Satu minggu kemudian, Sherin dan Rezza baru saja pulang sehabis cek ke dokter obgyn di rumah sakit Sentra Medika. Hari sabtu siang, jam 12.17 Rezza dan Sherin pulang ke rumah Kemang.
"Mbak Sherin udah pulang?" Mbak Ani menyapa.
"Eh iya mbak, kenapa?"
"Ohh nggak tadi ada kiriman dari Mas Rendi katanya buat Mbak Sherin."
"Oalah, kirim apa Mas Rendi?" Sherin masuk ke dalam.
"Ini mbak, tadi dikirim pake ojol. Buah-buahan sama vitamin.."
"Waduhh banyak banget.. Yaudah makasih ya mbak. Nanti aku telfon Mas Rendi."
"Iya sama-sama mbak." Mbak Ani balik ke belakang.
"Mas Rendi kirim ini sayang?"
"Iya mas, banyak banget. Aku call Mas Rendi bentar ya.."
"Iya.. Aku ke toilet bentar sayang."
"Okay mas.." Sherin senyum manis ke Rezza.
30 menit kemudian, Kaluna dan Yoza sedang bertamu. Mereka duduk di ruang tengah di depan TV.
"Iya mas Yoza, ini kan Sherin hamil. Jadi kami maunya dipercepat aja. Kalau bulan depan ada apa aja yang bisa jadinya?"
"Siap Mas Rezza.. Ini kami kemarin sesuai request, sudah mengumpulkan beberapa tempat yang possible dan kami yakini kalian berdua pasti suka banget."
"Ohh ya? Boleh liat?" Sherin excited.
"Ini Mbak Sherin, silahkan.." Kaluna memberikan laptop-nya ke Sherin.
"Wah.. Ini di Jaksel nih.." Sherin dan Rezza menatap sebuah bangunan seperti rumah mewah di daerah Darmawangsa.
"Iya mbak, ini rumah mewah gitu punya backyard yang gede banget dan ada ballroom juga di dalamnya. Bisa buat event, wedding, biasa buat launching product juga lho."
"Wah ini bagus sih, tapi harganya lumayan ya. Ini paket dengan katering?" Rezza komentar.
"Iya betul mas. Mereka gak mau nerima katering lain, mungkin khawatir dengan keamanan rumahnya kali ya. Jadi harus yang sudah mereka percaya."
"Oh okay, hmm next ada opsi lain?"
"Iya ada mas. Ini di daerah Cilandak. Ada gedung dulunya kantor PH kalau gak salah. Nah di dalamnya itu kalo weekdays ada office yang disewakan, tapi kalo weekend backyard-nya oke, tapi jeleknya mereka tidak bisa menyediakan perintilan-perintilan seperti sound system, panggung, dan sebagainya jadi harus kita provide lagi."
"Ohh gitu, jadi mereka murni hanya sewakan tempat ya. Makanya murah." Sherin komentar.
"Betul mbak.." Kaluna jawab.
"Next ada lagi?" Rezza tanya.
"Nah ini di BSD mas."
"Wah jauh kalo di BSD. Kita ngejarnya sekitaran Jakarta, kalau bisa Jaksel."
"Iya mas.. Maaf ya kami baru dapat tiga venue ini." Yoza memohon maaf.
"Oke-oke, kamu ada komen sayang?" Rezza bertanya ke Sherin.
"Jujur aku penasaran sih sama yang pertama, mau cek langsung ke sana. Aku yakin papa mama pasti setuju karena deket banget kan. Cuma aku perlu liat langsung ke sana.." Sherin berkata.
"Nanti bisa kita atur jadwal Mbak Sherin kalau mau.." Kaluna mengide.
"Iya boleh-boleh Lun, nanti aku kabarin ya kalo mau ke sana."
"Okay mbak.."
Ya mereka berdua sebetulnya sudah sangat tertarik dengan venue itu, venue bernama Ambhara House Darmawangsa. Tapi biaya sebesar Rp 650 juta untuk satu sesi acara dari sore ke malam, atau dari pagi ke siang, sebuah angka yang teramat besar karena Sherin dan Rezza juga sedang menyiapkan kelahiran anak pertama, dan mereka juga tak mau membebani orang tua Sherin.
Besoknya, hari minggu. Rezza dan Sherin sedang berkeliling minggu pagi. Jam 09.12 mereka melintas di sekitaran Blok M, Sherin ngidam gultik. Beruntung ada sebuah kedai gultik di daerah Jalan Cikajang, tak jauh dari Pasar Santa yang buka sejak pagi.
Usai menyantap gultik pagi-pagi, Sherin minta diajak berkeliling daerah Blok M tapi tak mau turun dari mobil. Mual katanya menghirup udara pagi, aneh banget hamilnya Sherin.
"Mas.. Ini kan kita deket sama si Ambhara House itu.." Sherin teringat.
"Eh iya ya, coba kamu cek di maps. Dari sini ke mana? Aku gak terlalu hapal daerah Darmawangsa soalnya sayang." Rezza minta tolong.
"Okay sayangg.." Sherin gercep cari lokasi venue itu di maps.
Tak lama kemudian, Rezza menghentikan mobil J5 hijau milik Sherin itu di depan Ambhara House Darmawangsa. Gerbangnya tertutup, tapi nampak ada pos penjaga dan seperti ada beberapa mobil di dalamnya.
"Sayang, kita mau mampir?"
"Boleh mas kalo bisa.." wajah Sherin nampak penuh harap.
"Yaudah aku coba turun ya tanya ke security mungkin.." Rezza membuka seatbelt-nya.
"Okee mas, aku tunggu di sini ya.."
"Iyaa sayangg.." Rezza turun lalu menghampiri pos jaga.
"Misi.." Rezza melongok ke jendela pos jaga itu. Ada seorang laki-laki menggunakan kaus loreng-loreng ala militer dengan celana panjang training warna hitam.
"Iya, ada apa ya mas?" bapak itu menyapa Rezza.
"Maaf pak, mau tanya kalau saya mau lihat-lihat Ambhara House boleh gak ya? Saya lagi cari venue buat pernikahan pak.."
"Ohh, bisa-bisa.. Saya bukakan gerbangnya ya."
"Wah makasih banyak pak, saya izin masukin mobil boleh?"
"Boleh-boleh mas, saya sambil bukakan pintu gerbangnya."
"Siap. Makasih pak.." Rezza tersenyum lalu kembali ke mobilnya. Sherin nampak happy sekali.
"Bisa sayang, itu yang jaga mau bukain gerbangnya.." Rezza masuk ke mobil.
"Ihh asik bisa liat-liat ya mas.. Kita masukin mobil boleh?"
"Boleh katanya, ini aku majuin ya mobilnya."
"Okee mas.." Rezza memasukan mobilnya ke dalam, gerbang ditutup lagi tanpa digembok.
"Pak, kita harus ketemu siapa gitu? Soalnya kami dapat rekomendasi ke sini tapi belum janjian." Rezza bertanya ke bapak tadi.
"Ohh.. Bentar ya, saya call orangnya. Tadi kebetulan lagi ada tamu juga."
"Oh gitu, iya boleh pak kami tunggu di sini." Rezza sambil membukakan pintu untuk Sherin.
"Makasi masku sayang.." Sherin merangkul pinggang Rezza begitu turun dari mobil.
"Sama-sama cintaku.." Rezza memberikan respons yang baik ke Sherin.
"Halo bu.. Maaf ini ada yang mau liat venue buat pernikahan katanya, tapi belum janjian. Bisa diperintahkan gitu bu?" bapak penjaga itu menelepon seseorang, lalu ia seperti mendapat perintah untuk mengajak Sherin dan Rezza ke backyard karena orang-orang sedang di sana.
"Baik bu kalau gitu saya antar mereka ke halaman belakang ya bu. Iya terima kasih bu."
"Mas, mbak, saya antar ke halaman belakang ya. Mereka sedang di belakang sama tamu juga."
"Oh iya boleh banget pak.." Rezza sumringah menjawab.
"Sebentar saya kunci gerbangnya dulu.." bapak itu menggembok pagar yang dibuka tadi, lalu mengajak Rezza dan Sherin masuk. Di area depan yang luas dan ada taman serta parkiran luas itu terlihat ada 3 mobil terparkir lainnya. Sebuah mobil Honda HRV Hybrid warna merah, sebuah mobil Alphard 2025 warna hitam, dan sebuah mobil Suzuki Jimny warna biru yang semuanya terparkir rapih di depan Ambhara House itu.
"Mari mas mbak, silahkan ikut saya.." bapak itu mengajak Sherin dan Rezza masuk.
"Okee pak, mari." Rezza merespons lalu menggandeng erat Sherin. Rezza akhir-akhir ini menjadi sangat posesif dengan Sherin. Sherin pun happy sekali Rezza makin lengket tak mau jauh-jauh darinya. Sherin senyum-senyum merasakan gandengan Rezza yang sangat kuat mencengkeram.