Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #48

Chapter 48

Senin, dua hari kemudian. Rezza sedang meeting di kantor PH untuk shooting brand klien di daerah Fatmawati. Ia ke sana dengan Anya dan Arina karena Icha sedang ada deadline klien lain. Rezza memutuskan bawa mobil sendiri, Arina menumpang di mobil Anya.

17.25 | Rezza baru selesai meeting untuk pembuatan video iklan salah satu klien mereka itu.

"Nya, kalian langsung balik kan?"

"Iya bang, lo mau ke kantor?"

"Nggak, gue juga balik sih. Sherin udah otw pulang ditemenin Tyas."

"Oh yaudah, kita pisah yak." Anya dan Arina menuju mobil Anya.

"Okay, hati-hati ya.." Rezza berjalan menuju mobil Countryman birunya.

Baru melangkah beberapa saat, Rezza dipanggil oleh seorang wanita. Wanita itu adalah.. Ambar.

"Rezza, kok lo di sini?" Ambar parkir tepat di sebelah mobil Rezza.

"Heh, Ambar? Kok bisa ktemu?" Rezza kaget.

"Pantes mobilnya kaya familiar, lo abis dari mana?"

"Gue.. Abis dari lantai 3 ke All Rounder Studio, meeting sama PH dan klien gue. Lo ngapain?"

"Kantor gue kan di sini Za.. Di lantai 7 beda lantai sama All Rounder.."

"Ohh gitu, kok baru sampe jam segini?"

"Eh nggak gue mau ambil barang-barang trus balik rencananya, lo ke mana? Pulang?"

"Iya, ini mau pulang sih.. Gue duluan ya."

"Eh ntar dulu Za. Temenin gue ngopi di situ mau gak?" Ambar tunjuk cafe kecil di lobi gedung.

"Hmm.. Sebentar aja ya, Sherin udah otw pulang soalnya."

"Okay, yuk.." Ambar mendekat.

"Iya, ayok.." Rezza senyum.. Kacau.


"Mas, aku udah di rumah ya. Tyas masih di sini ada dokumen yang kita mau checking buat besok pagi.. Kamu pulang jam berapa? Hati-hati di jalan.." Sherin chat ke wa Rezza.

"Eh terus lo sama Sherin gimana? Excited dong mau pesta?" Ambar tanya, mereka berdua duduk di area outdoor cafe itu karena Ambar sambil menikmati rokok elektrik iQos.

"Hmm, gue jujur lagi overwhelmed sih Mbar.."

"Oh ya? Kenapa Za?"

"Gue.. Lagi insom belakangan ini. Gatau kenapa.."

"Tapi.. Maksudnya lo biasanya dulu insom gak?"

"Jujur udah lama sih gue gak separah ini, dulu insom tapi yaudah misal jam 11 gak tidur-tidur, tau-tau udah jam 2. Ini tuh beda, gue tidur bareng Sherin ya tidur. Tapi jam 11, kadang jam 1 kebangun. Gatau kenapa. Gue keknya butuh ke psikolog deh."

"Hmm.. Gue ada temen psikolog, mau gue kenalin?"

"Boleh sih Mbar, tapi gue gamau Sherin tau.. Gue gamau dia khawatir. Lo liat sendiri kan kemarin waktu gue pusing di Ambhara dia wajahnya cemas banget. Dia lagi hamil Mbar, gue gamau nambah pikiran dia.."

"Yaudah gini aja, lo kan sekantor nih. Alesan aja meeting kek atau apa gitu ke luar, terus janjian sama psikolog gue. Daripada lo gini terus. Keliatan tau Za, kantung mata lo tebel banget!"

"Hah? Iya ya?? Duh gue sampe gak ngeh.."

"Emang Sherin gak komen?"

Rezza ragu-ragu menjawab..

"Gatau Mbar, akhir-akhir ini Sherin agak aneh.."

"Aneh? Aneh kenapa?"

"Hmm.. Dia.. Kadang dia gamau natap mata gue, gamau gue sentuh, dan.. Gue udah dua minggu gak have sex sama dia.." Rezza entah kenapa butuh sekali cerita ini semua.

"Astaga Za.. I'm sorry.. Kok gitu sih? Kalian berantem?"

"Nggak.. Sama sekali gak beranatem."

"Lalu?" Ambar kepo.

"Sepertinya.. Sherin juga lagi mood-nya gak mau deket-deket gue kali ya bawaan hamil. Ya itu tadi, natap mata gue aja jarang-jarang.."

"Ya ampun, I'm sorry about that ya Za.." Ambar memegang tangan Rezza. Rezza kaget.

"Makasih Mbar.." Rezza melepas sentuhan tangan Ambar, ia meraih ponselnya.

"Wait ya, gue bales chat Sherin dulu.." Rezza membuka ponselnya, Ambar mengangguk.

"Okay sayang. Ini aku baru selesai. Mau pulang. Kamu udah makan? Mau dibeliin apa?" sent.


Rezza dan Ambar berjalan menuju parkiran, tadi Rezza menemani Ambar ke lantai 7.

"Hmm Mbar, hati-hati ya. Gue balik.. Makasih udah dengerin cerita gue."

"Sama-sama Za.. Kalo lo butuh apa-apa, just call me ya!" Ambar senyum ramah.

"Iya, thank you.. Gue balik ya.."

"Hati-hati Za.." Ambar menatap nanar ke Rezza.

"Gausah mas, aku tadi beli makan di jalan dari kantor. Kamu kalo mau beli makan malam buat kamu aja ya. Aku gak beliin buat kamu soalnya tadi kirain masih lama, maaf ya.." chat Sherin masuk. Rezza membacanya di dalam mobil sambil menyalakan AC.

"Yaudah, aku otw pulang ya sayang.." sent.

"Iya.. Hati-hati mas.." Sherin balas.

Chat mereka pun serasa dry text sekali. Ada apa sebetulnya??


20.25 | Sherin dan Rezza baru saja selesai shalat Isya berdua di kamar. Sherin melipat mukena dan sajadah. Rezza masih bersimpuh, dalam hatinya berdoa berharap hubungan dingin ini segera berakhir. Ia merasa tersiksa saat ini, tapi Rezza juga tak mau memaksakan Sherin karena ia tak mau buat Sherin tak nyaman. Sherin langsung naik ke kasur setelahnya. Merebahkan diri membelakangi posisi Rezza. Rezza yang usai berdoa, berdiri lalu melipat sajadah dan sarung, melihat itu merasakan sesak hatinya.

'Kamu kenapa sih sayang?' dalam hati Rezza.

Rezza mematikan lampu utama, ia coba peluk Sherin dari belakang. Tak ada penolakan, tapi begitu tangannya hendak menyentuh area sensitif Sherin, buru-buru ditepisnya oleh Sherin. Rezza merasakan sekali Sherin sedang tak mau disentuh dirinya. Ia pun hanya bisa membuang nafas panjang sembari menjauhkan dirinya dari tubuh Sherin.

'Lagi-lagi Sherin gak mau aku sentuh..' Rezza membatin.


00.39 | Rezza terbangun. Sherin menghadap ke dirinya. Ia melihat wajah cantik Sherin di depan matanya. Meski remang-remang, Rezza tetap bisa melihat Sherin yang tidur terlelap wajahnya penuh lelah. Rezza mencoba mencium kening Sherin, tak ada penolakan. Rezza cium pipi Sherin, Sherin hanya bergerak sedikit. Lalu ia coba mencium bibir Sherin, tiba-tiba Sherin bangun..

"Ngapain sih mas?" Sherin membentak marah.

"Maaf.. Maaf sayang aku cuma.."

"Orang lagi tidur juga." Sherin matanya merah seperti hendak membentak lagi, Rezza matanya berkaca-kaca.. Sherin mengubah posisi tidurnya, kembali membelakangi Rezza. Rezza terduduk, ia menangis dalam diamnya.

'Kenapa sih sayang? Aku kangen sama kamu..' Rezza menarik nafas lalu bangkit dari duduk, ia berjalan ke luar. Rezza menggenggam tas kecilnya berisi dompet, kunci mobil, dan handphone. Ia pergi dari rumah itu, benar-benar pergi.


04.50 | Kamar Sherin dan Rezza.

"Mas.. Mas.." Sherin terbangun, ia mencari-cari Rezza di mana. Hatinya tiba-tiba kalut, ia memaksakan diri bangkit dari kasur lalu berjalan cepat ke kamar mandi sempoyongan.

"Mass.. Kamu di mana?" Sherin makin khawatir. Ia keluar kamar, mencari di ruang tamu, di studio, di dapur, tak nampak sedikit pun Rezza.

"Maass, kamu di mana?" Sherin setengah menangis, Mbak Ani kaget lalu menghampiri.

"Mbak? Mbak Sherin kenapa?" Mbak Ani panik, Sherin memegang dadanya.

"Mas Rezza. Mas Rezza di mana mbak?" Sherin bertanya dengan nada tinggi.

"Aku gatau mbak, aku juga baru bangun ini."

"Ya Allah mas.. Mbak coba cek di lantai dua sama di teras ya, aku telfon Mas Rezza."

"Iya mbak.." Mbak Ani menaiki tangga, Sherin berlari ke kamarnya lalu mengambil ponselnya.


Rezza sedang di Masjid Agung Sunda Kelapa, tak jauh dari Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Masjid itu adalah masjid favorit kedua orang tua Rezza karena mereka sering mengikuti kegiatan-kegiatan agama di sana, apalagi jika sedang Bulan Ramadhan.

Air mata Rezza tak berhenti menetes sejak turun dari mobil, masuk ke area wudhu, mengambil air wudhu di sana kemudian mengenakan kopiah hitam peninggalan ayahnya. Rezza melaksanakan dua rakaat shalat taubat dan dilanjut dua rakaat shalat tahajud. Rezza berdoa meminta ketenangan hati dan pikiran dari semua hal buruk. Tak terasa ia berzikir hingga pukul 03.10, kepalanya sakit. Ia memutuskan kembali ke mobil, menyalakan AC di-set suhu 25 derajat celcius. Rezza tertidur di kursi driver yang direbahkan sandarannya.


Rezza terbangun karena Sherin meneleponnya.

"Halo.." suara Rezza datar, lemah, tak bersemangat.

"Mas. Kamu di mana?" Sherin panik, suaranya bergetar tapi tetap nadanya tinggi.

"Aku di masjid."

"Kok gak bangunin aku? Udah mau jam 5 biasanya kamu bangunin aku ke sana bareng-bareng."

"Maaf Sher.. Aku.. Aku di Masjid Sunda Kelapa dari jam 1." Rezza meneteskan air mata.

"Mas. Ngapain? Kamu ngapain ke sana?"

"Gapapa, aku kangen sama papa mama aku.. maaf."

"Mas.. Maafin aku. Aku juga gatau diri aku kenapa dari kemarin mood aku berantakan mas. Maaf kalo aku bikin kamu sedih." Sherin merembes air matanya.

"Nggak, kamu gak salah. Aku yang salah.. Aku gak bilang mau pergi. Maaf ya."

"Mas.. Pulang sekarang please.. Aku mau minta maaf.."

"Gapapa, gak perlu. Kamu shalat subuh sendiri ya di kamar. Aku sholat subuh dulu di sini. Aku baik-baik aja kok.." Rezza melihat jam di layar headunit mobil 04.55.

"Mass.. Maaf.. Aku minta maaf mas.."

"Udah.. Kamu gak salah.. Aku cuma butuh nenangin diri aku. Udah ya, aku mau shalat dulu."

"Iya mas, aku tunggu di rumah.."

"Iya.. Wasalamualaikum.." Rezza menyudahi.

"Waalaikumsalam mas.." Sherin menutup call, dadanya sesak. Hatinya sakit. Sherin sempoyongan menuju kamar mandi, dia susah payah berjalan menuju area shower. Ia mengambil wudhu sejenak lalu berdoa.


Rezza masuk ke area masjid, jamaah subuh sudah selesai. Rezza putuskan shalat sendiri di salah satu sudut interior masjid. Rezza selesaikan shalat subuhnya, lalu ia membaca doa sejenak. Rezza merasakan kepalanya kembali pusing. Saat ia hendak berjalan menuju mobil, Rezza.. Pingsan.

"Mas.. Hati aku sakit, batin aku gak tenang.. Ya Allah mas.. Kamu kenapa?" Sherin bicara sendiri sambil duduk usai shalat subuh di kamarnya. Tak lama kemudian masuk call dari Rezza.

"Halo mas.." Sherin buru-buru mengangkatnya.

"Assalamualaikum bu, saya call dari ponselnya ini."

Lihat selengkapnya