Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #15

Chapter 15

09.12 | Mobil mereka memasuki sebuah area bertemakan American Ranch.

Layaknya perdesaan di Amerika dengan jalanan setapak yang menggunakan bebatuan, dikelilingi area outdoor yang bisa digunakan berbagai family activity. Ada sebuah area untuk latihan berkuda juga dan area restoran serta penginapan dengan arsitektur bergaya country.

"Permisi pak, kami undangan dari keluarganya Mas Armand dan Kak Yura." Rezza membuka kaca bicara ke petugas penjaga pintu masuk..

"Ohh iya silahkan.. Kalian lurus terus aja sampai ketemu area berkuda, lalu belok kanan. Nah di sana ada bangunan outdoor untuk acaranya. Harusnya kelihatan kok.." ujar si petugas.

"Okeh baik, kita perlu bayar tiket?" Rezza memastikan.

"Oh gak usah, bapak dan ibu kan keluarganya pemilik area ini. Jadi langsung masuk saja, ini tiket parkirnya untuk keluar nanti." petugas itu memberi tiket parkir bertuliskan 'TiketVIP.'

"Okeh saya terima ya tiketnya, makasih banyak pak.." Rezza permisi.

Mobil berjalan pelan karena jalanan yang hanya menggunakan bebatuan jadi kurang nyaman untuk kecepatan tinggi.

"Bagus ya mas tempatnya? Luas banget.." Sherin terkagum.

"Iya sayang, berapa hektar ya ini luasnya. Besok-besok kalo bikin event bisa nih di sini.. Ada parkir khusus bus juga tuh disana.." Rezza menunjuk sebelah kanan mereka ada jalur untuk masuk bus dan rombongan. Nampak beberapa mobil offroad atap terbuka mungkin untuk mengantar-jemput tamu yang menggunakan bus ke dalam. Area itu belum di-launching sepenuhnya. Jadi belum banyak yang tahu, tapi beberapa kostumer sudah datang menikmati suasana dan restoran di sana sekaligus ada penginapan yang temanya American country house dengan beberapa bangunan terpisah dua atau tiga lantai.

"Oh ini area berkudanya mas.. Belok kanan situ keknya deh.. Sign-nya tulisannya 'Ranch House' Mungkin itu tempatnya." Sherin menyimpulkan.

"Oh iya itu, pada parkir di situ. Kita ke sana ya.." Rezza melihat parkiran luas di samping sebuah bangunan bergaya teras di perdesaan Amerika yang serba kayu, rustic, terbuka tanpa tembok dan kaca.. Sepertinya area itu akan banyak difungsikan sebagai area komunal dan event-event ke depannya.

"Yaudah parkir sini aja masku sayang.. Itu aku liat ada Mas Armand.." Sherin memegang tangan Rezza.

"Oke sayang, kita parkir sini ya.." Rezza menyetujui.

Tante Rani yang hafal betul mobil Rezza langsung melihat, mencolek Om Arwin. "Pah, itu Sherin dan Rezza udah sampe.."

"Oh iya mah.. Yaudah syukurlah mereka gak nyasar. Belum banyak yang tau soalnya tempat ini kan.." ujar Om Arwin.

Sherin dan Rezza bergandengan sangat mesra, memasuki bangunan itu dengan visual serba putih. Rezza menggunakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sedikit di bawah siku tangannya dipadukan dengan celana panjang coklat khaki dan sneakers putih, nampak sangat serasi dengan Sherin yang gunakan dress selutut berwarna putih. Sherin menenteng sebuah clutch coklat berisikan handphone dan dompet mungilnya, terlihat senada dengan flat shoes berwarna broken white.

"Hai mah.." Sherin cipika cipiki dengan mamanya lalu papanya. Rezza menyusul dengan salim ke Tante Rani dan juga Om Arwin.

"Kita gak telat kan pah??" Sherin bertanya dengan senyum sumringah.

"Nggak kok.. Baru mau mulai acaranya." jawab Om Arwin tersenyum bahagia melihat putri bungsunya itu hadir di sana dengan ceria bersama Rezza.

"Kita muter dulu ya pah mah, nyalamin ke yang lain dulu.." Sherin izin.

"Iya silakan nak.. Itu Yura sama Armand di deket panggung.." Tante Rani memberi info.

"Okeh mahh.." Sherin menarik tangan Rezza mengitari ruangan terbuka itu..

Mereka sesekali berhenti menyalami anggota keluarga Kak Yura yang memang sudah dekat dengan Sherin. Untungnya mereka semua sudah paham situasi hubungan antara Sherin dan pria kharismatik yang digandengnya di sana, di hari itu, di tempat itu. Jadi Sherin dan Rezza tak perlu repot-repot menjelaskan hubungan mereka berdua.

"Hai Kak Yura, congrats ya buat peresmian tempat ini.." Sherin menghampiri Yura, cipika cipiki.

"Halo Mas Armand, congrats ya.." Rezza menjabat tangan Armand lalu cipika cipiki ala pria.

"Thank you ya kalian udah jauh-jauh dateng, nanti isi-isi acara ya!" Kak Yura menawarkan.

"Waduh, ngisi acara apaan tuh kak?" Sherin bertanya.

"Udah kalian duduk dulu aja, kita mulai dulu acaranya nih.." Kak Yura tersenyum mencurigakan.

Sherin dan Rezza tatap-tatapan dengan senyum heran, mereka kembali ke meja bersama Tante Rani dan Om Arwin tak lupa tangan bertaut kuat, mereka benar-benar nampak happy, seakan lupa pagi tadi ada beberapa kejadian yang kurang menyenangkan. Hari itu memang semua hadirin menggunakan dress code putih, tapi spot light rasanya hanya menyorot ke arah mereka berdua. Semua orang terpesona melihat visual menawan pasangan itu.

Mas Armand dan Kak Yura ternyata menjadi MC yang membawakan acara di sana. Sherin dan Rezza pun kelimpungan menjaga anak mereka, Khayla yang baru berusia lima tahun.. Khayla nampak seorang gadis kecil yang moody seperti tantenya, sesaat happy, sesaat nangis. Persis seperti Sherin.

Khayla baru anteng dan tenang ketika dipangku Rezza lalu bermain sebuah miniatur kuda yang ditemukannya di sebuah meja di ruangan itu. Rezza meminjamkannya sejenak untuk menjadi mainan untuk Khayla yang senyum-senyum bermain bersama Rezza di situ. Sherin sempat terenyuh melihat pria kesayangannya itu begitu lovely dengan anak-anak apalagi itu keponakannya sendiri. Sherin benar-benar bahagia, sekali lagi oleh Rezza..


10.15 | Acara sudah bebas, beberapa tamu mengisi acara mulai dari joget di panggung, kuis seru berhadiah lucu-lucuan, hingga ada yang stand up comedy bahkan. Tiba-tiba Kak Yura mengundang Sherin dan Rezza untuk maju naik ke atas panggung, mereka tahu Sherin dan Rezza sangat mencintai dunia musik.

"Yuk Sherin sama Rezza, sumbang lagu dongg.. Buat memeriahkan suasana nihh sebelum kita makan-makan. Biar makan kita semua semakin tergugah. Setuju gak?" semua hadirin menjawab setuju. Rezza senyum-senyum sambil menggendong Khayla. Sherin tertawa sambil menolak halus, memberikan gestur tak mau naik ke atas panggung..

"Masa mamah yang harus turun gunung nih nyanyi di sini? Anaknya lah yang suaranya juga merdu kaya Mama Rani.. Yuk Sherin yuk, ditemenin Mas Rezzanya deh sini." Armand masih berusaha membujuk adek terkecilnya itu.

Rezza bangkit, menggendong Khayla lalu menarik tangan Sherin.

"Yuk, kita naik yuk.. Kita nyanyi apa aja, kamu lagi mau nyanyi apa?" Rezza membujuk Sherin.

Tante Rani dan Om Arwin membujuk, "ayo Sherin, mumpung ditemenin Rezza tuh yukk.."

Sejujurnya Sherin bukan tak mau, dia malu kalau harus baper nyanyi berdua Rezza atau ditonton Rezza, karena ia suka menyanyi untuk meresapi lagu-lagu favoritnya yang selalu bikin baper teringat kehidupan dan asmaranya.

"Yaudah kamu yang tentuin lagunya.." Sherin berkata ke Rezza.

"Okay, yukk.." Rezza menggandeng Sherin sambil menggendong Khayla ke depan.

Di atas panggung memang disediakan alat-alat yang cukup lengkap, ada dua gitar akustik, cajon, bass, dan organ keyboard yang masih nampak baru kondisinya alat-alat itu. Rezza berjalan ke depan menggandeng Sherin dan menggendong Khayla. Di atas panggung Rezza tanya Khayla mau nyanyi gak? Khayla malu-malu dan menggeleng. Akhirnya semua tertawa dan Khayla diserahkan ke orang tuanya..

Rezza menarik Sherin naik ke panggung, membisikkan Sherin "Kita-nya Sheila on 7 sama Hanya Untukmu Ten2Five ya.. Aku iringin gitar. Kamu mau pake keyboard silahkan.." Sherin geleng-geleng manja. Semua orang cie-ciein mereka.

Rezza mengambil gitar, memetik beberapa note mengecek apakah gitarnya sudah benar stemnya. Lalu mengalungkannya ke badannya. Sherin yang memperhatikan Rezza yang sedang sibuk, benar-benar tak percaya melihat Rezza kembali memegang alat musik setelah sekian lama. Ya.. Rezza memang tak pernah menyentuh alat musik sejak tragedi pernikahan Sherin dengan Dhika karena lagu-lagu yang ia sering mainkan dan bahkan ia ciptakan kebanyakan relate dengan perasaan dan hubungannya dengan Sherin.. Kali ini Sherin berhasil membuat Rezza kembali bermusik.

Rezza mundur ke belakang, minta bantuan home band untuk mengiringi mereka perform.

"Kita-nya Sheila on 7 terus lanjut Hanya Untukmu Ten2Five ya bro.. Tau kan?" Rezza tersenyum dalam deg-degannya ke arah para pemain home band itu.

"Aman bro, silahkan.."

Pemain cajon, bass, dan gitar satu lagi stand by di posisi.

"Pagi semuanya, pagi menjelang siang. To be honest aku dan Sherin sudah lama gak nyanyi bareng. Jadi kalo fales mohon dimaafkan ya. Haha" Rezza sempat-sempatnya meminta maaf di atas panggung.

"Okay, lagu pertama.. Kita, Sheila on 7." Rezza memulai gitarnya dengan nada-nada khas intro lagu yang sangat terkenal itu..

Awal-awal tektokan dengan Sherin terasa masih kagok, lama kelamaan mereka sudah paham pace dan pembagian suaranya serta part-part yang mereka nyanyikan sendiri-sendiri.

Semua orang yang tahu lagu itu ikut berdendang bersama, mereka semua menikmati perform Sherin dan Rezza yang memukau layaknya dua musisi profesional. Bahkan home band pun sampai menikmati dan si vokalisnya mendadak jadi backing vocal mendukung mereka.

Dan kau bisikkan kata cinta

Kau t'lah percikkan rasa sayang

Pastikan kita seirama

Walau terikat rasa hina

Dan kau bisikkan kata cinta

Kau t'lah percikkan rasa sayang

Akankah kita seirama

Saat terikat rasa hina

Outro khas dari lagu itu pun ditutup dengan epic oleh Rezza. Semua bertepuk tangan.

Sebuah penampilan yang mengagumkan dari Rezza dan Sherin..

"Whooo.. Lagi-lagi.." Semua orang berteriak meminta Sherin dan Rezza perform lagi

"Okayy terima kasih sudah sing along yaa.." Sherin mulai pede di atas panggung.

"Udah ya mas? Haha" Sherin salting di atas panggung.

"Oke lagu kedua, mungkin sebagian tau lagu ini. Sebagian mungkin lupa atau gak tau. Lagu ini kisah cerita kita banget soalnya. Jadi ini lagu favorit saya dan Sherin sejak dulu zaman kuliah.." Rezza mendadak mellow.

"Agak mellow gapapa ya.. Hanya Untukmu -Ten2Five.." Rezza mulai memetik gitarnya.. Intro dari lagu itu dimulai.

Sherin memulai dari bait pertama.

Inikah rasanya bila ku sedang jatuh cinta

Setiap hela nafasku bahagia

Rezza menyambung ke bait kedua

Mengenal hatimu hadirkan indahnya dunia

Kau bawa irama cinta di jiwa

Mereka berdua nyanyi bersama

Semua yang kumau hanyalah dirimu satu

Kaulah jawaban semua doa

Semua yang kurasa rindu dalam asa didekap cinta

Hatiku untukmu

Semua orang terenyuh, mereka bisa merasakan perasaan yang dirasakan oleh Sherin dan Rezza selama ini.

Bahkan Om Arwin yang personalnya cuek pun mendadak tercekat, tenggelam dalam lirik yang dinyanyikan Sherin putri tercintanya bersama Rezza di depannya itu.

Rezza tampak sangat mendalami lagu itu saat memainkan part melodinya dengan gitar itu. Ekspresi Rezza yang terpejam memetik gitarnya tanpa melihat ke arah senar, membuktikan ia sangat amat meresapi setiap detik dari lagu itu bersama wanita pujaan hatinya..

Semua yang kumau hanyalah dirimu satu

Kaulah pelita di dalam jiwa oh

Semua yang kurasa rindu dalam asa di dekap cinta

Hatiku untukmu

Hanyalah untukmu

Rezza dan Sherin berhasil membagi rasa, membawa suasana hati mellow mereka kepada orang-orang yang hadir dan melihat penampilan mereka. Tepuk tangan gemuruh tak hanya dari keluarga, bahkan para pemain home band, crew sound system, hingga tamu-tamu orang yang sedang menikmati tempat tersebut banyak yang menyaksikan penampilan Sherin dan Rezza barusan. Tiba-tiba banyak orang tak dikenal yang tidak sesuai dress code berdiri menatap ke Rezza dan Sherin lalu ikut bertepuk tangan.. Rezza dan Sherin tak menyangka akan hal ini.

"Okay terima kasih semua tepuk tangannya.." Rezza say thanks.

"Mau lagi?" Rezza bertanya sambil tersenyum dan melepas gitarnya.

"Mas udah.." Sherin berkata lirih ke Rezza sambil tersenyum lemah.

"Bahasa kalbu yuk.." Rezza membisiki Sherin. Tanpa menunggu jawaban, Rezza menuju organ keyboard lalu memainkan jemarinya di atas tuts organ.

Sherin menyanyikan satu lagu full diiringi oleh Rezza yang memainkan keyboard. Seakan mengerti, para anggota home band memilih tak ikut mengiringi karena dengan lantunan suara piano yang keluar dari organ keyboard itu saja sudah cukup memberi rasa pada lagu yang dikenal pernah dinyanyikan oleh Titi DJ dan Raisa itu.

Kini dirimu yang selalu

Bertahta di benakku

Dan aku kan mengiringi

Bersama

Di setiap langkahmu

Percayalah

Hanya diriku paling mengerti

Kegelisahan jiwamu kasih

Dan arti kata kecewamu

Kasih yakinlah

Hanya aku yang paling memahami

Besar arti kejujuran diri

Indah sanubarimu kasih

Percayalah

Penggalan lirik itu terasa sangat menusuk hati Sherin, tanpa sadar dia memeluk Rezza sambil meneteskan air mata namun suaranya tetap terdengar merdu empuk dan sopan di telinga semua yang mendengarnya siang itu. Semua orang standing ovation untuk Sherin dan Rezza.

Begitu selesai, Om Arwin tak sadar meneteskan air mata. Pertama kalinya dalam hidup Om Arwin menyaksikan sendiri Sherin menuturkan perasaannya kepada seorang yang dicintainya saat ini lewat sebuah lagu legendaris itu. Tante Rani yang melihat langsung memberi tissue ke Om Arwin lalu mereka terharu bersama sambil berpegangan tangan.

'Semoga keputusan papa kali ini merestui hubungan kamu dan Rezza adalah keputusan yang terbaik ya Sherin. Papa hanya mau kamu merasakan kebahagiaan seutuhnya sekarang..' dalam hati Om Arwin.

"Lagi.. Lagii.. Lagii.." semua hadirin meminta lagi penampilan lain dari Sherin dan Rezza.

Rezza yang merasa Sherin sudah kelelahan langsung berdiri, memegang tangan Sherin, lalu mengambil mic.

"Kalo mau nambah lagu lagi, saya izin kirim invoice ke mana ya?" Semua orang tertawa.. Sherin memeluk Rezza sambil tertawa renyah.

"Yaudah, sudah yaa semuanya.. Yang lain ada yang mau tampil lagi, kita gaenak jadinya.."

Rezza dan Sherin begandengan sambil membungkuk ala closing performance.

"Thank you semuanya.." mereka say thanks.

"Have a nice day guyss.." Sherin menutup penampilan mereka di atas panggung.

Sherin dan Rezza turun dari panggung, beberapa ibu-ibu entah siapa meminta foto pada mereka berdua. Rezza kaget. Sherin melotot ke arah Rezza.

"Atuh cantik kasep pisan aa' teteh, foto dulu nyak sekejap.." seorang ibu mengarahkan kameranya selfie ke arah Sherin dan Rezza. Mereka berdua benar-benar seperti dua artis Ibu Kota yang bertemu dengan fans. Total sekitar lima sampai tujuh ibu-ibu ajak foto bareng mereka.

Mas Rendi dan Nina yang baru tiba sekitar 15 menit lalu geleng-geleng melihat itu.

"Heyy.. Keren banget sih kalian.. Couple goals banget bisa duet gitu.." Rendi menyapa.

"Haii mas, apa kabar? Baru sampe?" Sherin cipika cipiki dengan kakak keduanya itu, lalu lanjut cipika cipiki dengan istrinya, Nina. Rezza ikut menyapa Rendi dan Nina.

"Iya, macet banget tadi kita berangkat jam 6 lewat, di Cipularang ada yang mogok gitu keknya. Kena lah kita macet-macetan hampir dua jam di situ doang.." Nina menjelaskan.

"Oalahh.. Trus anak-anak mana? Ikut gak?" Sherin menanyakan ponakannya.

"Ada di mobil tuh pada tidur.. Ditemenin baby sitternya." Rendi jawab.

"Yahh dasar bocil-bocil, padahal mau ajak main.." Sherin kecewa..

"Haha yaudah tunggu aja bentar lagi juga bangun paling nyariin mamanya." jawab Rendi.

"Okedeh, kita ke sana dulu ya.. Meja bareng papa mama.." Sherin permisi.

"Yuk mas, ke sana dulu." Rezza izin permisi.

"Yaudah-yaudah, lanjut.." Rendi dan Nina mempersilahkan.


11.45 | Rezza dan Sherin ikut makan siang bersama di sana. Menu buffet disediakan dengan berbagai pilihan makanan. Ada menu western, ada nusantara, ada juga Japanese food, dan Korean food. Sherin dan Rezza memilih makanan serius, Rezza makan nasi uduk dengan ayam bakar madu dan tahu tempe plus sambal korek. Sementara Sherin makan nasi putih ditemani telur pindang dan gulai ayam. Mereka makan main course karena tadi pagi tak sempat menghabiskan sarapan di hotel. Rezza pun beberapa kali terlibat perbincangan dengan keluarga Sherin terutama dari keluarga Kak Yura. Ia bahagia merasa sudah sangat diterima di keluarga Sherin saat ini.


12.42 | Rezza baru saja keluar dari musholla, bertemu dengan Mas Armand di sana sambil memakai sepatu.

"Za, ngobrol bentar yuk sambil jalan-jalan ke sana." Armand menunjuk ke arah kandang kuda.

"Boleh mas. Yuk.."

Rezza mengeluarkan handphone lalu mengetik chat ke Sherin.

"Aku ke arah kandang kuda ya sayang, diajak ngobrol sama Mas Armand."

Lihat selengkapnya