Sebetulnya Rezza mengajak ke Bali dalam tiga misi. Empat bahkan. Pertama, ia memang ingin resfreshing setelah beberapa bulan terakhir ini ia menjalani kehidupan yang lumayan melelahkan. Apalagi sejak bertemu Sherin lagi, praktis saat ini Rezza menjadi sangat terkekang oleh Sherin yang dalam situasi psikosomatis ringan. Meski demikian, rasa cintanya yang sangat kuat terhadap Sherin, ia menjalaninya dengan ikhlas dan menikmati setiap prosesnya. Kedua, ia hendak mengajak Sherin photo shoot di Bali. Dia janjian dengan seorang fotografer di sana untuk memfotokan Sherin dan Rezza selama di Bali baik itu di hotel maupun di luar hotel. Ketiga, Rezza akan memberikan beberapa opsi calon personal assistant untuk Sherin karena ia ingin Sherin dalam kondisi nyaman nanti kerja di Setara. PA itu juga akan sekaligus siap menyetiri Sherin saat ia sedang pergi-pergi, terutama jika Sherin sedang tidak bersama Rezza.
"Halo mah.. Mah, aku mau minta maaf ya ngabarin dadakan. Aku sama Mas Rezza otw bandara. Kita mau liburan sejenak ke Bali. Mama gak ada planning pergi-pergi sama aku kan?"
Sherin menelepon mamanya di taksi bersama Rezza menuju Bandara Soetta.
"Yaampun sayang.. Mendadak banget?" Tante Rani kaget jam 7 pagi di-call Sherin.
"Iya mahh. Mas Rezza juga baru kasih tau aku tadi malem. Kita grabak grubuk packing dari semalem. Tapi mama tenang aja, all good kok. Aku sama Mas Rezza juga baik-baik aja. Ini murni kita berdua memang butuh refreshing sejenak sebelum aku fokus di Setara sama Clarissa dan Mas Rezza juga, sebelum aku dan Mas Rezza makin sibuk ngurus persiapan nikah, dan juga setelah aku selesai resign dari kantor lama."
"Yaudah. Kamu sama Mas Rezza memang butuh untuk sejenak melepas penat. Kalian kan belum pernah liburan bareng sejak kembali bersama. Mama izinkan kok. Kamu baik-baik di sana ya. Nanti mama bilang ke papah. Papah masih di kamar mandi. Flight jam berapa kamu?"
"Jam 9.45 mah, ini aku baru banget jalan dari Kemang. Nanti aku kabarin yah mah kalo udah boarding. Titip kasih tau papah ya.."
"Okay sayang. Kamu have fun ya sama Mas Rezza. Semoga di sana kamu benar-benar makin happy, makin siap menjalani kehidupan kamu ke depannya. Aminn.."
"Aminn mahh.. Yaudah kalo gitu, makasih ya mah. Aku tutup dulu call-nya."
"Iya sayang, titip salam ke Rezza ya. Bilang dia mama titip kamu ke dia. Tolong jagain."
"Okee mahh. Bye.. Wasalamualaikum.."
"Waalaikumsalam sayang.. Bye.." Tante Rani menutup call-nya sembari tersenyum lega.
"Mas.. Mamah titip salam." Sherin berkata ke Rezza di sebelahnya. Mereka berdua duduk di baris kedua sebuah taksi menuju bandara.
"Titip salam apa sayang?" Rezza bingung.
"Mama bilang, titip jagain aku.." Sherin tersenyum manja.
"Ohhh.. Iya pasti, masa sampe Bali kamu aku tinggal di bandara. Kan gak mungkin.. Hehe"
"Ihhh kamu mahh.. Untung aku sayang." Sherin memeluk Rezza mesra.
"Iya aku untung sayang kamu." Rezza jawab iseng, Sherin cubit-cubit manja pipi Rezza.
12.10 | Rezza dan Sherin keluar dari Bandara Ngurah Rai. Mereka berjalan menuju parkiran.
"Mass.. Kamu sewa mobil?" Sherin tanya sambil menutupi wajahnya karena matahari terik.
"Iya sayang.. Udah di parkiran katanya." Rezza jalan di depan Sherin sambil menggeret koper.
"Sewa mobil apa sih kamu?" Sherin tanya-tanya terus, dia lapar sebenarnya.
"Udah ikut aja.."
Tak lama Rezza mendekat ke sebuah mobil Mazda MX 5 merah tahun 2020 yang atapnya dibuka.
"Siang, Mas Rezza kan? Selamat datang di Bali.." seorang laki-laki menghampiri.
"EH iya bli.. Saya Rezza." Rezza menjabat tangan laki-laki itu sambil membuka sunglasses-nya.
"Ini mobilnya sudah siap, bensin full, nanti hari senin siang saya ambil di Conrad ya?"
"Oh iya bener, saya senin siang check out dari Conrad Hotel nanti."
"Baik kalau gitu, saya Ketut Adhi. Panggil aja Adhi. Saya yang chat Mas Rezza dari kemarin. Saya anak buahnya Pak Wayan dari Bima Rental.."
"Salam kenal Bli Adhi. Ini calon istri saya Sherin."
"Halo Kak Sherin.. Saya Ketut Adhi, panggil aja Adhi." Bli Adhi menjabat tangan Sherin.
"Oh iya. Saya udah denger tadi bli. Hehe"
"Jadi honeymoon duluan nih ceritanya? Hehe" Bli Adhi mulai kurang ajar.
"Ha? Gimana?" Rezza tak percaya Bli Adhi asbun.
"Eh ndak Mas Rezza. Maksudnya ke Bali ada bisnis atau liburan nih?"
"Ohh.. Kita liburan sambil foto pre-wed aja bli."
"Baik kalo gitu saya permisi, kalo ada apa-apa langsung chat saya aja ya mas. Ini kuncinya."
"Okay.. Makasih ya. Nanti saya info-info kalo ada yang mau ditanya."
"Siap, saya permisi dulu kalo gitu. Mari Mas Rezza, Kak Sherin." Adhi meninggalkan lokasi.
"Iya.. Hati-hati bli." Sherin melihat heran ke arah Bli Adhi yang berjalan menjauh.
"Waduh.. Bagasinya gak muat lagi." Rezza membuka bagasi dan melihat koper mereka.
"Yahh. Trus gimana mas? Masa aku pangku-pangku koper segede gitu?" Sherin kecewa.
"Hmmm.. Okay wait.." Rezza mengeluarkan ponselnya, ia menelepon seseorang.
"Haloo.. Di mana lu? Gue udah di bandara ini."
"Eh iya Bang Rejja! Ini gua udah masuk parkiran. Abang di mananya?" suara laki-laki di call.
"Gue di.. di parkiran! Parkiran bandara masa parkiran rumah gue.." Rezza mulai bete.
"Okeh bang.. Gua liat elu nihh. Coba tengok ke kanan bang. Gue di mobil hitam." Rezza menengok ke arah kanan, ada sebuah mobil Toyota Raize hitam ke arah mereka lalu mengedim lampunya.
"Yaudah sini buruan.." Rezza terdengar galak. Sherin heran sendiri.
"Okay bang.. Tunggu yak dikit lagi nih." Rezza langsung mematikan call.
"Siapa mas?" Sherin heran.
"Ohh itu fotografer. Kenalan aku di sini sayang. Hehe" Rezza melihat Sherin agak bete.
Tak lama mobil itu berhenti di dekat mereka, seorang laki-laki kurus setinggi 170 cm turun dari pintu penumpang depan lalu sok akrab ke Rezza.
"Halo Bang Rejja! Apa kabar bang?" dia mengajak bersalaman ala bro-to-bro. Rezza tampak tak excited.
"Kabar baik. Lo gimana?" Rezza tanya dengan intonasi males.
"Baik gua bangg. Ini pacar? Apa istri bang?"
"Ini pacar gue dan calon istri gue, kenalin namanya Sherin." Rezza merangkul Sherin.
"Halo Mbak Sherin, kenalin akuk Slamet Rosano.. Panggil aja Sano. Hehe"
"Halo Sano.. Salam kenal hehe" Sherin melihat Sano dengan wajah tak percaya.
"Wah cocok banget emang Bang Rejja sama Mbak Sherin. Begini aja keliatan serasi banget." Sano sambil membuat gestur frame foto dengan dua tangannya. Agak terlihat norak memang.
"Udah-udah.. Ini mobil bisa nampung koper kita gak?" Rezza to the point.
"Lahh bisa lah bangg. Apa sih yang nggak buat Bang Rejja?? Hehe"
"Yaudah, ntar titip ya. Kita makan dulu terus ke hotel jam 2." Rezza menegaskan.
"Siap. Mau makan di mana? Kalian berdua makan yang halal-halal aja kan? Sebut aja mau makan apa, gua antar kok Bang Rejja."
"Aku lagi mau makan yang view-nya laut terus bisa foto-foto di mana ya?" Sherin bertanya.
"Hmm, di mana San? Lo ada ide?" Rezza bertanya.
"Wahh gampang itu. Kalian mau ke hotel di Legian kan? Yuk gua antar. Ini gua shareloc deh biar kalian bisa liat di maps juga." Sano mengutak-atik ponselnya.
"Nice.. Yaudah boleh." Rezza mengiyakan. Tak lama kawannya satu lagi turun dari mobil.
"Halo Mas Rezza dan Mbak siapa?"
"Sherin. Ini calon istri saya Sherin namanya. Kamu siapa? Kok beda dari asisten Sano dulu?"
"Ohh iya bang. Hari ini Dewo yang bantu, dia lagi magang di kantor gua bang. Kebetulan bisa nyetir mobil jadi gua ajak dah hehehe" Sano nyamber.
"Yaudah yuk jalan, ini minta tolong masukin bagasi mobil kalian boleh?"
"Siap bangg. Biar gue dan Dewo yang atur. Abang siap-siap aja di mobil. Gua udah serlok ya!"
"Okay, thank you Sano." Rezza membukakan pintu mobil Mazda MX 5 itu untuk Sherin.
"Silahkan sayang." Rezza tersenyum teduh di bawah topinya.
"Makasih sayangnya aku." Sherin langsung kembali mood-nya diperlakukan Rezza seperti itu.
"Wih jentel banget emang Bang Rejja. Mbak Sherin, Bang Rejja ini emang buaekk banget jadi orang. Dulu aku ditraktir makan, dibeliin rokok, dikasih tips buanyak mbak. Ini orang baek ini." Sano nyerocos, Rezza mulai emosi gemes.
"Heh Sano.. Sherin kenal gue udah 16 tahun. Dia temen gue dari kuliah, pacaran lebih dari lima tahun. Jadi Sherin lebih tau gue daripada elo." Rezza marah kocak ke Sano. Sherin memegang tangan Rezza dari mobil atap terbuka itu.
"Oalahh.. Jadi kalian udah lama pacaran toh.. Pantes cocok banget. Eh tapi kok tahun lalu gua ketemu lo bilangnya jomblo bang?"
Rezza melotot. Memajukan badannya, Sano cengengesan lalu awkward.
"Mas.. Udah-udah ah yuk, laper nih aku.." Sherin merengek.
"Buruan jalanin mobilnya di depan gue." Rezza mengepalkan tangan kanannya ke depan wajah Sano.
"Eh i i iya bang.. Sabar dong.. Itu si Dewo aja baru masuk ke mobil hehe. Yaudah yuk." Sano ngacir ke dalam mobilnya. Rezza geleng-geleng menahan emosi. Lalu memasangkan sunglasses lalu masuk ke kursi driver. Sherin meminta.
"Mas, tutup aja atapnya. Panas banget ini." Sherin merengek manja.
"Iya sayang.. Maaf ya." Rezza menutup atap mobil itu, menyalakan AC posisi max.
"Kamu kenal Sano dari mana deh mas? Konyol banget itu orang."
"Iya dia orangnya konyol emang. Tapi hasil foto dan videonya bagus, makanya kita sabar-sabar ya hehe.." Rezza menggenggam tangan Sherin sambil mengemudi mengikuti mobil Sano di depannya.
"Ya aku mah sabar, kamu tuh gak sabaran. Tadi aja marah-marah.. Nanti darah tinggi kamu kumat lho.." Sherin mengingatkan.
"Sayangg. Itu love language aku sama Sano memang. Dia juga paham kok, emang dia sengaja juga mancing-mancing emosi aku. Haha" Rezza mencoba kasih pengertian ke Sherin.
"Yaudah kamu jangan galak-galak sama dia. Ntar koper kita dibawa kabur lagi."
"Hehe iya sayangg. Aku kenal dia dari si Sultan, fotografer langganan aku yang di Jakarta."
"Ohh dia kenalan Sultan toh. Dia masih fotografer? Kok kamu gak pernah kerja bareng Sultan lagi?" Sherin bertanya-tanya.
"Sombong dia. Kerjaannya udah banyak, klien-kliennya pada antri. Kalo aku tawarin kerjaan malah aku yang dikasih kerjaan balik. Sombong kan?"
"Hah? Gimana sih?" Sherin bingung.
12.55 | Mereka tiba di sebuah restoran kelas medium to high di Legian. Persis di pinggir pantai dengan view yang bagus dan suasana outdoor yang teduh.
"Wih bagus mas. Restorannya asik juga." Sherin takjub dengan suasana restoran itu.
"Iya. Aku kok keknya lupa-lupa inget, apa pernah ke sini ya?"
"Kalo aku sih belom pernah, kamu sama siapa ke sini?" Sherin mendadak emosi.
"Yah aku aja lupa, gimana inget-inget sama siapa." Rezza ikut emosi. Karena lapar mereka berdua jadi saling emosi.
"Yaudah makan dulu yuk Bang Rejja dan Mbak Sherin." Sano mengajak ke satu spot di restoran itu yang sekiranya akan bagus untuk foto-foto.
"Di sini ya bangg. Bagus nih nanti sambil foto-foto. Gua sama Dewo duduk di sana biar kalian romantis berdua." Sano menunjuk meja tak jauh dari sana, Dewo duduk di sana.
"Okeh. Minta panggilin stafnya ya San. Tengkyu.."