Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #58

Chapter 58

Hari demi hari berlalu. Rezza dan Sherin disibukan dengan berbagai kegiatan terkait 'rumah baru' mereka. Hari selasa, Rezza dan Sherin datang ke Kantor Pengacara Ilham Dharmawan & partner's di bilangan Kalibata. Om Rendra sudah tiba lebih dulu di sana.

"Assalamualaikumm.. Selamat siang Om Rendra." Rezza menggandeng Sherin masuk ke dalam kantor yang terletak di pertokoan Jalan Raya Kalibata itu.

"Waalaikumsalam.. Hai Rezza.. Sherin, apa kabar kalian?"

"Baik om.. Om gimana kabarnya?" Rezza dan Sherin salim ke Om Rendra.

"Alhamdulillah. Gimana kehamilannya Sherin? So far kontrol terus kan?"

"Alhamdulillah aman om, kemarin hari sabtu sebelum ke rumah di Kemang Selatan aku abis kontrol kok ke obgyn diantar Mas Rezza juga." Sherin antusias bercerita.

"Alhamdulillah ya semoga lancar sampe melahirkan, sampe anak kedua, ketiga dan seterusnya ya." Om Rendra nampak tak kalah antusias.

"Haha iya om. Makasih yaa.. Aminn doanya.." Rezza sumringah.

"Gimana Jogja om? Lancar kan?" Rezza lanjut bertanya.

"Lancar.. All good Za.. Kapan-kapan ikut om ya kalo ada event. Boleh ya Sherin?"

"Hehe iya boleh kok om, tapi aku juga ikut ya haha" Sherin seperti tak mau jauh dari Rezza.

"Haha bisa-bisa.. Yaudah kita ke ruang meeting di dalam ya.. Pak Ilham pengacara kita sudah menunggu di dalam."

"Okay mari om.." Rezza nampak bersemangat sekali.


Di dalam ruang tertutup yang berada di dalam kantor itu, Sherin memperhatikan Rezza nampak serius membaca beberapa lembaran terkait pemindahan waris, alih waris perusahaan, dari Almarhumah Mama Kirana ke Rezza Bagas Kirana. Rezza nampak detail sekali membaca kontrak-kontrak tersebut. Sherin juga ikut membaca beberapa lembaran yang sudah dipisah oleh Rezza. Lembaran yang sudah dibacanya.

"Okay, all good om, Pak Ilham.." Rezza sudah membaca, lalu asistennya Pak Ilham memberikan pulpen untuk Rezza tanda tangan beberapa dokumen.

"Ini silahkan, untuk tandatangan Pak Rezza."

"Iya makasih.." Rezza mengambil pulpen itu, lalu hampir sepuluh tanda tangan dibubuhkan Rezza di atas materai. Semuanya diverifikasi sejenak oleh Pak Ilham dan dibantu asistennya.

"Okay sudah.. Jadi per hari ini Rezza, kamu resmi menjadi komisaris utama PT Ranah Langgam Kreasi ya.. Selamat." Pak Ilham menjabat tangan Rezza sambil bangkit dari duduknya. Rezza menyambut jabat tangan dari Om Rendra dan asisten Pak Ilham sebagai saksi.

"Terima kasih ya Pak Ilham, Om Rendra, Mas Chiko.."

"Sama-sama Pak Rezza.." Om Rendra nampak terharu. Ia lega akhirnya selesai memberikan amanah yang dititipkan oleh orang tua Rezza kepadanya.

Setelah itu, Rezza juga menerima surat pernyataan alih waris untuk sebuah rekening yang selama ini atas nama ibunya. Rekening tersebut tinggal diaktivasi oleh Rezza di sebuah Bank Syariah yang kebetulan ada cabang terdekat di ruko itu juga..

Rezza ditemani dengan asisten Pak Ilham yang bernama Chiko berjalan sekitar 40 meter dari kantor pengacara itu. Sherin tentu saja menggandeng Rezza seakan tak boleh jauh darinya. Om Rendra dan Pak Ilham menunggu di kantor.

Setibanya di kantor bank itu, Rezza diarahkan untuk masuk ke sebuah ruangan khusus nasabah eksklusif. Rezza duduk didampingi Sherin. Petugas teller bank seorang wanita yang berhijab dengan nametag bernama Sasha menyambut dengan senyum manisnya. Sherin agak jeles sedikit.

"Baik, ini form yang perlu diisi, silahkan diisi lalu ditandatangani ya Pak Rezza."

"Baik mbak, sebentar.." Rezza mengangkat form itu, membacanya dengan seksama. Rezza tak melewatkan satu kata pun yang ia baca.

Ada beberapa form yang wajib Rezza tuliskan termasuk kolom 'Nama Gadis Ibu Kandung.'

Rezza menuliskan dengan pulpen di kolom tersebut, Kirana Kalamiya Filzah. Sherin pun kaget baru tahu nama asli Mama Kirana terdiri dari tiga suku kata. Selama ini Sherin taunya Mama Kirana memiliki nama lengkap Kirana Kalamiya.

"Mas.. Aku baru tau nama mama kamu ada Filzah." Sherin berbisik.

"Oh iya sayang, itu nama nenek aku dari mama. Memang tidak ada di KTP mama. Cuma di struktur keluarga aja." Rezza jawab berbisik. Sherin mengangguk.

Sekitar 10 menit berlalu, Sherin nampak tak sabar selesaikan ini semua.

"Okay baik Pak Rezza semuanya sudah. Ini jadi ada dua rekening ya.. Satu rekening deposito dan satu rekening tabungan. Untuk deposito jumlahnya 15,1 milyar rupiah. Dan rekening tabungan 6,2 milyar rupiah." Sasha menunjukkan sebuah angka di buku tabungan sebesar Rp 6,2 milyar lalu secarik kertas khas deposito sebesar Rp 15,1 milyar.

"Untuk deposito hanya bisa dicairkan melalui teller di bank ya pak. Bisa di cabang manapun di Indonesia. Apa bapak berminat untuk melakukan pencairan?" Sasha menanyakan.

"Hmmm..." Rezza nampak berpikir keras. Ia menengok ke Sherin.

"Saya mau dibuat jadi depositonya 10 milyar bulat. Lebihnya 5,1 milyar plus angka-angka di belakangnya itu dipindah ke tabungan bisa?" Rezza bertanya.

"Okay, bisa pak. Mohon ditunggu ya.." Sasha mengambil lagi dua dokumen itu. Rezza mengangguk lalu menengok senyum ke Sherin. Sherin bertanya-tanya, mau untuk apa Rezza cairkan deposito itu? Sherin curiga.


Beberapa menit berlalu, mereka kembali ke kantor pengacara. Chiko sudah pergi lebih dahulu tak lama setelah Rezza minta pencairan deposito tadi. Karena dianggap sudah berhasil, tidak ada kendala, Chiko izin meninggalkan Sherin dan Rezza di bank.

Rezza berjalan bergandengan dengan Sherin. Rezza memegang sebuah amplop coklat berisikan buku tabungan dan lembaran kertas deposito.

"Mas.." Sherin menggandeng mesra Rezza.

"Hmm.. Kenapa sayang?"

"Kamu cairin 5 milyar buat apa?" Sherin masih sangat penasaran.

"Mau tau banget?" Rezza resek.

"Serius mas.. Aku perlu tau.." Sherin bertanya.

"Sayangg.. Aku ambil itu sebagai pegangan. Kita mau pindah ke rumah yang besar. Aku gatau seberapa banyak uang yang akan kita spending untuk prepare dan berjalan tiap bulannya. Aku dengar bayar listrik sebulan sepuluh juta aja shocked. Aku keknya jadi paham deh kenapa mama dan papa aku begitu kuat memegang prinsip hidup sederhana. Ternyata hidup di rumah mewah itu juga spending-nya besar.." Rezza menjelaskan, Sherin mulai paham.

"Tapi kenapa sebanyak itu?"

"Kan sebentar lagi kamu lahiran, akan banyak keperluan. Aku jaga-jaga sayang, aku gamau kerepotan nanti harus cairin deposito buat pengeluaran anak kita."

"Tapi kan kamu juga punya uang mas. Aku pikir kamu benar-benar akan tabung aja uang itu. Gak disentuh sama sekali kecuali darurat."

"Gak ada yang gak darurat di dunia ini. Semuanya tergantung skala prioritas kita. Kamu, anak kita, dan aku adalah prioritas sekarang. Aku cuma mau mastiin aku pegang uang kok. Kamu tenang aja ya.." Rezza menenangkan Sherin, sebenarnya Rezza punya planning.. Sesuatu untuk Sherin.


"Om Rendra, aku mau bilang makasih banyak ya atas ketulusan om menjaga amanat dari Almarhumah Mama Kirana. Aku berhutang budi sama Om Rendra" Rezza memeluk Om Rendra.

"Udah, gausah dibahas terus ya.. Om malah jadi kepikiran lagi, tadi udah lega lho om akhirnya selesaikan tugas om, janji om ke mama kamu.. Hehe"

Lihat selengkapnya