Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #18

Chapter 18

07.45 | Sherin dan Rezza tiba di depan rumah orang tua Sherin.

"Mas, kamu gak mau masuk dulu?"

"Maaf bangettt ya sayaangg.. Aku ada meeting buat pitching baru nihh, takut telat nanti anak-anak protes. Kemarin aku pulang duluan soalnya kan."

"Yaudahh gapapa, aku tadi mikirnya kita bisa ngobrol bareng dulu sama papa mama, kan soal Setara juga dari kamu dan Hendro." Sherin menjelaskan.

"Iya-iya aku ngerti, tapi nanti kalo papa mama kamu ada nanya-nanya yang kamu gabisa jawab, call aku aja. Okay?" Rezza meyakinkan.

"Iya mas, yaudah bukain pintu." Sherin manja.

"Iya.. Cium di sini dulu.." Rezza tunjuk bibirnya. Sherin gercep menuruti, tak lama Rezza melepasnya sambil senyum-senyum lalu turun dari mobil.

"Makasi ya mas.. Kamu hati-hati nyetirnya.."

"Iyaa sama-sama sayangg.. Gak ada yang ketinggalan kan?" Sherin menggeleng.

"Yaudah aku langsung jalan ya, salam buat mama papa kamu.. Love you sayang.." Rezza mencium kening Sherin. Sherin cium tangan Rezza.

"Bye sayang.." Rezza kiss bye.

"Bye maass.." Sherin balas, sambil menunggu mobil Rezza menjauh menghilang dari pandangannya.


Sherin bicara dengan papa mamanya, entah gimana papa mamanya sangat setuju dengan rencana Sherin pindah kerja dan kemungkinan akan satu gedung kantor dengan Rezza. Mereka menilai kantor Sherin saat ini terlalu jauh walaupun tidak setiap hari ke kantor, tapi rasanya tetap lebih baik untuk Sherin memiliki kantor yang lebih ke Jaksel.

"Okay mah pah, makasi ya udah ngertiin.. Aku habis ini mau langsung ke kantornya Setara di gedung kantor papanya si Bang Hendro, temen kita di kampus dulu.." Sherin happy.

"Kamu naik apa? Tadi kan dianter Rezza." Om Arwin bertanya.

"Aku paling nanti pesen taksi pah, ini aku mau bales chat Clarissa dulu kata dia dateng aja. Aku bisa ke sana sekarang.." Sherin menjelaskan.

"Yaudah papah mamah antar ya, mumpung kita gak ada kesibukan hari ini."

"Hah? Beneran pah? Gak ngerepotin?" Sherin kaget mau diantar.

"Beneran, sekalian muter-muter sama kamu udah lama kan gak pergi bareng kamu.." Tante Rani meyakinkan Sherin.

"Iiiihh makasih mamah, papah.." Sherin memeluk mama papanya.

"Yaudah papa bilang Agus untuk siapin mobil dulu ya.." Om Arwin bangkit dari sofa.

Sherin mengangguk-angguk dengan semangat.


09.35 | Rezza sedang gak fokus di ruang meeting-nya. Dia kepikiran Sherin belum mengabari dari tadi. 'Sherin jadi ke kantornya Setara gak sih? Kok gak ada kabar?'

Rezza sedang meeting dengan tim kecil, ada Anya, Icha, Janice, Arina, Sigit, dan Ojan. Mereka memang tim inti dari K&B dengan jobdesk berbeda masing-masing kecuali Trio AE IJA.

Pintu diketuk.

"Bang, Sherin." Anya melihat Sherin di depan ruang meeting.

"Hah?? Sherin kok di sini?" Rezza membuka pintu ruang meeting.

"Sayang? Kok? Di sini.." Rezza kaget, Sherin datang bersama papa dan mamanya.

"Mass.. Papa mama lagi gak sibuk jadi mau anterin aku.. Ini aku bawain cemilan buat kamu ya."

"Hah? Om dan tante kok bisa di sini?" Rezza shocked sambil tersenyum.

"Iya Rezza, mumpung om dan tante lagi gak ada kesibukan." Rezza gercep cium tangan Om Arwin dan Tante Rani.

"Yaampun.. Terus kamu gak jadi ketemu Clarissa?" Rezza menerima kotak bekal dari Sherin.

"Jadi, ini mampir dulu nganterin ini buat kamu. Semalam papa dikasih oleh-oleh dari Palembang trus tadi aku kepikiran mau kasih kamu, sekalian mampir deh.."

"Oalahh.. Jadi repot-repot, yaudah om dan tante mau duduk dulu, minum dulu yuk. Ke ruangan saya ya?" Rezza menawarkan.

"Gausah-gausah kita langsung jalan lagi kan Sherin?" Tante Rani menanyakan ke Sherin.

"Eh iya mas, aku bilang ke Clarissa sampe sana jam 9-10an. Langsung jalan deh ya.." Sherin mau pamit.

"Oh gitu, yah padahal mau ajak om dan tante keliling dulu. Ini pertama kali kan Om Arwin dan Tante Rani ke kantor aku?" Rezza basa-basi.

"Yahh besok-besok kami ke sini lagi deh Rezza, kan nanti kalo jadi Sherin sekantor di sini juga.." Om Arwin menjelaskan, Rezza mengangguk.

Anya, Icha, dan Janice mendengar itu. Mereka saling lihat-lihatan 'Sherin sekantor? Sherin pindah ke sini? Sebagai apa?' mereka sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

"Oh iya, ini tim inti kantor kami om, tante, kita lagi meeting.

Guys boleh sebentar say hello ke papa mamanya Sherin yukk, mungkin ada sebagian yang udah kenal ada yang belum.." Rezza mengajak anak-anak buahnya itu menyalami Om Arwin dan Tante Rani.

Anya, Icha, Janice, Arina, Sigit, dan Ojan berbaris keluar ruangan.

"Ini tim inti kami om, tante, mereka yang paling dekat di kantor ini dengan saya dan kita lagi meeting untuk pitching calon klien baru.. Guys, ini ada Om Arwin dan Tante Rani, kebetulan lagi ke sini, sebuah kehormatan nih bisa dikunjungi oleh orang tuanya Sherin.."

"Halo om.. Tante.. Aku Anya.." Anya menyodorkan tangan pertama, Tante Rani seperti teringat Anya bertahun-tahun lalu pernah ketemu.

"Anya sepertinya tante ingat kamu.. Iya dulu pernah ktemu ya." Tante Rani memastikan.

"Iya tante, pernah beberapa tahun lalu.." Anya menjawab pelan. Rezza dan Sherin liat-liatan.

"Halo Anya. Saya Arwin papanya Sherin." Anya menjabat tangan Om Arwin.

Lalu diikuti jabatan tangan Icha, Janice, Arina, Sigit, dan Ojan.

"Yaudah kalo gitu, maaf ya guys jadi mengganggu, kita mau pergi lagi kok. Permisi ya, kami pamit dulu.." Sherin say bye ke semuanya. Salim ke Rezza.

"Iya hati-hati yaa.." Rezza dan timnya menjawab.

"Guys, gue anter ke bawah dulu ya. Makasih.." Rezza pamit menyusul Sherin dan ortunya ke depan lift lantai 3.

"Aku antar sampe bawah ya.." Rezza mengagetkan. Sherin tersenyum sumringah langsung menggandeng Rezza.

"Gabisa banget ya kalian jauh-jauhan.." Tante Rani menggoda. Om Arwin merangkul Tante Rani.

"Pake driver kan tadi? Bukan Sherin atau om yang nyetir?" Rezza basa-basi di dalam lift.

"Iya, sama Pak Agus tadi, dia nunggu di bawah.." Sherin menjawab.

"Yaudah, nanti kalo ada yang mau ditanya-tanya atau apapun itu, call aku aja ya sayang.."

"Iyaa masss.. Posesif banget sih kamu?"

"Eh, nggak gitu, takutnya kan di sana kamu ada yang bingung gitu-gitu.."

"Iyaa, tenang aja.. Kamu fokus meeting pitching-nya dulu sana. Biar bisa menangin kliennya."

"Siapp. Abis ini aku langsung balik meeting kok, hehe" Rezza cengengesan.

"Makasih banyak ya Om Arwin dan Tante Rani, repot-repot ke sini tapi gak saya suguhkan apa-apa.. Maaf banget.." Rezza memohon maaf.

"Udah santai aja Rezza, kita kan dadakan juga sekalian mau cek kantor kalian gimana. Nanti kalo Sherin jadi ngantor di sini juga, kita main-main lagi ya.." Tante Rani menenangkan.

"Okay tante, pokoknya aku tunggu kalo mau ke sini lagi silahkan.." Rezza memastikan.

Mobil Vellfire warna hitam itu datang, disupiri oleh Pak Agus.

"Yaudah kita jalan dulu ya, semangat kerjanya sayang.." Sherin memeluk Rezza sekali lagi.

"Iya makasi ya oleh-olehnya, kamu juga semangat.."

"Kita jalan dulu ya Rezza.." Om Arwin pamit, Rezza cium tangan Om Arwin dan Tante Rani.

"Hati-hati di jalan.. Pak Agus hati-hati ya nyetirnya.."

"Siap Mas Rezza.." jawab Pak Agus..

"Bye.." Rezza melambaikan tangan.

Mobil itu berjalan menjauhi kantor itu.


Sesampainya di lantai 3, Rezza langsung diinterogasi oleh staf-stafnya.

"Jadi, tadi maksudnya gimana bang? Sherin akan ngantor di sini? Maksudnya apa?" Anya mencecar Rezza.

"Oke-oke, mumpung kita lagi meeting tim kecil, gue jelasin sekarang ya.." semua mengangguk.

Rezza bercerita soal Setara KOL Agency yang baru di-invest oleh Hendro tiga bulan lalu. Awalnya mau Rezza yang handle juga, tapi Rezza takut keteteran sehingga coba dicari alternatif lain. Muncullah nama Sherin. Rezza dan Hendro sepakat Sherin bisa jadi sosok yang tepat untuk memimpin Setara KOL Agency. Tapi Sherin mau kantornya pindah ke situ juga satu gedung dengan K&B.

"Jadi sampe detik ini Sherin pun belum mengajukan resign dari kantornya. Kalopun habis ini sudah final keputusan dia usai ngobrol sama Clarissa, operational leader-nya Setara sekarang, secepat-cepatnya satu bulan lagi Sherin baru akan join. Dia pasti one month notice.."

Semuanya mengangguk paham. "Kenapa harus sekantor bang? Apa request Mbak Sherin atau Bang Hendro?" Icha bertanya.

Rezza jelaskan kalau Clarissa sendiri merasa kantor di daerah jalan HR Rasuna Said itu terlalu kantoran, kurang cocok dengan model bisnis KOL agency seperti ini. Terus juga Hendro sudah make sure bisa kalau mau sewa office space lagi di gedung itu, kebetulan di lantai dua masih ada space for rent yang bisa disewa ke depannya jadi areanya Setara, jadi gak akan bentrok dengan K&B.

Semua orang di tim itu sepertinya memahami, ini bukan 100% kemauan Sherin dan Rezza. Ada andil Bang Hendro juga di sana. Ya mereka tidak bisa protes atau apapun karena memang itu sudah jalannya.


10.15 | Mobil Om Arwin dan Tante Rani tiba di sebuah gedung perkantoran mewah di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

"Pah, mah.. Makasi ya udah mau repot-repot anter aku ke sini, trus tadi ke kantor Mas Rezza.."

Sherin yang duduk nyempil di baris ketiga mobil itu berterima kasih ke orang tuanya.

"Iya sayang, sekali-kali kann. Nanti kalo kamu udah nikah sama Rezza, kamu makin sibuk makin jarang ke rumah mama papa malah.." Tante Rani menjelaskan. Sherin tersenyum sumringah.

"Yaudah aku turun dulu ya, minta doanya ya pah mah semoga lancar. Aminn.." Sherin menyalimi orang tuanya.

"Apapun keputusan kamu, papah dan mamah setuju kok. Kamu pokoknya harus seneng, itu yang utama sekarang.." Om Arwin bijak. Sherin tersenyum haru.

"Yaudahh aku pamit ya pah, mah. Hati-hati di jalan.." Sherin sudah turun dari mobil. Sherin melihat Pak Sofyan, ayahnya Hendro turun dari mobil Alphard hitam di belakang mobil mereka.

"Eh tunggu pah, itu Om Sofyan, ayahnya Bang Hendro temen kampus aku. Sapa sebentar yuk.."

Om Arwin dan Tante Rani mengingat-ingat, yang mana Pak Sofyan?

"Om Sofyan.. Pagi.." Sherin mengejar Pak Sofyan lalu menjabat tangannya.

"Eh, Sherin? Kok di sini? Mau ketemu Hendro?"

"Eh itu om, aku mau ke lantai 7 ketemu Clarissa.. Oh iya ini ada papa mama aku tadi nganter ke sini.." Pak Sofyan menengok, keduanya saling tatap dan teringat mereka memang sudah kenal sejak lama tapi tak terlalu dekat.

"Halo, Pak Arwindra. Apa kabar??" Pak Sofyan mendekati dan menyodorkan tangan.

"Halo Pak Sofyan, kabar baik saya. Ini saya sama istri antar Sherin mau meeting ke sini."

Tante Rani ikut turun lalu menyalami Pak Sofyan.

"Apa kabar pak?" Tante Rani menyapa.

"Kabar baik. Bapak dan Ibu mau ke mana? Ngopi dulu yuk, ada kafe di lobi. Kita ngobrol-ngobrol sebentar. Saya habis dari meeting pagi tadi ketemu Dirjen di Kementerian ESDM."

"Wah.. Boleh pak, kebetulan saya juga sedang free hari ini. Kita ngobrol sebentar yuk mah." Om Arwin menyetujui lalu mengajak Tante Rani, Tante Rani mengangguk.

"Yaudah kalo gitu, kalian ngobrol dulu, aku ke lantai 7 ya.. Permisi Om Sofyan.." Sherin pamit.

"Iya silahkan Sherin, eh Elsa.. Antarkan Sherin ke lantai 7 ya biar gak perlu tuker KTP. Saya di lobi dulu bicara sama Pak Arwin." Om Sofyan meminta Elsa, asistennya mengantar Sherin.

"Baik pak, mari Kak Sherin ikut saya." Elsa mengajak Sherin ramah.

"Iya makasih, pah mah. Aku ke lantai 7 dulu ya.. Bye.. Duluan Om Sofyan."

"Iya silahkan.." Om Sofyan, Om Arwin, dan Tante Rani mempersilahkan Sherin masuk.

Mereka bertiga pun berjalan santai ke dalam lobi, ada sebuah kafe dengan dekorasi cukup mewah yang menu-menu kopinya tak ada yang di bawah lima puluh ribu rupiah..

"Silakan Kak Sherin, nanti kalau sudah mau keluar atau ke bawah bisa langsung pencet tombol lantai 1 aja tanpa akses. Terus di bawah minta di-tap card sama security juga bisa bilang aja tadi masuk tamu Pak Sofyan lantai 5." Sherin dan Elsa tiba di lantai 7.

"Okay, terima kasih banyak ya Elsa. Saya ketemu Clarissa dulu.."

"Sama-sama Kak. Saya ke lantai 5 ya. Permisi.." Elsa masuk ke dalam lift lagi.

Sherin berjalan sumringah ke dalam area office Setara.. Nampak Clarissa sedang berdiri terlihat dari depan resepsionis. Ia dengan hijab biru mudanya nampak cantik dan ceria sambil mem-briefing beberapa stafnya.

"Haii Kak Sherin.. Apa kabar??" Clarissa menghampiri Sherin.

"Baik Cla.. Kamu apa kabarnya? Seminggu ya kita gak ketemu." Sherin basa-basi.

"Eh iya, baik kok kak. Yuk langsung masuk aja.. Aku lagi briefing tim aku nih. Ikut aja biar Kak Sherin bisa tau kita lagi ngerjain apa gitu. Trus nanti makan siang kita bareng sambil ngobrol ya."

"Ah nice, setuju. Boleh banget Cla.. Yuk lanjut briefing-nya." Sherin menyepakati.

Sherin duduk di salah satu kursi di ujung meja ruangan tengah itu setelah menyalami dan berkenalan lagi dengan anggota tim Setara KOL Agency. Mereka nampak sangat welcome ke Sherin. Sherin pun langsung mengeluarkan sebuah buku notes, sambil mencoba mencerna beberapa obrolan Clarissa dengan timnya.


11.32 | Sherin dan Clarissa makan siang di kantin gedung sebelah kantor itu. Kantinnya terkenal nyaman karena ber-AC, lebih terjangkau harganya, dan menunya enak-enak. Jadi mereka sepakat ke sana karena Clarissa dan tim lebih sering makan siang di situ.

"Kak, soal kalo kakak beneran mau menjadi main director kita, hmm kira-kira kapan ya bisa ada keputusan? Soalnya aku bener-bener butuh banget bantuan segera nih kak.."

"Cla.. Sejujurnya aku sudah memutuskan, aku mau menerima tawaran ini." Sherin menjelaskan perlahan. Clarissa yang tadi wajahnya datar, mendadak antusias.

"Serius kak? Ihhh gak sabar deh pengen cepet-cepet kita kerja bareng.." Clarissa heboh.

"Hehe iya, tapi itu masalahnya Cla.. Aku harus one month notice kan di kantor. Jadi aku butuh waktu, paling cepat 1 bulan, paling lambat kalau pengajuan resign aku lama prosesnya bisa dua bulan. Kamu gapapa gak kalau nunggu dulu?" Sherin menjawab lemah.

"Kak.. Aku paham banget kok. Yang penting aku tuh butuh banget kepastian, karena aku butuh temen diskusi juga buat problem solving ini semua. Kalopun Kak Sherin masih harus di sana satu sampai dua bulan, seenggaknya kan kita bisa komunikasi. Bisa diskusi lebih jauh soal Setara kak.." Clarissa sangat memahami.

"Ah iya, makasih ya Cla udah paham.. Aku sejujurnya merasa bersalah juga satu minggu ini terkesan menggantung. Soalnya lagi banyak urusan juga. Maaf ya.." Sherin minta maaf.

"Gapapa kok kak, namanya manusia pasti banyak urusannya. Haha" Clarissa menceriakan suasana.

"Haha iya Cla, btw soal pindah kantor ke gedung bareng K&B udah tau? Bang Hendro ada cerita gak?" Sherin nanya.

"Oh iya.. Aku setuju banget kok kak, di Kemang kan? Jadi lebih deket juga akunya. Kapan kita bisa ke sana? Aku belum pernah ke sana. Mau liat-liat deh, pasti cozy ya kantornya di sana?"

"Enak banget di sana Cla, coffee shop, restoran, tempat-tempat nongkrong banyak, terus mau makan siang, makan malam, sarapan, pilihannya banyak banget. Jauh lebih fleksibel dari kantor di tengah-tengah kaya di Kuningan gini.. Abis dari sini aku mau ke sana nyusul Mas Rezza. Siapa tau kamu mau ikut, bisa kita ke sana. Eh tapi kalo gak sibuk ya kamu.." Sherin menjelaskan.

"Abis ini yuk kak, kakak naik apa?" Clarissa benar-benar excited.

"Aku tadi diantar papah mamah sih.. Wait aku cek WA dulu, papa mama masih di bawah gak tadi mereka ngopi bareng Om Sofyan, eh Pak Sofyan.." Sherin cek chat mama dan papanya.

"Ohh, kalo gak nanti pake mobil aku juga gapapa kak.. Gampang itu sih.."

"Eh iya, papa mama aku udah pulang dari 20 menit lalu. Gapapa pake mobil kamu?"

"Gapapa, kita langsung jalan aja biar gak kelamaan abis ini. Ini aku bawa kunci mobil kok. Biar gak kesorean males banget gak sih kalo kesorean udah macet banget harus balik ke Kuningan lagi haha" Clarissa benar-benar ramah dan mudah akrab. Sherin merasakan kenyamanan.

Tak lama kemudian, mereka berada di parkiran gedung kantor Hendro dan Setara.

"Yuk kak, naik mobil aku. Silahkan masuk.." Clarissa masuk ke mobil Chery Q warna putih.

"Wahh.. Mobilnya baru banget nihh.." Sherin memuji.

"Hehe iya kak, baru sebulan aku pake mobil ini. Abis sebelumnya mobil aku mobil biasa kan, terus kalo harus ngantor kena ganjil genap jadi harus muter-muter dulu.. Yaudah deh mumpung ada rezeki dan mobil ini baru banget launching, aku beli deh mobil listrik ini. Lumayan jadi gak mikirin ganjil genap lagi.." Clarissa menjelaskan.

"Ah iya ya, di sini area ganjil genap. Repot banget pasti ya kalo bukan pake mobil listrik."

"Iya kak, aku kalo telat banget dulu tuh yaudah deh milih naik ojol aja ke stasiun MRT."

"Hah? Emang kamu tinggal di mana Cla?" Sherin bertanya.

"Rumah aku di Bintaro kak.. Deket Jurangmangu tau gak?"

"Ohh iya-iya taukk. Deket sama Icha dong nanti.." Sherin asbun.

"Hah? Icha siapa kak?" Clarissa heran.

"Ohh maaf-maaf, ada timnya Mas Rezza di K&B namanya Icha, dia tinggal di Rempoa deket Bintaro kan.."

"Ohh iya Rempoa deket sih.. Hehe" Clarissa menjawab ramah. Mereka melanjutkan perjalanan sekitar 20 menit tiba ke kantor Rezza.


12.05 | Rezza, Anya, Icha, Janice, Arina, dan Sigit sedang makan di ruang tengah. Mereka pesan makanan pakai ojol karena meeting upcoming pitching masih belum selesai. Mereka memutuskan pesan makanan aja karena merasa lelah kalo harus keluar-keluar kantor lagi.

Rezza wajahnya agak cemas, dia ingin tau kabar Sherin yang sedang di kantor Clarissa.

Rezza buka chat WhatsApp Sherin, terakhir mengabari 11.25 sedang makan siang sama Clarissa, Rezza cuma balas 'Selamat makann sayangkuu.."

Sherin datang, mengendap-ngendap menghampiri Rezza yang membelakangi arahnya. Trio IJA, Arina, dan Sigit yang melihat Sherin datang dengan gestur jari telunjuk di mulutnya langsung pada paham. Sherin mau surprise ke Rezza.

"DORRR!!" Sherin mengagetkan Rezza, dipeluk dan dorong Rezza dari belakang.

"ASTAGHHFIRULLAH.. Sayang, kamu dua kali dateng ngagetin hari ini, lama-lama aku jantungan lho.." Rezza beneran mukanya shocked.

"Segitunya takut aku ilang? Makan sambil liat-liat chat aku, bucin banget sih kamu.." Sherin ngeledek, semuanya ketawa tanpa bisa menahan, Rezza kaget liat Clarissa langsung pasang muka ramah.

"Eh ada Clarissa, apa kabar?? Udah lama gak ketemu.." Rezza berdiri lalu menyalami Clarissa.

"Baik bang, Bang Rezza gimana kabarnya?" Clarissa ramah, muka Sherin langsung sebel manja.

"Alhamdulillah cakep.. Eh baik kabarnya.." Rezza gelagapan di depan muka Sherin.

"Apanya yang cakep? Siapa cakep?" Sherin mencecar.

"Kamu dong sayang.. Masa aku bilang Sigit cakep, serem ya dengernya.." Rezza ngeles, Sigit mukanya heran dibawa-bawa.

"Eh iya guyss.. Udah diemin aja Mas Rezza lagi gak fokus..

Ini kenalin namanya Clarissa, boleh panggil Cla aja.. Cla ini yang handle Setara KOL Agency under Bang Hendro. Kalian udah pada tau ceritanya? Nanti aku ceritain ya.." Sherin nyerocos serius ke arah tim K&B. Rezza didorong duduk sama Sherin lalu pasang muka manyun.

"Eh iya tadi Bang Rezza udah cerita kok mbak.. Salam kenal Clarissa, aku Icha.." Icha maju menyalami Clarissa.

Lihat selengkapnya