Keesokan harinya.
09.12 | Ruangan Rezza, lantai 3 K&B office.
"Mas.. Aku bikin akun sosmed buat kita berdua.." Sherin sedang duduk di kursi Rezza. Rezza duduk di sofa. Sherin harusnya WFO hari itu, tapi ia putuskan izin WFH karena tidak ada meeting penting juga dan karena masih khawatir dengan kondisi tangan Rezza.
"Buat? Buat apa?" Rezza tanya.
"Buat kita, nih liat deh. Aku bikin akun IG, TikTok, YouTube, sama Snapchat." Sherin pindah ke sofa duduk di sebelah Rezza sambil tunjukkan akun-akun itu.
"Nanti kita photo shoot yukk.."
"Photo shoot? Ngapain sayang?" Rezza bingung.
"Ya buat isi ini, buat profile picture semua sosmednya. Buat posting-posting, sama bikin behind the scene-nya. Mau yahh? Aku ada kenalan punya photo studio bagus di Pondok Indah.."
"Hmm.. Keknya gak perlu deh.. Isi pake foto-foto lama kita aja.." Rezza nolak halus.
"Ihh foto lama juga aku ada, cuma kan buat sosmed zaman sekarang harus proper mas. Kualitas foto dan videonya beda sama zaman kita muda dulu.." Sherin maksa.
"Udah bentar, aku kirim link G-Drive nanti.. Kamu cek aja di chat wa.."
Sherin bingung.. "Yaudah-yaudah ntar aku buka di laptop. Hp aku lowbatt." Sherin balik ke meja, charge handphone-nya ke charger yang menempel di stop kontak dekat meja kerja Rezza.
Notif chat masuk, Sherin cek dari WhatsApp di laptop-nya. Sebuah link dikirim Rezza. Sherin buka.
Ia ternganga folder Google Drive itu berisi foto-foto mereka. Foto-foto yang Sherin tak sempat minta dari Rezza. Last activity dari folder itu: 18 Januari 2024. Dua tahun lebih yang lalu.. Sebelum Sherin menikah dengan Dhika, setelah Sherin dan Rezza bertengkar hebat dan lost contact karena Sherin bertemu dengan pria di dating apps. Pria yang dinikahinya dua tahun lalu.
"Mass.. Ini kan foto-foto waktu kita.." Sherin tercekat.. Folder berisikan foto-foto mereka liburan, fotonya sangat bagus high definition dengan kerapatan jutaan mega pixel. Diambil dari kamera mirrorless Rezza yang sudah tidak pernah disentuhnya lagi kini. Rezza meng-upload semua file itu di sebuah akun Google yang tidak pernah dia sign in lagi.. Hanya dia yang bisa akses selama ini, dan baru hari itu Sherin mendapat link aksesnya.
Foto-foto saat mereka liburan ke New Zealand, ke Bali, nonton MotoGP di Mandalika Lombok, sampai foto-foto random dan event-event yang bahkan Sherin lupa di sekitar Jakarta.
Sherin tersenyum tapi hatinya sesak, tak menyangka semua memori itu tersimpan dengan sangat baik. Tak pernah dihapus satupun oleh Rezza.
Rezza bangkit dari sofanya. Dia mendekati Sherin perlahan, menyentuh bahu Sherin dan mengelusnya lembut. Ia berbisik..
"Aku masih sering buka folder itu, tiap kali aku kangen kamu.." Matanya merah, air matanya mengalir perlahan. Sherin menoleh dari kondisi tercengangnya. Dia tak menyangka Rezza sangat.. Masih sangat mencintainya, even Sherin telah menikah hampir tiga tahun lalu.
"Mass... Maafin aku.." Sherin berdiri, lalu memeluk Rezza sekuat tenaga. Mereka menangis sesenggukkan. Sherin pun juga sering merasa rindu saat sedang sendiri meski di saat ia telah menikah dengan laki-laki lain. Perasaan cinta mereka terlalu kuat untuk dipisahkan oleh restu.
Sayup-sayup terdengar kembali di relung hati Rezza. Lagu lawas yang sangat pas dengan kondisinya dulu: La Luna - Selepas kau pergi.
Sherin men-download semua foto itu di laptop-nya. Total size hingga mencapai 29,3 Gb. Hampir 30 Gb untuk foto-foto dan beberapa video singkat yang dipotret dan direkam oleh kamera Rezza itu. Sherin bingung mau mulai dari mana. Ia coba sortir dari last created by date. Tapi sepertinya sudah kacau karena terganggu sistem folder di G-Drive. Akhirnya Sherin memilih foto mereka berdua waktu di Bali, memilih sekitar 8 foto terbaik. Berbagai pose. Sherin dan Rezza foto-foto di beberapa pantai eksotis di Bali sekitar 4 tahun lalu. Ia masih ingat betul, November 2022 tak lama setelah pandemi mereda, mereka melepas rindu ke Bali bersama.
Ia upload carousel 8 foto terbaik itu. Postingan pertama dari akun yang baru saja dibuat oleh Sherin tadi, akun itu diberi nama @SherinRezza2818 diambil dari tanggal 2 Agustus 2018, mereka pertama kali menyandang status 'pacaran.'
Sherin mengupload kedelapan foto itu dengan caption: The island of love and full of beautiful memories.. Ditemani dengan musik 'Hanyalah Untukmu' by Ten2Five. Delapan foto itu terlalu bagus untuk harus dinodai dengan filter-filter ala Instagram ataupun TikTok. Semua di-upload tanpa filter sama sekali. Di Instagram dan TikTok post, lalu ia tag ke @RezzaBK6 dan @SherinArPut.
Rezza yang sedang meeting di ruangannya bersama Trio IJA, Arina, dan Sigit melihat notif dari aplikasi Instagram di handphone-nya.
Wajahnya shocked tapi juga happy, Sherin yang sedang di ruangan kerjanya Rezza pasti sudah mulai upload beberapa foto-foto dari folder 'rahasia'nya itu.
Rezza menggeser beberapa foto untuk lihat semua carousel itu, beberapa foto ada yang pernah dia upload. Beberapa baru pertama kalinya di-publish di dunia maya kecuali G-Drive. Rezza dan Sherin pernah meng-upload-nya dulu banget sepulang mereka dari Bali. Tapi karena mereka putus, mereka memutuskan untuk archived semua foto-foto itu. Sherin dan Rezza pun jarang sekali aktif di sosmed setelah mereka putus. Beberapa foto Sherin dengan Dhika juga sudah di-archived-nya setelah ia merasa yakin berpisah dengan Dhika.
"Kenapa bang??" Icha nanya, sedari tadi Icha melihat di depannya persis. Rezza gak fokus sama meeting dan malah membuka handphone-nya dengan mata merah berair. Icha khawatir.
"Ehmm.. Nggak itu tadi Sherin bikin akun, trus upload foto-foto lama kita."
"Hah? Mau liat donggg.." Icha heboh.
"Ini-ini.." Rezza kasih handphone-nya.
"Dalam rangka apa bang?" Anya nanya.
"Gue belom cerita ya? Kemarin gue abis meeting sama Kawula Network, terus mereka mau gue dan Sherin jadi tamu salah satu episode Kawula Podcast.." Rezza menjawab tenang.
"WHATT?? Yang sama Duo Bahlul? Gila lu bener-bener bentar lagi jadi artis ya bang?" Icha lebay.
"Ahaha nggak lah Cha, gue cuma ikutin maunya Sherin. Makanya Sherin bikin akun itu biar kalo ada nanti materi promo gitu-gitu gausah pake akun pribadi.."
"Wihhh, fixed ini mah lo bakal shift career nih ke influencer atau ertong." Anya nyindir.
"Nggak lah Nya, passion gue gak di sana.." Rezza ngeles.
"Ya memang, tapi ntar juga kalo udah ngerasain duitnya bisa jadi berubah passion bang.." Sigit ikut-ikutan nyindir. Semua tertawa. Janice meski terasa tak nyaman tapi ikut tertawa dan ingin merasakan bahagianya Rezza bersama Sherin.
"Gue follow ya bang.. Biar gue bisa bantu-bantu like.." Arina komen.
"Eh aku juga follow ya bang.." Janice ikut bersuara.
"Eh gausah repot-repot.. Bukan gue yang mau kok itu!" Rezza sok merendah.
"Udah gapapa sih, itung-itung kita support bangg.." Anya maksa.
"Iya-iya.. Makasih ya guys. Kalo mau muntah di-unfollow aja, di-block juga gapapa.." Semua ketawa.
Sherin yang sedang sendiri di ruangannya Rezza masih sibuk memilah foto-foto mana lagi yang mau ia upload.
"AARGHHH banyak bangett.. Bingung mau upload yang mana.. Aku ke ruang meeting aja kali ya.." Sherin bangkit dari duduknya.
Di ruang meeting, mereka lagi break ganti materi klien. Sherin ketuk pintu.
"Guys.. Masih meeting ya?"
"Lagi break bentar, kenapa Sher?" Anya jawab.
"Hmm Mas Rezza mana?"
"Lagi ke toilet kak.." Janice bantu jawab.
"Ohh gitu.. Aku lagi bingung nih mau upload foto yang mana lagi.." Sherin masuk lalu duduk di kursinya Rezza.
"Ehhh.. Mau dibantuin gak kak?" Janice ngide.
"Hah? Bantuin? Kan kamu juga gak paham timeline foto-fotonya gimana.."
"Hehe iya sih, pasti banyak banget ya?"
"Iya banyak banget.. Pusing liatnya, sampe 30 giga tau.."
"Hah buset mbak, banyak banget?" Icha kaget dengernya.
"Iya kann.." Sherin jawab.
"Di-folder-in satu-satu aja Sher.. Dipisah by lokasi dulu nih biar gak ketumpuk semua.. Trus abis itu coba diinget-inget, syukur-syukur bisa diurutin secara timeline.." Anya berpendapat bagus.
"Ah iya juga ya.. Makasih banget Nya.. Aku coba deh.." Sherin tersenyum ke Anya.
"Iya.. Sama-sama Sher.." Anya jawab.
"Lho, kok kamu di sini?" Rezza masuk.
"Gak boleh aku di sini? Kan nanti aku ngantor di sini juga. Kamu gak punya hak ngusir aku!"
"Apasihh.. Aku nanya doang lho.. Kenapa kamu sensi banget?"
"Aku pusing mas mau upload yang mana lagi.." Sherin manja.
"Hadeh.. Kan.. Yaudah nanti aku bantu, gausah pusing-pusing ngapain sih foto aja dipusingin."
"Ya kan kamu yang upload foto ini di G-Drive dari bertahun-tahun lalu. Bisa-bisanya bilang 'foto doang dipusingin'."
Semuanya pada tersenyum puas liat bosnya berantem gemes sama calon bosnya juga itu.
11.00 | Rezza dan Sherin sedang sibuk di ruangannya Rezza. Sesekali berdebat, sesekali tertawa sambil duduk sebelahan di sofa. Sementara itu di waktu yang sama.
Anya duduk sendiri di ruang meeting, ia masih menetap usai meeting yang sudah bubar 15 menit lalu. Ia membuka handphone-nya, membuka akun @SherinRezza2818 di Instagram. Ia tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. Di sisi lain kantor, Janice duduk di meja kubikalnya sendirian juga membuka akun yang sama. Sesekali menggeser-geser foto dan mencubit untuk zoom ke detail fotonya. Ia juga tersenyum sambil meneteskan air mata. Tak diduga, Icha sedang berdiri sendirian di depan cermin westafel toilet juga sedang membuka akun yang sama. Icha bahkan berlinangan air mata melihat foto-foto kemesraan dan kebahagiaan Rezza dengan Sherin. Mereka bertiga patah hati, lagi, bersamaan.
Malam harinya, Rezza sedang duduk di sofa.. Sherin sedang beberes dapur kecilnya.
"Mas.. Kamu jadi jual mobil yang Forester?" Sherin tanya.
"Iya, ini aku lagi ngetik deskripsi mobilnya. Tadi siang kan aku udah foto-fotoin abis dicuci."
"Kamu gak sedih? Mobil itu kan banyak memorinya.." Sherin tanya lagi.
"Hmm.. Sedih sih, tapi ya namanya juga kehidupan kan. Harus move on. Kecuali aku yang gak bisa move on dari kamu.." Rezza gombal. Sherin kemakan gombalannya.
"Kamu segitu cintanya sama aku, kenapa sih? Apa yang kamu liat dari aku?" Sherin mendekat.
"Aku gamau kasih tau, nanti kamu bilang-bilang ke cowok lain. Trus mereka jadi jatuh cinta juga sama kamu.." Rezza iseng jawab.
"Ihh apaan sih.. Seriously mas.. Aku mau tau kamu tuh kenapa? Kenapa kamu gak bisa move on dari aku? Apa yang kamu liat dari aku? Aku tuh gak sempurna, aku gak merasa cewek yang feminim, gak jago merawat diri, aku juga sering ngerasa sulit beradaptasi dengan orang lain.."
"Kalo aku nyari yang sempurna, sampe kapanpun aku gak akan puas. Aku selama ini puas sama kamu. Aku puas dengan cara kamu menangani aku. Aku puas kamu selalu ngerti kondisi aku. Dan yang terpenting, kamu selalu belajar dari kesalahan dan mencoba dengerin nasehat aku."
Sherin tersentuh.. Dia benar-benar tersentuh mendalam. Rezza tak pernah terang-terangan mencoba mencuri hati Sherin, tapi Sherin sukarela memberi hatinya sepenuhnya kepada Rezza.
Weekend tiba.. Sherin dan Rezza tidak ada agenda apapun, mereka hanya ingin istirahat, beres-beres kontrakan, lalu siangnya ke rumah Rezza di Lebak Bulus. Mereka pergi menggunakan mobil baru Rezza yang kemarin sudah selesai dipasangkan sticker dan kaca film.
"Gimana mobil barunya? Kamu suka nggak?" Sherin nanya ke Rezza.
"Suka.. Tapi aku lebih suka kamu.." Rezza gombal terus.
"Hmm, seriuss.. Aku lagi kepikiran mau ganti mobil listrik juga sayang.." Sherin ngambek manja.
"Iya bagus kok, untuk harga segini dibanding Forester kemarin gak kebanting kan. Padahal harganya lebih murah jauh dari Forester." Rezza menjelaskan.
"Iya juga sih ya, aku gak merasa downgrade mas dari Forester ke J5 sih ini."
"Iya kann. Kamu beli ini juga aja biar samaan. Hehe" Rezza ngoceh asbun.
"Gamau, aku mau yang beda. Kita liat-liat yuk ke mana gitu.." Sherin ajak Rezza.
"Liat-liat apa?" Rezza bingung.
"Ya liat ke dealer kek atau ke mana gitu sekalian test drive." Sherin jelaskan.
"Lah kan sekarang lagi ada itu tuh pameran mobil apa namanya IIMS yang di Kemayoran. Kamu mau ke sana?" Rezza nanya.
"Mauuuk.. Mau liat-liat.." Sherin merengek.
"Yaudah besok pagi aja ya, udah siang nanti kita ke sana dari Lebak Bulus udah kesorean, jadi rame banget. Kalo besok kan bisa dateng dari pagi, sore pulang.."
"Iya boleh mas.. Makasi sayangkuu.." Sherin menggenggam gemes lengan Rezza.
"Sama-sama ayang Sherinkuu.." Rezza sok imut.
Mereka selesai beres-beres rumah Lebak Bulus. Bingung mau ke mana dan ngapain. Mama papanya Sherin juga sedang keluar kota padahal tadinya mau ketemuan sama Tante Fatma, Ibunya Clarissa. Tapi Om Arwin ada urusan mendadak bertemu dengan rekan bisnisnya yang tinggal lama di luar negeri, kebetulan tiba-tiba mengabari ada di Bali. Jadilah Om Arwin dan Tante Rani mendadak ke Bali.
"Mas.. Kita ke mana lagi habis ini?"
"Nonton yuk! Kita sejak balikan, belom pernah movie date kan.."
"Ih iya juga ya dipikir-pikir.. Ayok mas. Mau ke mana? Gancit? PIM? Atau Blok M?"
"Tapi aku lagi gamau di mall sihh sayang.. Hollywood mau gak? Aku udah lama banget rasanya gak ke sana. Dulu aku waktu kecil sering diajak papa mama nonton di Hollywood Gatsu.."
"Eh iya mas, itu masih ada ya? Kaya aku ngerasanya udah gak aktif gitu."
"Masih kok, mau ke sana? Kan nanti kita pulangnya tinggal lurus sampe deh kontrakan Tebet."
"Iya mau mas yukk. Ke manapun asal sama kamu aku mauu.." Sherin makin manja.
Rezza sebenarnya juga memang sedang jenuh dengan keramaian. Seminggu terakhir ini baterai sosialnya dia lumayan tersedot habis, makanya ia menghindari ke tempat ramai termasuk memilih nonton di bioskop Hollywood yang dikenal sepi, dan juga menghindari ke pameran mobil malam minggu. Karena pasti crowded banget.