Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #52

Chapter 52

09.14 | Rumah Sakit Pondok Indah, Rezza dan Sherin sedang bertemu Dokter Amril yang kemarin membantu operasi Rezza.

"Ada mual atau pusing Mas Rezza?" Dokter Amril tanya.

"Nggak ada dok. Aman. Cuma badan saya rasanya masih lemas sekali.."

"Iya itu wajar, pasca operasi butuh pemulihan. Yaudah saran saya jangan aktivitas berat dulu ya. Obatnya dihabiskan, hari rabu atau kamis kontrol lagi ya Rezza. Kalau ada dirasa urgent, sakit kepala hebat, atau nyeri di dada, atau rasa sakit di area lain yang teramat sakit, segera ke rumah sakit.." Dokter Amril hendak menyudahi.

"Baik dok. Terima kasih ya.." Sherin menerima kertas resep dari Dokter Amril.

"Kita tebus obatnya abis itu aku antar pulang ya mas." Sherin menggandeng Rezza di lorong RS.

"Kita ke kantor aja ya sayang, aku di rumah juga ngapain?"

"Ihh kamu mah.. Kamu harus istirahat. Anak kantor juga ngerti, Bang Hendro juga paham."

"Aku bosen juga di rumah ngapain??" Rezza merengek seperti bocah.

"Mas.. Kamu sayang gak sih sama aku? Sayang gak sama anak kita?" Sherin menghadap.

"Sayang lah.. Masa pake ditanya." Rezza jawab.

"Yaudah istirahat ya. Aku gamau kamu gak sembuh-sembuh. Nurut kali ini aja sama aku."

"Hmm. Yaudah. Maaf ya.." Rezza pasrah. Ia melihat wajah Sherin benar-benar serius.

"Gitu dong.. Udah kamu tenang aja di rumah, aku gak lama-lama kok abis meeting juga pulang."

"Iya sayang.. Senyum dong.. Aku takut liat kamu marah.."

"Nggak aku gak marah.." Sherin masih jutek.

"Itu kamu jutek gitu.."

"Nggak.. Apaan sih ah udah ah." Sherin makin sebel.


10.22 | Mereka tiba di rumah, Sherin menyetir tadi pakai mobil barunya bZ4X Touring.

"Udah sampe mas.. Kita turun dulu, aku siapin obat-obat kamu, terus aku jalan ya.."

"Iya sayang.." mereka hendak turun dari mobil, Tyas menunggu di ruang tamu lalu menghampiri.

"Pagi bang.. Pagi mbak.." Tyas bukakan pintu untuk Rezza.

"Pagi Tyas.." mereka jawab kompak.

"Kamu lama nunggunya?" Sherin tanya.

"Nggak kok mbak, tadi Mbak Sherin chat aku, baru aku jalan ke sini."

"Yaudah, nanti tolong setirin Sherin ya Tyas.. Saya di rumah." Rezza titip pesan.

"Siap Bang Rezza.. Tenang aja, selamat istirahat bang."

"Iya makasih ya.." Rezza kembali digandeng Sherin ke dalam.

"Udah kamu istirahat ya mas.." Sherin menuntun Rezza duduk di sofa depan TV.

"Iya sayang.. Makasihh.." Rezza tersenyum.

"Mbak Anii.. Ini aku minta tolong ya. Nanti ini obatnya Mas Rezza ditaruh di wadah. Nanti jam 1 minum yang ini habis makan siang. Aku nanti pesenin makan siang pake ojol biar gausah masak ya mbak.." Sherin menghampiri dapur. Rezza memperhatikan Sherin, wajahnya nampak lelah tapi tetap cantik dan segar di mata Rezza.

"Mbakk.. Tadi ada makanan dikirimin sama Kak Vina sama Bu Rani juga.."

"Hah? Kirim apa?" Sherin kaget.

"Iya ini ada lauk, rendang, sop, sama nasi putih dari Kak Vina. Dari Bu Rani ada ayam kremes, tahu tempe, sama sayur asem mbak."

"Yaampunn.. Yaudah nanti aku call mama dan Kak Vina deh. Makasih ya mbak.. Nanti tolong ingetin Mas Rezza buat makan siang terus siapin obatnya. Aku pergi dulu sama Tyas ada meeting. Makasih ya Mbak Ani.."

"Iyaa Mbak Sherin.. Tenang aja." Mbak Ani jawab serius.

"Okay.. Yuk Tyas. Ini tas laptop aku udah disiapin dari tadi pagi." Sherin balik badan, Rezza memperhatikannya.

"Oke mbak, kunci mobil di mana?" Tyas tanya.

"Eh aku aja yang nyetir deh.." Sherin gemas.

"Sayangg.. Udah Tyas aja yang nyetir." Rezza langsung protes..

"Ihh mass.. Kan itu mobil aku. Kamu pelit banget sihh." Rezza tak tega.

"Yaudah-yaudah, tapi kalo capek tukeran ya sama Tyas. Jangan maksain. Nanti aku aja yang call mama sama Kak Vina." Rezza perhatian.

"Okay masku sayang.. Yaudah aku jalan dulu yaa.." Sherin menghampiri Rezza, peluk cium sejenak. Mbak Ani dan Tyas pun salting melihat itu.

"Iyaa.. Jangan sore-sore ya pulangnya." Rezza membelai rambut Sherin dengan lembut.

"Siaap papaa.." Sherin mencium tangan kanan Rezza.

"Hati-hati.. Nyetirnya jangan ngebut-ngebut, fokus." Rezza masih menyerocos.

"Okay mass.. Wasalamualaikum." Sherin bangkit dari sofa.

"Waalaikumsalam.. Titip ya Tyas. Jagain Sherin."

"Siap bang. Jalan dulu yaa.." Tyas gestur hormat. Sherin dan Rezza saling lempar senyum.

"Bye mas.. Mbak Ani titip Mas Rezza ya jangan dikasih pergi-pergi."

"Iyaaa mbak.. Siapp." Mbak Ani gamau kalah gestur hormat. Rezza geleng-geleng tersenyum.


Tiba di Fatmawati, ternyata Sherin bertemu.. Ambar.

"Halo Sherr.. Apa kabar?" Ambar menghampiri di resepsionis lantai 7 gedung itu.

"Hai Ambar.. Aku lagi kurang baik nih, kamu gimana?" Sherin mencipika cipiki Ambar.

"Hah? Kurang baik kenapa Sher? Aku sehat Alhamdulillah." Ambar heran.

"Hmmm.. Kemarin Mas Rezza habis masuk rumah sakit, jadi aku lumayan draining sekarang."

"Oalahhh.. Tau gitu aku reschedule aja meeting-nya."

"Eh gausah gapapa, aku masih sanggup kok." Sherin jawab cepat.

"Terus sakit apa Rezza? Kondisinya gimana?" Ambar kepo.

"Hmm dia di rumah sekarang.. Kondisinya lagi masih lemas."

"Yaampun. Semoga cepet pulih ya.." mereka sambil jalan ke ruang meeting.

"Amiinn.. Makasih ya Mbar."

"Btw, kalo aku mau jenguk Rezza boleh?"

"Hah? Ya boleh dong Ambar." Sherin berusaha ramah.

"Yaudah nanti kalo kamu pulang aku ikut ya, aku mau jenguk."

"Okay Mbar.. Boleh kok."

Mereka pun masuk ke ruangan meeting lantai 7 sebuah gedung perkantoran di Fatmawati itu.

Sherin ditemani beberapa orang dari Setara, ada Sari, Rahma, dan Fani yang merupakan staf Setara. Clarissa tak bisa ikut karena harus menemani shooting dengan KOL siang itu.

Satu jam berlalu..

"Okay kalo gitu, all good dari aku. Nanti misal ada yang mau diomongin contact me lewat email atau japri di chat ya." Ambar menutup pertemuan.

"Okay Kak Ambar. Makasih.." semua merespons Ambar.

"Yaudah kalo gitu kami permisi ya.." Sherin bangkit dari duduknya, ia ingin segera menyudahi pertemuan itu dan pulang ke rumah menemui suaminya.

Sherin dan Ambar turun dari lantai 7 menggunakan lift. Mereka bersama dengan Tyas, Sari, Rahma, dan Fani. Di lobi lantai 1 mereka berpisah.

"Aku tunggu di deket pintu keluar ya Sher.. Aku parkir di situ tuh." Ambar menunjuk mobilnya yang tak jauh dari lobi.

"Oh yaudah, nanti aku share loc biar kamu gak nyasar ya takut kepisah di jalan." Sherin inisiatif.

"Okay Sher.. Makasih ya."

"Aku yang makasih ya Ambar.." mereka saling melempar senyum sambil berpisah ke arah mobil masing-masing.. Ternyata Ambar sudah menyiapkan sebuah bingkisan berupa parcel buah, ia pesan saat sebelum meeting tadi dan sudah tiba di lobi lalu diantar ke mobil oleh OB tadi saat meeting. Sherin dan Tyas menjalankan mobilnya. Tyas memutuskan ikut ke rumah dulu baru nanti akan lanjut ke kantor karena pesan dari Rezza.

Sherin duduk di kursi penumpang kiri depan mobil itu. Ambar mengikutinya dari belakang menggunakan mobil HRV Hybrid warna merah.

"Tyas, kalo mau ke kantor dulu drop-in kamu juga gapapa kok. Nanti kamu jadi bolak balik."

"Gapapa mbak.. Aku kan udah janji sama Mas Rezza nemenin mbak sampe rumah lagi."

"Hmm yaudah.. Makasih ya Tyas. Kalo buru-buru mau berubah pikiran ke kantor dulu gapapa."

Lihat selengkapnya