Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #14

Chapter 14

08.30 | Sabtu pagi.

"Mas.. Nanti koper masukin aja ke mobil yah kalo udah. Aku berangkat setengah jam lagi. Anya juga udah info dia lagi siap-siap." Sherin menjelaskan.

"Iya sayang.. Aku masukin koper kita ke mobil aku ya nanti. Voucher booking hotel udah ready kan? Aku udah kirim ke kamu belum sih? Lupa deh.." Rezza bertanya sambil mendorong koper besar itu dari dalam kamar menuju mobil Subaru Forester Rezza. Mereka akan berangkat ke Bandung menggunakan mobil itu, sementara Sherin ke rumah Anya menggunakan mobil Yaris Cross Hybrid miliknya.

"Udah kok mas, kamu kirim lewat Airdrop waktu itu makanya gak ada di history chat." Sherin tertawa melihat calon suaminya ini pelupa.

"Hehe iyaa maap ya.. Aku lupa-lupa inget."

"Okay mas, yaudah yuk sarapan dulu. Aku bikin roti biar gak terlalu riweh di dapur tadi. Ada sandwich isi smoked beef sama yang sweet roti isi coklat kacang. Kamu mau yang mana? Apa mau dua-duanya?" Sherin menarik tangan Rezza lalu menggeretnya ke kitchen sink untuk cuci tangan.

"Kalo aku mau yang paling sweet boleh gak?" Rezza pasang muka iseng.

"Paling sweet?" Sherin bingung.

"Iyaa yang paling manis, kamu maksudnya hehe" Rezza gombal pagi-pagi.

"Ihhhh gombal.." Sherin tepuk manja pipi Rezza sambil senyum-senyum. Mereka pun makan saling suap-suapan di tengah suasana pagi yang dingin menghangat itu.


09.35 | Sherin tiba di rumah Anya di Kemang. Ia pencet tombol bell di samping pintu rumah.

"Halooo.. Anya udah siap?" Sherin langsung menyodorkan tubuh untuk cipika cipiki sama Anya. Anya berasa aneh tapi dia tak nolak.

"Udah Sher. Mau langsung jalan apa mampir dulu?" Anya berusaha ramah.

"Langsung aja kali ya, biar gak kena macet.." Sherin bertanya.

"Oke.. Masuk bentar yuk, gue sambil ngambil dompet dan handphone."

"Okehh.. Assalamualaikum.." Sherin memberi salam.

"Waalaikumsalam.. Masuk yuk.." Anya berjalan di depan.

"Sepi Nya? Orang rumah pada pergi?" Sherin basa-basi.

"Papa-mama pergi ada event kantor mama, kaya lari pagi atau marathon gitu di BSD. Lupa sih event apa. Gak diajak juga soalnya gue. Trus adek-adek keknya pada tidur deh atau main di kamar. Mereka kamarnya di atas. Jadi gatau juga pada ngapain.." Anya ambil tas dan handphone-nya di kamar. Sherin menunggu di depan pintu sambil ngintip dikit. Kamar yang sama yang pernah Rezza masuki untuk mengantar Anya waktu tertidur di rumah Rezza beberapa tahun lalu.

"Bagus banget kamar kamu Nya.. Dekor sendiri?" Sherin terpana melihat kamar Anya yang rapih, penuh dengan hiasan yang estetik tapi gak norak.

"Hehe iya, hasil percobaan berkali-kali. Gak kehitung gue berapa kali menata kamar ini dari sejak lulus kuliah.." Anya menjelaskan.

"Udah nih, jalan yuk.." Anya menutup pintu kamarnya.

"Yukk.." Sherin menggandeng tangan Anya lalu mereka keluar dari rumah. Anya agak kaget melihat Sherin yang begitu menganggap dekat. Walau memang mereka setara secara status ekonomi, tapi perbedaan usia ditambah adanya perasaan masing-masing terhadap Rezza, mereka berdua memang tampak sulit untuk akrab. Tapi Sherin menurunkan egonya, dia memilih mendekat ke Anya untuk membuat Anya merasa nyaman.


"Trus mobil kamu gimana Nya? Kenapa dijual kalo boleh tau? Mau ganti ya?" Sherin bertanya.

"Ohh iya Sher, mobil yang kemarin kan udah tiga tahun lebih tuh. Trus papah nawarin mau ganti gak. Awalnya gue nolak, gaenak kan ngebebanin papa. Tapi pas gue ngerasa tuh mobil udah sering jajan alias servis ini itu yang mayan mahal, gue iyain deh tawaran papah."

"Ohh gitu.. Terus udah ada mobil barunya?" Sherin kepo.

"Udah kok, kemarin udah SPK duluan sebelum mobil yang orange itu kejual. Tapi di dealer masih diurus katanya untuk surat menyurat. Mereka janji minggu depan udah siap kok beserta plat nomornya." Anya bercerita.

"Wahh mobil baru dong.. Ganti apa mobilnya Nya? Lebih keren ya dari kemarin?"

"Hehe nggak kok, gue mau nyoba pake mobil listrik. Beli itu, mobil listrik yang lagi viral. Merk Aion V, tau gak Sher?" Anya nanya.

"Hmm, merk Aion tau sih, tapi lupa yang mana modelnya." Sherin mengingat-ngingat.

"Yang ini, nih kemarin dikirim salesnya foto mobilnya udah ready, nunggu surat-suratnya beres." Anya tunjukkin foto di ponselnya.

"Ohh yang itu, keren sih. Kamu sukanya mobil-mobil SUV ya? Garang soalnya kan keliatannya."

"Iya, soalnya gue cari yang range-nya jauh kan. Nah ini bisa sekali charge maksimal range 600 kilometer lebih.." Anya menjelaskan.

"Oh ya? Wah jauh juga ya. Berapa pricelist-nya? Aku gak tau soalnya harga-harga mobil merk China." Sherin kepo.

"Kemarin tuh dapet harga pricelist di 500 juta lebih dikit. 512 juta kalo gak salah. Tapi ada cashback kaya potongan gitu. Lumayan lho hampir 30 juta cashback-nya. Jadi abis dilunasin seharga pricelist itu, dikirim balik uangnya seminggu kemudian 28 juta gitu.."

"Wah, jadi gak sampe setengah milyar? Good deal dong ya.."

"Good deal banget.. Udah dapet wall charger juga jadi nanti dipasangin charger-an di rumah yang nempel ke tembok gitu. Udah dateng kemarin kata papa orang dealer-nya sama petugas PLN, mereka kan harus kerja sama."

"Iya-iya paham. Itu kan harga wall charger-nya mahal kan kalo beli terpisah?"

"Iya, seharga handphone flagship. Belasan sampe dua puluhan juta kalo beli itu doang.."

"Hmm iya-iya, btw Mas Rezza juga lagi beli mobil listrik lho. Foresternya mau dijual kan."

"Oh iya? Kok gue baru denger."

"Iya, kemarin itu ketemu Bang Hendro, kan Subaru Forester dikasih sama dia kan.. Rezza izin ke Hendro. Boleh gak mobil itu dijual, trus Mas Rezza mau beli satu mobil listrik. Sama satu lagi mobil buat kantor. Jadi mobil listrik dia pake buat sendiri, mobil kantor stand by di kantor."

"Hoo. Mau beli mobil apa Bang Rezza? Udah SPK?" Anya gantian kepo.

"Yang murah-murah aja, yang merk Jaecoo tipe J5 itu lho, yang harganya 300 jutaan. Udah SPK kok. Dia pake uang pribadinya dulu. Nanti kalo mobil itu udah di-delivery, baru deh Foresternya dijual.."

"Ohh yang mirip Range Rover ya? Iya-iya tau gue. Itu juga bagus, tadinya gue mau beli itu aja. Tapi kata papa terlalu banyak yang pake. Hehe"

"Haha iya sih, kaya rame banget di jalan ya yang punya. Papa kamu gak suka mobil yang terlalu umum ya?" Sherin nanya.

"Iya, dia tuh kalo beli mobil, beli handphone, barang-barang yang value-nya mahal tuh gabisa yang biasa aja. Katanya mau beda gitu sama orang lain. Mobil papa sekarang aja Volvo yang hybrid itu. Jarang banget kan orang sekarang pake Volvo?" Anya bependapat.

"Iya. Tapi Volvo emang bagus sih, cuma di negara kita aja kurang laku."

"Iya kan.." Anya menyetujui.

Obrolan mereka soal mobil nyambung banget, kebetulan mereka berdua memang dua gadis anak dari keluarga old money yang sedari kecil selalu dekat dengan dunia permobilan. Apalagi Sherin saat ini bekerja di perusahaan otomotif.


"Udah sampe, kita muter-muter dulu yuk sambil cari tempat yang enak buat nongkrong.." Sherin ajak turun.

"Yuk Sher.."

Mereka berdua berjalan menyusuri jalan-jalan sempit dan trotoar kecil di area lingkup Blok M Square. Mereka berdua memang out of nowhere sepakat ke sana, tapi tidak mau di sore atau malam hari karena pasti akan padat banget. Secara Blok M Square saat ini jadi salah satu pusat kongkow anak muda sampe om-tante millenials yang menolak tua. Belum lagi generasi lawas yang bernostalgia di kawasan Blok M Jakarta Selatan itu.

Visual mereka berdua berjalan bersama sangat menggambarkan aura old money. Sherin menggunakan rok panjang berwarna creme, dengan flat shoes warna biru muda ditemani blouse biru muda serasi sepadan dengan tas selempang kecil Sherin yang dia kenakan berisi handphone, dompet kecil, dan kunci mobilnya. Anya yang nampak lebih casual memilih pakai celana jogger warna putih dengan kaus lengan panjang warna coklat yang serasi dengan tas rajut kecilnya yang diselempangkan berwarna coklat tua.. Orang-orang yang melihat mereka lewat pun terpana dengan kecantikan mereka berdua, tidak mengenal laki-laki, perempuan, tua, dan muda.

"Wih rame banget ya itu, emang viral sih tapi gak ekspek jam segini udah rame aja." Sherin menunjuk ke sebuah restoran ramen yang viral sekali di kawasan itu.

"Iya, gue sih gak nafsu makan di tempat serame dan sesempit itu. Mau dikata enak banget juga mending bungkus deh." Anya sensi.

"Setuju lagi Nya, aku juga paling gak suka makan yang diburu-buru, terus nunggu lama. Mending yang biasa-biasa aja gak terlalu rame, itung-itung bantu usaha yang lain kan." Sherin setuju.

Anya mengangguk mengiyakan.


10.45 | Mereka akhirnya masuk ke sebuah restoran Jepang yang baru saja buka, awalnya Anya menolak karena ia tau restoran itu mahal dan Sherin hendak mentraktir. Tapi berhubung Sherin sedikit memaksa, Anya tak kuat juga menolaknya.

Mereka memesan beberapa menu sharing, beef steak, dan beberapa side dish, minuman, beserta condiment-nya. Total pesanan mereka kalau digabung dengan pajak dan service sudah menyentuh angka satu setengah juta rupiah.

"Sher, makasih ya udah ajak makan di sini." Anya berterima kasih.

"Iya sama-sama Anya, kita udah lama juga ya gak ngobrol bareng tanpa Mas Rezza? Hehe"

"Iya.. Udah lebih dari dua tahun lalu itu.."

"Iya kan, sebelum aku putus sama Mas Rezza dulu." wajah Sherin agak termenung. Tapi cepat-cepat ia alihkan obrolan. Dia tak mau bahas soal itu.

"Eh btw kamu sama Patra gimana? Sudah sejauh apa hubungan kalian?" Sherin tanya.

"Hmm so far lancar.. Dia asik kok orangnya, cuma beda dua taun lebih tua dari gue Sher."

"Wah seru dong ya obrolannya pasti nyambung banget.." Sherin excited.

"Hehe iya, banget."

"Trus kalian udah jadian?" Sherin kepo.

"Belum-belum, keknya kita mau take it slow aja. Masih di tahap saling mengenal dulu sih. Ya tapi dia udah pernah ketemu bokap nyokap gue, trus juga gue udah ngobrol sama ortunya dia walaupun lewat video call. Kan ortunya di luar kota." Anya bercerita.

"Oh iya? Di mana kalo boleh tau?" Sherin makin penasaran.

"Di Pekanbaru, Riau. Papanya Patra kerja di sana di sebuah perusahaan oil & gas."

"Oh jadi Patra orang PKU?" Sherin menebak, ia familiar dengan PKU/Pekanbaru karena banyak teman-teman kuliah dulu bareng Rezza juga yang dari daerah sana.

"Eh enggak-enggak, dia aslinya waktu kecil sampe adeknya lahir di Jakarta kok. Cuma papanya dapet tawaran jadi pegang posisi yang tinggi di sana, di perusahaan pertambangan minyak gitu. Trus Patra dan adeknya ikut ke sana. Tapi mereka punya rumah di Jakarta. Patra dari kuliah juga stay di Jakarta kok, dia cuma SMP-SMA di Pekanbaru."

"Oh iya, eh tapi kok Patra ngekos? Rumahnya di mana?"

"Di Pejaten juga, tapi karena Patra gak mau tinggal sendirian di rumah gede gitu, dia milih ngekos. Biar ada temen katanya, trus juga rumahnya disewakan ke expat gitu, jadi mayan kan ada tambahan daripada ditempatin sendiri kata dia."

"Oalah.. Kirain rumahnya jauh gitu di Kelapa Gading, PIK, atau BSD makanya ngekos. Ternyata itu alasannya. Iya-iya paham.. Emang ngurus rumah tuh melelahkan juga. Aku aja kadang kasian liat Mas Rezza ngurus rumahnya sendirian." Sherin curcol.

"Iya kan.. Emang kadang mending ngekos aja."

"Eh trus Patra dulu kuliahnya di mana? Kok bisa kenal kamu Nya?"

"Hmm dia dulu kuliah di Trisakti, ambil manajemen. Gue kenal dari temen kampus, dulu gue di LSPR kan, ada temen kampus yang sekantor sama Patra. Jadi dikenalin deh."

"Wahh. Seru ya, semoga lancar ya Nya. Aku doain semoga kamu sama Patra sama-sama berujung sesuai harapan kalian masing-masing. Amiin." Sherin mendoakan.

Lihat selengkapnya