Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #25

Chapter 25

09.35 | Sherin dan Rezza otw ke Cipete.

"Mas.. Kamu gapapa anterin aku tapi gak bisa join?"

"Gapapa. Aku gak ke mana-mana juga kan.."

"Tapi nanti kamu bete kalo nungguin aku.." Sherin merasa tak enak.

"Nggak.. Nanti kan kalo aku bosen bisa pergi dulu muter-muter tunggu kabar kamu aja."

"Beneran? Kamu kenapa sih gamau banget jauh dari aku?"

"Iya kan aku takut kamu digodain cowok lain.." Rezza bercanda, Sherin tertawa kecil.

"Mas.. Biarpun ada cowok yang godain aku, gak akan aku ladenin.."

"Kalo yang godain kamu Nicolas Saputra, yakin gak kegoda?" Rezza iseng.

"Yah kalo itu beda cerita dongg. Hehe" Sherin ngeselin, dia memang fans berat Nicolas Saputra.

"Oh gitu, yaudah aku langsung pulang aja nanti."

"Bercanda sayaaangg.." Sherin langsung menarik lengan Rezza dan menempelkan pipi dan wajahnya ke lengan kiri Rezza.

"Nanti aku masuk, kenalan sama Tante Fatma, salim sama mama kamu, say hello ke Clarissa, yaudah abis itu aku misah. Atau aku cabut kalo bete di sana.."

"Ihh. Ngapain pengen banget say hello ke Clarissa? Kamu centil banget sih?" Sherin ngambek, lengan Rezza langsung dilepasnya.

"Siapa yang centil sih? Kan aku berusaha sopan, masa aku nganter kamu sampe depan doang?"

"Ya ngapain ketemu Clarissa? Mas kamu tuh tatapannya beda lho kalo liat dia?" Sherin serius.

"Sayang,.. Kamu ngomong apa sih?? Clarissa mau dijodohin ke Bang Hendro lho.."

"Ya terus? Bukan berarti gak boleh kamu diem-diem naksir dia kan?"

"Kamu kenapa sih cemburuan banget?" Rezza coba pegang tangan Sherin, Sherin menolak.

"Tau ah, males. Kamu kecentilan parah sama Clarissa. Pantesan semangat banget mau nganter aku. Pasti biar bisa ketemu Clarissa kan!" Sherin beneran marah.

"Ya ampun sayang.. Kamu ngomong apa sih?? Yaudah kalo kamu segitu cemburunya, aku gak akan say hello ke dia. Aku drop kamu di sana, abis itu aku langsung pergi ke tempat lain sekitar situ."

Sherin langsung merasa tak enak. Diam sejenak masih gengsi, tapi setelah itu melihat wajah Rezza dengan tatapan khawatir.


09.52 | Mobil mereka tiba di Ginger and Gourmet Cipete. Sepanjang jalan tadi mereka masih diem-dieman. Rezza hendak turun untuk membukakan pintu Sherin. Sherin langsung menarik tubuh Rezza, mereka bertatapan.

"Kenapa? Mau marahin aku lagi?" Rezza menatap sendu.

"Yaudah kamu ikut turun ya. Maaf aku tadi childish banget. Aku minta maaf.."

"Gapapa aku tunggu di tempat lain aja." Rezza menolak.

"Mas, please.. Turun dulu. Aku mau kamu turun." Pegangan tangan Sherin di lengan Rezza makin kuat. Rezza melemah.

"Yaudah, tapi janji ya jangan jeles-jeles kaya tadi? Aku gak suka dengernya."

"Iya sayang.. Maafin aku kan?" Sherin memohon. Ekspresinya berhasil buat Rezza iba.

"Yaudah, aku minta maaf juga ya kalo aku bikin kamu jeles." Rezza jawab. Sherin mengangguk.

"Oke yuk turun.." Rezza mematikan mobilnya, lalu buka pintu Sherin.

"Bukain seatbelt-nya.." Sherin meminta manja. Rezza menuruti sambil senyum kecil.

Sherin tak sia-sakan kesempatan itu, ia kecup pipi Rezza cepat. Langsung diusap noda lipstick di pipi Rezza itu pakai tangannya. Rezza senyum makin lebar, ambil tissue di glove box dan membersihkan tangan Sherin yang ada noda lipstick tadi. Sherin benar-benar terpesona dengan act of service yang luar biasa dari Rezza even dia masih agak bete.

"Makasih sayang.." Sherin menatap dalam-dalam.

"Sama-sama sayang.." Rezza jawab pelan, mereka berdua turun dari mobil.

Mereka kemudian masuk ke dalam. Sherin menggandeng lengan Rezza dengan kuat.

"Mas, kamu gapapa kan nunggu aku?"

"Gapapa sayang.. Nanti aku tunggu di taman samping ya yang ada kolam ikan itu." Rezza tunjuk taman di sebelah yang terlihat dari dalam karena jendelanya besar dan nampak kolam ikan dengan beberapa meja dan kursi outdoor.

"Okay mas. Makasih sayangku.." Sherin senyum manja. Rezza mengangguk dengan senyum tipis.

Di sana sudah ada Tante Fatma dan Tante Rani.

"Assalamualaikum.." Sherin dan Rezza menyapa mereka yang duduk sebelahan di sebuah sofa.

"Waalaikumsalam.." mereka jawab kompak. Tante Rani bingung kenapa Rezza ikut?

"Hai Sherin! Ya ampun tante udah lama gak ketemu kamu." Tante Fatma berdiri lalu cipika cipiki dengan Sherin. Rezza menyalimi Tante Rani.

"Apa kabar tante? Aku juga kaget ternyata Tante Fatma ibunya Clarissa. Selama ini aku gak tau, kan dulu gak pernah ketemu Clarissa."

"Iya.. Ternyata tante sebelumnya gak pernah kenalin kamu ke Cla ya. Soalnya jarang mau ikut dia kalo diajak kumpul-kumpul sama kawan tante."

"Ohh gituu.. Iya gapapa tante. Tante apa kabarnya?

EH IYA maaf tante. Ini kenalin Mas Rezza.."

"Halo Rezza ya? Katanya kalian berteman satu angkatan dengan Hendro?" Tante Fatma sodorkan tangan untuk berjabatan dengan Rezza.

"Halo Tante Fatma.. Salam kenal. Iya kami satu angkatan dan satu jurusan dengan Bang Hendro di kampus dulu." Rezza jawab dengan yakin.

"Wah.. Dunia sempit ya. Cla temenan sama Farah adiknya Hendro di kampus. Kalian berteman satu angkatan sama Hendro di kampus. Memang kampus itu dunia yang networking banget."

"Setuju tante.." Rezza jawab.

"Oh iya, Clarissa mana? Belum datang?" Sherin tanya.

"Ada, lagi ke toilet tadi katanya.. Tunggu aja sebentar lagi." Tante Fatma jawab.

"Oh yaudah kalo gitu, aku tunggu di teras samping ya sayang.." Rezza pamit ke Sherin.

"Eh mau ke mana Rezza?" Tante Rani tanya.

"Hmm kan katanya mau ngobrol-ngobrol sesama wanita.. Aku kan bukan wanita. Hehe"

"Yaudah gapapa di sini dulu aja, kita masih ngobrol-ngobrol santai kok belum serius."

"Ah beneran tante?" Rezza meyakinkan sambil lirik Sherin. Sherin mengangguk.

"Beneran, duduk dulu sini. Tante juga mau tanya-tanya sama Rezza." Tante Fatma berkata.

"Hah? Tante mau nanya apa?" Rezza kaget.

"Hmm duduk dulu sini Rezza dan Sherin.." Tante Rani persilahkan duduk.

"Okay, makasih tante.." Rezza jawab, sambil mundurkan kursi agar Sherin bisa duduk.

"Makasih sayang.." Sherin say thanks ke Rezza.

"Gentle banget kamu Rezza.. Act of service ya love language kamu?" Tante Fatma asbun.

"Ah nggak kok tante.. Udah kebiasaan dari dulu layanin Sherin. Hehe"

"Ohh gitu.. Beruntung deh Sherin punya kamu Rezza." Tante Fatma memuji. Rezza kikuk.

"Aku yang beruntung tante, Sherin masih mau perjuangin aku." Rezza mendadak mellow.

"Yaudah-yaudah, tante mau tanya apa ke Mas Rezza?" Sherin back to topic.

"Gini. Jadi, tante mau tanya soal Hendro."

"Okay.. Hendro kenapa tante?" Rezza penasaran.

"Kenapa Hendro divorce dari mantan istrinya?" Tante Fatma to the point. Rezza menelan ludah.

"Hmm.. Jujur ya tante.. Yang aku tau, dari cerita-cerita dia karena mantan istrinya suntuk di rumah aja. Padahal masih mau kerja." Rezza jawab dengan hati-hati.

"Yakin? Itu aja?" Tante Fatma mencecar. Rezza bingung, sesekali lirik Sherin.

"Iya.. Aku yakin karena itu Hendro sendiri yang cerita. Tapi aku gak pernah dengar dari Mila, mantan istrinya Hendro tante." Rezza jawab makin hati-hati. Tante Fatma berdiam sebentar.

"Lalu. Kenapa Hendro yang gugat cerai?" Tante Fatma masih mencecar. Rezza kaget.

"Soal itu.. Aku sejujurnya baru tau tante. Karena selama ini aku gak pernah dengar cerita soal Hendro atau Mila yang gugat cerai. Aku taunya mereka udah putusan cerai aja."

"Sherin tau soal ini gak?" Tante Rani ikut bertanya.

"Aku gak tau mah.. Soalnya yang lebih dekat kan Mas Rezza ke Hendro. Waktu dia bercerai, aku masih sama Dhika kan. Jadi aku lost contact dengan Mas Rezza dan juga Hendro." Sherin bercerita jujur. Rezza menggenggam tangan Sherin.

"Okay.. Hmm kalo tante mau minta kalian cari tau lebih dalam soal ini bisa gak? Tapi no pressure. Kalau kalian gak sempat atau gak nyaman, gapapa.. Sebisa kalian aja." Tante Fatma memohon, Rezza jujur merasa tak nyaman karena selama ini dia berteman baik dengan Hendro dan jika harus mengorek info ini demi egonya Tante Fatma, dia takut merasa mengkhianati Hendro.

"Hmm.. Aku coba nanti diskusi dulu ya tante sama Mas Rezza.." Sherin jawab bijak.

"Okay.. Makasih ya Sherin dan Rezza." Tante Fatma say thanks.

"Eh ada Kak Sherin dan Bang Rezza." Clarissa datang. Rezza buru-buru berdiri dan berikan tempat duduknya untuk Clarissa. Sherin agak jeles dikit, tapi jaga image.

"Eh Clarissa.. Yaudah kalo gitu aku permisi tunggu di samping ya." Rezza pamit.

"Okay sayang, aku ngobrol-ngobrol dulu ya.." Sherin menjawab. Rezza mengangguk.

"Lho, Bang Rezza gak di sini aja? Gapapa kan mah ngobrolnya sama Bang Rezza juga." Clarissa tanya.

"Gapapa Cla. Kan awalnya Sherin aja yang diundang, aku cuma nganter Sherin kok." Rezza jawab sambil mundurkan kursinya untuk Clarissa.

"Oh yaudah. Makasih Bang." Clarissa duduk di kursi yang tadi ditempati Rezza.

"Iya sama-sama. Aku permisi dulu ya tante, Cla, sayang.." sambil mengelus bahu Sherin.

"Okay, tunggu ya Rezza.." Tante Rani jawab, Tante Fatma mengangguk. Sherin genggam tangan Rezza sejenak.. Tiba-tiba Rezza kecup kening Sherin. Semua melongo, Sherin girang banget.

"Duh ilah pake dikecup segala.." Tante Fatma sindir dikit.

"Haha permisi dulu semuanya.." Rezza berlalu ke arah depan.

Rezza memesan secangkir cafe latte no sugar, membayarnya lalu keluar sejenak. Rezza hendak mengambil buku di mobilnya. Tadi dia memang mau menunggu sambil membaca sebuah buku karya sastra lawas koleksi orang tuanya. Sebuah novel karya sastrawan terkenal berdarah Batak kelahiran Padang, Mochtar Lubis.

Saat masuk kembali, Rezza kaget bertemu dengan Hendro di sana.

"Lho, Bang Hendro! Mau ketemu Clarissa dan Tante Fatma?" Rezza kaget. Hendro pun kaget.

"Eh iya Za.. Gue tadi abis ketemu Clarissa di samping. Ngobrol bentar." Hendro kikuk.

"Oh gitu.. Gue nganter Sherin tadi. Jadi ini gue mau ke teras samping sambil ngopi."

"Oh gitu, yaudah.. Gue mau lanjut balik dulu ya."

"Eh ke mana bang? Ngobrol dulu lah bentar. Lo jauh-jauh dari Cempaka Putih ke sini masa gak ngobrol dulu sama gue? Hehe" Rezza menahan Hendro.

"Oh yaudah, yuk duduk situ aja Za.." Hendro tunjuk satu meja kosong. Rezza mengangguk setuju.


"Jadi kamu dan Rezza sudah bicara soal rencana pernikahan Sher?" Tante Fatma kepo.

"Iya tante.. Doain ya semoga lancar."

"Aaamiinn.." semua mengamini.

"Rencana mau kapan kak? Udah dapet tanggal?" Clarissa ikut kepo.

"Belum nih Cla.. Masih tahap nimbang-nimbang sih mau ke KUA dulu setelah masa iddah aku selesai atau nanti sekalian aja pas pesta resepsi. Aku nurut maunya Mas Rezza aja. Dia sih udah gak sabar banget mau halalin aku. Hehe"

"Ih bucin banget pasti ya kalian? Haha" Clarissa meledek.

"Iya kita sama-sama bucin, maap ya Cla.." Sherin dan Clarissa sangat nyaman ngobrol berdua.

"Yah apapun itu, Tante doakan yang terbaik buat kamu dan Rezza ya Sherin. Jujur setelah dengar cerita kamu dari mama kamu, tante sedih banget. Semoga kali ini kamu bahagia sama Rezza ya. Cowok pilihan kamu sendiri." Tante Fatma beri dukungan Sherin.

"Amin.. Makasih banyak ya tante sudah perhatian dan peduli sama aku." Sherin jawab.

"Oh iya, Clarissa ada yang mau ditanya atau diobrolin sama Sherin katanya? Mau diobrolin sekarang?" Tante Rani mengingatkan.

"Ha? Mau ngobrol soal apa? Soal Bang Hendro?" Sherin tebak, Clarissa mengangguk.

"Kenapa Cla? Ada apa?" Sherin tanya.

"Hmm sebenernya aku agak bimbang sih kak.. Setelah ada obrolan dengan keluarganya Bang Hendro." Clarissa cerita dengan sangat behati-hati.

"Bimbang? Bimbang soal?" Sherin kepo.

"Jadi gini.."


Rezza menyeruput kopinya, Hendro mulai bercerita.

"Gue sama Clarissa tuh takut Za.."

"Takut? Takut apa tuh bang?" Rezza bingung.

"Gue kan sama Clarissa memang semacam dijodohkan gitu, tapi kita masih dikasih kesempatan untuk kenalan, untuk PDKT, dan gak ada paksaan soal ke depannya.."

"Okay, lalu?"

"Nah gue tuh sebenernya.. Masih ragu dengan perjodohan ini."

"Kalo gue boleh tau, ragunya gimana bang?" Rezza bertanya dengan hati-hati.

"Gue masih berharap bisa balik sama Mila sih sebetulnya." Hendro jujur, Rezza kaget. Pertama kalinya Hendro ceritakan soal kondisi hatinya pasca perceraiannya. Terakhir kali Hendro cerita dia kecewa dengan Mila yang tak mau ikuti keinginannya.

"Lo mau balikan sama Mila?" Hendro mengangguk.

"Tapi Milanya mau?" Rezza tanya lagi.

"Gue beberapa kali temui dia sambil urusan anak kan. Gue tanya-tanya ke dia apakah lagi deket sama cowok lain, atau perasaan dia gimana, dia gak pernah jujur Za. Dia seperti mau menutupi karena takut gue sakit hati atau cemburu mungkin."

"Kok gitu? Tau dari mana bang?"

"Gue denger dari sahabatnya Mila yang gue kenal, Mila sering jalan sama cowok dari kantornya. Terus udah dikenalin ke keluarganya, adeknya Mila yang cerita. Kebetulan adeknya suka hobi yang sama dengan gue jadi kita sering kontakan."

"Oalah.. Berarti bener ya dia deket sama cowok lain?"

"Iya. Di situ gue bingungnya, kalo emang dia udah ada cowok lain kenapa gak jujur aja. I mean biar gue juga tau oh dia udah plan dengan pria lain. Gue akan mundur.. Tapi dia menutup-nutupi Za. Seakan jaga perasaan gue, guenya jadi merasa dia ada keinginan balik sama gue juga."

"Hmmm.." Rezza menarik nafas dalam-dalam sambil menggaruk keningnya.

"Pasti lo juga lagi ada beban pikiran ya Za? Sorry ya gue jadi nambah pikiran lo lagi."

"Eh nggak kok bang.. Gue seneng kalo lo mau cerita ke gue. Artinya gue masih sahabat lo. Hehe"

"Iya Za. Gue selama ini juga mendem sendiri. Gue gamau cerita ke bokap nyokap."

"Tapi kalo gue boleh tau, lo dulu akhirnya sepakat berpisah sama Mila tuh gimana sih detail-nya? Maaf nih gue kan taunya kalian tau-tau udah resmi divorce aja.. Tapi kalo lo gamau cerita juga gapapa bang."

"Ya, gue akan cerita Za.." Hendro tarik nafas dalam-dalam.


"Jadi gini kak, aku tuh sebenernya dari awal kurang yakin sama Bang Hendro. Karena menurut aku nih ya maaf-maaf.. Bang Hendro tuh agak sedikit aneh in person orangnya. Maap banget aku harus jujur soal ini.."

"Oke-oke.. Jujur aku gak pertama kali dengar ini sih hehe, terus?" Sherin kepo.

"Hmm yaudah aku coba berusaha ngerti dunianya dia.. Aku jalan sama dia ke mall, ke tempat-tempat favoritnya, dia tuh kaya orang yang gak punya prinsip gitu lho kak.. I'm sorry.."

"Gak punya prinsipnya tuh gimana Cla?"

"Contoh nih.. Aku tanya dia kalo nikah lagi, mau pasangannya seperti apa? Dia jawab gak ada kriteria spesifik. Okay, aku tanya lagi, mencari yang seperti mantan istrinya atau yang benar-benar berbeda. Dia jawab, kalo bisa sih yang mirip.. Tapi kalo berbeda lebih bagus lagi. Aneh gak sih kak jawabannya maap?" Clarissa sampe pegang tangan Sherin.

"Anehh sihh.. Tapi emang kalo aku lihat ya, orang yang paling bisa paham benaknya Bang Hendro itu ya Mas Rezza. Mas Rezza tuh jago banget ngeyakinin Bang Hendro akan sesuatu yang dia bingung.. Kalo aku, jujur aku gak terlalu dekat sama Bang Hendro Cla." Sherin memperjelas.

"Iya kak.. Aku jadi sekarang pun dikenalin gini, satu sisi aku gak enak sama Farah, dia sahabat aku dari kuliah. Tapi di sisi lain aku juga gak mau wasting my time buat cowok yang bingung kak.. Aku butuh cowok yang tegas. Aku punya trauma masa lalu pernah hampir menikah, tanya aja sama mama. Aku udah yakin, dia awalnya yakin, setelah beberapa kali pertemuan keluarga, menjelang acara pertunangan tiba-tiba dia batalin semuanya. Cuma karena alasan dia gak bisa move on dari mantannya yang bahkan udah nikah kak. Sakit banget rasanya waktu itu.." Clarissa tak bisa tahan emosinya, air matanya mengalir deras. Tante Fatma dan Tante Rani saling support berpegangan. Sherin tiba-tiba teringat Rezza yang belum move on dari dirinya meski Sherin sudah menikah dengan pria lain.

'Aku benar-benar beruntung.. Mas Rezza laki-laki yang punya prinsip kuat dan tidak takut akan pilihannya, meski mudah saja dia memilih pilihan yang lain. Tapi dia tetap pilih aku tanpa ragu, bahkan setelah aku menikah dengan pria lain..' gumam Sherin. Air mata Clarissa terus merembes. Sherin elus lembut pundak Clarissa beri support.


"Jadi, Mila.. Dulu dia ditegur sama keluarga gue. Spesifiknya sama nyokap dan adek-adek gue. Mereka gerah karena gue gak bisa ngarahin Mila untuk menutup aurat. Dia belum siap pakai hijab. Dia juga masih suka pakai baju-baju yang terbuka di luar rumah sekalipun. Satu ketika, nyokap dan adek gue negur baik-baik. Kapan Mila mau pakai pakaian yang lebih sopan. Tapi di situ Mila marah sama gue. Dia ngerasa gue ngebiarin keluarga gue ikut campur perkara prinsip. Kalo lo tanya gue maunya gimana, gue juga mau dia menutup auratnya Za.. That's why gue dulu gak bolehin dia kerja. Tapi dia maksa mau kerja lagi sejak lahir anak kita. Dia merasa gak tahan di rumah since di rumah ada nyokap dan adek gue juga. Dia kabur pulang ke rumah orang tuanya tanpa bicara sama gue. Anak gue dibawa sama dia tanpa diskusi, di situ gue jadi merasa gak dihargai banget. Gue dateng ke rumah ortunya, gue tanya maunya apa? Dia bilang mau kita pisah rumah dari orang tua gue atau dia minta kita divorce. Gue gak bisa milih Za. Gue sangat bergantung dan gak mau jauh dari keluarga gue. Dan Mila mengingkari janjinya, dia dulu yakin mau tinggal di rumah gue dengan keluarga gue. Tiba-tiba dia minta sesuatu yang gue gabisa wujudkan. Gue merasa gak dihargai banget, gue emosi waktu itu dan gue milih gugat cerai dia."

Hendro matanya merah bercerita soal ini. Rezza pun speechless, ini terlalu complicated. Mila dan Hendro sama-sama punya prinsip, tapi mereka juga yang melanggar prinsip itu. That's why Rezza belajar banyak soal kehidupan dari orang-orang terdekatnya.

"Gue kaget bang dengernya. I'm sorry to hear that.." Hendro mengangguk.

"Gue cuma bisa kasih advice.. Saran gue, lo kelarin dulu semuanya sama Mila. Sampe case closed, gak mungkin memang benar-benar case closed since kalian punya anak. Tapi lo harus yakinin diri lo kalo lo gak akan mengurusi soal Mila lagi. Setidaknya lo benar-benar yakin udah gak mau berharap sama Mila lagi, baru jalanin hidup sama Clarissa. Kalo lo gabisa, kalian semua yang jadi korban, dan juga sebagai pelakunya. Korbannya siapa? Orang-orang terdekat kalian, anak lo, orang tuanya Clarissa, keluarganya Mila, gue juga bisa-bisa jadi korban.

Jadi mendingan lo yakinin diri lo sendiri ya bang. Jangan ambil keputusan sebelum lo benar-benar yakin pilih satu dari banyak pilihan itu. It's up to you bang." Rezza sangat bijak.

"Thank you Za.. Lo emang temen terbaik gue." Hendro senyum kecut ke Rezza.

"Sama-sama bang.. Gue banyak belajar dari lo dan keluarga lo. Gue juga makasih ya."

Rezza menyodorkan tangan untuk berjabatan, Hendro menyambutnya.


"Cla.. Mama dan orang tuanya Hendro tidak ada janji apapun. Kalau memang kamu tidak mau melanjutkan dengan Hendro, gapapa. Mama gak mau kamu menyakiti diri kamu sendiri demi ini semua. Gak worth it sayang.." Tante Fatma menenangkan Clarissa.

"Tapi aku jadi gaenak sama Farah dan papa mamanya mah.. Aku takut mereka jadi kecewa sama aku." Clarissa mengusap air matanya.

"I know sayang.. Tapi yang akan jalanin kan kamu, bukan mereka. Kamu lebih berhak mengambil keputusan apapun itu. Soal kamu ada bisnis bersama dengan Hendro, kalo dia profesional, harusnya dia tau gimana harus bertindak." Tante Fatma mengingatkan.

"Iya mah. Makasih ya.. Tadi aku abis ketemu Hendro di depan."

"Hah? Bang Hendro ke sini?" Sherin tanya.

"Iya, tadi dia ke sini. Dia tau aku mau ketemu kamu juga kak, sama Tante Rani."

"Oh, terus dia ngapain Cla?"

"Gak ada, dia cuma khawatir soal obrolan kita. Tadi aku temuin di luar karena aku gamau ganggu pertemuan kita, pertemuan mama sama Tante Rani. Dia terlalu overthink aku akan bicara hal-hal buruk tentang dia."

"Ya ampun. Segitunya.. Tapi ya Cla, aku jujur walau gak terlalu dekat dengan Bang Hendro, tapi aku yakin kok dia orang baik. Aku sering banget denger kebaikan-kebaikan Bang Hendro dari Mas Rezza. Aku rasa ini masalah di timing dan situasi yang gak tepat. Kalo saran aku, kamu coba take it slow dulu ya. Mungkin kamu bisa off dulu kerja, sejenak lepas penat ke mana gitu. Jangan sampe kamu overthinking juga. Kasian nanti mental kamu jadi terkuras. Aku tau kok kamu mungkin sedang kecewa. Tapi kekecewaan kamu juga bisa dihindari dengan melakukan hal-hal lain yang bikin kamu tenang, syukur-syukur bisa bikin kamu happy."

"Iya makasih ya kak.. Aku coba kasih space dulu buat Bang Hendro juga, mungkin dia merasa terlalu ditekan sama keluarganya. Aku mencoba memahami dulu sekarang."

"Iya, sama-sama ya Cla.. Kalo ada apa-apa kabarin aku aja, aku siap dengerin cerita kamu kok."

"Iya.. Makanya kakak buruan join kitaa.. Aku pengen cepet-cepet pindah ke Kemang biar bisa gak terlalu deket sama Bang Hendro dan keluarganya kakk."

"Hmm, sabar ya.. Kan minggu depan kamu udah mulai pindah ke Kemang. Aku akan sering ke sana kok kalo WFH. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi ya." Sherin coba beri kesan baik.

"Iya kakk.. Makasih ya.." mereka berangkulan, setelah itu bicara hal-hal lain selain soal Hendro.


"Yaudah kalo gitu gue balik dulu ya Za.." Hendro pamit.

"Mau balik sekarang? Yaudah gue anter ke depan bang.."

"Yuk Za.." mereka berdua ke parkiran restoran, Hendro memasuki mobilnya. Sebuah mobil Honda HRV RS Hybrid warna sand khaki.

"Makasih banget ya Za.. Lo selama ini udah kuat jadi sahabat gue. Haha"

"Hmm aman bang.. Gue happy kok bisa punya sahabat kaya elo. Kalo ada apa-apa cerita ya ke gue. Gak akan gue bocorin ke siapa-siapa kok, kecuali ke Sherin. Hehe"

"Ah lo mah, bucin sih.. Haha yaudah gue jalan dulu ya."

"Okay, hati-hati bang.."

"Sip Za. Wasalamualaikum.."

"Waalaikumsalam.." Rezza lambaikan tangan, Hendro membalas sambil memundurkan mobilnya keluar dari sana dengan kaca terbuka.

Rezza kembali ke meja itu, rencananya membaca novel gagal karena bertemu Hendro. Tiba-tiba Sherin datang setengah berlari.

"Mas, mas.. Mas Rezza.." Sherin langsung menubruk dan memeluk Rezza sambil cium di pipi berkali-kali.

"Apaan sih sayang.. Malu ihh diliatin orang-orang.." Rezza coba menghindar tapi Sherin keterlaluan barbar.

"Kenapa sih? Aku cuma mau peluk cium aja gak boleh."

"Ya gak di sini dong, gaenak sama orang-orang."

"Yaudah maap." Sherin melepas pelukannya.

"Terus udah selesai?" Rezza tanya.

"Belum, aku cari kamu tadi Anya call aku. Dia teleponin kamu gak diangkat-angkat katanya."

"Ohh iya hape aku di mobil sayang tadi lagi di-charge.."

"Oh pantes.. Itu tadi Anya call mau cuti ya katanya hari kamis dan jumat besok, dia bilang dia mau ke luar kota sama Patra berdua. Nanti kalo papa atau mamanya nanya ke kamu bilang aja ada kerjaan ke luar kota gitu ya."

Lihat selengkapnya