05.30 | Minggu pagi, Rezza dan Sherin baru pulang dari masjid.
Mereka mampir membeli sarapan lontong sayur dan nasi kuning. Penjual nasi uduk sabtu-minggu memang libur.
Mereka pun makan berdua di meja depan TV, tanpa banyak bicara tapi aktivitas mereka berlangsung seperti biasanya.
Seusai makan, Rezza merebahkan badannya di sofa. Ia hendak berjalan santai di luar menikmati pagi hari, Sherin menahannya.
"Mas.. Aku butuh bicara.." Sherin memohon.
"Bicara apa?" Rezza masih sedikit bete.
"Please, jangan bete lagi sama aku. Maafin aku mas.."
"Aku udah gak marah kok, aku mau jalan dulu ya ke depan.."
"Mas.. Kamu mau aku ngapain biar kamu kaya biasa lagi?" Sherin memohon lagi.
"Aku gatau, aku gak bisa mikir sekarang. Gausah dibahas dulu ya. Aku gak ke mana-mana kok."
"Yaudah, aku mau salim.." Sherin mencium tangan Rezza. Hatinya masih merasa sangat bersalah kejadian kemarin. Begitu Rezza pergi, Sherin meneteskan air matanya.
7.20 Sherin tiduran di ranjangnya. Ia menangis tak berhenti sejak tadi. Rezza yang pulang dengan hati masih sedikit berat melihat itu.
"Sayang.. Aku beli susu kedelai hangat. Minum yuk." Rezza membangunkan Sherin.
"Mas.." Sherin menengok, pipinya basah sekali. Rezza menyeka pipi Sherin lembut dengan tissue.
"Udah jangan nangis lagi, aku mau kita baikan.." Sherin mengangguk lemah.
"Aku gamau kamu tambah kepikiran nantinya. Aku sayang kamu.." Rezza sedikit lebih cair semenjak menyendiri tadi jalan keliling lingkungan kontrakannya.
"Aku juga sayang kamu mas.." Sherin memeluk Rezza dengan erat.
"Yaudah minum dulu ya.. Mumpung masih hangat.." Rezza menawarkan. Sherin mengangguk.
Di rumah Icha, Anya masih terlelap. Ia baru bisa benar-benar tidur jam 3 pagi tadi. Icha dan Janice yang sudah bangun dari tadi, memasak beberapa bahan untuk mereka sarapan. Ada telur mata sapi, telur omelet, dan nasi goreng smoked beef. Mereka menyiapkan masakan di meja makan untuk makan bersama bertiga.
"Icha, Janice.. Kalian ngapain?" Anya terbangun langsung menghampiri mereka.
"Eh Nya, udah bangun? Sini minum dulu.." Icha berikan segelas air putih.
"Thanks Cha.. Kalian masak?" Anya tampak lebih tenang.
"Iya Nya, kita makan yuk.." Janice mengajak Anya duduk dan makan bersama.
"Makasih ya, gue jadi gaenak gak ikut bantu masak." Anya minta maaf.
"Iya santai Anya.. Udah lo ikut makan ya, dari semalem lo gamau makan. Jangan sampe sakit Nya.." Icha mengingatkan.
"Iya Icha, sini gue ambilin buat kalian." Anya benar-benar wanita baik, dia sangat tahu balas budi. Anya mengambilkan lauk pauk beserta nasi goreng itu untuk Icha dan Janice. Rugi si Patra menyia-nyiakan wanita sekeren Anya.
Rezza dan Sherin berpelukan di kontrakan kecil mereka sambil menonton TV. Hati Sherin sudah lebih tenang. Segelas susu kedelai hangat membuatnya merasa lebih nyaman pagi itu, ditambah Rezza yang sudah memanggilnya sayang lagi. Sherin berjanji ke dirinya sendiri untuk tidak mudah tersulut emosi ketika cemburu melihat Rezza dengan wanita lain.
Jari jemari Sherin tak berhenti mengelus tangan Rezza yang sedang digelendotinya. Mereka menikmati pagi itu dengan kebersamaan setelah semalam tidur dengan kondisi kepala penuh dengan rasa lelah dan emosi. Tiba-tiba Tante Rani call Sherin.
"Mamah call kamu tuh sayang.." Rezza mengambilkan handphone Sherin.
"Aku angkat ya mas.." Sherin bangkit dari rebahnya, Rezza mengangguk.
"Halo mah.."
"Sayang, kamu hari ini sibuk gak?" Tante Rani tanya.
"Nggak ada janji ke mana-mana sih mah, sama Mas Rezza di kontrakan aja. Kenapa mah?"
"Mama lupa mau kasih tau kamu dari kemarin, nanti jam 11 ada kumpul ibu-ibu arisan di rumah Tante Nila di Depok, kamu mau ikut temani mama?"
"Oh, di Pesona Khayangan mah?" Sherin make sure.
"Iya sayang, nanti mama dianter papah terus papah lanjut lunch sama temannya di Cilandak."
"Oh gitu, yaudah aku tanya Mas Rezza dulu ya mah."
"Oke sayang, call mama ya kalo kamu bisa ikut."
"Iya mah.. Bye.."
"Mas.. Siang ini aku diajak mama arisan sama tante-tante sepersepupuan mama di Pesona Khayangan, boleh?"
"Yaudah aku antar ya.." Rezza jawab singkat.
"Tapi.. Kamu gabisa ikut mas karena ibu-ibu semua, aku naik mobil sendiri juga gapapa kok."
"Udah aku antar aja. Kan aku bisa nunggu di sana. Deket Margonda banyak tempat ngopi kan.."
"Makasih ya mas. Kamu perhatian banget sama aku!"
"Iya, kan udah kewajiban aku memastikan kamu aman dan nyaman." Rezza senyum. Sherin kecup pipi Rezza lembut.
"Yaudah aku call mama ya bilang kamu anter aku.." Rezza mengangguk.
"Cha makasih ya, gue balik dulu." Anya pamit pulang. Janice diantar oleh Anya.
"Iya Anya, hati- hati di jalan ya. Ada apa-apa call aja.." Icha make sure.
"Emang kalo gue call lo bisa apa?" Anya becanda.
"Ya bisa ikut nyari bantuan, hehe." Icha melucu.
"Yaudah yuk Jan, kita pulang." Anya ajak Janice ke luar rumah Icha.
"Cha, gue ikut pulang sama Anya ya.. Baek-baek lo di rumah sendirian."
"Iyaa.. Udah gausah nakut-nakutin gue deh.." Icha mulai kesel.
"Yaudah, bye Icha.." Anya dan Janice say good bye ke Icha.
"Bye girrllss.. See you tomorrow.." Icha riangkan suasana.
"Iyaa.." Janice dan Anya menjawab.
Rezza bukakan pintu mobil untuk Sherin. Mereka pergi pakai mobil Sherin karena mobil Rezza baterainya belum sempat di-charge semalam. Ada satu spot charging di parkiran kontrakan itu tapi harus antre dan diatur oleh penjaga. Sampai pagi itu mobil Rezza belum kebagian charge.
"Makasih ya sayang.." Sherin senyum sumringah.
"Sama-sama sayang.." Rezza balas senyumannya.
Rezza melajukan mobilnya ke arah Depok.
Janice dan Anya ternyata mampir ke sebuah coffee shop di Cilandak Town Square. Anya lagi butuh banget kopi pagi itu. Dia pesan ice cafe latte extra shot espresso less sugar. Janice sempat call Icha apakah mau dikirimkan kopi, tapi Icha jawab gak usah karena ia mau tidur seharian ini.
"Nya, semalem lo ke rumah Bang Rezza?"
"Iya Jan, gue gaenak banget kemarin Sherin liat gue peluk Rezza terus mereka berantem. Gak tau deh tuh sekarang udah baikan belum."
"Lagi kok lo bisa tiba-tiba ke sana?"
"Gue kalut Jan, gue sempet liat di grup kalian di sana yaudah gue ambil mobil di parkiran bandara langsung ke sana. Ternyata kalian udah pulang. Gue kira Sherin juga udah pulang karena gak ada mobilnya. Gue peluk Rezza sambil nangis, dia liat sendiri sampe gue minta maaf."
"Yaampun.. Tapi emang kemarin hari yang aneh banget sih di sana. Gue juga gak nyaman sebetulnya."
"Gak nyaman kenapa?" Anya kepo.
Janice cerita awalnya Icha dan Janice diajak untuk ikut kenalan sama tim Execloth. Tapi sesampainya mereka di sana gak dilibatin apa-apa juga justru Icha disuruh megang kamera. Janice cerita gimana Rezza mau nyomblangin Icha ke Ardi dan pas Ardi tanya Janice dibilang gausah. Ternyata Janice masih mengingat itu sebagai hal yang tidak mengenakan baginya.
"Jadi lo liat mereka kissing Jan? Di kamarnya Rezza? Di ranjang?" Anya shocked.
"Iya Nya.." Janice meneteskan air mata.
"Jan.. I'm sorry for you.. Jujur gue bisa ngerasain gimana nyeseknya lo liat itu.." Anya berempati.
"Makasih ya Nya.. Gue juga ngerasa sia-sia kemarin ke sana buang-buang waktu gue. Gue cuma jadi tambah sakit hati. Menurut lo gue perlu bicara gak sih sama Bang Rezza?"
Anya menggeleng, "jangan Jan. Nanti biar gue yang tegor dia. Gue yakin Rezza tuh udah ngerasa memiliki lo dengan waktu itu lo confess ke dia. Tapi dia terhalang Sherin. Gue ngerti banget Jan.. I'm sorry.. Gue bantu ya bilang ke dia. Dia harus dikasih tau biar sadar."
"Iya Nya.. Makasih ya.. Gue sakit hati banget sebenernya." Janice menunduk lesu.
"Sabar ya Jan.." Anya pegang tangan Janice lembut.
11.05 | Sherin tiba di depan rumah Tante Nila di komplek perumahan Pesona Khayangan Depok.
Rezza sibuk turun dari mobil, membukakan pintu untuk Sherin.. Tak lupa ia membuka bagasi dan membawakan setampah kue jajanan pasar yang dibelinya tadi tak jauh dari kontrakan Tebet, ada sebuah sentra jajanan pasar yang bisa dibeli on the spot.
"Masuk dulu yuk mas. Salamin tante-tante aku.."
"Beneran? Nanti aku disuruh nikahin kamu sekarang lagi.." Rezza bercanda.
"Lah bukannya kamu mau?"
"Iya aku sih mau banget.. Yuk masuk.." Sherin geleng-geleng.
"Assalamualaikum.." Sherin dan Rezza masuk pintu depan rumah itu.
"Waalaikumsalam.." semua ibu-ibu di sana menjawab salam Sherin dan Rezza.
"Sherin dan Rezza udah sampe.." Tante Rani yang duduk tak jauh dari pintu masuk memanggil mereka.
"Eh bentar aku taruh ini dulu di belakang." Rezza izin mau ke belakang bawakan tampah kue itu.
Rezza dan Sherin menyalimi satu per satu tante-tante dan sepupu-sepupu Sherin dari keluarga ibunya.
"Heyy. Rezza.. Apa kabar kamu?" Tante Nila memanggil Rezza.
"Alhamdulillah sehat tante. Tante Nila gimana kabarnya? Lama ya aku gak ketemu hehe"
"Tante pikir gak akan ketemu lagi lho sama kamu Rezza. Sini cipika cipiki dulu sama tante.."
Mereka pun cipika cipiki. Ya memang dulu Sherin sering menginap di rumah itu saat kuliah. Kalau ada kegiatan yang larut malam, daripada pulang ke Simprug, orang tua Sherin lebih mengizinkan ia pulang ke rumah Tante Nila karena dekat dari Kampus.
Rezza pun jadi lebih sering bertemu Tante Nila daripada Tante Rani dulu. Karena jika Sherin mau pergi-pergi, Rezza biasa diajak dan Tante Nila yang melihat sendiri Rezza jemput Sherin di sana, ataupun mengantarnya.
"Makasih ya Tante Nila, aku masih inget kebaikan Tante Nila waktu dulu kami masih kuliah aku sering jemput Sherin ke sini.."
"Iya Rezza, tante mah tau kamu laki-laki baik.. Ya kan Rani?" Tante Rani senyum-senyum.
"Tapi jangan keseringan tante, Sherin cemburuan kalo liat aku sama wanita lain.." Rezza ngejek Sherin. Semua tertawa.
Sherin marah gemes menampar pipi Rezza dengan lembut-lembut gemas.
"Yaudah aku tinggal dulu ya.. Permisi tante. Tante Rani. Semuanya." Rezza menggenggam tangan Sherin. Sherin antar Rezza ke mobil.
"Makasih ya mas, kamu hati-hati jangan jauh-jauh." Sherin senyum-senyum masih terpukau dengan cara Rezza mengambil hati keluarganya. Bahkan kue tampah tadi idenya Rezza.
"Iya sayang.. Sama-sama.. Aku kabarin nanti kalo aku nunggu di mana. Biar kamu gak khawatir, okay?" Sherin mengangguk lalu mencium tangan kanan Rezza. Rezza kecup kening Sherin.
"Wasalamualaikum.." Rezza pamit.
"Waalaikumsalam mas.."
Anya baru saja selesai mandi di kamarnya, baju-baju kotornya sudah dipisahkan dan baju-baju bersihnya dimasukkan ke lemari.
"Gue harus call Bang Rezza." Anya buka layar handphone-nya. Ia membuka recent calls. Memencet kontak Rezza.. Terdengar nada sambung.
Rezza sedang menyeruput kopi sambil melanjutkan membaca novel lawas koleksi orang tuanya dikejutkan dengan call masuk dari Anya.
"Kenapa Anya call??" Rezza berpikir sejenak lalu mengangkatnya.
"Bang.." Anya bicara dengan nada tegas.
"Eh Nya, iya kenapa?"
"Lo sama Sherin udah baikan?" Anya to the point.
"Hmm sejauh ini aman, udah baikan kok Nya. Thanks for your concern but.."
"Lo jahat sama Janice bang.." Anya memotong pembicaraan.
"Hah? Jahat? Gimana maksudnya nih Nya?"
"Lo gak inget kemarin lo ngomong apa soal Janice di depan owner-nya Execloth?" Anya nyolot. Rezza mencoba ingat-ingat.
"Soal apa Nya? Gue lupa. Lagian kok lo tau? Kan lo kemarin gak di sini pas anak-anak Execloth ke rumah gue." Rezza bertanya-tanya.
"Sumpah lo udah jahat banget. Lo ngomong sesuatu yang nyakitin buat Janice dan lo lupa gitu aja.. Dan asal lo tau bang.. Janice sakit hatinya liat lo sama Sherin kissing kemarin di kamar.. Lo ngundang dia ke rumah lo cuma buat ngeliat kek gitu? Dan lo ngerasa gak ngelakuin apa-apa? Gila! Kasian gue sama Sherin dapet cowok kurang ajar kaya elo." Anya tutup call-nya.
"Nya.. Halo.." Rezza lihat handphone-nya. Telepon sudah ditutup.
Rezza tak mau gegabah buru-buru call lagi Anya. Dia coba mengingat kejadian kemarin.
Ia benar-benar nyaris buntu apa yang bikin Anya marah-marah soal Janice barusan. Sampai ketika dia teringat kata-katanya soal Ardi tanya ke Janice.
"Astaga! Gue... Gue gak ngeh kalo kata-kata itu bikin Janice terluka. Astaghfirullah.. Gue harus minta maaf sama Janice."
Rezza ketik chat ke Janice.. "Janice, sorry mau tanya. Boleh aku call sekarang?" sent.
Janice sedang di kamar kosannya beberes barang-barang dan merapihkan baju bersih dari laundry. Notif chat masuk dari Rezza. Janice membaca itu, ia mengetik perlahan.
"Kenapa bang? Bisa kok call aja.." Janice balas chat itu.
Di rumah Tante Nila, Sherin banyak ditanya-tanya soal Rezza. Sherin lebih banyak diam dan senyum-senyum karena mamanya dan Tante Nila yang banyak jawab soal Rezza. Semua orang di sana sudah di-briefing oleh Tante Rani dan Tante Nila agar tidak membahas Dhika atau pernikahan Sherin sebelumnya. Mereka semua sudah tahu kalau Sherin saat ini sudah ketuk palu perceraian dari Dhika, dan Rezza sudah sangat siap meminangnya menunggu masa iddah-nya selesai.
"Jadi Sherin udah mantap kali ya sama Bang Rezza itu rupanya?" Tante Mona yang lama di Medan bertanya blak-blakan sama Sherin.