Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #47

Chapter 47

12.28 | Selasa siang, Rezza dan Sherin memutuskan meeting dengan konsultan di hari itu karena makin mepet waktu, dan mereka berdua juga hanya bisa di jam makan siang.

Rezza, Sherin, Kaluna, dan Yoza meeting di ruang meeting lantai 3.

"Jadi nanti kami bantu untuk pengiriman undangan fisik ya Kak Sherin, Mas Rezza."

"Iya, totalnya ada 132 undangan sesuai yang sudah kita list di Google Sheets kemarin ya.."

"Okay kak, untuk undangan online, website-nya ada feedback lagi gak?"

"Oh iya, kita cuma mau minta foto-fotonya jangan terlalu berat aja sih. Kemarin pas saya buka di handphone pake data sim agak lemot loading-nya. Atau mungkin bayar server gitu kalau diperlukan kita akan bayar?" Rezza tanya.

"Ohh iya, nanti coba kami cek ke developer-nya ya. Kita coba dulu foto-fotonya di-resize biar lebih ringan mas." Yoza jawab.

"Boleh, kalo udah kabarin aja ya biar kita cek lagi." Rezza jawab.

"Untuk soal Ambhara House, kami minta maaf ya jadinya langsung ke sana. Gak lewat kalian deh. Dan kita juga gabisa kasih tau harganya ke kalian. Karena memang ini harga spesial kebetulan Mas Rezza kenal dengan anak yang punya.." Sherin say sorry.

"Nggak apa-apa kok kak.. Kami paham, justru kami jadi dikurangi satu beban nih hehe" Kaluna jawab.

"Iya-iya, pokonya kalo kalian nanti di sana ada kendala, untuk checking vendor segala macem, kabarin ya. Oiya sama food test rencananya weekend ini sama kateringnya akan dikirim ke rumah kita, antara sabtu atau minggu karena mereka kebetulan ada event. Kalo kalian mau ikut boleh, gabisa juga gapapa. Kami ajak orang tuanya Sherin supaya approval mereka juga." Rezza cerita. Sherin mengangguk-angguk.

"Okay, boleh diinfokan aja Mas Rezza, Kak Sherin. Kalau kami bisa kami akan datang.." Kaluna jawab, Yoza mengangguk setuju.

"Oh iya sama satu lagi.. Nomer orang Ambhara kalian ada pegang namanya siapa?"

"Namanya pak Ferdi atau Fendi gitu, sebentar.." Yoza cek ponselnya.

"Hmm.. Pak Ferdi, ini nomornya." Yoza kasih lihat.

"Oh okay, berarti sama, kami juga dapat nomor Pak Ferdi itu. Nanti kalau kalian mau ke sana gitu-gitu weekdays janjian sama Pak Ferdi, tapi kalau weekend sama kenalan saya anaknya yang punya Ambhara. Kalian kabarin aja ya kalo weekend mau ke sana, misal mau ukur dekor, mau cek kebutuhan tambahan seperti request kita kan sewa sofa dan beberapa kursi untuk VIP dan kursi outdoor yang tahan hujan." Rezza make sure. Sherin seneng banget liatnya.

"Siap.. Nanti kami kabari ya mas kalau weekend mau ke sana, sama vendor juga.."

"Okeh kalo gitu.. Makasih banyak ya, maaf kalian jadi harus ke sini." Rezza say thanks.

"Sama-sama mas, kak.. Kami berdua juga sekarang full wedding consultant kok. Sebelumnya kan Yoza masih sambil kerja.." Kaluna cerita.

"Oh ya? Wah jadi fokus dong ya sekarang?" Sherin tanya.

"Iya betul Kak.." Kaluna jawab, Yoza mengangguk.

"Yaudah kalau gitu kami tinggal ya. Kalau mau langsung pulang silahkan, mau di sini dulu juga gapapa." Rezza berdiri, Sherin ikut.

"Iya kita pamit aja langsung, mau ada ke tempat lain lagi." Yoza jawab.

"Oh gitu, oke deh kalo gitu. Hati-hati di jalan ya kalian.." Sherin perhatian.

"Iya kalian semangat ya kalo ada klien lain tolong tetap bantu kami hehe" Rezza ingatkan.

"Tenang mas.. Kita ada tim juga kok hehe" Kaluna menenangkan.

"Yaudah kalo gitu kita mau ke ruangan dulu, kami tinggal ya.. Bye.."

"Iya Mas Rezza, Kak Sherin.. Silahkan.." Kaluna beberes barang-barangnya.


Sherin dan Rezza bergandengan ke ruangan Rezza. Lantai 3 sedang sepi karena mayoritas sedang lunch di luar termasuk Icha dan Anya.

"Kamu beli apa tadi sayang?" Rezza mengajak Sherin duduk di sofa.

"Aku beli ayam lada hitam kesukaan kamu, sama aku lagi pengen nasi bento mas.."

"Ohh.. Kamu yang pengen apa anak kita? Hehe"

"Dua-duanya papaahh.." Sherin manja.

"Yaudah makan dulu yuk.." Rezza bukakan bungkusan berisikan makanan yang tadi di-order Sherin melalui ojol dan diantar OB Mas Seno ke ruangan Rezza.

"Ayok, suapin aku gak?" Sherin minta disuapin.

"Aku mau nyuapin anak aku, bukan kamu.." Rezza iseng.

"Ihh kok gitu sih sama mama.." mereka berdua pun bercanda dengan begitu gemasnya. Selesai makan ada chat dari Ambar ke ponsel Rezza.

"Hai Rezza, soal termin pelunasan udah gue kirim ke email ya. Nanti dicek aja, thanks.."

"Sayang, ini Ambar kirim termin pembayaran sisa untuk gedung.." Rezza tunjukkan chat itu.

"Yaudah aku cek email ya.." Sherin hendak berdiri mengambil laptop-nya di meja kerja.

"Eh aku aja, bentar aku ambil laptop aku.." Rezza tahan Sherin berdiri. Ambil laptop di mejanya.

"Ini sayang, kita kan bayar termin satu minggu lalu.. Termin dua minggu depan, sama pelunasan maksimal H-7 hari.. Bismillah ya aku transfer termin dua nanti sore biar gak kelupaan.."

"Iyaa mas.. Kamu beneran gak mau aku bantu?" Sherin tanya.

"Nggak, kan aku suami kamu. Aku yang tanggung ini semua.." Rezza sok sweet.

"Hmm yaudah.. Emang kamu gamau tau mas tabungan aku berapa?" Sherin tanya.

"Nggak, kalo aku tau juga buat apa? Uang kamu ya punya kamu." Rezza beberkan prinsipnya.

"Hmm tapi kamu perlu tau sih, jadi kalo besok-besok kamu atau aku kenapa-kenapa kita gak ada yang ditutup-tutupi mas.."

"EH hushh apa sih? Kok ngomongnya gitu?" Rezza panik.

"Yaudah aku cuma mau kasih tau kamu aja tabungan aku berapa. Selama ini kamu gak pernah tanya mas.." Sherin cerita.

"Yaudah, aku cukup tau aja. Kamu gak perlu jelasin itu ditabung di mana, berapa di sini, di situ, detail-nya aku gak perlu tau."

"Ya perlu lah mas, kalo mendadak perlu dicairin gimana?" Sherin berkata aneh sekali.

"Hmm.. Yaudah terserah kamu mau cerita atau gak aku ikut kamu aja." Rezza pasrah.

"Yaudah, aku punya tabungan uang dari selama ini aku nabung, gaji aku, dan juga uang jajan yang papa dulu sebelum pensiun selalu kasih aku tiap bulan dan gak pernah aku habiskan mas."

"Iya, aku tau soal itu.. So?"

"Totalnya aku cuma punya. Dua setengah M mas.. Dua setengah milyar.. Gak sebanyak kamu."

"Alhamdulillah kamu punya tabungan segitu, itu gede lho. Temen-temen kita aja belum tentu punya uang sebesar itu di tabungannya." Rezza menenangkan.

"Iya, I know.. Cuma kadang orang-orang tuh mikirnya aku duitnya banyak banget karena papa aku pejabat, aku kerja kamu tau kan dulu kantor aku gajinya oke, dan bonusnya gila.."

"Iya aku paham kok.." Rezza mengerti.

"Nah yaudah, aku ada nabung segitu mas.. Itu semua aku taruh di deposito bank aku.. Nih bisa aku cek di mobile banking, tapi demi keamanan aku concern cuma bisa dicairkan lewat teller."

Sherin menunjukkan angka Rp 2,502,340,000 di rekening depositonya.

"Nice.. Aku salut sama kamu, walaupun kamu punya uang segitu banyak tapi kamu sederhana.. Gak pernah boros-boros. Makasi ya sayang.." Rezza pegang tangan Sherin.

"Sederhana? Emang aku rumah makan Padang?" mereka tertawa.

"Yaudah itu kamu keep aja dulu gausah diapa-apain. Pake uang aku aja ya.." Rezza memastikan.

"Iya mas, tapi.. Aku mau cerita." Sherin ragu-ragu.

"Soal?" Rezza nampak tak terlalu mau mendengar kalau bicara soal uang.

"Dulu.. Waktu aku nikah sama Dhika.. Aku keluar uang mas." Sherin ragu ceritakannya. Rezza nampak chill.

"Yaa gapapa, kan emang kamu yang mau kan?" Rezza berusaha santai.

"Nggak mas, soalnya dari pihak keluarganya Dhika pengen kalo acaranya di Jakarta aku yang tanggung semuanya. Jadi mereka modalin keluarganya datang ke sini. Tapi opsinya kalo dulu nikahan di Surabaya, mereka akan biayain full. Papa aku gamau di Surabaya karena jauh dan menyulitkan kolega-kolega papa yang diundang.." Rezza agak shocked dengarnya.

"Jadi? Kamu bayarin semua-muanya?" Rezza nampak kaget.

"Iya mas, kecuali seserahan. Sama biaya lamaran itu Dhika yang bayar. Kamu mau tau aku abis berapa dulu?" Sherin tanya.

"Kalo kamu gamau cerita ya gapapa, aku gak punya hak juga untuk tau soal itu. Udah lewat juga kan kejadiannya.." Rezza benar, ia memang tak mau membahasnya.

"Tapi aku perlu cerita ke kamu mas. Dulu aku habis hampir lima ratus juta untuk bayar itu semua. Sewa gedung, termasuk katering, dekor, dan dokumentasi. Aku sengaja gak minta papa mama karena waktu itu papa juga udah pensiun kan. Aku gamau bebanin papah."

Mereka berdua tertegun, Sherin nampak takut kalau Rezza marah atau tak suka.

"Maafin aku ya mas.. Aku nyesel buang uang segitu besar untuk orang yang ternyata nyia-nyiain aku, bahkan aku ninggalin kamu demi dia. Aku minta maaf." Sherin menangis.

"Heyy.. Aku gak nyalahin kamu sayang. Itu semua udah lewat, ya sudah." Rezza mengusap air mata di pipi Sherin.

"Sampe detik ini pun papa mama gak tau kalo itu, acara itu aku yang bayar semua mas. Papa mama juga gatau aku punya tabungan berapa banyak. Selama ini yang tau cuma kamu, Yanti, dan Dhika dulu aku cerita ke dia." Sherin masih terisak. Rezza jadi kepikiran. Ia merasa Dhika sudah sangat kurang ajar selama ini. Pantas saja Rezza sama sekali tidak bisa akrab dan berusaha berhubungan baik dengan Dhika, karena Rezza memang punya feeling yang kuat tentang seseorang yang buruk adabnya.

"Maafin aku ya mas.." Sherin memeluk Rezza.

"Nggak sayang, kamu gak salah.." Rezza terbengong.

Bahkan di situasi Rezza yang sudah tidak punya orang tua, bekerja sendiri, hanya mengandalkan diri sendiri, Rezza mengutamakan uang dia lebih dulu. Rezza benar-benar benci dengan Dhika bahkan ia bersumpah jika suatu saat bertemu Dhika ia akan mendamprat laki-laki itu.

"Assalamualaikum.." pintu ruang kerja Rezza diketuk.

"Waalaikumsalam.. Masuk.." Rezza dan Sherin jawab sambil menghapus air mata.

"Hah?? Mama? Papa?" Rezza dan Sherin kaget, Tante Rani dan Om Arwin datang ke sana.

"Halo.. Maaf ya papa mama mendadak ke sini." Om Arwin bicara.

"Ya ampun papa mama kok gak bilang-bilang, habis dari mana?" Sherin langsung memeluk papa mamanya. Rezza antre di belakang.

"Habis dari makan siang tadi, ini mama bawain cake kalian pasti udah lunch kan?" Tante Rani sodorin plastik berisi hidangan penutup.

"Yaampun.. Repot-repot banget. Makasih ya mamaa.." Sherin peluk mamanya. Rezza salim lalu peluk Om Arwin.

"Mari silahkan duduk pah.. Maaf berantakan kita baru aja selesai makan." Rezza bereskan beberapa barang di meja pendek depan sofa.

"Iya makasih ya Rezza. Tadi papa ke lantai 2, kata Tyas kalian di sini jadi yaudah buru-buru ke sini deh." Om Arwin menjelaskan, Rezza peluk dan salim Tante Rani.

"Maaf ya aku lagi di sini pah, abis di lantai dua sepi gak ada Mas Rezza hehe" Sherin alasan.

"Papa mama mau minum apa? Kopi atau teh? Di sini kopinya enak lho."

"AH iya boleh Rezza, papa kopi mama teh aja ya.. Gulanya dikit aja." Tante Rani jawab.

"Okay, sebentar ya... Aku pesenin ke OB." Rezza ambil kursi kerjanya lalu keluar dari ruangan, Sherin duduk di antara Om Arwin dan Tante Rani.

"Jadi kalian gimana persiapan resepsi pernikahan?" Tante Rani bertanya.

"Alhamdulillah, so far so good mah.. Tadi abis meeting sama konsultan juga si Kaluna itu."

"Oh iya, jadi di Ambhara House itu?" Om Arwin tanya.

"Iya pah.. Soalnya paling pas di situ sih, aku sepakat sama Mas Rezza."

"Yaudah, papa juga tau kok tempat itu bagus. Papa dulu sering ke sana, kalo kantor lagi ada acara sering bikin event di sana.." Om Arwin jelaskan, Sherin jadi kepikiran.

"Papa tau yang punya venue itu?" Sherin bertanya.

"Oh iya papa juga kenal, Pak Shobri kan kalo gak salah Jenderal TNI gitu dia?" Om Arwin lupa-lupa ingat.

"Wait.. Jadi papa kenal sama papanya Ambar?"

"Ambar? Ambar siapa?" Om Arwin dan Tante Rani heran.


Di pantry, Rezza dan Seno OB lantai 3 sedang menyiapkan minuman. Secangkir teh hangat dan kopi panas. Rezza sendiri yang membuat kopi itu menggunakan teknik manual brew. Iya Rezza memang pecinta kopi, sehingga dia tahu betul cara membuat secangkir kopi agar enak di mulut.

"Bang Rezza, buat siapa sih tumben sampe abang yang kerjain sendiri?" Seno tanya.

"Hushh udah diem aja, itu tehnya jangan sampe kemanisan ya.. Ada cemilan gak di laci?"

"Ada ini bang, cookies sama regal."

"Oh yaudah cookies coklat aja, masih penuh kan?"

"Masih bang, yaudah ini saya taruh di nampan nanti saya antar ya bang?"

"Gausah, gue aja yang nganter. Thanks Sen. Lo kerjain yang lain aja."

"Ohh okeoke bang, permisi yak."

"Iya.."


"Hmm.. Ambar itu, wanita yang.. pernah nolak cintanya Mas Rezza pah, mah.."

"Hah? Kamu tau dari mana?" Tante Rani penasaran.

"Waktu itu kita ketemu klien aku, nah Ambar itu klien aku. Turns out si Ambar ini kenal sama Mas Rezza. Kita satu kampus dulu, tapi dia beda jurusan. Ternyata semester satu waktu aku masih pacaran sama Didi, Mas Rezza sempat dekat sama Ambar itu. Mas Rezza pernah nyatakan cintanya ke Ambar tapi dia tolak karena sudah memilih pria lain." Sherin berkata ragu-ragu.

"Ohh udah lama dong, sebelum kamu dekat sama Rezza kan?" Om Arwin memastikan, tapi wajah Sherin nampak khawatir.

"Kamu percaya kan sama masmu? Sama suamimu? Jangan terlalu overthinking ya.. Jaga kesehatan kamu sayang.." Tante Rani merangkul Sherin.

"Misii.." Rezza masuk.

Lihat selengkapnya