05.20 | Sherin baru saja selesai membuat roti sandwich isi smoked beef, salada, dan potongan timun serta tomat segar. Di atas piring sajinya juga tersedia segunung telur omelet yang walau nampak jauh dari standar restoran, tapi rasanya sangat nikmat setelah dicicip oleh Sherin.
"Mas Rezza pasti suka.. Sepiring berdua aja ah biar romantis pagi-pagi. Hihi" Sherin bicara sendiri. Ia memastikan Rezza tak beli sarapan karena tadi Rezza pamit ke masjid shalat Subuh Sherin mengingatkan mau masak pagi itu.
Sambil menaruh piring itu di meja kecil depan sofa ruang TV, Sherin mengambil handphone lalu duduk di sofa..
"Direct Message? Pagi-pagi gini ada DM Instagram dari siapa?" Sherin melihat notif DM masuk.
"Pagi Kak Sherin, maaf kalau mengganggu..
Kami dari Kawula Digital Network, pemilik IP Kawula Podcast ingin bertanya apakah Kak Sherin dan Kak Rezza berkenan untuk interview dan diundang dalam salah satu episode Kawula Podcast yang dibawakan oleh Duo Bahlul, Kak Kamal dan Kak Sahil?
Mohon infonya ya kak jika berkenan.
Kami sangat antusias untuk menghadirkan Kak Sherin dan Kak Rezza terkait viralnya video kalian saat bermusik di sebuah restoran di Lembang beberapa waktu lalu.
Kami merasa potensi kalian sangat luar biasa, dan kami ingin mengajak untuk hadir di content podcast kami yang akan tayang di YouTube channel Kawula Network.
Terima kasih atas perhatian Kak Sherin dan Kak Rezza.
Regards,
Safira H.
Producer Kawula Podcast.
0812 xxx"
Sherin tak percaya membaca DM itu. Ia bingung harus berkata apa.. Di satu sisi hatinya senaang sekali melihat dirinya dan Rezza sampai pada titik ini. Tapi di sisi lain ada kekhawatiran,
'Apakah Mas Rezza mau?' Sherin teringat bahwa Rezza ia kenal betul seorang yang sebetulnya introvert. Rezza hanya atraktif dan periang saat bersama orang yang dia nyaman, termasuk Sherin. Rezza juga bermusik bukan untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri. Sherin ingat masa kuliah tiap kali ada event musik lokal jurusan atau fakultas, Rezza menolak diajak tampil.
'Nggak pede' katanya, padahal musikalitasnya sangat potensial, bisa main berbagai alat musik dari gitar, piano/keyboard, bass, hingga drum. Bahkan waktu SMA Rezza pernah punya sebuah band dan ia menjadi drummer di sana.
"Aku harus tanya dulu sama Mas Rezza!" Sherin sekali lagi bicara sendiri.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam, mas.." Sherin berdiri, menyalimi tangan Rezza yang baru saja masuki pintu kontrakan Hobbit mereka.
"Mas, sini cobain sandwich buatan aku.. Bikinnya pake segenap hati aku lho!" Sherin sumringah.
"Kok satu piring aja? Kamu gak makan?" Rezza heran.
"Sepiring berdua ya mas, biar romantis!" Sherin menggenggam erat lengan Rezza yang masih sakit.
"Aww.. Sakit di situ.."
"Eh iya maap-maap masku sayangg.. Aku lupa.."
"Iya gapapa sayang.." Rezza senyum menenangkan.
"Yuk sambil makan mas.. Aku suapin ya?" Sherin mengambil piring itu, lalu memotong sandwich yang aromanya sangat buttery itu dengan garpu. Lalu disuapkannya sepotong untuk Rezza.
"Enak banget Ya Allah.. Kamu pinter banget sih masaknya.." Rezza sampe melotot.
"Iya mas? Ihh makasi.. Aku happy kalo kamu suka.." Rezza mengangguk.
Sherin hendak menyuapi mulutnya sendiri ditahan oleh Rezza.
"Sini aku suapin.. Pelan-pelan ya tangan aku masih sakit.." Sherin mengangguk manja. Ia terharu meski tangan Rezza masih luka dan sedikit sakit karena terkilir, Rezza tetap ingin membalas suapan ke Sherin..
"Kenapa kok ngeliatinnya sampe mewek gitu?" Rezza bingung.
"Aku terharu mas.. Kamu kenapa sih baik banget sama aku?" Sherin mengunyah sambil bicara.
"Udah gausah mikir ke mana-mana, aku cuma mau balas suapan kamu.."
Sherin mengangguk sambil menetes sedikit air matanya. Rezza susah payah mengangkat tangan kanannya untuk mengusap air mata di pipi Sherin. Sherin mencium tangan Rezza dalam-dalam. Mereka hanyut dalam rasa sangat ingin memiliki lebih jauh lagi di momen sesederhana itu.
Sherin memang wanita yang unik, dia tak tenggelam dalam rayuan pria, dia juga bukan yang terkesan dengan harta benda yang dimiliki dari seorang laki-laki, Sherin hanya 'tersenggol' hati dan rasanya jika benar-benar telah merasa nyaman dan menjadi diri sendiri di hadapan laki-laki. Dan hanya Rezza yang bisa membuatnya begitu. Bahkan hampir tiga tahun pernikahannya dengan Dhika, sering kali Sherin menutupi wajah aslinya. Seakan dia memakai topeng yang tak nyaman untuk dibuka oleh pria yang menikahinya dulu itu.
"Mas.. Aku mau tanya sama kamu.." Sherin sambil suapin Rezza lagi.
"Apa sayang?" Rezza tanya sambil mengunyah.
"Aku tadi dapet DM dari Kawula Podcast. Terus mereka ngajak, eh ngundang kita datang ke podcast-nya. Podcast-nya Kawula Network yang host-nya Duo Bahlul itu lho. Mereka kan ada beberapa konten dengan host yang beda-beda. Menurut kamu gimana?"
Rezza tampak kurang excited. Sherin tak kaget melihatnya, dia sangat mengenal Rezza.
"Hmm.. Kamu mau dateng emangnya?" Rezza bertanya balik.
"Aku sih.. Tergantung kamu mas. Aku gak mau kalo kamunya gak nyaman." Sherin jawab.
Sherin dalam hatinya sebetulnya ingin datang ke podcast itu, dia merasa memang sudah saatnya hubungan mereka berdua bersinar. Dalam egonya, Sherin ingin dunia tahu kalau ia sudah bahagia dengan pria pilihannya saat ini, Mas Rezza. Dia sangat ingin mengungkapkan sisi lain dirinya jika diundang di podcast itu. Dulu semasa kuliah, Sherin memang sangat suka diperhatikan orang banyak, suka ikut event-event yang melibatkan banyak orang, tapi karena dia seringkali punya hubungan dengan laki-laki yang salah di masa mudanya, dia justru terkekang oleh itu. Kali ini dia ingin sekali terlepas dari kekangan yang membayang-bayangi hidupnya.
"Kamu mau? Kalo kamu mau, aku mau. Aku mau kamu happy, aku gak mau kamu merasa tertekan jika harus hadir atau gak hadir di podcast itu." Rezza menjawab yakin. Keyakinannya adalah ia ingin buat Sherin bahagia. Di dalam benaknya, Sherin tak boleh terlalu banyak pikiran, tak boleh terlalu overthink atas sesuatu, dan ini bisa jadi media yang baik untuk Sherin.
"Aku mau mas.. Aku mau kita datang ke sana. Kamu beneran mau kalo aku iyain?"
"Okay, demi kamu aku mau.." Rezza menjawab yakin.
"Maass.. Makasih ya.." Sherin langsung memeluk Rezza, Rezza sekuat tenaga menahan sakit di tangannya demi tak merusak suasana hati Sherin yang bahagia di pagi yang dingin itu.
08.35 | Sherin dan Rezza otw ke kantor K&B. Karena Sherin sedang tidak WFO, ia memutuskan mengantar dan menemani calon suami tercintanya itu ke kantor.
"Mas, aku seharian ini dampingin kamu terus ya. Kamu meeting, mau keluar kantor, ke mana pun kalo bisa ke toilet aku dampingin.." Sherin nyerocos sambil pegang kemudi.
Rezza terkekeh, "kamu kenapa sih, aku baik-baik aja lho.. Cuma sakit dikit aja tangan ini."
"Udah pokoknya kamu gausah protes, aku calon istri kamu, udah kewajiban aku menjaga kamu kalo kamu lagi gak fit. Okay? Gausah bantah.." Sherin memaksa.
"Iya-iya.. Makasih ya calon istriku.." Rezza menggelengkan kepala tersenyum sumringah.
09.00 | Rezza dan Sherin tiba di lantai 3 K&B. Semua mata tertuju ke mereka, Sherin menggandeng Rezza dari sebelah kiri. Tampak tangan kanan Rezza yang luka sedari kemarin sudah diperban lagi. Mereka berjalan ke arah kubikal Trio IJA dan menyapa.
"Morninggg.. Meeting jam berapa Nya?" Rezza bertanya.
"Morning all.." Sherin tersenyum ke arah Icha, Anya, dan Janice.
"Morning bang, mbak.." semua jawab kompak.
"Setengah jam lagi gimana bang?" Anya tanya.
"Okeh, kabarin aja kalo udah mulai ya.." Rezza masih digandeng dengan erat oleh Sherin.
"Ehmm.. Cha, kakak lo udah sembuh? Gimana kondisinya?"
"Eh iya bang, suaminya hari ini jadwal libur juga. Jadi mau dibawa ke rumah sakit karena posesif banget takut kenapa-kenapa. Tapi sebenernya semalem udah baik-baik aja sih, tapi tadi pagi gue gak ketemu mereka karena udah keburu jalan ke RS." jawab Icha.
"Ah syukurlah.. Semoga kakak lo baik-baik aja ya.." Rezza wajahnya tenang.
"Eh, Kak Ayu kenapa Cha? Sakit?" Sherin tanya.
"Wait.. Kamu kenal sama kakaknya Icha? Ayu?" Rezza tanya.
"Kenal lah.. Kan mereka adik-adik aku juga.." Sherin jawab sambil tersenyum.
"Iya mbak, kemarin sempet demam. Tapi udah mendingan kok dan tadi pagi udah dibawa ke RS sama suaminya. Tenang aja, sakit manja paling dia mau manja-manja sama suaminya hehe."
"Haha iya, persis kaya Mas Rezza. Kalo sakit manja.." Sherin ngejek Rezza.
"Eh ngaca ya, kamu lebih manja dari aku mon maap.." Rezza gamau kalah.
"Yaudah yuk ke ruangan.." Sherin ngajak Rezza ke ruangan kerja Rezza.
"Ok bye guys, have a good day all.." Sherin pamit ke Trio IJA.
"You too kak, mbak, Sher.." jawab mereka kompak.
Sherin sedang duduk di kursinya Rezza sambil laptop-nya terbuka tapi dia hendak membalas DM dari Kawula Podcast tadi pagi. Rezza sengaja tidak duduk di sana karena takut tangannya kena arm rest kursi kerjanya yang besar itu. Rezza duduk di sofa sambil deck checking seperti hari-harinya biasa.
"Mas, aku mau bales DM-nya Kawula Podcast. Kamu mau baca dulu gak sebelum aku send?"
Rezza menengok ke Sherin tersenyum, "gausah.. Aku serahin ke kamu.."
"Okay sayang.." Sherin makin sumringah.
Sherin mengetik.
"Halo Safira..
Terima kasih sudah menghubungi saya. Sebenarnya saya dan Rezza berminat untuk hadir di Kawula Podcast, tapi kami mau mendengar atau diskusi soal brief podcast-nya dulu bisa gak? Karena ini pertama kali kami akan datang di public channel. Kami berdua memang sangat menjaga privasi kami, jadi sangat mencoba hati-hati dalam berbagai tindakan. Mohon pengertiannya.
Jika mau jadwalkan untuk meeting atau diskusi, boleh banget kok.
We're open to discuss more.
Thanks & regards,
Sherin A.P."
Ya.. Namanya Sherin secara lengkap adalah Sherin Arrani Putria. Arrani diambil dari gabungan Arwindra dan Rani.. Sweet banget ya.
Btw, nama akun sosial medianya Sherin dan Rezza itu juga unik. Username Sherin di berbagai sosmed biasanya menggunakan @SherinArPut Sedangkan Rezza biasanya menggunakan @RezzaBK6 singkatan dari nama panjang Rezza Bagas Kirana dan 6 adalah tanggal lahirnya 6 Februari 1993.
Mereka hampir berbeda satu tahun. Sherin lebih dulu lahir di tanggal 25 April 1992. Tapi karena Sherin anak bungsu dan sangat manja kalau sama Rezza, banyak yang mengira Sherin lebih muda bahkan. Terlebih fisik Sherin yang awet muda dengan jenis kulit yang putih kenyal tapi tidak over berminyak. Sedangkan Rezza lebih memiliki warna kulit sawo matang, dengan pori-pori kulit wajah yang besar-besar dan mudah berminyak, sehingga sudah biasa dikira lebih tua dari usianya sejak masa remaja.
"Dah.. Udah aku kirim ya mas.. Kita tunggu respons mereka.." Sherin bicara ke Rezza. Rezza menatap tersenyum sambil mengangguk, lalu kembali fokus ke laptop-nya.
Tak lama Tante Rani call Sherin.
"Halo mah.." Sherin angkat call itu.