Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #51

Chapter 51

Rezza mengantuk tapi otaknya tak berhenti bekerja keras berpikir segala hal yang sedang mengganggu ketenangannya ini. Rezza pun putuskan ke kamar mandi, mengambil wudhu, lalu menunaikan shalat sunah dua rakaat untuk meminta ampun pada Tuhan. Ia meminta pertolongan di saat-saat yang membebani pikirannya itu.

Usai shalat, Rezza memang sudah lebih tenang. Tapi rasa kantuknya masih kalah dengan ketidaknyamanannya.

23.28 | Rezza masih tersadar, matanya sayu tapi masih tak berani beranjak ke tempat tidur itu.

Rezza mencoba bersandar di sofa itu, tapi tak nyaman karena terlalu kecil sofanya. Rezza beranikan diri naik ke kasur, tepat di sebelah Sherin. Ia tidur terlentang lalu masuk ke dalam selimut kakinya. Perlahan Sherin mengubah posisi tidurnya, Sherin memeluk Rezza dalam situasi tertidur. Rezza pun bersyukur.

"Alhamdulillah.." tangan mereka bertautan, Sherin tak berontak karena sedang tertidur pulas. Rezza perlahan menemukan rasa nyamannya untuk masuk ke alam tidur. Hingga waktu subuh, Sherin terbangun lebih dulu.


"Mas.. Mas.. Bangun udah jam 5 subuh.." Sherin terduduk di sebelah Rezza. Rezza badannya panas. Sherin memegang pipinya Rezza.

"Mas.. Ya ampun mas kok badan kamu panas?? Mas..." Rezza tak juga bangun, Sherin coba mengecek detak jantung dan denyut nadinya, terasa lemah sekali.

"Ya Allah.. Mass.. Sayanggg.." Sherin panik. Ia keluar kamar. Buru-buru berjalan ke arah kamar orang tuanya.

"Pahhh.. Mahhh.." Sherin menggedor-gedor pintu. Om Arwin yang sedang shalat subuh di kamarnya kaget.

"Sherin?" Om Arwin langsung membuka pintu.

"Kenapa sayang?" Sherin menangis di sana, wajahnya layu.

"Mas.. Mas Rezza gak bangun-bangun pahh.." Sherin menunjuk ke arah atas, Tante Rani keluar dari kamar mandi kaget.

"Kenapa? Rezza pingsan?" Tante Rani panik.

"Iya mahhh.. Aku bingung gatau kenapa.." Sherin menangis begitu kuatnya.

"Yaudah papa cek ke atas ya, mah tolong call ambulance coba mah. Rumah sakit Pondok Indah aja.." Om Arwin bergegas naik ke lantai dua.

"Mbak Ria.." Om Arwin sambil memanggil-manggil ART mereka. Semua orang panik.


"Halo.. Rumah sakit Pondok Indah? Saya Rani, saya mau minta kirimkan ambulance bisa? Anak saya gak sadarkan diri.. Alamatnya di.." Tante Rani menelepon emergency call RSPI dari ponselnya. Sherin terduduk menangis terisak-isak bersandar di pintu kamar orang tuanya itu. Tenaganya tak sanggup untuk berdiri lagi.

"Sayang.. Mama udah call ambulance, kamu tenang ya.." Tante Rani menghampiri. Mbak Ria, ART mereka datang.

"Ibu ada apa?" wajahnya Mbak Ria panik.

"Rezza.. Rezza pingsan, coba kamu bantu cek di kamar Sherin di atas ya. Sama bapak, saya udah telfon ambulance." Tante Rani gelagapan berbicara.

"Iya buk, saya ke atas.." Mbak Ria buru-buru naik.

"Nak.. Sayang, tenang ya.. Mama udah call ambulance, sini mama bantu, duduk di sofa sayang."

Sherin masih terisak-isak, dadanya nyeri. Ketakutan akan kehilangan Rezza kembali dirasakan oleh Sherin, ia pun sempat merasa hampir pingsan. Tapi sekuat tenaga Sherin melawan itu semua.

"Ayo sayang, mama bantu berdiri ya." Tante Rani mengangkat Sherin sekuat-kuatnya, Sherin mencoba keluarkan tenaganya tapi terlalu lemah.

"Mahh.. Maaf.. Maafin aku mah." Sherin menangis melihat mamanya sepanik itu.

"Nggak sayang, kamu gak salah." Sherin berhasil duduk di sofa dalam kamar itu.


Di kamar Sherin, Om Arwin mengecek detak jantung Rezza. Ada tapi sangat lemah, tubuh Rezza pun seakan tak bertulang. Semua otot-ototnya lemah tak bisa menopang.

"Rezza.. Tolong papah Za.. Jangan seperti ini please." Om Arwin membuka kotak P3K yang diambilnya dari ruang tengah lantai 2 itu.

"Tolong Za.. Bertahan demi Sherin.. Bertahan demi anak kamu.." Om Arwin pun menangis di situ. Ia merasa sangat bersalah entah kenapa.

"Pak.. Gimana pak??"

"Ria.. Ibu sama Sherin gimana di bawah?"

"Ibu udah telepon ambulance katanya pak, udah di jalan."

"Yaudah, tolong kamu ambilkan air hangat dan handuk kecil ya.. Saya mau coba kompres Rezza. Badannya panas sekali ini."

"Baik pak, sebentar ya.." Mbak Ria turun lagi mengambil handuk kecil dan air panas dari dispenser. Ia memastikan panasnya tidak terlalu berlebih agar nyaman untuk disentuh kulit.


"Pak.. Ini kompresnya, saya cek ke depan ya pak, saya mau tunggu ambulance-nya sampe."

"Iya, tolong call Pak Agus ya, dia bisa ke sini sekarang gak? Bilang ini darurat."

"Baik pak, saya sambil telfon Pak Agus.."

"Iya makasih Ria.." Om Arwin bergegas menyiapkan kompres untuk Rezza.


15 menit kemudian, ambulance datang. Karena itu komplek perumahan mereka mematikan sirenenya. Mbak Ria yang menunggu di teras segera membukakan pagar dan mempersilahkan masuk. Pak Agus yang tinggal tak jauh dari sana, di daerah Ciledug, sudah otw menuju rumah itu.

"Mas.. Ada di lantai dua. Mau pake tandu dulu?"

"Oh gitu, yaudah kita pakai tandu medis aja ya.." dua petugas saling berkomunikasi. Mereka dengan sigap memisahkan brankar dengan tandunya, mereka bergegas ke lantai dua, kamar Sherin diantar Mbak Ria.


Mbak Ria turun lagi menghampir kamar Tante Rani.

"Ibu.." Mbak Ria ketuk pintu.

"Iya masuk Ria.."

"Ibu, ambulance sudah datang. Mereka pakai tandu ke kamar lantai dua."

"Oh yaudah, saya cek ke atas. Tolong temani Sherin ya Ria.." Tante Rani berdiri. Berjalan perlahan ke lantai dua dengan wajah cemas.

"Mahh.." Sherin masih lemas, ia coba melawan dirinya sendiri untuk berdiri.

"Mbak.. Mbak Sherin mau ke mana?"

"Aku.. Aku mau temani Mas Rezza mbak.." Sherin berhasil berdiri tapi masih lemah.

"Mbak.. Mbak kondisinya begini, aku khawatir mbak." Mbak Ria cemas sekali.

"Gapapa.. Aku bisa mbak.." Sherin perlahan berhasil mengumpulkan tenaganya, ia keluar dari kamar itu.

"Aku perlu call Kak Vina.. Kakaknya Mas Rezza. Handphone aku di atas. Boleh pinjam hape mbak?" Sherin berkata di depan pintu kamar.

"Ini mbak.." Mbak Ria sodorkan ponselnya. Sherin menekan angka yang untungnya dia hafal.

Terdengar nada sambung beberapa kali.

"Kakkk.." Sherin menyapa dengan nada sayu..

"Sherin? Kenapa? Ini nomor siapa?"

"Kak.. Mas Rezza pingsan di sini, tadi aku mau bangunin subuh gak sadar-sadar. Ini nomor Mbak Ria asisten di rumah ini. Rumah mama.."

"Ya Allah Rezza kenapa?"

"Aku gatau kak, badannya panas banget tadi.. Ini aku di bawah, ada petugas ambulance dari RSPI udah tiba. Mungkin akan dibawa ke rumah sakit habis ini kak."

"Ya Allah Rezza.." Kak Vina menangis.. Apa lagi ini? Kak Vina heran kenapa tak berhenti-berhentinya masalah menerpa adik sepupu tersayangnya itu.

"Yaudah.. Kakak siap-siap ke RSPI ya Sher. Kamu tolong kuat ya. Tolong temani Rezza. Kakak minta tolong sama kamu Sher." Kak Vina terdengar sesengukan.

"Oke kak.. Aku akan temani Mas Rezza.. Maaf ya kak."

"Nggak Sher.. Kamu tenang, jangan berpikir macam-macam.. Janji sama kakak, temani Rezza."

"Iya kak.. Aku janji." Sherin berucap.

"Yaudah sampe ketemu di rumah sakit Sher. Kakak berangkat sekarang."

"Iya.. Hati-hati kak.."

"Okay.." call ditutup. Sherin bertekad harus menemani Rezza. Ia mengumpulkan semua tenaganya.

"Mbak.. Ini handphone-nya.. makasih ya.."

"Sama-sama mbak.." Sherin melangkah perlahan ke lantai dua. Mbak Ria mengikutinya dari belakang. Sherin walau tubuhnya lunglai tapi ia benar-benar ingin menepati janjinya.

"Pah.. Mah.. Gimana Mas Rezza?" Sherin masuk ke kamar.

"Sudah kami cek bu, denyutnya lemah. Ini sementara kami inject dengan epinefrin, sudah dipantau denyut nadinya sudah lebih cepat dari sebelumnya. Tapi harus segera kami bawa ke rumah sakit." salah satu petugas berikan penjelasan.

"Oke mas, saya ikut temani suami saya." Sherin yakin.

"Yaudah papa temani ya.. Kamu gaboleh sendiri." Om Arwin meyakinkan, Sherin mengangguk. Tante Rani cemas akan kondisi Sherin, cemas akan kondisi kehamilannya.


Sherin menatap sayu Rezza yang terbaring di dalam ambulance. Air mata Sherin tak berhenti menetes sedari tadi. Om Arwin benar-benar cemas dengan kondisi Sherin, apalagi Sherin masih awal-awal kehamilan.

'Mas.. Maafin aku.. Aku benar-benar merasa bersalah..' Sherin mengutuk dirinya sendiri di dalam hatinya. Ia benar-benar merasakan sakit saat ini di dalam relung jiwanya karena tak bisa melawan mood-nya yang seringkali memburuk dalam menghadapi Rezza belakangan ini.

Sherin cuma berusaha sekuat hatinya saat ini, ia hanya ingin Rezza kembali. Sherin berjanji pada dirinya sendiri untuk melawan segala mood jelek terhadap Rezza jika Rezza sudah pulih.

Di IGD rumah sakit, Sherin cemas. Rezza sedang diobservasi tiga dokter sekaligus karena kondisinya dianggap darurat. Satu orang dokter jaga IGD, satu orang dokter spesialis penyakit dalam, dan satu dokter kardiovaskular/dokter jantung. Mereka bertiga meminta Sherin dan Om Arwin keluar sebentar dari IGD. Lima belas menit berlalu, Kak Vina tiba di sana sendirian.

"Sherin.. Rezza gimana?" Kak Vina datang dengan pipi berlinangan air mata.

"Kakk.. Maaf.. Aku gak tau kenapa Mas Rezza bisa begini.." Sherin tersadar dari lamunannya.

"Nggak Sher.. Kamu gak salah, tadi malam kamu sama Rezza ngapain? Kalian gak ribut-ribut kan?" Kak Vina memeluk Sherin.

"Nggak kak.. Kita gak ribut. Aku juga gak tahu belakangan ini aku mood-nya suka tiba-tiba jelek menghadapi Mas Rezza. Sepertinya Mas Rezza stress karena aku. Aku minta maaf ya kak.."

"Nggak Sher.. Belum tentu karena kamu.

Yaudah kakak coba masuk ke dalam ya.." Kak Vina melepas pelukannya, Sherin mengangguk.

"Saya ke dalam dulu ya om.." Kak Vina memandang lirih ke Om Arwin. Om Arwin mempersilahkan.

"Iya Vina.. Tolong ya bantu cek kondisi Rezza." Om Arwin pun tampak cemas sekali.

"Iya om.. Permisi." Kak Vina masuk ke dalam ruang IGD. Sherin kembali terbengong dan tak mau duduk di kursinya.


Kak Vina tampak sedang berdiskusi dengan tiga dokter itu. Kesemuanya Kak Vina kenal, karena mereka rekan sejawat. Kak Vina nampak shocked mendengar beberapa penjelasan. Rezza dalam situasi benar-benar mengkhawatirkan. Air mata Kak Vina tak terbendung lagi. Ia lemas terduduk di kursi tunggu samping bed sambil memandang wajah Rezza yang pucat.


1 jam kemudian Rezza dipindahkan ke unit ICU (Intensive Care Unit), Rezza dianggap benar-benar dalam kondisi darurat. Detak jantungnya semakin lemah, kesadarannya sama sekali tidak kembali, jika dalam satu jam belum ada kemajuan akan segera dilakukan operasi jantung. Para dokter spesialis juga sudah bersiap di sisi lain rumah sakit itu. Kak Vina mengabari Bang Syahrul dan keluarga lainnya. Sherin lemas.. Benar-benar lemas namun tetap berdiri di depan ruang tunggu ICU memandangi Rezza yang sudah diganti bajunya dengan baju rumah sakit berwarna biru agar siap untuk dilakukan operasi. Tante Rani tiba di sana tak berhenti meneteskan air mata melihat situasi ini. Sherin hanya bisa memandang Rezza dari jauh, ini yang menjadi ketakutan Sherin selama ini. Sherin benar-benar seakan dipaksa untuk kuat jika saja Rezza tidak mampu melalui ini semua, situasi gawat di pagi hari itu.

"Sayang.. Kamu duduk dulu nak. Dari tadi kamu berdiri mama khawatir." Tante Rani berkata sambil menangis. Ia takut Sherin kenapa-kenapa. Sherin hanya menggelengkan kepala lemah sambil matanya tak lepas dari Rezza. Kaca besar yang menunjukkan dari jauh situasi pasien. Keluarga tidak diperbolehkan masuk kecuali jam tertentu. Sherin benar-benar merasakan sakitnya 'dipaksa' menjauh dan hanya bisa memandangi Rezza melalui jendela itu. Kak Vina sedari tadi bolak-balik berbicara dengan para tenaga medis di ruang ICU itu untuk berdiskusi langkah apa selanjutnya yang akan dilakukan kepada Rezza.

Satu jam berlalu.. Kak Vina menghampiri Sherin dan orang tuanya, didampingi dokter spesialis jantung bernama Dokter Amril.

"Sherin.. Kita siap-siap ya.. Rezza akan dioperasi sebentar lagi." Kak Vina menatap Sherin dengan tatapan paling menyedihkan yang pernah mereka sama-sama lihat.

"Rezza kondisinya belum membaik. Satu-satunya cara kita harus lakukan tindakan sekarang, saya sebagai dokter spesialis jantung hanya bisa memberi informasi bahwa tingkat kesuksesan pada fase ini adalah.. 70%.

Saya berharap, bapak dan ibu semua bersiap akan kemungkinan terburuk." Dokter Amril mengatakan hal demikian.

"Astaghfirullahaladzim.." Sherin menangis sejadi-jadinya, dia memeluk Tante Rani dengan air mata mengucur deras. Om Arwin pun tak kuasa menahan tangis. Kak Vina membuang muka tak sanggup melihat ini semua.

"Kami segera lakukan tindakan sekarang. Bapak ibu silahkan ikuti kami dan turuti instruksi petugas di sana.." Dokter Amril memberi info. Sherin tak sanggup melihat wajah Dokter Amril. Kak Vina mendekati Sherin, mengajaknya untuk kuat dan ikuti Rezza dibawa ke ruang operasi sekitar 300 meter dari posisi mereka.

Nampak Rezza sudah mulai dipindahkan dengan brankar ICU yang penuh dengan alat-alat portabel EKG dan penunjang lainnya. Sherin melangkah dengan lemas, ia percepat langkahnya untuk bisa melihat dan menyentuh Rezza. Kak Vina merasakan ketakutan luar biasa dari diri Sherin karena ia membantu memegangi tangan Sherin yang berusaha menyentuh Rezza. Tante Rani dan Om Arwin berpegangan saling menguatkan di belakang mereka. Semua orang melihat ketika rombongan itu melintasi lorong-lorong rumah sakit menuju ruang operasi.

"Kuat ya Sherin. Kamu harus kuat." Kak Vina membisikkan kata paling menyesakkan bagi Sherin.

Tiba di ruang operasi, Sherin, Kak Vina, Tante Rani dan Om Arwin hanya bisa melihat dari monitor ruang tunggu private. Di sana mereka melihat tampak jauh, kamera wide mengarah ke bed operasi. Hanya keluarga dan tenaga medis yang ada di sana. Di dalam Dokter Amril ditemani oleh 2 orang tenaga medis lain dan satu orang dokter muda yang sedang mengambil spesialis jantung. Mereka bekerja sama untuk menangani situasi gawat yang dialami Rezza ini. Kak Vina tak berhenti berzikir. Bang Syahrul sedang di jalan, anak-anak menunggu di rumah ditemani Tante Sukma, Bu Rohmah, dan Fadli, adik Bang Syahrul. Mereka semua sudah tahu kondisi Rezza. Mereka semua membantu mendoakan Rezza dari tempat masing-masing.

Sherin permisi ke toilet, kemudian ia mencari mushola untuk berdoa. Untuk kesembuhan suaminya. Laki-laki yang paling ia cintai saat ini selain ayahnya. Kak Vina menawarkan untuk menemani tapi Sherin menolak. Ia mau sendiri katanya.


Sherin melakukan shalat sunah dua rakaat. Dengan air mata berlinang, ia sekuat mungkin berusaha fokus pada kekhusyukan shalatnya. Usai ucapkan salam dua kali, Sherin berdoa.. dengan sangat sungguh-sungguh.

"Ya Allah.. Hamba memohon kepada Engkau.. Jika hamba masih diberi kesempatan untuk meminta maaf kepada suami hamba, Mas Rezza.. Maka kembalikanlah ia kepada hamba Ya Allah. Sesungguhnya hamba masih sangat membutuhkan Mas Rezza..

Tapi jika Engkau lebih menyayangi Mas Rezza, Engkau hendak memanggilnya lebih cepat.. Ikhlaskanlah hati hamba Ya Allah.. Hamba mohon perlindungan kepada Engkau..

Hanya kepada Engkaulah, hamba memohon dan berdoa.. Karena Engkau Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui.. Amiin.." Sherin mengusap wajahnya. Air matanya masih tetap mengalir deras. Sherin merasakan tubuhnya lemas, ia tak sanggup berdiri. Ia ingin sekali berdiri. Tiba-tiba seorang wanita menghampiri Sherin, wanita itu memiliki wajah yang sangat familiar.. Wanita yang mengenakan hijab dan pakaian serba putih itu tersenyum pada Sherin, mengulurkan tangannya.. Sherin kesulitan membalas dengan senyum padahal ia sangat ingin. Begitu Sherin bisa kembali berdiri, ia melihat dengan jelas wanita itu..

Mirip sekali.. Dengan Tante Kirana.. Ibunya Rezza.. Sherin tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya..

"Masha Allah.." Sherin hanya bisa terpaku melihat wanita itu pergi, mulutnya seakan terkunci tak dapat bicara. Kakinya serasa terpaku ke tanah tak bisa melangkah, wanita itu berlalu. Menghilang di keramaian lorong rumah sakit itu.

Pagi hari jam 09.25

Setelah Sherin sadar wanita itu telah pergi, Sherin baru bisa melangkah. Ia sempat menengok ke segala penjuru dengan wajah cemas dan pipi yang basah. Ia masih mengenakan mukena warna biru yang dia pinjam di mushola itu. Sherin menyerah, ia tak menemukan clue apapun tentang wanita tadi.

"Ya Allah, siapa dia? Apa itu Tante Kirana? Mama Kirana?" Sherin terbengong, orang-orang memperhatikannya. Hampir semenit Sherin mematung, ia tersadar harus segera kembali ke ruangan operasi. Sherin buru-buru kembalikan mukenanya di musholla tadi, ia lalu berjalan cepat ke ruang operasi sambil berkali-kali mengusap air matanya.

Lihat selengkapnya