Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #42

Chapter 42

11.40 | Keesokan harinya, Sherin sedang memesan ojek online. Ia membeli makan siang untuk dirinya dan juga Rezza karena mereka merasa siang itu akan banyak pekerjaan dan sayang waktu apabila lunch di luar. Sherin turun ke lantai 1 menggunakan tangga, menuju lobi. Tyas sedang ikut dengan Clarissa meeting bersama KOL di rumah seorang influencer di daerah Cibubur. Karena Sherin tidak harus ikut, maka Sherin minta Tyas untuk menemani Clarissa dan bersiap apabila Clarissa terlalu kewalahan dan membantu menyetir juga. Tyas tidak keberatan sama sekali karena selama Sherin dan Rezza cuti honeymoon kemarin Tyas pun banyak ikut dengan Clarissa dan Sari.

Di lobi, Sherin melihat Janice baru saja tiba menggunakan taksi dari luar kantor.

"Hai Janice.." Sherin menyapa.

"Hai kak.." Janice memasang senyum palsu.

"Kamu dari mana? Kok naik taksi sendiri?"

"Ohh tadi abis meeting sama klien di seberang FX Sudirman. Terus Anya dan Icha lanjut meeting ke Pluit, tapi aku gak ikut karena cukup mereka berdua yang handle klien baru itu." Janice menjelaskan tapi tampak tak bersemangat. Selain ia lelah, Janice juga takut apabila Sherin bahas soal kemarin. Ia sudah lelah harus mengalah demi Sherin pikirnya.

"Oh gitu. Yaudah yuk masuk." Sherin ajak Janice ke arah lift.

"Okay kak." Janice setuju.

"Kamu.. Besok last day?" Sherin tanya di lift.

"Eh iya kak, besok last day.."

"Hmm gitu.. Aku mau minta maaf ya sama kamu Janice, selama ini aku mungkin banyak salah sama kamu.." Sherin tiba-tiba bahas sesuatu yang Janice malas sekali membahasnya.

"Kak.. Kalo kakak mau ngomong soal kemarin, aku jujur udah gak masalah kok. Gausah dibahas ya. Aku gamau kakak sama Bang Rezza ribut-ribut. Kakak tenang aja, aku gak akan ngapa-ngapain kok sama Bang Rezza. Besok juga aku terakhir di sini.." Janice wajahnya sendu. Sherin merasa tak enak.

"Okay Janice, aku cuma mau make sure aja untuk minta maaf sama kamu."

"Iya Kak Sherin, aku juga mau minta maaf kalo kehadiran aku di sini buat kakak gak nyaman."

Sherin terenyuh mendengar itu. Sherin sadar bahwa ia lah yang justru datang di saat Rezza dan Janice sempat dekat dulu. Pintu lift terbuka.

"Permisi kak, aku mau ke toilet dulu." Janice keluar dari lift langsung buru-buru ke toilet.

"Iya Janice.." Sherin memandang sayu ke arah Janice berjalan.

Di dalam toilet langsung pecah, air mata Janice turun begitu derasnya. Bahkan di hari-hari terakhir dia di sana, masih harus sakit hatinya karena Sherin dan Rezza. Janice menyeka air matanya dengan tissue toilet yang menggantung di dekat cermin.

Sherin berjalan lesu menuju ruangan Rezza. Ia ketuk pintu perlahan.

"Mass.." Sherin menyapa, Rezza ternyata sedang call dengan seseorang.

"Wait a minute.." Rezza membisik ke arah Sherin. Sherin mengangguk lalu duduk di sofa sambil memperhatikan suaminya itu.

"Iya Ndre. Nanti pokoknya kalo lo ada info-info pitching, atau info open tender dari klien manapun, gue welcome untuk terima info dan details-nya. And I will do the same to you okay?

Iya.. Betul.. Gue juga pasti akan info misal ada update terkait pitching dan open tender. Siap-siap.. Yaudah kalo gitu.. Boleh-boleh.. Nanti kita schedule-in deh ya buat meet up.

Siaap.. Thank you bro. Berkabar ya.. Bye.." Rezza menutup call-nya.

"Hai sayang.. Kenapa kok kamu dateng-dateng bete gitu? Maaf ya aku tadi call sama temen aku si Andre yang kerja di agensi juga.." Rezza berdiri lalu menghampiri Sherin. Sherin lalu menangis dan memeluk Rezza.

"Hey.. Kenapa? Aku salah apa sayang?" Rezza menepuk lembut pundak Sherin.

"Nggak mas. Aku tadi.. Tadi di lift ngobrol sama Janice. Aku mau minta maaf sama dia tapi dia kaya udah benci banget sama aku." Sherin ternyata merasakan, dia memang perasa.

"Hey.. Sayang.. Gausah kamu sampe kek gini. Janice gak gitu kok, udah ya gausah dipikirin."

"Aku cuma mau minta maaf mas, dia sampe bilang aku jangan ribut-ribut sama kamu karena besok dia terakhir di sini, terakhir di Jakarta. Aku nyesek dengernya, aku merasa udah jahat banget sama dia. Aku keinget kamu cerita dulu aku datang lagi saat kamu lagi dekat sama dia."

"Sayang.. Udah ya.. Kalo kamu mikirin terus, kamu makin sedih. Udah.. Janice cuma mau kamu tau kalo dia udah gak ada apa-apa lagi sama aku.. That's it. Aku yakin dia gak dendam atau apapun.. Dia cuma capek mungkin karena bentar lagi akan balik ke Bali." Sherin melepas pelukannya, matanya basah, sembab dan terasa sekali penyesalan.

"Aku nyesel mas. Padahal aku udah bicara sama dia, tapi aku kemarin nge-judge kamu dan dia cuma gara-gara salah paham."

"Udah-udah sayang.. Udah ya.. Tenangin diri kamu, aku yakin Janice cuma mau bikin semuanya clear. Percaya sama aku.. Ini kamu bawa apa?" Rezza memegang tangan Sherin sambil menciumnya.

"Aku beli.. Beli nasi lada hitam sama creamy garlic fettucine buat kita lunch.."

"Yaampun sweet banget sih kamu beliin aku lunch.. Mau makan sekarang?" Sherin menggeleng.

"Yaudah nanti dulu, sini-sini tenangin hati kamu dulu.." Rezza menarik kepala Sherin untuk bersandar di dadanya.

"Makasih ya mas.. Kamu ngertiin aku banget.."

"Sama-sama sayang.. Udah ya.." Sherin mengangguk.


16.35 | Besoknya, hari jumat.

Semua staf K&B berkumpul di ruang tengah. Ada yang duduk, ada yang berdiri, ada juga yang jongkok seperti Ojan dan Sigit yang memang tingkahnya ajaib.

Mereka semua bercengkrama sambil menikmati 3 box pizza dan beberapa camilan ditemani dengan kopi masing-masing mendapat satu. Semuanya tadinya mau ditraktir oleh Janice, tapi Rezza memaksa ke Janice untuk dia yang bayarin. Rezza mohon sama Janice untuk kali terakhirnya melakukan sesuatu untuk Janice. Rezza benar-benar tulus melakukan itu tanpa harapan apapun ke Janice.

"So.. Kita main games yuk.." Rezza iseng.

"Games apa bang?" Arina nyaut.

"Hmm masing-masing cerita apa yang bakal bikin kalian kangen sama Janice kalo besok-besok udah gak ada Janice lagi di sini.."

"Ahh sedih banget sih bang.." Icha nyeletuk.

"Iya bang jangan gitu dong.."

"Nah itu games-nya, kita harus cerita hal-hal yang gak bikin kita sedih. Jadi harus ada unsur lucunya.. Kalian gak harus jawab semua kok, ini buat ngisi waktu aja sambil kita kumpul di tengah gini kan." Rezza menyerocos.

"Yaudah lo dulu deh bang contohin." Ojan asbun. Yang lain setuju.

"Okey-okey.. Dari gue ya.. Hmmm

Kalo besok-besok gak ada Janice lagi, berkurang deh stok adek-adekan gue hahahaa"

"Dih apaan sih bang??" Icha gak terima, yang lain tak enak mau tertawa atau diam. Anya dan Janice pun hanya geleng-geleng melihat kelakuan bosnya itu.

"Yaudah kek gitu contohnya. Kan contoh." Rezza ngeles.

"Ah contohnya aja udah gagal, yaudah siapa dah mau coba.." Anya mulai sebal.

"Aku-aku.." Arina menyaut.

"Iya Rin.. Apa-apa?" Rezza kepo.

"Hmm kalo Janice besok-besok gak di sini lagi, pagi-pagi sih sepi gue. Yang paling ontime kan Janice, gue, Anya, baru deh kalian semua.. Hehe"

"Dih apaan? Gue juga ontime kali.." Rezza gantian tak terima.

"Ah lo mah ontime sekarang aja bang, sejak Mbak Sherin kerja di lantai 2. Dulu-dulu mah jarang banget lo sampe kantor sebelum setengah 9." Sigit jujur sekali.

"Yaelah, dulu gue juga ontime kali jam 8 udah sampe.. Kalo Bang Hendro mau ke sini. Haha" semua tertawa, mereka sepakat kali itu.

"Yaudah siapa lagi? Icha?" Rezza coba percepat.

"Hmm. Yang jelas gue bakal kehilangan satu temen curhat gue sih Jan." Icha sedih.

"Yahh sedih.. Gagal-gagal.." Rezza merusak suasana.

"Ya abis games lo gak mutu bang.." Icha asbun banget.

"Yaudah gini aja kita balik, Janice paling bakal kangen sama siapa? Kenapa?" Arina ngide.

"Yah kok gue? Pasti sedih lah kalo gue yang jawab." Janice menolak halus.

"Yaudah gapapa Jan. Kita cuma mau tau kok, mumpung lo masih di sini kan." Arina ngoceh.

"Hmm.. Yang pasti gue akan kehilangan banget sosok Anya dan Icha yang selama ini baik banget sama aku. I love you girrllss.. Aku punya temen banyak di Bali, tapi aku rasa sekarang udah gak ada yang sedeket ini. Aku bakal kehilangan kalian banget.." Janice matanya berkaca-kaca.

"Kalo kangen call aja ya Jan, video call juga boleh.." Icha sweet sekali, Anya mengangguk setuju.

"Okee.. Nanti gue call-call kalian yaa kalo kangen." Janice mendekati Anya dan Icha lalu berpelukan. Jujur di momen itu Rezza merasa sedih sekali, kedekatan mereka bertiga adalah salah satu sumber kekuatan Rezza selama ini semangat bekerja. Mereka bertiga sangat berhasil mengambil hati Rezza untuk semakin mencintai kantor dan industri ini.

Janice membuka mata lalu bicara ke Rezza.

"Aku juga pasti akan kangen banget sama Bang Rezza. Orang yang udah banyak bantu aku di sini. Dari aku nggak ngerti apa-apa di dunia agensi. Abang sudah sangat berhasil mengajari aku jadi AE, jadi penyambung antara klien dan internal kita, selain itu juga udah mempertemukan aku sama Icha, Anya, Arina dan semuanya.. Makasih banyak ya bang. Aku pasti akan kangen banget sama kebersamaan kita di kantor ini." Janice berusaha tersenyum memandang Rezza meski hatinya masih terasa sakit.

"Sama-sama ya Janice.. Kita semua bakalan kangen banget sama kamu." Rezza mendekat lalu memeluk Janice di depan semua orang.. Beruntung Sherin tidak ada di gedung itu sore hari itu.

Lihat selengkapnya