Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #32

Chapter 32

08.17 | Sherin dan Rezza otw kantor Kemang.

"Oh iya sayang, aku baru inget. Kemarin Bang Hendro kasih aku saran untuk kita syukuran. Selametan rumah baru. Kita house warming gitu lah.. Kalo hari minggu kita buat acara gimana?"

"Minggu? Buru-buru banget mas, gak kecepetan?" Sherin tanya.

"Iya yang aku tau jangan ditunda-tunda sih sayang. Kamu mau? Kalo kamu mau, aku minta tolong Toni cariin sewa kursi untuk tamu-tamu yang hadir, terus sabtu malam diantar sekaligus kita tata sedikit biar bisa masuk banyak tamu. Gimana?"

"Iya boleh mas. Jam berapa? Aku mau infoin papa mama."

"Kalo kita undang anak panti asuhan gitu, bisa mulai dari jam 7 atau jam 8 pagi sayang, mereka akan pengajian dulu. Nanti tamu-tamu kita infonya jam 10 aja, lanjut tausiyah deh.

Aku cari katering ya.. Atau kamu ada kontak katering? Takutnya mama papa kamu komplain kalo kateringnya kurang enak." Rezza menjelaskan dan bertanya.

"Hmm ada sih, tapi aku ragu bisa gak kalo semepet ini. Nanti aku coba kontak ya."

"Okay sayang, makasih ya.. Nanti biar aku aja yang bayar semuanya." Rezza meyakinkan.

"Hah? Yakin mas? Kamu gak keberatan?" Sherin khawatir.

"Nggak sayang, kemarin kan mobil Subaru Forester aku udah laku, aku ada lah pegang uang sekarang hehe" Rezza jelaskan.

"Ya kan kamu mau beli mobil lagi buat kantor, nanti habis gajadi kebeli mobil kantor kamu mas."

"Nggak lahh, aman kok sayang. Gapapa, biar aku aja ya? Kan papa mama kamu udah beliin rumah, masa kamu juga yang ngurus syukuran. Nanti aku dibilang mokondo haha"

Sherin jujur tak suka perkataan Rezza barusan tapi ia tetap tersenyum. Ia merasa tak nyaman jika Rezza keluarkan uang pribadinya untuk keperluan mereka bersama. Sherin maunya dia yang provide atau minimal patungan, tidak 100% ditanggung Rezza begini.


08.45 | Rezza dan Sherin keluar dari lift lantai 2.

"Aku anter kamu ya sayang ke ruangan kamu." Rezza menggandeng Sherin masuk ke dalam office space Setara lantai 2. Melewati beberapa orang yang sudah di sana.

"Morning all.." Sherin dan Rezza menyapa mereka.

"Pagi Kak Sherin, Bang Rezza.." semua menyapa balik.

Mereka berdua masuk ke ruangan Sherin. Di sana sudah ada beberapa furnitur baru yang belum dilihat Sherin dan Rezza sebelumnya.

"Ih ini udah sampe mas. Aku seneng banget." Sherin menunjukkan sebuah lemari untuk di sudut belakang meja Sherin, di bagian atas ada slot untuk menaruh foto-foto.

"Bagus ya sayang. Taste kamu oke banget sih emang." Rezza mengelus pundak Sherin.

"Iya aku suka bangett.." Sherin happy banget.

"Yaudah sini aku bukain laptop kamu ya.. Aku bentar lagi ke atas, mau pada meeting jam 9. Nanti jam 11 aku pergi meeting sama Anya, Icha, dan Janice ya.." Rezza bercerita.

"Okay masku sayang.." Sherin masih sibuk membayangkan lemari itu mau diisi foto-foto apa.


09.18 | Sherin sedang duduk menatap layar laptop-nya.. Ia mengerjakan beberapa kerjaan kantor lamanya di sana. Tak lama kemudian Clarissa sambil menunduk, terlihat lewat membawa tas dan laptop-nya, berjalan cepat melewati lorong kantor menuju ruangannya. Sherin melihat dari balik kaca ruangan. 'Lho? Clarissa baru sampe? Kirain udah dateng dari tadi.'

Sherin melihat jam di laptop-nya, lalu berpikir sejenak.

"Masih bisa aku kerjain nanti, aku ke ruangan Cla dulu deh.." Sherin bicara sendiri, bangkit dari kursinya lalu pergi ke luar ruangan.

Pintu diketuk.

"Iya masuk.." Clarissa masih berdiri membereskan barang-barang di meja kerjanya.

"Morning Cla.." Sherin menyapa.

"Eh Kak Sherin.. Iya kak?" Clarissa menengok sejenak lalu kembali riweuh dengan barangnya.

"Cla.. Kamu kenapa?" Sherin mendekat, melihat wajah Clarissa sembab dan bulu matanya layu.

"Gapapa kak. Aku gapapa.." Clarissa senyum palsu ke Sherin.

"Hmm.. Yaudah kalo kamu belum mau cerita gapapa. Kalo ada apa-apa atau ada yang mau diceritain, let me know ya Cla.. Aku mau dengerin semua cerita kamu kok." Sherin berujar.

"Hmm iya kak.. Makasih ya. Thanks for your concern.." Clarissa kembali senyum palsu.

"Yaudah aku balik ke ruanganku ya Cla.." Sherin pamit, Clarissa mengangguk lemah.

Sherin menutup pintu lalu berjalan perlahan dari pintu ruangan Clarissa menuju ruangannya.

Clarissa melihat itu, menjatuhkan tubuhnya duduk di kursi sembari menutup wajah dan menangis tersedu-sedu.


Flashback semalam.

Clarissa tiba di sebuah rooftop restoran mewah di bilangan Gandaria, Jaksel. Di sana Hendro tiba lebih dulu, sebuah sudut rooftop diblok khusus untuk mereka hari itu. Di meja terdapat sebuah bouquet besar bunga mawar dan food trolley tak jauh dari sana. Tanda makanan sudah siap dan mereka bisa segera memulai dinner.

"Malam Clarissa.. Makasih ya udah mau datang." Hendro dengan senyumannya menyambut Clarissa. Cla hanya mengangguk sambil tersenyum tipisnya.

"Silahkan duduk, Cla.." Hendro memundurkan kursi untuk Clarissa. Kursi terbaik di rooftop restoran itu dan view-nya luar biasa bagus. Meski angin berhembus agak kencang, tapi karena bukan musim penghujan jadi udara tidak terasa dingin sampai menusuk kulit.

"Thank you, Bang Hendro.." Clarissa duduk di kursi itu. Hendro lalu duduk di kursi seberangnya.

"Hmm.. Mas, silahkan di-serve.." Hendro memanggil waiter. Food trolley dibawa mendekat, dibuka tutupnya lalu ada dua porsi steak daging impor yang harga seporsinya menyentuh jutaan rupiah. Kedua piring steak dihantarkan ke depan masing-masing Hendro dan Clarissa. Dua gelas air putih sudah menanti di meja untuk minum jika mereka hendak meminumnya. Tak lama waiter menuangkan sparkling grape soda sebagai pengganti wine mengingat mereka tidak minum alkohol.

"Please, enjoy.." waiter permisi pamit dari sana.

"Thank you.." Hendro jawab. Clarissa hanya tersenyum.

"Makan dulu yuk Cla.." Hendro mempersilahkan. Clarissa lagi-lagi hanya senyum mengangguk.

Mereka berdua menikmati sajian itu. Sirloin beef steak dengan mashed potato. Makanan itu tentu saja sangat enak, tapi Clarissa tidak bisa merasakannya karena benaknya kini dipenuhi berbagai pemikiran buruk tentang apa yang akan terjadi jika ia menolak Hendro.

"Oh iya. Cla, ini aku bawain bouquet bunga untuk kamu. Nanti dibawa pulang ya.."

"Oh.. Iya Bang. Makasih ya.." Clarissa senyum kecil. Hendro sepertinya mengetes respons Clarissa. Menurutnya respons Clarissa itu cukup positif.

Setelah makanan mereka habiskan, Hendro membuka pembicaraan serius.

"Cla.. Aku mau bicara sesuatu.." Hendro menatap dalam-dalam wajah Clarissa.

"Soal? Soal apa bang?" Clarissa pura-pura tak paham.

"Sekarang, aku merasa sudah yakin dengan pilihan aku. Aku mau kamu tahu soal pilihan aku saat ini. Tolong dijawab ya.." Hendro meyakinkan. Clarissa mengangguk dengan wajah ragu.

Hendro mengeluarkan sekotak cincin dari balik jasnya "Aku mau menikahi kamu Cla.."

Clarissa tercekat meski ia sudah duga akan ada adegan itu. Clarissa terdiam sejenak melihat cincin berlian itu berkilauan terpancar pantulan sinar bulan dan bintang malam itu. Ia sekali lagi berpikir untuk meyakinkan dirinya, apakah ia mau menerima atau menolak itu?

"Bang..

Aku..

Maaf.." Clarissa tak enak hati berkata jujur, ia gelagapan.

"Maaf tapi aku.. Aku belum memiliki perasaan sama kamu.." Clarissa meneteskan air mata. Ia tahu dia hanya berusaha jujur, tapi dia juga tak mau menyakiti perasaan Hendro.

"Kenapa Cla? Kamu masih butuh waktu?" Hendro bertanya. Clarissa menggelengkan kepalanya.

"Gak tau bang..

Aku bingung dengan perasaan aku sendiri..

Bukan salah kamu, ini aku yang salah. Aku minta maaf." Clarissa terlemas di kursinya. Hendro menutup kotak cincin itu.

"Apa yang ada di dalam hati kamu sekarang Cla? Bilang ke aku. Biar aku bisa bantu wujudkan."

Hendro menatap dalam-dalam Clarissa, Clarissa menggeleng lemah.

"Aku gabisa cerita.. Kalo aku cerita, semuanya akan kacau." Clarissa berbisik pelan.

"Kacau? Apanya yang kacau?" Hendro penasaran. Clarissa masih menggeleng kepalanya.

"Cla.. Kalau kamu belum bisa menerima perasaan aku, oke aku fine. Tapi kalo kamu gabisa sama sekali menerima perasaan aku sekarang dan ke depannya, aku perlu tahu apa yang ada di pikiran kamu! Biar aku bisa jalanin hidup aku lebih baik ke depannya, tanpa perlu berharap sama kamu lagi." Hendro ada benarnya, dia hanya mau kepastian. Tiga bulan lebih mereka didekatkan, tapi Clarissa tak kunjung beberkan perasannya. Hendro juga tersakiti di sini.

"Aku..

Maaf Bang...

Aku jatuh cinta sama pria lain.." air mata Clarissa pecah merembes.

"What? Tiga bulan aku dekat sama kamu, aku gak pernah lihat atau dengar kamu didekati pria lain. Siapa?" Hendro nadanya mulai meninggi, ia tak terima dengan pengakuan Clarissa barusan.

"Aku..

Aku jatuh cinta sama Bang Rezza.." Clarissa menangis kuat. Hendro terbelalak. Dia bingung apa yang dilakukan Rezza sampai Clarissa bisa jatuh cinta sama Rezza yang bahkan semua orang tahu sudah ada Sherin, calon istrinya.

Hendro berdiri, ia tak sanggup melihat Clarissa lagi. Ia sudah tak nafsu mendengar alasan apapun.

Hendro mengambil kotak cincin itu lalu pergi dari sana..

Clarissa masih terduduk di kursinya, melihat Hendro menghilang dari pandangannya. Ia menangis tanpa mengerti isi kepalanya yang tidak berkompromi dengan hatinya.

"Kenapa sih aku bisa jatuh cinta sama laki-laki lain yang bahkan segera menikah dengan wanita impiannya? Kenapa??

Aku merasa jadi perempuan tak beguna saat ini.. Bahkan Bang Hendro muak dengan aku." Clarissa bergumam sendiri, ia lalu melangkahkan kakinya.

Sempat menengok ke arah bouquet bunga itu. Tapi rasa tahu dirinya lebih kuat dari keinginannya membawa pulang.


Sherin terbengong di kursinya, di hadapannya ada Hendro yang baru saja menceritakan semuanya kejadian semalam. Sherin membuang pandangannya ke arah luar.

Beberapa saat lalu, Hendro tiba ketika Sherin balik dari ruangan Clarissa. Hendro ke sana untuk temui Clarissa. Tapi melihat Sherin, mendadak Hendro menghampiri Sherin.

Dan Hendro sudah ceritakan semua kejadian semalam.

Benak Sherin penuh sesak dengan segala pemikirannya sendiri. Dia yakin Rezza tidak melakukan apapun dengan Clarissa di belakangnya. Tapi kenapa ia tak terima mendengar wanita lain jatuh cinta pada Rezza? Apalagi wanita itu adalah Clarissa. Orang yang akan menjadi partner kerja Sherin di sana.. Otak Sherin merangkai satu persatu puzzle dan berencana melakukan hal yang tak berlebihan. Sherin ingin semua orang yang di sekelilingnya tidak dirugikan karena hal ini.

"Terus. Bang Hendro gimana? Mau berhenti kerja sama dengan Clarissa di Setara?" Sherin sadar betul, hal ini yang utama sekarang. Hubungan Hendro dan Clarissa yang kacau akan berdampak apa pada Setara KOL Agency.

"Gue akan biarin aja Sher. Gue gamau urusan sama Clarissa, jadi mungkin ke depannya gue akan diskusinya sama lo aja.." Hendro menjelaskan. Sherin meyakini Hendro tidak serta merta melepas Setara begitu saja usai hubungannya dengan Clarissa ini kandas.

"Oke kalo gitu.. Gue akan stay di sini untuk jadi perpanjangan mata dan tangan lo ya bang." Sherin menegaskan. Hendro mengangguk setuju.

"Tapi gue minta tolong ya.. Jangan bicara ke Mas Rezza dulu. Biar gue yang bicara ke dia ya. Gue khawatir dia akan ke-trigger kalau kalian berantem." Sherin memohon.

"Soal itu.. Jujur gue lebih meyakini Rezza gak ada perasaan apapun ke Clarissa. Dan gue jauh lebih dulu kenal lama dengan Rezza daripada Cla. Tapi kalau sampe gue tau, Rezza di belakang gue, di belakang lo juga, ada sesuatu sama Clarissa. Gue mungkin gabisa maafin dia.."

"Iya. Gue paham bang. Yaudah nanti gue bicara sama Mas Rezza ya.." Sherin mengambil sikap.

"Yaudah kalo gitu, gue. Gue balik aja deh. Tadinya gue mau bicara ke Cla buat ke depannya urusan komunikasi gue ke Setara bisa lewat lo atau lewat Sari, Sher. Tapi karena gue ketemu lo, gue harap lo bisa bantu komunikasiin ini ke Cla ya.."

"Got it, nanti gue bicara juga ke Cla ya bang." Sherin menyetujui. Hendro pun pamit dari sana.

"Gue pergi dulu.. Maaf ya Sher kalo ini jadi beban pikiran buat lo." Hendro berdiri dari kursinya.

"No.. Gapapa kok bang. Gue prefer dari awal gue yang tau dari pada Mas Rezza menyembunyikan dari gue. Gue akan lebih marah ke dia bahkan ke Cla juga." Sherin jelaskan

"Iya.. Gue paham. Yaudah gue permisi Sher."

"Thank you Bang Hendro.." Sherin menatap Hendro yang berjalan menjauh dari sana.

Sherin terduduk lemas. Dia tak mau gegabah kali ini. Dia juga khawatir sejak dengar cerita Hendro barusan, tapi Sherin lebih tak mau lagi kalau harus ribut dan berdebat dengan Rezza. Dia sudah janji untuk tidak sedikit-sedikit jeles ataupun ngambek ke Rezza.


12.05 | Sherin melihat Clarissa keluar dari ruangannya. Sherin yang sudah siap dari tadi, sengaja menunggu agar momen itu bisa seakan-akan kebetulan. Sherin keluar dari ruangannya membawa handphone.

"Hai Cla.. Lunch di mana?" Sherin menghampiri Clarissa dengan senyumnya.

"Eh kak.. Hmm keknya aku mau makan di foodcourt yang biasa pada makan di sana."

"Oh gitu.. Bareng yuk, aku makan sendiri juga."

"Loh, kok gak bareng Bang Rezza?" Clarissa tanya.. Sherin mengambil kesimpulan antara Clarissa memang tak tahu atau pura-pura tidak tahu.

"Hmm. Dia lagi meeting di kantor klien. Yaudah deh aku lunch sendiri.."

"Oh gitu, yaudah kak yuk bareng-bareng aja.." Clarissa mengajak Sherin makan siang bersama.

Mereka pun turun dari lantai dua menggunakan tangga karena tanggung pakai lift.

Clarissa dan Sherin jalan menuju foodcourt bersama sekitar 5 orang staf Setara lainnya. Sisanya bawa bekal dari rumah atau memilih tidak makan siang itu karena ada kerjaan.

Setibanya di sana, Sherin bertanya-tanya. "Kamu sering Cla makan di foodcourt ini?"

"Nggak juga sih kak, kalo anak-anak mau ke sini aku ikut. Kalau pada makan di warteg juga aku ayo aja makan di warteg. Lumayan ngirit. Hehe." Clarissa berusaha ramah.

"Iya sih. Aku juga sama Mas Rezza sering makan di warteg. Tapi itu dulu waktu kita kuliah. Sejak kerja dia membiasakan diri makan di tempat yang bukan warteg, takut aku gak nyaman katanya. Hehe" Sherin bercerita.

"Hmm, Bang Rezza perhatian banget ya sama kakak." Clarissa memuji.

"Yah gitu lah. Bucin banget dia sama aku.." Sherin pamer. Clarissa mengangguk.

Setelah mereka semua makan, Sherin kembali dari kasir.

"Guys semuanya, aku udah bayar ya.. Jadi kalian gausah bayar lagi." Sherin mentraktir.

"Eh kak.. Kok gitu? Repot-repot jadinya.." Clarissa berdiri.

"Gapapa Cla. Aku belum pernah traktir kalian kan. Jadi ini aku traktir maaf ya dadakan. Oh iya sama aku udah pesenin dua nasi goreng ayam dan satu mie goreng Jawa. Nanti dibawa ya buat yang di kantor belum makan." Sherin menjelaskan.

"Yaampun kak.. Repot-repot.." Sari menyelak.

"Gak repot kok Sar. Aku duluan ya mau ada meeting. Titip nasi gorengnya tungguin dan dibawain ya.. Makasih guys.." Sherin hendak pamit dari sana.

"Kak makasih yaa.." "Makasih banget kak." semua berterima kasih ke Sherin. Clarissa terbengong melihat Sherin.

"Sama-sama ya. Aku balik ke kantor duluan.. Bye guys.."

"Bye kak.." semua tersenyum ramah. Sherin memang pandai sekali mengambil hati orang lain.

Clarissa duduk sambil melamun. 'Bener-bener pantes aja Bang Rezza sebucin itu sama Kak Sherin. Dia kenapa perfect banget sih jadi cewek? Cantik, baik, anak orang terpandang. Aku merasa gak ada apa-apanya dibanding Kak Sherin..' gumam Clarissa di dalam benaknya dengan wajah murung.

Sherin sedang berjalan kaki panas-panasan balik ke arah kantor, tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara klakson dari mobil.

"Dinnn dinn.." klakson berbunyi dua kali.

"SAYAANGG.." Rezza memanggil Sherin.

"Mass?? Kok kamu sendirian? Yang lain mana?" Sherin bingung, tadi Rezza bilang meeting bareng yang lain.

"Yang lain pake mobil Anya.. Kamu masuk sini." Rezza ajak Sherin masuk.

"Tanggung mas dikit lagi sampe." Sherin jawab menolak.

"Temenin aku makan, hape aku mati tadi gabisa call kamu."

"Aku udah makan mas.." Sherin menolak.

"Temenin please.." Rezza memohon, mobil dan motor di belakang Rezza mulai klakson-klakson.

"Yaudah-yaudah.." Sherin buru-buru masuk ke mobil.

"Temenin aku makan ya."

"Di mana?" wajah Sherin nampak tak ramah. Rezza merasakan itu.

"Aku mau ajak makan di Pasta La Vela arah mau ke Senop ya.." Rezza tahu Sherin suka makanan di sana. Ia paham Sherin wajahnya bete dan perlu diajak makan enak.

"Aku kenyang mas tadi udah makan di foodcourt."

"Yaudah temenin aku. Kamu kok gitu sih gamau temenin aku?" Rezza mengetes.

Lihat selengkapnya