20.35 | Rumah Om Arwin dan Tante Rani di Simprug, Jakarta Selatan. Rezza dan Sherin sudah mengabarkan kalau mereka mau datang, papa dan mamanya Sherin sedari tadi menunggu di ruang tengah.
"Assalamualaikum mah.. Pah.." Sherin masuk rumah itu sembari menggandeng Rezza.
"Waalaikumsalam.. Kalian udah sampe?" Tante Rani menyambut.
"Iya mahh.." Sherin cipika cipiki dengan mamanya, lalu papanya.
"Malam om, tante.." Rezza menyalimi Om Arwin dan Tante Rani.
"Malam Rezza, silakan duduk dulu. Sudah mama bikinkan minum buat kalian. Semoga masih hangat ya.." Tante Rani mempersilahkan duduk Rezza dan Sherin di sofa ruang TV.
"Makasih banyak tante dan om." Rezza duduk, Sherin duduk mepet ke Rezza.
"Jadi ada apa? Kalian kok malem-malem ke sini? Kalian gak berantem kan?" Om Arwin tanya.
"Hmm.. Jadi gini om dan tante.. Kami mau cerita.." Rezza menoleh ke Sherin.
"Tadi pagi, kakak sepupu aku, Kak Vina datang ke rumah. Beliau baru mengetahui kalau kami tinggal bersama di rumah itu.."
"Hah? Lalu gimana Rezza? Kak Vina marah?" Tante Rani cemas.
"Iya mah, tadi Kak Vina sempat marah dan berdebat dengan Mas Rezza.." Sherin jawab.
"Ya ampun, terus gimana?" Tante Rani semakin penasaran.
"Setelah Kak Vina pulang, Sherin.. Sherin sempat pingsan om dan tante.." Rezza bercerita.
"Pingsan? Kok bisa? Sherin sayang kamu gak kenapa-napa kan?" Om Arwin panik.
"Iya mah, pahh. Aku mau minta maaf ya.. Kami baru cerita sekarang, kalau aku.." Sherin berkaca-kaca matanya takut orang tuanya marah.
"Aku ada masalah di psikis dan mental aku.." Sherin melanjutkan, Rezza menggenggam tangan Sherin dengan lembut.
"Ya Allah sayang.. Kenapa? Kamu kok bisa? Mama bingung kok sampe begini sayang?" Tante Rani nampak tak percaya dengan ini semua.
"Maafin aku ya mah, pah.. Aku yang minta Mas Rezza juga untuk gak bicara soal ini ke papa mama karena takut kalian kecewa dan marah ke kami.." Sherin tak kuasa tahan tangisnya.
"Iya kenapa sayang? Apa trigger-nya?" Om Arwin berdiri dari duduknya.
"Karena aku.. aku gak bisa pisah dari Mas Rezza lagi.." Sherin menangis tersedu-sedu.
Rezza ikut meneteskan air mata dan memeluk Sherin dengan erat.
"Aku gak mau kalau harus kehilangan Mas Rezza lagi pahh. mahh.."
Om Arwin mematung, ia serasa tersambar petir. Otak cerdasnya langsung berpikir cepat bahwa Sherin seperti ini pasti karena dirinya, karena dari bertahun-tahun lalu ia memaksa Sherin jauh dari Rezza hingga Sherin menjalani hidup dengan kepahitan.
"Papa permisi sebentar.." Om Arwin keluar ke arah teras belakang rumahnya. Tante Rani tak mau menahannya. Tante Rani langsung mendekati Sherin lalu memeluknya, Rezza melepas pelukannya ke Sherin. Rezza berdiri memberi ruang untuk Sherin dan mamanya membagi rasa.
Rezza berjalan perlahan ke teras depan, ia takut sekali Om Arwin akan marah padanya.
Jantungnya berdetak cepat, sedikit terasa sesak dadanya. Tapi buru-buru ia ke mobil dan mengambil kaleng oksigen di glove box. Ia harus kuat malam itu, Rezza tak mau menambah masalah baru di dalam situasi pelik ini.
"Sherin sayang, maafkan mama dan papa ya nak. Ini semua karena mama dan papa yang membuat kamu.. membuat kamu jauh dari Rezza dulu. Mama gak nyangka kamu harus seperti ini."
Tante Rani makin erat memeluk Sherin. Om Arwin mencuri dengar dari balik tembok arah teras belakang.
"Enggak mahh. Aku gak pernah nyalahin papah dan mamah. Memang sudah takdirnya aku begini. Aku cuma minta mama dan papa jangan benci Mas Rezza ya.. Please mah, papah juga, jangan jadi membenci Mas Rezza. Aku gak mau.. aku gak mau pisah sama Mas Rezza lagi."
Sherin menangis sekuat-kuatnya. Hati Om Arwin sakit sekali mendengar anak perempuan satu-satunya terlalu mencintai sosok laki-laki yang pernah ia usir dari rumah itu. Yang pernah ia paksa menjauh. Om Arwin terduduk bersandar di tembok. Air matanya pun mengalir deras.
Selama ini Om Arwin sosok ayah yang keras, tegas, dan tak pernah terlihat hatinya rapuh, runtuh semua urat kesedihannya. Dia mengutuk dirinya sendiri yang sudah kelewatan over protective terhadap putri bungsunya, yang justru sekarang menyakiti Sherin dari dalam, dari psikis dan mentalnya.
Om Arwin merasa tak punya hati dan perasaan lagi untuk masuk menemui semua orang di sana. Ia benar-benar merasa bersalah.
Rezza terduduk di balik kemudi, terlintas bayangan semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi setelah ini. Mulai dari Om Arwin menampar dia, mengusir dia, hingga menyuruh orang mencelakainya agar ia tak hidup lagi di dunia ini. Agar Sherin lepas dari bayang-bayangnya. Sekuat hatinya Rezza menangkis semua pemikiran buruk itu. Sesekali ia merasa sesak, sesekali juga ia menyemprotkan kaleng oksigen di mulut dan hidungnya.
Malam itu terasa menyakitkan untuk Rezza, untuk Sherin, dan untuk kedua orang tua Sherin.
Kak Vina menelepon Rezza. Rezza melihat ke handphone-nya ada call masuk dari Kak Vina.
Rezza menarik nafas dalam-dalam, "Assalamualaikum kak.." Rezza angkat call itu.
"Rezza, kenapa? Kok suara kamu gitu?" Kak Vina curiga mendengar suara Rezza berat dan serak.
"Hmm.. Aku lagi di rumah orang tuanya Sherin kak.." Rezza menahan tangis dan sesaknya.
"Ya ampun, terus mereka sudah tau?" Kak Vina langsung membayangkan, dia takut Rezza ke-trigger. Kak Vina menelepon malam itu karena sudah bicara dengan suaminya, ia ingin meminta maaf ke Rezza dan Sherin soal tadi pagi. Kak Vina juga hendak memberikan beberapa opsi jalan keluar untuk situasi Sherin dan Rezza saat ini.
"Sudah kak, sudah tadi kita cerita soal Sherin yang terganggu mentalnya. Psikisnya.. ke Tante Rani dan Om Arwin."
"Ya Allah, terus kamu gimana? Kamu baik-baik aja kan dek?"
"Aku.. aku lagi di mobil kak, Sherin dan mamanya lagi di ruang tengah sedang saling memberi support."
"Lalu, Om Arwin gimana? Dia marah sama kamu? Kamu diapain dek?" Kak Vina sangat khawatir.
"Aku gatau kak, Om Arwin tadi langsung pergi ke teras belakang. Dia pasti shocked dan terpukul sekali mendengar ini semua.." Rezza menjelaskan dengan terengah-engah.
"Dek, nafas kamu sesak? Kedengeran kakak nafas kamu tersenggal-senggal. Kamu pake Oxycan ya. Jangan sampe kamu drop.. Tolong ya dek, dibantu istighfar.. Jangan berpikir aneh-aneh dulu sekarang, kakak mohon kamu kuat ya malam ini dek.." Kak Vina panik.
"Astaghfirullahaladzim.." berkali-kali Rezza istighfar. Perlahan nafasnya kembali normal. Kak Vina terus mendengarkan Rezza dan berdiam, Rezza meletakkan handphone-nya di atas dashboard mobil lalu di loud speaker. Beberapa kali Rezza terdengar suaranya beristighfar dan diselingi dengan 'Laa illaha illa anta. Subhanaka.. Inni kuntu minadzalimin..'
Kak Vina merasakan Rezza mulai tenang.
"Dek.. Kalo ada apa-apa bilang ya.. Kamu temani Sherin, jangan tinggalin dia malam ini. Dia pasti butuh kamu ada untuk dia. Kondisi dia masih belum pulih karena tadi pagi.."
"Iya kak.. Makasih ya kak sudah perduli dan khawatir sama Sherin.. Aku minta maaf kalo aku bikin kakak malu dan merepotkan kakak." Rezza ucapkan isi hatinya.
"Iya dek, kakak doain kamu dan Sherin bisa melalui ini bersama ya. Kamu.. tolong kamu kuat. Jangan berpikir yang aneh-aneh, langsung istighfar kalau kamu terpikir hal-hal buruk. Ingat Sherin butuh kamu sekarang.." Kak Vina menasehati.
"Okay kak, aku masuk dulu ya. Aku mau cek kondisi Sherin." Rezza pamit.
"Iya, kalo ada apa-apa termasuk Sherin, kabarin kakak segera ya dek."
"Iya kak, pasti. Wasalamualaikum.." Rezza menutup obrolan.
"Waalaikumsalam.." Kak Vina menutup teleponnya.
Rezza perlahan turun dari mobilnya, ia merasakan angin malam berhembus dingin di tengkuknya, tapi keningnya terasa panas. Sedari tadi otaknya tak berhenti bekerja, terpikirkan berbagai macam kemungkinan yang ia hadapi jika di dalam berhadapan dengan Om Arwin.
Langkah kakinya lunglai memasuki teras dan ruang tamu rumah itu. Perlahan, Rezza melihat Tante Rani sedang menghapus air mata Sherin dengan tissue. Rezza ingin membuka mulutnya untuk memanggil Sherin yang posisinya duduk membelakangi arah Rezza datang. Tante Rani melihat Rezza masuk. Tiba-tiba Om Arwin juga melangkah masuk ke ruang itu dari teras belakang. Rezza mematung, kakinya berhenti terpaku di situ. Kakinya mati rasa. Rezza melihat wajah Om Arwin yang sembab. Ia tak bisa menebak apa isi benak Om Arwin. Om Arwin terus melangkah perlahan sambil menatap Rezza sesekali menengok Sherin dan Tante Rani.
"Rezza.." Om Arwin memanggil Rezza sambil melangkah ke arah Rezza.
Rezza sangat takut, ia teringat masa lalu ketika ia mendapati Om Arwin mengusirnya dari rumah itu. Ia teringat wajah Om Arwin ketika ia hampir ditampar di resepsi pernikahan Sherin hampir tiga tahun lalu. Sherin dan Tante Rani menoleh ke arah papanya, Sherin sangat khawatir papanya akan memarahi bahkan mengusir Rezza dari sana. Seketika Sherin merasa sesak dadanya ketika hendak berdiri, tubuhnya lunglai lagi, tapi kesadarannya masih terjaga. Tante Rani mencoba memanggil suaminya.
"Pah.. Papah!"
Tapi Om Arwin tak menoleh, ia terus melangkahkan kakinya ke arah Rezza. Rezza sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi.
"Om minta maaf ya sama kamu Rezza.." kedua tangan Om Arwin memegang pundak Rezza, tiba-tiba air matanya keluar lagi. Ia menarik tubuh Rezza dan memeluknya, seketika Sherin yang melihat itu hilang sesak di dadanya. Sherin berdiri, menarik tubuh mamanya ikut berdiri.
Rezza terpejam matanya, ia masih tak percaya dipeluk erat oleh Om Arwin.. Rezza kehabisan kata untuk bicara, tanpa sadar tangannya perlahan terangkat. Ia membalas pelukan Om Arwin dengan merangkulkan kedua tangannya di punggung Om Arwin.
Sherin tersenyum sendu melihat ini, pertama kali dalam hidupnya ia melihat dua pria yang paling dicintainya berdamai. Berdamai dengan keadaan. Berdamai dengan masa lalu. Sherin memeluk mamanya sambil matanya tak lepas memandangi dua pria itu. Tante Rani melihat ekspresi Sherin yang senyum haru bahagia. Tante Rani merasakan semangat dan kekuatan Sherin telah pulih kembali. Tante Rani benar-benar merasakan Sherin tak bisa dipisahkan lagi dari Rezza.
"Saya juga minta maaf om, kalau saya membuat keadaan ini semua menjadi sulit.." Rezza mendapatkan kekuatannya kembali, membalas permintaan maaf Om Arwin.
"Nggak Rezza, kamu gak salah. Kamu hanya tulus mencintai anak saya. Saya bisa merasakan itu.." Om Arwin melepas pelukannya. Matanya masih meneteskan air mata perlahan.
"Tolong jangan tinggalkan Sherin ya.." Om Arwin memohon, wajahnya iba.
"Iya om, saya janji.. Saya akan nikahi Sherin.." Rezza menjawab yakin.
Om Arwin mengangguk tersenyum.. "Iya, saya restui kamu dengan Sherin.."
"Terima kasih om.." Rezza mengambil tangan kanan Om Arwin lalu menciumnya.
Mereka berdua menengok ke arah Sherin dan mamanya.. Semuanya tersenyum sendu, dengan air mata yang membasahi wajah.
21.55 | Mereka berempat duduk dengan situasi lebih tenang dan nyaman.
"Jadi kalian sekarang tinggal di Tebet? Ngontrak?" Tante Rani kaget.
"Kenapa gak bilang sih, kan papah bisa cariin rumah yang proper sekitaran sini atau Jaksel lainnya.." Om Arwin protes dikit.
"Gausah pah.. Aku sama Mas Rezza gamau ngerepotin papa mama. Lagian kan kita juga sementara aja di sana, nanti kalo kita udah nikah juga pasti akan cari tempat lain yang lebih proper, atau tinggal balik ke rumah Mas Rezza, atau di sini. Ya liat nanti lah.." Sherin menenangkan orang tuanya.
"Yaudah-yaudah. Kalo ada apa-apa, kalian kabarin mama atau papa ya.. Jangan sampe kalian kerepotan, terus kecapekan, terus malah jadi drop nanti kesehatan kalian.." Tante Rani memberi perhatian.
"Iya tante, tenang aja. Kalo ada apa-apa nanti kami kabari pasti." Rezza menjawab yakin.
"Yaudah, udah jam segini. Aku sama Mas Rezza pulang dulu ya mah pah.." Sherin pamit.
"Iya jangan malem-malem kalian, istirahat ya. Kamu kerja besok??" Om Arwin tanya.
"Aku WFH sih pah, Mas Rezza ngantor mungkin ya mas?" Sherin tanya ke Rezza.
"Iya, saya besok ke kantor om.." Rezza menjawab singkat.
"Yaudah kalo gitu, istirahat ya kalian. Jangan capek-capek.." Om Arwin mempersilahkan.
"Iya, kita pulang dulu ya mah pah.." Sherin dan Rezza bangkit, Sherin cipika cipiki ke mama papanya. Rezza menyalimi Om Arwin dan Tante Rani.
"Hati-hati ya Rezza nyetirnya di jalan.." Tante Rani mengingatkan.
"Siap tante. Kami pulang dulu.." Rezza dan Sherin bergandengan keluar rumah.
"Wasalamualaikum.." Rezza dan Sherin kompakan.
"Waalaikumsalam.." Tante Rani dan Om Arwin tak kalah kompak.
22.15 | Di jalan arah pulang ke kontrakan mereka.
"Masss.. Aku laper.." Sherin manja.
"Laper? Udah jam segini mau makan apa?" Rezza bingung.
"Hmm itu deket-deket situ kan banyak sate taichan mas.. Kita berhenti ya mampir, makan di mobil aja.." Sherin membujuk. Mereka sedang melintasi sepanjang rel kereta Jalan Tentara Pelajar arah Bendungan Hilir sebelum Gedung Kompas Gramedia, sepanjang jalan itu terkenal banyak pedagang sate taichan khas Senayan.
"Ihh sate taichan tuh pedes sambelnya, nanti kita sakit perut.. Makan yang lain aja ya."
"Ahh gak mau, aku maunya sate taichann.." Sherin ngambek gemes.
"Iya iya yaudah-yaudah. Aku gak mau makan ya kalo pedes.." Rezza mengancam.
"Iyaa.. Minta sambelnya dipisah aja nanti." Sherin ngide.
"Yaudahh, cium dulu.." Rezza iseng.
"Yang mana yang mau dicium sini?" Sherin malah menggoda balik.
"Terserah kamu mau cium mana.." Rezza menantang. Sherin menegakkan badannya lalu mencium bibir Rezza. Cukup lama. Rezza kerepotan melihat jalanan. Adegan yang tak pantas ditiru itu berlangsung sampai mereka tiba di salah satu kedai penjual sate taichan.
"Sayang udah sampe.." Rezza melepas ciumannya.
"Ihhh lagi seru juga.." Sherin protes gemas.
"Yaudah jadi makan gak? Kalo gak gapapa cium lagi.." Rezza menggoda lagi.
"Nggak! Makan aja, laper.." Sherin bete manja.
"Baangg.. Sate taichan dua porsi pake lontong, sambelnya dipisah ya jangan sampe kena ke satenya.." Sherin buka kaca sebelah kiri.
"Okee siap kak.." Seorang tukang parkir sekaligus pelayan kedai itu menerima pesanan Sherin.
"Mau minum apa kak?" orang itu menanyakan.
"Mas.. Kita gak bawa minum ya?" Sherin nanya ke Rezza.
"Nggak ada, ini doang tumbler aku isinya kopi tadi.." Rezza jawab.
"Air mineral dingin dua ya bang.. Makasih.."
"Okeh ditunggu ya kak.."
Mereka menyempatkan cium cium lagi, tak lama kaca diketuk.
"Ini kak air mineralnya, oh iya totalnya jadi 72 ribu ya. Mau cash atau QRIS?" tukang parkir itu shocked dikit kelihatan siluet Sherin dan Rezza sedang kissing tadi.
"Eh iya, pake QRIS aja ya, minta barcode-nya.."
"Ini kak barcode-nya, silahkan di-scan.."
"Berapa tadi? 72 ribu ya?" Sherin memastikan.
"Iya bener kak.."
"Udah ya, kita transfer 100 ribu, lebihnya buat tips dan parkir.." Sherin menunjukkan hasil payment-nya.
"Wah, makasih ya kak.. Sudah masuk nih.."
"Sama-sama bangg.." Sherin tersenyum.
"Baik banget sih kamu? Lagi happy ya? Kan kamu kalo lagi happy langsung jadi over baiknya.." Rezza memuji Sherin.
"Ihh kamu emang ya.. Tau banget soal aku.." Sherin cubit pipi Rezza.
Mereka pun menikmati malam itu dengan ditemani dua porsi sate taichan yang walau rasanya biasa aja, tapi menjadi spesial mengingat hari berat yang mereka lewati hari itu.
Setelah makanan habis, mereka pun buru-buru pulang ke kontrakan mereka. Malam semakin larut, tiba di kontrakan pun mereka melakukan adegan semi dewasa yang tak layak tayang di televisi nasional.
Karena ranjang yang disediakan hanya tipe single bed, mereka pun tidur sangat berdempetan. Sherin tak mau saat Rezza menawarkan diri tidur di sofa. Sherin mau mereka tetap tidur bersama meski harus berdesak-desakan. Tak terasa mereka terlelap, hingga subuh menjelang.
04.15 | Rezza terbangun, ia ke kamar mandi, menyalakan keran air panasnya. Setelah itu ia bersih-bersih sebelum berangkat ke masjid. Karena ruangan yang sempit, Sherin terbangun mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Ia tersadar Rezza tak ada memeluknya.
Sherin duduk sejenak, lalu bangkit berdiri. Siluet tubuh Sherin mengagetkan Rezza yang baru keluar dari kamar mandi.
"Astaghfirullah.. Sherin!" Rezza kaget.
"Kenapa mass?" Sherin bingung.
"Kaget tau aku, kirain hantu.. Nyalain atuh neng lampunya, mata aku kan gak keliatan jelas kena lampu kamar mandi.." Rezza masih nyerocos protes, dia beneran kaget.
"Iya maap, kamu ngapain sih pagi-pagi mandi? Emang air panasnya udah nyala?" Sherin nanya.
"Aku mau subuhan ke mesjid.. Kamu yang ngapain bangun pagi-pagi?" mereka berdua jadi berdebat gemas di waktu yang masih sangat pagi itu.
"Ya aku kebangun, berisik banget suara dari kamar mandinya." Sherin tak mau kalah nyolot.
"Yaudah maap, namanya juga kontrakan Hobbit.." mereka berdua tertawa.
"Eh eh mau ngapain??" Sherin mendekat, Rezza protes karena udah wudhu.
"Mau peluk ciyumm.." Sherin manja-manja.
"Aku udah wudhu, ntar ya.." Rezza menjelaskan.
"Hmmm.." tiba-tiba Sherin mencium Rezza di bibir dan memeluk kencang.. Rezza kaget tapi meladeni.
"Hehe.." Sherin balik badan lalu kabur menjatuhkan diri ke kasur.
"Ihhhh aku jadi harus wudhu lagi kamu mahh.. Dasar sayangnya aku.." Rezza marah-marah manja sambil balik ke kamar mandi.