Keesokan harinya, Rezza dan Sherin berjalan dengan ekspresi sumringah setelah dari rumah sakit. Kondisi kandungan Sherin dinyatakan aman sentosa. Rezza pun mengikuti maps yang tertera di headunit mobil bZ4X Touring milik Sherin itu ke arah 'rumah baru' mereka. Sepanjang jalan mereka bertaut, senyum tak pernah lepas dari wajah masing-masing.
"Mas.. Ini deket sama rumah Anya kan.." Sherin mengingatkan.
"Iya sih, tapi gak deket banget kokk.." Rezza menjawab santai.
Mereka berdua pun tiba di gerbang rumah itu yang sudah terbuka. Rezza memasukkan mobil itu sambil membuka kaca sebelah kiri.
"Mas Rezza ya?" seorang bapak umur lima puluh tahunan mengenakan kaus berwarna biru donker dan celana panjang hitam menghampiri.
"Iya pak.. Bapak Supardi ya?" Rezza tanya.
"Iya betul, saya Pak Pardi. Silahkan masuk aja mas, naikin mobilnya ke depan pintu utama.."
"Oke baik pak. Makasihh.." Rezza jawab, Sherin hanya bisa senyum-senyum terpukau dengan kemegahan rumah itu.
Mobil mereka menanjak cukup tinggi tapi tak curam. Rezza sempat berpikir apa karena rawan banjir rumah itu sampai harus setinggi itu. Rumah itu luar biasa besar. Luas tanah tertera di sertifikat adalah 846 meter persegi. Rezza tak terbayang betapa besarnya tanah dan bangunan rumah itu. Akhirnya dia bisa melihat langsung bersama wanita tercintanya, Sherin.
"Sayang, kita turun yuk.." Rezza mematikan mobil lalu cepat-cepat menuruninya. Sherin masih terbengong melihat kemegahan rumah itu secara langsung. Terasa jauh lebih megah dan mewah dibanding foto-foto yang mereka lihat semalam.
"Ayok sayang. Turun dulu yuk.." Rezza membuka pintu Sherin, ia pun tersadar dari lamunannya.
"Eh iya mas, makasi sayang.." Sherin turun dari mobil sambil setengah memeluk Rezza.
"Sama-sama mamaahh.." Rezza memberi afeksi yang luar biasa.
"Selamat siang Mas Rezza.." Pak Pardi mendekat, ia nampak ramah sekali dan sepertinya cukup bugar meski sudah berumur. Rezza merasa tak enak karena Pak Pardi jadi berjalan menanjak tadi di tanjakan rumah itu setelah masuk dari gerbang.
"Selamat siang pak. Pak Supardi ya? Saya Rezza pak.." Rezza menjabat tangannya Pak Pardi.
"Iya mas, panggil aja Pak Pardi." Pak Pardi bersenyum ramah.
"Oke baik pak. Ini istri saya, namanya Sherin.."
"Halo pak.." Sherin memberi gesture tak bisa bersentuhan.
"Iya Mbak Sherin salam kenal.."
"Oke pak, saya keponakannya Om Rendra. Ini kali pertama bapak ketemu saya kan?"
"Mas.. Saya menunggu sekali waktu ini akan terjadi. Akhirnya saya masih diberi umur. Saya pernah bertemu dengan orang tua mas. Saya turut berduka ya Mas Rezza." wajah Pak Pardi tampak sedih. Sepertinya beliau memang orang yang perasa. Ia paham betul situasinya, Rezza adalah anak dari orang tua yang dulu pernah datang ke rumah itu bersama Om Rendra.
"Terima kasih ya pak.. Insya Allah orang tua saya sudah tenang di alam kubur. Minta doanya ya pak.."
"Pasti mas.. Saya doakan semoga amal ibadah orang tua Mas Rezza diterima di sisi Allah.."
"Amiin.." semua mengamini.
"Yaudah mari Mas Rezza, dan Mbak Sherin. Silahkan masuk.." Pak Pardi mengarah ke pintu utama. Rezza dan Sherin saling liat-liatan. Mereka berpelukan erat seakan masih tak percaya rumah semewah itu jadi milik Rezza, dan juga Sherin.. Mata mereka berdua berkaca-kaca, mengharu meski mereka sedang sangat bahagia.
"Ayuk mas. Masuk yuk.. Aku excited banget.." Sherin membuka omongan.
"Aku juga sayang. Yuk.." mereka pun bergandengan memasuki rumah itu.
"Masya Allah besar sekali.." Rezza melongo melihat interior rumah itu yang rapih, besar, dan juga luar biasa mewah. Dari pintu masuk nampak jauh di sana ada dapur yang sudah lengkap beserta semua pendukungnya. Sebuah kitchen stall yang menggunakan kompor listrik empat tungku, nampak mewah dan seamless ketika tidak dipakai.
"Jadi ini lantai utama mas, mbak. Rumah ini tiga lantai. Nah kalau mas lihat di depan tadi ada turunan lagi. Itu ke arah basement." Pak Pardi menjelaskan.
"Basement?" Rezza kaget.
"Iya betul mas.. Pemilik rumah ini sebelumnya itu suka koleksi mobil. Jadi dia buat lantai paling bawah itu sebagai basement. Bisa muat normalnya 28 mobil. Kalau dipaksa tambah parkir paralel, bisa sampai 42 mobil."
"Empat puluh dua mobil?" Rezza dan Sherin tercengang.
"Hehe iya betul mas.. Nah jadi ini juga ada lift. Tapi perlu di-maintenance dulu mas. Karena terakhir dicoba dinyalakan itu sekitar dua atau tiga tahun lalu. Nanti saya call pihak maintenance-nya ya mas mbak.. Kebetulan saya sendiri memang yang mengurus semua perintilan rumah ini.."
"Ya Allah mas.. Ada lift?" Sherin kaget sambil meremas tangan kiri Rezza. Rezza pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Oh iya lift-nya juga aman kok mas, mbak. Dia bukan yang model pakai tali baja. Dia model ulir dan gear. Jadi aman harusnya, cuma memang kalau lagi dipake gak secepat lift kaya di mall gitu lho. Dia lebih lambat. Tapi jadinya aman karena kalau ada trouble, dia akan diam di tempat gak akan jatuh seperti tambang putus gitu lho.. Faktor safety juga yang saya tahu request dari pemilik sebelumnya.."
"What? Ini mewah sekali.." Rezza masih mencerna ini semua.
"Nanti saya tunjukkin ke basement ya mas, mbak. Kita liat kamar dulu yuk." Pak Pardi mengajak.
Mereka pun setuju. Memasuki sebuah pintu di ujung kiri dari pintu masuk tadi.
"Nah ini kamar utama. Disekat jadi tiga bagian mas mbak. Bagian pertama ini bisa jadi apa namanya closet?"
"Iya pak.. Walking closet untuk simpan baju-baju." Rezza menyaut.
"Ah iya betul mas, tapi ini sama Pak Rendra dibuat sebagian lemari-lemari. Sebagian meja dan kursi kerja karena waktu itu kan lagi pandemi ya. Kita pikir akan selamanya kerja itu dari rumah. Jadi nanti kalau Mas Rezza atau Mbak Sherin mau diubah silahkan. Sementara seperti ini."
Di dalam ruang pertama itu ada sebuah ruangan besar ukuran delapan kali lima meter yang semua dindingnya dihiasi lemari custom, sebagian pintu lemarinya dari kaca transparan buram. Rezza coba buka salah satu pintu lemari itu, bersih, kosong siap diisi dengan baju koleksi mereka. Sherin memegang meja besar berbahan kayu jati yang mewah dan elegan di tengah ruangan itu. Semua kondisinya masih sangat bagus terawat. Hanya sedikit berdebu.
"Ini nanti koleksi hijab kamu bisa masuk semua di sini sayang.." Rezza bercanda gemas.
"Hehe iya mas.." Sherin terkekeh melihat Rezza yang memprioritaskan Sherin sekali.
"Nah lanjut, ini kamar untuk tempat tidur mas, mbak.." Pak Pardi membuka pintu selanjutnya seperti labirin.
"Wow.. Gede banget.." Sherin takjub, Rezza pun makin speechless.
"Maaf ya mas, mbak.. Ini kasurnya belum dibuka masih diplastik. Tapi gak pernah dipake kok aman. Saya tidurnya juga di kosan dekat sini, saya gak berani tidur sendiri di sini. Bukan takut hantu, takut mimpi punya rumah semewah ini mas mbak.. Haha" Pak Pardi melucu jayus.
"Haha iya pak.." Rezza tersadar dari bengongnya. Ia melihat sekeliling, Rezza terbayang kamar sebesar itu akan sangat nyaman untuk dia, Sherin, dan anaknya nanti.
Di kamar itu ada sebuah lemari pendek di kanan dan kiri tempat tidur. Jendela besar mengarah ke arah depan rumah. Dihiasi dengan gordyn tersingkap di kanan dan kirinya. Sherin dan Rezza melongok ke luar jendela. Ada halaman depan sekaligus lapangan bulu tangkis.
"Itu halaman depan bisa juga kalau mau dibuat main basket atau futsal mbak, mas.. Sudah dipasang jaring di empat sisi biar bolanya gak jauh-jauh mental.. Jaring yang sebelah belakang gawang bisa dilipat dan dibuka jadi kalau mau dipakai parkir bisa muat enam sampai delapan mobil."
"Wahhh.. Gede banget. Masya Allah.. Aku masih gak bisa percaya ini semua." Rezza berkata. Pak Pardi tersenyum haru, ia pun tak lama-lama bergergas membuka pintu satunya lagi. Sebuah ruangan terakhir dari labirin kamar utama rumah itu.
"Oh iya ini kamar mandinya ya mbak, mas.." Pak Pardi membuka pintu kayu jati di labirin berikutnya yang adalah kamar mandi super besar. Ada bathtub besar dan ada jacuzzi. Sherin melotot matanya melihat itu, lantai kesat dari batu alam berwarna putih gading menghiasi tak hanya lantai tapi juga seluruh dinding. Area shower terpisah disekat dengan kaca buram transparan tapi nampak besar seperti muat untuk lima orang berdiri di dalamnya. Meski closet-nya bukan closet yang canggih, tapi terlihat besar dan mahal. Water closet-nya ada semacam tombol-tombol yang ternyata berfitur pemanas dan pemijat di area bokong. Belum lagi westafel tandem dengan kaca panjang sepanjang dinding satu sisi ruangan di tembok yang menempel pada kamar tempat tidur sejajar dengan pintu.
"Sayang.. Kita bisa sikat gigi barengan ini tiap hari." Rezza iseng, Sherin tertawa renyah sambil memeluk pinggang Rezza. Pak Pardi pun ikut tertawa sedikit.
Mereka tiba ke area luar. Ada kolam renang yang posisinya sedang dikeringkan. Pak Pardi jelaskan kolam renang itu sejak awal dibeli atas nama Rezza memang sudah tidak diisi air lagi. Tapi Pak Pardi antusias jelaskan kalau tiap bulan ia bersihkan dinding-dinding kolam renang itu agar tidak kotor. Nampak jelas dasar kolam berwarna biru muda dan kalau Rezza mau tinggal diisi dengan air. Rezza pun mengiyakan, ia menanyakan untuk pesan air dari air pegunungan yang beli dengan truk tangki sehingga airnya lebih bagus dari air ledeng. Pak Pardi menyanggupi dan akan hubungi pihak distributor air pegunungan setelah ini.
"Nah ini area service-nya mas, mbak.." Pak Pardi buka pintu kamuflase di samping dapur yang juga ada tembusan pintu di samping kolam. Area service berada di belakang sana dengan dua kamar kecil untuk ART, serta satu ruang cukup besar untuk gudang dan menyimpan bahan-bahan pokok. Ada satu ruang kecil sekali juga untuk menyimpan alat-alat kebersihan seperti sapu, pel, ember dan sebagainya. Pak Pardi jelaskan semua barang yang biasa ia gunakan untuk bebersih disimpan di situ.
"Mau lanjut ke lantai atas atau basement dulu mas, mbak?" Pak Pardi kembali menuntun Rezza dan Sherin ke ruang tengah.
"Hmm di lantai atas ada apa ya pak?"
"Di atas itu ada satu ruangan besar sekali. Dulunya pemilik sebelumnya mau buat sebuah ruangan untuk dia kalau ajak tamu-tamu terdekat, bisa main bilyar, ada sofa panjang bergaya Amerika gitu lho mas.. Ruangannya sebesar kamar utama tanpa sekat. Tapi meja bilyarnya tidak ada hehe" Pak Pardi jelaskan, Rezza enggan naik karena Sherin sedang hamil.