Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #27

Chapter 27

09.23 | Besoknya, hari rabu. Rezza dan Sherin sudah berada di RSPI, fasilitas psikiatri. Tadi pagi Rezza menghubungi asisten Dokter Andrie apakah bisa pagi ini mereka bertemu, dijawab jam 9.30-10.30 available. Sherin dan Rezza pun memutuskan berangkat dari satu jam yang lalu.

"Tunggu di sini dulu ya sayang.. Aku masuk ke dalam." Rezza mendudukan Sherin di kursi.

"Okay mas.." Sherin tersenyum kecil. Rezza mengetuk pintu lalu masuk ke dalam. Tak lama Rezza keluar dan mempersilahkan Sherin masuk.

"Kamu boleh masuk sekarang, tadi asistennya bilang bisa dimulai sekarang."

"Okay, aku masuk ya.." Sherin berdiri dari duduknya, tangan Rezza memegangi tubuh Sherin.

"Mau sendiri atau aku temani?" Rezza bertanya pelan.

"Gapapa, aku sendiri aja. Makasih sayang.."

"Okay. Semangat ya kamu.." Rezza mengecup rambut dan kening Sherin lembut. Sherin senyum-senyum dibuatnya, yang tadinya Sherin khawatir jadi lebih tenang.

"Makasih mas. Bye.." Sherin masuk ke dalam pintu ruangan itu.. Rezza menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan kuat-kuat. Ia juga tak tenang sedari tadi. Rezza duduk di kursi tunggu itu. Ia mengeluarkan laptop dari tas yang digendongnya sedari tadi. Banyak pekerjaan Rezza yang tertunda sejak kemarin sore. Ia pun mulai checking deck beberapa brief untuk klien yang mendapatkan feedback major ataupun minor dari klien.


Sekitar 40 menit berlalu, Kak Vina datang. Tadi di jalan Sherin chat Kak Vina karena Rezza yang minta.

"Rezza.." Kak Vina menghampiri Rezza langsung duduk di sebelahnya.

"Hai kak.. Kakak udah selesai operasi tadi?" Rezza menyalimi Kak Vina.

"Iya.. Sherin masih di dalam? Udah berapa lama?" Kak Vina bertanya khawatir.

"Hmm, kurang lebih 40 menitan sih kak.." Rezza mengecek jam di laptop-nya, ia lalu menutup laptop dan memasukkan ke dalam tas.

"Semoga gak lama lagi, biasanya Sherin gak sampe selama ini. Aku takut dia pingsan di dalam."

"Bismillah ya.. Semoga Sherin gak kenapa-kenapa dek." Kak Vina menenangkan.

Tak lama Sherin keluar, dengan mata sedikit sembab.

"Hai Sher.. Udah selesai?" Kak Vina menghampiri Sherin lalu cipika cipiki.

"Hai Kak Vina. Makasih ya udah mampir. Hmm udah nih, udah selesai kok."

"Kamu gapapa kan sayang? Aku khawatir banget kamu lama tadi di dalam." Rezza worried.

"Gapapa kok mas, memang tadi aku banyak cerita ke Dokter Andrie. Maaf ya lama."

"No.. It's okay sayang. Yang penting kamu gak kenapa-kenapa."

"Iya.. Yaudah duduk dulu yuk tunggu Dokter Andrie keluar." Kak Vina ajak duduk.

"Hmm.. Kakak coba masuk ya, siapa tau Dokter Andrie mau discuss sama kakak."

"Oh iya boleh kak. Makasih ya.." Rezza say thanks, Sherin tersenyum.

"Ini minum dulu sayang.." Rezza memberikan tumbler Sherin berisi air putih.

"Makasih mas. Kamu setia banget sama aku nungguin aku. Lama ya?" Sherin meminum sambil matanya menatap Rezza dalam-dalam.

"Gapapa. Aku yang makasih sama kamu. Kamu masih mau baik sama aku setelah aku banyak bikin salah sama kamu." Rezza menatap nanar ke arah Sherin.

"Gausah dibahas mas. Aku tadi sempat bilang ke Dokter Andrie kalau aku.. Aku beruntung banget punya kamu sekarang, balik lagi sama kamu.. Dan kamu gak meninggalkan aku walau aku pernah ninggalin kamu dengan sangat menyakitkan." Sherin meneteskan air mata.

"Heyy.. No! Gausah dibahas soal itu. Aku ikhlas melewati itu semua sayang.."

"Makasih ya mas. I love you.." Sherin menjatuhkan kepalanya ke bahu Rezza.

"I love you too.." Rezza menepuk lembut bahu Sherin sambil merangkulnya.

Dokter Andrie dan Kak Vina keluar. Wajah Kak Vina nampak rileks, seperti tau sesuatu.

"Halo Pak Rezza. Apa kabar??"

"Baik dok. Dokter gimana kabarnya?" Rezza berdiri dari duduknya sambil merangkul Sherin.

"Ya saya juga baik.. Hmm saya tidak kasih resep apapun hari ini, cuma saya mau mengingatkan untuk Bu Sherin jangan terlalu banyak pikiran dulu ya. Situasinya sudah membaik, saran saya Sherin jangan dipendam permasalahan-permasalahan apapun yang mengganggu pikiran kamu.

Ini Dokter Vina bicara sama saya, siap untuk menampung apapun yang ada di pikiran kamu yang mungkin gak boleh didengar sama Rezza. Atau ke ibu kamu juga boleh, ya? Coba lebih sering temui keluarga dekat lainnya. Jangan terlalu bergantung sama Rezza ya? Haha" Dokter Andrie sedikit me-release suasana yang intens. "Yaudah pokonya kalau next ada mau ke sini lagi silahkan, so far pemantauan saya Bu Sherin sudah membaik dari pertemuan sebelumnya. Jangan banyak pikiran ya. Saya permisi dulu, Dokter Vina, Pak Rezza, Bu Sherin. Permisi.."

"Iya makasih dok.." semua kompak menjawab.

"Yaudah kalo gitu, Sherin ada apa-apa cerita ke kakak ya. Jangan malu, jangan gaenakan mau chat atau call boleh.. Kakak lanjut kerja lagi ya."

"Okay, makasih banyak ya kak. Maaf aku jadi ngerepotin kakak."

"Nggak kok, kakak happy kalo bisa bantu kamu." Kak Vina dan Sherin berpelukan.

"Yaudah kita lanjut ya kak, aku mau anter Sherin ke kantor." Rezza menyalimi Kak Vina.

"Okay, hati-hati di jalan ya.. Kakak juga balik ke office." Kak Vina pamit.

"Oke kak. Bye.." Sherin dan Rezza say good bye barengan.


11.43 | Sherin dan Rezza tiba di sebuah restoran dekat kantor Sherin.

"Mas.. Kamu beneran gapapa ikut aku di kantor?"

"Gapapa sayang. Selama ini kan kamu yang ikut aku ke kantor, sekali-kali boleh kan gantian?"

"Iya boleh kok. Kamu baik banget sih sama aku? Jangan-jangan abis ini aku mau ditinggal ya? Kamu mau keluar negeri? Mau lanjut S2?" Sherin bercanda serius.

"Apaan sih kamu? Nggak lah. Aku kan cuma mau bikin kamu happy, bikin kamu tenang.. Udah ya gausah dibahas. Jangan banyak pikiran. Cukup kita fokus sama kerjaan dan sama nikahan kita nanti. Okay?" Rezza menenangkan.

"Okay mas. Makan dulu yuk.." Sherin memanggil waitress untuk pesan makanan.

Rezza mengangguk senyum.


12.48 | Sherin dan Rezza keluar dari lift lantai 7 gedung kantor Sherin di wilayah Sunter, Jakarta Utara. Sherin happy sekali hari itu pria kesayangannya menemani kerja di sana walau setengah hari saja. Mereka berjalan ke arah ruangan Sherin sambil sesekali disapa rekan kantor Sherin.

"Siang Mbak Sherin. Eh ada Mas Rezza." seorang staf marketing menyapa.

"Siang Runi.." Sherin menyapa balik, Rezza membalas senyum. Kantor itu agak lengang karena masih jam makan siang.

Mereka tiba di ruangan Sherin yang imut tapi rapih dan sejuk karena AC itu.

"Mas.. Kamu mau aku buatin teh atau kopi?" Sherin menawarkan.

"Gausah sayang, nanti aja.. Aku ke musholla dulu ya. Masih di depan situ kan dari resepsionis belok kanan?" Rezza tanya.

"Iya mas.. Yaudah kamu ke musholla dulu aja. Aku nanti solat di sini bisa kok tinggal ambil wudhu di toilet."

"Okay sayang, aku tinggal dulu yaa.." Rezza membelai lembut lengan Sherin.

"Jangan lupa doain aku ya hihi."

"Pasti dongg, gak pernah lupa kalo itu hehe.." Rezza senyum manis lalu meninggalkan ruangan.

Di depan resepsionis Rezza berpapasan dengan Bu Donda dan Mas Farhan yang baru saja keluar dari lift, mereka habis dari kantin bawah.

"Eh siang Ibu.. Mas.. Apa kabar??" Rezza agak kaget dikit.

"Eh Rezza, kok di sini?" Bu Donda tanya lalu menyodorkan tangannya.

"Itu bu, saya nemenin Sherin hari ini. Tadi abis dari rumah sakit." Rezza jawab sambil menjabat Bu Donda dan Mas Farhan.

"Hah? Siapa yang sakit?" Farhan tanya.

"Hmm tadi Sherin check up aja mas ke RS. Aman kok." Rezza menutupi. Bu Donda meyakini sesuatu karena ia tau persoalan Sherin.

"Oh yaudah, ini kamu mau ke mana Rezza?" Bu Donda tanya.

"Iya saya mau ke musholla sebentar bu, saya permisi dulu ya."

"Oke-oke.. Silahkan." Bu Donda berpikir sejenak lalu.

"Eh Rezza.." Bu Donda panggil lagi, Rezza balik badan lalu menghampiri. "Iya bu?"

"Nanti habis kamu dari musholla bisa ke ruangan saya sebentar? Sama Sherin juga?"

"Ohh iya, bisa kok bu. Nanti saya bilang ke Sherin ya.."

"Okay, saya stand by di ruangan kok. Nanti langsung aja.."

"Siap bu.. Nanti saya ke sana sama Sherin. Oke permisi bu, mas." Rezza lanjut ke musholla.


Sherin sedang sholat di ruangannya, Rezza melihat dari luar pintu. Hatinya adem dan tenang melihat calon istrinya itu sedang berhadapan dengan Tuhan mereka. Tiba-tiba ada call dari Icha.

"Iya Cha?" Rezza mengangkat call itu. Membelakangi pintu ruangan Sherin.

"Bang, lagi sibuk gak?" Icha tanya.

"Nggak kok Cha.. Kenapa?"

"Ini ada quotation yang perlu Bang Rezza baca dulu dan approval sebelum sore ini. Mau dikirim sama orang finance tadi dia dateng ke lantai 3."

"Ohh oke-oke, bisa di-scan atau difotoin gak Cha? Biar gue baca dulu."

"Bisa kok bang, tadi gue minta soft-copy-nya.."

"Nice.. Yaudah kirim ke chat gue aja ya.. Thanks Icha.."

"Siap.. Sama-sama bang.." Icha menjawab.

Saat Rezza hendak balik badan, ia kaget Sherin sudah menatapnya datar.

"Astaghfirullah.. Sayang.."

"Hehe kamu kaget ya?"

"Ya menurut kamu ajaaa.." Rezza mencubit gemas pipi Sherin yang gembil itu.

"Ihh sakit.. Yuk masuk." Sherin ngambek manja.

Rezza mengecek quotation yang dikirim Icha sejenak. Tak lama Rezza balas chat Icha dari laptop-nya lalu mengetik 'Cha, udah aman dari gue. Jangan lupa dikasih cap stempel ya.'

Tak lama Icha balas, 'Okee siap bang.. Tengkyu..' Rezza balas, 'Masama Cha..'

Rezza duduk di kursi depan Sherin, hendak mengecek kerjaan lainnya lalu,

"Oh iya sayang.. Tadi aku ketemu Bu Donda di depan resepsionis." Rezza teringat.

"Hah? Terus?" Sherin kaget.

"Dia tadi sama Mas Farhan nyapa aku, trus dia bilang mau kita ke ruangannya."

"Ke ruangan Bu Donda? Berdua kamu? Ngapain mas?"

Lihat selengkapnya