16.27 | Rezza dan Sherin melangkah masuk rumah. Sepertinya Mbak Ani belum pulang.
"Aku mau call Toni dulu ya sayang.."
"Mass, kamu masih perlu istirahat. Nanti aja ya.."
"Tapi mobil aku di.. di kantor polisi kan pasti."
"Mas.. Sayang.. Mobil bisa dibeli lagi, yang penting kamu sekarang. Kamu tadi masih pusing kan katanya. Istirahat dulu ya." Sherin nampak tak suka dibantah oleh Rezza.
"Okay. Maafin aku ya.." Rezza duduk di sofa depan TV.
"Nggak, kamu gak salah mas. Aku yang salah, aku tadi gak dengerin kata-kata kamu. Aku minta maaf ya.." Sherin berlutut mencium tangan kanan Rezza.
"Sayang.. Gausah, sini bangun, aku gak marah sama kamu. Gak perlu minta maaf." Rezza sekuat tenaga mengangkat tubuh Sherin yang melemah berlutut di hadapannya.
"Aduhh... Pusing..." Rezza tiba-tiba sakit kepalanya.
"Mas.. Kamu kenapa?" Sherin panik.
"Kepala aku.. Pusing.." Rezza memijit kening kanannya, menundukkan kepalanya.
"Mas.. Sini.. Rebahan dulu ya.." Sherin menarik tubuh Rezza, kepalanya ditaruh di paha Sherin.
"Yang mana yang sakit mas?" Sherin nampak khawatir.
"Kepala kanan aku nyut-nyutan.. Huffhh.." Rezza sampai melenguh menahan sakitnya.
"Sini sayang. Kamu pejamkan mata dulu ya.. Pasti kamu masih shocked tadi. Udah kamu jangan mikir apa-apa dulu. Ada aku di sini mas. Aku gak ke mana-mana.." Sherin menarik wajah Rezza hingga menghadap ke wajahnya. Rezza pejamkan mata sambil mengatur ritme nafasnya.
"Maafin aku... Sayang.." Rezza berbisik.
"Aku juga minta maaf mas.." Sherin membelai lembut wajah dan kepala Rezza. Perlahan-lahan Rezza tertidur di pangkuan Sherin.
Keesokan harinya, minggu pagi jam 07.43 Sherin dan Rezza masih di kamar. Mereka sudah bangun tapi memutuskan untuk istirahat lagi. Rezza merasa badannya pegal-pegal dan ingin rebahan lebih lama lagi, Sherin pun dengan setia menemani.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Mbak Ani bukakan pintu.
"Assalamualaikum.." Kak Vina, Bang Syahrul, dan anak-anaknya datang.
"Waalaikumsalam.. Kak Vina ya?" Mbak Ani menebak.
"Iya betul mbak. Mbak siapa namanya? Lupa aku.."
"Aku Ani kak.. Biasa dipanggil Mbak Ani sama Mas Rezza dan Mbak Sherin."
"Oh iya Mbak Ani.. Rezza dan Sherin ada?"
"Ada kak tapi gatau tidur atau nggak, mereka di kamar. Masuk dulu aja kak."
"Oke permisi ya. Ini ada lauk dan nasi minta tolong disajikan ya Mbak Ani."
"Baik, makasih ya Kak Vina. Nanti aku siapkan di meja makan."
"Okay, yuk masuk.." Kak Vina ajak suaminya dan anak-anak ke dalam.
"Iya silahkan Kak Vina, Bang Syahrul.." mereka semua lalu masuk ke ruang TV. Sherin keluar dari kamar.
"Oalah Kak Vina.. Aku kira siapa pagi-pagi." Sherin mencipika cipiki Kak Vina.
"Iya ini anak-anak mau nengokin omnya. Rezza masih tidur?"
"Haii Alsya, Arshad. Ada kak lagi rebahan aja di kamar. Nanti aku panggilin. Duduk kak, bang."
"Iya kami duduk ya Sherin.." Bang Syahrul permisi.
"Silahkan, silahkan.. Alsya sama Arshad udah sarapan? Mau tante buatin makanan?"
"Eh gausah Sher.. Kakak bawa makanan itu tadi udah dititip ke Mbak Ani minta disiapin."
"Yaampun kak jadi repot-repot.."
"Nggak kok.. Kakak kan juga nengokin Rezza."
"Yaudah bentar ya aku panggil Mas Rezza.."
"Iya Sher.. Kalo tidur gapapa gausah dibangunin."
"Okay kak.." Sherin masuk ke kamarnya. Sekilas terlihat lampu kamar dimatikan, cahaya remang-remang dari jendela.
"Masss.. Sayang.. Ada Kak Vina datang sama ponakan-ponakan kamu.."
"Hmm? Kak Vina? Kak Vina sama Bang Syahrul ke sini?" Rezza membuka matanya.
"Iya sayang.. Kamu mau ke depan?" Sherin membelai lembut tangan Rezza.
"Iya iya aku ke depan.."
"Sini aku bantu mas" Sherin menarik tubuh Rezza pelan-pelan.
"Aww ngilu pinggang aku.." Rezza sedikit mengeluh.
"Tahan ya mas.. Sini aku pegangin." Sherin membantu Rezza bangkit dari ranjang. Sherin sempat terserimpet kakinya, Rezza sekuat tenaga menangkap Sherin.
"Aww.. Sayang hati-hati." Rezza menahan pilu di pinggangnya menangkap Sherin.
"Maaf-maaf mas.. Aku keserimpet tadi."
"Kaki kamu sakit?" Rezza tetap perhatian.
"Nggak kok mas, aman. Makasih ya.." Sherin senyum ke Rezza.
"Iya.. Yaudah yuk." mereka berdua saling merangkul keluar kamar.
"Ini minum teh manis hangat buat Kak Vina, Bang Syahrul. Anak-anak mau minum apa? Ada susu, coklat, atau es teh mungkin?" Mbak Ani menawarkan.
"Eh gausah mbak, makasih.. Itu pada bawa minum sendiri kok."
"Yaudah aku permisi ya kak, bang."
"Iya makasih Mbak Ani."
Rezza dan Sherin membuka pintu, mereka keluar dari kamar.
"Kak.. Bang.. Kok pagi-pagi ke sini?" Rezza menyapa.
"Kenapa Za? Masih sakit?" Bang Syahrul tanya.
"Nggak bang, agak pegal nih pinggang aku.. Kaya keseleo gitu."
"Iya itu pasti efek kamu kemarin kecelakaan dek, pasti ototnya ada yang terkilir. Jangan aktivitas berat dulu ya. Biar cepat pulih." Kak Vina kasih wejangan.
"Okay kak, makasih ya.." Sherin dan Rezza duduk di sofa.