19.55 | Rezza dan Sherin turun dari taksi di rumah mereka di Kemang. Sherin tertidur, jadi Rezza membopongnya ke kamar.
"Mbak Ani, tolong masukin barang-barang ya.. Makasih Mbak." Rezza melewati pintu masuk, Mbak Ani sejak tadi sudah stand by di ruang tamu karena Rezza dan Sherin mengabari kalau mereka sudah di jalan.
"Siap mas. Aman.." Mbak Ani menghampiri taksi di depan rumah itu, supir membantu menurunkan koper dan kardus oleh-oleh dari bagasi mobil.
Rezza masuk ke kamar, membopong Sherin yang benar-benar pulas tertidur. Tangannya sibuk menahan tas jinjing Sherin yang sedari tadi dia pegang susah payah.
"Ckckckck.. Maaf ya sayang.." Rezza sangat telaten melepas sepatu wedges Sherin, melepas gelang, jam tangan, serta anting yang dipakainya. Sungguh tampak betapa lembutnya Rezza memperlakukan Sherin malam itu.
Setelahnya, Rezza mematikan lampu kamar, sisa lampu remang-remang dari lampu tidur di dinding dekat headboard ranjang. Rezza lalu keluar.
"Mbak Ani.. Nanti minta tolong ini ya. Kardus oleh-oleh dibukain. Terus disusun di sini aja." Rezza menunjuk bar table di depan dapur.
"Baik mas.. Mbak Sherin tidur ya? Mau dibuatin kopi atau teh buat Mas Rezza?"
"Makasih, gausah mbak nanti kalo mau saya buat sendiri."
"Oke kalo gitu aku bongkar kardusnya di belakang ya mas."
"Siap. Makasih mbak.." Mbak Ani mengangguk.
Rezza duduk di kursi ruang tamu, membongkar koper besar itu untuk memisahkan baju-baju kotor dengan barang-barang mereka. Di dekatnya ada laundry basket untuk dibawa ke belakang karena nanti akan dicuci oleh Mbak Ani. Masuk chat dari Hendro.
"Za.. Udah balik Jakarta? Besok pagi gue mampir kantor ya.
Jam set 9 gue ngobrol sama finance dulu,
abis itu gue ke ruangan lo atau kita ngobrol di luar juga boleh.."
Rezza mengetik.. "Oh iya bang. Gue baru sampe rumah nih.. Siap besok kita ngobrol ya.." sent.
Keesokan harinya..
04.20 | Sherin terbangun, ia masih mengenakan baju terakhirnya dia dari Bali. Lampu remang-remang cukup membuatnya melihat jelas di sebelahnya Rezza tidur dengan baju yang sama.
"Yaampun kita ketiduran masih pake baju dari Bali.. Jadi gaenak sama Mbak Ani spreinya kotor lagi deh." Sherin melihat wajah lelahnya Rezza tertidur di sebelahnya. Ia putuskan memeluk Rezza sejenak sambil membangunkan.
"Masss.. Sayangnya aku.. Bangun yuk udah mau subuh." Sherin berbisik pelan.
"Hmmm.. Kamu udah bangun?" Rezza terbangun lalu bertanya.
"Udah mass.. Kamu subuhan ya. Aku mau ke dapur bentar."
"Hmmm.." Rezza masih berat membuka matanya. Sherin kecup manja pipi Rezza lalu bangkit dari sana, menuju dapur.
"Yaampun banyak banget ini oleh-olehnya. Nanti aku kirim ke mama deh." Sherin memilah beberapa untuk dia pisahkan dan akan dikirim ke rumah mama papanya di Simprug.
"Mbak Sherin udah bangun?" Mbak Ani berjalan.
"Eh mbak udah bangun?"
"Iya aku lagi motong-motong bahan di belakang.. Mbak Sherin jadi mau masak sop?"
"Oh iyaa.. Kemarin aku chat ya. Iya boleh mbakk, biar Mas Rezza pagi ini bisa sarapan sop hehe" Sherin happy banget.
"Yaudah aku keluarin bahan-bahannya ya mbak.."
"Okee makasi Mbak Ani.." Sherin pun mulai memasak.
07.20 | Sherin dan Rezza sarapan bersama. Di sana terhidang sayur sop, ayam goreng, tahu dan tempe, serta sebuah sambal korek kemasan.
"Hmm enak banget sayang. Aku kenyang deh. Aku gak ngantor ya.." Rezza bercanda.
"Yaudah aku ngantor sendiri aja.." Sherin pura-pura ngambek.
"Hehe bercanda sayang.." Rezza usap tangan Sherin yang masih makan.
"Aku abisin makanan dulu ya mas, abis itu kita berangkat.."
"Okee.. Aku tungguin kok." Rezza senyum lalu membuka handphone-nya. Di chat grup kantor, Rezza diberitahu akan ada internal meeting jam 9.30 oleh Anya karena Trio IJA akan meeting di luar siangnya. Rezza balas chat.
"Nanti Bang Hendro katanya mau dateng jam 9an, mau ngobrol berdua gue. Kalo kita gabisa join kalian mulai duluan aja ya internal meeting-nya. Thanks guys.." chat dikirim.
"Kamu chat siapa sayang?" Sherin tanya.
"Aku ngabarin di grup, Bang Hendro mau ke kantor katanya. Aku kasih info ke grup kalo aku masih ngobrol sama Hendro, mulai duluan aja meeting-nya.."
"Ohh gitu.. Mau ngobrol apa kamu sama Hendro?"
"Gak tau, ya kita aja belum ngobrol. Haha" Rezza tertawa dengan pertanyaan Sherin.
"Yaudah, semoga lancar ya kita hari ini mas.. Hari pertama kita sekantor hehe"
"Amin sayangkuu.. Aku ke kamar mandi bentar ya, sikat gigi kaya ada yang nyempil nih."
"Okee mas.." Sherin melanjutkan makan, Rezza kembali ke kamarnya lalu sikat gigi di kamar mandi. Sherin mendapati ada notif chat dari Hera.
"Sherinn.. Apa kabar lo?? Lagi sibuk gak?"
"Hah? Hera? Tumben dia chat aku pagi-pagi. Ntar aja deh balesnya kalo udah di kantor. Aku masih ribet." Sherin bicara sendiri.
08.05 | Rezza dan Sherin keluar dari lift di lantai 2.
"Aku anter kamu sampe ruangan, make sure kamu aman first day-nya ya sayang.." Rezza menggenggam tangan kiri Sherin..
"Makasih ya masku sayangg.." Sherin senyum-senyum.
"Morningg Mbak Sherin, Bang Rezza." beberapa staf yang sedang duduk di area resepsionis lantai 2 menyapa mereka.
"Pagi semuanya.. Cla udah sampe?" Sherin tanya.
"Udah, baru aja sampe 5 menit lalu. Ada di ruangannya mbak." Sari jawab.
"Ohh okay, nanti aku ke sana. Aku ke ruangan dulu ya. Misi guys.."
"Iya mbak, silahkan.." semua jawab kompak. Rezza senyum lalu mengangguk ke orang-orang.
"Oh iya sayang.. Nanti kalo kamu jadi hire PA, aku minta satu meja dan satu kursi ke orang GA untuk dia duduk di sini ya." Rezza tunjuk sebuah sudut di depan ruangan Sherin.
"Emang boleh mas?" Sherin ragu.
"Ya gapapa nanti aku bilang ke Hendro sama Clarissa juga. Kan gak mungkin dia seruangan kamu, nanti kamu malah jadi gak nyaman." Rezza memastikan.
"Hmm okay.. Makasih ya sayang. Kamu perhatian bangett." Sherin peluk Rezza. Rezza membalas pelukan itu lalu mengelus kepala Sherin.
"Eh morning Kak Sherin, Bang Rezza." Clarissa menghampiri, Rezza dan Sherin melepas pelukannya.
"Morning Cla.." Rezza dan Sherin jawab.
"Oh iya, hmm aku mau meeting internal sekarang. Kak Sherin bisa ikut?"
"Di ruang meeting ya? Boleh, aku ambil laptop dulu ya.." Sherin jawab.
"Aman, take your time kak. Aku duluan ya." Clarissa permisi ke Sherin sambil lirik Rezza.
"Okay.. Wait ya Cla.." Sherin jawab, Rezza mengangguk senyum.
"Mass.. Maaf ya aku langsung meeting." Sherin ke dalam ruangannya lalu menaruh beberapa barang.
"Iya sayang.. Aku paham kok, semangat kerjanya ya Ibu Main Director.." Rezza mengelus bahu Sherin.
"Tengkyu mas.. Ini aku bawa notes aja deh. Laptop aku batrenya habis." Sherin mencolok laptop-nya ke adaptor charger.
"Sini aku bantu.." Rezza jongkok mencolok adaptor ke stop kontak.
"Kamu perhatian banget sih? Aku gausah pake PA ya, aku minta seruangan aja sama kamu." Sherin manja.
"Iya, tapi kerjaan aku jadi gak kelar.. Aku dipecat nanti sama Hendro." Rezza bercanda.
"Hushh.. Amit-amit." Sherin ketuk-ketuk meja kerjanya.
"Yaudah, nih makan siang kita aku taruh sini ya. Nanti lunch aku ke sini." Rezza menaruh goodie bag di atas meja sofa.
"Okay mas. Yuk ke depan.. Aku antar ke lift ya." Sherin menawarkan.
"Eh gausah, aku naik tangga aja. Kamu aku anter ke ruang meeting yuk." Rezza menarik tangan Sherin tanpa menunggu jawaban. Sekali lagi Sherin terpesona dengan cara gentle Rezza memperhatikan dan memperlakukannya. Sherin senyum-senyum sepanjang hari itu.
09.15 | Rezza dan Hendro ngopi di coffee shop baru di seberang kantor itu.
"Bagus juga nih coffee shop.. Dingin lagi AC-nya dan ruangannya luas." Hendro memuji.
"Sayangnya parkirannya sempit, cuma muat tiga mobil tuh. Ntar orang-orang jadi parkir di kantor kita. Haha" Rezza berpikir terlalu jauh.
"Iya sih.. Btw gimana Bali? Lancar?" Hendro alihkan pembicaraan, mereka berdua duduk berhadapan di kursi interior kafe itu. Rezza pesan ice cafe latte, Hendro minum ice cappucino.
"Lancar banget. Makasih yak bang, berkat advice lo, gue jadi bisa liburan sama Sherin."
"Ah lo sih emang ngadi-ngadi aja. Dulu lo mau ke New Zealand aja ribet banget maju-mundur ngajak Sherin. Padahal dia tuh seneng travelling, apalagi sama lo. Nanti kalian honeymoon harus totalitas ya.."
"Haha keknya udah susah deh bang, kemarin aja Sherin kecapekan."
"Yaa mungkin kemarin dia capek abis last day di kantor lama kan."
"Iya sih bisa jadi.. But anyway, gimana bang? Apa update kita hari ini?" Rezza fokus ke pembicaraan.
"Iya tadi gue abis ngobrol sama finance. Hmm ada beberapa hal yang mau gue discuss sama lo. Pertama paling gue highlight, soal profit kita setahun ini, ada penurunan dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Data dari finance, sekitar 15 % Za.." Hendro membuka iPad-nya.
"Hmm.. Sorry ya bang, tahun ini memang lagi berat banget. Kita ikut-ikut pitching juga terlalu ketat persaingannya." Rezza wajahnya gusar.
"But it's okay Za.. Gue ngerti kok. Ini masih dalam radar aman bagi gue. Gue kan juga handle bisnis bokap yang lain. Memang kondisi ekonomi lagi begini, gue gak mungkin blaming lo doang. Paling gue minta lo dan tim ke depannya pikirin lagi ya strategi lain."
"Soal itu, pasti akan gue discuss sama tim gue ya bang."
"Okay aman Za. Nah point kedua yang mau gue bilang adalah soal profit sharing kita berdua tahun ini. Tahun lalu, kita nett profit sampai 15 M. Gue happy banget sampe gue beliin lo mobil impian lo. Haha"
"Oh iya, maaf ya bang mobilnya gue jual.." Rezza tersenyum awkward.
"Gapapa paham kok gue, nah hmm tahun ini karena ada penurunan tadi, jadi sesuai ya kita bisa refer ke deal awal profit sharing kita berdua kan 70:30. Jadi tahun ini gue akan bayarkan bagi hasil kita, setelah dikurangi budget-budget lain, lo akan menerima 3,4 M. detailnya nanti akan di-share oleh finance ya.." Hendro menjelaskan.
"Alhamdulillah.. Thank you bang." Rezza berterima kasih.
"Oh iya gue denger soal mobil. Hmm karena tahun lalu gue sempet bilang mau beli mobil kantor juga kan. Nah kalo misal kita sewa aja gimana? Kantor bokap gue tuh ada 3 mobil sewa, sebulannya masing-masing 7 jutaan. Ya mobilnya setara Avanza sih. Tapi okelah daripada beli baru kan 300 jutaan."
"Hmm sebetulnya gue udah kepikiran mau beli mobil kantor buat K&B bang, karena kemarin gue jual Forester kan niatnya karena gue mau ganti mobil listrik yang lebih murah, dan sisanya beli mobil satu lagi buat kantor.. Budget-nya ada kok dari gue pribadi."
"Za.. Gue beliin lo Subaru itu ikhlas. Bukan berharap lo kembaliin. Jadi ini tetep tanggung jawab gue dan perusahaan. Udah kita sewa aja ya. Menurut gue sayang aja kita beli mobil mahal-mahal in this economy gitu." Hendro meyakinkan Rezza.
"Hmm iya juga sih bang. Yaudah gue ikutin lo aja, kalo emang menurut lo bagus, gak ada kekurangan atau sisi negatifnya, yaudah gue ikut cara lo."
"Okay, nanti gue bilang finance ya, sediain budget untuk mobil kantor. Keknya masing-masing satu deh. K&B satu, Setara satu."
"Hah? Jadi sewa dua mobil gitu bang?" Rezza tanya.
"Iya.. Masa satu doang Za? Nanti Setara sama K&B bentrok gara-gara mobil doang, pusing lo sama Sherin. Ya kan?"
"Hehe iya juga sih bang."
"Yaudah lo tenang aja.. Fokus sama kerjaan lo aja Za. Biar yang gini-gini jadi urusan gue dengan finance nanti."
"Sipp, thank you bang.. Eh iya gue belum cerita ya?"
"Soal apa?" Hendro tanya.
"Hmm waktu itu gue pernah cerita kan kalo gue lagi cari Personal Assistant, PA untuk Sherin. Nah siang ini ada yang mau interview jam 2. Kalo nanti jadi, gue akan gaji dia dari budget gue. Aman kan bang? Gue gak mau Sherin tau tapi."
"Haha Rezza Rezza.. Bucin lo kelewatan. Apa salahnya sih jujur aja? Nanti malah dia tersinggung lho kalo tau lo yang bayarin PA Sherin." Hendro mengingatkan.
"Duh jangan dong bang.. Gue... Gue gamau Sherin sampe nolak, karena ini permintaan bokapnya kan. Makanya gue rela begitu." Rezza melemah.
"Yaudah, atur aja.. Tapi kalo sampe Sherin tau, kalian malah jadi ribut-ribut. Gue gak ikutan."
"Sipp, thank you bang. Abis ini gue temuin finance dan HR."
"Okay.. Yaudah abisin dulu minumnya Za. Gue mau mampir ke ruangan Clarissa abis itu balik kantor bokap."
"Haha bucin juga lo ya.." Rezza meledek balik.
"Ya gapapa lah, semua orang ada masanya kan ngebucin?"
"Gue setuju! Setuju banget bang haha"
Di ruangannya Sherin baru sempat membalas chat dari Hera.
"Heraa.. Maap baru bales.. Gue lagi riweuh abis pindah kantor. Kenapa buuk??" sent.
"Gue call ya Sher.." Hera balas.
"Boleh-boleh.. Call aja Ra." Sherin jawab.
Tak lama ponsel Sherin berbunyi ada call masuk dari Hera.
"Heraa.. Pa kabar lo?" Sherin mengangkat call itu dengan ceria.
"Alhamdulillah baik gue Sheer.. Lo lagi sibuk banget kayanya?"
"Eh nggak kok, jadi hari ini gue lagi first day di kantor baru. Maaf ya baru bales.."
"Iya santai kokk. Kan gue ibu rumah tangga jadi santai lahh, menyesuaikan sama lo yang wanita karir.. Hehe"
"Ihh nggak lahh.. Terus, gimana Ra? Ada apa nih mau call gue tumben-tumbenan.."
"Ya maap deh, kemarin-kemarin kan kita gak sempet-sempet ya ketemu. Gue cuma mau tanya aja. Kemarin lo ke Bali? Gue liat di IG lo sih."
"Iya Ra, kemarin gue diajak Mas Rezza ke Bali. Liburan sebentar habis gue last day di kantor sebelumnya, dan kita juga foto-foto buat pre-wed.. Hihi"
"Ada satu lagi yang lo belom cerita, lo dilamar Rezza kan di sana?" Hera tanya.
"Haha iyaa.. Gue gaenak ceritanya males ditanya-tanya sama lo ntar haha"
"Hah? Apa sih Sher? Jadi gamau nih gue tanya-tanya?" Hera pura-pura ngambek.
"Nggak lahh. Bercanda gue Ra.."
"Hmmm. Jadi gini Sher.. Kemarin sore si Aldi chat gue, terus yaudah gue bilang call aja."
"Hah? Aldi? Aldi Akbar?" Sherin tiba-tiba tegang wajahnya.
"Iya.. Dia ketemu lo di Bali kan katanya?"
"Hmm iya.. Gue gak sengaja ketemu dia di Bali. Katanya lagi ada kerjaan gitu. Kenapa Ra?"
"Hmm gitu.. Gue cuma bingung aja, tiba-tiba dia nanya-nanya gitu kan."
"Nanya apa?"
"Nanya soal elo Sher."
"Hah? Nanya soal gue?"
"Iya.. Dia nanya lo tuh sama Rezza gimana, karena dia sempet denger lo udah nikah beberapa tahun lalu kan. Dia bingung ketemu lo dan Rezza di Bali tapi ternyata Rezza belum jadi suami lo."
"Terus-terus?"
"Yaudah, gue ceritain aja kalo lo memang mau nikah sama Rezza, terus hmm maaf ya Sher gue cerita sebelumnya lo nikah sama cowok lain."
"Ohh iya gapapa Ra.. Kenapa ya dia tanya gitu? Lo ada tanya dia kenapa penasaran?"
"Hmm gatau ya.. Ya kan gue tau nih dia dulu pernah naksir elo. Mungkin nih, mungkin ya cuma dugaan gue aja. Bisa jadi dia sempet kepikiran mau deketin lo."
"Hah? Apaan sih? Emang bukannya dia udah nikah? Gue pernah dikirim undangan kok dulu di chat."
"Oh iya?"
"Iya dulu tahun berapa ya.. 2019 apa sebelum pandemi, gue masih pacaran sama Mas Rezza waktu awal-awal kan. Terus dia kirim japri ke gue undangan. Gue bilang aja gabisa karena waktu itu tanggal nikahannya, gue ada acara kalo gak salah inget sama Mas Rezza."
"Ohh, jadi lo tau ya soal dia udah nikah?"
"Iya tau gue.. Terus, kenapa dia nanya-nanya?"
"Hmm.. Gue gaenak ceritanya sebenernya."
"Hah? Kek ama siapa aja lo.. Cerita aja Ra."
"Bukan-bukan.. Dia cerita sama gue dia udah divorce."
"Ohh gitu.." Sherin terdengar agak tak nyaman mendengar kata divorce.
"Gue cerita aja lah ya, tapi lo kalo ketemu dia lagi pura-pura gatau aja Sher."
"Hmm okay, soal apa Ra?"
"Aldi cerita ke gue katanya dia divorce karena mantan istrinya selingkuh dengan teman kantor, sampe hamil, dan pas lahir ternyata itu bukan anak dia."
"Astaghfirullah.. Kasian banget dengernya."