Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #44

Chapter 44

Tiga minggu berlalu. Sherin dan Rezza menjalani hari dengan sangat nyaman. Keduanya tak pernah ada ribut-ribut lagi sejak Janice pulang ke Bali. Clarissa juga makin yakin dengan Hendro. Dan pertemuan sama Ambar beberapa minggu lalu juga tidak berarti apa-apa meski Sherin tau dulu Rezza pernah ada hati dengannya.

10.21 | Rabu pagi, Sherin dan Rezza berada di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Mereka mengantarkan Om Arwin dan Tante Rani yang hendak berangkat umroh. Ini bukan kali pertama kedua orang tua Sherin itu berangkat ke Tanah Suci. Sebelumnya mereka juga sudah pernah menunaikan Ibadah Haji sekitar 8 tahun lalu saat Om Arwin masih bekerja sebagai Direktorat Jenderal di sebuah institusi pemerintahan.

Namun umroh kali ini berbeda, Tante Rani pernah bernazar jika Sherin segera menikah lagi pasca-rumah tangganya dengan suami sebelumnya bubar, maka Tante Rani dan Om Arwin hendak haji kecil alias umroh untuk bentuk syukur bahwa Sherin telah dipertemukan dengan pria yang lebih baik dari sebelumnya, yakni Rezza. Tante Rani juga membawa banyak harapan dan doa yang hendak ia dan suaminya curahkan selama di Mekkah nanti. Mulai dari berharap Sherin langgeng pernikahannya dengan Rezza, rumah tangga Sherin segera diberkahi keturunan, sampai harapan agar Sherin sembuh dari sakit psikisnya. Sherin pun titip beberapa doa kepada papa mamanya agar keluarga mereka diberikan keberkahan dan kebahagiaan. Mereka semua berpisah di sebuah gate keberangkatan di Terminal 3 itu.

"Mahh.. Pahh.. Hati-hati ya di sana, semoga papa mama sehat terus, selama dua minggu ke depan gak merasa kesulitan menjalaninya." Sherin matanya berkaca-kaca.

"Aminn sayang.. Papah mamah berangkat dulu ya, kamu baik-baik, jangan ribut-ribut sama Rezza.." Om Arwin memeluk Sherin.

"Iya pahh. Aku janji gak akan ribut-ribut di sini. Papa mama doain aku dan Mas Rezza ya.."

"Iya nak.. Mama papa pasti doain kamu dan Rezza." gantian Tante Rani memeluk Sherin.

"Rezza, titip Sherin ya. Kalau ada apa-apa selesaikan dengan kepala dingin." Om Arwin memeluk Rezza.

"Pasti pah.. Aku janji akan jaga Sherin sepenuh hati. Baik saat papa mama di sana dan setelah pulang ke Jakarta." Rezza menjawab yakin.

"Iya.. Papa percaya sama kamu, tolong dijaga ya kepercayaan ini."

"Iya pah.." Rezza melepas pelukannya lalu mencium tangan Om Arwin.

"Mah.. Hati-hati di sana ya.. Aku sama Sherin doakan dari sini mama dan papa lancar ibadahnya, sehat-sehat di sana, aamiinn." Rezza mencium tangan Tante Rani lalu memeluknya.

"Makasi yaa.. Titip Sherin ya Rezza. Jaga kesehatan fisik dan mental kalian juga selama mama dan papa di sana." Tante Rani memeluk Rezza erat-erat.

"Iya mah, pasti aku usahakan semaksimal mungkin.." Rezza lalu melepas pelukannya. Mereka lalu melihat Tante Rani dan Om Arwin berjalan menjauh menuju counter check in sudah ditunggu oleh rombongan lainnya. Sesekali Om Arwin dan Tante Rani menoleh, Sherin dan Rezza melambaikan tangan sambil tersenyum.

"Bye mahh.. Pahh.." Sherin setengah berteriak.

Tadi Tante Rani dan Om Arwin diantar oleh bus rombongan VIP karena pagi-pagi setelah Subuh mereka jalan ke sebuah kantor biro travel umrah di daerah Cipete, Jakarta Selatan. Jam 9 Sherin dan Rezza sudah tiba di sana menunggu di gate keberangkatan internasional.

Mereka menggunakan mobil, setelah itu mereka pun berjalan hampir 3 kilometer kembali ke parkiran.

"Ya Allah mass.. Jauh banget sih ini Terminal 3 buset deh.." Sherin mengeluh, kakinya terasa pegal walau pakai flat shoes.

"Tadi aku bilang pake sneakers aja sayang.. Kamu maksain pake flat shoes.."

"Jadi kamu nyalahin aku?"

"Nggak gitu, yaudah sini aku gendong. Gendong di pundak ya!" Rezza serius, Sherin kira bercanda.

"Gamau ah malu." Sherin jawab ketus.

"Yaudah kalo gitu aku tunggu di mobil." Rezza ngeluyur, Sherin beneran sebal.

"Ihhh yaudah gendong. Aku capekk.." Sherin sebenarnya tak hanya capek, tapi juga sedang mengantuk karena tadi pagi-pagi bangun dari jam 3 subuh dan ikut Shalat Tahajud karena melihat Rezza sudah terbangun untuk Tahajud duluan.

"Yaudah sini aku gendong, gausah gengsi lah.. Bodo amat anggep aja dunia milik kita berdua." Rezza serius mau menggendong Sherin. Ya memang kalau gendong di pundak tak akan semalu digendong depan.

"Beneran mas?"

"Iya beneran, udah tanggung ini dikit lagi tuh mobil kita di situ.." Rezza gemes.

"Yaudah mau digendong.." Sherin melunak, wajahnya ditekuk seperti anak kecil yang habis diomelin orang tuanya.

"Yaudah sini, kamu naik trotoar ini, aku bungkuk dikit." Rezza beneran memberikan gendongan ke Sherin yang tampak lelah dan ngantuk. Mereka pun berjalan melewati berbagai jenis manusia, ada yang kaget, ada yang ketawa, ada juga yang senyum-senyum memvideokan mereka diam-diam. Rezza sungguh sudah bodo amat dengan itu semua karena dia hanya ingin Sherin tidak kecapekan.

"Udah sampe sayang.. Huh huh.." Rezza ngos-ngosan, Sherin turun dari pundak Rezza.

"Makasih ya mas. Kamu bucin banget sih sama aku." Rezza masih ngos-ngosan, membukakan pintu mobil Countryman biru itu untuk Sherin.

"Iya, ayok masuk." Rezza nampak kecapekan. Sherin senyum-senyum dibuatnya. Mereka pun bergegas menuju kantor di Kemang.


14.21 | Sherin sedang manja-manja di ruangan Rezza di lantai 3 kantor K&B. Rezza duduk di sofa memangku laptop-nya karena sedang mengetik tulisan panjang untuk brief ke staf-stafnya. Sementara itu, Sherin di sebelahnya sedang membaca beberapa dokumen di sebuah map kulit warna hitam. Sherin membaca-baca beberapa kontrak dan MoU dengan klien ataupun KOL. Ini pekerjaan wajar untuk seorang main director, karena Clarissa sudah tidak sanggup memegang itu lagi. Tiba-tiba Sherin merasa pusing.. Ia memegang keningnya.

"Mas.. Aku pusing.. Kaya migrain gitu deh." Rezza menengok.

"Kenapa? Kamu kecapekan? Yaudah nyender dulu.." Rezza menarik kepala Sherin lalu disandarkan ke sandaran sofa, tapi Sherin enggan. Ia memilih bersandar ke bahu Rezza.

"Aku coba buka HaloDoc ya, kamu sakit kepalanya sebelah mana?" Rezza tanya.

"Paling kerasanya sebelah kiri mas."

"Tadi pusing dari kapan?"

"Keknya baru deh, tadi kita lunch aku gak ngerasa pusing.."

"Hmm yaudah bentar ya, merem dulu aja sayang." Rezza mengetik sesuatu di handphone-nya.

"Iya mas.." Sherin lama-lama merebahkan badannya, lalu tidur dengan kepala di paha Rezza.

Tak berapa lama Rezza diberikan sebuah petunjuk untuk memberikan pertolongan pertama yaitu sebuah tablet parasetamol, diminum dengan air putih. Rezza yang memang akhir-akhir ini prepare kotak obat di ruangannya, mencoba meraih kotak obat itu di laci nakas tak jauh darinya.

"Ngapain mas?" Sherin menegur lemah.

"Aku mau ambil medkit sayang, kamu harus minum parasetamol. Kalo sejam gak ilang pusingnya, baru kita ke rumah sakit ya.." Rezza berkata pelan, Sherin mengangguk.

"Okay mas, aku ikutin kamu aja. Kamu kan imamku.." Sherin berkata sambil terpejam.

"Iya sayang, ini minum dulu ya.. Habis itu tidur lagi."

"Iya mas.." Sherin terduduk tegak sebentar, meminum sebuah tablet parasetamol dengan seteguk air putih yang ada di meja sofa itu.

"Makasi ya sayangku, aku tiduran lagi boleh?" Sherin matanya sayup-sayup.

"Iya sayang, sini bobok lagi." Rezza menarik lengan Sherin dengan lembut.

Sherin pun tertidur di pangkuan Rezza.

Beberapa menit kemudian, Tyas mengetuk ruangan.

"Masuk.." Rezza jawab.

"Permisi.. Eh Mbak Sherin tidur?"

"Oh Tyas, hmm tadi Sherin pusing katanya. Habis minum obat ketiduran. Kenapa Tyas?"

"Hmm itu bang, mau ambil dokumen itu. Ada yang harus diproses sore ini. Aku izin cek ya bang." Tyas mendekat, mengambil map berlapis kulit warna hitam itu.

"Oh iya silahkan Tyas, dicek dulu aja. Tadi sih beberapa ada yang udah dikerjain sama Sherin."

"Hoo gitu, yaudah ini aku izin bawa ke lantai 2 ya bang. Biar aku bisa discuss dengan Sari atau Mbak Clarissa juga."

"Yaudah, boleh-boleh. Nanti aku bilang ke Sherin udah diambil kamu dokumennya."

"Oke siap bang, makasih ya.. Aku permisi."

"Iya makasih juga ya Tyas.."

Tyas lalu keluar ruangan, menuju tangga ke lantai 2. Tak berapa lama gantian Anya datang.

"Iya masuk.." Rezza persilahkan suara ketukan di pintu.

"Bang.. Eh Sherin kenapa?" Anya kepo.

"Hmm tadi pusing katanya, abis minum parasetamol ketiduran. Kenapa Nya?"

"Itu, deck yang buat sore ini bisa jam berapa bang? Mau gue kirim email ke klien."

"Ohh iya ini masih gue kerjain, dikit lagi sih harusnya Nya. Nanti gue update di grup kalo udah."

"Siap bang, gue tunggu yak.."

"Iya, thanks Nya.."

"Eh iya, soal AE baru.. Lo jadi open recruitment gak? Kalo jadi gue ada beberapa kenalan gue yang mau gue ajuin.."

"Wah, boleh Nya.. Kirim CV aja ke lo, nanti lo forward ke gue japri atau email.."

"Nice.. Bisa bang, gue kirim segera ya kalo udah ada CV-nya."

"Oke Anya, makasih ya.." Rezza tersenyum ke Anya. Anya mengangguk lalu ke luar ruangan.


Satu jam berlalu, Sherin terbangun.

"Mass.. Maaf aku ketiduran. Ini udah jam berapa?" Sherin berusaha duduk, Rezza sigap pegangi.

"Eh sayang, kamu masih pusing?" Rezza khawatir. Ia bantu bereskan rambut Sherin.

"Udah mendingan sih mas. Aku tidur berapa jam ya?"

"Hmm keknya baru satu jam."

"Hah? Satu jam? Aduh.. Ini dokumen tadi ke mana mas?" Sherin panik.

"Sayang, tenang dulu. Tadi Tyas ke sini. Dia mau bantu checking dokumen kamu tadi. Katanya ada yang harus diproses sore ini?"

"Iya mas.. Yaudah aku ke lantai 2 dulu ya. Takut ada yang missed aku." Sherin mau buru-buru berdiri. Rezza menahannya.

"Sayang-sayang.. Aku temani ya. Aku ikut ke lantai 2." Rezza inisiatif.

"Gapapa mas, aku bisa sendiri kok.."

"Udah aku temani ya, gausah bantah. Aku cuma mau make sure kamu baik-baik aja." Rezza senyum ke Sherin. Sherin pun merasa tenang dan ikut tersenyum.

"Kamu perhatian banget sih? Kamu sayang banget ya sama aku?"

"Yaiyalah, pake ditanya.." Rezza pura-pura bete.

"Hmm sayangg.. Yaudah ayok temenin."

"Iya, ini aku bawa laptop sekalian."

"Okay mas." Sherin masih duduk, membereskan barang-barangnya di meja dimasukkan ke dalam tas laptop yang ia bawa dari lantai 2. Sambil memperhatikan Rezza yang beberes di mejanya, memasukan charger, laptop, dan barang-barang lainnya ke ranselnya.

"Udah nih, yuk kita turun.." Rezza menyodorkan tangannya ke Sherin.

"Iya masku sayang.." Sherin jadi semangat lagi.. Mereka bergandengan tangan.


Mereka pun lanjut ke lantai 2, Sherin menghampiri Tyas yang sedang di ruangan Clarissa. Rezza menunggu di depan pintu dengan sabar. Di dalam penuh, ada Sari, Tyas, Sherin, dan pemilik ruangannya yaitu Clarissa.

"Mas, kamu kasian banget. Sini duduk di dalem aja." Sherin memanggil.

"Gausah, aku di sini aja sayang.. Hehe" Rezza tetap berdiri di depan ruangan Clarissa.

Setelah Sherin memastikan dokumennya aman, ia keluar ruangan Clarissa dan menggandeng Rezza ke ruangan Sherin.

"Mass.. Aku udah izin sama Cla untuk pulang cepet. Katanya boleh, kita mau pulang sekarang?"

"Kerjaan kamu udah?"

"Udah kok mas, ini aku mau beresin barang-barang di ruangan aku."

"Ohh yaudah, kamu mau langsung pulang?"

"Iya mas, aku ngantuk banget rasanya. Abis minum obat tadi kan."

"Hmm yaudah, nanti beli makan pake ojol aja ya.." Rezza ngide.

"Okay mas, aku nurut kata suamik.." Sherin berbicara manja ke Rezza, mereka lalu keluar ruangan dan mengarah ke lift.

Malamnya mereka berdua makan malam di ruang TV. Duduk di sofa, Sherin sedang ingin makan mie ayam yamin bakso dan martabak telur bebek.

"Makasi yaa masku sayangg.. Gatau kenapa aku tadi pengenn banget makan martabak. Kek udah lama gak makan gitu lho. Enak banget ini.." Sherin mencubit pipi Rezza.

"Ishh makan-makan aja, gausah cubit-cubit pipi bisa gak? Sakiitt.." Rezza protes.

"Ya abis kamu gemes banget mas.. Aku mau mie ayam kamu gercep beliin ke depan, aku mau martabak kamu gercep pesen ojol. Kalo gak habis kan mubazirr hehe"

"Ya makanya kamu abisin yaa.." Rezza merangkul Sherin yang sedang penuh mulutnya.

"Iyaa mass.." Sherin manggut-manggut sambil makan.

'Huftt.. yang penting Sherin gak sakit lagi deh, gue worried banget liat Sherin kepalanya pusing gitu tadi..' Rezza bicara dalam hati. Dan.. ujung-ujungnya dia lah yang menghabiskan semua makanan itu.


15 menit kemudian..

"Sayang, aku mau jalan keliling komplek ya. Begah banget ini kalo gak dibawa jalan gabisa tidur aku." Rezza merasa begah badan dan perutnya.

"Yaudah yuk, aku ikut.." Sherin gercep memegang tangan Rezza.

"Kamu belum ngantuk? Ntar kecapekan kamu kalo ikut jalan.."

"Nggak masss.. Cuma jalan di komplek aja kan!" Sherin nampak bersemangat.

"Yaudah yuk, awas ya minta gendong.." Rezza mengancam.

"Iyaaa.. Galak banget sih suaminya siapa sih??" Sherin sebel.

"Bukan galakk.. Aku gamau aja.."

"Husshh udah yuk, gausah bantah mulu. Hehe" Sherin menarik tangan Rezza mengarah keluar.


11.48 | Jumat siangnya, Sherin sedang di ruangannya sendirian. Sepuluh menit yang lalu Rezza pamit ke Sherin hendak shalat Jumat di masjid tak jauh dari kantor.

Sherin sedang ada beberapa dokumen penting terkait kontrak dengan klien dan kontrak dengan KOL yang harus di-review. Lalu ada call masuk dari mamanya.

"Assalamualaikum sayang.." Tante Rani menyapa.

"Waalaikumsalam mamahh.."

"Kamu lagi di kantor?" Tante Rani tanya.

"Iya nih mahh, udah mau lunch sih tapi tunggu Mas Rezza pulang jumatan dulu."

"Ohh iya di sana udah mau jumatan ya."

"Iya mahh.. Mama lagi apa sama papa?"

"Mama lagi kangeenn banget sama kamu, dari semalam mama keinget kamu sayang.. Mama sampe gak bisa tidur. Mau call kamu tapi takutnya ganggu. Jam 9 malam di sini kan udah tengah malam di sana." Tante Rani bercerita.

"Yaampunn.. Kenapa mah? Kok tumben mama kangen sama aku?"

"Iya sayang.. Kemarin di Masjidil Haram mamah doain kamu, doain Rezza juga. Gatau kenapa habis itu di dalam hati mama pengen banget ketemu kamu.. Kamu baik-baik aja kan di sana? Gak lagi ribut-ribut sama Rezza kan?"

"Hah? Enggak kok mahh.. Aku baik-baik aja, Mas Rezza juga sehat Alhamdulillah.." Sherin kepikiran, kenapa mamanya segitu kangennya? Memang selama ini Sherin selalu tak pernah jauh dari orang tuanya, bahkan dulu saat menikah dengan Dhika pun mereka tinggal di rumah orang tua Sherin, satu atap bersama di rumah Simprug. Mungkin memang mamanya kangen tinggal bersama Sherin lagi pikirnya. Sherin tak mau overthinking.

"Syukurlah kalau gitu.. Mama udah doain kamu. Sama Mas Rezza, supaya bahagia selalu, sehat selalu, bisa kasih mama papa cucu." Tante Rani nampak penuh harap.

"Aamiinn.. Makasih ya mah udah doain aku, udah doain Mas Rezza juga."

"Iya sayang.. Sama-sama ya, kamu kalo ada apa-apa call mama ya nak. Biar mama gak khawatir. Semalam mama baru bisa tidur jam 1 di sini. Mama kangen sekali sama kamu, makanya mama cuma bisa liat-liat foto kamu, foto kita di gallery hape mama sambil mama dzikir buat nenangin hati mama." Tante Rani mulai meneteskan air mata. Sherin pun merasakan mamanya sedih, dan ikut berkaca-kaca matanya.

"Yaampun mah, yaudah mama tenang aja. Aku baik-baik aja kok. Kalo ada apa-apa pasti aku kabarin. Makasih ya mah udah doain aku terus, doain Mas Rezza juga.. Aku sayang banget sama mama.. Sama papa juga."

"Iya sayang. Yaudah mama mau ke kamar hotel dulu ya, ini mama lagi ngopi di restoran hotel. Papa lagi ngobrol sama jamaah lain, biasa lah papa kalo ada kenalan baru ngobrol terus haha"

"Okay mahh.. Hehe.. Yaudah mama fokus dulu ya ibadah di sana, hati-hati.. Jaga kesehatan mama sama papa juga.. Kalo ada apa-apa, langsung call aja mahh.. Hape aku nyala kok 24 jam gak pernah aku matiin." Sherin meneteskan air mata tapi tak mau terdengar sedih.

"Iya sayangg.. Nanti kalo mama kangen lagi sama kamu, mama call kamu ya."

"Okayy maahh.."

Lihat selengkapnya