kamu pagi-pagi udah bangun aja!"

"Nggak aku juga baru bangun.."

"Bukann, itu kamu.. Kok bangun gak diapa-apain?" Sherin menunjuk ke arah selangkangan Rezza yang tegak tertutup selimut.

"Ya kan namanya juga cowok, pasti pagi-pagi bangun. Normal kok.."

Tiba-tiba Sherin menengok ke wajah Rezza dengan wajah berbinar.

"Mau lagi?"

Rezza hanya tersenyum tipis tak jawab apapun.

Sherin langsung terbangun dan menggoda Rezza sambil terduduk di pangkuannya. Rezza menikmati rasa itu. Sekali lagi. Dosa itu terbuat lagi di pagi hari.


09.18 | Mobil Subaru Forester itu berhenti di lobi gedung kantor K&B.

"Mas, aku pinjem mobil kamu dulu ya.. Aku ke kantor, nanti misal abis lunch gak ada meeting lagi, aku langsung ke sini." Sherin memandang wajah Rezza ramah.

"Iya sayang, kamu hati-hati ya.. Makasih."

"Makasih? For what?" Sherin bertanya bingung.

"Makasih udah nyetirin aku.. Makasih kamu gak ninggalin aku."

Sherin senyum, "aku yang rugi kalo ninggalin kamu."

Rezza cuma bisa membalas dengan senyumannya.

"Kenapa sih kamu senyum-senyum mulu? Aku heran.." Sherin bertanya manja.

"Gapapa, makasih ya tadi malam sama tadi pagi. Aku happy banget sayang.."

Sherin tersenyum malu, ia pun tak menyangka hari itu terjadi sesuatu yang memang mereka inginkan.

"Udah ah gausah dibahas, nanti kamu mau lagi sekarang kan repot. Aku gak ke kantor-kantor nanti." Sherin jawab gemes.

Mereka berdua tertawa.

"Yaudah aku turun dulu ya, bye sayang.. Hati-hati nyetirnya." Rezza pamit sambil Sherin cium tangan kanan Rezza.

"Iya mas, makasi ya.. Kamu semangat kerjanya.." Sherin pamit.

"Iyaa kamu juga.. Bye.."

Rezza memperhatikan mobilnya hilang dari pandangannya disetiri oleh Sherin yang harus ke kantor hari itu.


10.35 | Meeting room lantai 3.

Hendro sedang mampir dan ikut daily meeting di pagi hari.

"Kalo ini udah jalan, nanti tinggal auto-pilot aja karena to be honest konten-kontennya tuh relatif easy to produce, pengulangan, dan well-planned tiap bulan polanya udah ada. Even kita bisa plan konten setahun ke depan." ucap Rezza menjelaskan klien baru yang deal tanpa pitching. Sebuah perusahaan pertambangan batubara yang ayahnya Hendro, Pak Sofyan, menjadi salah satu pemegang sahamnya.

"Okeh bang, well noted. Kita akan segera siapin monthly content calendar untuk PT Sirbara ini ya. Nanti gue update segera kalo udah siap di-propose ke klien." Anya meyakinkan.

"Sip, thank you Nya. Ada lagi yang lain mau nambahin? Bang Hendro any comment?" Rezza bertanya.

"So far, aman menurut gue. Tinggal finalize aja ya, kan kontrak udah dikirim ke mereka, tunggu di-approved bos-bosnya termasuk bokap gue, abis itu kita finalize content plan first month." Hendro memastikan.

"Yup, betul bang. Sambil kita nunggu kontrak approved, nanti kita udah cicil content plan bulan pertama juga.." jawab Rezza.

"Anyone else?" Rezza menanyakan.

"Kalo gak ada, kita tutup daily meeting pagi ini ya.. Thanks guys.."

"Thank you guys.." yang lain menjawab sambil bubar.

"Pernah gak sih kalian sebucin Rezza?" Hendro bertanya random. Semuanya berhenti mematung.

"Sorry Bang Hendro, maksudnya gimana?" Janice bertanya ke Hendro.

"Itu wallpaper laptop-nya Rezza, dari dulu sampe sekarang gak diganti padahal laptop-nya aja udah berapa kali ganti. Itu foto waktu lo sama Sherin ke New Zealand kan Za?" Hendro nembak.

"Eh iya bang, lo masih inget aja.." Rezza malu-malu, semua orang langsung liat ke TV 65" di ruang meeting itu. Nampak wallpaper sebuah scene di pagi hari dengan pemandangan kontur pegunungan yang estetik dengan siluet seorang pria dan wanita sedang membelakangi kamera di sudut kanan bawah potret itu.

"Hah? Jadi selama ini wallpaper ini tuh foto lo sama Sherin bang? Sumpah gue baru tau." Anya kaget dan geleng-geleng.

"Iya, gue kirain wallpaper random dari internet. Bagus banget fotonya." Icha menimpali.

"Oh kalian gak tau? Soalnya gue tau banget abis mereka balik dari NZ dulu Rezza pamer ke gue foto-foto dari kameranya Rezza waktu trip berdua Sherin." Hendro bertanya.

"Udah-udah bang, gak usah dibahas. Gue malu, selama ini diem-diem aja eh ketauan juga." Rezza cekikikan.

"Kalo wallpaper di hapenya Bang Rezza sih gue udah tau ya, itu foto dia sama Mbak Sherin waktu di Bali siluet juga. Tapi kalo laptop jujur gue baru tau sih.." jawab Icha.

"Udah please.. Guyss.. Gausah dibahas ya.. Thank you.. Have a nice day.." Rezza menutup.

Semua berjalan keluar sambil senyum-senyum.

"So, gimana Za? Sherin belum ada update?" tanya Hendro.

"Belum nih bang, dia lagi sibuk sama kerjaannya. Nanti malem gue tanya deh ya." jawab Rezza.

"Okeh, itu tangan lo kenapa? Kemarin siang ketemu gue gapapa." Hendro curiga..

"Ohh ini, hmm luka kecil biasa lah. Hehe"

"Za, gue kenal lo udah lama ya. Lima belas tahun lebih lho kita kenal. Ngapain sih nutup-nutupin? Lo ada sesuatu sama Sherin? Mumpung gue free nih today. Cerita lah.. Kan nanti kalo Sherin jadi leader-nya Setara KOL Agency, kita akan banyak kerja bareng!" Hendro membujuk.

"Hmmm. Jadi kemarin sore gue sempet salah paham sama Sherin.." Rezza ceritakan kejadian kemarin sore di sana. Sampai mereka balik ke rumah.

"Astaga Za! Jadi lo tinggal serumah sama Sherin sekarang?" Hendro geleng-geleng.

"Gue juga.. Sebenernya gamau bang, gue mau dia selesain dulu urusannya sama Dhika. Tapi gue gabisa nolak permintaan dia ditambah dia kena mentalnya juga. Dia selalu pengen deket gue."

"Yaampun Za.. Lo segininya. Gue sih cuma mau ngingetin ya sebagai temen deket lo. Gak baik kalian tinggal serumah berdua doang tanpa hubungan pernikahan. Amit-amit lo digerebek warga gimana coba? Gak lucu gue mecat lo, atau kita putus hubungan kerjaan cuma karena hal kek gitu.." Hendro menakut-nakuti.

"Duh amit-amit ya bang.." Rezza sambil ketuk-ketuk meja.

"Gue juga gatau nih, Sherin masa iddahnya juga masih lama. Dua atau tiga bulan lagi. Terus juga sidang putusan cerainya masih belum keliatan hilalnya. Gue cuma bisa bersyukur bokap dia udah nyetujuin kita bang.."

"Iya gue paham, even ortunya memberi izin kalian tinggal serumah juga gue ngerti. Tapi gak baik Za.. Beneran deh gue ngingetin sebagai sahabat nih.. Lo coba pahamin ya maksud gue."

"Iya bang. Makasih ya udah mengingatkan.. Gue coba cari jalan keluarnya ya." Rezza garuk kening tiba-tiba pusing sendiri karena obrolannya sama Hendro.

"Yaudah kalo gitu, gue cabs dulu ya. Mau mampir di toko temen gue di PIM. Ini barusan ngabarin dia udah otw ke PIM. Gue jalan sekarang." Hendro pamit.

"Yaudah gue temenin ke bawah.." Rezza menawarkan.

"Ayok.." Hendro menyetujui.


16.20 | Sherin tiba di lantai 3.

"Sore girlss.." Sherin nyapa Trio IJA.

"Sore Mbak Sherin.." mereka jawab kompak.

"Mas Rezza di ruangan?" Sherin nanya.

"Iya ada kok. Masuk aja mbak.." Icha jawab.

"Okay thanks.. Aku ke ruangan Mas Rezza dulu ya.." Sherin senyum ramah ke Trio IJA.

"Iyaa mbak.. Silakan.." Janice dan Icha menjawab.

"Hai sayangkuu.." suara Sherin menggelegar merdu mengagetkan Rezza dan satu lantai.

Anya geleng-geleng, Icha dan Janice liat-liatan. Karyawan lain pada sibuk ngegosipin.

"Sayang kok gak bilang-bilang udah di jalan?" Rezza heran namun senang.

"Iya kan biar surprise.." Sherin jawab manja lalu berlari menimpa Rezza di kursinya.

"Aduh-aduh jangan ditiban aarrgghhh.." Rezza teriak tapi tak marah.

Sherin cium-cium wajah Rezza sambil gelendotan di pangkuan Rezza.

"Sher.. Sayang.. Aku masih kerja.."

"Kenapa sih kamu? Hmm?" Sherin heran.

"Gapapa, aku lagi ngecek kerjaan bentar ya.." Rezza tersenyum awkward.

"Yaudah, aku duduk di sofa ya.. Kamu jangan deket-deket aku." Sherin ngambek.

"Ih sayang jangan bete. Aku lagi ditungguin ini checking deck buat sore ini kirim ke klien. Tinggal approval dari aku aja.." Rezza memohon.

"Iya yaudah lanjutin kerjaan kamu. Aku mau cek email di situ." Sherin berjalan menuju sofa.


17.15 | "Sayang, aku udah selesai. Mau pulang?" Rezza menutup laptop-nya.

"Ayok, aku beberes ya mas.." Sherin menjawab semangat..

"Okay, aku juga.." Rezza ikut beberes.

Mereka berdua keluar dari ruangan.

"Eh ada Patra? Mau jalan sama Anya?" Rezza menegur Trio IJA yang lagi beberes dan nampaknya mau pulang.

"Eh, halo Bang Rezza.. Ini mau balik bareng Anya, dan kita mau makan-makan juga. Mau ikut?" Patra menyapa Rezza sambil duduk di sebelah Anya.

"Ohh.. No thanks, gue sama Sherin mau langsung balik. Eh iya, kenalin ini Sherin.." Rezza kenalkan Sherin ke Patra.

"Oh, hai Patra salam kenal ya.." Sherin menyapa jauh Patra.

"Salam kenal Mbak Sherin.." Patra menyapa Sherin.

"Kalian mau jalan ke mana?" Sherin bertanya.

Lihat selengkapnya