Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #59

Chapter 59

Beberapa minggu lagi, Sherin dan Rezza akan menggelar tujuh bulanan sekaligus syukuran rumah gedebang. Sherin dan Rezza pun sudah mulai tinggal di sana. Setiap hari, Sherin bangun dari tidur masih membiasakan diri di rumah yang bahkan lebih besar dari rumah orang tuanya, rumah Om Arwin dan Tante Rani di Simprug. Rezza pun juga. Kadang mereka harus saling menyadarkan diri di pagi hari bahwa rumah megah nan mewah itu memang nyata, bukan hanya mimpi.

Tapi namanya hidup ada saja cobaannya. Satu hari, seminggu sebelum acara. Rezza sedang meeting bertemu dengan Andre seorang art director sebuah agensi lain. Mereka kenal karena dulu sebelum Rezza kerja di DBHS, Rezza pernah kerja di sebuah agensi lokal sekantor dengan Andre. Mereka janjian bertemu di sore hari, sabtu.

Rezza dan Sherin paginya seperti biasa hari sabtu menemui dokter obgyn untuk cek kandungan. Sherin yang masih merasa lelah karena semalam pulang jam 8 dari kantor memilih mengajak Rezza pulang ke rumah gedebang setelah makan siang tak jauh dari rumah. Rezza tiba-tiba dihubungi oleh Andre diajak bertemu di sekitaran Senopati. Rezza putuskan berangkat setelah Sherin mengizinkan. Sherin juga tak menaruh curiga apapun karena Andre juga ia kenal sejak lama, sejak Sherin dan Rezza berpacaran saat sekantor dulu. Sherin sering diajak Rezza untuk hangout bareng after office, atau weekend datang ke event atau acara-acara lain bersama.

Rezza tiba di coffee shop estetik tak jauh dari kawasan Senopati. Andre sudah di sana.

"Brooo.. Gimana kabar lo? Akhirnya kita ketemu langsung ya.." Rezza menghampiri.

"Baik sobb, lo gimana? Haha iya ya dari kemarin kita call sama email-email-an aja." Andre beranjak dari duduknya, mereka bro hug.

"Alhamdulillah sehat gue.." Rezza pun izin sejenak untuk antre pesan kopi di barista.

Tak jauh dari Rezza berdiri antre memesan kopi, ada seorang laki-laki yang wajahnya sangat tidak familiar bagi Rezza. Laki-laki itu sedang sendiri menunggu kehadiran teman-temannya. Tapi laki-laki itu sangat mengenali Rezza. Laki-laki itu adalah kawan dari Aldi yang beberapa waktu lalu ditegur Rezza di JKT Garden Resto dan dia masih merasa sakit hati dengan sikap Rezza yang menurutnya sok jagoan waktu itu.

Laki-laki itu diam-diam memperhatikan Rezza. Rezza seorang yang sangat perasa, ekor matanya sudah terlatih merasakan jika ada yang memperhatikannya dari jauh. Namun Rezza berpura-pura tidak sadar sedang diperhatikan.

"Saya pesan ice cafe latte no sugar ya.." Rezza sebutkan pesanannya.

"Ada lagi kak?" barista menanyakan.

"Hmm cemilan boleh deh, sama fries platter satu ya.. Sudah itu aja."

"Okay, totalnya jadi sembilan puluh empat ribu ya kak.."

"Iya, saya bayar scan QRIS ya.."

"Silahkan di-scan di layar ya kak.." Rezza buka mobile banking app-nya, lalu scan barcode.

"Sudah ya mbak. Thank you."

"Baik, terima kasih. Silahkan ditunggu pesanannya ya kak nanti diantar.." Rezza menerima sebuah receipt dengan angka tunggu 72.

Beberapa menit berlalu, Rezza sedang seru mengobrol dengan Andre. Tak lama istri Andre bernama Melly datang. Mereka pun lanjutkan obrolan sambil bahas kerjaan.

"Istri lo mana Za? Kok gak diajak?" Melly tanya ketika Rezza sedang break menyeruput kopinya.

"Ohh dia lagi di rumah. Capek banget keknya tadi pagi kontrol ke dokter, terus tadi siang kita ke tempat katering minggu depan ada acara di rumah. Kalian kalo bisa dateng ya.."

"Okeh siap, hari minggu apa sabtu Za?" Andre tanya.

"Eh iya minggu.. Jam 9 jam 10 gitu lahh kalo mau, paginya pengajian dulu. Ya kalo mau ikut pengajian silahkan hehe" Rezza bercanda, ia tahu Andre dan Melly non-muslim.

"Haha bisa aja lo.. Yaudah nanti kita mampir ya kalo gak ada acara lain." Andre jawab.

"Siapp.. Btw gini ndre."

Rezza lanjutkan beberapa obrolan soal pekerjaan. Tak terasa waktu sudah hampir 17.00, Andre dan Melly yang sedang menghabiskan weekend bersama pun hendak pamit. Mereka meninggalkan anaknya di rumah yang berusia lima tahun dengan mertuanya Andre, jadi mereka tak enak kalau pulang larut malam.

"Yaudah kita pamit dulu ya Za.. Kalo ada apa-apa terkait obrolan tadi kabarin aja." Andre pamit.

"Iyak, pokoknya kita berkabar deh. Kalo mau mampir ke kantor kita juga bisa lho." Rezza basa-basi sambil berdiri hendak mengantar Andre dan Melly ke parkiran.

"Haha jauh Za! Kantor gue di Thamrin. Yaudah pokoknya kalo ada kebetulan lewat gue mampir ya." Andre jabat tangan dan bro hug Rezza.

"Iya berkabar aja.. Kalian naik apa? Gue temenin ke depan.."

"Itu pesen taksi online, udah sampe tuh.." Melly tunjuk mobil di depan coffee shop itu.

"Yaudah hati-hati yak.. Melly, sampe ketemu lagi.." Rezza jabat tangan Melly.

"Iyaa Za.. Salam buat Sherin ya.."

"Okee nanti gue salamin.." Rezza melepas mereka di depan pintu coffee shop. Rezza sadar ada barang-barang tertinggal di mejanya jadi balik lagi. Tanpa sadar di sebuah meja berbeda ada laki-laki tadi bersama dengan... Aldi. Entah apa yang mereka mau lakukan. Aldi bersiap mendekati Rezza melihat Rezza sendirian. Namun begitu Rezza balik badan ke arah pintu untuk pulang, Rezza kaget bukan main. Ia melihat sosok wanita yang pernah buatnya lumayan nyaman. Wanita cantik dengan postur tinggi ideal, ia adalah Janice.

"Janice?" Rezza menegur.

"Hah? Bang Rezza?" Janice terkejut sekali. Wajahnya nampak sembab. Dari kejauhan Aldi melihat itu mengurungkan niatnya yang entah apa. Tapi dia gercep mengeluarkan ponselnya lalu memvideokan Rezza dengan Janice.

"Janice.. Kok kamu ada di Jakarta? Kamu kenapa? Mata kamu sembab.." Rezza berondong dengan sejumlah pertanyaan.

"Hm.. Maaf bang aku.." Janice mencoba sekuat hatinya menatap wajah Rezza. Tatapannya nanar dan penuh rasa yang terpendam.

"Aku udah sebulan kerja di Jakarta." Janice jawab ragu-ragu.

"Sebulan?" Rezza sedikit berpikir. Kenapa dia tidak tahu, sementara Anya dan Icha pasti masih sering berkomunikasi dengan Janice. Tapi tak ada satupun yang cerita.

"Iya.. Maaf ya bang.. Aku..

Aku minta Anya dan Icha jangan beritahu Bang Rezza." Janice jujur, Rezza paham.

"Oh.. Okay.. Terus kamu kerja di mana sekarang?" Rezza sangat penasaran.

"Di agensi bang, agensi kecil namanya Vevo Create.." Rezza paham. Banyak sekali agensi baru yang belum pernah didengarnya.

"Hmm kamu ke sini janjian sama orang? Atau gimana? Maaf Jan aku masih kaget ketemu kamu di sini. Selama ini aku pikir kamu di Bali sudah baik-baik saja. I'm sorry, tapi aku gak tega lihat kamu dengan wajah sendu gini.." Rezza menatap Janice. Janice awalnya tak berani lama-lama menatap Rezza, tapi tiba-tiba ia terpikir sangat butuh afeksi. Janice impulsif memeluk Rezza.. Mereka berdiri berpelukan. Rezza kaget. Tapi ia merasakan kepahitan Janice dari pelukan itu. Rezza hanya ingin Janice lebih tenang dan lega. Rezza tepuk-tepuk lembut pundak Janice.

"It's okay Jan.. Kamu kalo ada yang mau diceritain, cerita sama aku." Rezza menangkan. Aldi dari jauh tersenyum serasa kemenangan sambil memvideokan Rezza dan Janice berpelukan dengan cukup intens. Tampak jelas postur tubuh Rezza yang tinggi dengan wajah Janice terekam jelas di video itu. Janice lepas pelukannya lalu..

"Maaf bang aku.." Janice gelagapan.

"No.. It's okay. Kamu pasti lagi butuh cerita ya? Cerita aja Jan. Aku akan dengarkan.." Rezza mengarahkan Janice duduk di kursi yang tadi ditempati Andre dan Melly.

"Aku.. Aku ke sini niatnya cuma mau nyicil kerjaan sambil ngopi bang. Aku gamau ada yang liat dan Kak Sherin tau." Janice menolak halus.

"Gapapa Jan. Aku ngerasa kamu sangat ingin bercerita. Sherin di rumah, nanti aku cerita ke dia kalau aku ketemu kamu gak sengaja.."

"Okay.." Janice paham, Rezza tawarkan pesan minum dan camilan. Rezza tanya Janice mau minum dan makan apa, Rezza pesankan. Lalu tak lama Rezza balik ke meja itu. Janice tampak masih sembab, tapi kecantikannya tetap terjaga. Menggunakan kaus lengan panjang berwarna biru tua, Janice benar-benar menggambarkan perasaannya yang lagi 'feeling blue.'

"So.. Kamu gimana kabarnya Jan? Kamu kenapa ke Jakarta lagi?"

"Aku.. hmm.." Janice ragu bercerita.

"Aku sama mama tinggal di Jakarta sekarang.."

"Oh ya? Kenapa? Mama kamu buka restoran di sini?" Rezza menduga. Janice menggeleng.

"Maunya sih gitu, tapi mama di Jakarta nemenin aku. Mama sedih sekali ketika aku putus dari Roy.. Aku juga sudah gagal menjalani bisnis aku di Bali.." Janice mengeluarkan air mata. Rezza berikan beberapa lembar tissue ke Janice. Aldi dari jauh masih videokan dan foto-foto kebersamaan Rezza dengan Janice.


Sherin di rumah sedang menata meja makan. Ia tadi coba masak beberapa makanan simple tapi Rezza sangat suka. Sop ayam dengan bawang goreng yang melimpah, telur dadar yang tipis dan lumayan garing, serta sambal terasi walau bukan bikinan Sherin sendiri. Sambal terasi dalam kemasan. Sherin tak sabar menunggu Rezza sambil merapihkan meja makan itu. Ponsel Sherin ada di meja sofa depan TV. Sedari tadi ada chat masuk tapi belum Sherin baca. Salah satunya adalah dari.. Aldi Akbar.

Sherin lihat jam di dinding sudah 17.32. Sherin hendak menelepon Rezza untuk menanyakan pulang jam berapa. Wajahnya nampak lelah tapi senyum tak lepas. Sherin nampak cocok sekali sebagai ibu, sosok ibu rumah tangga di rumah besar dan mewah di Kemang Selatan itu.

Sherin ambil ponselnya lalu duduk di sofa..

Sekilas terlihat beberapa chat masuk..

"Aldi? Dia ngapain chat aku.." Sherin membuka chat itu langsung dari lock screen.

'Hai Sherin.. Maaf ya kalo ganggu.. Aku cuma mau kirim ini. Aku liat langsung suami kamu itu lagi mesra-mesraan sama cewek cantik di Wunderbar Coffee Senopati.' chat dari Aldi lalu dilanjutkan dengan attachment foto serta video.

Sherin kaget melihat video dan foto Rezza bersama.. Janice.. dari sepuluh menit yang lalu.

Lihat selengkapnya