08.15 | Keesokan harinya, Sherin video call Rezza dari kantornya. Sherin baru saja tiba di ruangannya sembari bersiap meeting jam 09.00. Sementara itu Rezza baru saja jalan ke kantor. Mereka video call karena merasa tak mau melewatkan momen kebersamaan.
"Mas.. Kamu tau kan hari rabu tanggal merah?" Sherin bertanya.
"Iya sayang, kenapa??" Rezza tanya balik.
"Mau foto pre-wed di kampus gak kita mas? Kalo mau hari rabu aja yuk mumpung hari libur mass." Sherin ngide.
"Iya juga ya, nanti aku coba kontak Mas Gugi ya. Rabu bisa bantu bikinin izin ke security gak?"
"Yaudah, aku coba tanya ke fotografer kenalan aku yang di Pondok Indah ya mas."
"Boleh sayang, takutnya dia rabu ada kerjaan juga kan."
"Iya mas, yaudah nanti kabarin yaa.."
"Iyaa kamu juga. Aku udah mau sampe kantor sayang. Kamu semangat kerjanya hari ini.. Have a nice day.."
"You too mas.. Aku juga siap-siap mau ke ruang meeting ya.. Bye mas.. Love you.."
"Bye sayang.. Love you too.."
Video call pun berakhir.
11.20 | Ruangan meeting lantai 3 K&B, baru saja mereka semua selesai weekly meeting. Tak hanya core team member, pagi itu mereka meeting full team sekitar 14 orang belum termasuk intern.
"Thank you guyss.. Silahkan lanjutkan pekerjaan masing-masing. Have a nice day.." Rezza tutup meeting itu. Ia lalu berjalan keluar ruangan. Tak lama Clarissa memanggil dari arah lift..
"Bang Rezza.."
"Eh, hai Cla.. Ada apa?"
"Boleh ngobrol sebentar gak bang?" Clarissa nampak agak ragu-ragu.
"Hmm.. Di ruang meeting aja ya, gaenak di ruangan aku berantakan." Rezza beralasan.
"Oh iya boleh bang, yuk.."
"Oke silahkan masuk Cla.." Rezza bukakan pintu ruang meeting.
Clarissa duduk di salah satu sisi, Rezza memilih duduk di sisi lainnya. Rezza sengaja mencari posisi yang agak jauh agar tidak terlalu dekat dengan Clarissa.
"Jadi.. Ada apa Cla?"
"Hmm maaf ya bang, dari kemarin aku belum bisa ngobrol sama Bang Rezza.."
"Ohh iya gapapa Cla.. Kamu mau ngobrol soal apa?"
"Soal yang Bang Rezza pasti udah tau juga.. Minggu lalu aku sempat mengacaukan dinner sama Bang Hendro.
Aku.. Aku bilang ke Bang Hendro kalo aku..
Aku ada hati sama Bang Rezza.."
Rezza kaget, Clarissa membahas soal itu. Wajahnya cemas, ia khawatir akan ke mana obrolan ini dibawa Clarissa.
"Soal itu, aku merasa gak ada yang perlu dibahas ya Cla.. Jujur aku gak nyaman aja."
"Maaf ya bang. Tapi sebenernya, waktu itu..
Aku cuma mencari alasan untuk menolak halus Bang Hendro.."
"Hah? Maksudnya?" Rezza gak ngerti.
"Iya.. Aku bilang kan ke Bang Hendro kalo aku jatuh cinta sama Bang Rezza..
Tapi sebetulnya nggak gitu maksudnya."
"Lalu? Maksudnya apa Cla?" Rezza penasaran.
"Aku.. Jujur aku kagum dengan kamu bang. Kamu orang pertama yang bisa bikin mama aku memuji kamu di hari pertama dia bertemu cowok." Rezza mengernyitkan dahi.
"Iya waktu kita ketemu di.. Ginger and Gourmet Cipete sama mama aku, Kak Sherin, dan Tante Rani.
Mama aku berkali-kali memuji kamu Bang. Aku di situ sempat berpikir apa memang.. Memang kamu laki-laki yang cocok buat aku.."
"Cla, aku gak ngerti.. Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Kan kamu tau aku sama Sherin."
"Iya bang, aku pikir kamu sama Kak Sherin itu hubungannya biasa aja.
Aku sempat berpikir liar bisa aja kamu dan Kak Sherin suatu saat gak lanjut lalu aku bisa masuk ke hati kamu.."
Rezza kaget sekali, Clarissa yang awalnya dia pikir wanita yang rumit soal hati, ternyata bisa semudah itu menaruh hati padanya padahal dia merasa tak melakukan apapun.
"Cla, please ya. Aku merasa obrolan ini semakin gak terarah.."
"Wait bang, aku bilang ini bukan untuk menarik simpati kamu. Aku akhirnya sadar, setelah kemarin. Dinner kemarin sama Bang Hendro.
Ya mungkin aku dipertemukan sama kamu untuk belajar. Belajar menerima kenyataan kalau gak semua yang aku harapkan, ada di depan mata, bisa aku upayakan. Sekarang aku sudah menjalani hubungan dengan Bang Hendro. Aku bilang ke Bang Hendro untuk kita take it slow, mencoba menggunakan kesempatan ini untuk jalanin sebagai.. pacar sama dia."
"Cla.. Maaf ya.. Aku hargai apapun itu, kamu punya perasaan sama siapapun, aku sangat menghargai itu. Tapi kalau kamu ke sini untuk bicarakan soal perasaan kamu, aku tadi sudah bilang aku gak nyaman.
Maaf ya.. Sebaiknya kita jangan bicara berdua seperti ini. Aku gamau Sherin jadi salah paham walaupun dia lagi gak di sini sekarang.." Rezza bangkit dari kursinya.
"Aku permisi ya.." Rezza hendak berlalu keluar ruangan. Tiba-tiba Clarissa memegang tangan Rezza. Pertama kalinya mereka bersentuhan fisik dengan adanya sesuatu di antara mereka.
"Bang.. Maaf.. Aku cuma mau.. Intinya cuma mau bilang dari mulut aku sendiri. Kalau aku punya perasaan sama kamu. Tapi aku sudah memilih untuk menjalani hubungan dengan Bang Hendro sekarang. Itu aja bang.. Maaf ya kalau aku ganggu dan buat Bang Rezza gak nyaman.." wajah Clarissa tiba-tiba sendu. Ia memberanikan diri datang ke sana memang tidak mengharapkan apapun, tapi melihat respons Rezza seperti itu membuat Clarissa cukup sakit hatinya.
"Aku permisi ya bang.." Clarissa melepas pegangannya, keluar dari ruangan itu.
Rezza mematung tak tahu harus apa. Ia berjalan perlahan dari ruangan meeting itu, di depan pintu Rezza menengok ke arah Clarissa yang sedang menunggu lift terbuka. Rezza menatap figur samping Clarissa yang memang cantik itu dengan penuh kebingungan.
'Apa yang akan terjadi ke depannya? Apa Clarissa tau kalau Sherin tak suka dia menemui Rezza seperti ini?'
18.20 | Rezza baru saja tiba di rumah. Sherin sudah lebih dulu pulang dari setengah jam yang lalu.
"Hai sayang.. Assalamualaikum.." Rezza membuka pintu.
"Waalaikumsalam mass.." Sherin sedang duduk di sofa sambil membuka laptop-nya.
"Kamu ngapain? Masih ada kerjaan?" Rezza mendekat.
"Aku.. Lagi ini mas.. Lagi ngecek beberapa update dari Kaluna dan Yoza."
"Ohh, ada update apa?"
"Nihhh.. Keknya aku tertarik sama ide yang ini mas.." Sherin menunjukkan layar laptop-nya.
Rezza tersenyum sumringah lalu mengangguk beberapa saat, lalu melihat ke arah Sherin.
"Aku suka sayang.. Kamu suka?" Rezza bertanya dengan excited.
"Suka banget mas.. Jadi ini aja ya?" Sherin sumringah.
"Iya. Okay sayang.." Rezza mengangguk..
07.40 | Rabu pagi, Rezza dan Sherin sedang berdiskusi dengan fotografer dan dua orang lainnya yang diyakini sebagai MuA dan asisten fotografer.
"Okay, jadi di FISIP kita ambil sekitar 5 spot, di luar FISIP ada di depan gedung rektorat, di danau samping Masjid UI, sama di Perpus Pusat ya kak? Mas?" tanya Galih, fotografer hari itu.
"Iya betul Mas Galih, yang di sini kita bisa santai karena udah izin. Yang di luar FISIP nanti kita colongan, makanya pake bajunya juga yang biasa aja. Aman kan?" Rezza memastikan.
"Aman dong mas.. Yaudah yuk kita mulai sebelum mataharinya tinggi."
"Yukk.. Ini baju pertama kita udah ready kok tinggal touch up dikit aja.." Sherin excited.
Tak berapa lama mereka mulai foto-foto mengenakan outfit ala anak kuliahan. Rezza sampai mencari frame kacamata lamanya yang dulu ia pakai saat kuliah. Rezza pakai dua outfit anak kuliahan, satu menggunakan kaos hitam dengan sablonan Stitch yang menggemaskan, kaos favoritnya masa kuliah dulu yang masih tersimpan rapih di rumahnya. Lalu opsi dua menggunakan flanel tebal yang ia pernah pakai saat kuliah juga berwarna kotak-kotak merah-hitam. Celana Rezza saat kuliah adalah jeans donker yang baggy dan ketat, tak lupa Converse klasik dengan kaus kaki putih semata kaki. Rezza benar-benar terlihat lebih muda hari itu. Sherin pun meresapi kenangan mereka dulu waktu kuliah.
"Sumpah ya liat kamu pake kaos Stitch ini beneran keinget semua momen sama kamu di kampus mas. Kaos favorit kamu walaupun gak cocok sama profil ya." Sherin meledek, semua tertawa.
"Kamu juga, kaos ketat kamu plus cardigan panjang gini plus perintilan serba ungu, aku inget momen kita 16 tahun lalu. Ini tas favorit kamu kan?" Rezza bertanya sendu.
"Iya mas. Tas ini selalu aku simpan baik-baik." tas ungu itu adalah saksi bisu perjalanan Sherin dari kuliah, lulus kuliah, hingga akhirnya berpacaran dengan Rezza.
Sherin yang gunakan kaos sporty ketat berwarna hitam, cardigan coklat tua, rambut dikuncir dengan celana jeans denim dan sepatu Skechers putih membuat Rezza kembali teringat masa itu, masa di mana Sherin dekat dengannya tanpa status. Setengah mati Rezza menahan perasaannya dulu karena tak yakin dengan statusnya Sherin yang anak orang terpandang dan salah satu gadis populer di kampus.
Mereka pun foto-foto di depan gedung Komunikasi dengan beberapa pose. Tak lupa properti mereka ala-ala sedang belajar bersama di salah satu meja di selasar samping. Sherin juga minta pose digendong di belakang Rezza karena mereka dulu sering melakukannya semasa muda.
Setelah itu mereka berpindah di beberapa spot lain seperti Broadcast Centre, Kantin Takor, Teater Kolam, dan kursi santai di salah satu tanah lapang di FISIP.
Setelahnya, mereka ganti baju yang lebih formal. Mengingat ketika mereka semester akhir sidang harus gunakan kemeja yang sopan. Rezza gunakan celana chino hitam, sepatu low-boots coklat, lalu menggunakan kemeja lengan panjang berwarna maroon dengan dasi hitam. Rezza diejek seperti musisi jazz oleh Sherin sejak dulu ketika pakai pakaian itu.
"Kamu kaya lagi manggung di JGTC (Jazz Goes To Campus) mas! Hihi" Sherin tertawa.
"Iya nihh.. Jangan lupa ya beli tiketnya! Haha" Rezza pasrah diejek oleh Sherin seperti itu.
Mereka foto-foto di dalam gedung Kom seakan sedang menunggu atau setelah sidang. Lengkap dengan property buku-buku, laptop jadul, dan buku jilid.
Sekitar jam 10.00 Mas Gugi yang dulu Sherin dan Rezza tau adalah admin Departemen Ilkom, sekarang sudah menjadi Sekretaris Departemen, datang menemui mereka di depan gedung Kom saat sedang break outfit kedua.
"Mas Gugii.." Sherin memanggil.
"Pagii Sherin dan Rezza..."
"Pagi mas.. Makasih ya udah bantuin urus izin hehe" Rezza menyalami Mas Gugi.
"Iya makasih banyak ya mas.. Udah mau kita repotin haha" Sherin juga say thanks.
"Nggak kokk. Aman.. Cuma gini doang gak ngerepotin sama sekali. Btw udah mulai foto-fotonya?"
"Udah mas. Ini tinggal satu outfit lagi, outfit paling GONG sih nih mas!" Rezza teasing.
"Hah?? Pake outfit apa?" Mas Gugi penasaran..
"Saya pake jas formal, Sherin pake kebaya, terus nanti satu foto pake Jaket Kuning Almamater, satu lagi pake Toga Wisuda. Hahahaha.."
"Oalahh, jadi konsepnya malah kaya baru foto wisuda? Hehe"
"Iya mas.. Soalnya dulu kita wisudanya gak barengan kan. Jadinya yaudah deh mumpung di sini, dan mumpung kita masih nyimpen toga dan Jakun (jaket kuning) mas.."
"Iya-iya, sekalian lah yaa.." Mas Gugi nampak memaklumi.
Rezza dan Sherin mengganti baju di toilet lantai 1 gedung Kom. Sherin memakai kebayanya, dibantu Rezza di dalam toilet. Rezza berganti celana panjang hitam dan kemeja putih lengan panjang. Mereka saling memperhatikan pakaian yang masing-masing kenakan.
Setelah selesai, Sherin ke mobilnya untuk catok rambut dan dibantu buatkan sanggul oleh MuA yang bernama Alma. Sherin tak mau catokan di gedung kampus karena merasa listrik yang disediakan ia tak berhak pakai karena sudah lulus bertahun-tahun lalu. Kebetulan mobil Sherin Jaecoo J5 hijau itu juga sudah dilengkapi dengan stop kontak dengan output watt yang besar. Jadi bisa mencatok rambut di dalam mobil sekaligus menikmati AC di kabinnya.
11.10 | Sherin sudah selesai disanggul ala pramugari rambutnya, dengan make up minimalis yang tetap memancarkan kecantikan wajah imutnya. Rezza pun sedari tadi sudah siap dengan rambut dipakaikan pomade dan disisir ke belakang. Visual mereka berdua benar-benar menawan walau Rezza memiliki kulit yang sedikit lebih gelap dari Sherin. MuA pun coba sedikit bantu dengan bedak foundation di wajah Rezza, tapi tak terlalu tebal.
Mereka foto-foto dengan jas dan kebaya di depan gedung Kom, lalu di dalam yang ada dekorasi name plate Departemen Ilmu Komunikasi, lalu foto-foto di halaman depan FISIP yang terdapat name plate Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Cuaca cukup panas tapi terbantu dengan beberapa awan tebal. Setiap kali pindah lokasi juga mereka gunakan mobil jadi bisa cukup terbantu oleh AC kabin mobil.
Rezza dan Sherin mencoba kenakan jubah toga beserta topi dan kalungnya saat di depan name plate FISIP tadi. Karena cuaca panas dan matahari yang jatuh tepat di atas, foto mereka kurang terlihat natural, shadow terlalu keras. Akhirnya Galih menyarankan foto di teras-teras gedung FISIP yang mencirikhas tembok bata merah yang melambangkan warna fakultas oranye itu. Mereka akhirnya foto bersama mengenakan toga dengan berdampingan, serasi, walaupun telat 12 tahun lamanya mereka akhirnya foto bersama.
"Udah yuk mas.. Gerah banget ampun aku." Sherin mengeluh dengan mengernyitkan wajah, namun wajahnya tetap cantik berbinar. Rezza malah tertawa.
"Kamu pake kebaya lho, harusnya masih adem. Aku pake jas ini, mana ngetat banget aku punya jas. Haha" semua pun tertawa.
"Yaudah kita mau foto di depan gedung Rektorat sama Perpus pake ini apa ganti?" Sherin tanya.
"Ya aku sih maunya pake ini, kita pake mobil aja ke sana terus colongan."
"Tapi saya gak janji akan bagus ya mas, soalnya mataharinya keras banget nih," Galih berkata.
"Iya aman Mas Galih, yang penting kita ke sana dulu aja coba dulu."
"Okay.."
Akhirnya mereka berangkat pakai mobil. Rezza menyetir, Sherin duduk di sebelahnya. Di kursi belakang Alma, Galih, dan Trias, asisten fotografer ikut.
"Udah sampe di gedung Rektorat nih. Kita parkir di parkiran Balairung, fotonya ke arah sana biasanya mas.." Rezza tunjuk ke belakang sambil menyetir.
"Oh iya gedungnya nampak ke sini ya."
"Iya betul. Yuk kita turun.."
Sherin nampak sudah lelah, tapi mereka tetap mencoba turun. Ternyata semesta mendukung, ketika mereka turun tiba-tiba gerombolan awan tebal menutupi matahari sehingga shadow pencahayaan tidak terlalu keras.
Sherin dan Rezza pun pose beberapa kali gunakan jas dan kebayanya, bahkan ada pose Sherin digendong di depan oleh Rezza. Walau Rezza ngos-ngosan tapi hasilnya sangat bagus. Cepat-cepat mereka kenakan toga dibantu oleh Alma dan Trias. Mereka pun kebagian foto kenakan toga wisuda dengan latar gedung Rektorat itu.
"Yess dapet ya mas?" Rezza happy banget karena merasa cahaya matahari sepanjang mereka di sana cukup soft tertutup awan.
"Harusnya dapet nih.. Nanti kita cek di laptop ya.."
"Aminn.. Semoga aman deh." Sherin wajahnya sedikit lega.
"Yaudah kita lanjut foto di Masjid UI habis itu Perpus ya mas.." Rezza mengajak segera.
"Okay, yuk.."
Mereka pun benar-benar dilancarkan siang itu, ketika foto di dua lokasi lainnya mereka juga mendapatkan pencahayaan yang bagus. Bahkan Sherin dan Rezza sempat buat beberapa konten video yang akan mereka update di akun bersama mereka nanti.
Terakhir, Sherin dan Rezza kembali ke gedung Kom FISIP untuk pamit ke Mas Gugi, kendaraan tim fotografer juga diparkir di sana. Sambil Rezza dan Sherin berganti baju untuk pulang serta Rezza minta disalinkan foto-foto mereka seharian itu langsung ke laptop-nya.
"Mas Gugi.." Rezza dan Sherin menghampiri ruangannya usai ganti baju.
"Hey.. Rezza dan Sherin. Gimana?"
"Udah mas. Sudah selesai Alhamdulillah.." Rezza jelaskan ke Mas Gugi.