Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #34

Chapter 34

08.10 | Sherin dan Rezza tiba di kantor Sherin di Sunter.

"Mas. Nanti siang kamu jadi ke sini?" Sherin tanya dengan wajah sumringah. Semalam dia lega sudah mengeluarkan semua uneg-unegnya dengan Rezza.

"Iya sayang.. Aku meeting dulu di kantor ya..

Habis lunch aku ke sini temenin kamu di sini. Kan kamu last day besok, jadi aku bantu-bantu beresin barang-barang kamu ya.."

"Makasih ya masku sayang.. Aku benar-benar beruntung punya kamu di hidup aku."

Rezza tersenyum sumringah. "Iya sayangku.. Aku bukain pintu ya!" Sherin mengangguk manja.

Rezza menggeleng kepala sambil senyum sumringah. Lalu ia turun dari mobil, menuju pintu samping dan membukakan pintu untuk Sherin.

"Mana sih sayangnya aku yang manjalita? Sini aku bukain seatbelt-nya.." Rezza memasukan setengah badannya lalu membuka seatbelt Sherin. Sengaja ia begitu kode untuk dicium, Sherin pun gercep cium pipi kanan Rezza, pipi kiri, dan bibir.

"Sherin.. Rezza.." Bu Donda yang baru turun dari mobilnya di depan mobil mereka memergoki Sherin sedang mencium calon suaminya itu.

"EH BU DONDA?" Sherin dan Rezza panik.

Bu Donda berjalan ke arah mereka dengan wajah datar. Sherin buru-buru turun dari mobil hampir terjatuh karena pakai heels 5 cm. Rezza sigap menangkap tubuh Sherin, lalu mereka berdiri sebelahan di depan mobil. Bu Donda pun berkata.

"Sweet banget sih pagi-pagi cium-ciuman?" Bu Donda tertawa kecil. Rezza dan Sherin pun bertatap-tatapan sambil merapatkan bibir masing-masing dan tersenyum karir.

"Pagi ibu. Apa kabar?" Rezza menyalami Bu Donda.

"Kabar baik Rezza. Mobil baru?"

"Eh iya bu, aku mau nyobain mobil listrik. Yaudah deh aku beli ini. Hehe" Sherin merasa tak enak karena mobil itu bukan bagian dari grup kantor Sherin itu.

"Bagus mobilnya, catnya matte ya?" Bu Donda mendekat lalu memegang kap depan mobil.

"Eh ini sticker sih bu.. Kebetulan sebelumnya saya pasang sticker matte atau doff ini di mobil saya, terus Sherin pengen. Hehe"

"Bagus ya.. Ibu jadi pengen deh pasang ini." Bu Donda menunjuk mobilnya, sebuah mobil Innova Zenix warna silver yang tadi ia tumpangi dan disupiri.

"Bisa bu. Nanti kalo mau pasang di tempat kami pasang juga saya ada kontaknya, tinggal janjian. Tapi lumayan sekitar 3 sampai 5 hari kerja."

"Yah lama ya, saya soalnya di rumah mobil pada masing-masing sih. Jadi kalo ada mobil yang di bengkel jadi repot.." Bu Donda sambil melihat ke sisi samping mobil.

"Hehe iya bu, soalnya banyak kan dipasang se-body mobil.." Rezza jelaskan.

"Yaudah, nanti deh kalo ibu mau pasang ku kabarin Sherin ya Rezza."

"Siap Ibu Donda, boleh kabarin Sherin aja.." Sherin dan Rezza masih kikuk.

"Yaudah yuk Sher masuk.." Bu Donda ajak masuk bareng.

"Ayo buk.." Sherin melepas tangan Rezza. "Bye mas.." Rezza mengangguk malu.

"Oh iya Rezza.." Bu Donda memanggil.

"Iya bu?" Rezza kaget.

"Itu ada bekas lipstik di pipi kanan.. Haha" Rezza langsung menutup kedua pipinya pakai tangan.

"Aduh, iya makasih bu, eh maaf bu. Yaudah saya permisi ya bu. Selamat pagi, have a nice day semuanya.. Bye sayang.." Rezza buru-buru masuk mobil lalu Sherin senyum-senyum sambil berjalan masuk ke arah lift. Bu Donda geleng-geleng sambil tersenyum.


09.20 | Rezza di ruang meeting lantai 3 sendirian. Ia tadi langsung ke ruang itu karena sebentar lagi meeting segera dimulai. Ia duduk di posisi dekat pintu masuk, laptop-nya terbuka sedang membuka-buka foto kemarin. Rezza senyam-senyum sambil menatap foto mereka dalam-dalam.

"Seneng banget rasanya, kembali ke kampus.. Sama Sherin. Bisa foto-foto. Makasih Ya Allah aku dikasih kesempatan bahagia seperti ini. Bersyukur banget." Rezza bicara sendiri.

"WOY! Pada ngapain sih?" Sigit baru tiba kepo mereka pada ramai-ramai kumpul di depan pintu ruang meeting, Rezza balik badan.. Kaget ternyata anak-anak kantornya sedang mengintip laptop Rezza yang membuka foto-foto kemarin.

"Kalian ngapain?" Rezza agak marah karena kaget.

"Eh maaf bang. Ini kita mau meeting kan?" Icha senyum-senyum konyol. Diikuti yang lain, Arina, Janice, Anya, Ojan, Sigit, dan beberapa anak kantor lainnya yang jarang ikut meeting bersama. Mereka memasuki ruangan itu. Mendadak ruangan jadi sumpek rasanya. Rezza langsung menutup layar laptop-nya dan menunduk malu. Meeting pun dimulai dari Arina yang membuka obrolan.


11.52 | Rezza, Arina, Janice, Icha, Anya, Sigit, dan Ojan akan lunch bareng di Blue Collar coffee and resto tak jauh dari kantor. Mau makan enak karena habis gajian. Tapi karena kalau jalan lumayan, mereka pergi pakai dua mobil. Mobil Anya dan mobil Sherin yang dibawa Rezza. Icha, Janice dan Arina di mobil Anya. Cowok-cowok di mobil Rezza.

"Eh bang. Bukannya mobil lo warna silver atau abu-abu ya?" Anya turun dari mobil hampiri Rezza.

"Oh iya Nya. Ini mobil Sherin. Dia pengen punya juga tapi beli beda warna. Hehe"

"Duh ilah bucin banget bang. Mobil aja sampe samaan." Arina nyaut.

"Beda ye bucinnya bos-bos. Samaan mobil. Chuakss..." Sigit asbun, semua tertawa kecuali Janice dan Icha yang tampak bete. Rezza geleng-geleng.

"Yuk ah masuk, belum reservasi kan kita. Ntar gak dapet duduk lagi." Rezza ajak masuk.

"Yuk bang.." semua buru-buru masuk.

Sherin di restoran Raja Rasa di daerah Cempaka Putih, makan siang bersama dengan divisi Marketing bareng Ibu Donda.

"Sher.. Besok kita makan-makan di mana?" Mbak Devi tanya.

"Eh iya.. Kalo di sini lagi bosen ya?" Sherin tanya.

"Ya bebas kok Sher.. Jangan jadi bebanin kamu." Bu Donda bijak.

"Hmm iya sih bu, nanti aku coba cari resto lain yah." Sherin sambil buka handphone-nya.

"Iya. Kita udah kosongin jadwal kok besok malem. Ya kan bu?" Mas Farhan memastikan.

"Iya Sher. Nanti infoin aja ya.." Bu Donda sepakat dengan Mas Farhan.

"Oke bu. Pokoknya nanti aku infoin." Sherin meyakinkan semuanya. Sambil video call Rezza.

"Sayang.. Kamu di mana??" Sherin mem-video call Rezza.

"Aku lunch di Blue Collar nih sayang. Sama anak-anak kantor, abis gajian jadi pada sombong makan di sini haha" semua yang mendengar ikut tertawa.

"Haha yaudah. Selamat makan siang masku sayang.. Aku di Raja Rasa ya sama Bu Donda, sama tim marketing juga."

"Okay sayang.. Kamu makan apa?" Rezza perhatian.

"Aku pesen ayam bakar madu. Kamu makan apa?"

"IHH aku mau." Rezza manja tanpa sadar diperhatikan tak hanya timnya sendiri tapi juga diperhatikan oleh timnya Sherin. Semua senyum senyum melihat itu. Apalagi video call suaranya cukup keras pakai loud speaker.

"Kamu mau? Yaudah aku pesenin ya buat nanti." Sherin menawarkan.

"Eh gausah deh.. Aku juga pesen makan banyak di sini."

"Pesen apa kamu mas?"

"Aku pesen pasta creamy garlic fettucine dan ayam lada hitam tanpa nasi. Hehe"

"Ya Allah kamu abis nyangkul? Banyak banget makannya." Sherin asbun, semua ikut tertawa.

"Sayang jangan asbun gitu ah. Malu tau diketawain."

"Ya kamu gatau malu makan banyak banget." Sherin gak mau kalah.

"Iya-iya.. Laper kan tadi pagi kita makan roti doang."

"Yaudah aku makan dulu ya sayang. Ini pesenan aku udah sampe." Sherin hendak menutup call-nya.

"Okay.. Met makan ya. Bye, love you.." Anya, Janice, dan Icha agak tersedak mendengar itu. Pertama kalinya mereka mendengar Rezza ucap love you di hadapan mereka, tapi untuk Sherin.. Menyesakkan.

"Iya mas. Love you too.." Sherin lalu menutup video call-nya.

"Astaga Sherin. Bucin banget sih kamu sama Rezza." Bu Donda sampai heran. Di dalam benaknya dulu Sherin sama mantan suaminya tak pernah sampai begini. Bahkan waktu Sherin dan Rezza masih bersama dulu, gak segininya juga.

"Hehe iya maap bu. Mas Rezza tuh manja banget orangnya." Sherin menyalahkan Rezza.

Semua orang di dekat Sherin senyum-senyum dan tertawa tipis mendengar itu.


14.50 | Rezza tergesa-gesa tiba di lantai 7 gedung kantor Sherin.

"Misi mbak, mau ke ruangan Sherin ya.." Rezza bicara ke resepsionis lantai 7.

"Oh oke mas, saya bukain akses ya.."

"Siap, makasih ya.." Rezza buru-buru ke ruangan Sherin. Membuka pintu lalu masuk.

"Sayang.. Maaf ya aku telat. Aku ada meeting dadakan tadi." Rezza mendekatin Sherin.

"Iya gapapa mas.." Sherin nampak lesu di kursinya. Rezza mencium kening Sherin.

"Kenapa? Kok bete? Kamu marah ya sama aku?" Rezza mengeluarkan low tone-nya.

"Nggak kok sayang. Aku lagi bingung nyari tempat buat besok farewell dinner temen-temen kantor." Sherin memperlihatkan di laptop-nya sedang buka beberapa restoran di sekitar sana.

"Hmmm.. Mau aku bantu?" Rezza tawarkan diri. Sherin mengangguk manja.

"Yaudah sini aku bantu ya." Rezza menarik kursi di depan meja.

Mereka berdua duduk sebelahan sambil membuka beberapa restoran di sekitar kantor itu.

"Ini gimana? Gak jauh dari Danau Sunter." Rezza tunjukkan sebuah lokasi resto.

"Udah pernah makan di sana mas. Banyak yang komplen rasanya kurang." Sherin jawab.

"Okay.. Kita cari lagi ya." Rezza mencari lagi. Lalu ia menemukan sebuah restoran di Kelapa Gading.

"Ini. Ini aku pernah makan di sini. Kamu udah pernah?" Rezza tunjukkan restoran bernama Orient Bistro and Bar.

"Belum mas. Kamu pernah? Sama siapa?" Sherin malah jadi cemburu.

"Ohh dulu.. Aku pernah meeting sama klien deh kalo gak salah di sini. Sama Anya tahun lalu kalo gak salah. Apa dua tahun lalu ya? Lupa aku."

"Hmm.. Aku belum pernah sih. Coba aku call." Sherin ambil handphone-nya. Rezza mengangguk.

"Halo selamat siang.. Saya mau tanya kalau besok malam saya mau makan bersama teman satu tim dari kantor, bisa reservasi gak ya?"

"Buat berapa orang ibu?"

"Sekitar 20 sampai 25 orang." Sherin jawab.

"Oh bisa bu, tapi kalau 25 orang nanti kita kasih spot-nya yang untuk 30 orang ya bu dan ada extra charge untuk service."

"Kenapa gitu ya mbak?" Sherin heran.

"Iya ibu, karena kalau yang 30 orang itu private area, jadi nanti satu atau dua orang staf kami berjaga di sana."

"Oh I see.. Ada minimum charge atau minium order gitu?" Sherin tanya.

"Tergantung bu, kalau mau pesan menu buffet, ada beberapa paket. Kalau non-buffet, ada minimal order 3 juta rupiah untuk satu sesi bu. Satu sesinya maksimum 3 jam."

"Oke noted, yaudah saya nanti sore infokan lagi ya kalau jadi. Kalau mau dicatat boleh, saya atas nama Sherin."

"Baik ibu Sherin, sudah saya catat. Nanti ibu bisa cek menu-menu buffet juga di website kami ya. di theorient-bistro.co ibu."

"Okay nice.. Makasih ya mbak. Nanti saya kabari segera." Sherin tutup call itu.

"Gimana sayang? Mau di sana?" Rezza tanya.

"Menurut kamu enak gak makanannya?" Sherin sambil menjatuhkan kepalanya di bahu Rezza.

"Enak kok. Hmm mungkin bisa aku bilang secara rasa standar restoran hotel bintang 4."

Lihat selengkapnya