Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #36

Chapter 36

07.10 | Minggu pagi, Rezza dan Sherin sarapan di restoran hotel bintang lima itu. Makanan yang nikmat, interior restoran yang semi outdoor dengan design mewah elegan, dan pemandangan cantik ke arah pantai Legian, semuanya sempurna. Mereka berdua mengenakan outfit serba putih, kecuali Rezza mengenakan celana pendek di bawah lutut berwarna khaki.

"Mah.. Maaf ya aku baru call mama, iya tadi malam aku dilamar sama Mas Rezza. Mama udah liat videonya ya? Jadi malu aku hihi" Sherin nampak happy sekali berbincang dengan Tante Rani di telepon. Rezza senyum merekah memandangi wajah Sherin yang berbinar.

"Papa pergi mah? Tapi papa udah tau kan?"

"Iya sayang.. Semalam papa udah liat videonya. Papa kamu sampe neteskan air mata lho. Terharu pasti liat kamu sama Mas Rezza."

"Iya mah? Duh aku jadi penasaran mau denger komentar papa.. Nanti aku call papa deh siang."

"Iya boleh.. Kamu jadi pulangnya besok nak?" Tante Rani bertanya.

"Senin sore mah, flight kita jam 16.20 WITA. Biar gak kemaleman sampe Jakarta. Aku kan selasa langsung masuk kantor. Bareng sama Mas Rezza.."

"Okay sayang.. Yaudah kamu lanjut sarapan lagi. Mama juga mau pergi habis ini, mau ketemu sama cucu-cucu mama. Diajak datang ke acaranya Nina."

"Oh gituu.. Yaudah mah. Titip salam ya buat Mas Rendi dan Nina ya."

"Iya sayang, nanti mama salamin ya. Yaudah bye sayang.."

"Bye mahh.."

Sherin memandang sumringah ke arah Rezza. Mereka saling melempar senyum, Rezza suapkan sesendok nasi goreng dengan potongan fish fillet. Sherin bahagia sekali pagi itu.


08.30 | Janice tengah mengendarai mobil FIAT 500 berwarna broken white yang ia beli 5 tahun lalu setelah dikirimkan uang oleh papanya selepas lulus SMA. Ia mengarahkan mobilnya ke sebuah pantai. Awalnya ia ingin mengajak mamanya, tapi karena Tante Diana repot mengurus restorannya, Janice memilih bepergian sendirian.

Janice berniat melepas penat agar tak terlalu bersedih saat di rumah sejak mengetahui Rezza melamar Sherin.


Rezza, Sherin, Sano, dan Chika baru saja tiba di Pantai Melasti yang terkenal dengan pantainya yang indah serta pemandangan jalanan eksotis diapit dua tebing batu yang tinggi.

"Kita foto-foto pake mobil di sini bagus nih Bang Rejja.." ujar Sano.

"Iya ini kan gue yang minta.." Rezza jawab judes. Sherin sedang dirapihkan rambutnya oleh Chika. Chika adalah pegawai tetap kantornya Sano yang merupakan sebuah perusahaan travel guide dan menyediakan orang-orang multi-talenta seperti Sano, Dewo, dan Chika. Chika kemarin tak bisa ikut karena ada jadwal lain, Dewo hari ini tak bisa ikut karena jatahnya libur. Tapi nanti malam katanya dia mau nyusul kalau bisa.

"Makasih ya Chika.. Rambut aku jadi bagus bangett." Sherin mengaca di sebuah cermin portabel yang dibawa di mobil Sano.

"Sama-sama Kak Sherin. Jadi keliatan kaya anak kuliahan deh kakak.." Chika memuji.

"Iya.. Kamu dari kuliah sampe sekarang gak berubah, tetep cantik." Rezza menggombal, Sano cekikikan sambil buang muka.

"Apaan sih mas.. Malu tau diketawain Sano tuh." Sherin sebel manja.

"Yaudah yukk Bang Rejja, Mbak Sherin pose di mobilnya. Kita foto-foto di sini dulu yak.."

Mereka foto di luar badan jalan, dekat dengan bibir tebing dan Sherin serta Rezza ber-pose layaknya model profesional. Chika memegang sebuah blower portable untuk beri efek tertiup angin pada rambut Sherin. Hasilnya luar biasa bagus!

"Bagus banget maasss." Sherin gemes melihat hasil foto-foto itu dari kamera Sano yang dipegang Rezza.

"Iyaa, ini aja belum diedit udah sebagus ini." jawab Rezza.

"Pokonya aku mau minta yang belum diedit juga biar bisa aku touch up sendiri.." Sherin maksa.

"Aman mbakk.. Nanti aku bagi file yang mentahannya juga kok." Sano menjawab.


Mereka beralih ke sebuah jalan di antara dua tebing. Rezza mem-pose-kan mobil merah itu sehingga mereka foto-foto seakan mobil itu bagian dari cerita yang akan di-capture.

Rezza dan Sherin ber-pose dengan beberapa scene casual mulai dari Rezza membukakan pintu, mereka duduk bersama di kursi mobil, sampai Sherin dan Rezza pose saling tatap dan kejar-kejaran di depan mobil. Semuanya terabadikan sempurna..

"Udah selesai San?" Rezza tanya ke Sano.

"Udah nih bang.. Mau ganti baju lagi gak?" Sano menawarkan.

"Nggak San, kita cuma bawa satu baju lagi untuk yang nanti sore.." Sherin berkata.

"Ohh yaudah paling nanti aja yak abis lunch ganti bajunya mbak.." Sano menegaskan.

"Mas.. Cari kopi dulu yuk.. Aku mau ngopi deh." Sherin bertanya.

"Ada kak. Di situ pinggir pantai ada kafe yang bagus banget. Pas banget nih jam segini mereka baru buka, harusnya masih sepi." Chika menawarkan. Jam menunjukkan 09.49

"Kafe apa Chik? Kok gua gak tau ada kafe di sini?"

"Ah elu, kurang gaul lo di Bali.." Chika pun jawab Sano dengan judes. Sherin dan Rezza tertawa.

"Hahaha. Yaudah yuk ngopi dulu kita." Rezza menggandeng tangan Sherin.


Di Bali 10.00, di Jakarta 09.00. Anya duduk di kursi mobilnya, ia sudah tiba di rumah Icha.

Pintu mobil dibuka, Icha masuk ke mobil duduk di sebelah Anya.

"Kita mau ke kosan Janice Nya?" Icha memastikan.

"Iya Cha, gue khawatir sama dia. Gue baru liat video Bang Rezza sama Sherin tadi subuh. Gue langsung khawatir banget. Mau gue call tapi takutnya ganggu, makanya gue mau kita langsung ke kosannya aja nanti call dia di sana." Anya menjelaskan.

"Yaudah kalo gitu Nya, gue ikut aja. Maaf ya gue baru bangun."

"Gue yang maaf Cha, gue call elu dari jam 7 tadi. Maaf ya.." Anya menatap Icha, Icha mengangguk pelan.

Mobil Anya pun melaju keluar komplek rumah Icha.


Rezza, Sherin, Sano dan Chika memesan kopi di kasir. Kafe itu konsepnya order and self service. Setelah memesan kopi untuk semuanya, Sherin memaksa untuk bayarin order-an itu semua.

"Udah aku bayar nih. Tunggu kopinya jadi ya.." Sherin balik badan berjalan ke arah kursi-kursi dan meja untuk pembeli kafe itu.

"Makasih yo mbak.. Jadi ditraktir kopi enak nih aku, biasa minum kopi starling hehe" Sano masih saja melawak di tengah matahari yang mulai tinggi.

"Gapapa Sano.. Kan kalian udah bagus banget kerjanya, harus diapresiasi." Sherin jawab.

"Udah yuk duduk.." Rezza menggapai tangan Sherin dan berjalan ke arah meja paling ujung terdekat dari pantai.

"Bagus kann view-nya.." Chika meminta validasi.

"Iya bagus banget Chiiikk.. Adem lagi banyak angin dan ada atapnya di sini." Sherin mengiyakan.

"Yaudah yuk sayang, duduk sini." Rezza menarik kursi untuk Sherin. Sano dan Chika duduk di kursi yang berjarak agar bisa memberi space foto-foto buat Sherin dan Rezza.

Sherin mengeluarkan sebuah bungkus tissue basah untuk mengelap tangan yang kotor. Ia pun menawarkan ke Sano dan Chika tapi mereka menolak.

"Mau foto-foto juga di sini?" Rezza tampaknya sudah mulai lelah difoto dari kemarin.

"Lha iya bangg. Masa udah dibayar gua gak kerja.. Nanti salah lagi." Sano asbun sambil mencari angle yang bagus.

"Udah lah masku sayangg.. Kan Sano cuma lagi kerja." Sherin membelai pipi Rezza.

"Order nomor 7 sudah ready." seorang barista wanita memanggil.

"San, bantu bawain kopinya yuk." Rezza ajak ke arah kasir.

"Yuk bang.." Sano menurut. Sherin dan Chika menunggu di sana.

Saat sedang mengambil kopi yang sudah selesai dan siap diambil, sesosok wanita cantik menggunakan dress selutut dengan motif floral dominan coklat tiba di sana. Ia mengenakan kacamata hitam dan slingbag putih. Rezza dan wanita itu sangat dekat tapi tak sampai berpapasan. Wanita itu mengantre di kasir, Rezza dan Sano mengambil order-an mereka.

Mereka pun langsung balik badan ke arah Sherin dan Chika duduk.

Mereka berempat kembali beraktivitas, Sherin duduk di sebelah Rezza, sesekali manja-manja dengan memeluk dan mencubit-cubit manja pipi Rezza. Rezza pun sesekali merangkul Sherin dan menarik kepala Sherin agar menjatuhkannya di bahunya. Sosok wanita tadi berjalan ke arah mereka, duduk di ujung meja yang kursinya tinggi dengan meja satu arah keluar seperti meja bar. Sherin dan Rezza sama sekali tak memperdulikan wanita itu. Sano justru yang sesekali mencuri pandang ke arahnya. Sampai ketika..

"Mas.. Aku mau ke toilet dulu ya.." Sherin izin. Rezza mengangguk tersenyum.

"Order nomor 12 sudah ready." suara barista mengenakan pengeras suara.

Sherin dan wanita itu berpapasan. Betapa terkejutnya..

"Janice?"

"Kak Sherin?"

Mereka berdua sama-sama kaget, Rezza pun kaget, Sano dan Chika kaget karena hampir terkena semburan kopi dari mulut Rezza.

"Janice?" Rezza berdiri, melihat wajah Janice yang sembab setelah dibuka kacamata hitamnya.

"Bang Rezza, sama Kak Sherin di sini?" Janice yang walaupun tahu mereka di Bali tetap tak menyangka akan bertemu di sana.

"Iya Jan.. Aku sama Mas Rezza lagi liburan. Kamu kok di Bali?" Sherin bertanya balik, Rezza masih terdiam di belakang Sherin berdiri, wajahnya bengong menatap Janice yang tampak cantik meski wajahnya layu.

"Aku.. Aku ada acara nikahan teman aku kemarin kak." Janice jawab terbata-bata.

"Oh gitu.. Ini kamu sendirian?" Sherin tanya sambil menarik tubuh Rezza lalu digandengnya. Janice melihat itu.

"Iya aku sendiri. Aku ambil kopi aku dulu ya." Janice hendak melangkah.

"Yaudah yuk aku temani.." Sherin menggandeng Janice ke arah barista. Janice hanya bisa mengangguk sambil tersenyum kecut.

Sherin dalam hatinya sangat kalut, ia paham situasinya. Janice pasti sudah tau soal semalam pikir Sherin. Sherin hanya ingin memastikan Janice baik-baik aja.

"So, kamu sampe kapan Jan?" Sherin bertanya.

"Aku.. Nanti malam flight ke Jakarta kok kak. Jam 19.25"

"Ohh I see.. Kalo aku sampe besok. Besok sore aku flight jam 16.20"

"Oh gitu, jadi besok kakak sama Bang Rezza masih di sini?" Janice menyimpulkan.

"Iya bener.. Yaudah yuk balik ke meja kita. Join aja." Sherin mengajak Janice. Janice mengangguk lalu mengikuti.


Anya dan Icha tiba di depan kosan Janice.

"Gue apa lo nih yang call Nya?" Icha tanya.

"Gue aja gapapa Cha.. Sambil turun yuk tunggu di teras. Khawatir banget gue." Anya jawab.

"Okay Nya.." Icha membuka pintu lalu turun dari mobil.


"Janice, gapapa yuk gabung kita.." Sherin menarik tangan Janice lalu mengarahkannya duduk di sebelahnya. Meja mereka memang untuk berempat, Rezza duduk di sebelah kiri Sherin, Janice duduk di sebelah kanan Sherin.

"Oh iya Sano, Chika, ini kenalin namanya Janice. Teman kantor kita gak sengaja ketemu."

"Oh iya. Halo Mbak Janice.. Gua Slamet Rosano, panggil aja Sano." Sano cengengesan sambil menjabat tangan Janice.

"Aku Chika.." Chika menjabat tangan Janice.

"Halo Chika dan Sano. Salam kenal.." Janice menyapa balik dengan ramah.

"Eh kita gak pacaran kok mbak. Chika ini teman kantor gua, gak ada apa-apa kita hanya teman kantor hehehe" Sano menjawab pertanyaan yang tak pernah ditanyakan siapapun itu. Chika misuh-misuh kesal.

Sherin justru jadi berpikir pernyataan Sano tadi.. 'Iya Mas Rezza dan Janice hanya teman kantor. Gak ada apa-apa..' pikir Sherin. Tiba-tiba suara call masuk di ponsel Janice.

"Sebentar ya, aku angkat telepon dulu.." Janice berdiri, Sherin mengangguk. Rezza masih berdiam sambil memandang lautan sambil sesekali menengok ke layar kamera Sano yang sedang dipegangnya.

Janice menjauh, cukup jauh hingga tak terdengar oleh yang lain.

"Halo Anya.." Janice jawab call itu.

"Jan. Lagi ngapain? Keluar yuk.." Anya to the point.

"Hah? Keluar ke mana Nya?" Janice bingung.

"Gue di depan kosan lo nih sama Icha. Yuk keluar, kita mau ngajak sarapan bareng. Lo pasti belum sarapan kan? Buruan gue sama Icha udah laper nihh.." Anya nyerocos.

"Anya.. Kok kalian bisa di kosan gue? Gue lagi gak di kosan." Janice jawab.

"Hah? Terus lagi di mana Jan?" Anya kepo.

"Maaf Nya, gue lagi di Bali. Dari kemarin gue di Bali, flight pagi kemarin jam 7 gue ke sini. Nanti malam udah pulang sih gue flight balik jam 19.25."

"Astaga jadi lo lagi di Bali?" Anya shocked. Icha pun ikut kaget.

"Iya Anya. Maaf ya gue gak cerita-cerita, kemarin ada temen SD gue, sahabat gue nikahan. Gue emang gak cerita ke siapa-siapa karena gue gak mau bikin lo keinget juga, soal.. Soal kejadian sama Patra kemarin." Janice takut-takut bercerita.

"Hah? Apaan sih Jan? Aman kali sama gue. Yaudah jadi lo balik nanti malem? Gue jemput di bandara ya. Lo naik apa? Biar gue samain terminalnya." Anya nyerocos lagi.

"Anya, gausah.. Gue aman kok. Maaf ya kalian jauh-jauh ke kosan gue tapi guenya gak ada."

"Jan, lo beneran baik-baik aja kan?" Anya make sure. Janice mulai lelah.

"Beneran Nya.. Gue gak kenapa-kenapa kokk." Janice jawab.

"Coba sini-sini gue yang ngobrol sama Janice." Icha menawarkan diri. Anya berikan ponselnya ke Icha. Icha pindahkan ke loud speaker.

"Halo Jan.. Lo lagi di mananya Bali sekarang?" Icha kepo.

"Gue.. Gue lagi di Pantai Melasti."

"Hmm.. Yaudah kalo lo baik-baik aja. Tapi.. Lo tau soal Bang Rezza dan Mbak Sherin?"

"Soal Kak Sherin dilamar Bang Rezza?" Janice tanya.

"Iya Jan.. Lo udah liat ya?" Anya bertanya lirih.

"Gue udah liat. Dan.. Gue.. Ini gue ketemu sama mereka di Melasti." Janice sambil menengok sejenak ke arah Rezza dan Sherin.

"HAH? KOK BISA?" Icha dan Anya terkaget-kaget mendengarnya.

"Lo janjian ketemu mereka Jan?" Icha tanya.

"Nggak.. Nggak gue gak sengaja ketemu mereka di sini. Gue juga bingung jadi gak sengaja ketemu padahal gue sama sekali gamau ketemu mereka."

"Hmm yaudah sabar ya Jan.. Kalo ada apa-apa lo call gue aja atau Icha." Anya memastikan.

"Iya Anya.. Gue baik-baik aja kok. Makasih ya kalian udah peduli."

"Okay, kalo mereka bicara apapun yang bikin lo sedih, jangan dimasukin hati ya Jan.. Langsung pikirin hal lain. Jangan biarin mereka ngerusak mood lo." Icha tiba-tiba bijak.

"Iya. Makasih ya Cha. Yaudah gue tutup dulu call-nya. Bye guys.."

"Bye Janice.." Icha dan Anya kompakan jawab. Mereka saling lihat-lihatan.


"Kak Sherin, Bang Rezza.. Aku gak bisa lama-lama nih soalnya udah janji sama mama." Janice kembali ke meja itu dan mengambil kopinya.

"Hah? Kok buru-buru Jan? Mau ke mana?" Sherin tanya.

"Aku.. Mau ke itu.. Ke restorannya mama aku." Janice asal cari alasan.

"Eh restoran mama kamu di mana? Apa namanya?" Sherin tanya.

"Hmm namanya Gasthaus Kaffe and Resto kak, di Denpasar." Janice jawab.

"Sano tau ada restoran itu di Denpasar?" Sherin tanya ke Sano.

"Di jalan apa ya Mbak Janice?" Sano tanya.

"Di jalan Basuki Rahmat Mas Sano." Janice tampak tak semangat membahas itu.

"Ohh iya gua tau, yang deket kantor Gubernur Bali kan? Iya tau, cuma jarang ke sana. Itu punya Mbak Janice?" Sano merespons.

"Bukan-bukan, itu punya mama aku." Janice jawab cepat.

"Ohh gitu.. Iya aku tau kok Mbak Sherin." Sano melihat ke Sherin.

"Yaudah, nanti siang kita mampir ke sana ya Janice. Aku mau coba makanan di resto mama kamu." Sherin berdiri lalu memegang tangan Janice.

"Hmm oke kak. Yaudah aku jalan dulu ya. Duluan semuanya. Kak Sherin, Bang Rezza, Mas Sano dan Mbak Chika." Janice pamit.

"Okay. Hati-hati ya.." semua jawab.

"Eh Janice naik apa ke sini?" Rezza perhatian.

"Oh aku bawa mobil kok. Aman.."

"Oh okay, hati-hati ya nyetirnya.." Rezza jawab. Janice mengangguk lalu meninggalkan kafe itu.

Sepanjang langkah kakinya Janice, ia meneteskan air mata. Sakit sekali rasanya melihat Sherin dan Rezza di sana. Bali yang selama ini menjadi tempat untuk pulang bagi Janice, rumah dan kenangan masa kecil hingga remajanya tercoreng akibat pertemuan itu. Janice rasanya tak mau ke restoran ibunya, tapi ia juga gak tega kalau harus membiarkan Sherin dan Rezza ke sana bertemu mamanya tanpa ada dia di sana.

Janice membuka pintu mobil, menyalakan mesin dan AC. Ia menangis sekali lagi.

"Kenapa sih jadi ketemu di sini?? Mana segala mau ke restoran mama lagi!" Janice kesal lalu beberapa kali memukul setir mobilnya.


Anya dan Icha makan di sebuah cafe and resto di Bintaro Tangsel. Tadinya mau antar pulang Icha, tapi Icha ajak Anya mampir ke sana karena dari pagi Anya nampak tak tenang.

"Nya.. Cerita deh sama gue. Lo kenapa?" Icha kepo. Mereka duduk berhadapan sambil menikmati makanan. Icha pesan American breakfast, Anya pesan tuna sandwich dan ditemani dengan kopi hitam. Icha lebih suka teh, jadi ia pesan teh hangat.

"Gapapa kok Cha. Gue cuma.." Anya terhenti.

"Cuma apa Nya?"

"Cuma.. masih kesel sama Patra. Dia masih ganggu gue."

"Yaampun.. Ganggu gimana lagi dia?"

"Dia udah gak berani ke kantor kan, karena dia takut ketemu Bang Rezza mungkin. Tapi dia.. Dia ke rumah gue semalem. Gue sampe kesel banget Cha.."

"Dia ngapain sih? Maksudnya maunya dia tuh apa gitu??" Icha penasaran.

"Gue gak ngerti Cha. Dia tuh masih merasa kalo hubungan kita masih bisa dipertahanin. Lo tau kan gue paling gak bisa kalo udah sekali cut-off cowok gue gak akan mau lanjut lagi."

"Iya gue paham Nya. Terus semalam lo gimana? Bokap nyokap lo tau dia nyamperin?"

"Nggak.. Gue gamau bikin bokap gue kepikiran. Jadi gue telepon security komplek rumah gue. Gue suruh dia usir Patra dan ancam akan telepon polisi."

"Hmm.. Gila ya dia nekat banget. Emang dia sebucin itu apa gimana sih sama lo?"

"Kalo dia bucin, harusnya dia banggain gue di depan keluarganya dong. Gak malah kaya gini! Sakit hati banget gue kalo masih keinget kejadian di Lombok sama Bali waktu itu."

"Yaudah sabar ya Nya. Lo keknya harus move on deh dari dia."

"Apaan sih Cha? Gue sama sekali udah gak peduli sama dia. Dianya yang harus move on!" Anya nyolot.

"Iya-iya sorry Nya.. Semoga dia gak ganggu-ganggu lo lagi ya." Icha say sorry.

"Amin.. Thanks Cha."


12.08 WITA | Sherin dan Rezza tiba di Gasthaus Kaffe and Resto. Nama itu pemberian dari ayahnya Janice. Tapi tak hanya menu-menu asal Jerman, ada juga beberapa menu masakan nusantara, Bali, dan juga Jawa Tengah berhubung Tante Diana, Ibunya Janice berasal dari Solo, Jawa Tengah.

"Hmm.. Mas, Janice ada di sini gak ya? Aku mau call gaenak deh, dia tadi mukanya agak gimana gitu." Sherin ragu-ragu.

"Hmm kita duduk dulu aja yuk. Sano, gue gaenak sama Janice dan ibunya, jadi kita di sini gak usah foto-foto ya. Pesen makan aja. Rame juga kan restorannya gak enak kalo kita foto-foto."

"Okay siap Bang Rejja!" Sano pose hormat.

"Selamat datang.. Untuk berapa orang??" seseorang menyambut mereka.. Itu adalah Tante Diana.

"Tante.." Rezza menyapa. Tante Diana sempat tercekat beberapa detik.

"Hemmm, Rezza?" Tante Diana melihat Rezza di sana seperti tersambar petir. Ia khawatir kalau Janice melihat itu. Matanya melihat ke sekitar, ada wanita cantik dengan baju serasi. 'Ini pasti calon istrinya, cantik sekali dia..'

"Iya Tante Diana, apa kabar?" Rezza menyapa dengan ekspresi tak bisa terlalu ramah. Sherin di sebelah Rezza tersenyum sumringah melihat ibunda dari Janice.

"Baik Rezza. Tante baik kok.. Kalian lagi di Bali? Ada apa?" Rezza dan Sherin berkesimpulan kalau Janice belum cerita bahkan belum datang ke sana.

"Halo Tante Diana ya? Aku Sherin. Calon istrinya Mas Rezza. Kami sedang foto pre-wed dan liburan ke sini." Sherin menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

"Oh iya. Halo Sherin.." Tante Diana yang hanya mendengar kata-kata itu merasakan pilu di hatinya. Matanya tertuju pada jari manis di tangan kiri Sherin yang berkilau oleh cincin yang diberikan Rezza semalam. Ia membayangkan sakitnya perasaan Janice.

"Janice belum tiba ya tante? Tadi kita gak sengaja ketemu di Pantai Melasti." Rezza membuka omongan.

"Oh gitu.. Iya Janice belum sampai dari tadi. Mungkin dia lagi mampir ke tempat lain. Dia udah lama gak pulang ke Bali kan." Tante Diana mencoba sekuat tenaga untuk senyum ramah.

"Yaudah silahkan mau duduk di mana? Tante ambilkan menu ya.."

"Di situ boleh tante?" Sherin menunjuk sebuah meja di dekat pintu masuk restoran sehingga view-nya bisa melihat ke luar dan ke dalam restoran.

"Oh iya silahkan. Tante ambil menu dulu ya.."

"Okay, makasih tante.." Sherin dan Rezza jawab. Sano dan Chika yang gak tau ada apa hanya bisa lihat-lihatan dihadapi momen awkward ini.

Rezza memundurkan kursi untuk Sherin, lalu mendekatkan kursinya Rezza ke sebelah Sherin. Mereka sembari bersenda gurau dengan Sano dan Chika. Tante Diana memperhatikan dari jauh. Tak sadar air matanya jatuh.

"Ya Tuhan.. Pasti Janice lagi sedih sekali sekarang. Sabar ya sayang." Tante Diana menarik nafas dalam-dalam, mengambil tissue bersih lalu mengusap air matanya. Sherin tak sengaja melihat.

"Ini menunya ya Rezza, Sherin.." Tante Diana memberikan satu buku menu untuk Sherin dan Rezza serta satu buku menu lagi untuk Sano dan Chika.

"Terima kasih tante, oh iya ini Sano dan Chika. Mereka tim fotografer selama kami di sini tante." Rezza menjelaskan.

"Oh iya. Salam kenal ya tante.." Sano dan Chika mengangguk ramah.

"Iya salam kenal, hmm silahkan dilihat-lihat dulu. Nanti kalau sudah siap pesan, panggil tante atau waiter lain ya."

"Eh iya siap tante. Makasih ya.." Rezza tersenyum. Ia melihat mata Tante Diana merah.

"Mas, aku mau ke toilet ya.." Sherin hendak berdiri.

"Oh iya sayang.." Rezza jawab. Sherin lalu berjalan ke belakang.

Di belakang, Tante Diana mencuci tangannya di westafel hendak masuk ke dapur. Ia tak kuat harus menghadapi Sherin dan Rezza. Perasaannya benar-benar ikut sakit walaupun ia juga tahu Janice dan Rezza belum pernah ada hubungan apapun selain rekan kerja.

"Hai tante.." Sherin tersenyum ke arah Tante Diana melalui cermin di depan westafel itu. Tante Diana tampak kaget tapi buru-buru tersenyum.

"Hai Sherin.." Tante Diana sapa balik.

"Aku mau permisi ke toilet ya tante.." Sherin hendak masuk ke toilet tapi pintunya terkunci.

"Oh sepertinya lagi ada orang.. Kamu buru-buru? Di belakang ada toilet lagi, di dekat ruang kerja tante." ujar Tante Diana.

"Hmm boleh tante kalau tidak merepotkan.." Sherin jawab.

"Yaudah yuk ikut tante ke dalam."

"Okay, makasih tante."

Sherin berjalan di belakang Tante Diana melewati area dapur, lalu masuk ke lorong arah pintu belakang. Ternyata di belakang restoran itu ada beberapa kamar untuk mess karyawan dan ada satu ruangan Tante Diana, di sampingnya ada toilet yang cukup bersih dan nyaman.

"Di sini Sherin.. Nanti kalau sudah silahkan kembali ke depan ya. Tante tinggal dulu mau cek dapur." ujar Tante Diana.

"Terima kasih banyak ya Tante Diana. Aku numpang ke toilet." Sherin nampak sangat ramah.

"Silahkan Sherin.."

Tante Diana tampak semakin tak nyaman. Begitu Sherin masuk ke toilet, ia menatap pintu toilet itu sambil menampakkan wajah kecewa, sedih, dan juga ragu. Ia lalu melanjutkan ke dapur untuk mengecek beberapa pekerjaan yang dilakukan anak buahnya.

Saat Sherin keluar dari toilet, ia melewati area dapur dan melihat sekilas Tante Diana sedang sibuk. Ia memilih untuk melanjutkan jalan ke arah depan, menyempatkan cuci tangan di westafel sejenak, lalu berjalan kembali ke arah meja mereka.

Lihat selengkapnya