Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #50

Chapter 50

Satu minggu berlalu, Sherin sudah 'lengket' lagi dengan Rezza. Antara memang hormonnya sudah lebih stabil atau karena memang sebelum itu Sherin stress menjelang hari resepsi pernikahan mereka. Yang jelas keduanya kini benar-benar sedang bahagia.

10.25 | Mereka datang ke rumah sakit sabtu pagi, membawa mobil J5 hijau milik Sherin yang akan diantar ke rumah Simprug.

"Sejauh ini hasil USG semuanya normal, ibu ada keluhan?" Dokter obgyn memberi laporan sambil memperhatikan monitor USG.

"Hmmm gak ada sih dok, paling kadang masih agak mual dan pusing aja."

"Iya, itu normal ya bu.. Biasanya pusingnya saat apa?"

"Kalo lagi di kantor atau lagi ada kerjaan di luar kantor dok."

"Yaudah, kalau dirasa terlalu mengganggu saya resepkan obat sakit kepala yang aman untuk ibu hamil. Tapi konsumsi hanya kalau dirasa pusing mengganggu ya bu."

"Okay, makasih dok.."

"Belum ketauan ya dok, cewek atau cowok?" Rezza asbun nanya.

"Hehe belum pak, biasanya baru ketahuan kalau sudah 18 hingga 22 minggu, sekitar 4 sampai 5 bulan. Sabar ya pak.."

"Sabaarr masss.." Sherin menenangkan.

"Iyaa.. Aku sih sabar.. Papa mama yang gak sabar kan." Rezza alasan.

"Emang cucu pertama pak buk?" dokter itu tanya.

"Nggak sih dok, tapi cucu yang udah ada cewek semua. Mereka berharapnya dapet cowok."

"Yaa semoga yaa.. Tapi cowok atau cewek pasti anaknya akan lucu seperti papa mamanya."

"Hehe bisa aja dok, emang saya lucu sih." Rezza makin asbun. Sherin menepuk tangan Rezza.


Keluar dari rumah sakit, Sherin dan Rezza mampir ke sebuah toko kue milik teman kampus mereka bernama Karina. Toko itu ada di dalam jalan perumahan tak jauh dari Pasar Mayestik.

"Mas.. Aku beli 4 cukup kan?" Sherin berkata.

"Cukup lah sayangg.. Buat mama papa satu, buat kita di rumah satu, satu lagi buat Kak Vina nanti sore dikirim pake ojol, masih lebih. Lebihnya buat siapa?" Rezza tanya balik.

"Buat kita. Hehe aku laper mata mas. Maaf ya.." Sherin menggelendot di lengan Rezza.

"Haii Sherr.. Za.." Karina baru tiba, ia memang tidak janjian dengan Sherin.

"Hehh.. Ketemu akhirnya, sibuk banget sih lo." Sherin protes.

"Hehe maaf dah, gue kan sama laki gue ada beberapa toko yang dikontrol. Kalian udah disiapin kuenya?" Karina tanya.

"Belum tuh masih di-packing." Rezza jawab.

"Yaudah bentar yakkk.." Karina buru-buru masuk, ternyata ia menyiapkan satu kue varian baru dengan size sedikit lebih kecil untuk dicoba.

"Sheer.. Ini gue kasih tester ya buat varian baru. Selama ini kan kalian belinya selalu choco cheese.. Ini ada varian baru dari kita strawcheese.. Strawberry with cheese, enak banget kalian harus coba.." Karina membawakan paper bag berisi pesanan Sherin dan bonus itu.

"Wahhh.. Makasih yaa Rin. Nanti gue coba di rumah. Mau ke Simprug dulu nih ke rumah bokap nyokap." Sherin jawab, paper bag diberikan ke Rezza.

"Ah iya yaudah, salam ya buat bokap nyokap Sher.. Kalian mau langsung jalan?"

"Iya Rin, biar bisa Sherin cepet pulang nanti sore istirahat." Rezza jawab.

"Kenapa si? Posesif banget lo Za.." Karina protes.

"Yaa ini kan kehamilan pertama, ntar kalo udah hamil anak kedua, ketiga, keempat baru deh gue bodo amat.. Hahaha" Rezza tertawa puas, Karina tertawa. Sherin ngambek lucu.

"Ihh kamu mahh, jadi cuma perhatian sama anak pertama?" Sherin marah.

"Nggak lah sayangg.. Bercanda lhoo.. Mau anak kamu sepuluh juga aku pasti perhatian sama semuanya."

"Ih enak aja sepuluh, emang aku kucing.." Sherin makin ngambek.

"Yaudah ah, ngambek mulu kamu. Yuk Rin, kita jalan ya.. Thank you.." Rezza menggandeng tangan Sherin keluar dari toko kue itu.

"Iyaaa.. Hati-hati yaa gaes."

"Bye Riinn.." Sherin melambaikan tangan.


12.25 | Rezza dan Sherin sudah berada di rumah orang tua Sherin di Simprug. Mereka bincang-bincang sambil makan siang bersama di meja makan.

"Jadi mobil itu mau ditinggal di sini aja? Gak mau dijual?" Tante Rani tanya.

"Iya mah.. Sayang juga kan aku belum setahun beli, kalo dijual harganya jatoh banget keknya." Sherin jawab lesu.

"Di kantor gak ada perlu mobil buat anak-anak kantor gitu?" Om Arwin tanya.

"Enggak pah, udah ada dua mobil kantor soalnya. Jadi Hendro kasih fasilitas mobil kantor. Satu untuk K&B dan satu untuk Setara. Dua-duanya sewa ke vendor gitu. Jadi gak perlu mobil lagi." Rezza jelaskan.

"Hmm gitu, jadi papa dikasih mobil nih?" Om Arwin nanya bercanda.

"Nggak, siapa yang bilang kasih?" Sherin jawab. Rezza tertawa teringat dulu Om Arwin menawarkan pinjamkan mobilnya saat Rezza habis kecelakaan.

"Yaudah nanti papa mama pinjem ya kalo lagi pengen pake mobil itu." Tante Rani menyepakati.

"Iyaa mamahh.." Sherin jawab sumringah.


13.12 | Rezza sedang shalat dzuhur di ruang kerja Om Arwin. Sherin duduk di sebelah mamanya di ruang TV. Om Arwin duduk tak jauh dari sana.

"Mah.. Aku ngeri deh liat video-video orang ngelahirin. Sakit gak sih mah?" Sherin worried.

"Hmm.. Mama gabisa cerita sayang, tiap orang beda-beda pengalamannya. Mama cuma bisa doakan nanti kelahiran kamu lancar, bayinya sehat, kamunya juga sehat dan aman."

"Kenapa gitu mah? Dulu mama ngelahirin aku sesar apa normal? Sakit gak?" Sherin kepo.

"Dulu mama lahiran kalian semua normal nak." Tante Rani menjawab singkat sambil tersenyum.

"Ihh mama ditanya sakit apa gak. Aku takut tau mahh." Sherin tampak overthinking.

"Kalo ditanya sakit apa gak, iya sakit sayang. Tapi sakit itu akan terbayarkan dengan kebahagiaan seorang ibu melihat anak yang dikandungnya sembilan bulan lahir dengan sehat dan menangis kuat. Semuanya itu hanya bisa dirasakan sendiri, gabisa diceritain."

"Hmm.. Aku takut mahh..." Sherin memeluk mamanya.

"Tenang yaa nak.. Selama ada orang-orang yang sayang sama kamu di sekeliling kamu, di rumah sakit yang terbaik, dokter-dokter terbaik, Insya Allah semuanya baik-baik aja. Sabar ya." Tante Rani menenangkan, Sherin masih overthinking tapi mengangguk pelan.

"Kamu mau shalat dulu sayang?" Rezza keluar dari ruang kerja Om Arwin.

"Mass.." Sherin menegakkan tubuhnya.

"Iya kenapa?" Rezza mendekat lalu duduk di sebelah Sherin.

"Aku masih kangen sama mama papa.. Kita nginep di sini ya?" Sherin menatap Rezza.

"Hmm.." Rezza berpikir sejenak, ini akan jadi kali pertama dia menginap di sana. Dia juga akan menginap di kamar yang dulu pernah ditinggali Sherin dan Dhika. Sejujurnya Rezza tak nyaman.

"Kenapa mas? Kamu gamau ya?" Sherin agak kecewa.

"Mau kok sayang.. Yaudah, kita nginep di sini?"

"Iya mas.. Sampe besok aja kok." Sherin menyentuh tangan Rezza dengan lembut.

"Yaudah okay, anything for you sayang.." Rezza mengenggam tangan Sherin.

"Makasih mas.." Sherin memeluk Rezza.

"Sama-sama.." Rezza mengangguk. Om Arwin dan Tante Rani tersenyum sumringah.

"Hmm tapi aku pulang dulu ya." Rezza melepas pelukannya.

"Hah? Ngapain mas? Ambil baju? Nanti kirim ojol aja minta tolong Mbak Ani.."

"Nggak, aku mau ambil mobil sama nganter itu kan kue buat Kak Vina.." Rezza mengingatkan.

"Oh iya, yaudah pesen ojol aja mas.." Sherin mencoba menahan.

"Udah gapapa aku sekalian pulang dulu, ambil baju aku, baju kamu, sama aku mau ambil laptop juga.. Kan kamu tau aku orangnya gabisa jauh dari laptop." Rezza memang benar, selalu ada saja yang dikerjakan apalagi malam hari. Ia sering membuka laptop-nya hanya sekadar untuk membuka email, check deck/slide kerjaan, ataupun nonton YouTube dan film.

"Hmm.. Yaudah deh.. Kamu mau jalan jam berapa?" Sherin pasrah.

"Ini bentar lagi aku jalan ya.. Biar gak kesorean." Rezza jawab sambil melihat jam di tangannya.

"Yaudah, aku sholat dulu deh.." Sherin bangkit lalu menumpang shalat di kamar mamanya.

"Beneran Za mau pulang dulu? Gak pake ojol aja?" Om Arwin tanya.

"Iya beneran pah.. Aku mau ambil laptop soalnya, ngeri kan kirim laptop pake ojol.."

"Iya juga sih. Yaudah jangan lama-lama ya. Takutnya Sherin nyariin kamu." Tante Rani nasehati.

"Iya mahh.. Aku sebentar doang kok." Rezza jawab dengan tenang.

14.48 | Rezza tiba di rumahnya pakai taksi online, sebetulnya dia ingin pakai ojol aja tapi karena bawa cake dan Sherin worried kalau Rezza harus naik motor, akhirnya Rezza pulang pakai taksi online.

"Mbak Ani.." Rezza buka pintu, Mbak Ani keluar.

"Iya mas.. Udah pulang? Mbak Sherin mana?"

"Eh saya sendiri mbak, Sherin di rumah Simprug. Nanti malam kita mau nginep di sana. Ini mau ambil mobil sama bawa baju ganti.." Rezza sibuk menaruh kantung belanja berisi cake tadi.

"Oh gitu.. Jadi nanti malam gak pulang ya mas?" Mbak Ani nanya.

Lihat selengkapnya