Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #30

Chapter 30

09.27 | Besoknya, senin pagi, Rezza dan Sherin tiba di RSPI klinik psikiater. Kak Vina yang tiba lebih dulu telah bicara tadi pagi dengan asisten Dokter Andrie untuk bisa Sherin ke sana.

"Mas.. Aku langsung masuk aja. Kan tadi Kak Vina udah ke sini." Sherin meminta ke Rezza.

"Gapapa?" Rezza meyakinkan, Sherin mengangguk pelan.

"Yaudah, aku tunggu di sini ya sayang.. Kamu kalo mau ditemani bilang aja."

"Iya masku sayang. Wait ya aku ke dalam dulu.." Sherin pamit masuk.

"Okay.. Semangat ya.. Love you.."

"Love you too, mas.." Sherin menghilang dibalik pintu.

Rezza duduk di kursi tunggu sembari membuka laptop-nya untuk mengecek beberapa pekerjaan.

Tak sampai 30 menit Sherin keluar dengan wajah rileks, tak ada sembab sedikit pun.

"Udah selesai sayang?" Rezza menoleh senyum ke Sherin.

"Udah mas.. Cepet ya?" Sherin menghampiri Rezza.

"Iya. Kamu baik-baik aja kan?"

"Aman kok mas, karena aku tau kamu ada di sini tungguin aku. Jadi aku tenang."

"Iya, Alhamdulillah kalo gitu ya.." Rezza elus lembut kepala Sherin. Dokter Andrie keluar.

"Pagi Pak Rezza.."

"Pagi dok.. Apa kabar?" Rezza berdiri sambil memegang laptop-nya, menyalami Dokter Andrie.

"Baik, saya baik.. Hmm to the point aja ya. Saya liat Bu Sherin hari ini baik. Tidak ada intensi akan memburuk kondisi psikisnya. Tolong tetap dijaga suasana hati dan pikirannya ya."

"Baik dok, jadi tidak ada resep apapun ya?" Rezza bertanya.

"Tidak, saya melihat tidak perlu konsumsi obat apapun saat ini."

"Okeh kalau gitu kami langsung pergi ya dok. Terima kasih banyak.."

"Sama-sama, hati-hati di jalan ya." Dokter Andrie perhatian.

"Mas, kamu udah ketemu Kak Vina?" Sherin tanya.

"Belum, tadi Kak Vina chat aku katanya langsung ada operasi pasien. Nanti aku chat ya di mobil."

"Okay mas. Kita langsung jalan ya, aku ikut ke kantor kamu. Aku kan hari ini cuti sakit."

"Yaudah yuk.." Rezza tersenyum. Di balik senyumnya Rezza ada kekhawatiran di kantor Sherin akan bertemu Anya, Janice, dan Icha. Rezza khawatir sekali Anya dan Janice akan marah ke Sherin seperti mereka marah ke Rezza kemarin.

Sampai di mobil Rezza buka handphone-nya lalu chat Kak Vina.

"Kak.. Aku sama Sherin udah selesai. Ini kita mau langsung jalan ke Kemang. Maaf ya kak gak bisa ketemu di RS. Makasih banget tadi pagi udah dibantu cek Dokter Andrie." sent


10.53 | Setibanya di gedung kantor K&B, Rezza dan Sherin turun dari mobil. Mereka berjalan menuju lobi.

"Mas. Aku ke lantai 2 ya mau diskusi sama Clarissa sekalian cek mereka hari ini."

"Okay sayang. Aku langsung ke lantai 3 ya. Udah mau mulai meeting-nya."

"Iya mas.." Sherin tersenyum hangat di depan lift, Rezza balas senyuman itu.

Lift membuka di lantai 2.

"Bye mas. Nanti aku ke lantai 3 ya.." Sherin hendak keluar dari lift, mengelus tangan Rezza.

"Okay, semangat ya hari ini.. Bye sayang." Rezza buru-buru mengecup kening Sherin.

"Makasih mas.. Kamu juga." Sherin mencium tangan kanan Rezza. Scene manis itu disaksikan oleh beberapa orang yang berada di lift itu. Sebagian dari kantor/perusahaan lain.

Tiba di lantai 3 Rezza langsung masuk ke ruang meeting.

"Morning guys.." Rezza duduk di tempat duduk favoritnya.

"Morning bang.." semua menjawab lesu. Di ruang itu ada Anya, Janice, Icha, Arina, Ojan, dan Sigit. Rezza satu deretan dengan Ojan dan Sigit sementara Trio IJA di seberangnya. Mereka semua memandang sinis ke Rezza. Arina, Ojan, dan Sigit merasakan ada yang aneh. Rezza tak menoleh, tapi ekor matanya merasakan hal itu.

"Mau mulai sekarang?" Arina berdiri di depan.

"Ya, silahkan Rin.." Rezza jawab lemah. Rezza menggunakan polo shirt abu-abu tua hari itu. Wajahnya terlihat sembab dan kantung matanya lebam. Anya dan Janice meski sedang marah dan kesal dengan Rezza sejak dua hari lalu, tetap ada rasa ingin tahu gimana keadaan Rezza. Mereka tetap masih khawatir melihat Rezza seberantakan itu. Icha lebih memilih cuek pada keadaan dan memperhatikan deck slide yang dibahas oleh Arina di depan.


11.42 | Selesai meeting, Rezza buru-buru hendak kembali ke ruangannya.

"Okeh, thank you guys.." Rezza bangkit lalu menutup laptop-nya cepat-cepat dan membawa serta tasnya ke arah ruangan. Anya dan Janice yang duduk mengapit Icha lihat-lihatan. Mereka memiliki misi yang sama.

Di ruangannya Rezza membereskan mejanya, menaruh laptop dan handphone di atas meja sementara tasnya ditaruh di bawah dekat dengan stop kontak. Tak lama Anya dan Janice masuk tanpa mengetuk.

"Bang.." Anya dan Janice memanggil barengan.

"Iya?" Rezza menengok dengan wajah sayu. Anya dan Janice yang tadinya hendak marah-marah jadi mengurungkan niatnya.

"Lo gapapa bang?" Anya buka suara.

"Bang Rezza pucet banget hari ini? Ada apa bang?" Janice menyambar.

"Ga apa-apa kok.. Makasih ya kalian masih mau peduli." Rezza senyum lemah.

Janice dan Anya saling pandang, mereka sepemikiran. Lebih baik jangan sekarang.

"Yaudah kalo gitu gue balik ke kubikal." Anya pamit.

"Iya Nya.." Rezza jawab. Janice masih mematung di sana.

"Ada yang mau dibicarain Jan? Kalo mau duduk aja." Rezza persilahkan.

"Bang Rezza. Aku mau.. minta maaf ya kalau kemarin aku udah marah-marah sama Bang Rezza."

"Gak apa-apa.. Aku emang salah, wajar kamu marah." Rezza menjawab dengan senyum tipis.

"Yaudah, kalo gitu kita damai ya bang.." Janice menyodorkan tangan kanannya jabat tangan.

Rezza berdiri, memandang wajah Janice dan tersenyum. "Makasih ya Janice."

Janice tak kuat ditatap begitu dalam dengan wajah yang pilu oleh Rezza.

"Sekali lagi aku minta maaf bang." Janice hendak melepas tangannya, Rezza menahan.

"Aku juga minta maaf ya Janice. Kamu wanita baik, aku udah jahat sama kamu." air mata Rezza menggenang. Janice pun jadi ikut terharu. Perlahan jabat tangan itu lepas.

Janice mengangguk dan senyum tipis. Ia membalikan badannya ke arah pintu, namun terhenti.

Janice menengok ke Rezza sekali lagi. Rezza masih berdiri di sana. Janice buru-buru memeluk Rezza. Mendekap tubuh Rezza dengan kuat. Air matanya jatuh di bahu Rezza. Janice berbisik,

"Aku sayang sama Bang Rezza.."

Rezza terdiam. Ia bahkan tak sanggup menggerakan tangannya untuk menyambut pelukan itu.

Beberapa lama Janice mengendurkan pelukannya, kemudian ia lepas. Rezza melihat wajahnya dalam-dalam. Rezza menggeleng perlahan. Janice paham apa maksud Rezza itu.

"Bang Rezza gak perlu jawab apapun, aku cuma mau abang tau itu. Itu yang aku rasakan sampe saat ini. Permisi." Janice balik badannya, membuka pintu lalu berjalan ke arah kubikal sambil mengusap air mata di pipinya.

Rezza mematung tak tahu harus apa. Kepalanya berat, perlahan kedua tangannya memegang kepalanya lalu ia terjatuh di sofa. Menundukkan kepala lalu berpikir keras.

"Gue harus gimana??" Rezza memejamkan mata.

Anya melihat Janice datang, ia lihat Janice seperti habis menangis. Bulu matanya basah.

"Lo gapapa Jan? Rezza bilang apa?" Anya khawatir. Janice menggeleng.

"Gak ada kok Nya, gausah dibahas ya." Janice menolak bicara soal itu. Icha hanya mengernyit bingung.


12.05 | Anya, Janice, dan Icha berdiri hendak keluar makan siang. Sherin datang menyapa.

"Siang girls.." Sherin datang dengan wajah ramah, Trio IJA agak kaget tapi mereka senyum.

"Hai.. Siang Sher..","Siang kak..","Siang mbak..", semua menyapa ramah. Mereka bertiga memang wanita baik luar biasa. Mereka paham kondisi psikis Sherin, dan juga tahu tadi pagi Sherin habis bertemu dengan psikiater. Trio IJA memilih untuk tetap ramah kepada Sherin meski mereka merasa muak dengan kehadiran Sherin di hidup mereka, di hidup Rezza lagi.

"Kalian mau lunch?" Sherin tanya.

"Iya nih, mau ke foodcourt biasa. Mau ikut Sher?" Anya berusaha ramah.

"Hmm aku sama Mas Rezza di kantor aja ya. Ini tadi aku pesen ojol, kasian Mas Rezza tadi pagi-pagi nemenin aku ke rumah sakit soalnya. Maaf ya gak ikut dulu.." Sherin say sorry dengan ramah.

"Ohh iya gapapa. Yaudah kalo gitu kita ke bawah dulu ya.." Anya pamit.

"Okay. Selamat lunch ya kalian.." Sherin mempersilahkan.

"Thank you.." mereka bertiga menjawab kompak.

Sherin lanjut masuk ke ruangan Rezza. Rezza sedang rebahan di sofa.

"Mas. Mas kamu kenapa?" Sherin buru-buru mendekat.

"Hmm sayang.. Gapapa kepala aku agak pusing." Rezza menjawab lemah.

"Yaampun, mau ke dokter mas?" Sherin memegang pipi Rezza lembut, ia merasakan suhu tubuh Rezza normal-normal saja.

"Nggak, gausah sayang.. Aku cuma mau rebahin badan aja sebentar."

"Yaudah aku temani ya mas.. Aku di sini jagain kamu." Sherin mengelus tangan Rezza.

"Makasih sayang." Rezza menjawab lirih dengan senyum tipis.

"Aku mau ambil air putih di pantry ya sayang.." Sherin izin keluar. Rezza mengangguk.

Sherin berjalan cepat ke pantry, hatinya khawatir. Ia takut Rezza sakitnya makin parah. Di pantry ada Seno, OB lantai 3 sedang menata barang-barang.

"Mas Seno, boleh minta tolong?"

"Eh iya bu, eh Mbak Sherin. Tolong apa mbak?"

"Bisa bawain dua gelas air putih sama ada obat sakit kepala gak? Mas Rezza lagi pusing."

"Oh gitu, ada mbak. Saya siapin ya."

"Iya makasih ya Mas Seno.."

"Eh iya mbak, mau dibuatin teh manis hangat sekalian?"

"Ohh, boleh mas tapi tolong air putih sama obat dulu aja ya. Tehnya nanti aja gapapa. Sekarang ya mas. Makasih.."

"Baik mbak, ditunggu sebentar ya.." Seno menyiapkan itu semua, Sherin balik ke ruangan Rezza.

"Mas.. Kenapa kamu laper ya?" Sherin lihat Rezza terduduk sambil mengecek makanan yang dibawa Sherin.

"Nggak, aku lagi liat aja kamu bawa apa."

"Aku beli nasi goreng tadi pake ojol. Kamu mau makan? Aku suapin ya mas?"

"Iya boleh, makasih ya sayang." Rezza menjawab lirih.

"Permisi." pintu diketuk Seno.

"Iya masuk." Sherin jawab.

"Permisi bang, mbak. Ini air putih sama obat sakit kepala ya.." Seno menaruh dua gelas air putih dan satu tablet obat yang dipotong dari kemasan besarnya.

"Makasi ya Seno.." Rezza say thanks.

Lihat selengkapnya