Hari-H resepsi pernikahan Sherin dan Rezza, Sabtu siang 13.20. Banyak kolega mereka yang berkumpul di rumah Kemang.
Videografer, fotografer, Kaluna, Yoza, sahabat-sahabat Sherin dan Rezza mulai dari Yanti, Hera, Widya, Toni, Adit dan Yossa. Mereka semua berkumpul di sana untuk memastikan keadaan. Rezza dan Sherin sudah berkata tak perlu repot-repot, tapi mereka tetap datang untuk memastikan Sherin dan Rezza menghadapi hari itu dengan aman dan baik.
Sherin masih mengenakan kaus dan legging ketatnya. Ia tak mau buru-buru di-make up karena rasanya tak pede melihat wajahnya dan tubuhnya yang semakin berisi sedang hamil dua bulan. Sherin dan Rezza hubungannya sudah kembali hangat, tapi tetap saja terkadang Sherin overthinking sendiri karena hal-hal lain sementara Rezza sibuk mencari cara mendapatkan perhatiannya. Namun demikian, Rezza tetap kuat karena setidaknya Sherin sudah mau 'melayani' lagi dirinya.
"Za, lo nanti jalan pake mobil apa?" Toni tanya, mereka cowok-cowok sedang duduk di ruang tamu disuguhi minuman dan cemilan yang disiapkan oleh Kaluna dan Yoza sebelumnya.
"Hmm.." Rezza melirik ke dalam sejenak.
"Mobil gue yang Countryman ya Ton, nanti lo bisa nyetirin? Kalo gak bisa gue aja nyetir sendiri."
"Eh jangan, gue hari ini sengaja gak bawa mobil, nanti bini gue nyusul naik taksi. Gue aja nyetirin ya."
"Okeh Ton, mobil barunya Sherin udah stand by kan?" Rezza membisik.
"Aman.. Stand by di Jalan Sambas, gak jauh kok paling setengah jam sampe Darmawangsa."
"Okay Ton, makasih ya.." Rezza senyum hangat. Ya.. Rezza memang menyiapkan sebuah mobil baru untuk Sherin. Karena.. Ia merasa bahwa uang yang ia miliki juga ada hak Sherin di sana. Meski Sherin juga belum lama ini mengganti mobilnya, tapi dalam hati kecil Rezza merasa tak nyaman bahwa ia punya sebuah mobil Mini Cooper Countryman sementara mobil Sherin jauh lebih murah daripada mobilnya.
15.32 | Rezza bersiap habis shalat Ashar di rumahnya. Kamar mereka pun tak ada dekorasi apapun, kenyamanan lebih utama. Sherin sedang hamil muda, tak perlu ada bunga-bunga seperti dulu. Rezza keluar menghampiri ruang studio di mana Sherin sedang di-make up di sana.
"Sayang.. Jangan lupa shalat Ashar ya, masih ada wudhu kan?" Rezza mengintip sejenak.
"Iya mas.. Masih ada kok, wait ya.." Sherin senyum ke Rezza. Komunikasi mereka agak dingin tapi tetap perhatian satu sama lain.
"Yaudah, aku siap-siap di kamar.. Bye.." Rezza menutup pintu, Sherin hanya senyum mengangguk.
16.10 | Sherin sudah mengenakan baju khas adat Jawa Tengah dengan nuansa biru muda dan putih. Mereka sepakat temanya adalah biru dan putih, karena jika full monoton all white, menjadi mirip dengan resepsi Sherin dan Dhika 3 tahun lalu. Sherin tak mau itu, begitu juga dengan Rezza.
"Mas.. Aku udah siap ya." Sherin keluar dari ruangan studio. Rezza pangling, Sherin cantik sekali memang mengenakan kebaya tradisional dengan kain jarik dan kemben di dalam kebayanya. Warna putih dan biru membuat Sherin makin berisi, tapi justru itu favoritnya Rezza. Rezza memang sangat suka dengan fisik wanita yang agak berisi. Mengingatkannya dengan mamanya yang tak kurus dan juga tak gemuk.
"Kamu cantik banget sayang.." Rezza tak ragu memujinya, Sherin tersipu malu disenyumi oleh semua orang di rumah itu.
"Kamu juga.. Ganteng banget suami aku.." Sherin pun terpana dengan Rezza yang pertama kalinya mengenakan beskap dengan hiasan kepala blankon bermotif Batik warna cokelat.
"Makasih ya sayang.." Rezza mendekat, mengambil dua tangan Sherin.
"Mau ngapain?" Sherin membisik, Rezza hendak mencium keningnya.
"Nggak.. Gapapa.."
"Gausah cium-cium, nanti payes aku rusak.." Sherin menolak halus, semua tertawa. Rezza pun paham.
"Nggak kok, aku cuma mau liat payes di kepala kamu aja, bagus banget.. Kaya asli. Kamu ditato tadi di dalem?" Rezza bercanda, semua makin tertawa.
"Yaudah yuk berangkat mas.." Sherin menggandeng tangan Rezza menuju mobil.
"Ayok.." Rezza menyetujui.
16.40 | Rombongan dari Kemang tiba, kebetulan sore itu ada dua motor voijrider yang adalah pengawalan dari rumah Sherin dan Rezza ke Darmawangsa. Sudah paketan dari gedung jika masih radius 15 kilometer. Banyak tamu yang sudah hadir, Sherin dan Rezza sendiri sepakat untuk langsung mulai prosesi jika sudah sampai meski belum jam 17.00. Ambar pun sebagai pihak venue menyetujui, karena agar tidak mepet dengan break shalat Maghrib.
"Yuk sayang.. Kita turun.." Rezza mengajak Sherin turun dari mobil, posisinya mereka harus turun dari sebelah kiri karena pintu utama gedung dari sebelah kiri. Semua sudah berkumpul di sana. Tante Rani, Om Arwin, Kak Vina, Bang Syahrul, ponakan-ponakan Rezza, lalu diikuti oleh keluarga besar mulai dari Tante Nila, Sarah, Kak Ara, Tante Mona, Om dan Tantenya Sherin, lalu sepupu-sepupu, hingga dua abang Sherin yaitu Mas Armand dan Mas Rendi beserta istri dan anaknya. Semua menggunakan seragam yang sama. Para wanita mengenakan kebaya bertema dominan merah muda/pink, dengan balutan kain batik cetak yang diberikan masing-masing sebulan sebelum hari itu. Tak lupa keluarga Rezza, mulai dari Om Syafri, Zahra dan suaminya, hingga tante om serta sepupu Rezza yang tak terlalu dekat itu. Mereka semua berkumpul sesuai pihak keluarga masing-masing. Di momen ini Sherin takut. Ia takut dikomentari gemuk oleh orang-orang karena sejak beberapa minggu ini Sherin tak pede dengan dirinya sendiri. Meski demikian, Sherin sesungguhnya sangat cantik hari itu. Aura keibuannya memancar, tapi wajahnya yang awet muda tak luput dari tubuh Sherin yang setinggi 167 cm itu. Rezza turun lebih dulu dari kursi baris kedua, pintu dibukakan oleh Tyas yang stand by di sana.
"Silahkan Bang Rezza, Mbak Sherin.." Rezza turun, senyum ke semua orang.
"Yuk sini aku pegangin.." Rezza menyodorkan tangannya, Sherin agak kesulitan pindah posisi dari kanan ke kiri. Rezza dengan telaten membantu dengan memasukkan setengah tubuhnya ke dalam mobil membungkuk. Sherin pun terpukau oleh aksi gentle Rezza sore itu. Mereka berdua sudah turun, tim MuA juga stand by tak jauh dari sana memastikan outfit dan make up keduanya tetap on point.
"Makasih Tyas.." Sherin dan Rezza say thanks. Mereka melangkah sedikit menuju tangga. Genggaman tangan Sherin ke Rezza semakin kuat, senyumnya manis walau hanya sedikit. Sedangkan Rezza sangat tersenyum sumringah. Sore itu adalah waktu di mana ia akan bertemu dengan semua orang yang saling mereka kenal, satu sama lain. Rezza pede acara sore dan malam itu akan menjadi acara terbaik dalam hidupnya.
"Makasih yaa udah nungguin kita.. Lama gak?" Rezza bertanya santai.
"Amann Zaa.." semua menjawab, Sherin gemas dengan ocehan Rezza. Tak lama Hendro dan Clarissa keluar dari dalam gedung. Mereka tadi duduk di VIP table bersama Om Sofyan dan Tante Dewi yang juga sudah tiba.
"Sobb.. All good?" Hendro tanya sambil menggandeng Clarissa.
"Aman sobb, all good.." Rezza menjawab ramah. Prosesi segera dimulai.
Sherin di sebelahnya ada Tante Rani dan Om Arwin, Rezza di sampingnya ada Kak Vina dan Bang Syahrul. Alsya dan Arshad juga ikut di sana. Arshad dengan pedenya berjalan di depan Sherin dan Rezza membuat semua orang tak berhenti tersenyum diselingi tawa, sedangkan Alsya sibuk memanggil-manggil Arshad untuk kembali ke mama atau papanya.
"Lucu banget sihhh ponakan kamu mas..." Sherin gemas sambil meremas lengan Rezza.
"Awhhh sakit sayangg.." Rezza protes dikit.
"Ya abis gemes bangett.. Kan gak mungkin Arshad yang aku remes.." Sherin berbisik gemas ke Rezza. Semua orang memperhatikan, mereka semua terpana dengan visual Sherin dan Rezza yang meski keduanya sudah tak muda lagi, tapi masih memancarkan aura kharismatik dan mahal. Ya Sherin memang memiliki aura mahal, sebagai anak seorang pejabat. Sedangkan Rezza menyamai level Sherin dengan looks yang kharismatik dan tegas. Semua orang takjub dengan perpaduan dua hal yang berbeda itu.
Prosesi adat dimulai dengan tarian tiga orang di depan iring-iringan yang seakan menarik mereka untuk berjalan ke arah panggung pelaminan di area ballroom interior Ambhara House. Para tamu undangan yang sudah tiba memenuhi area itu. Mereka mengerubungi area sepanjang karpet merah yang akan dilalui oleh kedua mempelai dan keluarga. Tante Rani dan Om Arwin berposisi di belakang Sherin dan Rezza. Kak Vina dan Bang Syahrul di belakangnya lagi. Arshad dan Alsya justru paling depan karena kepo sekali dengan prosesi itu yang mana ada tiga orang penari yang sambil menari mengiringi lagu tradisional lalu melangkah pelan namun pasti. Tak ada prosesi adat khusus. Mereka akan segera menaiki pelaminan, lalu saling menyalami satu sama lain.
Sepanjang mereka berjalan, banyak wajah-wajah familiar. Mulai dari teman-teman kampus Sherin dan Rezza yang kita tahu persis pasti selalu 'ramai.'
"Sheerr.. Zaa.. Congrats yaa.." mereka melambaikan tangan bahkan beberapa mengajak Rezza untuk fist bump. Hendro dan Yanti juga bergabung di sana ditemani Clarissa yang gandengan dengan Hendro.
"Thanks guyss.." Sherin dan Rezza menjawab dengan senyum sumringah.
Lalu ada beberapa teman Sherin dari kantor lamanya, Mas Farhan, Mbak Devi, beberapa anak intern yang Sherin kenal baik dan juga Widya. Sementara Ibu Donda dan Pak Anwar beserta pasangannya masing-masing duduk manis di meja VIP, tak jauh dari sana ada Om Sofyan dan Tante Dewi yang nampak excited duduk bersama Tante Fatma, ibunya Clarissa.
Sherin tak berhenti senyum ramah menjawab orang-orang yang memanggil-manggil namanya. Beberapa teman SMA Sherin yang sudah berkumpul sekitar 20 orang pun cukup heboh, Hera berdiri di antaranya.
"Sheer... Congrats yaa.." Hera dan teman-teman SMA-nya memanggil-manggil.
"Thank you.." Sherin menjawab dengan senyum, Rezza juga ikut membalas senyum. Di antara keramaian itu ada Aldi Akbar, teman Sherin yang sempat 'bikin ulah' beberapa waktu lalu. Rezza dan Sherin pun tetap memasang senyum memandang Aldi. Aldi yang datang sendirian mengenakan kemeja batik lengan panjang juga memberi senyum manis ke Sherin dan Rezza tapi Sherin berusaha tak fokus ke sana.
Di seberangnya, beberapa orang yang familiar dengan Rezza. Mereka adalah teman-teman SMA Rezza yang cukup dekat dan cukup baik dengan Rezza. Di antaranya ada Anita. Menggendong Lula yang juga sudah kenal dengan Sherin.
"Haii Anita.. Lula.." Sherin sempatkan memanggil.
Anita dan beberapa teman SMA Rezza menyapa balik.."Congrats yaa Rezza, Sherin.." Rezza memandang wajah Anita cukup awkward.
Lalu mereka melewati gerombolan teman-teman kantor K&B dan Setara yang saling berseberangan dan tak mau kalah ramai.
"Bang Rezza, Mbak Sherin.. Selamat yaaa.." mereka tanpa malu berteriak cukup lantang. Semua orang memaklumi. Om Arwin pun tersenyum melihat itu, Sherin benar-benar diterima dengan baik oleh teman-teman kantor yang mayoritas sudah kenal Rezza.
Ada Anya di sana yang menggandeng seorang laki-laki, gebetan barunya, yang diketahui bernama Paul. Ada Arina dan pasangannya, Sigit, Ojan, Mbak Ira, dan teman-teman Setara KOL Agency, Sari dan Tyas ikut berkumpul di sana.
Di tengah-tengah keramaian itu, ada Icha dengan Ardi. Dan ada.. Janice yang menggandeng Roy. Rezza agak shocked ternyata Janice datang.
"Makasih yaa udah datang.." Rezza menjawab ke semuanya.
"Makasih guys.." Sherin juga berucap sambil melempar senyum.
Rezza sempat terpaku melirik Janice yang meski tersenyum tapi terasa ada kepahitan di sana.
Janice mengangguk sedikit sambil mencoba membuang pandangannya dari Rezza ke Roy di sebelah kirinya.
Dan terakhir, di ujung karpet merah itu, sebelum jalurnya terpecah menjadi dua, kanan dan kiri. Ada dua orang yang paling membuat Rezza dan Sherin tak nyaman. Di sebelah kiri ada Ambar yang sedang berdiri tersenyum sambil mengenakan headset dari walkie talkie dari panitia. Ambar nampak cantik sekali dengan dress merah maroon yang di atas lutut panjangnya, berdiri di samping Yusuf yang kenakan blazer biru tua dengan dalaman kaus putih. Di sebelah kanan ada.. Dhika, berdiri di sana bersama seorang wanita cantik berhijab.
Sherin tercekat melihat Dhika di sana. Ia tak menyangka Dhika hadir, dengan seorang wanita yang tinggi semampai dan hijabnya modis. Dhika nampak segar dengan rambut yang disisir pomade ke belakang, wanita itu menggandeng Dhika dengan erat. Sherin tak cemburu, hanya saja tak menyangka di momen ini harus bertemu Dhika yang ia takutkan akan menimbulkan gesekan dengan Rezza, karena Sherin merasakan Rezza tak suka dengan Dhika. Sementara saat Sherin buang pandangan ke kirinya ia kaget melihat Ambar yang sangat cantik dan seksi sore itu. Sherin juga mendapati Rezza menatap Ambar seperti tak berkedip. Rezza yang merasa dilirik oleh Sherin membuang pandangannya ke kanan, tapi justru shocked karena harus berkontak mata dengan Dhika. Salah satu orang yang bisa buat ia ter-trigger.
Rezza benar-benar kaget, ia pun heran kenapa Dhika ada di sana? Siapa yang mengundangnya? Sherin pun tak pernah bicara akan mengundang Dhika. Rezza sejenak merasa dadanya sedikit sesak. Tapi ia coba bertahan lalu menggenggam tangan Sherin. Sherin merasakan, Sherin tahu Rezza panic attack di momen itu.
"Mas.. Maaf ya.." Sherin menatap Rezza. Rezza menggeleng tersenyum.
Di belakangnya Tante Rani dan Om Arwin pun kaget sekali melihat ada Dhika di sana. Dhika tersenyum mencoba ramah dengan Rezza dan Sherin, tapi keduanya memilih tak menatap. Justru Tante Rani yang menatap penuh curiga. Ia tak percaya Dhika berdiri di sana. Om Arwin yang sadar segera menegur Tante Rani. "Mah.." Om Arwin dan Tante Rani bertatapan. Mereka semua tak siap melihat Dhika hadir di hari bahagianya Sherin dan Rezza.
Rezza dan Sherin memilih menyapa Ambar dan Yusuf.
"Selamat ya Rezza, Sherin.." Ambar tersenyum manis dan sumringah. Yusuf pun memberi senyum terbaiknya.
"Thank you Ambar.. Yusuf.." Rezza dan Sherin say thanks ke keduanya sambil tersenyum.
Karena tak ada prosesi adat lainnya lagi, semuanya naik ke pelaminan. Rezza dan Sherin nampak gagah dan anggun sekali. Belum terlalu nampak baby bump Sherin hari itu, tapi pipinya terlihat sedikit lebih berisi. Rezza tak masalah, ia suka itu.
Om Arwin dan Tante Rani berdiri di bagian terdekat dari pelaminan dari arah masuk. Kak Vina dan Bang Syahrul di sisi seberangnya. Alsya dan Arshad pun tak malu berlari-larian di atas pelaminan. Semua orang tertawa kecuali Kak Vina yang khawatir Om Arwin dan Tante Rani tak suka. Akhirnya baby sitter mereka datang karena ia harusnya libur hari itu, tapi demi acara itu dia datang. Memanggil Alsya yang kemudian memegangi paksa adiknya untuk turun dari panggung. Alsya dan Arshad pun di bawah pengawasan penuh semua keluarga Rezza yang hadir sore itu.
"Baik Selamat Sore kepada semua hadirin. Pertama-tama kami persilahkan untuk doa dan sambutan, dari Bapak Doktor Ahmad Suroyo S.T M.T, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Republik Indonesia periode 2010 - 2020. Waktu dan tempat dipersilahkan.." MC memanggil mantan pejabat tersebut yang juga kolega dekat Om Arwin yang sama-sama berkiprah di institusi negara itu.
Sekitar 10 menit Pak Suroyo memberikan sambutan serta doa, memberikan Tausiyah serta nasehat singkat kepada Sherin dan Rezza beserta para undangan, kemudian ditutup dengan foto bersama Pak Suroyo beserta istrinya yang hadir sejak 16.30 sore tadi.
"Selamat ya Nak Sherin dan Nak Rezza.. Semoga sakinah, mawardah, wa rohmah pernikahannya.." Pak Suroyo menjabat tangan Rezza kemudian Sherin.
"Amiinn.. Terima kasih banyak ya Pak Suroyo atas doa dan kesediannya hadir di sini." Rezza ucapkan terima kasih. Pak Suroyo menepuk tegas pundak dan lengan Rezza. Semua orang bisa melihat itu.
"Sama-sama ya.."
"Baik.. Silahkan sesi foto bersama dengan Bapak Suroyo beserta istri, Ibu Siti Arahmah.." MC mengarahkan.
Kemudian satu per satu para tamu VVIP dipanggil ke atas pelaminan, terutama yang sudah hadir di sana. Hingga keluarga dari Bang Hendro, yaitu Om Sofyan, Tante Dewi, Farah, suaminya Zafran, serta Hendro dan Clarissa juga.. Hendro sibuk menggandeng Clarissa sambil menggendong anaknya yang masih berumur dua tahun itu.
"Ciyeee Bang Hendro sama Kak Cla.." beberapa kolega, anak-anak kantor K&B dan Setara menggoda mereka. Clarissa pun salting dibuatnya. Rezza dan Sherin tertawa renyah. Meski semua sedang bercanda dengan Hendro dan Clarissa, bahkan beberapa teman kampus mereka pun ikut cie-ciein, spotlight tetap berada pada pasangan Sherin dan Rezza. Banyak mata yang malah fokus memperhatikan mereka. Sedari tadi Ambar tak kedip memandang Rezza yang tampak tampan dan rupawan, Anita di sisi lain juga memperhatikan Rezza dari kepala hingga kakinya. Belum lagi Janice, Icha, dan Anya yang meski mereka ikut bahagia, tapi tak bisa menutupi masih ada rasa kagum pada Rezza. Sherin pun cukup populer sore itu, pipinya yang sedikit menggembung dari biasanya memberikan efek natural yang menambah kecantikan alaminya. Kecantikannya sore itu tak hanya dinikmati oleh suami sahnya, tapi juga oleh laki-laki yang pernah ada hati dengannya, yang hadir sore itu.. Aldi, dan Dhika.. Belum lagi beberapa teman SMA Sherin yang dulu pernah naksir diam-diam ataupun terang-terangan, mereka semua mengagumi kecantikan Sherin sore itu yang tangannya tak pernah lepas menggenggam lengan kiri Rezza. Mereka semua iri dan cemburu dengan Rezza yang sudah berhasil mengambil hati tak hanya Sherin, tapi juga keluarganya.
"Selamat ya Pak Arwin, Bu Rani.. Saya ikut berbahagia melihat Rezza menikah dengan anak Bapak dan Ibu." Om Sofyan menjabat erat Om Arwin, lalu menyalami Tante Rani.
"Terima kasih Pak Sofyan, Bu Dewi.. Semoga kebaikan juga untuk bapak, ibu dan anak-anak serta cucu ya pak.."
"Sama-sama pakk.." Tante Dewi menjawab.
Mereka pun foto bersama, Hendro di sebelah Clarissa, dekat dengan Rezza. Farah menggandeng Zafran, dekat Sherin. Lalu Om Sofyan dan Tante Dewi yang diapit di antara Rezza dan Sherin. Mereka semua nampak sumringah.
"Baik.. Selanjutnya, kepada seluruh undangan yang hendak memberikan salam kepada Sherin dan Rezza, kami persilahkan untuk naik ke atas panggung pelaminan, lalu menikmati hidangan yang telah kami sediakan. Semoga hari ini menjadi hari yang tak terlupakan untuk kita semua, sambil diiringi oleh My Love and Joy music.. Silahkan menikmati malam hari ini.. Terima kasih." MC menutup acara, semua undangan berebut untuk menaiki pelaminan, sebagian langsung menyerbu stand makanan. Rezza dan Sherin pun nampak antusias, belum terlihat kelelahan karena tadi pagi mereka memang sudah sangat prepare untuk acara ini.
Setengah jam berlalu, saatnya teman-teman kantor dan kolega dekat menaiki panggung pelaminan. Acara sore itu ramai sekali, berbeda jauh dengan resepsi Sherin dan Dhika tiga tahun lalu. Dhika yang sedang ikut mengantre pun membatin di dalam hatinya. 'Sepertinya memang aku tidak ditakdirkan untuk Sherin..'
Tiba di saat wanita berhijab itu menyalami Rezza dan Sherin.
"Selamat yaa Bang Rezza.. Aku Reyna adik sepupu Bang Rezza. Aku anaknya Tante Billa.." Reyna memperkenalkan diri.
"Wait? Reyna? Dulu.. Kita terakhir ketemu kapan ya? Lama banget kayanya.." Rezza gak percaya,
"Haha iya bang, dulu aku inget ketemu Bang Rezza masih SD, Bang Rezza kayanya udah SMP kelas tiga."
"Oalahhh.. Iya-iya maaf ya aku gak ngenalin kamu. Udah lama banget gak ketemu." Rezza teringat, memang dulu ada sepupu dari mamanya yang bernama Tante Billa. Ternyata Dhika hadir di sana menemani sepupu jauh Rezza itu.
"Oh iya ini kenalin Dhika.." Reyna mempersilahkan Dhika menyalami Rezza. Seketika Rezza terasa tak nyaman, Sherin buru-buru menggandeng tangan Rezza.
"Selamat ya Rezza.." Dhika menyodorkan tangan kanannya. Rezza sempat terpaku lalu gerakkan tangannya.
"Iya.. Thank you.." Rezza jawab ragu-ragu sambil raut wajahnya berubah.
"Halo Kak Sherin.. Aku Reyna, selamat ya." Reyna menyalami Sherin.
"Hai Reyna, terima kasih ya.." Sherin pun agak aneh wajahnya. Reyna merasakan itu, lalu Dhika menyalami Sherin. Pertama kalinya mereka bertemu lagi usai perceraian itu.
"Selamat ya Sherin.." Dhika menjabat tangan Sherin. Sherin merasa tangan Dhika dingin dan kaku.
"Terima kasih.." Sherin tersenyum tipis. Rezza melihat wajah Sherin tak nyaman.
"Hai Kak Vina.." Reyna lalu berlanjut menyalami Kak Vina dan Bang Syahrul. Dhika perlahan mengikuti. Sherin pun memilih membuang muka darinya. Tante Rani dari sebelah pelaminan melihat itu. Sherin merasa tak nyaman. Rezza yang paham langsung menepuk tangan Sherin sambil digenggamnya.
"Haii Bang Rezza.. Mbak Sherinn.. Selamat yaaa.." Icha berlari kecil menghampiri Rezza. Ardi tersenyum di belakangnya.
"Makasih yaa Icha.." Rezza menyambut salam itu.
"Boleh peluk kalian berdua gak? Aku happy sekaligus terharu liat kalian serasi bangett.." Icha lebay.
"Iyaa boleh Icha.. Sini" Sherin menarik tangan Icha, Icha memeluk mereka berdua.
"Makasi kakakkuuu.. Oh iya salam dari Kak Ayu ya.. Dia gabisa ikut, suaminya lagi ada outing kantor ke luar kota. Harus nemenin.." Icha say sorry.
"Gapapa. Yang penting amplopnya jangan lupa ya.." Rezza bercanda. Sherin tepuk pipi Rezza manja, semua tertawa.
"Iyaa Cha.. Salam buat Ayu dan suaminya yaa." Sherin menjawab.
"Siaap mbaak.."
Lalu gantian di belakangnya, Anya beserta Paul, pasangannya.
"Selamat ya Bang Rezza.. Semoga kalian happy terus.." Anya jabat tangan Rezza cepat-cepat, ia tak mau terbawa haru sore itu.
"Makasih Anya.." Rezza menjawab singkat.
"Selamat yaa Sher.." Anya memeluk Sherin.
"Makasih banget ya Nya.. Makasih udah banyak bantu Mas Rezza dan aku selama ini.." Sherin terharu.
"Sama-sama Sher.. Jaga kesehatan yaa, aku gak sabar ketemu sama adek bayinya hehe"
"Iya Anya.. Makasih lho." Sherin say thanks. Paul menjabat Rezza dan Sherin, diiringi anak-anak kantor K&B lainnya. Lalu terakhir Janice dan Roy paling belakang. Mereka menyalami Rezza dan Sherin.
"Bang, kak, Selamat ya.." Janice nampak tak terlalu antusias. Rezza dan Sherin bisa merasakan.
"Makasih ya Janice.. Makasih udah datang jauh-jauh dari Bali." Rezza say thanks sambil menjabat Janice. Semua orang melihat itu, mereka meski tak pernah ada hubungan apapun, tapi semuanya bisa merasakan ada feeling antara mereka.
"Iya. Gapapa. Kalian baik-baik ya.." Janice kemudian memeluk Sherin. Sherin merasakan ada rasa gundah di hati Janice. Sherin memutuskan tak bicara banyak.
"Makasih ya dek, udah mau datang ke sini. I appreciate it.." Sherin mengelus pundak Janice.
"Sama-sama kak. Maaf ya kalo aku banyak salah sama Kak Sherin.." Janice asal bicara.
"Nggak dek, Kakak yang banyak salah sama kamu. Mas Rezza juga.. Maafkan kami ya.."
Janice dan Sherin berpelukan cukup lama.. Janice mengangguk berkali-kali.
"Yaudah.. Foto-foto dulu yuk.." Rezza memecah keheningan. Semua orang bersiap untuk foto.
Sesi salaman pun berlanjut.. Sherin menyalami Anita yang hadir di tengah kawan-kawan Rezza SMA yang hanya diundang sekitar 10 orang itu.
"Taa.. Makasih ya udah hadir.." Sherin memeluk Anita dan menyentuh lembut Lula yang digendongnya.
"Eh awas Lula kejepit itu sayangg.." Rezza khawatir..
"Hehe iya makasih juga yaa Rezza, Sherin udah diundang.. Kalian semoga sehat selalu ya.. Aku happy hari ini ngeliat kalian, dan aku juga baru tau kamu lagi mengandung Sher. Semoga lancar yaa.." Anita memandang tulus ke Sherin.
"Aamiin.. makasih yaa Anita.." Sherin bicara sangat excited, Rezza yang justru merasa awkward.
Mereka pun foto-foto. Rezza dan Sherin berfoto dengan beberapa undangan teman SMA Rezza yang hadir sore itu.
Setelah itu teman-teman SMA Sherin, mayoritas membawa pasangan, dari 50 undangan yang hadir sekitar dua puluhan orang termasuk.. Aldi Akbar.
"Congrats ya buat kalian berdua.." Aldi menyalami Rezza, lalu Sherin.
"Thank you ya.." Rezza menjawab singkat, ia masih sakit hati teringat terakhir Rezza sampai kecelakaan karena cemburu dengan cowok itu. Sherin pun memilih merespons tenang.
"Makasih ya Aldi.." sambil senyum tipis, Sherin say thanks.
"Sama-sama.." Aldi seperti tak rela melepas tangan Sherin. Rezza merasakan itu.
"Foto-foto dulu yuk.." Rezza mengalihkan pembicaraan. Mereka semua ber-pose.
Terakhir, teman-teman Sherin dan Rezza dari Komunikasi UI angkatan 2010. Rezza sedikit banyak teringat momen itu. Momen ketika MC memanggil.
"Kepada kawan-kawan kuliah dari Sherin dan juga Rezza, teman-teman Komunikasi UI angkatan 2010 dipersilahkan naik ke atas pelaminan untuk foto bersama.."
Anya pun teringat kejadian itu, Anya yang sedang duduk di salah satu sudut venue bersama Paul langsung berdiri memandang ke depan. Ia ingin memastikan Rezza baik-baik saja.
"Mas.. Are you okay?" Sherin menyentuh pinggang Rezza.
"I'm fine sayang.. Kamu? Capek gak? Duduk aja kalo capek.." Rezza perhatian, Sherin mengangguk. Tak lama teman-teman kampus mereka naik ke atas panggung. Ambar ikut mendekat, Sherin dan Rezza melihat. Ternyata beberapa teman mereka seperti Dion dan Yanti juga kenal dengan Ambar. Hanya Hendro dan Sherin sepertinya yang selama ini tak terlalu kenal dengan Ambar. Ambar pun sempat mencuri pandang ke arah Rezza, sempat berkontak mata dengan Rezza. Rezza hanya tersenyum tipis, lalu Sherin melihat. Sherin memilih abaikan itu karena ia sudah tahu semuanya.
"Makasih yaa guyss.. Makasih udah dateng.." Rezza membubarkan mereka yang sedang foto-foto itu.
"Oy Dion.. Lo kapan? Sherin udah dua kali, Hendro bentar lagi dua kali, lo sekali aja belom?" semua orang tertawa kecuali Rezza dan Sherin. Bercandaan dari Iqbal teman mereka ini sama sekali tak lucu bagi Rezza dan Sherin yang tentunya sangat sakit mengingat pernikahan adalah cobaan yang berat bagi mereka. Hendro tampak lebih santai dan ikut tertawa-tawa.
Tak lama panggung pelaminan makin sepi, sebentar lagi Adzan Maghrib. Sebagian ada yang menunggu di halaman belakang sambil merokok dan mencari udara segar, sebagian berkumpul di area selasar gedung yang teduh dan ada coffee free refill disediakan gratis. Ambar dan Yusuf menaiki pelaminan, Tante Rani dan Om Arwin hendak turun dari sana. Kak Vina dan Bang Syahrul sudah lebih dulu turun.
"Om, tante.. Selamat ya.." Ambar menyalami Tante Rani dan Om Arwin yang hendak pergi ke meja VIP.
"Makasih Ambar.. Yusuf.." mereka bersalaman, Ambar lanjut jalan ke arah Rezza.
"Za.. Selamat ya.." senyum Ambar berubah pilu dan sendu, Sherin yang sedang duduk lalu berdiri dan merasakan itu.
"Makasih banyak Ambar.. Makasih ya udah bantu pernikahan kita."
"Iya sama-sama.. Sher, selamat ya." Ambar mengalihkan jabat tangannya ke Sherin.
"Makasih yaa Mbar.." Sherin memeluk Ambar, Yusuf menyalami Rezza.
"Foto gak nih kita?" Yusuf memecah keheningan.
"Yuk foto yuk.." Sherin menarik Ambar untuk berdiri di tengah-tengah. Ambar di tengah, Yusuf minggir sejenak mempersilahkan mereka foto bertiga.
"Yuk Suf sini.." Ambar memanggil. Ambar berdiri di sebelah Rezza. Lalu Yusuf di sebelah Sherin.. Mereka beberapa kali ganti pose. Beberapa tamu undangan yang masih di sana memperhatikan, 'siapa wanita ini? Kenapa dekat sekali dengan Rezza?'
Salah satunya Janice yang mempertanyakan.
18.24 | Rezza dan beberapa tamu sedang shalat Maghrib di sebuah meeting room yang disiapkan dengan sajadah panjang untuk shalat. Sherin pun ikut karena ada dua area dipisah sekat untuk pria dan wanita. Rezza spesial rekues ke Ambar sebagai pemilik venue untuk menyediakan tempat itu karena tidak ada musholla yang proper untuk semua tamu.
Rezza menjadi imam di shalat jamaah itu. Di belakangnya ada beberapa kawan Rezza dari SMA, kawan kantor, hingga teman kuliah, dan juga Aldi serta Dhika di sana.
Rezza membacakan Surat Al Fatihah kemudian dilanjutkan dengan bacaan Surat Al Maun dengan tajwid nyaris sempurna dan suara yang merdu sekali. Om Arwin dan Tante Rani yang mendengar merasakan sesak di hati mereka. Mereka baru sadar bahwa Rezza memang benar-benar laki-laki terbaik yang pernah ada di hati Sherin. Tak terasa mereka meneteskan air mata..
Rakaat kedua, Rezza membacakan Surat Al-Fil. Semua orang muslim tahu surat itu, bahkan maknanya pun mengerti. Tapi ketika Rezza yang membacakannya dengan lantang dan merdu, semua orang merasakan kesedihan seakan Rezza tengah bercerita mengenai makna mendalam dari surah Al-Qur'an itu.
Usai shalat, Om Arwin menghampiri Rezza lalu memeluknya.. Rezza pun sempat bingung ada apa.
Tante Rani yang shalat di samping Sherin lalu memeluk Sherin.
"Kamu beruntung sayang.. Beruntung memiliki Rezza.. Mama sedih sekali mendengar Rezza membacakan Al-Fatihah dan surat-surat pendek gini.." Tante Rani nampak sedih, Sherin shocked tak menyangka mamanya sampai sedalam itu merasakan ketulusan di hati Rezza dari surat-surat Al-Quran yang dibacakannya.
"Iya mah. Makasih ya.." Sherin menyepakati.
19.22 | Rezza ke halaman belakang, masih sepi baru beberapa tamu undangan. Sebagian Rezza kenal, sebagian lagi tidak terlalu mengenal. Rezza baru saja shalat Isya, terakhir ia temui Sherin sedang ganti baju dan di-make up ulang. Rezza mengganti bajunya dengan sebuah jas hitam, kemeja biru muda lengan panjang, dan celana panjang hitam. Rezza melepas jasnya lalu naik ke atas panggung outdoor itu. Ia coba menekan beberapa tuts keyboard. Sudah ready pikirnya.
"Cek.." Rezza berbicara ke mic, belum menyala penuh. Seorang soundman menanyakan.
"Mau mulai mas?"
"Eh nggak, saya mau cek aja udah nyala semua belum?" Ya Rezza memang niatnya tak mau tampil. Nanti akan ada home band yang mengiringi malam itu. Mereka semua akan after party dan ada pemotongan wedding cake sebagai bentuk apresiasi kepada para undangan. Wedding cake pun sudah berdiri tegak di ujung panggung itu, ditutup dengan sebuah kotak besar transparan agar tidak terkotori apapun.
"Udah mas, kalo mau coba silahkan." soundman tadi menyalakan beberapa switch.
"Okay mas, saya coba ya.."
"Hmm.." Rezza berdehem. Jarinya menekan beberapa tuts.. Ia sedang mellow malam itu, teringat orang tuanya. Rezza berandai-andai kalau saja orang tuanya masih ada, Rezza akan lebih bahagia lagi malam ini dalam benaknya.
Sebuah intro lagu yang mellow nan sedih dari Coldplay berjudul 'Daddy' dimainkan oleh Rezza.
Rezza terpejam menikmati suara keyboard yang ia set menyerupai suara sebuah grand piano.
(Intro)
Daddy, are you out there?
Daddy, won't you come and play?
Daddy, do you not care?
Is there nothing that you want to say?
I know
You're hurting, too
Rezza menangis di sini. Matanya masih terpejam. Orang-orang berdatangan ke halaman belakang itu. Mereka ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Rezza.
But I need you, I do