Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #40

Chapter 40

08.45 | Rabu pagi, Sherin dan Rezza bersiap di rumah. Di ruang tamu depan ada Toni, Yossa, dan Adit tiga sahabat Rezza yang mampir untuk make sure semuanya baik-baik aja. Rezza menemani tiga sahabatnya di ruang tamu karena Sherin sedang di-make up oleh make up artist.

Ada juga di ruang TV, Hera dan Widya yang merupakan teman terdekat Sherin serta Tyas sebagai PA Sherin ikut hadir. Dua orang konsultan wedding mereka, Kaluna dan Yoza yang sedang menunggu sepasang kliennya itu duduk di sofa depan TV bersama beberapa orang di sana. Seorang fotografer dan seorang videografer juga sedang menunggu di teras depan sambil disuguhkan snack box dan kopi yang dibeli oleh Rezza dan Sherin untuk tamu-tamu yang hadir ke rumah. Mbak Ani sibuk mengantar minuman dan snack box ke semua orang yang pada pagi itu sudah nampak rapih dan bersiap.


09.25 | Rezza mengetuk pintu ruang studio lalu membukanya, wajahnya tersenyum sumringah melihat Sherin yang cantik sekali dengan kebaya putih, make up minimalis, dan rambut yang ditata sedemikian rupa agar terlihat selaras dengan desain kebayanya. Sanggul sederhana dan bagian poni depan Sherin di bagi dua ke kanan dan ke kiri. Rezza sampai speechless melihatnya. Sherin di dalam ditemani seorang MuA, seorang hair stylist, dan Hera serta Widya yang sedang mengobrol bersama dengan Sherin.

"Mas.. Are you ready?" Sherin tanya ke Rezza saat kepalanya melongok melalui sela-sela pintu.

"Mass.. Sayang.." Sherin meninggikan suaranya karena Rezza terbengong.

"EH iya cantik.. Kamu cantik banget." Rezza ngelantur jawabnya. Semuanya tersenyum, Sherin malu-malu jawab.

"Apa sih mas? Ditanya apa jawab apa?" Sherin geleng-geleng heran.

"Aku udah. Udah siap.."

"Sini touch up dulu muka kamu biar gak glossy.." Sherin asbun.

"Eh iya-iya.. Boleh." Rezza masuk, menutup pintu ruangan itu. Lalu duduk di kursi dari meja makan yang dibawa masuk untuk orang MuA bisa duduk-duduk. Kamar mereka sedang dirapihkan dan ditata oleh pihak dari wedding consultant, jadi Sherin make up di ruang kerja yang sekarang sudah disulap menjadi semacam studio dengan sofa, meja, sound system, satu meja untuk laptop, mixer, dan perangkat audio lainnya, serta beberapa alat musik milik Rezza, dan juga foto-foto Sherin dan Rezza yang sudah di bingkai dari ukuran kecil-kecil hingga ukuran besar.

"Udah selesai.. Mau berangkat?" Rezza tanya Sherin.

"Kamu mau jalan sekarang?" Sherin tanya.

"Aku tanya Yoza dan Kaluna dulu ya, katanya ada orang mereka udah di kantor KUA."

"Okay mas.." Sherin tersenyum manis, Rezza keluar.

"Sher.. Seneng ya?" Widya menanyakan ke Sherin.

"Banget Widd.. Gue happy banget hari ini." Sherin berkaca-kaca matanya.

"Ehh udah jangan nangis. Make up-nya sayang nanti rusakk.." Hera cerewet.

"Makasih ya Ra.. Eh iya nanti ada temen gue Yanti di sana. Dia gak bisa ikut ke sini, nanti kalian temenin Yanti ya. Dia dateng sendiri, suaminya gak bisa nganter ke KUA tapi nanti ke venue kok."

"Okayy Sher, tenang aja.. Kita udah kenal Yanti kok." Hera jawab.

"Iyaa, gue cuma mau make sure aja.."


10.05 | Rezza dan Sherin duduk di mobil Mini Countryman warna biru yang baru saja dibeli Rezza. Ya memang impulsif sekali. Hari senin kemarin, Dion, kawan mereka yang kerja di Mini Indonesia, ATPM brand Mini dan Mini Cooper Indonesia memberi tahu kalau ready satu unit Mini Countryman warna biru siap di-delivery, sedangkan warna lainnya inden sekitar 1 bulan. Setelah memastikan unit itu bukan bekas unit test drive ataupun unit show event, Rezza cepat-cepat melunasinya lalu dikirim ke Glow and Rise Car Window Film untuk dipasangkan PPF tapi glossy, bukan matte/doff seperti mobil Rezza sebelumnya. Workshop itu pun sampai lembur demi hari selasa sore mobil itu sudah siap diantar ke rumah Rezza dan Sherin. Plat nomor sementara juga sudah dipasang, bahkan plat nomor sementara aja mereka minta custom: B 2818 SR yang bermakna tanggal jadian mereka 2 Agustus 2018 lalu dan S dari nama Sherin, serta R dari nama Rezza. Kenapa tanggal jadian itu menjadi sangat penting bagi Rezza dan Sherin? Rezza dan Sherin merasa sejak tanggal itu mereka sudah tidak ada menutupi perasaan satu sama lain. Meskipun mereka pernah berpisah, bahkan Sherin sempat menikah dengan pria lain, keduanya mengakui mereka masih saling memiliki perasaan dan hasrat yang besar satu sama lain.


Rezza duduk di kursi belakang, Sherin di sebelahnya. Mobil itu dikemudikan oleh Toni, di sebelah Toni ada Tyas. Mobil Sherin dibawa oleh Adit, sahabat Rezza. Di mobil itu ada Hera, Widya, dan Kaluna. Sedangkan mobil Toni, sebuah Hyundai Stargazer warna silver doff disupiri oleh Yossa yang di dalamnya membawa beberapa seserahan serta konsumsi untuk di kantor KUA nanti. Sherin juga meminta Rezza untuk berbagi beberapa kotak makan yang akan diserahkan di kantor KUA nanti. Mbak Ani tingal di rumah sambil menunggu kamar Sherin dan Rezza usai dihias oleh orang-orang dari wedding consultant.

Rezza nampak gusar sekali. Momen ini adalah momen paling mendebarkan bagi Rezza, sebentar lagi ia akan menanggung hidup dan berjanji menjalani bersama dengan Sherin.

"Sayang.. Kamu baik-baik aja kan?" Sherin mengambil tangan kiri Rezza.

"Ya, aku baik-baik aja kok sayang. Kamu? All good?" Rezza mencium tangan kanan Sherin.

"All good mas.." Sherin jawab sambil tersenyum.

"Udah mau sampe nih guys.." Toni berkata.

"Okay, tunggu fotografer dan videografernya masuk dulu Ton." Rezza mengingatkan.

"Iya udah Za.. Mereka di depan tadi." Toni jawab.

Fotografer dan videografer menggunakan motor. Masing-masing diboncengi asistennya. Mereka sudah take foto dan video sejak dari rumah tadi, di perjalanan, lalu di KUA. Di venue sudah ada 3 orang lainnya yang siap menerima semua file untuk kemudian dilakukan sameday edit untuk video dan beberapa foto terbaik yang akan dimunculkan di venue nanti. Venue sendiri adalah sebuah restoran yang konsepnya rumah diubah layaknya cafe and resto. Di sana sudah dihias sejak jam 7 pagi tadi oleh vendor dari wedding consultant. Beberapa foto ter-update juga sudah dilihat Rezza dan Sherin. Mereka tak sabar segera tiba di sana.

"Mas.. Papa mama udah sampe tuh." Sherin lihat mobil Om Arwin terparkir.

"Oh iya, berarti tinggal tunggu Kak Vina ya.. Sama Om Sofyan dan Hendro." Rezza jawab..

"Iya mas.." Sherin khawatir Rezza terlihat tak tenang.

Di dalam ternyata sudah ada Om Sofyan, Hendro, Om Arwin dan beberapa bapak-bapak lain. Mereka sudah konfirmasi ke KUA dan penghulu bahwa akad nikah bisa dilakukan lebih cepat jika semua sudah siap. Tante Rani menunggu di mobilnya. Mobil Om Sofyan tadi sedang pergi karena harus isi bensin, Hendro melambaikan tangan dari depan kantor KUA.

"Eh itu Hendro sayang.. Mereka udah sampe dong." Rezza tunjuk Hendro di dekat pintu kantor.

"Tinggal Kak Vina ya berarti?" Sherin tanya.

"Iya, aku coba call ya?" Rezza tanya.

"Iya mas.."

Toni dan Tyas turun, menanyakan di dalam situasinya seperti apa.

Sherin dan Rezza masih menunggu di mobil sambil buka kaca sedikit melambaikan tangan ke arah Hendro.

"Halo kak.. Aku udah sampe di KUA nih sama Sherin. Kakak udah di mana?"

"Ini dikit lagi sampe ya dek.. Tadi kakak titip anak-anak ke mama Sukma dulu. Nanti mereka nyusul ke venue kan."

"Ohh oke kak.. Kami tunggu ya.. Hati-hati kak."

"Iya Rezza.. ini dikit lagi sampe.. Bye.."

"Bye kak.." Rezza tutup call itu.

"Kata Kak Vina udah mau sampe kok sayang.. Kamu mau turun sekarang?" Rezza tanya.

"Boleh mas.." Sherin mengangguk. Toni masuk, lalu berkata.

"Di dalam udah siap kok Za.. Mau turun aja? Kalo mau turun gue setirin ke situ." Toni tunjuk ke depan pintu KUA.

"Iya boleh-boleh, Kak Vina udah deket katanya. Kita turun aja."

"Oke sobb.." Toni memajukan mobil baru itu, lalu Rezza hendak turun dari pintu kanan. Semua orang keluar menyambut. Videografer dan fotografer bersiap.

Om Sofyan, Om Arwin, Hendro, lalu Hera, Widya, Tyas menggandeng Tante Rani untuk turun dari mobil, serta orang-orang terdekat lainnya menyambut Rezza dan Sherin di sana.

Belum apa-apa mata Sherin sudah berkaca-kaca. Ia masih tak menyangka momen itu menjadi nyata. Hari di mana ia dan Rezza menikah, bukan dengan laki-laki lain.

"Assalamualaikum.." Rezza turun dari kursi kanan baris kedua. Mengenakan kopiah peninggalan ayahnya yang ia sering pakai belakangan ini. Semua orang tahu itu, semua orang sangat mengerti betapa Rezza sangat merindukan orang tuanya.

"Waalaikumsalam.." semuanya jawab. Rezza buru-buru bukakan pintu kiri belakang, Sherin turun dari sana. Matanya merah sekuat tenaga menahan tangisan. Rezza berikan tangan kanannya untuk bergandengan. Semua orang terpana dengan visual menawan mereka hari itu. Rezza yang tampan dan berwibawa dengan jas yang sangat perfect fit di tubuhnya, Sherin yang cantik badai dengan paduan kebaya, make up, dan hair do yang membuatnya makin sempurna. Ditambah sebuah mobil Mini Countryman biru yang baru pertama kali dilihat oleh semua orang hari itu. Hendro pun bergumam di dalam hatinya 'akhirnya lo beli mobil impian lo ya Za. Gue tau dari awal lo cuma mau Countryman, tapi tahun lalu lo bilang naksir Forester. Jadi gue pilih Forester biar impian lo ini bisa lo capai sendiri suatu hari. Dan hari itu adalah hari ini.' Hendro merasa bangga melihat sahabat dekatnya itu.

"Hati-hati sayang, jalannya gak rata.." Rezza menggenggam tangan Sherin.

"Udah gausah cipika-cipiki. Nanti aja ya biar make up kamu gak luntur." Tante Rani mengingatkan. Semua tertawa renyah.

"Iya mah.." Sherin tertawa kecil. Lalu mobil BYD Sealion 7 putih milik Bang Syahrul dan Kak Vina tiba."

"Maaf yaa telat.." Kak Vina turun dari kursi penumpang depan. Toni bergegas menghampiri Bang Syahrul biar ia yang parkirkan mobilnya, jadi Bang Syahrul bisa mendampingi Kak Vina ke dalam.

"Belum telat kok kak.. Tudung kateringnya belum dibuka." Rezza melucu, semua tertawa hangat.

Mereka pun berfoto bersama. Rezza diapit Kak Vina dan Bang Syahrul. Sherin didampingi Tante Rani dan Om Arwin. Mereka diiringi oleh Widya, Hera, dan Yanti yang sudah tiba sejak 10 menit lalu. Tak lupa Toni, Yossa, dan Adit membuntuti dengan bawaan seserahan siang itu.

"Semuanya foto dulu ya.." fotografer mengarahkan.

Tak lama mereka semua masuk ke ruang akad di dalam KUA.

Rezza dan Sherin duduk sebelahan.. Di belakangnya sebuah papan hitam kemudian dihias dengan beberapa ornamen dari susunan bunga yang dibawa oleh vendor tadi pagi, terdapat tulisan 'Sherin Arrani Putria dan Rezza Bagas Kirana' ditulis menggunakan kapur putih, pink, dan biru. Di ujung meja yang besar sekali itu, tepat di samping Sherin duduk, ada dua buah kotak seserahan berisi peralatan shalat, uang tunai, dan perhiasan emas dalam bentuk kalung dan anting total seberat 28 gram.

Rezza berhadapan dengan Om Arwin, di sebelahnya penghulu yang sudah siap memulai acara.

Sejenak, penghulu itu memastikan dokumentasi di map coklat yang dibawanya sudah selesai. Ia mengabsen sejenak.

Dia menyebutkan satu per satu nama lengkap dari orang-orang yang duduk di sana. Om Sofyan, duduk sebagai saksi dari pihak Rezza. Lalu ada kolega Om Arwin sesama mantan pejabat negara, beliau bernama Bapak Ilham, pensiunan Dirjen sebuah institusi negara di bidang transportasi. Hera dan Widya sibuk memasangkan kerudung slayer pengantin untuk menatanya di kepala dan bahu Sherin lalu ditautkan ke kepala dan bahu Rezza. Untung ada Widya, Yanti dari tadi tak sanggup berdiri. Dia sebagai sahabat terdekat Sherin dari kuliah, ia saksi mata kedekatan Sherin dan Rezza. Yanti juga yang paling paham mengenai perasaan Sherin dan Rezza satu sama lain. Hari itu hatinya mengharu biru, air matanya tak berhenti menetes melihat hari yang diharapkan Sherin dan Rezza sejak lama akhirnya tiba. Yanti duduk paling belakang, ia tak mau Sherin melihatnya menangis lalu jadi ikut menangis. Sherin sendiri matanya sungguh merah berair. Sekuat tenaga ia berpikir segala hal menyenangkan agar tak terbawa emosional lalu menangis bahagia. Belum waktunya menurut Sherin, ia mau Rezza selesaikan ijab kabulnya dulu baru ia akan meluapkan air matanya. Beruntung Tante Rani yang duduk di belakang Om Arwin persis bersama tamu-tamu lainnya nampak tegar, bahkan senyum sumringah. Sudah habis air mata Tante Rani menangisi kepahitan Sherin. Kali ini ia memilih bersenyum saja. Sherin pun menatap wajah tegang Om Arwin dan senyum hangat Tante Rani yang terus mengucap syukur. Sherin tak berani menatap Rezza meski sesekali Rezza curi pandang ke arahnya. Ia tak mau membuyarkan konsenstrasi Rezza yang terlihat sangat tegang menuju detik-detik mereka sah sebagai suami-istri. Lalu beberapa menit kemudian..


"Saudara Rezza Bagas Kirana, saya nikahkan dan saya kawinkan.. Anak kandung saya yang bernama Sherin Arrani Putria binti Arwindra Arifin kepada Anda.. Dengan mas kawin berupa uang tunai sebesar 17 juta sembilan puluh dua ribu, dua puluh enam rupiah dan perhiasan emas seberat 28 gram dibayar tunai!" Om Arwin menghentakkan tangannya yang menjabat Rezza.

"Saya terima nikah dan kawinnya Sherin Arrani Putria binti Arwindra Arifin, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Rezza nampak yakin dan matanya berkaca-kaca.

"Saksi Pak Sofyan sah ya?" penghulu bertanya.

"Sah pak!" Om Sofyan menjawab.

"Pak Ilham sah?"

"Sah.." Pak Ilham menjawab yakin.

"Alhamdulillah.." semua menjawab dengan rasa syukur. dilanjutkan dengan sejumlah doa dan tuntunan dari penghulu tersebut. Rezza dan Sherin menengadahkan tangannya sembari ucapkan 'Amin..' beberapa kali. Sherin menangis dengan derasnya. Rezza meneteskan air mata dari ekor matanya. Mereka berdua kini bertaut dalam ikatan pernikahan yang disaksikan dan didampingi oleh orang-orang tersayang mereka. Tyas sibuk memegang handphone Sherin yang sedang live streaming di akun Instagram @SherinRezza2818, lebih dari tiga ribu orang menyaksikan itu. Mereka pun banyak yang memberikan doa-doa baik untuk Sherin dan Rezza.

Hera sibuk memberikan tissue kepada Sherin, ia stand by berdiri di belakang saksi Pak Ilham. Di seberangnya, Widya memberikan tissue kepada Rezza. Ia berdiri di belakang Om Sofyan. Hendro menatap Sherin dan Rezza dengan senyum penuh harap. Ia berharap setelah ini Rezza akan semakin bahagia. Hendro pun paling paham tentang Rezza dan Sherin setelah Yanti. Mereka yang dulu satu angkatan, satu jurusan di kampus, kini bekerja sama dalam bisnis yang berbeda. Hendro beri kabar ke Clarissa lewat chat bahwa akad nikah Sherin dan Rezza telah selesai ijab kabul. Clarissa yang sedang di kantor pun mengucap syukur. Di lantai atasnya, Anya, Janice, dan Icha ditemani Arina, Sigit, dan Ojan di ruang meeting menonton live streaming di akun Instagram bersama @SherinRezza2818. Semua ikut bahagia, meski masing-masing punya cerita. Mereka hanya ingin Rezza bahagia sekarang. Segala drama yang begitu panjang belakangan ini, akhirnya berakhir ke ijab kabul.

"Alhamdulillah ya.. Akhirnya Bang Rezza jadi nikah sama Mbak Sherin.." Icha komentar.

"Kalian baik-baik aja kan?" Arina berkata ke Anya, Janice, dan Icha.. Trio IJA bingung.

"Baik-baik aja gimana Rin?" Anya tanya.

"Yahh gue kan taunya kalian paling deket sama Bang Rezza.. Gatau kenapa gue ngerasa kalian bertiga ada feeling lebih deh dari dulu sama Bang Rezza.." tiba-tiba Arina berkata begitu, Sigit dan Ojan senyum-senyum.

"Hah apaan sih Rin?" Janice agak nyolot.

"Tau, sotoy banget lu Rin.." Icha nyamber.

"Yaelahh.. Gue kan juga punya hati kali, kita bertiga sering menduga-duga tau kalian bertiga ada hati sama Bang Rezza.." Sigit menyaut.

"Lo tau darimana?" Anya mencecar Sigit.

"Elo Nya.. Dulu kan lo deket kaya pacaran sama Bang Rezza.." Anya terdiam.

"Terus, gue sama Janice lo liat apaan?" Icha menantang.

"Yaelah Icha.. Posisi duduk kalian tuh paling keliatan sekantor! Kalo Bang Rezza lagi nyapa kalian, atau kalian abis makan bareng atau ke mana, lo sama Janice suka senyum-senyum penuh makna. Lo pikir kita gak paham apa. Ya gak Jan, Rin?" Sigit minta validasi ke Ojan dan Arina. Mereka berdua mengangguk.

"Emang iya ya? Segitu keliatannya?" Janice tanya.

"Udah-udah.. Yang jelas kalo gue, jujur gue ikut happy sekarang.. Lagian gue, Icha, dan Janice juga udah punya pasangan sendiri-sendiri kok." Anya sudah ingin selesaikan obrolan itu.

"Baiklahh.. Maap ya gais gue tadi cuma mau nanya kalian baik-baik aja gak gitu.." Arina menutup perdebatan yang lumayan tegang siang itu. Mereka pun lalu bubar, bersiap menuju venue makan siang syukuran bersama tak jauh dari sana.


Sherin memberanikan diri menatap wajah Rezza yang menyalami Om Sofyan, penghulu, lalu Pak Ilham. Om Arwin dan Tante Rani duduk sebelahan di belakang meja itu. Kak Vina dan Bang Syahrul juga tak jauh dari sana. Rezza dan Sherin lalu berlanjut ke prosesi saling pasang cincin. Kotak cincin diberikan oleh Hera, Widya menggeser beberapa kotak seserahan dibantu Adit dan Toni. Lalu Yanti memberanikan diri maju ke depan untuk melihat lebih dekat. Matanya sembab. Hendro melihat itu lalu menepuk lembut bahu Yanti. Yanti dan Hendro saling paham situasinya saat itu.

Sherin dan Rezza berdiri. Kerudung slayer tadi sudah dilepas dan dilipat rapih oleh Kaluna yang stand by di depan. Fotografer dan videografer bersiap.

"Ini pasangnya di tangan kanan apa kiri ya?" Rezza bertanya ke semuanya. Semua tertawa.

"Kanan Za!" Hendro menjawab serius.

"Kamu mas ihh.." Sherin marah manja.

Rezza lalu pasangkan cincin ke jari manis tangan kanan Sherin. Sherin pasangkan cincin ke jari manis tangan kanan Rezza. Sherin lalu mencium tangan kanan Rezza, Rezza mengelus lembut pundak bahu Sherin. Semua momen itu diabadikan dengan sukses oleh tim dokumentasi. Lalu Rezza memegang kepala Sherin, ia jinjit sedikit hendak mencium kening Sherin. Sherin pun menundukan sedikit kepalanya. Begitu ciuman itu dilepaskan.

"Bentar.. Ada sisa lipstik aku.." Rezza melawak. Semua tertawa tak percaya..

"Kamu mas ih bercanda mulu.." Sherin beneran sebal.

"Biar kamu gak nangis terus.. Mahal lho bayar MuA kan.." Sherin tertawa lalu memeluk Rezza dengan hangat.

Terakhir mereka menunjukkan kartu nikah yang berbentuk buku kecil berwarna hijau itu, lalu mereka lanjut pose beberapa kali sebelum akhirnya menghampiri semua tamu. Dimulai dari orang tua Sherin.

"Pahh.. Makasih ya sudah mengikhlaskan aku menikah sama Mas Rezza." Sherin menyalimi Om Arwin.

"Sama-sama sayang.. Sudah seharusnya papa serahkan kamu ke laki-laki yang benar-benar mencintai kamu, semoga kamu bahagia terus ya.." Om Arwin memeluk Sherin.

"Makasih pah.." Sherin beralih menyalimi mamanya.

"Makasih yaa ma.." Sherin memeluk erat Tante Rani.

"Iya sayang.." mereka berpelukan cukup lama.

"Om.. Eh Pah.. Aku izin mulai hari ini panggil papah." Rezza menatap Om Arwin.

"Iya Rezza.. Saya izinkan ya." Rezza salim ke Om Arwin, lalu memeluknya dengan haru.

"Jaga Sherin baik-baik ya Rezza, jangan kecewakan Sherin. Papa titip Sherin ke kamu."

"Pasti pah.. Pasti aku akan jaga Sherin dalam kondisi apapun. Terima kasih sudah percaya sama aku." Rezza meneteskan air mata di pelukan Om Arwin. Semua orang yang tahu sejarah mereka pasti sangat lega melihat momen itu. Terutama Hendro dan Yanti yang paling tahu soal itu.

Rezza lalu melepas pelukan itu.. "Aku minta maaf ya pah.. Kalau aku pernah ada salah."

"Sama-sama Rezza.. Papa juga minta maaf ya.." Om Arwin menepuk tegas bahu dan pundak Rezza.

"Rezza.." Tante Rani melepas pelukannya dari Sherin.

"Iya mah.." Rezza menatap Tante Rani dengan sangat tulus.

"Boleh mama peluk kamu?" Tante Rani sangat excited. Ini kali pertama Tante Rani memeluk Rezza.

"Pasti boleh dong mah.." Rezza mencium tangan Tante Rani, lalu memeluknya penuh hangat. Sherin menangis melihat itu. Ia diam sejenak. Sherin masih berusaha mencerna ini semua.

"Jaga Sherin ya.. Jangan pernah bikin Sherin sedih. Mama titip Sherin ke kamu. Kali ini sungguh-sungguh jaga Sherin ya Rezza."

"Pasti mah.. Aku akan jaga Sherin selalu." Rezza menjawab yakin.

Kemudian mereka berdua menyalami Kak Vina dan Bang Syahrul. Kak Vina masih speechless, ia memilih diam dan tersenyum haru saat disalimi dan dipeluk Sherin dan Rezza. Kak Vina sedari tadi membayangkan andai saja orang tua Rezza masih ada. Mereka pasti akan sangat bahagia dan bangga memiliki anak dan menantu yang luar biasa itu.

"Maafin aku ya kak kalo aku sering ngerepotin kakak." Rezza meminta maaf ke Kak Vina.

"Maafin kakak ya.. Kakak sering marah-marah ke kamu. Kakak sering lupa menanyakan kabar kamu. Kakak juga banyak salah sama kamu Rezza." baru kali ini Kak Vina merasa dirinya terlalu banyak salah kepada Rezza. Dari hubungan Sherin dan Rezza, Kak Vina belajar banyak tentang menjadi keluarga, menjadi yang lebih tua, bukan berarti yang paling benar. Tapi justru menjadi yang paling memahami. Kini Kak Vina paham, kenapa Rezza begitu kekeuh memperjuangkan Sherin. Mereka memang layak untuk bersama.

Setelah itu, Sherin dan Rezza menyalami dan menyapa semua yang hadir di kantor KUA itu. Waktu pun tak terasa sudah 11.35. Mereka berfoto-foto sekali lagi di depan gedung kantor KUA Kemang Timur itu, lalu membubarkan diri ke mobil masing-masing.

Rezza memilih menyetir sendiri mobilnya. Ia ingin menikmati waktu bersama dengan Sherin berdua.

"Silahkan masuk istriku.." Rezza dengan senyum merekah membukakan pintu untuk Sherin.

"Makasih ya suamiku, I love you.." Sherin menggoda.

"I love you too.." Rezza memasangkan seatbelt lalu Sherin mencium pipi Rezza. Semua orang berbahagia melihat itu karena mobil Mini Countryman biru itu dibawa tepat ke tengah-tengah oleh Toni tadi. Rezza lalu menutup pintu Sherin.

"Za!" Hendro yang sedang berjalan menuju mobil Om Sofyan menunjuk ke pipi kanan.

"Pipi lo ada bekas lipstik!" Hendro teriak.

"Hah? Astaga maap-maap.." Rezza tersenyum malu, semua orang tertawa renyah.

"Sini aku bersihin mas.." Rezza menutup pintu, Sherin lap pipi Rezza pakai tissue kering.

"Makasih sayangku.." Rezza jawab sambil menatap dalam-dalam wajah Sherin.

"Sama-sama masku, suamiku.." Sherin nampak happy sekali siang itu. Mereka pun berjalan menuju venue.

"Maaf ya sayang aku gabisa pegang-pegang tangan kamu, masih kagok nyetir mobil ini hehe. Maap ya suami kamu ini terlalu kampungan.." Rezza say sorry.

"Nggak kok.. Kan habis ini kamu bakalan puas mau pegang-pegang aku juga bebas.." Sherin menggoda. Rezza tersenyum penuh makna.

"Makasih ya sayang.. Aku happy banget hari ini.." Rezza bicara jujur.

"Sama-sama mas.. Aku juga happy banget. Kamu dan aku udah jadi suami istri.. Yayyy!"

"Yaayyy.." Rezza meraih tangan Sherin, sunroof terbuka sehingga tangan mereka menembus atas atap mobil itu.


Lima menit kemudian, mereka tiba di sebuah rumah luas yang dijadikan venue: Omah Rasa Kemang yang terletak sekitar 5 kilometer dari kantor KUA Kemang Timur. Rezza memarkirkan mobilnya di depan restoran itu persis. Sebuah parkiran VIP di sana. Semua orang yang datang bisa langsung menjumpai mobil itu.

"Kita mau langsung turun apa mau di sini dulu sayang?" Rezza tanya ke Sherin.

"Kok aku mager ya.. Panas banget di luar mas." Sherin menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil yang masih sangat wangi pabrik itu.

"Iya.. Kita nikmatin sejenak mobil seharga rumah ini dulu ya." Rezza melucu.

"Haha iya mas.." Sherin menatap wajah Rezza yang sedari tadi terlihat kelelahan tapi tak habis energinya. Rezza memegang-megang cincin di jari manis tangan kanannya itu.

Lihat selengkapnya