07.50 | Kamis pagi Sherin dan Rezza otw Kemang.
"Mas, hari ini aku di lantai 2 ya.. Mau nyobain ruangan baru sama beres-beres kan beberapa barang pesenan aku udah dateng." Sherin iseng. Dia mau ngetes apakah kalau dia stay di lantai 2 Rezza akan nyariin?
"Yakin kamu? Nanti juga ujung-ujungnya kangen nyamperin aku lagi. Hehe" Rezza iseng.
"Ih apaan? Gausah ge er.." Sherin ngambek.
"Yaudah aku temenin ke lantai dua dulu ya. Aku mau mastiin ruangan kamu aman.."
"Gausah juga gapapa kok.." Sherin pura-pura masih pundung.
"Sayaangg. Masih pagi lho udah pundung aja.. Sini tangannya aku cium dulu.." Rezza ambil tangan kanan Sherin, diciumnya dalam-dalam dan kecup dengan bibir. Sherin pun melemah.
"Kamu makanya jangan nyebelin.. Untung aku sayang banget." Sherin cium balik tangan Rezza.
08.18 | Rezza dan Sherin tiba di lobi gedung kantor. Mereka menuju lift, ada Icha dan Arina baru tiba juga.
"Morning guys.." Sherin dan Rezza sapa mereka.
"Haii.. Pagi Bang Rezza, Mbak Sherin.." Icha dan Arina sapa balik.
"Eh gue ke lantai dua dulu ya nemenin nyonyah.." Rezza info ke Icha dan Arina. Sherin menampar lembut pipi Rezza gemes.
"Nyonya nyonya! Nyonya meneer?" Sherin kesal dikit. Semua tertawa. Pintu lift pun terbuka.
"Ruangan lantai 2 udah aman mbak?" Icha tanya.
"Belum Cha.. Ohh iya aku kan mau minta bantuan Anya buat dekor ruangan aku.."
"Yah Anya kan cuti hari ini sama besok." Icha dan Arina mengingatkan.
"Oh iya ya, hari ini Anya cuti.." Sherin kecewa. Pintu lift terbuka di lantai 2.
"Bye guys.. Aku ke lantai 2 ya.." Sherin pamit ke Icha dan Arina. Rezza ngintil di belakang.
"Bye Mbak Sherin.."
Rezza dan Sherin berjalan masuk ke ruangan Sherin di lantai 2. Nampak sofa dan meja pendek telah disusun rapih sesuai kemauan Nyonyah Sherin.
"Ihh udah sampe sofanya mas.." Sherin happy banget.
"Kamu seneng banget sayang.." Rezza mengelus pundak Sherin.
"Iya mas. Jadi kamu kan bisa leha-leha di sini. Hehe" Sherin asbun.
"Yaudah aku duduk sini duluan ya." Rezza buru-buru duduk di sofa itu.
"Ihh aku duluann." Sherin menahan tangan Rezza. Rezza pura-pura gak sanggup melawan tenaga Sherin lalu ia mundurkan badannya. Sherin duluan duduk di sana. Adegan childish dari dua om-om dan tante-tante menuju kepala empat itu.
"Morning kak.. Bang.." Clarissa menghampiri.
"Pagi Cla.." Rezza dan Sherin menyapa balik.
"Gimana ruangannya? All good ya kak?" Clarissa tanya.
"So far, sesuai kemauan aku.. Thanks ya Cla.." Sherin jawab.
"Haha okay kak, kalo ada butuh apa-apa let me know ya.. Nanti aku bilang ke GA.."
"Okay Cla.. Siapp.. Aku hari ini mau coba kerja di sini ya.." Sherin izin.
"Oh iya, silahkan kok Kak Sherin. Biar bisa ngerasain apa lagi yang kurang nanti bisa disiapkan deh.." Clarissa mencoba ramah.
"Iya nih.. Sayangnya Anya gak masuk hari ini. Aku mau minta insight dari dia padahal soal interior ini. Dia punya taste yang bagus anaknya."
"Oh iya? Wah menarik tuh, nanti aku coba konsul sama dia ah.." Clarissa tertarik.
"Bisa-bisa Cla.."
"Yaudah.. Sayang, aku ke lantai 3 dulu ya.. Takutnya udah mau pada meeting soalnya Icha kemarin bilang mereka ada ke kantor klien Icha sama Janice siang ini. Aku gak ikut kok."
"Ohh yaudah, sini aku temenin sampe lift." Sherin posesif gemes.
"Ayok.." Rezza menjawab girang.
"Cla. Aku ke lantai 3 dulu ya.. Titip Sherin hehe" Rezza izin ke Clarissa.
"Okay siap bang. Aman.." Clarissa jawab.
"Yaudah yuk.." Sherin gandeng Rezza. Dia agak bete liat Rezza ramah-ramah ke Clarissa.
Yang tadinya Sherin berharap Rezza mau bela-belain ke ruangannya, jadi berubah pikiran.
'Keknya mending aku deh yang ke lantai 3 kalo Clarissa sama Mas Rezza ketemu terus.' dalam hati Sherin bergumam.
09.18 | Di lantai 3, Rezza, Icha, Janice, Arina, Sigit, dan Ojan sedang meeting di ruangan. Rezza sesekali memandangi akun Instagramnya mereka berdua.
Tiba-tiba ada DM yang masuk menawarkan endorsement. Rezza yang kebetulan sedang membuka, langsung cek DM itu. Intinya endorsement itu dari sebuah brand lokal yang memiliki produk-produk baju dan celana pria-wanita produksi dalam negeri, ingin menjadikan Sherin dan Rezza sebagai talent collab untuk upcoming season produk baru mereka. Rezza yang membaca ini buru-buru share ke Sherin.
Sherin sedang di ruangannya langsung tak percaya, mereka ada yang endorse.. OMG!
30 menit kemudian, Rezza kembali ke ruangannya.
"Mas.. Serius kita dapet endorse? Hehe" Sherin di dalam ruangan Rezza.
"Sayang.. Kamu kapan ke sini?" Rezza beneran kaget.
"Tadi abis kamu kasi tau aku, langsung ke lantai 3. Terus karena kalian lagi meeting yaudah deh aku tunggu sini.. Kenapasi?"
"Kaget aku kirain ada hantu, tapi kok cantik banget." Rezza gombal
"Ihhh gombalnya jelek banget masa aku dibilang hantu?" Sherin marah dikit.
"Yaudahhh.. Trus kamu mau ambil endorse itu?"
"Tadi aku coba bales DM-nya mas.. Trus mereka bilang mau ajak G-Meet sore ini. Kamu bisa?"
"Bisa kok, yaudah jam berapa? Minta dia kirimin invitation ke email aja."
"Udah kok, ini katanya mau dikirim. Nanti aku follow up lagi yaa.." Sherin nampak bersemangat.
"Okaaay sayaangg.." Rezza jadi ikutan bersemangat.
"Yaudah aku balik ke ruangan aku ya?" Sherin hendak pergi. Ditahan oleh Rezza.
"Lho. Kok buru-buru banget? Di sini aja temenin aku.." Rezza manja.
"Ihh aku kan udah punya ruangan sendiri, kamu lah ke ruangan aku."
"Yah barang-barang aku banyak banget, repot." Rezza makin nyebelin.
"Yaudah kalo gamau, bye!" Sherin sengaja ngetes Rezza.
"Ihh yaudah nanti aku ke sana.. Bye!" Rezza merasa gagal menahan Sherin. Sherin keluar ruangan sambil cekikikan.
11.28 | Sherin sendirian di ruangannya.
"Mana sih Mas Rezza dari tadi ditungguin gak ke sini-sini. Bokis banget jadi cowok!" Sherin mulai emosi.. Dia ambil handphone-nya.. Call Rezza, terdengar nada sambung.
"Mass.. Kamu di mana? Katanya mau ke ruangan aku? Gimana sih.."
"Sayang aku lagi di parkiran, ini nganter Icha sama Janice ke mobil kantor. Bentar ya tadi bawaannya banyak soalnya mau ada event kantor klien.."
"Ihh dasar, yaudah aku tunggu di ruangan aku ya.." Sherin bete.
"Iya wait ya sayang.." Rezza tutup call-nya.
"Ih langsung ditutup. Mulai nyebelin ya!" Sherin misuh-misuh sendiri.
12.17 | Sherin dan Rezza makan siang di sebuah restoran khas Italia di Kemang. Rezza tau Sherin lagi bete harus diajak makan enak.
"Sayang, aku pesenin menu-menu favorit kamu ya.." Sherin mengangguk lesu.
'Kamu tuh ya bisa banget bikin aku gak bete lagi.' dalam hati Sherin.
Rezza pesan dua porsi pasta, satu creamy garlic fettuccine dan satu spaghetti aglio e olio dengan satu porsi medium pizza pepperoni. Minumnya satu pitcher ice lychee tea.
Sherin terpukau, terakhir kali mereka makan di sana bertahun-tahun lalu, menu yang dipesannya sama persis. Sherin masih ingat jelas itu. Ia memandang wajah Rezza dalam-dalam sambil senyum tipis.
"Sayang.. Hey.. Kamu kenapa kok bengong liatin aku gitu? Serem deh."
"Aku gak nyangka kamu masih inget semua menu favorit kita terakhir ke sini mas."
"Iya inget dong, aku gak pernah lupa setiap momen bareng kamu.." Rezza asbun aja.
"Makasih ya Mas Rezzaku sayang.." Sherin menarik tangan Rezza di hadapannya.
"Sama-sama Sherinku sayang.." Rezza tersenyum.
Sherin berdiri lalu memilih duduk di sebelah Rezza sambil memeluknya. Rezza tersenyum merasa menang hari itu.
Sorenya, Rezza dan Sherin di ruangan kerja Sherin di lantai 2. Mereka melakukan online meeting dengan brand pakaian lokal yang akan endorse mereka itu. Walaupun nominalnya kecil, Sherin dan Rezza tetap antusias untuk mengambil tawaran itu dan mereka janjian untuk photo shoot di rumah Rezza di Lebak Bulus hari Sabtu pagi pukul 08.30.
"Okay, jadi size baju dan celana untuk Kak Sherin dan Mas Rezza sudah kami catat ya. Nanti kita akan bertemu hari Sabtu di Lebak Bulus. Semoga kerja sama ini menjadi awal yang baik untuk kita semua.. Amiinn.." Ardi sebagai co-owner dari brand yang bernama Execloth itu menutup obrolan mereka.
"Amiinn. Makasih banyak ya Mas Ardi, semoga nanti photo shoot di hari Sabtu kita berjalan lancar.." Sherin nampak bersemangat, Rezza agak jeles dikit karena Ardi keliatannya lumayan tamvan.
"Makasih ya Kak Sherin dan Mas Rezza.. Kalau begitu saya dan tim izin end meeting. Nanti kalau ada yang perlu diperbincangkan boleh langsung go through di grup WA aja.."
"Okay, sama-sama ya Ardi.." Rezza dan Sherin menyepakati. Meeting selesai.
"Yayy sayangg, kita dikit lagi jadi KOL couple nih hehehe.." Sherin memeluk Rezza di sebelahnya.
"Hehe iya sayangg.. Makasi ya." Rezza datar aja, sambil mengelus lengan Sherin.
"Kenapa kok bete gitu?" Sherin curiga.
"Nggak gak bete kok.. Aku happy sayang. Happy ngeliat kamu happy gini."
"Hmmm.. Coba sini cium aku dulu kalo gak bete.." Sherin menantang. Rezza kecup di pipi Sherin. Okay, Sherin makin yakin Rezza bete. Kalau gak bete pasti kiss-nya di bibir.
"Yaudah aku ke lantai 3 ya sayang.. Bye.." Rezza buru-buru pergi dari sana. Sherin geleng-geleng melihat tingkah Rezza yang jeles-jeles konyol itu pergi.
17.20 | Rezza di ruangannya sedang ada tamu, Icha dan Janice. Mereka berdua baru pulang dari kantor klien yang weekend ini akan ada event. Mereka melaporkan soal pertemuan dengan klien tadi sambil sesekali cerita mengenai hal-hal lucu selama mereka terpisah. Rezza nampak tertawa sesekali, Janice dan Icha pun nyaman berada di sana. Jujur mereka rindu masa seperti itu, masa di mana Rezza masih single alias Sherin belum muncul lagi di hidup Rezza. Bahkan mereka sempat concall dengan Anya untuk menanyakan kabar Anya. Di Lombok sana, Anya sedikit curcol kalau dia agak bete karena Patra sibuk menjamu tamu-tamunya dan Anya serasa kurang dianggap oleh keluarga Patra itu.. Icha, Janice, dan Rezza pun memberi motivasi singkat untuknya.
"Udah Nya, kalo gak kuat tinggalin aja balik kantor sini. Hehe" Icha asbun.
"Sumpah ya gue udah kepikiran kek gitu Cha, bayangin dari makan siang bareng gak ada satupun keluarga Patra yang pada tinggal di luar negeri itu nanya basa-basi kek, gue sibuk apa kek, untungnya Patra masih merhatiin gue. Kalo gue ampe dicuekin juga sama Patra, fixed gue tinggal sih.." Anya curhat panjang lebar..
"Iya Nya.. Sabar-sabar ya." Janice menyabarkan Anya.
"Eh BTW Nya, lo sama Patra tuh udah jadian belom sih?" Rezza nyamber.
"Bang.. Gue sama Patra bukan abege lagi. Sejauh ini gue nganggepnya kita kaya pacaran aja, dia kadang panggil gue 'babe', 'love', bahkan 'sayang' tapi kita gak pernah ada tembak-tembakan."
"Yah kalo gitu sih lonya juga Nya. Harusnya lo minta kepastian. Iya kalian bukan abege. Tapi kalo gitu gue malah ngerasanya HTS-an. Gue sama Sherin aja yang udah setua ini tetep harus ada peresmiannya kok, Sherin yang make sure gue mau balikan lagi gak sama dia sambil dinner. Lo juga harus berani Nya.." Rezza kali ini benar.. Janice dan Icha sedikit tak nyaman mendengarnya.
"Hmm. Soal itu nanti deh bang.. Gak mungkin gue obrolin sekarang kan, dia lagi sibuk sama keluarganya.."
"Okay Nya, tapi kalo menurut gue justru mumpung kalian di sana, coba ajak aja Patra ke tempat dinner atau lunch yang agak romantis gitu trus lo ngomong deh hubungan ini mau kaya gimana. Lo jelasin lo maunya apa, misal minimal lo mau jadian dulu. Atau lo bilang mau langsung tunangan. Ikutin kata hati lo Nya.. Gue gak mau lo mendem perasaan terus." Anya tercekat, terakhir kali dia melakukan itu sama orang yang sedang bicara padanya ini, Rezza.
Sejujurnya di lubuk hati Anya dia masih belum yakin dengan Patra karena kerasa Patra terlalu formal hubungannya ke Anya. Mereka kurang explore relasi casual seperti sekedar makan bareng di pinggir jalan, ngobrol hal-hal random, pembicaraan mengalir, Anya menyadari itu semua. Satu hal yang bikin orang-orang banyak jatuh hati sama Rezza adalah karena dia sangat mampu berkomunikasi dengan fluid. Bicara formal bisa, ngobrol casual oke, bahkan sekadar chit-chat random pun sangat bisa bikin wanita terpukau dengan caranya berkomunikasi.
Rezza sangat menguasai itu, hal yang sulit dikuasai cowok-cowok seumuran Rezza, Patra, dan Hendro zaman now.
"Iya.. Makasih ya bang sarannya. Nanti gue coba deh.." Anya terdengar murung. Icha buru-buru menyelak obrolan, "Eh Nya, terus lo balik hari minggu jam berapa? Mau gue jemput gak di bandara?" Icha basa-basi.
"Ah ngapain Cha? Gausah.. Mobil gue di bandara, itupun kalo Patra gak extend.. Kalo dia extend mungkin gue pulang sendiri. Senin kan gue udah masuk kantor."
"Yaudah Nya. Kalo lo tiba-tiba berubah pikiran, kabarin yaa.. Gue minggu free di rumah. Kakak gue sama lakinya mau keluar kota naik kereta besok sore. Jadi gue ada mobil deh sabtu-minggu hehe.." Icha baik banget.
"Makasih ya Cha.. Iya nanti gue kabarin pasti."
"Yaudah Nya.. Mangat yaa lo.. Jangan murung-murung, kalo ada yang mau diceritain, chat aja di grup nanti kita bantu.. Hehe" Rezza asbun.
"Iyaiya bang.. Yaudah gue tutup dulu ya Cha, Jan, Bang.."
"Okay.. Bye Nyaaa.." semua say good bye.
Sherin dengar dan melihat dari luar pintu ruangan Rezza, ia merasa sedikit bersalah.
'Selama ini Mas Rezza, Anya, Icha, dan Janice sedekat itu. Kehadiran aku bikin mereka jadi menjauh.'
Pintu diketuk.
"Mas.. Mau pulang jam berapa?" Sherin tersenyum, Icha dan Janice menengok.
"Ohh hmm iya ini aku siap-siap dulu ya.." Rezza membalas dengan senyum.
"Yaudah.. Hmm Icha, Janice.. Kalian mau pulang jam berapa?"
"Ini kita juga udah mau pulang kok kak.." Janice jawab, Icha mengangguk.
"Pulang bareng yuk, kita makan malem dulu bareng-bareng mau?" Sherin tiba-tiba ajak bareng.
"Hah? Hmm boleh sih mbak, tapi gak ngerepotin? Takutnya kalian ada plan?" Icha ragu.
"Nggak kok Cha, mas kita makan bareng sama Icha dan Janice abis itu anterin mereka yuk."
Rezza bingung, Sherin kenapa? "Eh, iya boleh-boleh. Mau jalan sekarang?" Sherin mengangguk.
18.40 | Rezza, Sherin, Janice, dan Icha makan di sebuah restoran steak terjangkau di daerah Veteran, Bintaro.
"Icha, Janice, kalian weekend sibuk gak?" Sherin tanya.
"Oh enggak sih kak, kenapa?" Janice tanya balik.
"Aku sama Mas Rezza ada photo shoot endorse di rumah Mas Rezza di Lebak Bulus hari sabtu. Kalian ikut yuk siapa tau bisa ngasih ide-ide.." Sherin ngide.
"Jam berapa mbak?" Icha tanya.
"Pagi sih dari jam 9an gitu, kalo kalian mau dateng. Nanti langsung datang aja ya.. Kalian tau alamat rumah Mas Rezza kan?"
"Tau sih kak tapi aku belum pernah ke sana.." Janice jawab sambil melirik Rezza.
"Hmm, yaudah nanti kakak shareloc ya.."
"Yaudah tapi kita gak janji ya mbak. Takutnya ada acara lain.." Icha jawab.
"Oke Icha, aman.. Pokoknya dateng aja sebisanya.." Sherin berusaha ramah. Rezza bingung Sherin kenapa?
Sepulang dari mengantar Icha dan Janice, Rezza merasa lelah sekali. Ia memilih diam tak banyak bicara. Sherin tau pasti Rezza bertanya-tanya, tapi tak enak hati membicarakannya. Rezza memilih diam daripada berdebat lagi.
Jumat siang, Rezza baru saja pulang shalat Jumat di masjid dekat kantor. Ia berjalan kaki memasuki lobi. Ojan dan Sigit yang tadi berjalan bersama dari masjid langsung lanjut makan siang di warung nasi dekat sana, Rezza masuk dan hendak ke lantai 2 karena Sherin belikan lunch pesan dari ojol tadi. Rezza menunggu lift bersama beberapa orang lain.
"Hai Bang.." Janice datang dari luar.
"Eh Jan, udah lunch?" Rezza tanya.
"Udah tadi, ini mau langsung ke atas, panas banget di luar."
"Sendiri? Icha mana?"
"Icha bawa bekal bang, tadi pagi masak dia sama Kak Ayu."
"Ohh gitu.. Yaudah.." pintu lift terbuka.
"Aku ke lantai 2 ya Jan.. Sherin beliin lunch, aku mau makan dulu di sana.."
"Oh oke bang, selamat lunch ya.." Janice senyum ramah. Rezza senyum balik dengan manisnya.
Pintu ruangan Sherin diketuk.
"Sayang.. Aku udah jumatan.." Rezza masuk.
"Ih ganteng banget sayangnya aku, cowok kalo abis jumatan ketampanannya naik 10 kali lipat."
"Emang iya? Berarti kalo lagi gak hari jumat aku jelek banget dong?" Rezza asbun.
"Yee gak gitu. Sini duduk, aku bukain ya makan siang kamu."
"Okay sayang, makasi ya.." Rezza memperhatikan wajah Sherin.
"Sama-sama masku sayang.." Sherin menjawab manja.
Pintu diketuk.. "Masukk.." Sherin jawab.
"Eh ada Bang Rezza.." Clarissa muncul.
"Hai Cla.. Udah lunch?" Rezza basa-basi.
"Udah tadi abis dari bawah sama Sari dan yang lain.."
"Oh gitu, aku makan dulu ya.." Rezza izin makan. Clarissa mengangguk senyum.
"Ada apa Cla?" Sherin tanya.
"Hmm ini kak.. Aku mau ngobrolin soal KOL baru ada 3 orang dan satu couple. Bisa sekarang atau mau nanti aku balik lagi?" Clarissa menunjukkan data di iPad-nya.
"Oh boleh kok sekarang, mas aku sambil bahas kerjaan sama Cla ya.." Sherin nengok ke Rezza.
"Eh iya gapapa dong, aku keluar dulu ya makan di luar aja?"
"Eh gapapa sayang. Di sini aja. Gapapa kan Cla?" Sherin menahan Rezza.
"Iya bang gapapa kok aman."
"Yaudah kalo gitu hehe." Rezza kikuk sendiri. Dia menikmati sejenak pemandangan visual indah dua wanita cantik berhadapan sambil menikmati sebuah ricebowl berisi daging slice with yakiniku sauce. Lengkap dengan salad kecil dan mayo dressing. Rezza juga disiapkan minum secangkir melon juice less sugar.
'Beruntung banget gue pulang jumatan makan disediain, minuman favorit, disuguhkan dua wajah wanita paling cantik di gedung ini' gumam Rezza sambil senyam-senyum.
"Kenapa senyam-senyum mas??" Sherin bertanya.
"Eh gapapa, lucu aja aku liat kalian serius banget bahas kerjaan. Belom jam 1 lho ini.."
"Eh iya, maaf ya kak abis aku takut kakak online meeting lagi abis ini.."
"Iya gapapa kok Cla.. Aman.." Sherin senyum rileks. Mereka lanjutkan diskusi lagi.
06.25 | Sabtu pagi, Sherin dan Rezza baru selesai makan ketoprak dan bubur ayam yang dibeli Rezza tadi pagi sehabis shalat Subuh di masjid.
"Aku bersihin piring dan buang sampah abis itu kita jalan ya mas.." Sherin inisiatif.