09.45 | Kamis pagi, Rezza menemani Sherin ke pengadilan agama Jakarta Selatan untuk bacaan putusan sidang perceraian Sherin dan Dhika.
Di sana mereka bertemu kuasa hukum Sherin, Pak Andi Sinaga, dan kedua orang tua Sherin, Om Arwin dan Tante Rani.
Dhika memutuskan tidak hadir, ia benar-benar menghindari Sherin sejak kejadian di Citos bulan lalu.
Diwakili oleh kuasa hukumnya, Dhika menerima keputusan bahwa Sherin dan Dhika resmi bercerai di mata hukum dan agama. Sherin dan Rezza menyambut baik keputusan tersebut.
Mereka berlima keluar dari ruang persidangan.
"Bu Rani, Pak Arwin, terima kasih. Saya sudah selesai dalam membantu kasus ini, semoga ini keputusan yang terbaik untuk kedua belah pihak." ujar Pak Andi di selasar gedung pengadilan.
"Sama-sama pak, terima kasih ya atas bantuannya. Sudah sampai titik ini, kami puas dengan hasil putusan." Om Arwin menjawab.
"Baik, kalau begitu saya izin pamit ya. Nanti berkas-berkas berkaitan dengan kasus ini, akan saya infokan atau dihubungi oleh staf saya jika ada perlu dengan Mbak Sherin ke depannya."
"Okay pak, nanti hubungi saya atau orang tua saya juga boleh." Sherin menjawab.
"Yaudah. Saya permisi ya semuanya." Pak Andi menyalami semuanya.
"Terima kasih pak." Rezza menjabat tangan Pak Andi sambil tersenyum.
"Hati-hati di jalan pak." Om Arwin melepas kepergian Pak Andi.
"Sayang.. Kamu baik-baik aja kan?" Tante Rani memastikan ke Sherin. Sherin tersenyum menjawab. "Alhamdulillah.. Aku lega mah.. Makasih ya udah support aku terus.." Sherin terharu lalu memeluk mamanya. Om Arwin menepuk bahu Rezza, Rezza balas senyuman ke Om Arwin.
"Makasih ya Rezza. Udah temani Sherin sampai pada titik ini. Kamu benar-benar memegang janji dan omongan kamu.." Om Arwin menjabat tangan Rezza.
"Sama-sama om, saya juga berterima kasih sampai detik ini om dan tante sudah percaya sama saya untuk menemani Sherin.." Rezza lalu menyalimi, mencium tangan Om Arwin. Om Arwin tampak terharu, matanya berkaca-kaca. Ia masih tak menyangka di situasi ini akan terjadi.
"Rezza, tante makasih banyak ya sama kamu.. Kamu sudah baik sekali dengan Sherin dan dengan om sama tante juga.." Tante Rani menangis lalu memegang tangan Rezza.
Rezza menggelengkan kepalanya sambil tersenyum haru.
"Gapapa tante.. Sudah seharusnya aku menepati janji aku ke om, tante, dan Sherin.." Rezza lalu mencium tangan Tante Rani. Tante Rani mengelus sangat emosional pundak dan bahu Rezza. Sherin merangkul mamanya itu dengan lembut.
"Yaudah kalau gitu, kalian jaga diri ya.. Papa mama lanjut lagi. Kalau ada apa-apa kabarin ya."
"Iya pah.. Makasih ya pah.." Sherin cipika cipiki dengan papanya.
"Mama dan papa tinggal ya.. Hati-hati kalian.." Tante Rani cipika cipiki ke Sherin. Sherin menghapus air mata mamanya di pipi.
"Iya mah.. Mamah dan papah juga hati-hati ya.." Sherin lalu mencium tangan mama dan papanya seakan mereka akan lama tak berjumpa.
"Hati-hati di jalan om dan tante. Saya janji akan jaga Sherin sepenuh jiwa raga.." Rezza memastikan.
"Iya Rezza.. Kamu juga ya hati-hati nyetir mobilnya.." Om Arwin mengingatkan. Rezza mengangguk dan tersenyum.
Sherin dan Rezza berangkulan memandang mobil itu meninggalkan pengadilan agama Jakarta Selatan. Semoga ini terakhir kalinya mereka ke sana.
"Terima kasih ya mas, sudah nemenin aku ke sini hari ini."
"Iya sama-sama sayang.. Aku udah janji sama kamu, setelah ini selesai kita bahas rencana pernikahan kita." Rezza menggoda Sherin.
"Yaudah yuk kita let's go.." Sherin menggandeng tangan Rezza ke arah mobil.
"Let's go ke mana sayang?"
"Kawin sama kamu.. Hihi" Sherin asbun gemas.. Rezza hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala sambil mengikuti langkah Sherin yang menggandengnya kuat-kuat.
"Mass.." Sherin memanggil pelan ke Rezza di mobil.
"Iya sayang?"
"Kita mau ke mana?"
"Pulang ke kontrakan, kan aku cuti hari ini demi nemenin kamu. Kamu juga WFH kann.."
"Aku juga izin kok tadi pagi, bos aku Bu Donda ngerti dan kasih aku izin."
"Oh gitu yaudah."
"Kita staycation yukk.." Sherin impulsif.
"Staycation? Ke mana?"
"Hmm ke hotel mas, aku mau hari ini bener-bener menikmati waktu sama kamu. Setelah ini semua selesai. Perceraian aku sudah selesai.."
Rezza menghentikan mobilnya di sebuah badan jalan yang tidak menghalangi kendaraan lain.
"Kamu mau check in bareng aku? Berdua aja?"
"Iya, masa ngajak Bang Hendro? Hehe" Sherin coba melucu, Rezza hanya tersenyum tipis.
"Sayang.."
"Iya mas, kenapa? Kamu gak mau?" Sherin agak murung.
"Aku mau.. Tapi.."
"Tapi apa mas?"
"Tapi aku gak mau having sex.." Rezza berkata pelan-pelan berusaha tidak menyinggung Sherin.
"Ke.. Kenapa mas?"
"Aku merasa bersalah.. Terakhir aku melakukan itu sama kamu. Aku sangat merasa bersalah karena kamu dan aku belum menjadi pasangan suami istri resmi. Aku berjanji.
Aku janji sama diri aku sendiri, aku gak mau melakukan itu lagi sebelum aku resmi menjadi suami kamu."
Sherin menghela nafas, lalu senyum ke Rezza.
"Sayang. Okay.. Aku hargain prinsip kamu.
Jadi kamu gamau staycation sama aku?"
"Mau mau.. Aku mau.. Tapi no having sex.." Rezza memohon dengan wajah iba.
"Iyah. Aku ngerti kok mas.."
"Makasih ya.."
Sherin menyembunyikan rasa kecewanya. Tapi ia tak mau Rezza sedih.
"Kalo cuddle boleh?" Sherin menggoda.
"Iya boleh.. Banget!"