Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #16

Chapter 16

06.35 | Rezza dan Sherin masih tetap berdekatan. Sesekali Rezza mengusap kepala Sherin yang semerbak mewangi meski belum mandi. Tangan Sherin juga sesekali mengusap pipi Rezza yang bertumbuh beberapa bulu kasar yang sudah dua hari tidak shaving.

Tiba-tiba pintu rumah diketuk. Tak ada menaruh curiga, kebetulan hari itu Rezza sedang menunggu tukang untuk bantu beres-beres garasi.

"Sebentar sayang, itu kayanya tukang yang aku janjian tadi pagi waktu subuhan." Rezza menjelaskan.

"Tukang? Buat apa mas?" Sherin nanya sambil bangkit dari sandarannya.

"Tadi di depan masjid ketemu satpam aku minta cariin orang atau tukang untuk bantu beres-beres garasi. Biar barang-barangnya bisa kita sortir trus dirapihin.

"Ohh, pagi banget datengnya?" Sherin bertanya. Rezza juga terpikir iya juga ya.

"Yaudah aku bukain dulu."

Rezza bangkit dari sofa, berjalan ke arah pintu.

Setelah dibuka, ternyata itu.. Kak Vina.

"Kak Vina?" Rezza shocked banget.

"Rezza, ini kakak beliin buah sama makanan tadi, kakak mau ke RSPI ada operasi jam 8 nanti.." Kak Vina berjalan ke dalam lalu heran ada sosok Sherin di sofa depan TV. Sherin mematung, ekspresi kaget. Dia sadar betul masih menggunakan baju tidurnya dengan wajah khas orang baru bangun tidur dan sedikit sembab.

"Sherin? Pagi-pagi gini di sini? Kalian..." Kak Vina yang masih di ruang tamu tiba-tiba terhenti langkahnya. Wajahnya penuh heran dan marah. Benaknya langsung berpikir cepat, ia yakin Sherin di sana sejak semalam.

"Sherin tidur di sini? Sherin semalam tidur di sini?" Kak Vina melotot ke Sherin. Rezza cepat-cepat menghampiri.

"Kak, aku mau bicara..." Rezza mendekati Kak Vina.

"Kakak tanya sama Sherin. Kamu semalam tidur di sini?? Jawab Sherin!" nada Kak Vina meninggi.

Sherin gelagapan sambil berdiri, nampak jelas piyama atasan dan bawahan Sherin yang menggambarkan ia benar-benar baru bangun tidur.

"Aku.. iya, aku tidur di sini kak.." Sherin terbata-bata menjawab.

"Rezza!" Kak Vina membentak Rezza.

"Gila ya kamu!" Rezza memasang wajah memelas namun tak bisa bicara apapun.

"Kamu tidur bareng sama Sherin? Otak kamu di mana dek??" Kak Vina menghardik Rezza.

Sherin sangat cemas melihat Rezza disudutkan begitu oleh Kak Vina.

"Maf.. Maaf kak. Aku.. aku salah."

"Iya kamu salah! Salah sekali! Mikir gak status Sherin sekarang apa? Hah?"

"Kak aku mau jelasin dulu.. Tolong kak dengerin dulu."

Kak Vina memotong omongan Rezza. Menengok ke Sherin.

"Sherin, berapa kali kalian tidur bersama? Kakak tanya ke kamu Sherin?" Kak Vina melotot.

"Aku.. sudah, sudah dua minggu.." Kak Vina menggeleng.

"Dua minggu tinggal di sini.." ujar Sherin. Kak Vina bergerak mundur. Tas plastik yang dipegangnya berisi buah-buahan dan sekotak sarapan berisi roti panggang itu jatuh terlepas dari tangannya. Ia tak percaya adik sepupu kesayangannya itu melakukan kesalahan besar di rumah ini. Rezza menggelengkan kepala dan cemas melihat Kak Vina semarah ini.

"Kak aku mau jelasin dulu.. Tolong dengerin aku dulu kak.." Rezza memegang tangan kiri Kak Vina. Menahan agar Kak Vina tidak mundur terlalu jauh.

"Jelasin apa dek? Kalian udah melakukan kesalahan fatal! Gak ada alasan lagi buat kalian mengelak!" Kak Vina hendak pergi dari situ.

"Kak aku mohon kak, dengerin aku dulu.." Rezza berlutut memegang tangan kiri Kak Vina.

"Aku punya alasan kak.." Rezza memohon, air matanya mengalir. Sherin juga ikut menangis, ia tak kuat melihat Rezza harus seperti itu.

"Alasan apa? Apapun alasannya kalian gak boleh tinggal serumah saat ini! Mikir gak kamu dek?"

"Iya kak aku tau, but please.. Kak, kasih aku lima menit menjelaskan.." Rezza memegang kaki Kak Vina berharap Kak Vina mau mendengarkan penjelasannya.

"Yaudah jelasin sekarang!" Kak Vina mau mendengar penjelasan Rezza.

"Kakak duduk dulu ya. Tolong kak. Kakak duduk dulu di sini." Rezza menunjuk kursi tamu di dekatnya. Rezza menengok ke arah Sherin.

"Sher, boleh kamu ke teras samping dulu? Aku mau bicara sama Kak Vina.." Rezza memandang sedih ke Sherin. Sherin mengangguk dan pergi keluar lewat pintu samping. Rezza duduk di kursi di sebelah Kak Vina.

"Kak.. Aku minta maaf.." Kak Vina menggeleng.

"Sherin.. Sherin kondisinya, sama seperti aku.." Rezza bercerita.

"Maksudnya?" Kak Vina melotot dengan mata berkaca-kaca melihat Rezza.

"Sherin.. Psikis Sherin terganggu kak. Dia.. dia gak bisa jauh dari aku."

"Ya terus? Dengan begitu kalian boleh tinggal bareng? Sembarangan aja kamu ya!"

"Kak aku salah, aku tau itu. Tapi kondisinya kak.. Sherin, dua minggu lalu dia pingsan gak sadarkan diri. Aku bawa ke rumah sakit dan hasilnya semua baik-baik aja, di situ aku pikir psikis Sherin juga sudah gak kuat kak. Aku ajak ke Dokter Andrie. Dan memang betul situasinya seperti itu. Mental dia juga kena kak. Salah satu cara agar tidak semakin parah, aku harus dekat sama dia terus." Kak Vina masih tidak menerima alasan itu.

"Iya memang aku salah, tapi aku.."

Kak Vina memotong pembicaraan, "Kamu berhubungan badan sama dia?"

Rezza shocked. Di titik ini berbohong pun dia tak akan dipercaya oleh Kak Vina.

"Iya." Rezza menjawab pelan sekali. Kak Vina melotot matanya seperti ingin mencuat. Kak Vina hendak menampar Rezza tapi menahan diri. Dia sadar dia hanya kakak sepupu, tapi dia satu-satunya keluarga terdekat Rezza. Rezza sudah salah jalan pikirnya, Rezza sudah kelewatan.. Tangan Kak Vina memegang pipi Rezza lalu mendorongnya kuat-kuat. Rezza pasrah jika harus dipukul atau ditampar. Kak Vina menangis, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa gagal menjaga adiknya itu.

"Gila kamu! Kamu udah menodai rumah ini.. Rumah orang tua kamu sendiri!"

"Kak, aku khilaf.." Rezza membela diri.

"Berapa kali kamu melakukan itu sama Sherin? Hah? Gak mungkin sekali kan? Apa itu namanya khilaf?" Kak Vina beri pertanyaan yang tidak perlu ditunggu jawabannya. Rezza hanya terdiam.

"Kamu udah dewasa, harusnya kamu tau mana perbuatan yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Lebih baik kamu pikirin sendiri ke depannya mau gimana. Kakak harus pergi.." Kak Vina cepat-cepat pergi, Rezza coba meraih tangannya tapi ditepis berkali-kali.

"Kak maaf kak. Maafin aku.." Rezza mengejar Kak Vina, tapi Kak Vina terus berjalan menuju mobilnya. Driver yang stand by di kursi pengemudi langsung membukakan sliding door baris kedua mobil Toyota Voxy itu. Kak Vina masuk.

"Langsung jalan aja pak." pintu langsung ditutup lagi. Rezza hanya bisa memandangi kepergian Kak Vina. Dia juga tak mungkin memaksakan Kak Vina memaafkan ini semua.

Rezza menutup wajahnya, menghapus air matanya, lalu mengusap semua wajahnya penuh rasa bercampur aduk, kesal, malu, dan sedih jadi satu.

Ia bergegas menuju teras samping rumahnya.

"Sayang.." Rezza menatap Sherin.

"Mass.. Maafkan aku.." Rezza menahan bibir Sherin dengan jari kanannya. Lalu ia tarik tubuh Sherin, dipeluknya sekencang-kencangnya seakan hendak berpisah.

Sherin paham, Rezza hanya butuh pelukan.

Rezza berbisik, "Nanti sore, aku antar kamu pulang ya." Sherin melepas pelukannya.

"Mas, gak. Aku gak mau pisah sama kamu.." Sherin memohon. Rezza tertunduk.

"Gak bisa Sher, kita gak bisa begini lagi. Kak Vina gak mau.."

"Mas.. Aku gamau. Aku mau tinggal di sini." Sherin merengek.

"Kamu, mau jadi istri aku gak?" Rezza memegang kepala Sherin dengan kedua tangannya. Menatapnya dalam-dalam.

Sherin mengangguk berkali-kali.

"Yaudah, nurut sama aku ya. Kita gak boleh tinggal bareng lagi sampe nanti kita menikah."

Sherin menggelengkan kepalanya. Air matanya mengalir.

"Aku. Cinta. Cinta banget sama kamu, tapi gak sekarang. Gak seperti ini kita tinggal bersama." Rezza menjelaskan pelan-pelan sambil mengusap air mata di pipi Sherin.

"Tapi mas.. Tapi papa mama aku gapapa aku di sini." Sherin masih berusaha.

"Iya aku paham.. Aku paham itu sayang, tapi kamu harus paham situasi aku. Please.." Rezza memohon. Sherin perlahan merasa penglihatannya memudar. Wajahnya pucat.

"Mass.." Sherin mengeluarkan tenaga terakhirnya memanggil Rezza. Lalu ia pingsan..

"Sayang, sayang.. Ya Allah.. Sherin.." Rezza buru-buru menggendongnya ke mobil.

Rezza membawa Sherin ke rumah sakit tempat Kak Vina praktek. Rumah sakit Pondok Indah.

Di jalan Rezza sangat panik, ia ketakutan. Semua hal buruk terlintas di kepalanya. Dia salah. Dia merasa salah besar, segala tindakannya ini terlalu salah.


07.35 | Sedikit lagi tiba di rumah sakit itu, jarak hanya sekitar dua kilometer lagi. Tapi kemacetan terlalu parah, Rezza menyalakan lampu hazzard lalu membuka kaca sambil sesekali mengklakson.

"Maaf saya bawa orang pingsan.." Rezza memohon ke semua orang dengan wajah panik.

"Permisi, saya bawa orang pingsan. Tolong kasih jalan. Terima kasih.." Rezza berkali-kali melakukan itu. Beberapa ojol yang melihat menghampiri mobil Rezza.

"Mau ke rumah sakit mana mas?" seorang pengemudi ojol bertanya.

"Rumah Sakit Pondok Indah bang!" Rezza menjawab kencang.

"Oh yaudah saya bantu buka jalan ya.." driver ojol itu membantu.

"Terima kasih.. Terima kasih bang." Rezza terharu, matanya berkaca-kaca.

Ojol itu mencoba bukakan jalan, dan beberapa ojol lainnya dan pengemudi motor yang bukan ojol juga membantu. Mobil-mobil lain memberi pengertian.. Rezza tak berhenti-hentinya ucapkan terima kasih.

"Makasih, maaf.. Permisi." Rezza menyalip beberapa kendaraan mobil dan motor yang menghalanginya.

"Sayang.. Kamu orang baik, banyak yang baik sama kamu, sama kita.. Please jangan kek gini ya.." Rezza berbicara ke arah Sherin yang masih tak sadarkan diri di kursi sebelahnya.


07.42 | Rezza memasuki parkiran rumah sakit. Saat sedang ambil karcis, beberapa ojol memastikan.

"Aman ya mas?" seorang driver mendekat.

"Bang, makasih banyak ya. Nanti kalau sempat masuk ya, saya mau kasih sesuatu untuk terima kasih.." Rezza berkata agak kencang. Ia berniat memberi sedikit uang untuk para ojol itu.

"Gak usah mas, kami ikhlas bantu.. Kami permisi ya." dua-tiga orang driver ojol langsung pergi.

"Makasih banyak bangg.. Sehat selalu buat kalian." Rezza jawab berteriak, driver beri gestur sip.

Rezza buru-buru ke arah pintu IGD, turun dari mobilnya berlari ke dalam.

Lihat selengkapnya