Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #38

Chapter 38

Weekend itu, minggu pagi Sherin dan Rezza ke rumah orang tua Sherin. Di sana diadakan pengajian mengundang beberapa lusin anak panti asuhan, dan anak yatim dari sebuah yayasan sebagai bentuk syukuran menjelang hari pernikahan Rezza dan Sherin.

Keluarga terdekat diundang, ada acara kumpul-kumpul sederhana sekaligus.. Tukar cincin.

Tema hari itu all white. Rezza menggunakan kemeja Shanghai lengan pendek dengan bawahan semua serba putih. Rezza menggunakan sebuah kopiah berwarna hitam, kopiah itu adalah peninggalan ayahnya, Om Bagas. Rezza sedang mem-branding dirinya menggunakan kopiah sejak ia mulai tak pede karena rambut bagian depannya mulai mengalami kerontokan. Sherin sendiri tak risau, yang terpenting adalah Rezza selalu berada di dekatnya.

Sherin mengenakan kaftan putih dengan celana panjang semata kaki. Keduanya menggunakan alas kaki berwarna cokelat selama berada di dalam rumah. Sherin mengalungkan kerudung dengan renda-renda di kepalanya, membuat wajahnya nampak sangat cantik bikin Rezza tak bosan memandangnya. Make up tipis, lipstik merah muda membuat aura Sherin terpancar seakan 10 tahun lebih muda.

10.02 | Pengajian sudah selesai. Adik-adik satu persatu pamit pulang, tak lupa dibawakan sebuah tas berisi jajanan anak-anak dan makanan bergizi serta diberikan amplop masing-masing mendapatkan seratus ribu rupiah. Total ada enam puluh dua anak yang ikut hari itu. Rezza dan Sherin sampai pegal menyalami satu-satu.

Setelah semua adik-adik pamit pulang, Sherin dan Rezza memulai acara. Dipimpin oleh Bang Syahrul yang menjadi perwakilan keluarga Rezza. Acara itu dibuka dengan doa dan Tausiyah singkat dari Bang Syahrul. Sherin dan Rezza duduk sebelahan di sebuah sofa panjang yang ditaruh persis di tengah-tengah dari dua pihak.. Keluarga Sherin dan Keluarga Rezza.

Tak lupa ponakan-ponakan gemas mereka 'menghiasi' suasana pagi menjelang siang itu. Tanpa banyak basa-basi. Sherin dan Rezza melakukan prosesi tukar cincin. Peresmian ini sebagai pengganti prosesi lamaran karena Rezza dan Sherin ingin acara yang lebih simpel tanpa ada alur adat dan budaya yang menyita waktu.

Di depan semua orang, Sherin ditemani orang tuanya, Om Arwin dan Tante Rani. Rezza didampingi oleh duo sepupunya, Kak Vina dan Bang Syahrul.

Di antara para tamu, ada wajah-wajah familiar, mulai dari Om Syafri, Hendro, Clarissa, Trio IJA bahkan hadir di sana, Janice sudah benar-benar bisa menerima keadaan hubungannya dengan Rezza tak bisa ke mana-mana. Lalu dari pihak Sherin, ada Tante Mona, Tante Nila, Kak Ara, Sarah, dan keluarga besar Sherin lainnya termasuk dua abang kandung, pasangannya, serta anak-anaknya.

Surprisingly, ada Om Sofyan dan Tante Dewi ikut datang karena diundang oleh Rezza dan Sherin. Mereka juga ikut berbahagia datangi acara lamaran Rezza dengan Sherin hari itu. Tak lupa beberapa orang-orang dekat lainnya mulai dari Hera, sahabat Sherin, Toni, Adit, dan Yossa tiga orang sahabat Rezza, Widya sahabat Sherin di kantor lama, sampai Sari dan Tyas, PA Sherin yang belum lama ini dikenal.

Semua nampak happy melihat Sherin dan Rezza hari itu. Walau tampak jelas rasa lelah melekat di wajah Sherin dan Rezza, mereka tetap memancarkan aura bahagia, semua orang merasakan.

"Rezza.. Tante mau kamu berjanji ya, mulai hari ini kamu sudah menjadi bagian penting dari keluarga kami. Walau kalian belum akad nikah, tapi kamu sudah dikenal oleh semua keluarga Sherin. Kamu harus menjaga adab dan nama baik keluarga, juga nama baik kamu dan Sherin.." Tante Rani memberi wejangan.

"Baik.. Terima kasih Tante Rani. Om Arwin.." Rezza matanya berkaca-kaca.

"Sherin.. Sebentar lagi kamu akan menjadi Nyonya Rezza. Tolong berjanji untuk saling menjaga diri kamu dengan Rezza ya." Kak Vina berbicara ke Sherin.

"Baik kak.. Aku janji akan menjaga diri dan nama baik aku, serta Mas Rezza." Sherin menitikkan air mata haru bahagia.

Tangan kiri Sherin dipasangkan cincin oleh Kak Vina. Lalu tangan kiri Rezza dipasangkan cincin oleh Tante Rani. Semuanya di jari manis sebagai simbol pertunangan. Semua mengucapkan Alhamdulillah.. setelah prosesi itu selesai.

Rezza salim ke Tante Rani, Om Arwin, Kak Vina, dan Bang Syahrul, diikuti oleh Sherin.

Tak buru-buru berfoto, Rezza justru mengajak Sherin untuk menyalimi tetua di keluarga mereka dari Om Syafri, tante-tante dan om-om Sherin, sampai ke Om Sofyan dan Tante Dewi yang tak ada hubungan keluarga dengan mereka. Mereka pun foto-foto bersama dengan Tante Rani, Om Arwin, Kak Vina, Bang Syahrul, dan duo ponakan gemas Alsya dan Arshad. Tiga ponakan Sherin pun iri, mereka ikut foto bersama, suasana penuh haru dan kehangatan pagi itu.

Yang mengejutkan adalah.. Trio IJA semua datang dengan pasangan. Anya hadir dengan seorang pria yang ia kenal beberapa waktu lalu, pria itu adalah anak dari partner bisnis ayahnya Anya. Rezza dan Sherin pun baru bertemu hari itu. Janice menggandeng seorang cowok yang ternyata adalah sahabatnya dari SMA di Bali. Cowok itu tinggal di Bali, tapi kalau weekend mendatangi Janice ke Jakarta. Pekerjaannya memiliki beberapa usaha di Bali, mulai dari studio tato, jasa fotografi pre-wed, hingga tour guide untuk turis-turis asing. Janice sudah kenal lama dari SMA tapi baru dekat belakangan ini. Karena sebelumnya cowok itu punya pacar yang tak lama sebelum pertemuannya kembali dengan Janice memutuskannya. Hubungannya ini membuat Janice semakin bisa berdamai dengan perasaan hatinya ke Rezza beberapa waktu lalu.

Dan yang terakhir adalah Icha. Icha akhirnya bisa membuka hatinya untuk pria yang juga kenal dengan Rezza dan Sherin... Yaitu Ardi. Ardi cukup pandai mencuri hati Icha sehingga mereka sudah cukup dekat sekarang.

Mereka bertiga belum official sama pasangannya masing-masing, tapi setidaknya mereka menjalani hari-hari menjelang pernikahan Rezza dan Sherin menjadi lebih mudah karena mereka tak lagi berlarut dalam kesendirian.

Semua tamu maju ke depan untuk memberikan selamat kepada Sherin dan Rezza. Om Arwin, Tante Rani, Kak Vina, dan Bang Syahrul pun kembali ke kursi di pihak keluarga masing-masing.

"Congrats yaa Kak Sherin.. Bang Rezza.. selangkah lagi menuju official.. Hehe" Clarissa memeluk Sherin.

"Congrats sobb, lancar-lancar sampe hari-H yakk.." Hendro bro hug ke Rezza.

"Makasi yaa Cla, Bang Hendro.. Kalian juga semoga disegerakan yaa hehe" Sherin dan Rezza kompakan.

"Amiinn.." semua yang mendengar mengamini. Hendro dan Clarissa kikuk.

"Foto dulu yukk kita berempat.." Sherin ajak Cla dan Hendro foto bareng.

"Yuk yuk.." Clarissa excited.


Tak terasa hari sudah menjelang sore. Semua tamu masih sangat menikmati hari itu. Suasana rumah orang tua Sherin yang asri dan luas, ditambah dua buah AC standing besar yang menambah sejuk suasana. Semua tamu serasa betah sekali di sana. Nampak Om Sofyan sedang berbicang serius dengan Om Arwin, Tante Rani sibuk meladeni obrolan ibu-ibu dari Tante Dewi, Tante Mona, Tante Nila, sampai Kak Vina ikut bergabung. Sementara Sherin sedang makan sambil cerita-cerita dengan Hera dan Widya, dua sahabat terdekatnya.

"Sher.. Jadi acara pestanya kapan? Di mana?" Widya tanya.

"Ada deh. Pokoknya sebulan sebelum hari-H gue info yaa.. Masih tentatif soalnya antara dua tanggal gitu, masih nunggu approval bokap nyokap gue." Sherin jawab.

"Hah? Kok gitu Sher? Emang kenapa??" Hera bingung.

"Iya soalnya bokap nyokap ada rencana mau umroh kan, terus lagi ngitung-ngitung bentrok gak sama jadwal kita pesta nanti. Soalnya nyokap gue udah nazzar kalo gue nikah sama Mas Rezza, mama mau ajak papa umroh."

"Hmm gitu, tapi mepet banget Sher?" Widya tanya.

"Yah namanya nazzar kan jangan ditunda-tunda.." Sherin ada benarnya. Mata Sherin mencari-cari ke mana calon suamik tercintanya, kok sepanjang mata memandang tak nampak batang hidungnya.


Ternyata Rezza sedang di belakang, cowok-cowok terutama yang merokok berkumpul di teras belakang, di gazebo. Rezza dikelilingi oleh pria-pria mulai dari Toni, Adit, Yoza, sampai Mas Armand dan Mas Rendi pun di sana.

"Jadi nanti habis dari KUA aja nih kita datangnya?" Mas Armand tanya.

"Kalo mau datang ke KUA silahkan mas. Tapi kan takutnya tempatnya sempit. Gaenak juga jadi merepotkan, mending langsung ke venue aja nanti yak." Rezza jawab.

"Iya sih, mending yang penting-penting aja yang dateng. Orang tua, saksi, sama fotografer udah.." Mas Rendi nyaut.

"Betul itu mas. Di KUA biasanya sebentar doang juga kok. Gak akan ada sesi haru pasti. Karena penghulu juga kalo di KUA maunya cepet selesai." ujar Toni.

"Pengalaman banget keknya lu Ton.." Rezza asbun. Semua tertawa.

"MAAASS.. SAYANGG..." Suara Sherin yang merdu nan melengking memanggiil Rezza dari pintu teras belakang.

"Ehh Za.. dipanggil tuh sama calon binik. Buruan.." Yoza colek Rezza.

"Hah? Kenapa dah Sherin teriak-teriak?? Bentar yak.." Rezza bangkit lalu setengah berlari menghampiri Sherin.

"Kenapa sayang?" Rezza tanya..

"Kamu ngapain di sana?? Kamu ngerokok lagi??" Sherin nembak Rezza.

"Hah enggak. Aku ngobrol doang lah sama mereka-mereka.." Rezza kaget dibilang begitu.

"Hmm ini bau rokok kamu.. Ihh awas ya ngerokok lagi." Sherin marah-marah.

"Sayangg.. Itu yang ngerokok mereka. Aku cuma duduk doang wajar kena asep mereka." Rezza jujur, dia memang sudah berhenti lama.

"Yaudah sini masukk. Mama papa mau ngomong." Sherin tarik tangan Rezza.

"Hah?? Ngomong apa deh?" Rezza hanya pasrah.

"Sini, ikut aku." Sherin menggeret Rezza ke depan Om Arwin dan Tante Rani. Semua orang memperhatikan.

"Iya om, tante.. Ada apa?" Rezza bingung.

"Silahkan duduk Rezza.." Tante Rani persilahkan Rezza duduk di kursi tak jauh dari sana. Sherin menarik tangan Rezza untuk ikut duduk di situ.

"Jadi gimana persiapan untuk pesta resepsi kalian?" Om Arwin tanya.

"So far, aman om, tante. Semua sudah sesuai kemauan kami. All good..

Kami pakai konsultan wedding dari rekomendasi Yanti ya sayang?" Rezza tanya ke Sherin.

"Iya mah.. Semua aman sih. Tinggal disesuaikan tanggalnya nanti tergantung papa mama berangkat umroh kapan." Sherin jawab..

"Iya om tante, sayangnya Yanti gak bisa hadir hari ini karena ada acara lain. Hmm sejauh ini kami ingin semua keluarga tidak ada yang perlu direpotkan. Kami mau semuanya hadir, tinggal pakai baju yang akan kita bagikan H-1 bulan, semuanya nanti akan diukur oleh penjahit yang kami dapat. Jadi gak perlu jahit sendiri kalau kesulitan, tapi kalau mau jahit sendiri silahkan. Pokoknya kami mau semuanya nyaman, tinggal hadir. Kalau om dan tante lainnya mau jadi among tamu, jadi usher apapun itu, silahkan. Tapi kami tidak mau memaksa. Semuanya harus happy hari itu. Kami jamin konsultan kenalan kami ini akan berikan keleluasaan untuk kita di sana tinggal happy-happy aja. Toh gak ada akad nikah juga kan di sana."

Semua orang memahami, Rezza dan Sherin sudah mempersiapkan ini matang-matang.

"Yaudah kalo gitu, intinya.. Kalau kalian ada perlu apapun, jangan sungkan-sungkan ya. Bilang ke papa, mama, tante-tante, om-om semua." Om Arwin mengingatkan.

"Saya juga siap bantu Rezza, Sherin.. Kalian butuh apa kasih tau om ya." Om Sofyan nimbrung.

"Bantu lunasin sewa gedung sama katering bisa om?" Rezza asbun. Hendro tertawa ngakak.

"Itu ngelunjak ya kamu ini.." Om Sofyan sempet-sempetnya jawab. Semua pun tertawa lepas.

Sherin mencubit gemas pipi Rezza. Semua orang di sana melihat betapa gemasnya couple ini. Semua berdoa dalam hatinya masing-masing agar Sherin dan Rezza diberi kelancaran sampai hari pernikahan mereka.. Dan setelahnya.


Keesokan harinya, Rezza dan Sherin menjalani hari-hari seperti biasa. Kurang dari dua minggu lagi mereka akan sah menjadi pasangan suami istri. Rezza membukakan pintu untuk Sherin, mereka berdua berjalan ke dalam gedung kantor. Sherin terlihat lelah, tapi kecantikannya luar biasa berbinar. Rezza pun yang dandanannya hari itu simpel, terlihat tampan dengan kemeja flanel favoritnya dan kaus hitam di dalamnya. Mereka berdua bergandengan tepat jam 08.30 di lobi.

"Aku antar ya kamu ke dalam.." Rezza menggandeng tangan Sherin, mereka berjalan menuju ruangan Sherin. Tyas sudah di sana.

"Morning Mbak Sherin, Bang Rezza.." Tyas menyapa lalu berdiri.

"Morningg.." Rezza dan Sherin sapa balik.

"Meeting jam berapa Tyas? Udah dikasih tau Sari?" Sherin tanya.

"Katanya sih jam 9 mbak, nanti aku make sure lagi ya."

"Okay, please do.. Thanks.." Sherin jawab, Rezza bukakan pintu ruangan.

"Sama-sama mbak.." Tyas menjawab sambil duduk lagi di kursinya.

"Silahkan duduk my soon to be wife.." Rezza gombal sekali pagi itu, sambil menarik kursi kerja.

"Makasih sayangku.." Sherin membelai lembut pipi Rezza.

"Mau aku temenin atau gak? Kalo gak aku langsung ke atas.." Rezza tanya.

"Sini dulu aja.. Aku masih ngantukk." Sherin manja.

"Mau aku buatin kopi?" Rezza menawarkan.

"Gausah maskuu.. Aku kan pengen kamu di sini, nanti aku minta tolong Tyas aja."

"Okay sayangg.." Rezza duduk di sofa. Sherin membuka laptop-nya, Rezza melihat ponsel. Mereka berdua pun sibuk masing-masing namun tak mau jauh-jauhan.


10.23 | Di ruang meeting lantai 3. Arina, Janice, Icha, Anya, dan Sigit meeting bersama Rezza.

"Jadi sabtu ini yang ikut ke pameran siapa aja?" Rezza tanya.

"Gue sama Icha bang. Janice kan gak megang klien ini." Anya jawab.

"Ohh okay, jam 9 kita udah harus di sana?"

"Iya, tapi gak harus ontime juga sih bang. Klien gak info akan datang juga sih." Icha nyaut.

"Minggunya? Siapa yang bisa datang?"

"Minggu gak perlu harusnya bang, klien cuma minta make sure hari pertama aja sih." Anya jelaskan.

"Okay kalo gitu, sabtunya gue juga ikut deh. Nanti gue ke sana ya Nya, Cha."

"Okay, noted bang.." Anya dan Icha jawab.


Jump to rabu, 09.38 Rezza dan Sherin bertemu kembali dengan penghulu di KUA Kemang Timur.

"Jadi ini bacaan yang nanti akan Mas Rezza ucapkan saat ijab kabul minggu depan.." Penghulu itu memberi secarik kertas untuk Rezza.

"Nah ini nanti untuk wali nikah atau ayah kandung dari calon mempelai wanita." ia lanjut berikan secarik kertas itu untu Sherin.

"Terima kasih pak.." Rezza dan Sherin say thanks.

"Nah ini tata cara ijab kabul. Silahkan dibaca, atau dibawa juga boleh ya.. Hanya untuk dipahami saja gak harus dihapal."

"Baik pak. Nanti kami bawa dan pelajari lagi. Ada lagi yang perlu kami dapat pak?" Rezza tanya.

"Hmm terakhir ini aja, minta tandatangan untuk kartu nikah kalian nanti. Jadi ini surat pengantar untuk pembuatan kartu nikah, kalian tinggal tanda tangan minggu depan di kartu nikah aslinya. Ini untuk pengantarnya saja." Penghulu memberikan dua lembar kertas ke Sherin dan Rezza.

"Kita tanda tangan semua kertas ya pak?" Sherin tanya.

"Iya betul, silahkan ditandatangani di kolom CMP dan CMW."

"Siapp.. ini kami tandatangan ya pakk." Rezza semangat sekali. Mereka bertukar kertas itu untuk saling ditandatangani.

"Okeh sudah, Alhamdulillah.. Ini yang lainnya silahkan dibawa. Yang ini saya ambil untuk pengantar kartu nikah."

"Baik pak.. Ada lagi pak?" Sherin tanya.

"Sudah Mbak Sherin. Nanti sampai ketemu minggu depan hari rabu juga, jam 11 ya? Nanti datang lebih cepat aja gapapa, kalau semua sudah siap bisa disegerakan."

"Oh gitu, baiklah pak. Kami akan hadir lebih cepat dari waktu tersebut ya."

"Okay.. Kalau gitu saya tinggal ke dalam lagi. Ada pertanyaan lain, silahkan chat saya di nomor yang sudah saya kasih minggu lalu ya."

"Oh iya. Siap pak.. Kalau gitu kami pamit ya pakk. Sampai ketemu minggu depan." Rezza menjabat penghulu itu.

"Terima kasih pakk.." Sherin juga menjabat tangan pengulu.

"Sama-sama. Sampai minggu depan ya.."

"Baik pakk."


07.49 | Sabtu pagi, Sherin dan Rezza sarapan bersama di ruang makan.

"Mas.. Kamu mau jalan sekarang?" Sherin tanya.

"Iya sayang.. Ini aku udah mau jalan. Jauh soalnya ke BSD kan." Rezza jawab sambil meminum air putih di gelas.

"Aku gak boleh ikut mas?" Sherin manja.

"Sayangnya aku. Kita kan beberapa hari lagi mau nikahan, kamu jangan capek-capek ya.. Di rumah aja. Di sana repot nanti, tempatnya gak nyaman."

"Aku gapapa kok mas.. Aku bosen di rumah doang." Sherin merengek.

"Hmm aku setengah hari aja kok. Nanti sore atau malem kita jalan, oke?"

"Yaudah deh kalo gitu.." Sherin melengos.

"Hmm sayang. Tunggu aku ya. Kamu istirahat aja di rumah." Rezza mendekat, mencium kening Sherin sambil memeluk hangat.

"Aku jalan dulu ya.. Bye.." Rezza mengelus tangan Sherin lalu jalan ke depan. Sherin agak bete. Ia diam di kursinya. Tapi tak berapa lama Sherin bangkit lalu mengejar Rezza.

"Mass.. Jangan kelamaan di sananya. Aku kangen kamu nanti." Sherin peluk Rezza.

"Iyaa.. Begitu aku selesai, aku langsung pulang ya. Wasalamualaikum."

"Waalaikumsalam mas.." Sherin merasa berat melepas Rezza pagi itu.

Rezza masuk ke mobilnya membuka kaca, lalu kiss bye ke Sherin.

"Bye sayangg.." Rezza teriak dari dalam mobil.

"Hati-hati masku sayangg.." Sherin balas kiss bye itu.


08.55 | Rezza tiba di parkiran basement sebuah mall di BSD. Ia buru-buru ke lift lalu naik ke lantai ground floor.

"Cha.. Udah sampe?" Rezza call Icha.

"Udah nih gue sama Anya udah di selasar lantai dasar, lo di mana bang? Klien udah mau sampe katanya."

"Ini gue baru keluar lift. Wait gue jalan ke situ ya.." Rezza setengah berlari membawa sebuah goodie bag berisikan material marketing yang baru saja dicetak semalam.

"Okeh bang.." Icha menutup call itu.


10.20 | Sherin mulai jengah di rumah. Dari tadi dia tak bisa tenang karena Rezza pergi agak jauh darinya. Walau ia tak ada maksud cemburu dengan Icha dan Anya yang menemani Rezza di sana, tetap saja pikirannya melanglangbuana ke mana-mana teringat Rezza akan bertemu dua gadis cantik AE K&B itu.

"Hmmm aku pergi bentar deh.. Bisa stress nih di rumah gini. Mbak Ani juga izin pergi lagi hari ini baru balik sore." Sherin bicara sendirian sambil berdiri di ruang TV.

"Ke Citos aja deh, mumpung masih pagi mau ngopi dan nyemil di sana." Sherin mendapat pencerahan, ia buru-buru ke kamar mengganti baju dan celananya lalu mengambil tas serta kunci mobil.


"Jadi hari ini targetnya semua marketing tools yang kami cetak semalam harus habis setidaknya 50 persen Ibu Lani. Nanti sisanya besok dilanjutkan. Karena kalau mall seperti ini harusnya lebih ramai di hari sabtu daripada minggu." Rezza berbicara di depan Ibu Lani, brand director dari klien MinyakCo.

"Well noted Mas Rezza.. Tapi nanti kalau activation-nya berhasil atau tidak, indikatornya dari mana dong?"

"Nanti kita akan ada story challenge bu, waktu itu kami sudah dapat approval dari Mas Setya yang hari ini tidak hadir ya?" Anya menjawab.

"Oh gitu, jadi buat konsumen yang mau dapat harga bundling harus update di IG story ya? Iya-iya maaf baru ingat saya kemarin sudah baca deck detail dari kalian.."

"Hehe iya gapapa bu.. Btw hari ini ibu aja atau nanti yang lain akan ada yang datang?" Rezza tanya.

"Harusnya nanti ada anak baru, dia yang akan jadi tandemnya Setya ke depannya. Ditunggu ya dia katanya agak telat ada urusan sebentar." Bu Lani jawab.

"Baik bu, aman kalau gitu. Soalnya ibu pasti gak sampai sore di sini kan?" Anya memastikan.

"Iya, saya sampai siang aja di sini." Bu Lani jawab tersenyum sambil duduk di sebuah kursi sisa di belakang salah satu booth produk MinyakCo.

Rezza mendapat notif chat dari Sherin.

"Mas.. Aku keluar sebentar beli kopi sama cemilan ya. Bosen di rumah sendirian."

Lihat selengkapnya