Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #31

Chapter 31

06.15 | Sherin dan Rezza baru selesai sarapan nasi uduk langganan mereka sambil menggeser dan memisahkan barang-barang yang hendak dipindahkan ke rumah baru.

"Kita bakal kangen sama nasi uduk ini nih mas. Semoga di sana ada yang jualan ya pagi-pagi.."

"Iya.. Aku gak khawatir soal jualan sih. Lebih khawatir kalo di Kemang masjid agak jauh-jauh. Keknya motor juga harus stand by di sana deh. Kan selama ini motor aku di rumah Lebak Bulus."

"Atau beli motor baru aja mas? Aku yang beli ya? Aku mau belajar motor deh. Motor listrik gimana?" Sherin ngide.

"Sayang.. Kamu gak boleh bawa motor sendiri. Bahaya. Lagian kan ada motor aku ngapain beli motor lagi, nambah-nambahin pemasukan aja buat negara." Rezza sensi.

"Ya kan motor kamu gede banget, aku takut nyetirnya."

"Gausah sayang.. Kalo sama aku aja pergi-pergi pake motor. Kalo sendiri mending pake mobil."

"Ihhh kamu mah.. Masa aku pinjem motornya Mbak Ani? Gak enak lah."

"Ya jangan, udah kamu gak usah ngide nyetir motor sendiri. Dengerin kata calon suami. Okay?"

"Iya iya.." Sherin bete.

Tak lama sebuah mobil pick up datang. Kernetnya turun dari pintu kiri. Melongok ke pintu kontrakan Hobbit yang terbuka.

"Permisi, atas nama Pak Rezza?"

"Iya betul mas. Sebentar ya saya sambil keluarin barang-barang yang mau diangkut."

"Oke siap, kita mundurin dulu mobilnya ya."

"Oh iya boleh mas."

Rezza dan Sherin bawa beberapa kotak kardus berisi baju-baju yang mereka simpan di kontrakan itu. Barang-barang lain seperti buku, kompor listrik, setrikaan, dan sebagainya juga sudah dimasukkan ke masing-masing kotak sesuai kategori.

"Pak, ini benar ya alamat pengantaran ke Jalan Villa Asoka Nomer 27, Kemang Timur, Jakarta Selatan? Titik kordinatnya sudah sesuai?" driver mobil pick up itu menanyakan.

"Oh iya benar kok mas. Sudah sesuai. Atau nanti kalo ragu, kita jalan bareng. Kami bawa mobil juga. Nanti saya lewatin Pancoran-Kalibata biar gak kena ganjil-genap ya."

"Oh boleh-boleh pak, oke kalo gitu. Ini kita naikin ke pick up ya pak."

"Silahkan mas, diatur aja. Kulkas juga bisa diangkut. Semalam udah saya matikan listriknya."

"Oke oke pak.." mereka jawab.

Beberapa waktu kemudian, Rezza dan Sherin meresapi sejenak kontrakan Hobbit itu. Walau cuma sebentar, tapi tempat itu cukup menjadi memori manis hubungan mereka berdua.

"Sedih ya mas, kirain tadinya kita akan ya bisa dua atau tiga bulan ke depan di sini. Eh ternyata cuma sebulan aja gak sampe.." Sherin menatap ruang kamar itu.

"Iya sayang.. Yaudah lah ya. Itu artinya Allah udah siapkan rencana yang lebih baik dari rencana kita."

"Bener banget kamu mas. Yaudah ya kita cukup farewell-nya sama kontrakan ini."

"Okay, yuk kita jalan.." Rezza menggandeng Sherin keluar dari rumah itu.


08.21 | Barang-barang tadi selesai diturunkan di rumah baru mereka di Kemang Timur.

"Mas, ini saya bayar cash ya.. Tadi di aplikasi 250 ribu kan?"

"Iya betul pak." si kernet menjawab.

"Yaudah ini ada 500 ribu lebihnya buat tips. Makasih ya."

"Wah makasih banyak ya pak. Semoga lancar rezekinya, sehat selalu, bahagia terus. Aminn.."

"Amiiinn.. Doakan saya sama calon istri saya lancar ya pernikahannya." Rezza minta doain.

"Pasti pak, kami aminkan. Kalau gitu kami permisi ya pak." driver dan kernet pick up itu pun pamit.

"Oke siap.. Hati-hati di jalan mas.." Rezza mempersilahkan mereka pergi.. Rezza masuk ke dalam.

"Mas aku online meeting dulu ya.." Sherin buka laptop di ruang tengah, duduk di sofa.

"Okay sayang.." Rezza melihat beberapa barang dan kotak yang tergeletak di ruang tamu.

"Ini mau dibantu dibereskan mas?" Mbak Ani nanya.

"Hmm.. Keknya nanti aja deh mbak, begini dulu aja. Tunggu perintah dari Sherin hehe."

"Oh gitu yaudah, Mas Rezza mau minum atau sarapan?"

"Wah gausah mbak, saya biasa bikin sendiri minumnya. Nanti aja."

"Oh yaudah kalo gitu aku lanjut bersih-bersih rumah ya mas."

"Iya silahkan Mbak Ani.." Rezza sebetulnya masih sungkan ada ART di rumahnya. Sejak kecil Rezza terbiasa di rumah tidak ada ART. Ia merasa tak nyaman kalau ada orang asing di rumahnya. Dulu waktu Tante Kirana sakit, terpaksa pake ART, mereka sekeluarga rasanya tidak nyaman di rumah.. Tapi karena kondisinya Sherin tidak boleh terlalu capek, mau tak mau ia harus membiasakan.

Rezza ikut membuka laptop di ruang tengah, mereka sebelahan sesekali bermesraan.

"Mas.. Jadi kamu gak ke kantor?"

"Nggak sayang, aku udah izin ke anak-anak mau WFH. Bang Hendro juga ga ada tanda-tanda ke kantor sih. Aman harusnya."

"Yaudah, nanti kita cicil beberes ya."

"Okay.. Kamu kalo takut kecapekan, bilang aja sama Mbak Ani minta bantuin."

"Iya mas. Tenang aja.."

Tak lama ada chat masuk.

"Mas, mobil aku udah ready. Udah bisa dianter. Ihhh aku seneng banget." Sherin menunjukkan chat dari sales mobil lalu memeluk Rezza erat-erat.

"Ih kok cepet banget kamu? Aku aja dulu nunggu sebulan." Rezza agak bete.

"Rezeki anak solehah mas.. Hehe" Sherin ngejek.

"Yaudah. Kamu jadi mau dipasangin sticker?" Rezza tanya.

"Mau mas. Sticker doff aja ya kaya mobil kamu.." Sherin merengek.

"Yaudah kalo gitu nanti minta dianter ke sana aja mobilnya, aku udah booking workshop-nya kok, tinggal aku kabarin."

"Yess. Makasih ya sayang.. Aku minta shareloc workshop kaca filmnya itu ya.. Biar aku share ke salesnya minta diantar ke sana."

"Okee ini aku share."

"Eh mas, ini dia nanya wall charger-nya mau dipasang di mana?" Sherin tunjukkan chat lagi.

"Ohh iya, rumah ini belum ada wall charger. Pasang di sini aja ya? Biar kita gak perlu charge di SPKLU sayang. Satu berdua. Romantis banget tuh mobil kita aja sweet banget." Rezza bercanda.

"Haha iya mas. Yaudah aku share alamat rumah ini ya buat pemasangan charger-nya."

"Okay sayang, ditanya aja dia mau pasang kapan. Nanti kita kasih tau Mbak Ani kalo kita pergi."

"Iya mass.." Sherin tampak sumringah. Mereka benar-benar sedang bahagia saat ini.


Siangnya sekitar pukul 13.30 Sherin dan Rezza tiba di Glow and Rise Car Window Film.

Salesnya berbeda dengan sales sebelumnya yang mengurus mobil Rezza.

"Siang Kak Sherin.. Kok ternyata udah punya Jaecoo J5 juga?"

"Eh iya Mbak Cita. Kita belum cerita ya? Haha" Sherin tertawa puas.

"Iya mbak, jadi saya beli duluan kan. Dulu inden ini satu bulan. Terus Sherin jadi pengen. Yaudah deh beli. Tapi bedain warnanya hehe" Rezza bantu jawab.

"Wah keren banget.. Jadi J5 couple dong? Nanti bikin konten kak, mas. Siapa tau viral hehe"

'Gatau aja kita udah pernah viral mbak.' dalam hati Rezza.

"Hehe iya mbak, ini aku serah terima sama plat nomer sementaranya ya?" Sherin memastikan.

"Iya Kak Sherin. Ini plat nomer sementara sudah kita pasang. Sama wall charger minggu depan atau paling lama dua minggu lagi tunggu antrian stok dari gudang ya kak. Tadi alamatnya sudah saya catat. Ini tinggal tanda tangan aja kalau sudah oke."

"Sebentar, saya sambil cek dulu ya kondisinya.." Rezza cek-cek dulu ditemani Koh Samuel pemilik workshop itu. Setelah beberapa lama, mobil dinyatakan all good.

"Okay, udah aman semua. Silahkan dilanjut serah terimanya." Rezza info ke Sherin dan Cita.

"Baik, ini silahkan ditandatangani ya Kak Sherin.."

"Okay mbak.." Sherin tanda tangan di beberapa kolom persetujuan konsumen.

"Jadi rencana mau doff atau glossy nih sticker-nya?" Koh Samuel tanya ke Rezza.

"Keputusan terakhir sih sama koh, doff juga kaya mobil saya." Rezza sambil melihat ke Sherin.

"Eh iya koh, aku maunya sama kaya mobil Mas Rezza ya.. Sama kaca film juga samain."

"Oke siap Kak Sherin, seperti kemarin ya.. Kurang lebih 3-5 hari pengerjaan."

"Siap, kabarin aja ya koh." Rezza memastikan.

"Aman boss.. Kalo udah saya anter juga bisa nanti haha" Koh Samuel bercanda.

"Eh iya ini mobil langsung di-detailing ya Kak?" Mbak Cita nanya.

"Iya mbak, aku ngiri liat mobil Mas Rezza tuh jadi ganteng banget." Sherin menunjuk ke mobil Rezza yang terparkir tampan di depan mereka.

"Wah iya, itu velg juga diganti ya Mas Rezza?" Mbak Cita kepo.

"Eh iya mbak, saya gerah liat velg aslinya kurang bagus. Hehe" Rezza jawab.

"Sumpah sih saya juga baru liat di sticker doff gini sama velg diganti, pantes Kak Sherin pengen.. Mau ganti velg juga kak?" Mbak Cita kompor.

"Aku sih tergantung calon suamiku mau beliin apa nggak.. Haha" Sherin menyenggol tubuh Rezza.

"Ya aku sih gapapa, mau velg apa beli seserahan? Hehehe" semua tertawa. Sherin gemes ke Rezza yang jawabannya kocak tapi menyebalkan.

"Yaudah kalo gitu aku duluan ya. Mau nganter lagi nih hari ini ada 3 unit delivery hehe"

"Wihh panen dong mbak, asik makan-makan di mana kita?" Rezza gantian kompor.

"Bisa-bisa, nanti kita janjian aja mas. Hehe" Mbak Cita berani sekali goda Rezza di depan Sherin.

"Hmm okay, kita juga mau lanjut jalan. Koh titip mobil ya.. Ini saya bawa dokumen-dokumen sama kunci cadangannya." Sherin pamit.

"Siap Mbak Sherin, Mas Rezza makasih ya.." Koh Samuel say thanks.

"Okayyy. Kita juga jalan ya.. Bye semuanya." Rezza pamit ke semuanya.


Malamnya Rezza dan Sherin tidur untuk pertama kalinya di rumah itu. Tadi sore Rezza meminta tolong Toni, sahabat karibnya, mengambilkan motor Rezza di rumah Lebak Bulus, lalu mengambilkan mobil Yaris Cross Sherin di parkiran kontrakan Tebet dibawa ke sana.

"Mas.. Tadi Toni kamu kasih berapa buat disuruh-suruh begitu?" Sherin sedang memakai beberapa skin care sebelum tidur.

"Hmm.. Gak sampe 500 ribu sayang."

"Ihh dikit banget, kasian tau dia dikasih segitu doang." Sherin marahin Rezza.

"Ya emang mau dikasih berapa?? Ojol aja seharian narik belum tentu dapat 300 ribu sayang.."

"Ya kan dia temen kamu mas.. Jangan pelit-pelit."

"Sayangg.. Hei. Toni tuh banyak uangnya. Dia tuh keliatannya kaya nganggur, tapi aslinya jadi makelar segala macem. Rumah, mobil, motor, sampe ruko dan gedung mall aja dia pernah makelarin."

"Iya mas aku paham, cuma jangan lah pelit-pelit. Kita kan gak tiap hari minta tolong sama dia."

"Iya sayang yaudah nanti aku tambahin."

"Okay mas. Tidur yukk." Sherin sudah selesai, mereka hendak tidur.

"Yukk.." Rezza mematikan lampu kamar, menyisakan lampu kecil di atas nakas.


05.30 | Sherin dan Rezza pulang dari masjid, mereka habis shalat Subuh bersama menunggang motor karena masjid terdekat yang agak besar berjarak sekitar 700 meter dari rumah mereka.

"Lho, Mbak Ani mau ke mana?" Sherin turun dari motor, Mbak Ani keluar rumah.

"Aku mau ke pasar beli bahan-bahan mbak. Mbak Sherin ada mau nitip?"

"Hmm, emang Mbak Ani dikasih pegang uang sama mama aku?" Sherin bertanya-tanya.

"Iya mbak, kemarin dititipin uang cash sama Bu Rani aku."

"Oalah, hmm di dalam ada beras sama telur gak? Aku titip beras sama telur aja keknya."

"Oh iya kebetulan cuma ada beras kemarin aku beli mbak 10 liter. Telur gak ada."

"Yaudah aku titip beli telur satu kilo aja, sama ayam potong juga deh ya mbak.."

"Oke, nanti aku belikan ya mbak. Mau titip sarapan juga?"

"Gausah mbak, kita udah beli sarapan.." Rezza nyamber.

"Iya beli sarapan buat Mbak Ani aja ya.. Kita udah beli.." Sherin kasih tau.

"Siap, aku ke pasar dulu ya Mbak Sherin, Mas Rezza.."

"Eh iya sama itu mbak, besok-besok kalo uang belanja habis kasih tau aku aja ya. Jangan bilang ke mama. Sama gajian Mbak Ani juga aku aja nanti, kasih tau ya mbak.."

"Oh kalo soal itu nanti mbak ngomong ke Bu Rani aja. Soalnya waktu itu aku dikasih tau Bu Rani katanya yang gaji aku tiap bulan dari Bu Rani gitu sekalian uang belanja."

"Yaudah kalo gitu nanti aku bilang mama ya mbak. Hati-hati mbak."

"Iya mbak, permisi dulu." Mbak Ani pergi membawa motornya.

"Yuk masuk mas.." Sherin membuka pintu rumah.


06.30 | Mereka sudah ganti baju, makan bersama di meja makan. Rezza dan Sherin tadi beli satu porsi nasi kuning dan satu porsi nasi uduk.

"Masih enakan nasi uduk yang di Tebet ya mas."

"Hehe iya sayang. Nanti kita cari nasi uduk yang lain deket sini ya.."

"Iya, kurang resep aku sama rasanya." Sherin agak menyesali.

"Sama aku juga, nanti jangan beli di situ lagi deh kecuali kepepet." Sherin mengangguk.

Lihat selengkapnya