Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #53

Chapter 53

Dua minggu berlalu. Sherin diam-diam menemui psikolog rekomendasi dari Yanti. Ia datang ke klinik psikolog itu di hari selasa ditemani oleh Tyas. Tyas sudah di-briefing oleh Sherin untuk tidak cerita kepada Rezza dengan alasan tak mau Rezza kepikiran, meskipun Sherin sempat meminta izin ke Rezza sebelum kejadian Rezza masuk rumah sakit sebelumnya. Sherin sadar ia harus lebih menjaga hati dan pikiran Rezza yang bisa menjadi pemicu memburuknya kesehatan Rezza. Sherin benar-benar belajar dari pengalaman hidupnya. Tyas pun pasrah menuruti permintaan Sherin.

15.43 | Klinik psikolog Alia Namira M.Psi. di daerah Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Sherin bilang ke Rezza kalau dia sedang ada meeting dengan klien. Ia ke sana disupiri oleh Tyas. Tyas ikut turun dari mobil hendak menunggu di dalam.

"Tyas.. Mbak masuk dulu ya. Kamu kalo mau keluar beli minum atau apa silahkan, tapi chat aja takut aku udah selesai nyariin kamu."

"Iya mbak, tenang aja aku gak ke mana-mana kok. Aman mbak.." Tyas menenangkan.

"Yaudah, tunggu ya. Semoga mbak gak lama."

"Okay mbak, semoga lancar ya." Tyas nampak cemas. Sherin mengangguk.

"Makasih Tyas.." Sherin masuk ke ruangan. Di sana Sherin menceritakan semua persoalan yang menumpuk di benaknya. Psikolog itu pun mendengarkan tanpa menyela sedikitpun, ia hanya mengingatkan 'apa masih ada hal detil lainnya?' setiap kali Sherin berhenti sejenak. Di dalam ruangan itu sangat nyaman. AC di-set pada suhu 20 derajat, sofa empuk yang bisa di-reclining, minuman apapun bisa dipesan. Sherin memilih minum camomile tea less sugar agar pikirannya lebih tenang. Sofa sedikit direbahkan dan Sherin bercerita dengan sangat nyaman. Sherin bercerita soal ketakutannya akan Rezza yang bisa sewaktu-waktu pergi, sampai pada pertemuannya dengan sosok menyerupai Mama Kirana, Ibu dari Rezza.

Psikolog Alia tetap memasang wajah ramah dan senyum meski banyak hal yang coba ia simpulkan dari pembicaraan Sherin yang tak terasa sampai 1 jam lebih.

"Itu aja sih kak.. Aku cuma bercerita apa yang saat ini mengganggu pikiran aku.." Sherin menyudahi ceritanya. Sebetulnya cukup panjang, tapi ia memang sudah booking 2 jam bertemu psikolog itu. Tak terasa waktu sudah 17.12 sore. Sherin pun bilang bahwa dia sudah lebih lega dan tak mau mendengar hasilnya sekarang. Ia minta dianalisa lebih dalam lalu dikirimkan melalui email. Sherin ingin segera pulang takut Rezza khawatir. Ia juga belum mengecek ponselnya sedari tadi.

"Yaudah kalo gitu, aku izin stop recording suara ini ya.." Psikolog Alia menghentikan sebuah alat audio recorder di meja kecil di antara mereka. Sherin mengangguk.

"Nanti hasilnya, aku kirim email. Tapi sebelum aku email, biasanya aku chat dulu ya. Supaya Kak Sherin bisa siap menyesuaikan dengan waktunya. Aku gak mau Kak Sherin membaca laporan itu sambil tergesa-gesa, sambil melakukan hal lain. Harus fokus soalnya."

"Okay kak.. Aku paham kok." Sherin menegakkan sandaran sofanya.

"Yaudah kalo gitu, ada yang mau ditanya sebelum kita sudahi?"

"Sudah cukup kak.. Aku worried takut suami aku nyariin. Udah jam segini."

"Ya sudah kalau gitu, mari aku antar ke depan ya." mereka pun berdiri. Tyas duduk di depan ruangan sambil membuka laptop-nya.

"Tyas.. Udah nih."

"Eh udah ya mbak?"

"Iya.. Aku mau nyetir ya. Aku butuh take control something. Tenang aja aku fine kok.." Sherin jelaskan.

"Beneran mbak gapapa? Kak ini Mbak Sherin gapapa?" Tyas tanya ke psikolog itu.

"Iya gapapa kok, aman.. Silahkan kalau menyetir bisa membuat hati Kak Sherin sedikit lebih terpuaskan gapapa banget. Yang penting stay focused. Jangan terbawa emosi di jalan."

"Yaudah kalo gitu, ayo mbak kita pulang.." Tyas bereskan barang-barangnya.

"Aku permisi ya Kak Alia.." Sherin pamit. Tyas mengikuti.

"Iya hati-hati ya kalian.." Psikolog Alia mempersilahkan.

Di jalan Sherin merasakan hatinya sedikit lebih lega, Tyas sepanjang jalan memperhatikan kondisi jalan. Dia tenang melihat Sherin masih tetap fokus mengendarai mobil.


18.07 | Sherin tiba di rumah, Rezza menunggu di ruang tamu setelah baru saja shalat Maghrib.

"Hai sayang." Rezza menghampiri.

"Hai mas.. Maaf ya aku nyetir tadi, lagi pengen hehe." Sherin say sorry, Rezza pengertian.

"Yaudah gapapa. Tadi lancar meeting-nya?" Rezza kepo.

"All good mas.. Aman kok.." Sherin berbohong, Tyas agak kikuk lalu hendak pamit.

"Kalo gitu aku tunggu di teras aja ya, ini ojolnya udah dapet dikit lagi sampe." Tyas pamit.

"Hah? Gak masuk dulu Tyas?" Rezza menawarkan.

"Eh gausah bang.. Aman kok, aku mau cepet-cepet sampe kosan. Gerah mau mandi hehe"

"Ohh yaudah, kita masuk ya.. Makasih Tyas.. Hati-hati di jalan." Rezza persilahkan.

"Iya bang.. Pamit yaa mbak.." Tyas menutup pintu depan rumah itu. Rezza dan Sherin mengangguk senyum lalu masuk ke dalam.


Tiga hari berlalu.. Jumat pukul 08.48

Rezza dan Sherin berangkat ke kantor bersama. Tyas sudah tiba di kantor lebih dulu, Rezza menggandeng Sherin mesra ke ruangan Sherin di lantai 2.

"Sayang, aku abis ini langsung ke lantai 3 ya. Jam 9 ada meeting soalnya."

"Okay mass.. Aku nanti siang beliin kamu lunch ya.. Makan di ruangan aku atau di ruangan kamu aja." Sherin paham Rezza akan shalat Jumat jadi akan berpisah siangnya.

"Oh gitu. Kamu mau beli apa?" Rezza kepo.

"Aku lagi pengen nasi goreng Chinese food deh, kamu mau gak?"

"Hmmm.. Kalo ada bakminya aku mie aja ya.. Lagi gak pengen makan nasi hehe"

"Okayy mas.. Nanti aku pesenin kamu bakmie Chinese food ya.."

"Iya.. Makasih ya, aku langsung ke atas boleh?" Rezza bukakan pintu untuk Sherin. Tyas menyapa.

"Pagi Mbak Sherin, Bang Rezza."

Lihat selengkapnya