Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #43

Chapter 43

10.23 | Keesokan harinya, sabtu.

Rezza menemani Sherin photo shoot KOL di sebuah studio foto di Kemang.

"Mas.. Maaf ya kalo kamu harus nemenin aku ke sini weekend gini." Sherin duduk di samping Rezza. Clarissa, Tyas, Sari, dan beberapa staf Setara sedang sibuk mem-briefing KOL tersebut.

"Aman sayang.. Kan aku gak ngapa-ngapain juga hari ini. Hehe" Rezza mengelus tangan Sherin.

"Yaudah kalo kamu bete bilang ya.. Aku gamau kamu ngerasa terpaksa."

"Siap madam. Aku aman kok, so far belum bete.." Rezza senyum-senyum melihat ke arah Sherin.

Mereka berdua duduk di saat yang lain sibuk. Sherin datang ke sana memang bertugas untuk meng-handle klien dari brand yang sayangnya belum nampak batang hidungnya.

Sherin pun memanfaatkan waktu itu untuk manja-manja dengan Rezza. Mulai dari bersandar di bahu Rezza, memeluk-meluk Rezza, hingga memainkan pipi Rezza yang agak gempal itu. Rezza pun hanya pasrah dirinya dijadikan pelampiasan Sherin yang bete menunggu klien tak juga datang. Rezza mengecek chat di grup wa kantor.

"Pagi guys.. Gue sudah boarding, balik ke Bali, nanti sore gue izin left grup ya. Makasih banyak atas kerja samanya selama ini, mohon maaf sekali lagi kalau gue ada salah-salah.. Janice, sign off.. 🫡" chat dari Janice dengan foto ia selfie duduk di window seat pesawatnya.

"Sayang.. Janice udah boarding.." Rezza tunjukkan chat itu.

"Hmm, baiklah. Semoga dia udah gak marah lagi ya mas sama aku." Sherin memandang wajah Rezza yang terlihat ada kekecewaan. Perpisahan dengan Janice ini walaupun tidak terlalu mendadak, tapi tetap terasa telalu cepat. Meski Rezza sudah sangat meyakini pilihannya kembali dengan Sherin dan menikahi Sherin, terkadang ada rasa penasaran dari diri Rezza bagaimana jika ia memiliki hubungan dengan Janice.

"Mas.. Kok bengong?" Sherin menegur Rezza.

"Eh iya kenapa? Maaf aku sedih aja berkurang satu orang AE secepat ini, belum ada penggantinya. Aku akan take over sementara juga sambil kita open recruitment lagi."

"Hmm gitu, kalo kamu mau dibantu kasih tau aku ya. Aku kan dulu pernah jadi AE." Sherin inisiatif sekali.

"Nggak kok sayang, kamu nanti makin sibuk. Makin gak ada waktu ngurusin aku."

"Jadi maksud kamu aku gak ngurusin kamu sekarang?" Sherin marah bercanda.

"Nggak gitu. Maksudnya nanti aku sering dibiarin sendiri lagi. Hehe"

"Apa sih mas??" Sherin lelah berbicara dengan Rezza yang sedang tak fokus pagi menjelang siang itu. Sherin pun menjatuhkan tubuhnya bersandar ke lengan Rezza.

Tiba-tiba seorang wanita dewasa dengan paras cantik, bersama seorang anak intern yang terlihat jauh lebih muda, datang ke studio itu dengan sedikit tergesa-gesa. Semua orang menengok kecuali Rezza.

"Pagi.. Eh siangg.. Maaf ya kami baru sampe."

"EH halo kakk. Aman kok kita udah mulai take beberapa set ya. Nanti dibantu cek untuk client's approval aja.." Sherin berdiri lalu menyalami wanita itu.

"Oh gitu. Okay-okay.. Thanks ya Mbak Sherin."

"Siapp. Aman Kak Ambar. Mau ngeliat lebih dekat photo shoot-nya?" Sherin menawarkan mereka berpindah posisi ke depan agak sedikit jauh dari tempat Sherin dan Rezza duduk.

Rezza sedang asik bergunjing di grup chat kantor K&B. Mereka ramai sekali sabtu pagi menjelang siang itu di grup karena Janice meng-update soal boarding tadi.

Wanita bernama Ambar itu justru melotot ke arah Rezza. Sherin merasa ada yang anehh.

"Oh iya.. Ini kenalin, suami aku.." Sherin menarik tangan Rezza, Ambar memicingkan matanya. Rezza yang sedang fokus melihat handphone pun mau tak mau melihat ke arah Ambar.

"REZZA??" Ambar setengah berteriak. Semua yang ada di sana pun kaget, KOL yang sedang photo shoot pun ikut berhenti dan memperhatikan.

"Hah? Ambar?? Kok bisa ketemu di sini?"

"Lo apa kabar Za?? Gila kita udah lama gak ketemu woy.." Ambar mendekat ke Rezza lalu cipika-cipiki. Sherin kaget. 'Rezza kenal Ambar dari mana?' Dalam benak Sherin.

"Kabar baik gue.. Kita terakhir ketemu kapan ya? 2016? 2017? Lupa gue bener-bener gak inget."

"Ah iya, 2017 lo negor gue di Istora waktu itu ada event. Gue masih kerja di EO waktu itu.."

"OHH IYA! Pantes gue lupa soalnya itu ketemu gak sengaja kan. Hehe"

"Iya lo waktu itu gandengan sama siapa cewek lo?" Ambar menembak. Rezza gelagapan.

"Hah? Cewek? Siapa?" Rezza mengingat-ngingat. Sherin makin gak paham, ia merasa terasingkan. Melihat Rezza akrab sekali dengan Ambar ini siapa? Gimana?

"Mir.. Mira bukan namanya dulu?" Ambar nebak.

"AH iya Mira.. Itu temen kantor gue dulu waktu masih kerja di percetakan. Dia emang suka gandeng-gandeng cowok. Kebetulan aja ketemu lo waktu itu gue lagi nemenin dia dateng ke event. Bukan, dia bukan cewek gue gilak.. Ini cewek gue, sekarang udah jadi istri hehe" Rezza merangkul Sherin.

"Wait.. Jadi Mbak Sherin ini istrinya Rezza? Astaga.." Ambar makin heboh.

"Hehe iya.. Kita juga baru nikah kok." Sherin jawab.

"Hah? Kapan?"

"Baru minggu lalu Mbar. Gue sama Sherin nikah minggu lalu, kita baru balik honeymoon dari Jepang kemarin." Rezza excited bercerita. Sherin merasa sedikit lega.

"Hmm dunia sempit ya.. Eh iya Lusi. Ini Rezza suaminya Mbak Sherin."

"Halo Mas Rezza.."

"Halo Lusi.. Kamu kerja sama Ambar?"

"EH Lusi ini lagi intern di kantor gue, jadi bantu-bantu gue lah biar gue gak plenger kerjain kerjaan sendirian haha.

Lus, minta tolong cek di sana ya.. Kalo ada problem, just let me know.." Ambar meminta.

"Okay Kak.. Aku ke sana ya.." Lusi izin mendekat ke tim yang sedang foto-foto. Ambar dan Rezza serta Sherin mengangguk mempersilahkan Lusi.

"Eh duduk-duduk Mbar.. Mau minum apa nggak gitu?" Rezza bertanya.

"No.. I'm good Za. Gue bawa minum kok.." Ambar tunjukkan tumbler-nya.

"Jadi apa cerita kalian nih?" Ambar bertanya.

"Yah gitu lah.. Btw sayang, kamu sama sekali gak inget atau tau Ambar?" Rezza tanya ke Sherin.

"Hah? Nggak mas.. Kenapa?"

"Jadi.. Ambar ini temen kampus kita, di FISIP juga lho. Jurusan Politik ya Mbar? Ilmu Politik angkatan kita."

"Oh iya? Astaga. Maaf ya aku gatau Kak Ambar." Sherin mulai sadar kalau Rezza dan Ambar hanya kenal dari kampus.

"Iya Sher.. Eh aku panggil nama aja ya? Kan kita seangkatan hehe"

"Iya-iya boleh.. Aku panggil nama ya?" Sherin tanya.

"Boleh dongg.." Ambar excited.

Sherin melihat Rezza dan Ambar ngobrol begitu excited. Sherin merasa sedikit kurang dilibatkan. Tapi Sherin tak mau berniat cemburu, justru Sherin berpikir sebaiknya Mas Rezza ngobrol dulu dengan Ambar dan ia maju mendekat ke orang-orang yang sedang fokus photo shoot hari itu.

"Eh aku tinggal ke situ dulu ya, bantu cek-cek dulu. Kalian ngobrol dulu aja berdua."

"Hah? Kenapa sayang?" Rezza tanya Sherin.

"Gapapa mas.. Aku mau ngecek dulu ke sana. Aku tinggal ya Ambar, Mas."

"Oh okee Sher, aku pinjem Rezza bentar ya ngobrol-ngobrol doang hehe" Ambar bercanda.

"Silahkan.. Permisi ya.." Sherin melangkah menjauh, Rezza merasa Sherin agaknya cemburu.

"Terus-terus, lo sekarang di agensi Za? Kok bisa sama Setara KOL Agency gimana ceritanya?"

"Hmm panjang sih ceritanya, intinya hmm kantor gue sama kantornya Sherin, Setara KOL Agency itu satu investor. Sekarang juga kita satu kantor. Hehe"

"Wih enak banget dong, bisa mesra-mesraan di kantor lo ya? Haha" Ambar happy banget bisa bercanda dengan Rezza. Sherin meski menjauh ia masih berusaha mencuri-curi dengar obrolan.

"Lo sendiri gimana? Udah berkeluarga dong?" Rezza balik tanya.

"Yahh gue mah gini-gini aja Za.."

"Gini-gini gimana maksudnya Mbar?"

"Gue jendes bokk.. Gue divorce sama mantan lakik gue.."

"Wait.. Lo kan nikah gak lama setelah lulus kan? Gue pernah liat di Facebook lo deh kalo gak salah. Apa Facebook anak Politik yang lain yang gue kenal ya?" Rezza ragu. Sherin mendengarkan. 'Jadi ambar sekarang janda? Ini kenapa mirip sama kisah aku? Dulu aku digugat cerai sama Dhika lalu ketemu Mas Rezza. Aku paksa mendekat ke Mas Rezza padahal ada Janice yang sedang dekat.. Apa ini karma buat aku? Merebut Mas Rezza dari Janice?' Suara hati Sherin terlalu jauh mengada-ada.

"Iya gue dulu nikah 2015 Za. Belum lama abis wisuda, terus mantan lakik gue itu anak buahnya bokap gue di militer.."

"Oh iya bokap lo tuh.. Jenderal bukan sih?" Rezza mengingat-ingat.

"Iya bener Za.. Bokap gue Jenderal, tapi bintang satu doang sih.. Gak pernah nongol di TV gitu-gitu haha"

"Yah tapi tetep keren lahh. Bokap-nyokap sehat kan?"

"Sehat Alhamdulillah.. Bokap udah pensiun kok. Sekarang sibuk ngurus usaha sama abang gue."

"Wah tetep sibuk ya abis pensiun pun?"

"Iya soalnya bokap kan overthinking parah.. Dia suka kepikiran anak-anaknya gimana. Makanya pas kemarin gue divorce, dia sempet sakit.."

"Yaampun, terus kondisi bokap gimana Mbar? Sakit apa?"

"Kena stroke ringan Za.. Bokap kecewa banget sama mantan laki gue, dia selingkuh di belakang gue."

"Astaga.. I'm sorry to hear that ya Ambar.. Maaf gue gatau."

"Iya gapapa Za.. Udah lama juga kok, gue divorce udah tujuh tahun lalu. Sebelum pandemi."

"Wow.. Kehidupan ya.. Bener-bener kadang gak bisa ditebak. Terus lo sekarang gimana? Udah ada cowok lagi, atau plan nikah lagi?"

"Hmm.. Jujur gue udah mati rasa lagi Za.. Gue pernah coba deket sama cowok, trauma gue. Sampe ke psikolog karena gue gak nyaman jalanin hubungan sama cowok lagi."

"Yaampun, hmm. Gue ngerasa bersalah banget jadinya denger ini semua. Sekali lagi gue mohon maaf ya. Semoga lo segera bisa kembali menjadi Ambar yang dulu gue kenal. Yang asik, yang dikejar-kejar cowo-cowo dan lo tinggal pilih haha" Rezza berusaha menghibur.

"Iya Za.. Makasih ya.. Sumpah ya lo tuh cowok yang asik banget buat cerita. Pasti Sherin beruntung banget ya dapetin lo.." Sherin mendengar dari kejauhan.

"Gue yang beruntung. Gue yang banyak bersyukur bisa nikah sama Sherin"

"Kenapa gitu? Emang lo ngerasa diri lo gak pantes apa gimana?"

"Hmmm, gue dulu sempet putus asa karena gue sama Sherin gabisa menikah."

"Hah? Kenapa?" Ambar kaget.

"Panjang ceritanya, intinya dulu hubungan gue dan Sherin pernah tidak disetujui keluarganya Sherin. Lalu, Sherin menikah sama cowo lain. Gue udah pasrah. Gue udah pasrah kalo dia bukan jodoh gue."

"Astaga Za.. Gue gatau, I'm so sorry ya.."

"Iya gapapa Mbar. Yang jelas sekarang gue happy banget, karena Sherin sudah bercerai dari laki-laki itu dan sekarang menikah sama gue.. Makanya gue beruntung. Gue ngerasa beruntung banget saat ini. Semoga suatu hari lo juga bisa nemuin keberuntungan lo ya."

"Amiinn.. Makasih Za.."

"Sama-sama Mbar.." Sherin tersenyum mendengar itu semua.


Beberapa waktu kemudian Sherin melangkah kembali ke meja dan kursi yang tadi ia dan Rezza duduki. Sherin heran.

"Ambar, Mas Rezza ke mana?"

"Eh ke.. mana ya. Tadi dia bilang mau sholat Dzuhur dulu gitu kalo gak salah.."

"Ohh okay kalo gitu.." Sherin duduk di kursinya tadi.

"Oh iya Sher.. I'm sorry ya.."

"Hah? Sorry for what Mbar?"

"Maaf kalo aku tadi dengar dari Rezza kamu pernah menikah dengan laki-laki lain terus sekarang nikah sama Rezza. Pasti kamu pernah di merasa situasi yang pelik ya? Aku berempati ya, karena aku juga pernah merasakan sendiri."

"Oh soal itu.. No, it's okay kok Ambar.. Aku justru merasa bersalah sama Mas Rezza. Dia.. Aku tenyata cuma cintanya sama dia. Aku membohongi diri aku sendiri waktu dulu menikah sama laki-laki lain. Aku gak pernah benar-benar cinta sama laki-laki itu, aku yang beruntung bisa diterima lagi sama Mas Rezza." Sherin berkaca-kaca matanya.

"Kamu pasti bersyukur banget ya?" Ambar tanya, Sherin mengangguk.

"Rezza tuh yang aku kenal cowok yang baik, gak neko-neko, pasti dia sangat menjunjung tinggi kamu ya? Dia tuh gentle banget jadi cowok.. Aku salut sama dia.. Kamu beruntung Sher bisa menikahi Rezza.." Sherin tersenyum merekah.

"Makasih ya Ambar.. Iya memang aku akui, aku beruntung sekarang sama Mas Rezza.."

Mereka berdua sepakat, Sherin hendak bertanya.

"Ngomong-ngomong, dulu kalian pernah.." Clarissa datang memotong obrolan.

"Kak Ambar, ini udah selesai semua. Mau dicek dulu?" Clarissa tunjukan foto-foto di laptop yang dipegangnya.

"Wait, aku cek dulu ya..." Ambar ambil dan pinjam laptop Clarissa itu.

Beberapa menit kemudian, photo shoot selesai. Ambar dan Lusi hendak meninggalkan lokasi.

"Yaudah, ini udah aman semua sih dari aku. Nanti kalo ada apa-apa kita kontakan lagi ya di grup. Thank you Sherin, Clarissa, semuanya.." Ambar menyalami semua orang di sana.

"Makasih juga kak Ambar udah bisa hadir jadi bisa langsung approval." Clarissa say thanks.

"Iya makasih ya Ambar.. Semoga habis ini aman gak ada revisi hehe" Sherin juga say thanks.

"Amin-amin. Sama-sama yaa Sherin dan Clarissa. Aku duluan.." Ambar hendak balik badan.

"Eh iya titip salam buat Rezza ya.." Ambar senyum ke Sherin. Sherin mengangguk.

Ambar dan Lusi pun keluar dari photo studio itu. Rezza baru saja keluar dari mobil Mini Countryman birunya menaruh tas kecilnya di glove box.

"Eh mau ke mana Ambar, Lusi?" Rezza turun dari mobil menegur Ambar dan Lusi.

"Kita udah selesai Za.. Ini mau balik." Ambar kaget, sambil melirik mobil Rezza.

"EH aku permisi ya duluan, Kak Ambar hati-hati di jalan. Ojolnya udah di depan situ." Lusi permisi pamit.

"Oh iya silahkan, hati-hati ya Lusi." Rezza dan Ambar kompakan. Lusi berjalan pergi.

"Keren banget mobil lo Za!" Ambar memuji.

"Ah enggak, ini mobilnya Sherin hehe" Rezza berbohong.

"Oh iya, lo ke mana habis ini Mbar?" Rezza basa-basi.

"Gue mau ketemu sepupu gue, mau nge-date sama dia."

"Hah? Gimana?" Rezza heran bin kaget.

"Haha nggak, gue punya sepupu seumuran gue, cowok. Dia kebetulan lagi free, dia abdi negara juga. Trus yaudah gue lebih nyaman jalan sama dia daripada sama cowok-cowok baru yang gue gatau intensinya apa kenalan sama tante-tante umur 33 tahun ini."

"Ahh I see.. Iya-iya yaudah hati-hati ya, naik apa lo?" Rezza tanya.

"Itu mobil gue Za.." Ambar menunjuk sebuah mobil Hyundai Palisade 2025 warna hitam.

"Buset gede banget mobil lo, nyetir sendiri? Yuk gue anter." Rezza kaget. Mereka sambil jalan ke arah mobil yang parkir di seberangnya.

"Haha ini mobil bokap sebenernya, tadi mobil gue lagi dipake. Mobil gue mah HRV aja Za yang simple-simple aja. Tadi pagi kebetulan adek gue pinjem gak balik-balik, makanya gue telat. Yaudah deh sama bokap dipinjemin ini." mereka menyeberang, lalu Rezza bukakan pintu driver mobil itu.

"Yaudah salam buat bokap nyokap ya, walaupun gue belom pernah ketemu, cuma pernah liat di foto-foto sosmed lo hehe. Tapi gue kerasanya kaya udah lama kenal keluarga lo aja Mbar."

Ambar tertegun, ia memang dulu sering bercerita soal keluarganya ke Rezza.

"Okay, makasih ya Za.. Gue pamit.. Have a nice weekend ya.." Ambar membuka kacanya setelah pintu ditutup.

"Sama-sama Ambar.. Have a nice day.." Rezza melihat Ambar yang agak berubah raut wajahnya.

"Yaudah gue duluan ya Rezza.." Ambar memasukan transmisi mobil lalu melaju.

"Oh iya Mbar. Hati-hati di jalan ya.." Rezza melambaikan tangan. Ambar meninggalkan Rezza sambil sesekali melihat spion, melirik Rezza yang masih terpaku di sana. Rezza memang pernah jatuh cinta dengan wanita itu, sebelum dekat dengan Sherin.

"MAS!" Sherin memanggil, ternyata dari tadi Sherin memperhatikan dari jauh.

"Eh iya sayang.." Rezza buru-buru menghampiri Sherin.

"Ngapain kamu?" Sherin nadanya tak santai.

"Hmm abis nganter Ambar ke mobil. Kamu udah selesai?"

"Udah, yuk pulang.." Sherin berjalan ke mobil, Rezza buru-buru membukakan pintu.

"Kita pulang? Gamau ke mana dulu gitu?" Rezza tanya.

"Gausah, aku capek.." Sherin masuk ke mobil lalu memakai seatbelt sendiri. Rezza menutup pintu lalu menuju kursi driver.

Lihat selengkapnya