07.35 | Sabtu pagi di kontrakan mereka.
Rezza dan Sherin sedang sibuk mix and match outfit mereka untuk hadir di acara silaturahmi keluarga dari Ibundanya Rezza yang memiliki asal dari Minangkabau, Sumatra Barat. Setelah mencoba beberapa outfit, akhirnya mereka menemukan pakaian masing-masing yang cocok untuk hadir di sana. Rezza menggunakan kemeja lengan panjang berwarna coklat pastel dan celana jeans hitam, Sherin mengenakan kemeja lengan panjang putih agak soft-creme dengan celana berwarna coklat tua. Mereka nampak serasi sekali dengan aksesoris pendukung berwarna serba hitam mulai dari ikat pinggang hitam, sepatu hitam, jam tangan, hingga pouch Sherin yang berwarna leather black.
"Menurut kamu ini udah aman mas?" Sherin bertanya.
"Udah kok sayang.. Tapi nanti, kancing kemeja kamu bisa dikaitin gak yang atas?"
"Ah aku jadi kaya kecekek sayangg.." Sherin merengek manja.
"Yaudah-yaudah kalo gamau gapapa.. Hehe" Rezza sangat mengerti.
"Yaudah kita mau jalan jam berapa?" Sherin tanya sambil menyuapkan Rezza roti isi selai kacang coklat favorit mereka untuk sarapan pagi itu.
"Acaranya kan jam setengah 10, kita berangkat yaa jam 8 lewat lah ya.. Di Bintaro kan soalnya, takut kita kena macet dari sini."
"Okay mas.. Kita habisin sarapan dulu ya.." Sherin memberikan cangkir teh hangat untuk Rezza.
Hari itu Sherin benar-benar melayani Rezza mulai dari buatkan roti isi, buatkan teh hangat, hingga menyiapkan beberapa baju untuk mix and match mereka.
09.18 | Rezza dan Sherin bergandengan ke dalam sebuah hotel bintang 4 di Bintaro, Tangerang Selatan. Mereka menuju sebuah ballroom tempat acara tersebut akan berlangsung.
Sesampainya di depan pintu venue, Rezza mengisi form buku tamu yang sudah tertulis nama-nama tamu yang sudah konfirmasi hadir. Ada nama Rezza dan Sherin di situ.
"Kita harus tanda tangan sayang.." Rezza menunjukkan form itu.
"Oh iya mas, sini aku juga tanda tangan deh." Sherin tanda tangan di kolom namanya.
"Ini name card-nya ya Kakak dan Abang.." dua orang penerima tamu memberikan name card mereka.
"Wahh.. Makasih yaa.." Sherin dan Rezza say thanks.
Mereka berdua bergandengan masuk ke dalam venue, acara belum dimulai tapi para tamu bisa menikmati coffee break dan beberapa jenis kue yang disajikan. Beberapa round table disusun rapih, Rezza mencari wajah-wajah yang dikenalnya. Di salah satu round table, Rezza menemukan wajah Kak Vina, Bang Syahrul, dan dua anak mereka.
"Itu Kak Vina di sana sayang.." Rezza tunjuk ke arah round table mereka.
"Oh oke, kita ke sana mas?" Sherin bertanya. Rezza mengangguk.
"Halo kak.. Bang... Udah sampe dari jam berapa?"
"Eh Rezza sama Sherin udah sampe.. Dari jam 9 an tadi udah sampe.." Rezza mencium tangan Kak Vina. Sherin cipika cipiki dengan Kak Vina.
"Belum mulai kan acaranya kak?" Sherin tanya.
"Belum kok.. Ini masih banyak yang belum sampe keknya deh.."
"Oh gitu, baiklahh.. Hai Alsya, Arshad.. Hari ini gemes banget sih kalian bajunya kaya kembar??" Rezza menyapa dua ponakan gemasnya itu.
"Iya omm.. Ini baju kesukaan akuu.." Alsya jawab dengan sigap.
"Oh gituu.. Kalo Arshad suka juga bajunya?" Rezza mendekati Arshad. Arshad cuma geleng-geleng sepertinya bosan.
"Arshad mau tante gendong gak?" Sherin menawarkan diri.. Arshad manggut tapi wajahnya manyun.
"Uluh uluhh manja banget sama tantenya, sama omnya galak bangett.." Rezza menggoda Arshad.
"Yaudah sini duduk tante pangku yaa." Sherin mengangkat Arshad lalu memangkunya. Rezza, Kak Vina dan Bang Syahrul ketawa tipis.
"Halo Vina, Rezza. Syahrul juga.." seorang bapak menghampiri round table itu.
"Hai Om Syafri.. Apa kabar??" Rezza langsung teringat sosok itu.
"Hey.. Ke mana aja kamu? Udah lama om gak liat.." Rezza langsung salim, peluk hangat, dan cipika cipiki ke Om Syafri.
"Maaf ya om.. Kemarin-kemarin aku lagi gak bisa ikut-ikut. Ini kebetulan hari ini udah ngosongin jadwal.." Rezza beralasan.
Kak Vina dan Bang Syahrul menyalami Om Syafri.. "Baru sampe om??" Kak Vina tanya.
"Iya, macet banget padahal om cuma dari Tangerang ke sini aja padat banget.."
"Haha iya om lagi banyak acara tadi pagi, event marathon lah gitu-gitu.." ujar Bang Syahrul.
"Om datang sama siapa?" Rezza tanya.
"Om datang sendiri tadi naik taksi online, mobil om kan udah dijual. Om udah pensiun gak sanggup lah pelihara mobil, biayanya berat.." Om Syafri menjelaskan.
"EH IYA OM. Ini kenalin.. Sherin." Rezza menunjuk Sherin yang sedang duduk lalu berdiri sambil menggendong Arshad.
"Sayang, kenalin ini Om Syafri. Sepupunya mama aku.." Rezza memperkenalkan.
"Halo Om Syafri.. Aku Sherin.." Sherin menyodorkan tangan hendak salim. Om Syafri menyambut.
"Ini calon istri Rezza?"
"Eh iya om, doain aja.. Hehe" Rezza jawab malu-malu.
"Yaudah undang om ya nanti.. Jangan lupa Rezza, Sherin."
"Pasti om, nanti kami undang yah.." Rezza jawab.
"Halo halo.." sesosok wanita berhijab datang sambil menggendong bayi berusia 10 bulan.
"Hai Zahra?? Astaga kamu di Jakarta?" Rezza kaget bertemu dengan Zahra anaknya Om Syafri.
"Bang Rezza.. Astaga lama banget gak ketemu.." Zahra cium tangan Rezza.
"Sher.. Ini kenalin anaknya Om Syafri yang aku pernah cerita dulu kerja di Dubai.."
"Ohh iya. Halo Zahra.. Aku Sherin."
"Hai kak. Pacarnya Bang Rezza ya?" Zahra langsung paham.
"Kok tau?"
"Ih aku kan follow-follow IG Bang Rezza udah lama, familiar lahh. Kemarin kalian abis dinner kan, di Puncak ya?" Rezza dan Sherin langsung malu.
"Eh iyaa Ra.. Sumpah ya, kok di Jakarta gak bilang-bilang?"
"Aku itu sekarang tinggal di Medan. Suamiku kan orang Medan. Dulu kita kerja bareng di Dubai, trus 5 tahun lebih di sana, kangen lah sama Indo. Balik diajak nikah sama suamiku.. Nah suamiku sekarang kerja di perusahaan perkebunan di Medan.." Zahra menjelaskan.
"Ah iya.. Kalian dulu nikah di Medan kan? Maaf ya aku gabisa dateng waktu itu Ra.."
"Ohh kapan nikahnya?" Sherin tanya.
"Sekitar 2 tahun lalu kok Kak.." Zahra menjelaskan, Sherin langsung paham waktu itu dia masih berumah tangga dengan Dhika. Dan Rezza juga tidak berkomunikasi lagi.
"Hmm suaminya mana? Ikut kan?" Rezza mengalihkan pembicaraan.
"Ada tadi lagi ke toilet dulu. Nanti juga ke sini."
"Yaudah duduk sini. Ini kita asal pilih meja aja kok.." Kak Vina persilahkan duduk.
"Yuk-yuk.."
Sherin duduk di sebelah Zahra sambil memangku Arshad. Arshad sibuk bermain beberapa Hotwheels yang dibawanya. Rezza mengobrol panjang lebar diapit oleh Kak Vina dan Om Syafri. Tapi matanya tertambat pada kecantikan Sherin hari itu, sedang memangku dan bersenda gurau dengan keponakannya Arshad, sesekali bicara dengan Zahra, sepupu jauh Rezza.. Rezza tak bisa menahan senyumnya melihat pemandangan itu semua.
"Assalamualaikum.." suaminya Zahra datang.
"Waalaikumsalam.." semua menjawab.
"Bang, ini kenalin Kak Vina, sama suaminya Bang Syahrul.. Ini Bang Rezza sama calon istrinya, Kak Sherin. Mereka ini sepupu aku. Papah aku sama mamanya mereka sepupuan.." Zahra cerita.
"Halo.. Salam kenal, saya Rahman.." ia menyalami Rezza dan Kak Vina. Lalu menyalami Sherin dan Bang Syahrul.
"Eh, kalian stay di mana selama di sini? Kok gak bareng Om Syafri tadi?" Rezza tanya.
"Aku sama Bang Rahman stay di hotel ini semalam. Kami sampe dari Medan kemarin sore, langsung ke sini. Aku tawarin papa mau stay di sini juga gak? Biar aku bukain kamar, gamau papahnya.." Zahra mengeluh.
"Yahh Za.. Om kan gamau membebani mereka. Om udah tawarin Zahra sama Rahman tinggal di rumah Tangerang aja gak mau.." Om Syafri juga mengeluhkan.
"Haha yaudah.. Next-nya kalo mau ke sini lagi kabarin aku Ra.. Kan rumah aku di Lebak Bulus. Bisa tuh nginep kalian gak perlu keluar biaya bayar hotel.." Rezza menawarkan.
"Hehe iya bang.. Nanti kalo kita ke sini lagi numpang yaa.." Zahra menyetujui.
"Okee Ra.. Siapp."
Semua senyum-senyum, Sherin juga senang melihat Rezza bisa akrab dengan keluarga besar mamanya. Yang dia tau, Rezza gak terlalu mudah bergaul dengan keluarga mamanya ini.
Acara berlangsung dengan beberapa materi sejarah tentang keluarga itu. Sherin juga jadi semakin banyak tahu silsilah keluarga dari Rezza. Rezza duduk di sebelah Sherin sejak acara dimulai tadi. Alsya yang sangat manja sama Rezza pun minta dipangku oleh Rezza sepanjang acara, Arshad juga sangat betah bermain sama Sherin. Kak Vina sesekali memfoto candid kebersamaan Rezza, Sherin, Alsya, dan Arshad pakai handphone-nya. Beberapa ia kirimkan ke WhatsApp grup keluarga, beberapa ia kirimkan personal chat ke Rezza.
"Udah cocok itu kamu Rezza.. Cepet-cepet yaa nikahin Sherin." tiba-tiba Om Syafri menyeletuk.
"Hehe iya om.. Ini juga maunya cepet-cepet kok. Doain aja lancar." Rezza menjawab yakin.
"Amiiinn.. Pokoknya jangan sampe lupa undang om yah."
"Siap om!" Rezza gestur siap. Sesekali Zahra juga berbincang dengan Rezza dan Kak Vina.
11.00 | Sudah selesai semua acara utama. Rezza dan Sherin sesekali mengitari ruangan itu, bersalaman lalu berkenalan dengan beberapa yang baru pertama kali mereka temui.
Bahkan beberapa ada yang sadar kalau Rezza dan Sherin baru-baru ini viral videonya.
"Maaf. Bang Rezza sama Kak Sherin yang kemarin viral kan ya? Yang nyanyi lagu Raisa 'Bahasa Kalbu.' Bener kan?" seorang wanita berusia 25 tahunan yang adalah juga sepupu jauh Rezza bernama Anisa mencoba menanyakan hal itu.
"Eh iya Nisa, bener.. Kemarin aku sama Sherin, calon istri aku. Viral videonya. Ya gitu lah hehe"
"Wihh gak nyangka ternyata kita sodaraan ya.. Jadi bisa dongg nyanyi di situ.." Anisa menunjuk panggung di depan yang memang tersedia beberapa sound system dan alat musik seperti gitar, organ keyboard, drum, dan bass.
"Aduh jangann.. Gaenak aku kan gak sering datang, tiba-tiba nampil. Ntar dikira sok ngartis, sok pamer lagi. Haha" Rezza nolak halus.
"Idih gapapa lahh bangg. Justru kan jarang-jarang ketemu jadi biar semua kenal." Anisa maksa.
"Gausah beneran, gak enak aku Nisa. Nanti jadi pada gak nafsu makan hehe"
"Udah bang. Aku bilang ke panitia yakk.." Anisa beneran maksa.
"Eh Nis.. Nisa.. Ishh jangann." Rezza coba menyetop Anisa tapi sulit.
Anisa pun berbisik dengan beberapa panitia di sudut ruangan, mereka nampak setuju agar Rezza dan Sherin perform di atas panggung. Rezza coba kabur ke meja lalu mengajak Sherin keluar ruangan sebentar. Tapi panitia keburu memanggil.
"Oke ada request nih dari Kak Anisa anaknya Tante Ratna, katanya Kak Nisa mau liat Bang Rezza dan Kak Sherin perform nyanyi. Kebetulan mereka suaranya bagus dan belum lama ini viral lho!" MC menyebutkan kata-kata itu.
"Yang mana sihh??" beberapa hadirin bertanya-tanya.
Rezza dan Sherin yang hendak kabur keburu ditahan Om Syafri.
"Udah Rezza gapapa, sekali-kali yukk.." Om Syafri kompor.
"Aduh aku malu om. Gaenak juga Sherin kan baru sekali ikut ini.."
"Udah gapapa Za.. Waktu itu kamu mau perform di acara keluarganya Sherin. Masa di keluarga kita gak mau?" Kak Vina pun gamau kalah panas-panasin suasana.
"Gimana sayang?" Rezza bertanya ke Sherin. Sherin nampak senyum lesu, tapi dia jawab.
"Yaudah gapapa, satu lagu aja mas.."
"Okay yuk.." Rezza tampak ragu-ragu memegang tangan Sherin, akhirnya dia merangkul.
"Yeaayy.. Halo Bang Rezza dan Kak Sherin.. Oh ini kemarin viral ini iya aku juga liat.." si MC nyerocos terus. Lalu Rezza dan Sherin dikasih mic untuk bicara.
"Assalamualaikum.." Rezza dan Sherin berdampingan berdiri di atas panggung.
"Waalaikumsalam.." semua menjawab kompak..
"Hmm.. Sebenernya aku gaenak harus tampil di sini. Aku mau minta maaf sekali sebelumnya aku jarang ikut acara ini. Dan karena kebetulan aku diminta maju.. Sekalian aku mau ngenalin ini calon istri aku.. Namanya Sherin."
"Halo semuanya.." Sherin yang suaranya merdu itu, ucapkan halo saja seruangan langsung terasa berbeda.
"Ciyeee.." semua orang mengejek lucu mereka.
"Undang-undang yaa nanti nikahannya.." seorang tante bicara nyablak.
"Siap tante.. Nanti kami kirim undangan hehe" Rezza sempat menjawab. Semua terkekeh dengan gelak tawa.
"Okeh, kita mau nyanyi apa?" Rezza tanya ke Sherin. Sherin pun no clue mau nyanyi apa.
Cepat-cepat Rezza mengambil gitar, lalu beberapa personel band di belakang Rezza samperin lalu tanya.
"Bisa bantu iringin bro?" semua ngangguk.
"Pilihanku, Maliq and D'Essentials ya.."
"Oke, bisa-bisa." mereka jawab kompak.
Sherin mendengar pun langsung mengangguk.
"Okeh semuanya, kami mau membawakan lagu yang seru-seru aja, gausah mellow-mellow. Lagu favorit kami berdua juga dari Maliq & D'Essentials berjudul Pilihanku.."
Masuk intro dengan ketukan bass.
Berjuta rasa-rasa
Yang tak mampu diungkapkan kata-kata
Dengan beribu cara-cara
Kau s'lalu membuatku bahagia
Kau adalah alasan
Dan jawaban atas semua pertanyaan
Yang benar-benar kuinginkan
Hanyalah kau untuk s'lalu di sini, ada untukku
Maukah kau 'tuk menjadi pilihanku?
Menjadi yang terakhir dalam hidupku
Maukah kau 'tuk menjadi yang pertama?
Yang s'lalu ada di saat pagi ku membuka mata
Semua orang menikmati keseruan duet Sherin dan Rezza yang sangat memanjakan telinga dan mata. Mereka perform betul-betul layaknya musisi profesional. Ternyata tadi sebelum naik, Rezza menitipkan handphone-nya ke Anisa untuk record full satu lagu penampilan mereka dari depan panggung.
"Yay.. Terima kasih.." Rezza dan Sherin tersenyum sumringah usai membawakan lagu pertama itu sambil lihat-lihatan.
Anisa yang duduk di depan mereka, langsung mengompori untuk lagu lain lagi.
"Lagi.. Lagi.. Lagi.." semua pun ikut meminta lagi.
Rezza dan Sherin sempat gestur menolak, tapi MC makin panas-panasin.
"Ayo dong, satu lagu lagii.. Biar nafsu makan kita makin tinggi nihh. Makanan masih banyak, ya kan?"
Rezza dan Sherin liat-liatan, lalu mereka bisik-bisik.
Sherin mengangguk. Rezza ke belakang sebentar.
"Ten2Five I will fly bisa gak bro?"
"Bisa-bisa.."
"Sipp makasih bro.."
Sherin memulai.
"Okay.. Lagu selanjutnya Bahasa Inggris gapapa ya?? Soalnya aku gak bisa Bahasa Minang.." ujar Sherin dengan gemasnya. Semua tertawa.
"Lagu dari Ten2Five - I will fly.."
Rezza masuk intro dengan gitar. Sherin menyanyi, Rezza suara dua dan backing vocal.