Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #54

Chapter 54

Seminggu berlalu. Sherin mulai menemukan caranya 'kembali nyaman' dengan Rezza. Mereka saling menghargai kesibukan masing-masing. Sherin juga sudah memasuki bulan ke-tiga kehamilannya. Semua baik-baik saja, setiap minggunya menjadi sebuah hal rutin ketika ke dokter obgyn di rumah sakit langganan mereka. Sherin memutuskan untuk tidak melanjutkan konseling ke psikolog. Ia akui memang selama ini terlalu banyak memendam sendiri perasaan-perasaan yang berkecamuk di pikiran. Sherin juga jadi lebih sering berkomunikasi dengan sahabat-sahabatnya, terutama Yanti, Hera, dan juga Widya.

"Masku sayangg.. Kita habis ini mau ke mana?" mereka bergandengan tangan selesai menemui dokter kandungan, waktu menunjukkan pukul 10.42.

"Hmm aku gak ada urusan apa-apa, terserah kamu mau ke mana." Rezza menjawab.

"Nonton yuk mas ke bioskop, lagi banyak film bagus tau.. Aku jadi kepikiran nanti kalo anak kita udah lahir pasti susah nyari waktu untuk nonton ke bioskop. Kasian kan kalo kita tinggal.."

"Iya juga ya.. Yaudah boleh, mau ke bioskop mana?" Rezza tanya.

"Kamu mau di mall atau yang bukan mall? Aku mau nyamannya kamu aja mas.."

"Hmm yang deket rumah aja biar kalo kamu capek, bisa langsung pulang." Rezza jawab.

"Okay, Penvil gimana?"

"Boleh.. Yuk jalan sekarang biar gak kesorean!" Rezza menyetujui.

"Yuk mas.." mereka pun segera ke mobil lalu lanjut ke The Park Pejaten, dulunya Pejaten Village.

Mereka menghabiskan waktu sabtu siang itu dengan cinema date. Membeli tiket melalui ticket counter, memesan beberapa camilan termasuk popcorn dan menu side dish yang akan diambil setelah mendekati pintu teater dibuka pukul 12.45.

Waktu masih 11.30, masih ada waktu untuk makan dan shalat Dzuhur.

"Enak mas??" Sherin dan Rezza makan di foodcourt lantai 3 mall tersebut, satu lantai dengan bioskop karena mereka benar-benar tak mau berkeliling terlalu jauh di sana.

"Enak banget ini ricebowl-nya. Kamu mau cobain?" Rezza memesan menu ayam lada hitam.

"Nggak mas, gatau kenapa aku lagi gak suka menu lada hitam."

"Oalahh.. Yaudah besok-besok aku gak pesen dulu ya." Rezza perhatian. Sherin mengangguk.

"Makasih mas, kamu perhatian banget sih!" Sherin manja.

"Enggak, aku aja gatau kamu lagi gak suka lada hitam. Maaf ya aku gak seperhatian itu."

"Ih nggak mas.. Kan emang aku baru bilang.. Aku yang salah." Sherin menatap dalam-dalam.

"Okay, kalo ada apa-apa cerita ya.." Rezza memegang tangan Sherin.

"Iya mas.." Sherin mengangguk..

"Yaudah sini aku suapin mau?" Rezza menyuapkan seporsi double chicken steak with fries and barbeque sauce yang dipesan Sherin.

"Mauuukk.." Sherin makin manja, Rezza happy sekali kelihatannya.


Tak terasa mereka sudah selesai menonton sebuah film. Waktu sudah pukul 15.12

"Sayangg.. Mau langsung pulang apa ke mana lagi?"

"Hmm.. Langsung pulang aja ya mas.. Aku gak capek sih cuma ngantuk, aku gamau nanti ketiduran di mobil terus kamu gendong.." Sherin jelaskan panjang lebar.

"Ih gapapa kan udah kewajiban aku.." Rezza protes.

"Nggak mass.. Udah pulang aja ya, aku ngantuuuk.." Sherin menyandarkan kepalanya ke bahu Rezza.

"Yaudah, mau aku gendong sekarang?" Rezza iseng.

"ENGGAKKK.. Malu ah mas, udah tua gendong-gendongan." Sherin menolak dengan gemas.

"Yaudah sini tangannya, aku pegang erat-erat.." Rezza memasukkan jari tangannya ke jari tangan Sherin, tadinya Sherin hanya menggandeng tangan Rezza. Sherin pun tersenyum lega, Rezza merasakannya. Sherin sudah benar-benar kembali nyaman. Mereka lalu berjalan ke mobil.

Tahu kah kamu kenapa Sherin dan Rezza begitu dekat bahkan ketika masih sahabatan di kuliah? Mereka memiliki tinggi yang berbeda 8 centimeter. Rezza 175cm, Sherin 167cm. Perbedaan tinggi itu justru membuat Sherin sangat nyaman bersandar, menggelendot, atau pegangan tangan dengan Rezza. Proporsi tubuh keduanya membuat seakan mereka terlahir dan diciptakan Tuhan untuk satu sama lain. Sherin merasakan dan sadar betul, sejak kuliah hanya tubuh Rezza yang paling pas untuk ia bergandengan, menyandarkan kepala saat duduk ataupun saat berjalan. Sherin menyadari ketika ia pernah berpacaran dengan cowok-cowok lain terasa tak ada yang sepresisi dengan tubuh Rezza ketika mereka bertaut. Kenyamanan ini juga yang menjadi faktor Sherin jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dengan Rezza. Bukan karena harta, mobil, kepiawaian memainkan olahraga permainan, atau juga bukan karena tampang yang ganteng maksimal. Tapi karena satu kata: nyaman.

Rezza pun merasakan hal yang sama. Semenjak dirinya pernah sedekat itu dengan Sherin, selain memang dia jatuh cinta dengan fisik dan personality Sherin, ia juga hanya merasa nyaman ketika bergandengan tangan, disandari, dan digelendoti oleh Sherin. Ia pernah melakukan itu dengan wanita lain termasuk mantannya, Naila ataupun dengan dua wanita yang pernah dekat tapi tak pernah sampai ada status: Anita dan Anya. Rezza tidak menemukan kenyamanan yang sama ketika ia dekat dengan Anita dan Anya, bahkan ketika beberapa waktu lalu Rezza menggandeng Janice di festival musik di kampus UI Depok, Rezza juga tidak benar-benar merasakan kenyamanan yang sama. Sesimpel karena fisik dan proporsi mereka tidak sama dengan Sherin. Hanya Sherin yang membuat Rezza nyaman. Mereka berdua saling nyaman.

Kenyamanan inilah yang membuat sekarang mereka kembali hangat. Posisi saling bertaut, dengan proporsi tubuh yang saling melengkapi seperti potongan puzzle yang dipertemukan dengan potongan lainnya yang bersebelahan. Mereka benar-benar bisa merasakan cinta dan kenyamanan hanya dengan bergandengan, saling bertaut.

Sherin dan Rezza pun berjalan pulang menuju rumahnya yang berjarak hanya 5 menit dari mall itu.


16.24 | Rezza dan Sherin sedang duduk santai di sofa depan TV. Sherin menjatuhkan tubuhnya bersandar ke tubuh Rezza. Rezza merangkul dengan sesekali mengelus lembut pundak Sherin.

Bell berbunyi.. Rezza hendak bangun, Sherin nampak tak mau terlepas dari Rezza.

"Biar saya aja yang bukain.." Mbak Ani berlari dari belakang ke arah pintu depan.

"Oh iya makasih ya Mbak Ani.." Rezza berkata. Sherin tak bergeming.

"Assalamualaikum.." Kak Vina, Bang Syahrul, Arshad, Alsya, lalu ada juga Om Syafri dan Zahra datang.

"Waalaikumsalam.. Eh kok ada Om Syafri?" Rezza kaget, Sherin menegakkan tubuhnya.

"Halo Rezza.. Lagi sibuk kalian?" Om Syafri mendekat, Rezza hendak cium tangan.

"Enggak om.. Lagi santai nih tadi siang habis kontrol kandungan Sherin." Rezza cium tangan.

"Oh gitu.. Kami mampir ya mau silaturahmi." Zahra menyaut.

"Eh iyaa silahkan.. Duduk-duduk.. Om, Zahra, Kak, Bang.." Rezza persilahkan, Sherin cium tangan Om Syafri lalu mencipika cipiki Kak Vina.

"Makasih.. Ini ada oleh-oleh dari Medan Bang Rezza.. Kak Sherin.."

"Yaampun? Apa nih??" Rezza menerima seplastik besar berwarna merah.

"Ada Duren Ucok, Bolu Meranti, sama Bika Zulaikha Bang.." Zahra menjawab.

"Ih aku mau dureenn.." Sherin excited.

"Yaampun repot-repot Zahra.. Ini kesukaan aku semua..." Rezza jawab.

"Kesukaan aku juga mass.." Sherin tak ragu keluarkan sisi manjanya di depan keluarga Rezza.

"Eh wait, emang boleh hamil makan duren?" Rezza tanya ke Kak Vina dan Zahra.

"Boleh tapi jangan banyak-banyak yaa.. Nanti dedek bayinya mabok duren kasian." Kak Vina jawab lucu, semua tertawa.

"Eh Zahra sendirian ke Jakarta?"

"Ada suamiku, tapi dia lagi ke Bogor ketemu keluarganya. Aku tadi jalan-jalan sama papa kangen udah lama gak jalan bareng papa.. Terus mampir ke rumah Kak Vina." Zahra jawab.

"Oalahh yaudah duduk-duduk.. Mbak Aniii. Minta tolong buatin minum yaa. Makasi." Rezza berjalan ke arah dapur. Sherin mengintili.

"Om, kak, bang, Zahra, kita belum beli apa-apa nih cuma ada mpek-mpek langganan kita nih tadi beli pas Kak Vina bilang mau ke sini. Nanti aku order makanan lagi deh ya.." Rezza ngide.

"Eh gausah repot-repot Za.." Om Syafri jawab.

"Nggak repot lah om.. Kan jarang-jarang om ke sini.." Rezza jawab.

"Iya, om sama Zahra lagi mau apa? Kami pesenin nanti.." Sherin tanya.

"Apa aja Kak Sherinn.. Aku gamau ngerepotin kalian hehe" Zahra jawab.

"Yaudahh nanti kita makan malem bareng di luar aja gimana? Ada resto enak banget deket sini.. Mau kan mas?" Sherin ngide.

"Hah? Di mana sayang?" Rezza bingung.

"Itu lho mas yang kita waktu itu makan, apa namanya JKT Garden Resto?"

"Ohh iyaiya, semoga gak terlalu rame ya.." Rezza berharap.

"Iya mass. Yaudah nanti malam kita makan di sana ya Om Syafri, ini sementara cemil-cemil mpek-mpek dulu aja yaa.." Sherin menjelaskan.

"Iya boleh Sherin.. Yang penting gak merepotkan kalian." Om Syafri sangat paham.

"Aman kok om.." Rezza jawab, sambil menyiapkan beberapa potong buah duren untuk Sherin dan dirinya. Sherin menyiapkan beberapa piring kecil mpek-mpek untuk semua tamunya. Mbak Ani datang membawakan teh hangat.

"Mbak, nanti siapin air putih di teko sama gelasnya ya, ditaruh di meja depan TV. Takut pada kepedesan makan mpek-mpeknya nih hehe" Sherin minta tolong.

"Oke siap mbakk.." Mbak Ani gercep.

"Hmm enak bangett durennyaa.. Emang duren ucok the best yaa.." Sherin happy sekali, semua orang tersenyum.

"Hehe, kalo besok-besok ngidam kabarin aja kak, bang.. Nanti aku jastipin dari Medan."

"Ah bolehh bangett Ra.." Sherin setuju.

"Aku sih sukanya ini nihh.. Bika Zulaikha, abis dipanasin pake microwave atau dikukuss behh mantep bangett.. Emang Medan tuh surganya makanan enak yaa." Rezza ekspresif.

"Gak ada yang nanya mas." Sherin meledek. Semua tertawa.

"Ihh kamu mah jahatt.." Rezza sebel.

"Hehe bercanda sayangkuu.." Sherin menarik lengan Rezza.

"Nanti habis sholat Maghrib ya kita jalan ke resto. Biar gak kemaleman.." Kak Vina ngide.

"Iya boleh kak.. Kita Maghrib di sini dulu. Nanti Isya di sana ada musholla sihh.." Rezza jawab.

"Okay Za.." Kak Vina, Bang Syahrul, dan Om Syafri setuju.


19.08 | Rezza dan Sherin turun dari mobil bZ4X Touring hadiah Rezza untuk Sherin.

Om Syafri dan Zahra ikut di mobil itu.

"Ini tempatnya.. Bagus deh ada halaman belakangnya luas.." Rezza banggakan diri.

"Eh iya lucu bang tempatnya."

"Mau di outdoor apa di ruangan AC?" Sherin tanya.

"Hmm di belakang aja kali ya, halaman belakang.." Zahra mengintip sejenak, sepertinya belum terlalu ramai.

"Okehh.. Tuh Kak Vina udah turun.." Rezza melihat Kak Vina dan keluarga kecilnya berjalan mendekat.

"Yuk masuk.." Sherin menggandeng Rezza. Mereka berjalan menuju meja outdoor di halaman belakang. Cuaca sedang bagus, angin berhembus tak terlalu kencang ditambah beberapa kipas outdoor membuat suasana sejuk.

Rezza persilahkan Om Syafri duduk terlebih dulu, kemudian menarik kursi untuk Sherin dan Zahra.

"Makasih Bang Rezza. Eh iya ini suamiku udah otw dari bogor. Aku shareloc ya ke dia. Nanti kita pulang ke rumah papa.." Zahra bercerita.

"Oh gitu, sampe kapan Ra?" Sherin tanya.

"Suamiku cuti hari senin sih kak. Nanti hari senin sore kita flight jam 16.25 dari Soetta."

"Wah sore ya, sampe Medan malem banget dong. Kan bandaranya jauh.." Rezza paham.

"Emang kamu tau Medan mas? Pernah ke sana?" Sherin tanya.

"Pernah, dulu sebelum jadian sama kamu. Sekitar 2016 aku ke sana ada kerjaan."

"Oh gitu.. Kirain ngapelin cewek." Sherin wajahnya cemburu.

"Ih cemburuan banget sihh.. Kalopun aku pernah punya pacar di sana pasti udah aku ceritain kali sayang." Rezza meledek.

"Hmmm.." Sherin hanya berdehem sebal. Semua tersenyum gemas.


Mereka semua pesan makanan masing-masing, karena Zahra tahu suaminya, Rahman sudah di jalan jadi dipesankan makanan juga.

"Hmm bagus ya langitnya.." Sherin menatap ke atas. Rezza jadi ikut menatap ke atas, kemudian Rezza sadar ada sebuah meja berisi pria-pria yang sepertinya usia dua puluhan menjelang tiga puluhan seperti melirik-lirik ke arah Sherin dan seperti memperbincangkan. Ya memang Sherin malam itu cantik sekali. Menggunakan long dress warna coklat tua setinggi lutut, dengan mengekspose betisnya yang makin berisi dan menggemaskan, setidaknya bagi Rezza. Wajah Sherin juga nampak berbinar, sebagian orang menduga Sherin sedang hamil anak perempuan karena kehamilannya justru membuatnya terlihat tambah cantik, pipinya merona padahal tanpa pakai shade. Rezza merasa tak nyaman akan itu. Tiba-tiba Rezza nekat menghampiri pria-pria itu.

"Halo.. Maaf saya mau tanya, ada apa ya dari tadi melihat-lihat ke arah istri saya?" Rezza bicara cukup lantang. Sherin melihat Rezza menghampiri meja itu dan mendengar pembicaraannya langsung berdiri dan menghampiri.

"Enggak mas, gak ada yang ngelirik-lirik kok." satu orang menjawab.

"Mas.. Kenapa? Udah-udah.." Sherin menghampiri.

"Saya gak suka ya istri saya dilihat-lihat seperti itu. Kalau mau ngobrol, ngomong aja.." Rezza agak menyolot, Sherin cemas sekali. Kak Vina pun menyuruh Bang Syahrul untuk mendekat.

"Yaelah santai aja kali mas, ini ruang publik. Salah sendiri istrinya pake baju kebuka gitu." satu orang lainnya merasa emosional terpancing nyolotnya Rezza. Sherin kaget ada yang berani berkomentar seperti itu tentang penampilannya.

"Maksudnya apa ngomong gitu? Ruang publik bukan berarti seenaknya ngelirik-lirik ya.." Rezza seperti mau mendekat, Bang Syahrul menahan.

"Za.. Udah Za.. Sabar-sabar.." Bang Syahrul pasang badan menahan Rezza yang makin emosi.

"Mas.. Udah mas yuk duduk yuk. Aku gak suka liatnya." Sherin berkata jujur. Sherin memang tak suka dengan laki-laki yang sok jagoan dari dulu. Dan Sherin pun kaget kenapa Rezza bisa seperti ini.

"Awas lo lirik-lirik istri gue lagi!" Rezza bernada mengancam. Sherin benar-benar tak paham. Bang Syahrul menarik tubuh Rezza ke arah meja mereka.

"Za.. Jangan kek gitu, gaenak diliat orang-orang. Kak Vina menenangkan."

"Aku gak suka kak, aku liat sendiri tadi mereka semua nengok ke arah Sherin dan ngoceh-ngoceh entah apa. Aku gak nyaman liatnya." Rezza bergetar suaranya, ia benar-benar hanya ingin membela harga diri istrinya.

"Mas.. udah ya.. Sabar.. Aku gapapa kok.." Sherin mengusap dada Rezza lalu menariknya duduk di kursi tadi. Om Syafri dan Zahra pun speechless melihat ini semua.

"Om Rezza kenapa?" Alsya mendekat, lalu memegang tangan kanan Rezza.

"Gapapa kakk.. Kakak Alsya mau duduk di sini deket om?" Rezza lebih tenang, meski sesekali matanya mengarah ke meja cowok-cowok tadi.

"Iya om.. Aku mau minta disuapin.." Alsya sepertinya paham ingin meredam emosi Rezza.

"Yaudah kamu sini ya.." Rezza menarik kursi kosong dari meja yang tak berpenghuni di dekat mereka. Alsya pun duduk di kursi itu, di atara Sherin dan Rezza. Sherin terpikir di dalam hatinya, ia jadi merasa bersalah malam itu memakai pakaian yang memancing cowok-cowok lain melihat ke arahnya. Sherin di satu sisi merasa bersalah, tapi di sisi lain dia tak paham dengan Rezza.


Suasana sudah lebih nyaman, mereka semua menikmati makanan sambil berbincang hangat. Sherin juga coba melupakan kejadian tadi, Rezza masih sibuk menyuapi Alsya yang manja. Tak lama Rahman, suami dari Zahra tiba.

"Assalamualaikum.."

"Waalaikumsalam.." semua menjawab.

"Halo Rahman.. Apa kabar?" Rezza berdiri lalu mendekat untuk bro hug.

"Kabar baik Bang Rezza. Kalian gimana kabarnya?"

"Sini-sini duduk bang.." Zahra persilahkan Rahman duduk di kursi kosong sebelahnya.

"Baik Rahman, gimana Bogor?" Sherin basa-basi.

"Waduh macet di kotanya. Ini makanya tadi lama kejebak macet sebelum masuk Jagorawi."

"Yah Bogor memang kalo weekend sih mending gausah ke mana-mana.. Temen aku aja orang Bogor asli, weekend mending di rumah daripada keluar-keluar katanya. Haha" Rezza cerita.


Suasana makin ramai, ada beberapa tamu yang mengisi meja-meja kosong di sana. Sherin dan Rezza sudah selesai makan, tapi Sherin memutuskan untuk stay tidak ikut shalat karena mau shalat Isya di rumah saja. Rezza ke musholla untuk shalat Isya bareng dengan Om Syafri. Sherin tak lepas pandangannya ke Rezza khawatir nekat seperti tadi lagi. Bang Syahrul sedang menggendong Arshad yang rewel dari tadi.

Saat Sherin sedang berbincang-bincang santai dengan yang masih di meja, ada Rahman, Zahra, Kak Vina, dan Alsya, tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri. Laki-laki itu adalah.. Aldi.

"Hai Sher.."

"Hah? Aldi?" Sherin kaget.

"Eh maaf-maaf.. Aku cuma mau minta maaf ya, tadi katanya suami kamu marah ya?" Aldi tiba-tiba bicara.

"Lo tau dari mana?" Sherin tetap stay di kursinya, Aldi matanya jelalatan melihat belahan dada Sherin terekspose dari posisi berdirinya Aldi. Kak Vina merasakan itu.

"Itu di sana temen-temen aku, tadi mereka bilang familiar sama kamu karena waktu itu kita ketemu di Bali kan. Terus mereka ada yang lupa-lupa inget. Maaf ya suami kamu jadi salah paham kan.." Aldi menjelaskan, Sherin baru merasakan mata Aldi yang kurang ajar. Sherin pun berdiri lalu menjaga jarak.

"Udah gapapa, gausah dibahas. Nanti gue jelasin ke suami gue." Sherin hendak berjalan ke arah musholla. Tiba-tiba Aldi nekat memegang tangan kiri Sherin yang hendak berjalan menjauh.

"Sher.." tangan Sherin digenggam kuat oleh Aldi. Sherin kaget, ia coba meronta.

"Apaan sih? Lepas nggak?" Sherin berkata dengan nada tinggi. Kak Vina coba berdiri hendak mendekat.

"Maaf-maaf.. Aku cuma mau ngomong.." Aldi melepas tangan Sherin.

"Gak ada yang perlu diomongin, gue mau nyamperin suami gue. Gausah pegang-pegang apaan sih.." Sherin beneran kesal dengan cara Aldi seperti itu, Sherin juga tak mau bicara banyak-banyak karena Rezza segera kembali dan tak mau Rezza sampai emosional lagi melihat itu.

Sherin berjalan mengarah ke musholla. Aldi masih mencoba mengikuti, Kak Vina benar-benar merasa ada yang tak beres. Ia lalu ikut berjalan ke arah Aldi yang membuntuti Sherin. Ternyata Rezza keluar dari balik tembok yang menutupi musholla. Ia berjalan bersama Om Syafri, kaget melihat Sherin diikuti oleh sosok pria yang bikin ia jengkel tiap kali melihatnya. Rezza pun berlari ke arah Sherin. Sherin wajahnya gusar.

"Sayang.." Rezza mendekat ke Sherin.

"Mas.. Dia deket-deketin aku tadi.." Sherin mendekapkan tubuhnya ke Rezza.

"Ngapain lo?" Rezza melotot ke wajah Aldi. Kak Vina mendekat lalu menarik Om Syafri untuk menjauh dari situ.

"Saya cuma mau bilang minta maaf. Tadi teman-teman saya salah paham.." Aldi menunjuk meja teman-temannya yang tadi ditegur Rezza.

"Oh jadi itu temen-temen lo? Pantes ya kurang ajar semua." Rezza jujur bicara.

Lihat selengkapnya