Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #46

Chapter 46

08.30 | Seminggu kemudian, sabtu pagi. Rezza dan Sherin di jalan menuju rumah orang tua Sherin, Tante Rani dan Om Arwin.

"Mas.. Aku bawa ginian doang cukup gak ya??" Sherin tunjukkan satu kotak cake dari bisnis temannya Sherin di daerah Mayestik.

"Cukup lah, kan papa mama bilang gausah bawa apa-apa sayangg.." Rezza berkata.

"Iya sihh, cuma aku takut di sana gak prepare. Kan papa mama baru sampe tadi malem.."

"Udah gapapa ya, nanti kalo di sana kurang makanan kita order ojol aja."

"Okee mas.." Sherin menyandarkan tubuhnya di bahu Rezza. Mereka menggunakan mobil Countryman biru milik Rezza.


15 menit kemudian, Sherin dan Rezza tiba. Di sana sudah ada Mas Armand dan istrinya, Yura. Mas Rendi tak bisa hadir karena ada pekerjaan sabtu pagi.

"Assalamualaikum.." Sherin dan Rezza masuk ke rumah.

"Waalaikumsalam.. Masuk sini sayang.." Tante Rani berdiri menghampiri Sherin. Untuk pertama kalinya, Tante Rani bertemu Sherin dalam kondisi kehamilan pertamanya.

"Mahhh.. Gimana mama perasaannya udah pulang umroh?" Sherin cium tangan lalu cipika cipiki ke Tante Rani.

"Alhamdulillah sayang.. Mama lega udah bisa selesain nazar mama.."

"Makasih ya mah, aku salut sama mama dan papa mau bernazar untuk aku.." Sherin mellow.

"Iya, udah gausah sedih-sedih.. Gimana kondisi kamu? Sehat kan?"

"Alhamdulillah kemarin abis kontrol ke obgyn, aman kok mahh.." Sherin menjawab santai.

"Eh Sherin, Rezza.. Udah sampe?" Om Arwin baru keluar kamar.

"EH papa.." Sherin lalu setengah berlari hendak memeluk papanya.

"Sherin.. Sayangg.. Jangan lari-lari.." Rezza langsung panik.

"Eh iya maaf mas.. Aku kangen sama papa soalnya.." Sherin memeluk Om Arwin erat. Rezza pun kemudian memeluk mama mertuanya.

"Mamah gimana di sana? Aman? Kemarin ke mana aja?" Rezza mencium tangan Tante Rani, cipika cipiki sambil bertanya-tanya.

"Ya biasa.. Ke Madinah, ke Masjid Nabawi.. Mama papa 3 hari di Madinah. Lanjut ke Mekkah, 4 hari di sana. Keliling-keliling ke semua tempat ziarah, mumpung lagi sepi Za."

"Oh lagi sepi ya mah? Aku juga dulu umroh pas lagi gak terlalu padat sih."

"Oh ya? Kamu udah pernah umroh?" Tante Rani baru tahu.

"Iya mah.. Dua tahun lalu, habis Sherin menikah sama Dhika.." Rezza berusaha tersenyum walau trauma mengingat itu. Tante Rani langsung paham.

"Oh gitu.. Hmm semoga suatu saat kamu sama Sherin bisa ke sana bareng ya Rezza.."

"Amiinn mahh.. Semoga.. Aku juga udah daftarin haji kok, aku sama Sherin.."

"Oh iya? Alhamdulillah kalo gitu. Mama gak nyangka kamu seperhatian itu sama Sherin Za.." Tante Rani terharu mendengar Rezza ceritakan planning-nya. Ya memang Rezza sudah mendaftarkan antrian haji untuk dia dan Sherin, beberapa hari sebelum Sherin diketahui hamil.

"Rezza udah daftar haji? Kok gak bilang-bilang? Biar papa bisa atur Haji Furoda.."

"Eh gausah pah.. Aku udah daftar haji plus kok.. Biar lebih murah dari furoda. Sherin juga setuju." Rezza menolak halus.

"Oh iya? Antriannya berapa lama?" Om Arwin menginterogasi.

"Hmm infonya sih 9-10 tahun ya pah.. Tapi bisa jadi lebih cepat atau lebih lama.."

"Hoo gitu, yah masih lama ya.. Yaudah yang penting kamu udah inisiatif seperti itu papah sangat menghargai. Makasih ya Rezza.." Om Arwin rispek ke Rezza.

"Sama-sama pah.. Aku juga mumpung ada uangnya dan Sherin setuju, yaudah kita daftar. Daripada ditunda-tunda.."

"Iya, mama juga setuju Rezza. Makasih ya kamu sudah merencanakan jauh-jauh untuk kamu dan Sherin.. Mama seneng dengernya.." Tante Rani say thanks.

"Sama-sama mah.." Rezza nampak lega mendengar itu semua, Sherin makin tak paham dengan Rezza yang begitu pintar mengambil hati orang tuanya sekarang.


Mereka makan siang bersama jam 11.20 setelah ngobrol panjang lebar. Mas Armand nampak happy sekali melihat Sherin yang sekarang bersama Rezza dan sedang hamil muda.

"Sherin kalo Rezza lagi sibuk, kamu butuh apa-apa, call mas atau Kak Yura ya.. Jangan sungkan, sekarang kesehatan dan keamanan kamu sangat penting. Ingat kamu saat ini sedang membawa calon anak kalian ke mana-mana."

"Iya mas.. Kalo aku ada butuh apa-apa pasti aku info, kemarin juga Mas Rendi di telfon posesif banget sama aku." Sherin curcol.

"Ohya? Rendi bilang apa?" Om Arwin bertanya.

"Ia sama pahh.. Kalo ada apa-apa jangan ragu hubungin dia gitu hehe"

"Yaa kan masmu semua peduli sama kamu.. Pokoknya kalo kamu butuh bantuan, terus misal Rezza lagi sibuk atau ada keperluan lain, kamu jangan gaenakan ya sayang.. " Tante Rani berkata.

"Iyaa mama.. Kalo aku call mama papa aja boleh gak?" Sherin manja.

"Sayangg, kan ada aku lho, jangan lah repotin mama papa." Rezza mulai gerah. Semua tertawa.


12.55 | Semua duduk santai di depan TV. Rezza dan Mas Armand baru selesai shalat di ruang kerja Om Arwin, Tante Rani dan Om Arwin juga habis shalat di kamar utama. Kak Yura sedang halangan, dan Sherin juga tadi menumpang shalat di kamar mama papanya.

"Sher, ini ada beberapa vitamin yang dulu kakak biasa minum waktu hamil muda. Kakak baru beli kok ini kemarin mumpung lagi ke apotik.." Kak Yura memberikan sebuah paper bag di sofa TV.

"Waduh, ini banyak banget kak. Minumnya gimana? Berapa kali?" Sherin mengambil beberapa.

"Dulu sih kakak sehari sekali, kamu ada dikasih vitamin gak sama dokter?"

"Hmm waktu pertama doang sih kak, pas aku migrain itu.."

"Yaudah kalo kakak dulu biasa minum malam habis makan malam.."

"Eh nanti kita habis ini mau ke rumah Kak Vina, nanti kita tanya deh ya kak.." Rezza berkata.

"Iya boleh, kalo mau make sure ke dokter langsung silahkan.."

"Makasih banyak ya Kak Yura.." Rezza dan Sherin kompakan.

"Sama-sama Sher, Za.."

"Kalian mau ke rumah Kak Vina?" Om Arwin bertanya.

"Iya pah, aku belum cerita ke Kak Vina kalau Sherin hamil. Hehe jadi sekalian mau minta maaf ke mereka. Sekalian mampir deh.."

"Yaampun kok bisa belum cerita?" Tante Rani heran.

"Iya mah, dari kemarin kita di kantor repot. Terus mau call takut Kak Vina lagi riweuh soalnya terakhir dia cerita mau nyari baby sitter baru, karena yang lama resign." Sherin cerita.

"Yaampun.. Yaudah kalo Vina belum dapat, kabarin mama ya sayang.. Mama ada kenalan teman mama yang bisa bantu cariin ART, baby sitter, gitu-gitu.." Tante Rani menawarkan.

"Oh iya mah, nanti aku juga rencana mau bantu cari ke temen aku si Toni.. Dia kan bisa juga, kemarin asistennya Sherin dapat dari Toni." Rezza cerita.

"Oh iya? Tyas yang ikut ke KUA itu kan? Gimana so far? Bagus kerjanya?" Om Arwin kepo.

"Alhamdulillah memuaskan sih mah, pah. Tapi aku tetap jaga jarak, gak semua rahasia kantor dan rahasia keluarga aku beberin ke dia."

"Iya betul Sher.. Harus set boundaries ya ke orang apalagi dia kerja sama kita, bukan teman atau sahabat lama.." Mas Armand beri opininya. Semua sepakat.. Rezza dapat notif dari ponselnya, Kak Vina kabari sudah mau pulang habis pergi dari acara keluarga Bang Syahrul.

"Sayang, ini Kak Vina udah ngabarin, udah otw pulang katanya. Kita mau ke sana jam berapa?"

"Hmm, boleh setengah jam lagi gak mas berangkatnya? Masih kangen sama papa mama.." Sherin manja, semua tertawa.

"Boleh lah sayangg.. Masa aku larang, yaudah aku tinggal ya?" Rezza iseng.

"Ihhh kok gitu.." Sherin langsung sebal manja. Semua makin tertawa. Seru sekali keluarga mereka itu meski sedang tidak lengkap.


13.40 | Sherin & Rezza hendak pamit, Mas Armand dan Kak Yura juga bersiap akan lanjut pergi karena anak-anak mereka di rumah orang tua Kak Yura.

"Kami pergi dulu ya mah, pahh.. Kalian istirahat dulu kan baru sampe semalem.." Sherin memeluk mamanya.

"Iya sayang, makasih ya udah mampir.." Tante Rani mencium pipi kanan dan kiri Sherin.

"Sama-sama mahh, pah aku jalan dulu ya.. Makasih papa mama udah doain aku dan Mas Rezza selama umroh kemarin.." Sherin peluk papanya.

"Iya sayang.. Jangan capek-capek ya kamu, ada apa-apa call papah. Okay?"

"Pasti pah.." Sherin menjawab tegas.

"Kita juga pulang yah pah mah.." Mas Armand dan istrinya ikut salim lalu cipika-cipiki.

"Iya Armand, Yura.. Kalian hati-hati di jalan ya." Om Arwin dan Tante Rani kompak.

"Pah, mah.. Aku sama Sherin pergi dulu ya.. Terima kasih untuk semuanya." Rezza mellow lalu memeluk Tante Rani, menyaliminya. Lalu gantian ke Om Arwin.

"Iya Rezza. Jaga Sherin ya.. Hati-hati nyetirnya." Om Arwin beri wejangan singkat.

"Iya pah, pasti itu. Makasih pah mah sekali lagi. Kami permisi.."

"Wasalamualaikum.." mereka berempat kompak.

"Waalaikumsalam.." Om Arwin dan Tante Rani jawab bersamaan.


Hampir satu jam perjalanan menuju rumah Kak Vina. Sherin sering kali impulsif selama di perjalanan, mulai dari beli buah, beli batagor, sampai mampir ke minimarket untuk numpang ke toilet. Rezza pun hanya bisa sabar karena ia paham sekali Sherin yang sedang hamil.

Seperti biasa, begitu tiba di rumah Kak Vina, Rezza mengedimkan lampu mobilnya di depan pagar. Bu Rohmah tak lama keluar dari dalam rumah membukakan pagar dan pintu.

"Sore Bu Rohmah. Kak Vina ada kan bu?" Rezza turun dari mobil.

"Ohh Bang Rezza.. Tak kira siapa mobilnya beda." Bu Rohmah bukakan pagar.

Lihat selengkapnya